cover
Contact Name
Firdaus M Yunus
Contact Email
alqonz90@gmail.com
Phone
+6281360424407
Journal Mail Official
alqonz90@gmail.com
Editorial Address
Gedung Fakultas Ushuluddin Lantai 1, Program Studi Aqidan dan Filsafat Islam Fakultas Ushuluddin dan Filsafat, UIN Ar-Raniry. Jln. Lingkar Kampus, Kopelma Darussalam Banda Aceh, Aceh 23111.Telp. (0651)7551295. eMail: jpi@ar-raniry.ac.id
Location
Kota banda aceh,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Pemikiran Islam (JPI)
ISSN : 27989747     EISSN : 27989534     DOI : 10.22373/jpi
Jurnal Pemikiran Islam (JPI) published by Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. This journal published twice a year, that is July-December and January-June. Jurnal Pemikiran Islam focuses on studies of Islamic thought, theology, philosophy, and Sufism. Jurnal Pemikiran Islam (JPI) diterbitkan oleh Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Ar-Raniry Banda Aceh. Jurnal ini terbit dua kali dalam setahun, yaitu bulan Januari-Juni dan Juli-Desember Setiap tahunnya. Jurnal Pemikiran Islam berfokus pada kajian Pemikiran Islam, Teologi, Filsafat, dan Tasawuf.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni" : 8 Documents clear
Pengaruh Tradisi Khanduri Toet Apam di Kecamatan Delima, Kabupaten Pidie Suci Dihanna; Suci Fajarni
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13142

Abstract

Khanduri Apam is a tradition that has been practiced for generations by the community of Pidie Regency. In the ancient times,  this tradition was very Islamic. Over the years, this tradition has changed. This study aims to determine the procession of the khanduri apam tradition and its influence on social, cultural, and religious values in society. The purpose of this study was to explain  the Khanduri Apam tradition in the Delima community, Pidie. This study uses a qualitative method. Data collection was carried out from observations, interviews, and relevant literatures. The results showed that the Khanduri Apam  had an influence on the religious life of the community in terms of Khanduri Apam considered as worship, especially when it regarded as sedekah, besides the Khanduri Apam tradition also gave a feeling of happiness to those who carried it out and who received the sedekah. For the Delima community, the Khanduri Apam tradition has been entrenched and carried out for generations by the community, and they set the month of Ra'jab as the month of practising this tradition.  AbstrakKhanduri Apam merupakan salah satu tradisi yang dijalankan secara turun-temurun oleh masyarakat di Kabupaten Pidie. Pada zaman dahulu Tradisi Khanduri Apam ini sangat kental dengan Budaya Islami. Seiring perkembangan zaman tradisi ini telah mengalami perubahan dari sisi pelaksanaannya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosesi tradisi khanduri apam dan pengaruh dari pelaksanaan tradisi tersebut terhadap kehidupan sosial, agama, dan kebudayaan masyarakat. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tradisi Khanduri Apam dalam masyarakat Delima, Pidie. Dalam penelitian ini, pendekatan metode yang digunakan adalah pendekatan metode kualitatif. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan mulai dari observasi, wawancara, hingga pengumpulan dokumen yang diperlukan untuk mendukung hasil penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa tradisi Khanduri Apam di Kecamatan Delima Kabupaten Pidie memberikan pengaruh terhadap kehidupan agama masyarakat, yang mana Khanduri Apam akan menjadi nilai ibadah jika diniatkan untuk bersedekah, selain itu tradisi Khanduri Apam juga berpengaruh terhadap kebahagiaan bagi mereka yang melaksanakan teot apam dan yang menerima sedekah apam, mereka yang menerima selain masyarakat umum, anak yatim, fakir maskin dan para tetangga di sekitar rumah. Bagi masyarakat Delima Tradisi Khanduri Apam sudah membudaya dan dilaksanakan secara turun-temurun oleh masyarakat, dan mereka menetapkan bulan Ra’jab sebagai bulan teot apam dan Khanduri Apam.
Muhammad Abduh dan Pemikiran Pembaharuannya Iskandar Usman
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13718

