cover
Contact Name
Mahbub Ghozali
Contact Email
mahbubghozali@gmail.com
Phone
+6281215517805
Journal Mail Official
mukaddimahjsi@gmail.com
Editorial Address
jl. Laksda Adisucipto, Sleman, D. I. Yogyakarta 55281, Indonesia
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam
ISSN : 25794957     EISSN : 23386924     DOI : 10.14421/mjsi
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam is a multidisciplinary academic journal published by Kopertais Region 3 Yogyakarta. The article published include Islamic studies that are reviewed from various perspectives, ranging from communication, anthropology, education, economics, sociology, philology, education, philosophy, ets.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 1 (2018)" : 10 Documents clear
Analisis Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini Islam Fuad Arif Noor
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tingkat pendidikan, besarnya insentif serta tingkat kompetensi guru/Pengasuh ketiganya dipengaruhi secara signifikan oleh status guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) terhadap kualitas anak ideal. Status PNS bagi PAUD seharusnya memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan standar pelayanan minimum sehingga memiliki peluang yang lebih tinggi untuk menciptakan kualitas anak ideal. Tingkat pendidikan, Besarnya insentif serta Tingkat kompetensi guru /Pengasuh ketiganya dipengaruhisecara signifikan oleh status guru sukarela terhadap kualitas anak ideal, status sukarela bagi PAUD seharusnya memiliki kualifikasi dan kompetensi yang sesuai dengan standar pelayanan minimum sehingga memiliki peluang yang lebih tinggi untuk menciptakan kualitas anak ideal, akan tetapi hampir semua penyelenggara PAUD yang dilakukan baik oleh yayasan maupun masyarakat kurang memperhatikan kualifikasi dan kompetensi Pengasuhnya, sehingga terlihat hanya pada siapa yang punya waktu luang untuk menjadi Pengasuh. Hal tersebut memiliki dampak yang mencemaskan, dilihat dari sudut pandang administrasi pendidikan maka keberhasilan anak ideal menjadi dipertanyakan, dan generasi seperti apadua puluh tahun yang akan datang. Ada beberapa pendidikan yang harus diberikan kepada anak usia dini diantaranya : bersyukur, bertauhid dengan pendidikan jasmani (fisik yang kuat), kesehatan, dan kecerdasan. Kata Kunci :Analisis, Kebijakan, Pembelajaran, PAUDI
Memetakan Konfilk Elit Agama di Mlangi dan Upaya Resolusi Luthifatul Izzah
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas tentang konflik elite agama di Mlangi. Mlangi dikenal sebagai dusun santren, yaitu dusun yang dihuni banyak santri karena adanya beberapa pesantren. Dusun Mlangi merupakan salah satu pathok negoro untuk Keraton Yogyakarta. Secara sepintas, masyarakat di kampung Mlangi terlihat homogen. Namun bila diselami lebih dalam, terdapat\ struktur sosial yang unik dan kompleks, seperti adanya banyak elite lokal, baik formal maupun non-formal. Struktur konflik elite agama di Mlangi sangat dinamis, mulai konflik yang sifatnya laten sampai konflik yang bersifat terbuka. Faktor-faktor yang menjadi pemicu konflik elite agama di Mlangi adalah tidak adanya keseimbangan struktur sosial antara jero (orang dalam) – jebo (orang luar) dan Muslim – non Muslim, antara nilai-nilai budaya lokal yang dianggap tidak Islami dan budaya Islami. Kata Kunci: Konflik, Elit Agama, Elit Mlangi, Jobo, Jero.
