cover
Contact Name
Nafiah Solikhah
Contact Email
nafiahs@ft.untar.ac.id
Phone
+6281329380937
Journal Mail Official
jurnalstupa@ft.untar.ac.id
Editorial Address
Jurusan Arsitektur dan Perencanaan Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara Kampus 1, Gedung L, Lantai 7 Jl. Letjend. S. Parman No. 1, Jakarta Barat 11440
Location
Kota adm. jakarta barat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa)
ISSN : 26855631     EISSN : 26856263     DOI : http://dx.doi.org/10.24912/stupa
Core Subject : Social, Engineering,
Jurnal STUPA merupakan Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur dan Perencanaan, Fakultas Teknik, Universitas Tarumanagara sebagai wadah publikasi artikel ilmiah dengan tema: Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (STUPA)
Articles 68 Documents
Search results for , issue "Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER" : 68 Documents clear
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR BIOPHILIC PADA FASILITAS PENGOLAHAN LIMBAH ORGANIK DI KAWASAN PASAR KEBAYORAN LAMA Tandjung, Michael Emmanuel; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35542

Abstract

Environmental problems caused by the accumulation of organic waste, particularly in traditional market areas, have become a crucial issue that requires sustainable solutions. A significant increase in organic waste production has occurred in the Kebayoran Lama Market area due to the high level of activity in the area, which generates large amounts of organic waste every day. Most organic waste is disposed of directly without undergoing effective processing, thereby increasing the environmental burden. This study examines the application of biophilic architecture concepts in organic waste processing facilities in the Kebayoran Lama Market area as an effort to create processing spaces that are not only functional but also have a positive impact on the environment and the quality of life of the surrounding community. The objective of this study is to provide organic waste treatment facilities that produce environmentally friendly products by applying the biophilic concept, thereby helping to reduce environmental pollution caused by improperly managed waste. The methods used in this research include a qualitative-descriptive approach through literature review, field observation, and site analysis. The results of the study indicate that the integration of biophilic elements such as natural lighting, cross ventilation, vegetation, and visual connections with nature can enhance user comfort and strengthen ecological awareness. Thus, the design of organic waste processing facilities that apply biophilic architectural principles has the potential to become an environmentally friendly and sustainable architectural solution in densely populated urban areas such as Pasar Kebayoran Lama. Keywords: Biophilic architecture; Kebayoran Lama; organic waste treatment; sustainable design; traditional market Abstrak Permasalahan lingkungan akibat penumpukan limbah organik, khususnya di kawasan pasar tradisional, menjadi isu krusial yang memerlukan solusi berkelanjutan. Peningkatan produksi limbah organik yang sangat signifikan terjadi di kawasan Pasar Kebayoran Lama dikarenakan kawasan padat aktivitas yang menghasilkan limbah organik dalam jumlah besar setiap harinya. Limbah organik sebagian besar disalurkan ke pembuangan akhir tanpa melewati proses yang efektif sehingga menambah beban lingkungan. Penelitian ini mengkaji penerapan konsep arsitektur biophilic pada fasilitas pengolahan limbah organik di kawasan Pasar Kebayoran Lama sebagai upaya menciptakan ruang pengolahan yang tidak hanya fungsional, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap lingkungan dan kualitas hidup masyarakat sekitar. Studi ini bertujuan untuk adalah dengan menyediakan fasilitas pengolahan limbah organik yang akan menghasilkan produk ramah lingkungan dengan menerapkan konsep biophilic, untuk membantu mengurangi pencemaran pada lingkungan yang disebabkan oleh limbah yang tidak dikelola dengan baik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif-deskriptif melalui studi literatur, observasi lapangan, dan analisis tapak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi elemen-elemen biophilic seperti pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi, serta hubungan visual dengan alam dapat meningkatkan kenyamanan pengguna dan memperkuat kesadaran ekologis. Dengan demikian, desain fasilitas pengolahan limbah organik yang menerapkan prinsip-prinsip arsitektur biophilic berpotensi menjadi solusi arsitektural yang ramah lingkungan dan berkelanjutan di kawasan urban padat seperti Pasar Kebayoran Lama.
PENERAPAN ARSITEKTUR REGENERATIF BERBASIS SISTEM POLDER DAN MATERIAL BIODEGRADABLE DI KAWASAN KUMUH PESISIR PENJARINGAN, JAKARTA UTARA Horison, Muhammad Kenzie; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35543