Abstract

The fall of Egypt, which was one of the centers of Islamic culture and civilization, into the hands of the West in 1798 CE, inspired the Islamic world of its weaknesses and made Muslims aware that in the West a new higher civilization had arisen and was a threat to Islam. The kings and leaders of Islam began to think about how to improve the quality and strength of Muslims again. So were born the ideas of renewal in Islam, which began in Egypt with one of its famous characters, Muhammad Abduh. This study aims to examine how Muhammad's reformed thoughts and the influence of his reformed thoughts on the Islamic world. This research uses a qualitative research method with a literature review technique and uses library study data. According to Abduh, the reasons for the weakness of Muslims are mental poverty and the incorrect direction of thinking, but the main reasons are stupidity and misunderstanding of Islam and life. And to improve the situation of the people as a whole, it must be restored to the soul of togetherness, nationality, Islam, and humanity in general with the development of religion and religious teaching in Education from the basic level. Muhammad Abduh's reform thinking includes four core aspects: politics and nationality, social, belief, education and general teaching. Abduh's thoughts influence in Egypt has given birth to modern scholars, religious writers, political leaders, and Arab litterateur. His opinions and teachings have influenced the Islamic world through his own essays and through the writings of his students.AbstrakJatuhnya Mesir yang merupakan salah satu pusat kebudayaan dan peradaban Islam ke tangan Barat pada 1798 M, menginsafkan dunia Islam akan kelemahannya dan menyadarkan umat Islam bahwa di Barat telah timbul peradaban baru yang lebih tinggi dan merupakan ancaman bagi Islam. Raja-raja dan pemuka-pemuka Islam mulai memikirkan bagaimana meningkatkan mutu dan kekuatan umat Islam kembali. Maka lahirlah ide-ide pembaharuan  dalam Islam, yang dimulai di Mesir dengan salah satu tokohnya yang terkenal, Muhammad Abduh. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pemikiran-pemikiran pembaharuan Muhammad dan bagaimana pengaruh pemikiran-pemikiran pembaharuannya bagi dunia Islam. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan teknik literature review dan menggunakan data studi kepustakaan. Menurut Abduh, sebab-sebab kelemahan umat Islam adalah kemiskinan jiwa dan salahnya arah berpikir, namun sebab utamanya adalah kebodohan dan pemahaman yang salah terhadap Islam dan kehidupan. Dan untuk memperbaiki keadaan umat secara menyeluruh mesti dikembalikan jiwa kebersamaan, kebangsaan, Islam, dan kemanusiaan secara umum dengan pengembangan agama dan pengajaran agama pada Pendidikan sejak dari tingkat dasar. Pemikiran pembaharuan Muhammad Abduh mencakup empat segi inti: politik dan kebangsaan, sosial, keyakinan, Pendidikan dan pengajaran umum. Pengaruh pemikiran Abduh di Mesir telah melahirkan ulama-ulama modern, pengarang-pengarang dalam bidang agama, pemimpin politik, dan sastrawan-sastrawan Arab. Pendapat-pendapat dan ajarannya telah mempengaruhi dunia Islam melalui karangan-karangannya sendiri dan melalui tulisan-tulisan murid-muridnya.
Dinamika Intelektual dan Peradaban Islam pada Masa Rasulullah Muhamad Ainun Najib; Dzulkifli Hadi Imawan
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.12527

