cover
Contact Name
Aan Budianto
Contact Email
jurnaleltarikh@radenintan.ac.id
Phone
+6282289930331
Journal Mail Official
jurnaleltarikh@radenintan.ac.id
Editorial Address
Prodi Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung JL. Sukarame, Kec. Sukarame, Kota Bandar Lampung, Lampung 35131
Location
Kota bandar lampung,
Lampung
INDONESIA
Jurnal El Tarikh: Journal of History, Culture, and Islamic Civilization
ISSN : 27747999     EISSN : 27748723     DOI : https:dx.doi.org/10.24042
JHCC covers all areas and periods in Indonesian, Southeast Asia,and World history, culture, and Islamic civilization. It deals with all aspects of the history including of Islamic, Language, Education, Economics, Culture, Politics, Social, Antropologi, Exegesis, Hadits, and Philology. All historical approaches are also welcomed. This journal accepts on diverse formats includes the article from scientific forums, review essays, and special issues. The editor also received a book review to be published in a special section of the publication. The articles can be written to be submitted in Indonesia and English.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa" : 6 Documents clear
Pelestarian Batik Melalui Kub Lestari Desa Kalidawir Tahun 2016-2020 Albar, Alfin Ganendra
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v2i2.8816

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sejarah Desa Kalidawir yang berkaitan dengan potensi budaya yaitu batik. Permasalahan yang dikaji yaitu berkaitan mengenai peran perempuan terhadap pelestarian batik di Desa Kalidawir serta dampaknya pada bidang ekonomi dan sosial budaya. Oleh karena itu, untuk mengkaji permasalahannya maka penulis menggunakan metode penelitian sejarah yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Batik saat ini dapat ditemukan di berbagai daerah, tak terkecuali Desa Kalidawir, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Perkumpulan ibu-ibu PKK membentuk KUB Lestari yang bertujuan untuk membuat sekaligus melestarikan batik dengan ciri khas Desa Kalidawir. Potensi budaya ini diawali pada tahun 2016  dengan mengikuti pelatihan dan diresmikan pada tanggal 10 Oktober 2018, seiring berkembangnya mampu membawa nama Desa Kalidawir dengan mendatangkan pelanggan dari beberapa daerah. Batik yang terkenal dalam KUB Lestari Kalidawir ini ialah batik jumput dan serut yang dijadikan menjadi satu dengan motif zigzag. Keberhasilan dalam melestarikan budaya batik dapat dirasakan oleh masyarakat secara nyata dengan membangun interaksi sosial antara pekerja, menambah pemasukan ekonomi, dan desa memiliki produk unggulan. Dalam hal tersebut diperlukan peran perempuan yang dituntut untuk kreatif dan inovatif.The aims of the research is to the history of Kalidawir village that’s related to the potential of culture, Batik. The issue studied is associated with women’s role to the preservation of batik in Kalidawir Village and its impact on the economic and sosio-cultural fields. Therefore, to examine the problem author uses historical research methods that consists of heuristics, criticism, interpretation, and historiography. Batik can now be found in various regions, including Kalidawir Village, Tanggulangin District, Sidoarjo. (The associaton of PKK mothers) created group named KUB Lestari which aims to make and preserve batik with the characteristic of Kalidawir Village. This cultural potential began in 2016 by attending training and inaugurated on October 10, 2018, along with its development, batik was able to bring the name of Kalidawir Village by bringing customers from several regions. The popular batik in KUB Lestari Kalidawir is batik jumput and serut that is modified into one with zigzag motif. Success in preserving batik culture can be felt by the community in real terms by building social interaction between workers, increasing economic income, and the village has superior products. In that case, the role of women is required to be creative and innovative
Tradisi Terbang Gembrung sebagai Salah Satu Sarana Penyebaran Islam di Kampung Naga Sumawinata, Shiska; Aryanti, Dewi Raihan; Azzahra, Maryam
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v2i2.8817