Abstract

Coastal slums such as Penjaringan Urban Village, North Jakarta, face environmental pressures from tidal flooding, sewage pollution and uncontrolled urbanisation. The lack of public awareness of the importance of water management and the use of environmentally friendly materials exacerbates the degradation of coastal ecosystems. This research aims to develop a regenerative architectural design based on polder system and biodegradable materials that can address the environmental and social issues in the area. The design is expected to improve environmental resilience through effective flood control and the use of biodegradable natural building materials. The methods used were literature review and case study and supplemented by field interviews with affected residents in RT 014, 015, and 017. The results show that the integration of polder systems with retention ponds and closed drainage can significantly reduce flooding, while the use of materials such as bamboo and clay provide adaptive and low-carbon building solutions. These findings contribute to the development of resilient and sustainable coastal architecture. The research also emphasises the importance of community participation and nature-based design approaches to create regenerative environments in coastal slums that previously overlooked. This approach shows the potential of transforming slum neighbourhoods into inclusive residential areas. Keywords: Architecture; biodegradable; polder; regenerative; slum Abstrak Permukiman kumuh pesisir seperti Kelurahan Penjaringan, Jakarta Utara, menghadapi masalah lingkungan dari banjir rob, pencemaran limbah, dan urbanisasi yang tidak terkendali. Kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan air dan penggunaan material ramah lingkungan memperburuk degradasi ekosistem pesisir. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan desain arsitektur regeneratif berbasis sistem polder dan material biodegradable yang dapat mengatasi masalah lingkungan dan sosial di area tersebut. Desain ini diharapkan dapat meningkatkan ketahanan lingkungan melalui pengendalian banjir yang efektif dan penggunaan material bangunan alami biodegradable. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan cara melakukan studi literatur dan studi kasus, dan dilengkapi dengan wawancara lapangan dengan warga yang terkena dampak di RT 014, 015, dan 017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi sistem polder dengan kolam retensi dan drainase tertutup dapat secara signifikan mengurangi banjir, sementara penggunaan material seperti bambu dan tanah liat memberikan solusi bangunan yang adaptif dan rendah karbon. Temuan-temuan ini berkontribusi pada pengembangan arsitektur pesisir yang tangguh dan berkelanjutan. Penelitian ini juga menekankan pentingnya partisipasi masyarakat dan pendekatan desain berbasis alam untuk menciptakan lingkungan regeneratif di daerah kumuh pesisir yang sebelumnya terabaikan. Pendekatan ini menunjukkan potensi mengubah lingkungan kumuh menjadi area hunian yang inklusif.
PENATAAN RUANG BERBASIS DESAIN KONTEKSTUAL UNTUK MENGEMBALIKAN FUNGSI PEMUKIMAN PULAU PRAMUKA Phang, Kevin; Surya, Rudy
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35544