Abstract

The role of the Prophet Muhammad in spreading the teachings of Islam not only influenced the dynamics of the rule of law (shari'ah) but also the formation of world civilization. This article will explain the role of Rasulullah in building civilization and intellect in the Islamic world. This study is a literature review using a descriptive analysis method with a qualitative approach. This research concludes that Muhammad saw. has succeeded in changing the civilization of the Arabs into a more civilized nation. In terms of thought, the Prophet Muhammad was the center of all Islamic teachings in the process of the early formation of Islamic society. The existence of the Prophet is the only human being who has the authority to justify the thought of Islamic law in that society.AbstrakPeran Rasulullah Muhammad saw dalam menyebarkan ajaran Islam tidak hanya memberikan pengaruh pada dinamika aturan hukum (syari’at) an sich, melainkan memberikan pengaruh terhadap pembentukan peradaban dunia yang berjalan beriringan. Artikel ini akan mengetengahkan sejauh mana peran Rasulullah dalam membangun peradaban dan intelektualitas dunia Islam. Kajian ini sebuah kajian kepustakaan dengan menggunakan metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Dari Kajian yang dilakukan ditemukan bahwa: Dari sudut pandang peradaban, Muhammad saw telah berhasil mengubah peradaban bangsa Arab dengan segala kompleksitas persoalan sosialnya menjadi bangsa yang lebih beradab. Sementara dari sudut pandang pemikiran, Rasulullah saw adalah pusat dari segala ajaran Islam yang pada masa itu sedang dalam proses pembentukan awal. Keberadaan Rasulullah merupakan satu-satunya manusia yang memiliki otoritas untuk memberikan justifikasi terhadap pemikiran hukum Islam, meskipun dalam lingkup yang sangat kecil memungkinkan bagi sahabat tertentu untuk melakukan ijtihad.
Arah Pengembangan Pemikiran Arab-Islam: Tawaran Arkoun pasca Difitisme 1967 Yuangga Kurnia Yahya
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13192

Abstract

This study aims to look at socio-religious conditions in the Arab world after the 1967 Difitism in Arkoun's view. This view then gave birth to various basic assumptions and offers of thought development in order to address the decline of Arab-Islamic thought. This study will highlight two ideas from Arkoun, both are Applied Islamology and its application in understanding the discourse of the Qur'an. This study uses a qualitative method with data collection through literature study. This study shows that Arkoun offers an offer in the form of Applied Islamology, which requires a dialogical relationship between Islamic religious knowledge (ulum al-din) and social science methodology. This is intended to make Islamic religious texts relevant according to the context of the times and the Qur'anic discourse can be understood its relevance in different spaces and times. Arkoun's offer needs to be followed up receptively critically in order to be able to apply it within the framework of thinking about the philosophy of Islamic sciences as a solution to various problems of the people today.AbstrakStudi ini bertujuan untuk melihat kondisi sosial keagamaan di dunia Arab pasca Difitisme 1967 dalam pandangan Arkoun. Pandangan tersebut kemudian melahirkan berbagai asumsi dasar dan tawaran pengembangan pemikiran dalam rangka menyikapi kemunduran pemikiran Arab-Islam. Studi ini akan menyoroti dua ide dari Arkoun, yaitu Islamologi Terapan dan penerapannya dalam memahami wacana al-Qur’an. Studi ini menggunakan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui studi pustaka. Studi ini menunjukkan bahwa  Arkoun memberikan tawaran berupa Islamologi Terapan, yang mensyaratkan hubungan dialogis antara ilmu agama Islam (ulum al-din) dengan metodologi ilmu sosial. Hal ini dimaksudkan untuk membuat teks-teks keagamaan Islam dapat relevan sesuai dengan konteks perkembangan zaman dan wacana al-Qur’an dapat dipahami relevansinya dalam ruang dan waktu yang berbeda. Tawaran Arkoun tersebut perlu ditindaklanjuti secara reseptif kritis untuk dapat mengaplikasikannya dalam kerangka berpikir filsafat ilmu-ilmu keislaman sebagai solusi atas berbagai permasalahan umat saat ini.
Persepsi Masyarakat atas Kepemimpinan Perempuan di Kecamatan Darussalam Aceh Besar Hilmiati Hilmiati; Ernita Dewi; Zuherni Zuherni
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13140

