ABSTRACTHousehold saving is the amount that individual sets aside from their income to saved or according to economic theory saving is income that not consumed. Usually as higher as economic growth and more welfare a country were, it will affecting a higher level of household saving. Saving will affect the economic growth because the development of economic. Analysis Method that used in this research is multiple regression. The result of this research showing that household income or GDRP Per Capita have positive and significant effect on household saving in Indonesia, Interest Rate have negative and significant effect on household saving in Indonesia, and inflation have negative and significant effect on household saving in Indonesia.  Keywords   : Saving, GDRP per capita, Interest Rate and Inflation    ABSTRAKTabungan masyarakat merupakan jumlah yang disisihkan seorang individu dari pendapatannya untuk disimpan atau menurut teori ekonomi pendapatan yang tidak dikonsumsikan. Biasanya semakin tinggi pertumbuhan ekonomi dan semakin makmur suatu negara semakin tinggi pula tingkat tabungan masyarakat. tingkat tabungan menyebabkan pertumbuhan bertambah karena dapat memicu terjadinya pembangunan ekonomi. Variabel yang digunakan adalah pendapatan yang diukur melalui PDRB per kapita, suku bunga dan inflasi terhadap tabungan masyrakat. Metode analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa PDRB per kapita berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indoneisa, tingkat suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indonesia, sedangkan tingkat inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat di Indonesia.  Kata kunci   : Tabungan, PDRB per kapita, Suku Bunga dan Tingkat Inflasi   RINGKASAN SKRIPSIPENDAHULUAN Pembangunan ekonomi di Indonesia dilakukan dengan pesat dan membutuhkan dana yang besar. Pembiayaan pembangunan tersebut berasal dari berbagai sumber baik dari dalam negeri, maupun luar negeri. Dilihat dari konteks pertumbuhan ekonomi jangka panjang, suatu negara seharusnya mengoptimalkan pembiayaan pembangunan berasal dari dalam negeri. Dari berbagai sumber pembiayaan dalam negeri, tabungan domestik merupakan salah satu sumber penting bagi pembiayaan tersebut (Dragon, 2007).    Salah satu tantangan utama dalam pembangunan di Indonesia dewasa ini adalah menemukan sumber pembiayaan pembangunan yang efisien dan berkelanjutan (sustainable). Kebutuhan pendanaan untuk pembangunan infrastruktur selama 2015-2019 mencapai Rp5.519,4 Triliun, atau Rp1.103,9 Triliun per tahun. Pada tahun 2017, APBN hanya mampu mengalokasikan dana sebesar Rp194,3 Triliun. Jumlah yang mampu dialokasikan negara jauh lebih rendah dibandingkan kebutuhan infrastruktur. Pemerintah hanya mampu menyediakan 17,6 persen dari kebutuhan (Modjo, 2017).Bank Indonesia melaporkan adanya akselerasi pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) pada Juli 2018 khususnya pada instrumen tabungan dan simpanan berjangka. DPK tercatat sebesar Rp5,209 Triliun dengan angka pertumbuhan mencapai 6,4 persen secara tahunan. Peningkatan pertumbuhan DPK ini terjadi karena adanya peningkatan suku bunga untuk jenis simpanan dan tenor tertentu. Selain itu, bank sentral juga melaporkan bahwa peningkatan pertumbuhan DPK karena adanya peningkatan proporsi pendapatan konsumen yang digunakan sebagai simpanan. Pertumbuhan tabungan tercatat sebesar 11,3 persen pada Juli 2018 yang mencapai Rp1,611 Triliun, lebih tinggi dibandingkan pada bulan Juni 2018 yang mencapai Rp1,609 Triliun. Adapun peningkatan jumlah tabungan perorangan tertinggi terjadi di DKI Jakarta dan Jawa Barat (Setiawan, 2018).    