Abstract

On Pramuka Island, Kepulauan Seribu, development pressure from the tourism sector and a lack of usable land have created a serious problem of land degradation. When residential spaces are converted into commercial spaces such as hotels and restaurants, the social life of the neighborhood is disrupted and the quality of the environment degrades. Using a contextual design approach that is sensitive to the local environment, social dynamics, and cultural norms, this research seeks to restore Pramuka Island as a sustainable residential environment. The importance of architectural design as a directed effort to reimagine space holistically, taking into account the harmony between humans and nature, is also emphasized in this research. The research utilized a qualitative methodology that included field observations, interviews, literature analysis, and examination of related architectural precedents. The Floating Kayak Club, Wayss Youth Hub, and Oceanix City are examples of precedent studies that offer ideas for flexible and modular solutions to aquatic environmental problems. The findings suggest that by combining ideas of modularity, sustainability and hybrid symbiosis, contextual design-based spatialplanning techniques can overcome land limitations and conflicts of spatial functions. Adaptive zoning based on community activities, the use of coral concrete as a material that benefits the marine ecosystem, and a design approach that considers local culture and climate are some of the suggested answers. These strategies can help the residential area of Pulau Pramuka return to its original function while still taking into account the economic and tourism characteristics of the island. In addition, this study can also serve as a basis for designs that can be applied in other coastal areas facing similar problems. In addition, the application of this approach is expected to create a built environment that is innovative, robust, and able to improve the welfare of the community in a sustainable manner. Keywords:  Commercial; contextual; degradation; settlement Abstrak Di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, tekanan pembangunan dari sektor pariwisata dan kurangnya lahan yang dapat digunakan menimbulkan masalah serius berupa degradasi lahan. Ketika ruang-ruang hunian dikonversi menjadi ruang-ruang komersial seperti hotel dan restoran, kehidupan sosial di lingkungan tersebut terganggu dan kualitas lingkungan menurun. Dengan menggunakan pendekatan desain kontekstual yang peka terhadap lingkungan lokal, dinamika sosial, dan norma-norma budaya, penelitian ini berupaya mengembalikan Pulau Pramuka sebagai lingkungan hunian yang berkelanjutan. Pentingnya desain arsitektur sebagai upaya terarah untuk menata ulang ruang secara holistik, dengan mempertimbangkan keselarasan antara manusia dan alam, juga ditekankan dalam penelitian ini. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif yang mencakup observasi lapangan, wawancara, analisis literatur, dan pemeriksaan preseden arsitektur terkait. Floating Kayak Club, Wayss Youth Hub, dan Oceanix City merupakan contoh studi preseden yang menawarkan ide untuk solusi yang fleksibel dan modular untuk masalah lingkungan akuatik. Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa dengan menggabungkan ide-ide modularitas, keberlanjutan, dan simbiosis hibrida, teknik perencanaan tata ruang berbasis desain kontekstual dapat mengatasi keterbatasan lahan dan konflik fungsi ruang.  Zonasi adaptif berdasarkan aktivitas masyarakat, penggunaan beton koral sebagai material yang bermanfaat bagi ekosistem laut, dan pendekatan desain yang mempertimbangkan budaya dan iklim lokal adalah beberapa jawaban yang disarankan. Strategi ini dapat membantu area permukiman Pulau Pramuka kembali ke fungsi awalnya dengan tetap memperhatikan karakteristik ekonomi dan pariwisata pulau tersebut. Selain itu, studi ini juga dapat menjadi dasar bagi desain yang dapat diaplikasikan di wilayah pesisir lain yang menghadapi masalah serupa. Selain itu, penerapan pendekatan ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan binaan yang inovatif, kuat, dan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
KONSEP EKOWISATA BERBASIS PERIKANAN SEBAGAI STRATEGI TRANSFORMASI ADAPTASI DESA MUARA TELUK NAGA Matthew, Matthew; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35546