Ilmu dan Bebas Nilai Dalam Studi Islam Akh Minhaji
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu (al-’ilm, science) merupakan salah satu cara memperoleh pengetahuan (al-ma’rifah, knowledge). Ilmu bersifat obyektif, yakni menjelaskan apa yang benra-benar terjadi (what really happen) dan bukan “apa yang seharusnya benar-benar terjadi” (what should really happen). Karena itu, bekerjanya ilmu sebatas mendeskripsikan fakta. Demikian pemahaman umum yang berkembang hingga kini. Namun apakah faktanya demikian? Mazhab Cartesian mengamini bekerjanya ilmu yang demikian, namun mazhab Heideggerian menolaknya. Muncul kemudian pertanyaan: Apakah ada penelitian yang terbebas dari Paradigma berdasarkan kepercayaan (belief), keyakinan (faith), atau kepentingan tertentu (vested-interests)? Pertanyaan berikutnya: Apakah non-Muslim bisa mengkaji dan meneliti Islam? Bagaimana sikap “Orientalist” dan “Islamicist” dalam hal itu? Tulisan berikut mencoba menyoroti persoalan akademik dimaksud. Kata Kunci: ilmu, nilai, penelitian, obyektif, bias, vested interes
PENGUATAN PENDIDIKAN ISLAM BAGI MUSLIM MINORITAS DI LINGKUNGAN NON-MUSLIM: Studi Kasus di Sengkan Condongcatur Depok Sleman Ahmad Safi'i
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sengkan dihuni oleh 25% Muslim dan 75% Kristen. Studi ini mengungkapkan upaya penguatan pendidikan Islam yang dilakukan oleh umat Islam di Sengkan, kendala yang dihadapi dan solusi untuk mengatasi masalah melalui pendekatan sosial-psikologis. Ini adalah penelitian lapangan dalam bentuk studi kasus. Data diperoleh dari observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan reduksi data, tampilan data, triangulasi dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada tiga jenis pola penguatan pendidikan Islam di Sengkan: pertama, melalui kegiatan keagamaan mingguan (TPA untuk Anak-anak dan Dewasa), kedua, selapanan (pertemuan keagamaan yang dilakukan di masjid atau rumah pada Minggu malam, Rabu malam, dan Kamis malam oleh anggota daerah itu) dan tahunan. Hambatan yang dihadapi dalam kegiatan mingguan untuk program TPA untuk AnakAnak: (1) pengembangan usia, (2) dampak negatif teknologi, (3) kurangnya sumber daya manusia dan donasi, serta (4) akses jalan yang tidak strategis. Masalah yang dihadapi dalam kegiatan mingguan TPA untuk Dewasa: (1) konsep kegiatan statis, (2) faktor sosial (sebagian besar anggota program adalah beberapa orang dewasa yang sibuk), (3) faktor ekonomi (menengah ke bawah), dan (4) kurangnya donasi. Masalah dalam menggelar kegiatan selapanan adalah merasa malas dan merepotkan. Hambatan kegiatan tahunan adalah malas dan mengganggu, serta anggaran kegiatan yang besar. Solusi untuk masalah-masalah tersebut adalah: (a) untuk kegiatan mingguan anak-anak (TPA untuk Anak-Anak): revitalisasi Ramadhan, pemantauan dan fiterarisasi perangkat teknologi apa pun, memberdayakan siswa senior, mengedarkan sumbangan agama untuk sukarela dengan membawa kaleng berkeliling ke setiap rumah, menyediakan dana pribadi dari takmir, dan memanfaatkan forum warga. (B) Solusi pada TPA untuk kegiatan Dewasa: mengundang beberapa pembicara untuk membahas tentang topik tertentu dan untuk menemukan beberapa pemecahan masalah aktual, mengadakan kegiatan tersebut di salah satu rumah anggota, membawa ketentuan sendiri, dan menyumbangkan sejumlah uang melalui kaleng berubah ke rumah-rumah. (c) Solusi untuk hambatan bagi kegiatan selapan: pada Minggu Malam (Pahing): menggunakan undangan resmi dan menyampaikan motivasi kepada para anggota oleh tokoh-tokoh publik. Kegiatan Malam hari Jumat: membuat qurban melalui pertemuan sosial rutin, didekati saat berangkat dan memberikan motivasi. Kegiatan Malam hari Jumat (Pahing): memberikan beberapa paket dalam perjalanan pulang dan dimotivasi oleh tokoh masyarakat kepada anggota yang tidak aktif. Sementara solusi untuk hambatan kegiatan tahunan melibatkan komite dan ketidaktepatan, dimotivasi oleh angka-angka dan menopang kebutuhan pendanaan (60% dari masyarakat dan 40% dari takmir). kata kunci: Penguatan Pendidikan Islam, Minoritas Muslim
