cover
Contact Name
Brury Eko Saputra
Contact Email
brury@sttaletheia.ac.id
Phone
+62341-426617
Journal Mail Official
brury@sttaletheia.ac.id
Editorial Address
Jl. Argopuro No.28-34, Lawang, Kec. Lawang, Malang, Jawa Timur 65211
Location
Kab. malang,
Jawa timur
INDONESIA
Sola Gratia: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
ISSN : 27232786     EISSN : 27232794     DOI : https://doi.org/10.47596/sg.v1i2
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi di bidang Teologi Biblika dan Praktika. Focus dan Scope penelitian SOLA GRATIA adalah: 1. Teologi Biblikal 2. Teologi Pastoral 3. Teologi Kontemporer
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017" : 7 Documents clear
KHOTBAH YANG KONTEKSTUAL : MEMURIDKAN PARA PENGKHOTBAH UNTUK MEMURIDKAN JEMAAT AMOS WINARTO OEI
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.53

Abstract

Abstrak: Pemuridan yang Alkitabiah tidak dapat dilepaskan dari mimbar yang Alkitabiah. Pemuridan memang tidak berakhir dengan pemberitaan Injil, namun pemuridan harus dimulai dengannya. Khotbah adalah tempat memulai yang tidak bisa diabaikan. Pemuridan dapat terjadi ketika para pengkhotbah semakin belajar menyajikan khotbah yang kontekstual. Melalui khotbah yang kontekstual, bukan hanya jemaat dibawa untuk semakin dekat Tuhan, si pengkhotbah pun dibawa untuk semakin dekat dengan Tuhan. Khotbah kontekstual adalah khotbah yang menyaksikan nama Tuhan dan bukan nama diri pengkhotbahnya.  Kata-kata Kunci: Pemuridan, khotbah, kontekstual
RESENSI BUKU : 5 CIRI JEMAAT YANG BERTUBUH SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.58

Abstract

Dalam buku ini, Robert Schnase memaparkan lima ciri jemaat yang bertumbuh. Kelima ciri itu adalah:  1.  Keramahtamahan yang radikal2.  Ibadah yang bergairah3.  Pertumbuhan iman yang terencana4.  Menerima resiko dari misi dan pelayanan5.  Kemurahan hati yang luar biasa 
PURITAN DAN PEMURIDAN : MIND, HEART AND LIFE IN THE MAKING MARIANI FEBRIANA
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.54

Abstract

Abstrak: Pemuridan adalah topik diskusi yang panjang di dalam kehidupan sejarah gereja. Sekarang, banyak pola dan model yang ditawarkan kepada gereja untuk meraih tujuan yang menarik ini, menjadi seorang murid Kristus sejati. Demi mencari pola-pola dan model-model ini kita tidak dapat menghindari tradisi masa lalu gereja dalam menghadapi masalah ini. Salah satu dari tradisi yang luar biasa ini adalah menyuburkan tanah untuk komunitas modern kita sekarang dengan belajar isu-isu ini dari masa Puritan. Kita perlu tradisi Puritan sekarang karena kekayaan tradisi ini akan membantu kita untuk membuat murid-murid Kristus.  Visi budaya Puritan adalah untuk membuat pikiran, hati, dan hidup sejalan dengan Firman Tuhan. Visi yang sangat jelas ini dijalankan di dalam setiap aspek kehidupan, dari rumah, gereja, dan masyarakat. Program untuk mencapai tujuan ini adalah sederhana dan dapat diraih. Segala komunitas dilibatkan ke dalam program besar ini. Pelayan-pelayan gereja, para orang tua, dan semua orang percaya adalah sebuah tim untuk mencapai tujuan yang berguna ini dan mereka masing-masing memiliki tanggung jawab. Pembaruan gereja terus ditanam dalam pemuridan supaya setiap orang percaya dibentuk di dalam karakter tuan mereka, sebagai penerus Yesus di dalam kerajaan-Nya.  Kita menyadari bahwa setiap era mempunyai waktunya sendiri-sendiri, namun belajar dari masa lalu dan tradisi yang baik selalu memberikan kepada kita pencerahan yang menginspirasi kita untuk terus melanjutkan tugas yang besar ini di dalam gereja. Gereja adalah seperti seorang penggembara yang berjalan bersama dengan umat Allah di segala zaman dan waktu, dan karena itu gereja tidak seharusnya lupa apa yang telah terjadi dalam kehidupan gereja sebelumnya demi pembelajaran kita pada hari ini. Pembentukan spiritual Puritan yaitu pembentukan pikiran, hati, dan hidup untuk menjadi murid-murid Kristus di dunia ini yang memuliakan Tuhan adalah layak menjadi pembelajaran gereja hari ini.   Kata-kata Kunci: Puritan, pemuridan dan pembaharuan gereja, pembentukan pikiran, hati, dan jiwa.
PEMURIDAN MELALUI PENDEKATAN KONSELING PASTORAL MARTHEN NAINUPU
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.55

