cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota pontianak,
Kalimantan barat
INDONESIA
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Economy,
Arjuna Subject : -
Articles 1,454 Documents
ANALISIS PENGARUH KARAKTERISTIK PEMERINTAH DAERAH TERHADAP TINGKAT PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN (Studi pada LKPD Kota Pontianak Periode 2014-2016) B1031131004, Novia V Virginia
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS PENGARUH KARAKTERISTIK PEMERINTAH DAERAH TERHADAP TINGKAT PENGUNGKAPAN LAPORAN KEUANGAN(Studi pada LKPD Kota Pontianak Periode 2014-2016) OLEH :NOVIA VIRGINIAAKUNTANSI ABSTRAK      Laporan keuangan pemerintah daerah merupakan laporan wajib yang harus diungkapkan oleh setiap pemerintahan yang ada di Indonesia untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan. Tingkat pengungkapan LKPD memiliki beberapa faktor yang mempengaruhinya. Pada penelitian ini peneliti menggunakan 7 karakteristik pemerintahan yaitu ukuran pemerintan daerah, ukuran legislatif, umur administratif pemerintah daerah, kekayaan pemerintah daerah, diferensiasi fungsional, rasio kemandirian keuangan daerah, serta lingkungan eksternal yaitu Intergovernmental Revenue. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan.     Populasi dari penelitian ini adalah laporan keuangan pemerintah daerah Kota Pontianak pada tahun 2014-2016 yang telah di audit oleh BPK dan didapat melalui studi lapangan. Variabel penelitian terdiri dari ukuran pemerintan daerah, ukuran legislatif, umur administratif pemerintah daerah, kekayaan pemerintah daerah, diferensiasi fungsional, rasio kemandirian keuangan daerah, serta lingkungan eksternal yaitu intergovernmental revenue. Dan variabel dependen yaitu tingkat pengungkapan laporan keuangan. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif dan teknik pengujian data yang telah dilakukan ialah menggunakan uji korelasi.          Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari 7 variabel yang diuji hanya terdapat 2 variabel yang berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan LKPD Kota Pontianak yaitu diferensiasi fungsional dan intergovenmental revenue. Sedangkan 5 variabel lainnya terbukti memiliki pengaruh yang negatif terhadap tingkat pengungkapan LKPD. Kata kunci : Laporan keuangan, Standar Akuntansi Pemerintahan, Pemerintah Daerah.    1BAB 1PENDAHULUAN1.1.LATAR BELAKANG     Demi meningkatkan layanan publik serta memenuhi kebutuhan dan hak publik, maka pemerintah Indonesia berusaha semaksimal mungkin untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik atau Good Public Government (GPG). GPG adalah sistem atau aturan dan perilaku yang berkaitan dengan pengelolaan kewenangan oleh penyelenggara negara dalam menjalankan tugas-tugasnya secara bertanggung jawab. Otonomi daerah ialah salah satu bentuk implikasi dari GPG. Otonomi daerah adalah pembagian kekuasaan yang diberikan oleh pemerintah pusat kepada masing-masing daerah untuk mengurus dan mengatur daerahnya dengan peraturannya sendiri. Tujuan administratif yang ingin dicapai melalui pelaksanaan otonomi daerah ialah adanya pembagian urusan pemerintahan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk juga sumber keuangan, dan pembaharuan manajemen birokrasi pemerintahan di daerah. Sedangkan tujuan ekonomi yang ingin dicapai dalam pelaksanaan otonomi daerah di Indonesia adalah terwujudnya peningkatan indeks pembangunan manusia sebagai indikator peningkatan kesejahteraan masyarakat di Indonesia. Menyajikan laporan keuangan pada masing-masing daerah otonom juga termasuk dalam salah satu tujuan dari otonomi daerah.     Laporan keuangan pada dasarnya adalah hasil dari proses akuntansi yang dapat digunakan sebagai alat komunikasi antara data keuangan atau aktivitas suatu perusahaan dengan pihak yang berkepentingan dengan data atau aktivitas dari perusahaan tersebut (Munawir 2004:2). Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja keuangan dalam suatu entitas. Catatan informasi keuangan dalam suatu perusahaan pada suatu periode akuntansi tertentu yang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan tersebut. Kinerja perusahaan perlu untuk di analisis dan di gunakan hasil nya sebagai acuan untuk pengambilan keputusan bagi atasan. Maka dari itu laporan keuangan bertujuanuntuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan.Undang-undang Nomor 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara menyebutkan bahwa laporan keuangan pemerintah harus disusun dan disajikan sesuai Standar Akuntansi Pemerintahan. Penyusunan laporan keuangan pemerintah harus sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) sehingga bisa dikatakan laporan keuangan pemerintah tersebut tergolong konsisten dan memenuhi kewajiban akuntabilitas serta transparansi. Dalam hal ini jelas sudah bahwa pelaporan laporan keuangan harus lah sesuai dengan pedoman yang telah di tetapkan yaitu Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP). Namun pada kenyataannya masih banyak daerah yang belum menyusun laporan keuangannya sesuai dengan SAP.Penelitian Setyaningrum (2012) menemukan bahwa tingkat pengungkapan wajib LKPD terhadap SAP di Indonesia masih sangat rendah, rata-rata hanya sebesar 52,09, sedangkan (Liestiani 2008) 35,45%, (Lesmana 2010) 22%, dan (Suhardjantoetal 2010) 51,56%. Patrick (2007) menemukan bahwa ukuran, kesempatan berinovasi, diferensiasi fungsional, spesialisasi pekerjaan, ketersediaan slack resources, dan pembiayaan utang merupakan karakteristik yang memiliki asosiasi positif terhadap penerapan inovasi administrasi GASB 34, sedangkan intergovernmental revenue memiliki asosiasi negatif. Liestiani (2008) menemukan bahwa kekayaan, kompleksitas pemerintahan, dan jumlah temuan audit memengaruhi tingkat pengungkapan LKPD, sedangkan Lesmana (2010) menemukan bahwa umur Pemda dan rasio kemandirian keuangan daerah berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD. Hasil berbeda terdapat pada penelitian Suhardjanto et al. (2010) dengan menggunakan modifikasi model Patrick (2007) yang menemukan bahwa dana perimbangan dan latar belakang bupati merupakan prediktor yang sangat signifikan terhadap kepatuhan dan pengungkapan SAP yang wajib.Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kota Pontianak tahun 2014 menyandang predikat Wajar Tanpa Pengecualian dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Predikat tertinggi dalam opini yang diberikan BPK ini merupakan keempat kalinya disandang Pemkot Pontianak secara berturut-turut yakni sejak tahun 2011-2014, Pemkot Pontianak sudah lebih dulu menerapkan akrual basis meskipun sebenarnya sistem tersebut baru wajib diterapkan mulai 2016 mendatang oleh Pemerintah Pusat. (Bappeda Kota Pontianak)Meskipun Pemerintah Kota Pontianak sudah mencapai predikat dengan opini tertinggi, namun faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapannya perlu untuk diteliti lebih lanjut agar Pemerintah Kota Pontianak dapat selalu mempertahankan predikat tertinggi tersebut. Kondisi ini membuat saya tertarik untuk menganalisis lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang memengaruhi pengungkapan wajib LKPD khususnya di Pemerintah Daerah Kota Pontianak. 1.2.RUMUSAN MASALAHHasil rerata pengungkapan Laporan Keuangan Daerah (LKPD) di Indonesia yang masih tergolong rendah membuat peneliti menganalisis lebih lanjut apakah pengaruh karakteristik pemerintah terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Kota Pontianak tahun anggaran 2014-2016. Dari penjelasan latar belakang permasalahan sebelumnya, peneliti ingin meneliti pengaruh faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) di Kota Pontianak, dapat dirumuskan sebagai berikut:Apakah ukuran Pemerintah Daerah memilik hubungan positif terhadap                   tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah?Apakah ukuran Legislatif memilik hubungan positif terhadap tingkat          pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah?Apakah Umur Administratif Pemerintah daerah memiliki hubungan positif terhadap tingkat pengungungkapan Laporan Keuangan Pemerintah    Daerah?Apakah Kekayaan Pemerintah Daerah memiliki hubungan positif    terhadap tingkat pengungungkapan Laporan Keuangan Pemerintah           Daerah?Apakah Diferensiasi Fungsional memiliki hubungan positif terhadap           tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah?Apakah Rasio Kemandirian Keuangan Daerah memiliki hubungan positif   tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah?Apakah Intergovernmental Revenue pemerintah daerah memiliki      hubungan positif terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan     Pemerintah Daerah? 