Abstract

The rapid expansion of the Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) area in Teluk Naga, Tangerang Regency, Indonesia, has led to significant environmental degradation and socio-economic pressure on surrounding villages, including Muara Teluk Naga Village. This village is a coastal tourism area focused on nature and fisheries, where most residents work as fishing pond owners, fishermen, and mangrove tourism managers. The development pressure and lack of competitiveness have resulted in reduced income, limited access to education, and the collapse of local businesses. This study aims to empower the Muara community and restore the degraded mangrove ecosystem through a regenerative architectural approach that integrates development with environmental rehabilitation. The design envisions a spatial framework that fosters a symbiotic relationship between environmental sustainability and local economic activity, positioning Muara Village as a strategic connector between mainland areas and surrounding islands. The research adopts a qualitative method involving observation and interviews to formulate an architectural program based on local needs and potentials. The final outcome is a spatial planning proposal that integrates ecological restoration, local economic sustainability, and community well-being. Keywords: Assimilation; balanced ecosystem; bio-centered; empowerment; regenerative architecture Abstrak Ekspansi pesat kawasan Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2) di Teluk Naga, Kabupaten Tangerang, Indonesia, telah menyebabkan kerusakan lingkungan yang signifikan serta memberikan tekanan sosial-ekonomi terhadap desa-desa di sekitarnya, termasuk Desa Muara Teluk Naga. Desa ini merupakan kawasan wisata pesisir yang berfokus pada alam dan perikanan, di mana mayoritas penduduknya bekerja sebagai pemilik pemancingan, nelayan, serta pengelola wisata mangrove. Tekanan akibat perkembangan kawasan dan ketimpangan daya saing telah berdampak pada menurunnya penghasilan warga, rendahnya akses pendidikan, hingga kebangkrutan usaha lokal. Penelitian ini bertujuan untuk memberdayakan masyarakat Desa Muara sekaligus merehabilitasi ekosistem hutan mangrove yang mengalami degradasi, melalui pendekatan arsitektur regeneratif yang menggabungkan aspek pengembangan dan pelestarian. Desain kawasan dirancang untuk menciptakan hubungan simbiosis antara keberlanjutan lingkungan dan aktivitas ekonomi lokal, serta menjadikan Desa Muara sebagai titik penghubung antara wilayah daratan dan kepulauan sekitarnya. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui observasi dan wawancara untuk merumuskan program arsitektur yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal. Hasil akhir berupa perencanaan program ruang yang mampu mengintegrasikan restorasi ekologi, keberlanjutan ekonomi lokal, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.
STRATEGI PERANCANGAN REGENERATIF UNTUK PUSAT EDUKASI DAN KONSERVASI HABITAT SERANGGA PENYERBUK DI KAWASAN PENJARINGAN Davita, Angela; Darmady, Irene Syona
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35547

Abstract

The development of urban areas often overlooks the sustainability of local ecosystems, particularly in providing space for biodiversity. The increasing conversion of land use, the scarcity of ecologically functional green open spaces, and the growing pressure on environmental quality have become significant challenges in architectural practice within densely populated cities like Jakarta. Specifically, the Penjaringan area is facing ecological stress due to intensive development, poor-quality green spaces, and the lack of ecological connectivity, which disrupts the natural cycles between vegetation and local fauna. This article addresses how to design a space that not only meets human activity needs but also rehabilitates and revives the ecological functions of the area through a Regenerative Approach. The main objective of this project is to create a conservation and ecological education center that functions as a habitat for pollinator insects while serving as an environmentally conscious tourism destination integrated with the local landscape and community. Through biomimicry design strategies and the use of modular dome structures, the project accommodates human needs such as education, research, and recreation, while also establishing ecological space for insects. The findings of this project include the formulation of a design scenario for sustainable coexistence between humans and pollinator species within an urban environment. Thus, this project offers a new approach to ecological architecture, that is not environmentally neutral but actively regenerates and educates. Keywords: Bees; biodiversity; habitat; pollinator; tourism Abstrak Perkembangan kawasan perkotaan sering kali mengabaikan keberlanjutan ekosistem lokal, terutama dalam penyediaan ruang bagi keanekaragaman hayati. Fenomena meningkatnya alih fungsi lahan, minimnya ruang terbuka hijau yang berfungsi ekologis, serta tekanan terhadap kualitas lingkungan telah menjadi tantangan besar dalam konteks arsitektur di wilayah perkotaan padat seperti Jakarta. Secara khusus, kawasan Penjaringan mengalami tekanan ekologis akibat intensitas pembangunan, rendahnya kualitas ruang hijau, serta minimnya konektivitas ekologis yang mengakibatkan terputusnya siklus alami antara vegetasi dan fauna lokal. Adapun isu pada artikel ini berfokus pada cara merancang suatu ruang yang tidak hanya memenuhi kebutuhan aktivitas manusia, namun juga mampu merehabilitasi dan menghidupkan kembali fungsi ekologis kawasan melalui Pendekatan Regeneratif. Tujuan utama proyek ini adalah menciptakan sebuah pusat konservasi dan edukasi ekologis yang berfungsi sebagai habitat serangga penyerbuk sekaligus destinasi wisata berwawasan lingkungan yang terintegrasi dengan lanskap dan komunitas lokal. Melalui strategi desain biomimikri dan penggunaan struktur dome modular, proyek ini tidak hanya mengakomodasi kebutuhan manusia seperti edukasi, penelitian, dan rekreasi, tetapi juga menciptakan ruang ekologis bagi serangga. Temuan dari proyek ini adalah perumusan skenario desain untuk kehidupan secara berdampingan antara manusia dan spesies penyerbuk di dalam kawasan perkotaan secara berkelanjutan. Dengan begitu, proyek ini menawarkan pendekatan baru dalam merancang arsitektur ekologis yang tidak bersifat netral terhadap lingkungan, melainkan aktif dalam meregenerasi, dan mengedukasi.
PERANCANGAN FASILITAS TEMPAT TINGGAL SEWA UNTUK MAHASISWA UNTAR Aswata, Muhammad Febrian; Santosa, Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35548