Tingkat Pemahaman Karyawan Bank Syariah terhadap Produk Tabungan Wadiah pada Bank Syariah di Yogyakarta Nuhbatul Basyariah
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman karyawan Bank Muamalat Indonesia cabang Yogyakarta pada produk tabungan wadiah. Jenis penelitian field research dengan metode penelitian kuantitatif deskriptif. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner dalam lima kriteria likert dengan teknik purposive sampling. Jumlah sampel 48 responden. Analisis data menggunakan statistik deskriptif frekuensi. Sedang uji persepsi menggunakan Chi-Square, diolah menggunakan SPSS 20.0. Hasil analisis penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pemahaman karyawan Bank Muamalat Indonesia cabang Yogyakarta pada produk tabungan wadiah termasuk pada kriteria paham terhadap ketujuh pertanyaan yaitu definisi secara bahasa (194.359), definisi wadiah menurut Imam Syafi’i (77.459), indikator tabungan (163.818), biaya administrasi (151.347), jenis tabungan (185.582), bentuk penarikan (110.167), serta karakteristik akad tabungan wadiah (136.297). Dan untuk ketiga pertanyaan tentang penarikan tabungan (192.369), ciriciri tabungan wadiah (93.246), landasan tabungan (33.333), jenis jenis tabungan (Wadiah Yad Al-Amanah) (30.083) dan jenis-jenis tabungan (Wadiah Yad Dhamanah) (27.000) termasuk dalam kriteria sangat paham. Kata Kunci: Tingkat Pemahaman, Tabungan Wadiah, Akad Wadiah.
TRANSKULTURASI PEMBAURAN ETNIS MADURA DALAM KOMUNITAS JAWA DI KOTA YOGYAKARTA: Proses Sosial Nilai-Nilai Agama dengan Lokal Wisdom Muh Syamsudin
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perluasan khasanah budaya etnis Jawa dan Madura melalui pembauran dalam proses transkulturasi di Kota Yogyakarta tidak serta merta menghilangkan atau mereduksi ciri khas kebudayaan asli dari keduanya, yang timbul adalah semacam tambahan tambahan perbendaharaan budaya dari interaksi keduanya. Dalam proses transkulturasi terdapat usaha-usaha mengurangi perbedaan antara dua etnis tersebut, di mana masingmasing kelompok atau etnis berusaha mencari persamaanpersamaan yang bisa digali melalui proses interaksi sosial dalam pergaulan kehidupan sehari-hari, yang meliputi tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama. Hasil dari proses transkulturasi adalah semakin tipisnya batas perbedaan antarindividu dalam suatu kelompok, atau bisa juga batas-batas antaretnis.Etnis yang satu melakukan identifikasi diri untuk kepentingan bersama dengan etnis lainnya. Artinya, menyesuaikan kemauannya dengan kemauan kelompok. Demikian pula antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain. Dalam banyak hal terutama dalam keyakinan beragama, antara etnis Jawa dan etnis Madura mempunyai banyak kesamaan, etnis Jawa di kota Yogyakarta mayoritas beragama Islam demikian juga halnya dengan etnis Madura di manapun, termasuk yang tinggal di kota Yogyakarta tidak terdeteksi yang tidak beragama Islam, nilai-nilai agama Islam yang telah diadopsi menjadi bagian dari kearifan lokal di kota Yogyakarta sangat berperan dalam menyatukan perbedaan budaya etnis Jawa dan etnis Madura. Kata Kunci: Transkulturasi, Pembauran, Agama, Kearifan Lokal.
