cover
Contact Name
Irma Yuliani
Contact Email
ijougs@iainponorogo.ac.id
Phone
+6285854981814
Journal Mail Official
ijougs@iainponorogo.ac.id
Editorial Address
Jl. Pramuka, No. 156, Ronowijayan, Siman, Ponorogo
Location
Kab. ponorogo,
Jawa timur
INDONESIA
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies
ISSN : 27457397     EISSN : 2745861X     DOI : https://doi.org/10.21154/ijougs
Core Subject : Humanities, Social,
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies is a bilingual journal that published in June and December by The Institute for Research and Community Services of State Institute for Islamic Studies (IAIN) Ponorogo. The Journal is focus on the result from researches and studies of gender equities or inequities through in civil society, culture, education, lenguange, religions etc.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 1, No 2 (2020)" : 5 Documents clear
MANIFESTATION OF GENDER INEQUALITIES IN STUDENT ORGANIZATIONS Andhita Risko Faristiana
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v1i2.2489

Abstract

Ketidaksetaraan gender memang masih menjadi masalah yang tiada habisnya, meski semua orang tahu bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Budaya yang disosialisasikan oleh keluarga merupakan awal dari terjadinya ketidakadilan gender di masyarakat. Kemudian berlanjut ketika seorang anak dibesarkan di lingkungan sekitarnya, terutama di tempat mereka mengenyam pendidikan formal. Artikel ini membahas tentang bentuk-bentuk ketidaksetaraan gender yang dialami mahasiswa dalam mengikuti organisasi di kampus. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menggali budaya patriarki yang memandang perempuan sebagai gender kedua, diikuti oleh budaya daerah yang membuat pandangan tersebut semakin mengakar di masyarakat, khususnya di organisasi kemahasiswaan. Budaya Jawa membangun masyarakat bahwa perempuan harus berada di bawah laki-laki. Perempuan generasi milenial yang semestinya terbebas dari belenggu patriarki masih mengalami subordinasi dalam organisasi perguruan tinggi. Dalam struktur organisasi, perempuan tidak pernah dijadikan pemimpin dan dalam kepanitiaan mereka selalu mendapat tugas di wilayah domestik, bukan publik.
NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM NOVEL MATA PENAKLUK MANAKIB ABDURRAHMAN WAHID KARYA ABDULLAH WONG DAN RELEVANSINYA DENGAN KOMPETENSI KEPRIBADIAN GURU PAI Imam Syahbudin Amsori; Ahmad Natsir
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v1i2.2491

Abstract

Novel Mata Penakluk adalah novel yang ditulis oleh Abdulloh Wong yang isinya menceritakan biografi Abdurrahman Wahid atau yang lebih dikenal sebagai Gus Dur. selain menceritakan kisah hidup Gus Dur ketika Menjadi Presiden, novel tersebut juga menceritakan Gus Dur semasa masih kecil serta perjalanan Gus Dur dalam menuntut ilmu. Banyak kisah-kisah yang dapat menjadi contoh baik bagi peserta didik sebagai salah satu pendidikan karakter bagi peserta didik. Karena jika kita lihat, pada kenyataannya karakter peserta didik saat ini mulai terkikis karena arus globalisasi yang semakin sulit dikontrol. Oleh karena itu, pendidikan karakter dalam novel Mata Penakluk tersebut diharapkan mampu menjadi media dalam memperbaiki karakter peserta didik karena pada dasarnya pendidikan bukan hanya transfer of knowledge namun juga proses transfer of attitude. Selain itu dari pendidikan karakter dalam novel tersebut kita dapat mengetahui lebih jauh apakah pendidikan karakter tersebut akan berpengaruh terhadap kompetensi kepribadian guru. Hasil penelitian ini diketahui bahwa: pertama, Terdapat nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Mata Penakluk, yaitu: religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai, bersahabat/komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli sosial, tanggung jawab. Kedua, Terdapat relevansi antara nilai-nilai pendidikan karakter dalam novel Mata Penakluk dengan kompetensi kepribadian guru PAI.
RESISTENSI KEPEMIMPINAN PEREMPUAN EKS-HIZBUT TAHRIR DALAM LEMBAGA PENDIDIKAN DASAR ISLAM DI KOTA KEDIRI Ahmad Khoirul Mustamir; Muslimin Muslimin
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v1i2.2492