Abstract

The growing number of students in the Grogol Petamburan area, especially Tarumanagara 2 University, has led to a high demand for comfortable, healthy, and affordable temporary housing. Unfortunately, campus dormitory facilities in this area are still very limited, while available boarding house rental prices are quite high and do not always meet comfort or sustainability standards. This research aims to design a student dormitory building with a biophilic architecture approach that prioritizes the integration of natural elements into the living space. Research using this descriptive method focuses on collecting actual and factual data to provide a systematic, accurate, and objective picture. qualitative through distributing questionnaires and direct observation. The observation results show that students really need housing with natural lighting, cross ventilation, vegetation, and green open spaces that support comfort and mental health. Biophilic-based dormitories are proven to be able to create a more comfortable living environment, and improve the quality of life of students in dense urban environments. The biophilic concept produces open spaces on every 2 floors. The conclusion is that biophilic can create green open spaces in student dormitories. The downside is that if there are too many open spaces, it will result in a lot of wasted interior space. Keywords:  Biophilic architecture; mental health; mixed methods; student dormitory Abstrak Pertumbuhan jumlah mahasiswa dari luar kota dan pulau di kawasan Grogol Petamburan, khususnya Universitas Tarumanagara 2, menyebabkan tingginya kebutuhan akan hunian sementara yang nyaman, sehat, dan terjangkau. Sayangnya, fasilitas dormitory kampus di area ini masih sangat terbatas, sementara harga sewa kos yang tersedia cukup tinggi dan tidak selalu memenuhi standar kenyamanan atau keberlanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang bangunan asrama mahasiswa dengan pendekatan arsitektur biofilik yang mengutamakan integrasi elemen alam ke dalam ruang tinggal. Penelitian menggunakan metode deskiptif ini fokus pada pengumpulan data yang aktual dan faktual untuk memberikan gambaran yang sistematis, akurat, dan objektif. kualitatif melalui penyebaran kuisioner dan observasi langsung. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa mahasiswa sangat membutuhkan hunian dengan pencahayaan alami, ventilasi silang, vegetasi, serta ruang terbuka hijau yang mendukung kenyamanan dan kesehatan mental. Dormitory berbasis biofilik terbukti mampu menciptakan lingkungan tinggal yang lebih nyaman, serta meningkatkan kualitas hidup mahasiswa di lingkungan urban padat. Konsep biofilik menghasilkan ruang-ruang terbuka pada setiap 2 lantai. Kesimpulannya bahwa biofilik dapat menciptakan ruang-ruang terbuka hijau pada dormitory mahasiswa. Kelemahannya jika terlalu banyak ruang terbuka maka akan berdampak pada banyaknya ruang dalam yang terbuang.
RENEWAL: STADION TERBENGKALAI KAMAL MUARA DENGAN PENDEKATAN DESAIN ARSITEKTUR REGENERATIF Limantana, Adhitya; Santoso, Joko Priyono
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35549