Abstract

AbstrakArtikel ini berisi pembahasan terkait tradisi Terbang Gembrung masyarakat Kampung Naga yang dijadikan sebagai sarana penyebaran Islam. Kampung Naga merupakan salah satu kampung adat yang berada di  Tasikmalaya, Jawa Barat. Sebagai kampung adat, masyarakat kampung Naga masih mempertahankan tradisi yang dimilikinya secara turun-temurun. Upaya mempertahankan tradisi di tengah modernisasi menjadi motivasi generasi penerus untuk mempertahankan tradisi daerahnya. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat Kampung Naga hingga saat ini adalah Terbang Gembrung atau Terbangan. Masuknya tradisi ini ke Kampung Naga diduga memiliki hubungan erat dengan masuknya Islam ke tanah Sunda. Hal tersebut disimbolkan melalui alat musik Terbangan. Di dalam tradisi ini terdapat nyanyian berupa selawat untuk nabi yang diiringi oleh instrumen sejenis rebana atau tagonian. Di samping itu, masyarakat Kampung Naga percaya bahwa mereka merupakan keturunan Singaparna dari Kerajaan Galunggung yang memeluk agama Islam. Penulis menggunakan metode studi literatur untuk mencari dan mengumpulkan sumber-sumber yang relevan dalam menyusun artikel ini.Kata Kunci: Tradisi Terbang Gembrung, Kampung Naga, Sejarah.
Pesona Pegringsingan : Mengulik Sejarah dan Dinamika Resiliensi Adat Tradisi Masyarakat Desa Tenganan Pegringsingan Bali dalam Mendukung Pembangunan Pariwisata Berkelanjutan Fauziatunnisa, Zahra Auliani; Rengganis, Putri Indah; Asyraf, Muhammad Affan
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v2i2.9714

Abstract

Pergesekan antara adat dan pariwisata menjadi salah satu masalah yang mengakar di Indonesia. Namun, hal tersebut dapat diatasi oleh masyarakat adat Bali Aga di Tenganan Pegringsingan Bali. Berangkat dari dinamika sejarah yang membentuk mereka hingga saat ini, masyarakat disana masih memegang teguh tradisi budayanya sebagai pedoman hidup di samping menjalankan sektor wisata. Mampu bersaing di tengah masifnya atmosfer pariwisata dengan identitas khusus yang melekat dalam kehidupan budaya masyarakatnya. Tujuan penulisan ini adalah menganalisis proses sejarah dan dinamika masyarakat Desa Tenganan, mengidentifikasi ragam adat tradisi masyarakat tersebut, menganalisis kemampuan resiliensi masyarakat menghadapi wisata di tengah pusaran pariwisata Bali, serta menyajikan bentuk resiliensi dari masyarakat adat tersebut dalam mendukung pembangunan pariwisata berkelanjutan. Penulisan dilakukan secara kualitatif menggunakan metode penulisan sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa berdasarkan sejarah masyarakat adat dan dinamika kehidupan di Desa Tenganan, mereka mengalami transisi dari masyarakat berbasis agraris menjadi pariwisata. Namun, adanya transisi itu tidak mengikis keberadaan ragam tradisi dan budaya mereka. Hal itu terbentuk dari kemampuan resiliensi masyarakat menghadapi kondisi baru dan menciptakan harmonisasi antara adat dengan pariwisata. Pola adaptasi ini justru menjadi salah satu perwujudan dalam pembangunan pariwisata berkelanjutan dan mengatasi pergesekan antara adat dan wisata.Kata Kunci: sejarah masyarakat adat, Tenganan, resiliensi, pariwisata berkelanjutan
Dominasi Transmigran Ponorogo di Kelurahan Ponorogo (Kajian Penyebab dan Pengaruhnya) Ajeng Sekar Ayu, Monica Diah
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v2i2.9840