Abstract

Women's leadership is kind of women's participation in community leading intellectually and emotionally, which is contribute their energy, thoughts, and material to realize a certain goal. Therefore, in history, women’s leadership come up as a significant issue until now days from local and global approach. However women leader especially in Aceh Besar District founded very rare, particularly the position as a village leader.  To figure out the problem, this study try to describe the philosophical values in society toward women's leadership, and to find out the perception of the people of Darussalam Subdistrict, Aceh Besar Regency around the issue.  In this sense, as a field research this research apply a qualitative type of research by using data collection techniques such as documentation, observation.and direct interviews. The results showed that the value of the philosophy of women's leadership displayed from the understanding of the community toward position of a woman, where women also have rights and freedoms in carrying out their obligations. Hence, women have important foundations in family life, organizations and the community.AbstrakKepemimpinan perempuan merupakan suatu bentuk keikutsertaan perempuan dalam memimpin secara intelektual serta emosional dalam suatu kelompok yang dapat memberikan sumbangan yang baik dalam bentuk tenaga, pikiran, maupun materiil guna untuk dapat mewujudkan suatu tujuan tertentu. Kepemimpinan perempuan khususnya di Kabupaten Aceh Besar, kepala desa yang dipimpin oleh perempuan menjadi hal yang sangat jarang dijumpai. Tujuan dalam penelitian ini yaitu mendeskripsikan nilai filosofis dalam kepemimpinan perempuan, serta mengetahui persepsi masyarakat Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar terhadap kepemimpinan perempuan. Penelitian ini bersifat kualitatif yang berbasis penelitian lapangan, serta menggunakan teknik pengumpulan data, wawancara langsung dengan masyarakat Kecamatan Darussalam Kabupaten Aceh Besar. Selain itu, teknik pengumpulan data lainnya seperti dokumentasi dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai filosofi kepemimpinan perempuan dapat dilihat dari pemahaman masyarakat yaitu terletak pada kedudukan seorang perempuan. Dimana perempuan juga mempunyai hak dan kebebasan dalam menjalankan kewajibannya, serta Perempuan tidak lagi dipandang sebagai sosok yang lemah, akan tetapi memiliki fondasi penting dalam kehidupan keluarga, organisasi maupun lingkungan masyarakat.
Sekularisme dalam Pendidikan di Malaysia Nurul Farhanah Binti Masri
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13426

Abstract

The majority of the population of Malaysia is Muslim. However, Islam does not regulate all aspects of state life in this country. The education aspect, for example, is more directed to the western education system and model than the Islamic education system, as well as in the Malaysian state government and political system. The purpose of this study is to classify the idea of secularism that is applied in policy or development in Malaysia, especially in the field of education. This research is a field research, using interviews, observation and documentation as data collection techniques. The results of this study indicate that the Malaysian state has implemented secularism in the government system in Malaysia. This is due to the influence of British colonialism which replaced the model of government based on Malay culture into a democratic system of government, political, social, economic and educational systems. This resulted in the Islamic model slowly starting to be erased, especially in education.AbstrakMayoritas penduduk negara Malaysia menganut agama Islam. Namun tidak semua aspek kehidupan bernegara di negara ini dilaksanakan berdasarkan ajaran islam.  Aspek pendidikan misalnya, sistem pendidikan lebih mengarah pada model dan sistem pendidikan barat dan tidak menganut pada sistem pendidikan Islam, begitu juga dalam sistem pemerintahan dan politik negara Malaysia. Tujuan penelitian ini juga untuk mengklasifikasikan tentang ide sekularisme yang diterapkan dalam kebijakan atau pembangunan di Malaysia khususnya dibidang pendidikan.. Penelitian ini adalah penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa negara Malaysia telah menerapkan sekularisme dalam sistem pemerintahan di Malaysia. Hal ini disebabkan oleh pengaruh penjajahan Inggris yang menggantikan model pemerintahan yang berbasis pada budaya melayu menjadi sistem demokrasi sistem pemerintahan, politik, sosial, ekonomi dan pendidikan.  Hal ini mengakibatkan secara perlahan model islami mulai terhapus khususnya dalam pendidikan.
Nilai-Nilai Filosofis Edet Sumang dalam Masyarakat Linung Bulen II, Kecamatan Bintang, Aceh Tengah Khairum Ayu Ningsih; Husna Amin
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.13141