Abstract

Kamal Muara Stadium, which has been a center for sports and social activities since 1980, is now neglected due to physical damage and recurring tidal flooding. This condition hinders the growth of local soccer and eliminates interaction spaces for the community. Regenerating the stadium is important to revive the socio-ecological function of the area and encourage inclusive and sustainable community development. This study employs qualitative methods through field observations, interviews, documentation, and literature reviews. Using a regenerative architecture approach, the research addresses the impacts of tidal flooding that have degraded the stadium’s functions. The design focuses on tidal flood mitigation through ecology-based water retention and control systems, while restoring the stadium’s social role. The steps taken include analyzing existing conditions, mapping problems and potentials, case studies, and community participation. The expected outcome is the regeneration of the stadium's functions and capacity into a multifunctional public space capable of restoring the coastal ecosystem, absorbing tidal floodwater, and providing an inclusive and resilient green space against tidal floods, while also serving as a center for social interaction, sports, education, and local ecotourism. A resilient architectural design concept is applied as the primary approach in the project's design. The revitalization of Kamal Muara Stadium offers a comprehensive architectural solution to the social, ecological, and technical challenges faced by Jakarta's coastal areas. Keywords:  Degradation; flooding; regenerative; resilient; stadium Abstrak Stadion Kamal Muara yang sejak 1980 menjadi pusat aktivitas olahraga dan sosial kini terbengkalai akibat kerusakan fisik dan banjir rob yang berulang. Kondisi ini menghambat pertumbuhan sepak bola lokal serta menghilangkan ruang interaksi bagi masyarakat. Regenerasi stadion menjadi penting untuk menghidupkan kembali fungsi sosial-ekologis kawasan serta mendorong pembangunan komunitas yang inklusif dan berkelanjutan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui observasi lapangan, wawancara, dokumentasi, dan metode komparatif untuk mencapai kehidupan dari fungsi sosial ekologis. Pendekatan arsitektur regeneratif digunakan untuk merespons dampak banjir rob dengan menggunakan sistem polder. Perancangan diarahkan pada mitigasi rob melalui sistem penampungan dan pengendalian air berbasis ekologi, sembari mengembalikan peran sosial stadion. Langkah-langkah yang dilakukan mencakup analisis kondisi eksisting, pemetaan masalah dan potensi, studi kasus, serta pelibatan partisipasi masyarakat. Hasil yang diharapkan adalah regenerasi fungsi dan kapasitas stadion mampu menjadi ruang publik multifungsi yang merestorasi ekosistem pesisir, menyerap air rob, serta menyediakan ruang hijau yang inklusif dan tangguh terhadap banjir rob, sekaligus menjadi pusat interaksi sosial, olahraga, edukasi, dan ekowisata lokal. Konsep desain arsitektur resilien diterapkan sebagai pendekatan utama dalam perancangan proyek ini. Revitalisasi Stadion Kamal Muara menawarkan solusi arsitektural yang menyeluruh terhadap permasalahan sosial, ekologis, dan teknis yang dihadapi kawasan pesisir Jakarta.
HARMONISASI PROGRAM RUANG PANTI WREDA: STRATEGI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN LANSIA Buntarman, Caren; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35550