Meskipun pertumbuhan jumlah DPK meningkat per tahun, pemerintah berharap menerima sumbangan pembiayaan dari jumlah tabungan domestik sebesar 20 persen. Karena, pertumbuhan DPK yang hanya berkisar 5-6 persen masih jauh lebih rendah dari harapan, maka jumlah tabungan domestik belum cukup untuk mendanai kegiatan pembangunan. Otomatis pembangunan ekonomi tidak hanya bertumpu pada tabungan domestik dalam negeri saja. Indonesia masih memerlukan investor asing untuk memberikan dana demi kelancaran pembangunan ekonomi (Modjo, 2017).    Total tabungan dalam negeri adalah penjumlahan tabungan pemerintah dan tabungan masyarakat. Pemerintah memiliki tabungan pada saat adanya kelebihan realisasi pendapatan negara yang telah dikurangi berbagai macam bentuk pengeluaran rutin. Sedangkan tabungan masyarakat berupa kelebihan pendapatan seseorang individu atau swasta yang telah dikurangi pendapatan yang telah dikonsumsi (Darmawan, 2014). Budaya konsumsif akan berpengaruh terhadap tabungan masyarakat, karena tabungan merupakan pendapatan bersih setelah dikurangi konsumsi (Klasjok, Rotinsulu & Maramis, 2018). RUMUSAN MASALAH Bagaimana pengaruh pendapatan terhadap tabungan di Indonesia pada tahun 2013-2017?Bagaimana pengaruh suku bunga terhadap tabungan di Indonesia pada tahun 2013-2017?Bagaimana pengaruh inflasi terhadap tabungan di Indonesia pada tahun 2013-2017?TUJUAN PENELITIAN Untuk menguji dan menganalisis pengaruh pendapatan terhadap tabungan nasional pada tahun 2013-2017.Untuk menguji dan menganalisis pengaruh suku bunga terhadap tabungan nasional pada tahun 2013-2017.Untuk menguji dan menganalisis pengaruh inflasi terhadap tabungan nasional pada tahun 2013-2017.METODE PENELITIAN    Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yaitu penelitian yang menggunakan data-data numerikal (angka) yang diolah dengan metode statistika. Penelitian ini menggunakan data sekunder pada periode 2013-2017. Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) setiap provinsi di Indonesia dan Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia (SEKI) dari publikasi data bank sentral. Analisis yang digunakan adalah analisis regresi berganda data panel dengan model regresi random effect. Data diolah dengan menggunakan Eviews 9.5. Hasil dan PembahasanPendapatan berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan masyrakat. Ini diartikan bahwa pendapatan naik, maka tabungan asyarakat akan naik, begitupun sebaliknya, ceteris paribus.Variabel suku bunga yang merupakan salah satu faktor penentu tabungan masyarakat secara signifikan dan memiliki arah negatif mempengaruhi jumlah tabungan masyarakat. Pengaruh negatif ini berarti setiap penurunan suku bunga akan meningkatkan jumlah tabungan masyrakat. Dengan kata lain, suku bunga bukan lagi acuan atau alasan utama masyarakat untuk menabung, ceteris paribus.Variabel inflasi menunjukan pengaruh yang signifikan terhadap tabungan masyarakat dan memiliki arah hubungan yang negatif. Hal ini berarti jika adanya kenaikan inflasi akan mengurangi jumlah tabungan masyarakat, dan sebaliknya, penurunan inflasi akan meningkatkan tabungan masyarakat, ceteris paribus.  