Abstract

The people of Kampung Linung Bulen II have a way of regulating their behavior and daily social arrangements by Islamic Shari'a values. One of them is Edet Sumang. This study aims to identify the history of the birth of Edet Sumang and its influence on the understanding of the people of Linung Bulen II, Bintang District, Central Aceh Regency. This is field research that uses descriptive research methods and a qualitative approach. primary data is obtained from interviews with predetermined informants, secondary data is obtained from the relevant literature. The results of the study show that Edet Sumang's philosophy is seen in the morals that govern people's lives, this rule is useful for guiding people's attitudes and behavior. Edet Sumang as pemeger (fence) and protector of society from things that are considered inappropriate (inappropriate). Efforts to maintain Edet Sumang are very important because Edet Sumang can have a positive influence on the lives of the people of Linung Bulen II, Bintang District, Central Aceh Regency.AbstrakMasyarakat Kampung Linung Bulen II mempunyai adat istiadat untuk mengatur pola perilaku dan tata pergaulan sehari-hari sesuai dengan nilai-nilai syari’at Islam. Salah satu adat istiadat masyarakat yang dimaksud adalah Edet Sumang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  sejarah lahirnya Edet Sumang serta pengaruh Edet Sumang dalam pemahaman masyarakat Linung Bulen II, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan, dengan menggunakan metode penelitian deskriftif dan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan adalah data primer yang bersumber dari wawancara dengan para informan yang telah ditentukan, sementara data sekunder adalah kutipan-kutipan dari hasil penelitian yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya. Hasil penelitian menunjukan filosofi Edet Sumang berupa pesan yang mengatur dan mengukur aspek kehidupan masyarakat, aturan ini berguna untuk menuntun sikap, perilaku pada masyarakat itu sendiri.  Edet Sumang sebagai pemeger (Pagar) dan pelindung dirinya dari hal yang dianggap gere pantas (tidak pantas). Usaha untuk mempertahankan Edet Sumang sangat penting karena Edet Sumang dapat memberikan pengaruh positif terhadap kehidupan masyarakat Linung Bulen II, Kecamatan Bintang, Kabupaten Aceh Tengah.
Perseteruan Voltaire terhadap Islam dan Nabi Muhammad Maulana Iban Salda; Syamsul Rijal; Taslim HM. Yasin
Jurnal Pemikiran Islam Vol 2, No 1 (2022): Januari-Juni
Publisher : Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/jpi.v2i1.12854

Abstract

Islam in Western thought has a very bad brand image and relative image. One western figure named Voltaire included an orientalist who insulted the Prophet Muhammad and the religion of Islam. The study aimed to find out specifically about Voltaire's understanding of the Prophet Muhammad and the religion of Islam, factors that influenced Voltaire in committing insults. The approach of the method chosen in this study is qualitative method, while the data used is sourced from literature review in the form of works written by Voltaire himself and the works of others on the work and thoughts of Voltaire. The results of the study said Voltaire initially hated Islam by mentioning the nascent religion and also called the Prophet Muhammad as a perverted many marrying women, girls and widows. Voltaire's reason for doing so was that he wanted to criticize the church's inappropriate policies through the issue of insulting Islam and the Prophet Muhammad. At the end of his history Voltaire upheld the tolerance of Islam and did not exist in Protestantism that is, Caliph Umar allowed Jews and Christians full freedom of conscience after the conquest of Jerusalem.AbstrakAgama Islam dalam pemikiran Barat mempunyai brand image dan citra relatif yang sangat buruk. Salah satu tokoh Barat yang bernama Voltaire termasuk seorang orientalis yang menghina Nabi Muhammad dan agama Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara khusus tentang pemahaman Voltaire terhadap Nabi Muhammad dan agama Islam dan faktor yang mempengaruhi Voltaire dalam melakukan penghinaan. Pendekatan metode yang dipilih dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Adapun data yang digunakan bersumber dari telaah kepustakaan berupa karya-karya yang ditulis sendiri oleh Voltaire dan karya-karya orang lain terhadap karya dan pemikiran Voltaire. Hasil penelitian menyebutkan Voltaire pada awalnya membenci Islam dengan menyebut agama yang baru lahir dan Nabi Muhammad sebagai seorang yang mesum dan menikah dengan  banyak perempuan, baik gadis maupun janda. Alasan Voltaire berpendapat demikian karena dia ingin mengkritik kebijakan-kebijakan gereja yang tidak sesuai, menurutnya melalui isu menghina Islam dan Nabi Muhammad. Pada akhir hidupnya, Voltaire menjunjung tinggi toleransi yang ada pada agama Islam dan tidak ada pada agama Protestan seperti Khalifah Umar mengizinkan kebebasan dalam pelaksanaan agamanya bagi orang beragama Yahudi dan orang beragama Kristen, hal ini terjadi setelah penaklukkan Yerusalem.

Page 1 of 1 | Total Record : 8