Abstract

Abstrak: Pemuridan adalah bagian yang tak terpisahkan dari keseluruhan pelayanan penggembalaan gereja. Pemuridan adalah suatu usaha sadar yang dilakukan oleh dan dari gereja secara terencana dan sistematis agar membantu setiap orang percaya atau anggota gereja dapat berakar kuat di dalam Kristus (Kolose 2:7), dan mencapai kedewasaan penuh serta tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus (Efesus 4:13). Pemuridan sebagai suatu usaha sadar berlangsung dalam suatu proses yang lama dan panjang bahkan seumur hidup dengan tujuan akhir ialah agar seluruh warga jemaat dapat melatih dan memuridkan orang lain lagi. Proses pemuridan tersebut dapat dilakukan dengan berbagai pendekatan dan cara. Salah satu cara atau pendekatan yang disajikan dalam tulisan ini ialah melalui konseling pastoral. Konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan dibangun di atas dasar atau pola pemuridan Tuhan Yesus. Pola pemuridan Tuhan Yesus telah memberikan inspirasi dan panduan yang mendasar bagi keseluruhan proses konseling pastoral pada umumnya, terutama dalam kaitannya dengan konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan. Konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan mengandung makna membangkitkan kesadaran kritis terhadap dosa, mewujudkan pemulihan, perubahan dan pertumbuhan rohani menuju kepada kedewasaan dalam Kristus. Makna lainnya ialah meneruskan karya pemuridan Tuhan Yesus sebagaimana Ia amanatkan kepada gereja sampai Ia datang kembali. Dengan adanya konseling pastoral sebagai suatu pendekatan pemuridan akan dapat memperkaya kehidupan gereja dengan berbagai pendekatan untuk meningkatkan pemuridan dan kerohanian warga jemaat.  Kata-kata kunci: Panggilan pemuridan, konseling pastoral.
ADAKAH METODE PEMURIDAN DALAM PERJAJIAN LAMA? SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.56

Abstract

Abstrak: Pemuridan merupakan topik bahasan umum  dalam Perjanjian Baru, khususnya kitab-kitab Injil. Pemuridan merupakan metode pembinaan agar orang percaya bertumbuh dewasa secara rohani, sehingga dapat memuridkan orang lain. Adakah metode pemuridan dalam Perjanjian Lama? Tulisan ini berupaya untuk menyelidiki metode “pemuridan” dalam Perjanjian Lama. Tulisan ini mencoba untuk menyelusuri berbagai pembinaan dan pendidikan rohani dalam Perjanjian Lama, seperti pembinaan rohani di rumah, pembinaan rohani oleh Imam dan orang Lewi, pembinaan oleh para orang bijak dan pembinaan dalam konteks kenabian.  Metode pembinaan rohani dalam Perjanjian Lama yang paling dekat atau mirip dengan metode pemuridan dalam Perjanjian Baru adalah pembinaan rohani yang dilakukan oleh orang tua kepada anak-anaknya. Ulangan 6 memberikan pedoman penting tentang pembinaan rohani ini. Metode pembinaan rohani orang tua kepada anak-anaknya ini lebih alamiah, karena adanya interaksi antara orang tua dan anak dalam konteks kehidupan keluarga sehari-hari.  Kata-kata Kunci: Pemuridan, Perjanjian Lama, pembinaan rohani oleh orang tua, Ulangan 6.
PEMURIDAN DAN KEDEWASAAN ROHANI AGUNG GUNAWAN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.52

Abstract

Abstrak: Metode pemuridan saat ini sedang marak diperbincangkan dan dilakukan oleh gereja-gereja di Indonesia. Ada banyak gereja yang telah merasakan manfaat dari proses pemuridan. Salah satunya manfaat yang dapat dilihat adalah bahwa seseorang yang telah mengikuti proses pemuridan mengalami pertumbuhan dalam kehidupan rohaninya menuju kepada kedewasaan rohani. Kedewasaan rohani sangat dibutuhkan oleh orang Kristen agar kehidupan mereka sungguh mendemonstrasikan karakter Kristus. Orang percaya yang dewasa rohani akan memiliki iman yang kokoh di tengah gencarnya serangan pengaruh pengajaran yang menyesatkan dan di tengah berbagai hantaman badai kehidupan. Orang percaya yang mengalami kedewasaan rohani akan memiliki kerinduan untuk melayani Tuhan dengan setia sehingga banyak jiwa-jiwa yang dibawa kepada Kristus. Oleh sebab itu, pemuridan merupakan salah satu jawaban bagi kebutuhan gereja hari ini yang merindukan agar jemaatnya mengalami kedewasaan rohani.  Kata-kata Kunci: Pemuridan, kedewasaan rohani, karakter Kristus, setia, melayani Tuhan.
RESENSI BUKU : BECOMING A HEALTHY CHURCH, 10 CIRI PELAYANAN YANG VITAL SIA KOK SIN
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2017): MARET 2017
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/solagratia.v5i1.57

Abstract

Buku ini adalah tentang pertumbuhan gereja yang membahas tentang menjadi gereja yang sehat dan bertumbuh. Stephen A. Macchia mengungkapkan 10 ciri pelayanan yang vital untuk menjadi gereja yang sehat, yaitu:  1. Hadirat Tuhan yang memberdayakan2. Penyembahan yang meninggikan Tuhan3. Disiplin rohani4. Belajar dan bertumbuh dalam komunitas5. Komitmen untuk hubungan yang penuh kasih6. Pengembangan kepemimpinan-hamba7. Fokus ke luar8. Administrasi dan akuntabilitas yang bijaksana9. Pembentukan jaringan dengan tubuh Kristus10. Kepengurusan dan kemurahan hati  Dalam membahas karakteristik pertama tentang “hadirat Tuhan yang memberdayakan”, Macchia mengingatkan pentingnya bagi gereja yang mengalami kebutuhan untuk bergantung kepada Roh Kudus dalam kehidupan dan pelayanannya. Kebergantungan pada Roh Kudus akan menolong gereja untuk dapat menampakkan buah Roh dan menggunakan karunia Roh dalam kehidupan dan pelayanannya (halaman 15-34).

Page 1 of 1 | Total Record : 7