AWAL KEBANGKITAN ISLAM DAN PERADABANNYA PADA MASA MODERN: Peranan Muhammad Abduh Wawan Fuad Zamroni
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada periode modern (1800 M–dan seterusnya) timbul ide-ide pembaharuan dalam Islam yang dilakukan oleh banyak intelektual dan cendekiawan Islam. Dengan penekanan utama kembali kepada Al Qur’an dan hadis, yang salah satu tokohnya adalah Muhammad Abduh. Muhammad Abduh lahir dan berkembang pada saat yang tepat. Artinya dari faktor sosial ia lahir dari keluarga yang secara ekonomi lebih baik dari pada rata-rata penduduk setempat. Kenyataan ini menempatkan Muhammad Abduh memperoleh pendidikan yang memadai, sehingga dari seorang anak petani desa menjadi seorang pejabat negara yang sangat perpengaruh baik secara nasional maupun internasional. Serta Ia memperoleh lingkungan yang pada saatnya bisa memberikan kontribusi positif bagi perkembangan intelektual Muhammad Abduh. Perkembangan pemikiran Muhammad Abduh diwarnai oleh didikan paman dari ayahnya yang bernama syekh Darwisy sebagai pengikut Zawiyah Sanusiah. Muhammad Abduh belajar membersihkan hati dan cara memahami agama Islam dengan mengikuti al-Qur’an dan as-Sunnah yang shahih, tidak fanatik terhadap pemimpin dan madzhab, tafsiran dan karangan umat Islam. Oleh karena itu Muhammad Abduh lebih cenderung memakai ajaran asli dan menyesuaikannya dengan zaman modern. Untuk menyesuaikan ajaran-ajaran agama dengan situasi modern perlu dilakukan interpretasi baru dan karena itu diperlukan ijtihad. Dalam hal ini Muhammad Abduh berpendapat bahwa pintu ijtihad harus dibuka lebar agar umat Islam terbebas dari taklid. Pasa masa Muhammad Abduh masih belajar, pemahaman kaum muslimin terhadap ajaran agamanya cenderung semakin berkurang bahkan menyimpang. Kondisi ini menyebabkan adanya taassub atau fanatik mazhab yang pada gilirannya dapat menimbulkan perpecahan di kalangan umat Islam. Setelah selesai belajar, dalam kondisi umat Islam yang membudayakan sikap taassub itulah Muhammad Abduh tampil untuk membangkitkan kembali umat Islam yang telah dilanda kemunduran, dengan ide-ide pembaruannya. Untuk merealisasikan apa yang ada di pikirannya dalam rangka memperbaiki umat Islam, Muhammad Abduh menempuh tiga jalur perjuangan, yaitu pada bidang pendidikan dengan cara dengan mereformasi al Jami al Azhar sebagai pusat lembaga pendidikan termasyur saat itu; bidang keagamaan, dengan mengupayakan penyesuaian ajaran Islam dengan kondisi dan situasi zaman dengan cara reinterpretasi ajaran Islam, karena itulah menurutnya pintu ijtihad perlu dibuka kembali; dan bidang ketatanegaraan (Politik). Dalam bidang ketatanegaraan ini Muhammad Abduh berpendapat bahwa kekuasaan negara haruslah dibatasi. Di zamannya, Mesir sudah mempunyai konstitusi sendiri dan usahanya di waktu itu tertuju pada membangkitkan kesadaran rakyat akan hak hak mereka. Kata kunci :taassub, pembaruan, pendidikan
Kontribusi HOS. Cokroaminoto terhadap Pergerakan Islam di Indonesia Eling Trimoyo
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Haji Oemar Said (HOS) Cokroaminoto adalah, seorang tokoh dari gerakan perjuangan melawan sistem kolonial yang cukup besar kontribusinya dalam merintis tercapainya kemerdekaan bangsa Indonesia. Beliau adalah tokoh yang memperoleh pengakuan nasional dan menjadi bapak dari pemimpinpemimpin politik bangsa Indonesia berikutnya, baik dari kalangan Islam maupun nasional. Dan layaklah kalau dia diberi gelar sebagai pahlawan nasional dan sekaligus pahlawan Islam yang utama. Ia mengatakan bahwa kultur Islam berdasarkan ajaran agama, yang kuat dasar budi dan kebatinannya, yaitu tauhid dan mampu memenuhi kebutuhan manusia dan paling setuju dengan akal Pada saat organisasi-organisasi Islam dan juga organisasi lain sedang mengalami kemelut, seperti di kalangan umat Islam terjadi pertentangan masalah-masalah khilafiyah yang akhirnya menggoyahkan persatuan umat Islam sendiri, sedangkan dipihak lain terjadi pertentangan faham antara Nasionalisme Religius ( Islam ) dengan Nasionalisme sekuler, maka HOS. Cokroaminoto bersama Haji Agus Salim tampil melakukan aksi keagamaan untuk mempersatukan umat Islam. Program pertama yang direalisir adalah mengadakan kongres AlIslam di Cirebon pada tanggal 31 Oktober 1922 dengan tujuan mempersatukan umat Islam dalam naungan agamanya, terutama di dalam menghadapi masalah yang hangat dan mendesak bagi bangsa dan agama. Kata kunci: Nasionalisme, HOS. Cokroaminoto–Pergerakan Islam.