Abstract

The global phenomenon of an increasing elderly population has given rise to issues regarding the lack of facilities that comprehensively accommodate the physical and psychological needs of the elderly. In Indonesia, the primary problem is the limited availability of nursing homes (panti wreda) that offer optimal services for elderly well-being, particularly in terms of mental health, which is often neglected. The objective of this design project is to create a regenerative architecture-based nursing home with a well-being approach to holistically improve the quality of life for the elderly. The method employed is a symbiotic approach combined with holistic architectural design, focusing on creating mutually beneficial relationships between humans, space, and the environment by integrating natural elements that support ecosystem balance and elderly well-being. The design steps include selecting a site in Cadas Ngampar that supports tranquility and accessibility, developing a spatial program based on elderly needs, and integrating the concept of therapeutic gardening through regenerative hydroponics as a meaningful activity. The result is a nursing home design that provides housing tailored to elderly conditions, spaces for physical and psychological therapy, an educational sensory gallery, and herbal hydroponic gardening areas. The findings indicate that spaces designed with a regenerative approach can effectively address mental health issues and enhance elderly social interaction. The spatial novelty lies in the integration of healing functions, public education, and elderly engagement in regenerative activities, which also strengthen intergenerational relationships and raise awareness about life in old age. Keywords:  harmony, hydroponics, regenerative, senior care home, well-being Abstrak Fenomena meningkatnya populasi lansia secara global melahirkan isu tentang kurangnya fasilitas yang mampu mengakomodasi kebutuhan lansia secara fisik dan psikologis secara menyeluruh. Masalah yang muncul di Indonesia adalah minimnya panti wreda yang memberikan pelayanan optimal terhadap kesejahteraan lansia, terutama dalam aspek kesehatan mental yang kerap terabaikan. Tujuan dari perancangan ini adalah menciptakan panti wreda berbasis arsitektur regeneratif dengan pendekatan well-being untuk meningkatkan kualitas hidup lansia secara holistik. Metode yang digunakan adalah simbiosis dengan pendekatan perancangan arsitektur holistik yang diterapkan untuk menciptakan program ruang yang mampu merespons kebutuhan landia secara melalui hubungan yang harmonis dan simbiosis. Langkah perancangan meliputi pemilihan tapak di Cadas Ngampar yang mendukung ketenangan dan aksesibilitas, perumusan program ruang berdasarkan kebutuhan lansia, serta integrasi konsep therapeutic gardening dengan hidroponik regeneratif sebagai aktivitas bermakna. Hasil dari perancangan ini adalah rancangan panti wreda yang menyediakan hunian sesuai kondisi lansia, ruang terapi fisik dan psikologis, galeri sensori edukatif, serta area berkebun hidroponik herbal. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ruang yang dirancang dengan pendekatan regeneratif mampu menangani permasalahan kesehatan mental dan meningkatkan interaksi sosial lansia. Kebaruan dari keruangan yang diangkat terletak pada integrasi antara fungsi penyembuhan, edukasi publik, dan keterlibatan lansia dalam aktivitas regeneratif yang juga memperkuat hubungan antargenerasi dan kesadaran akan kehidupan di masa tua.
URBAN AGRICULTURE BERBASIS THIRD PLACE DI BENDUNGAN HILIR, JAKARTA PUSAT Meidiana, Jessica; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35551

Abstract

According to data from the Central Bureau of Statistics (BPS) in 2023, Indonesia is facing a decline in food supply due to a crisis in the regeneration of young farmers. This issue is driven by the negative stigma towards agriculture, which is often considered dirty, high-risk, and less prestigious. As a result, many young people are more attracted to urbanisation. Therefore, efforts are needed to revive the interest of the younger generation in farming activities by developing the third place concept based on locality, which can be described as the informal space between home and work where people can relax. This agricultural project invites visitors to practice and observe the entire farming process from start to finish. Supported by a programme that utilizes the concept itself, such as Co-Working space, Communal Space, Mini Plaza, dan Garden Terrace. By utilising the everydayness approaches, this urban farming project encourages the community to carry out routine activities such as planting seeds, harvesting, and carrying the crops to plant them at home. As a result, this project is expected to serve as a temporary gathering place (third place) for the community, especially young people, to enjoy traditional farming activities and incorporate modern techniques such as hydroponics, aquaponics, and aeroponics to create a new lifestyle for achieving food security district. Thus, this project acts as a locus to secure the food system but also to increase the quality of third place in the community’s everydayness through social interaction and improving well-being. Keywords: urban agriculture; locality; third place; everydayness; regenerative; locus Abstrak Berdasarkan sumber dari Badan Pusat Statistik di tahun 2023, Indonesia sedang menghadapi permasalahan penurunan pasokan pangan. Hal ini disebabkan oleh krisis regenerasi petani muda yang didorong dengan munculnya stigma negatif akan dunia pertanian yang dianggap kotor, tinggi resiko, dan kurang bergengsi sehingga kaum muda lebih tertarik untuk melakukan gerakan urbanisasi. Oleh karena ini diperlukannya upaya untuk memunculkan kembali minat bagi kaum generasi muda dalam kegiatan bertani melalui pengembangan konsep Third Place berbasis lokalitas yang diartikan sebagai ruang sosial informal antara rumah dan pekerjaan yang dimana orang-orang bisa bersantai. Proyek agrikultur ini mengajak pengunjung untuk mempraktekkan dan melihat prosesi pertanian dari awal hingga akhir. Dengan hadirnya program penunjang yang menciptakan interaksi sosial berupa Co-Working space, Communal Space, Mini Plaza, dan Garden Terrace. Dengan memanfaatkan pendekatan everydayness, proyek Urban Agriculture ini mendorong munculnya budaya akan aktivitas masyarakat yang baru seperti menanam bibit, memanen hasil dan merawat hasilnya. Dengan itu, diharapkan proyek ini bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi untuk masyarakat khususnya kaum muda untuk menikmati kegiatan bertani yang tidak hanya tradisional, namun juga ada teknik hidroponik, akuaponik, dan juga aeroponik guna membentuk gaya hidup baru untuk mencipatakan kawasan yang mandiri pangan. Sehingga, proyek berperan sebagai locus segi ketahanan pangan tapi juga memperkuat kualitas third place dalam keseharian masyarakat melalui interaksi sosial melalui komunitas dan peningkatan kualitas hidup.
STUDI BENTUK PUSAT EDUKASI DAN PENGOLAHAN SAMPAH PLASTIK DI KAWASAN MUARA ANGKE Vanessa, Vanessa; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35552