Abstract

  The transmigration program has been implemented in Indonesia since the year 1905. The success of this program encouraged more people from densely populated areas to do transmigration into potential areas where the population density was still low. The migrants’ purpose was to obtain security, prosperity, and welface in life. This happened on the Ponorogo Migrants who was seeking a new life in the Urban Village Ponorogo, until they became the dominant group set aside a native of the local area. This study aims to analyze the causes and consequences of the dominance of Ponorogo migrants in the Urban Village Ponorogo. This study is a qualitative study by conducting interview, observation, and literature research. The results of the study show that domination obtained by the migrants to give them credit for also leaving the influence of culture in targeted areas of transmigration. Aspects that are affected by the arrival of the migrants include the language, the art, and the social relations of society.Keywords: transmigrant, Ponorogo, Ponorogo Urban Village.
TRADISI MANDHASIYA DESA PANCOT DAN POTENSINYA SEBAGAI DAYA TARIK WISATA KABUPATEN KARANGANYAR Murdyaningsih, Devi
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v2i2.9870

Abstract

AbstractThe Mandhasiya tradition is a village clean tradition carried out by the people of Pancot Village, Tawangmangu District, Karanganyar Regency. This tradition has an important role in the realization of social cohesion between communities. The purpose of this study is to explain the identity and history of Pancot Village, to describe the procession of implementing the Mandhasiya tradition, and to provide an overview of the attractiveness of cultural tourism. The method of this research used a descriptive qualitative method. The data of this research was obtained through literature study and in-depth interview. Data analysis was performed by data reduction and data presentation. The results showed that the history of Pancot Village originated from the story of the defeat of Prabu Baka by Putut Tetuka. This tradition is carried out every seven months on Tuesday Kliwon wuku Mandhasiya. The procession of implementing the Mandhasiya tradition has two stages, namely the pre-ceremony and the implementation of the ceremony. The attractiveness of this traditional tourism lies in the aspects of attractions, amenities, accessibility and activities. Based on the SWOT analysis, this tradition deserves to be used as one of the cultural tourism objects in Karanganyar Regency.Keywords: Mandhasiya Tradition, Pancot Village, Tourist Attraction
Sadranan Watu Jaran: Pemersatu Masyarakat Multiagama Desa Kendalrejo Kecamatan Talun Kabupaten Blitar Provinsi Jawa Timur Yusuf, Muhamad Satok
El Tarikh : Journal of History, Culture and Islamic Civilization Vol. 2 No. 2 (2021): Sejarah Desa
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/jhcc.v2i2.10025

Abstract

Masyarakat Desa Kendalrejo, Kecamatan Talun, Kabupaten Blitar, Provinsi Jawa Timur merupakan masyarakat plural yang kemudian mengembangkan dirinya sebagai masyarakat yang multikultural melalui ritual nyadran. Penelitian ini berupaya mengkaji peran nyadran dalam membentuk konsep multikulturalisme dalam kehiduapan multiagama masyarakat Kendalrejo serta eksistensi ritual tersebut dalam kehidupan masyarakatnya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pengumpulan data melalui proses obervasi, wawancara, dan kajian pustaka. Teori semiotika dan multikultural otonom digunakan untuk membantu analisis. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ritual nyadran yang dilakukan masyarakat Kendalrejo sebagai permohonan restu leluhur, tradisi wajib yang dilakukan oleh empat golongan agama (Islam, Hindu, Kristen, dan Katolik), dengan ketentuan yang telah disepakati bersama, serta bentuk pengembangan dari konsep animisme dan pemujaan terhadap parwatarajadewa. Ritual nyadran di Desa Kendalrejo juga menjadi subjek sekaligus objek dalam mewujudkan kehidupan masyarakat multikutural otonom. Masyarakat Kendalrejo berdasarkan sejarahnya merupakan para pendatang sejak tahun 1910-an dari berbagai daerah dengan latar belakang keyakinan dan ideologi yang berbeda-beda.

Page 1 of 1 | Total Record : 6