Peran Bahasa dan Budaya dalam Penerjemahan Teks Bernuansa Keagamaan Kardimin
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bahasa memegang peranan penting dalam penerjemahan. Dengan bahasa, informasi apapun dapat disampaikan kepada pihak lain. Secara mendasar, terjemahan adalah proses kegiatan menstransfer pesan atau informasi dari teks bahasa sumber (Tbsu) ke dalam teks bahasa sasaraan (Tbsa). Jadi disini, kata kunci yang dipegang yakni pesan atau informasinya. Oleh karena itu, penguasaan hanya pada satu bahasa saja akan mengalami kesulitan ketika kita mau mengenai aspek lain dari bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, penerjemahan menjadi hal yang urgen. Penerjemahan terhadap karya dari satu bahasa ke bahasa lain amatlah diperlukan karena tidak setiap orang menguasai bahasa orang atau bangsa lain. Penerjemah bisa menjadi jembatan terhadap lalulintas ilmu pengetahuan dan teknologi di dunia ini. Namun demikian perludicatat bahwa penerjemahan bukanlah sebuah pekerjaan sederhana. Tugas ini sangat komplek dan kadang-kadang sangat berat. Terlebih jika teks yang diterjemahkan sarat dengan muatan budaya karena antara satu bahasa yang tersimpan di dalam teks dengan bahasa lain memiliki perbedaan dan sering perbedaan itu sangat tajam. Perbedaan yang besar antara budaya satu dengan budaya yang lain menyebabkan sulitnya mencari padanan yang tepat, ataun paling tidak mendekati ketepatan, terlebih lagi pada teks bernuansa keagamaan. Oleh karena itu, didalam melakukan pekerjaan penerjemahan, aspek budaya harus mendapat perhatian yang serius agar dapat menyikapi dan mengatasi dengan benar dan tepat. Kata kunci: bahasa, penerjemahan, budaya, teks keag
Analisis Kebijakan Pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini Islam Fu'ad Arif Noor
Mukaddimah: Jurnal Studi Islam Vol. 3 No. 1 (2018)
Publisher : Kopertais Wilayah III Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Level of education, amount of incentive and the level of competence of teachers/caretakers three is significantly influenced by the status of civil servant teachers on the quality of children’s ideal, the status of civil servants for early childhood education programs should have the qualifications and competence accordance with minimum service standards so that it has a higher chance to create quality children’s ideal, Level of education, amount of incentive and the level of competence of teachers/caretakers three significantly influenced by the status of volunteer teachers to the quality of children’s ideal, voluntary status for early childhood education programs should have the qualifications and competence yang accordance with minimum service standards so that it has a higher chance to create quality children’s ideal , but almost all providers of early childhood education conducted by both the foundations and the community pay less attention to the qualifications and competence His nurse, so it looks only at who has the time to become caretakers. It has alarming effects, seen from the perspective of educational administration, the ideal child’s success into question, and generation like what 20 years to come. There is some education that shall be given to early childhood include: grateful, tauhid with physical education, health, and intelligence. Keywords: analysis, policy, education, early education.

Page 1 of 1 | Total Record : 10