Abstract

Fenomena masuknya radikalisme di lembaga pendidikan dasar Islam melalui berbagai bentuk media dan cara. Alhasil, tidak sedikit lembaga pendidikan dasar Islam yang terkena virus radikalisme. Karenanya, peran prinsipal melawan radikalisme menjadi sangat penting. Di Kediri, banyak lembaga pendidikan dasar Islam dipimpin oleh pemimpin perempuan yang dianggap sebagai kelas dua. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan perspektif feminisme. Objek penelitian adalah SDI AL Huda Kota Kediri (NU), SDI Wahidiyah Kota Kediri dan SD Plus Ar Rahmat Kota Kediri (Muhamadiyah). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kepala sekolah menggunakan pendekatan formal dan nonformal dalam memerangi radikalisme (eks-HTI). Pendekatan formal menggunakan program pembelajaran dan kegiatan ekstrakurikuler. Sedangkan pendekatan nonformal memanfaatkan pertemuan orang tua. Ini membuktikan, peran perempuan sangat signifikan dalam memperjuangkan pemahaman eks-HTI di lembaga pendidikan dasar Islam di Kota Kediri.
REKONSTRUKSI EKONOMI KELUARGA BERBASIS GENDER DI MASA PANDEMI Muhammad Nashiruddin Malik
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v1i2.2550

Abstract

Covid 19 menjadi permulaan kekacauan segala sektor kehidupan manusia. Wabah ini selain membawa dampak negatif bagi kesehatan, juga berpengaruh terhadap ekonomi dan sosial. Akibatnya banyak perusahaan yang melakukan PHK kepada para pekerjanya yang mengakibatkan banyak orang yang kehilangan pekerjaannya. Selain itu banyak terjadi KDRT di masa pandemi ini sebagaimana data dari Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA) yang mencatat sejumlah 523 kasus KDRT selama pandemi. Hal ini harus segera ditangani dengan mencari akar masalahnya dan merekonstruksi ekonomi keluarga makin membaik dan para perempuan dan anak terhindar dari kekerasan.
KESETARAAN GENDER DALAM LINGKUP PENDIDIKAN DAN TATA SOSIAL Yuni Sulistyowati
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 1, No 2 (2020)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v1i2.2317

Abstract

Abstrak: Meskipun upaya penegakan keadilan dan kesetaraan gender terus disuarakan, nyatanya diskriminasi gender masih tetap eksis di masyarakat. Salah satu alasan yang mendasari ketidaksetaraan gender ialah masih dielu-elukannya paham partiarki yang memandang laki-laki sebagai pihak dominan dan mengesampingkan peran perempuan dalam tatanan sosial. Berangkat dari persepsi yang menganggap bahwa perempuan hanya disiapkan untuk menjadi seorang kepala dapur dalam keluarga menempatkan perempuan sebagai kaum yang termarjinalisasi dan tersubordir. Perempuan menjadi sasaran kekerasan dan pelecehan sosial yang mana dianggap sebagai kaum yang lemah dan tidak memiliki kuasa.Abstract:Even though efforts to uphold justice and gender equality continue to be voiced, in fact gender discrimination still exixts in society. One of the fundamental reasons for gender inequality is that the patriarchy concept is still praised who views men as the dominant party and ignores the role of women in social order. Departing from the perception that women are only prepared to be the head of the kitchen in the family, placing women as the marginalized and subverted people. Women become targets of violence and social harassment who are seen as weak and powerless.

Page 1 of 1 | Total Record : 5