4.1 Analisis Regresi Berganda   Pengelolaan data regresi berganda dengan menggunakan model random effect dengan teknik cross section random effect dari tahun 2013-2017.Tabel 4.1Analisis Regresi BergandaVariableKoefisienProb.Konstanta (β0)5,9801510,0000Inc (PDRB Per Kapita)0,0727280,0012IR (Suku Bunga)-1,0143600,0000Inf (Inflasi)-0,8065870,0103Sumber : Hasil olahan E-views 9       Tabel 4.1 menunjukan dimana besarnya nilai konstanta persamaan regresi berganda dengan model random effect (cross section random effects) adalah sebesar 5,980151, kemudian nilai koefisien PDRB per kapita sebesar 0,072728 dan nilai koefisien pada suku bunga sebesar -1,014360 sedangkan nilai koefisien inflasi sebesar -0,806587. Dapat disimpulkan persamaan regresi sebagai berikut: Dari persamaan diatas dapat dijelaskan sebagai berikut :Konstaanta (β0)Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai konstanta (β0)sebesar 5,980151. Nilai tersebut memiliki arti apabila PDRB per kapita, suku bunga dan inflasi tetap maka jumlah tabungan masyarakat di Indonesia akan meningkat dari tahun ke tahun sebesar 5,980151 persen.PDRB per Kapita (Incit)Berdasarkan hasil regresi diperoleh koefisien PDRB per kapita diperoleh nilai sebesar 0,072728. Nilai tersebut berarti apabila PDRB per kapita bertambah sebesar 1 persen maka jumlah tabungan masyrakat akan meningkat 0,072728 persen, ceteris paribus.Suku Bunga (IRit)Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai koefisien suku bunga sebesar -1,014360, dapat diartikan variabel suku bunga berpengaruh negatif terhadap tabungan masyarakat. Nilai koefisien menunjukkan bahwa apabila suku bunga mengalami kenaikan 1 persen, maka tabungan masyarakat akaberkurang/turun sebesar 1,014360 persen, ceteris paribus.Inflasi (Infit)Berdasarkan hasil regresi diperoleh nilai koefisien inflasi sebesar -0,806587, dapat diartikan variabel inflasi berpengaruh negatif terhadap tabungan masyarakat. Nilai koefisien menunjukkan bahwa apabila inflasi mengalami kenaikan 1 persen maka tabungan masyarakat akan berkurang/turun sebesar 0,806587 persen, ceteris paribus. PENUTUP Kesimpulan    Kesimpulan dari penelitian ini adalah PDRB berpengaruh positif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien sebesar 0,072728dan nilai probabilitas sebesar 0,0012 atau lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Suku bunga berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien sebesar -1,014360 dan nilai probabilitas sebesar 0,0000 atau lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Inflasi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap tabungan masyarakat. Hal ini ditunjukkan dengan nilai koefisien sebesar -0,806587 dan nilai probabilitas sebesar 0,0103 atau lebih kecil dari taraf signifikan 0,05. Rekomendasi dari penelitian ini adalah dalam peningkatan tabungan, pemerintah harus mengupayakan pendapatan tetap meningkat, dan inflasi tetap rendah serta menjalankan program unggulan untuk menekan jumlah penduduk Saran    Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, penulis memberikan saran kepada pihak pihak bersangkutan untung menjadi bahan pertimbangan serta masukan antara lain sebagai berikut.Bagi pihak perbankan, khususnya Bank Umum dan Bank BPR agar dapat lebih merencanakan kebijakan untuk meningkatkan jumlah tabungan masyarakat. salah satu faktor yang harus diperhatikan ialah bank harus lebih aktif dalam memperbanyak variasi produk baik fasilitas ataupun jasa yang ditawarkan untuk menarik nasabah yang diberikan dana untuk ditabung.Bagi pemerintah, agar terus berusaha membuat kebijakan yang dapat meningkatkan pendapatan yang dapat memberikan pengaruh terhadap kemampuan masyarakat menabung jika diikuti dengan upaya pemerintah dalam menekan jumlah penduduk, dan mengontrol inflasi agar selalu rendah, karena saat ini suku bunga bukan lagi menjadi motivasi masyarakat untuk menabung. DAFTAR PUSTAKAAfrizal. (2010) “Analisis Investasi Di Indonesia: Suatu Pendekatan Model Dinamik. Jurnal Ekonomi, Bisnis dan Kewirausahaanâ€. Vol. 1 No 1. Universitas Tanjungpura.Badan Pusat Statistik (2008). Laju Pertumbuhan PDB/PDRB. Jakarta : Badan Pusat StatistikBank Indonesia. Direktori Perbankan Indonesia, Bank Pembangunan Daerah. Diakses dari https://www.bi.go.id/id/publikasi/dpi/bpd/Default.aspxBoediono (1985). Ekonomi Makro. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 2 Edisi 4. Yogyakarta : BPFE YOGYAKARTA.Databoks Katadata.(2018). Data PDRB per kapita Indonesia. Diakses melalui https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2018/07/25/berapa-pdb-perkapita-indonesiaDragon, (2007) . Pembiayaan Pembangunan Ekonomi dari Investasi dan Tabungan. Diakses melalui Http://nasional.kompas.com/read/2017/05/27/15570021/tantangan.pembiayaan.pembangunan?pagelHidayat, A. (2012). Pengertian dan Penjelasan Penelitian Kuantitatif – Lengkap. Diakses dari https://www.statistikian.com/2012/10/penelitian-kuantitatif.html/ampGhozali , I. (2013) . Analisis Multivariat dan Ekonometrika : Teori, Konsep, dan Aplikasi dengan EVIEWS 8 . Semarang : Badan Penerbit Universitas Diponegoro.Kasiang, Pricilia I. Dkk. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat di Kecamatan Tahuna Barat Kabupaten Kepulauan Sangehe. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi Kasiang Pricilia I., dkk. (2018). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat Di Kecamatan Tahuna Barat Kabupaten Kepulauan Sangihe. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 114-123.Kasmir. (2008) . Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. PT Raja Grafindo Persada.Kasmir. (2014). Dasar Dasar Perbankan, Edisi Revisi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Pesada.Kasmir. (2008). Manajemen Perbankan edisi revisi 2008. Jakarta : Rajawali PersKlasjok, K. (2018). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat Pada Bank Umum di Papua Barat. Jurnal Berkala Ilmiah efisiensi, 58-67.Kuncoro, M. dan Suhardjono (2003). Manajemen perbankan : teori dan aplikasi. BPFE, yogyakarta.Kuncoro, M. (2011). Metode Kuantitatif: Teori dan Aplikasi Untuk Bisnis dan Ekonomi Edisi Keempat. Yogyakarta : UPP STIM YKPN.Lumempo, R. dkk. (2017). Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Tabungan Masyarakat Pada PT. Bank Rakyat Indonesia Unit Tatelu. Jurnal Berkala Ilmiah Efisiensi, 36-43.Muchtolifah. (2007). Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Jumlah Tabungan Masyarakat Pada Bank Umum Tahun 1991-2005.Rahmawati, N. (2013). Pengaruh Pendapatan Terhadap Tabungan Pada Masyarakat Nelayan Di Desa Kuala Secapah Kecamatan Mempawah Hilir.Rochmad, A. (2008). Teori Tabungan. Diakses melalui https://www.academia.edu/10367428/Teori_TabunganSimorangkir, O. P. (2000) Pengantar Lembaga Keuangan Bank dan Non Bank. Bogor : Ghalia IndonesiaSugiyono (2001), Metode Penelitian Administrasi. Bandung : Penerbit Alfabeta.Sukirno, S. (2004). Teori Pengantar Makro Ekonomi. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada.Supranto, J . (1983). Ekonometrika Buku Satu. Jakarta : Penerbit Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (LPFE-UI).Subagyo. (1999). Bank dan Lembaga Keuangan Lain. Yogyakarta : Penerbit STIE-YKPN.Wibisono, Y. (2005). Metode Statistika , Yogyakarta : BPFE. UGM.Widarjono, A. (2006). Ekonometrika Untuk Analisis Ekonomi & Keuangan. Jakarta : UIWidodo. (2018). Metodologi Penelitian : Populer & Praktis. Depok : PT Raja Grafindo Persada.Waringin, (2017). Keadaan Pembangunan Ekonomi. Diakses melalui http://www.radarplanologi.com/2015/10/cara-menganalisis-kondisi-ekonomi wilayah.htmlÂ