Abstract

Muara Angke, a central port and fisheries area on the northern coast of Jakarta, holds significant economic and social value. However, this area faces the problem of plastic waste pollution originating from ship activities, port operations, drainage systems, and community practices of indiscriminately disposing of waste. The plastic waste ultimately contaminates the waters, disrupting marine ecosystem balance, threatening public health, and jeopardizing the livelihoods that depend on marine resources. To address these issues, solutions are needed through the integration of technology and architectural design. This study responds to these problems by developing a design for a center dedicated to plastic waste education and processing, applying a regenerative architectural approach that not only focuses on environmental restoration but also strengthens the relationship between the community and its environment. The form-generation method used integrates the results of experiments on the characteristics of plastic waste types such as HDPE, PS, and PET, based on their processing methods. Plastic materials are not only processed functionally but also explored for their potential to shape architectural mass. The outcomes of these experiments will then be translated into the form and spatial composition of the building, illustrating the transition from waste to a new resource. This approach aims to create spaces that are educational and participatory, supporting comprehensive regeneration of the area. Thus, the building will demonstrate that plastic waste management is not only about solving pollution problems but can also shape the identity of the education and processing center itself. Keywords: education; plastic; processing; regenerative; waste Abstrak Muara Angke, kawasan pusat pelabuhan dan perikanan di pesisir Jakarta Utara memiliki nilai ekonomi dan sosial yang penting. Namun, di kawasan ini terdapat permasalahan pencemaran sampah plastik berasal dari aktivitas kapal, pelabuhan, drainase, dan aktivitas masyarakat yang membuang sampah secara sembarangan. Sampah plastik akhirnya mencemari perairan yang dapat mengganggu keseimbangan ekosistem laut, kesehatan masyarakat dan mata pencaharian yang bergantung pada hasil laut. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan solusi melalui pendekatan teknologi dan desain arsitektur. Studi ini merespons permasalahan tersebut melalui pembentukan bentuk untuk pusat edukasi dan pengolahan sampah plastik dengan pendekatan arsitektur regeneratif yang tidak hanya berorientasi pada perbaikan lingkungan tetapi juga pada hubungan antara masyarakat dan lingkungan. Metode pembentukan bentuk yang digunakan adalah intergrasi dari hasil eksperimen terhadap karakteristik sampah plastik seperti tipe HDPE, PS, dan PET yang berdasar dari proses pengolahan sampah plastik. Material plastik tidak hanya diolah secara fungsional, tetapi juga dieksplorasi potensi dalam membentuk massa secara arsitektural. Hasil eksperimen tersebut kemudian akan diterjemahkan ke dalam pengolahan bentuk dan susunan massa bangunan yang menunjukan proses transisi dari limbah menjadi sumber daya baru dan menjadikannya massa yang memiliki fungsi edukatif dan partisipatif, yang mendorong regenerasi kawasan secara menyeluruh. Dengan demikian, bangunan nantinya akan menunjukkan bahwa pengolahan plastik tidak hanya menyelesaikan persoalan limbah, tetapi juga dapat membentuk identitasi dari pusat edukasi dan pengolahan sampah plastik itu sendiri.