1.3.TUJUAN PENELITIANBerdasarkan rumusan masalah yang telah diuraikan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini adalah:Menganalis pengaruh ukuran Pemerintah Daerah memilik hubungan            positif terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah          Daerah?Menganalisis pengaruh ukuran Legislatif memilik hubungan positif terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah?Menganalisis pengaruh umur administratif pemerintah daerah memiliki        hubungan positif terhadap tingkat pengungungkapan Laporan Keuangan           Pemerintah Daerah?Menganalisis pengaruh kekayaan Pemerintah Daerah memiliki hubungan     positif terhadap tingkat pengungungkapan Laporan Keuangan Pemerintah    Daerah?Menganalisis pengaruh diferensiasi fungsional memiliki hubungan positif    terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah?Menganalisis pengaruh Rasio Kemandirian Keuangan Daerah memiliki       hubungan positif terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan     Pemerintah Daerah?Menganalisis pengaruh intergovernmental revenue pemerintah daerah          memiliki hubungan positif terhadap tingkat pengungkapan Laporan       Pemerintah Da            erah?                             8BAB IITELAAH PUSTAKA 2.1              LANDASAN TEORI Masalah dalam kinerja keuangan pemerintah daerah di Indonesia sudah banyak diteliti diantaranya yang diteliti oleh Patrick (2007) dan Setyaningrum (2012). Walaupun begitu masih sedikit penelitian yang menguji tentang pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan. Penelitian ini menitik beratkan pada penelitian Setyaningrum (2012). Namun penelitian saya ini menguji pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan di Kalimantan Barat khusus nya di Kota pontianak, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Setyaningrum (2012) meneliti pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan se Indonesia.  2.2  KAJIAN EMPIRIS Tinjauan empiris merupakan pembahasan kritis tentang penelitian empiris terdahulu terkait dengan topik yang di teliti. Adapun yang menjadi landasan pada penulisan skripsi ini adalah : Table 2.1kajian empirisPenelitianVariabel yang digunakanHasilDyah Setyaningrum (2012)Ukuran Pemerintah Daerah,Ukuran Legislatif,Umur Administratif Pemerintah Daerah,Kekayaan Pemerintah Daerah,Diferensisasi Fungsional,Rasio Kemandirian Keuangan Daerahintergovernmental Revenue Variabel yang di gunakan pada penelitian nya adalah  ukuran Pemda, ukuran legislatif, umur administratif Pemda, kekayaanPemda, diferensiasi fungsional,rasio kemandirian keuangan daerah, pembiayaan utang, danintergovernmental revenue secara seksama hasil penelitian nya mempengaruhi tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemda Kabupaten/Kota di Indonesia.Patricia A. Patrick (2007) Variabel yang di gunakan dalam penelitian ini ialah  Budaya Organisaasi (lebih cenderung  pemerintah untuk berinovasi, tanggapan untuk konstituen), Struktur Organisasi seperti (spesialisasi pekerjaan, administrative intensity, diferensiasi fungsional, ketersediaan slack resources dan ukuran organisasi), Lingkungan Eksternal (pembiayaan utang dan intergovernmental revenue). Ukuran Organisasi, kecenderungan pemerintah untuk berinovasi dan tanggapan terhadap konstituen berpengaruh positif dan berpengaruh sangat signifikan dalam mengaplikasikan penerapan GASB 34. Variabel spesialisasi pekerjaan, diferensiasi fungsional, administrative intensity, dan pembiayaan utang terbukti mempunyai hubungan yang positif serta moderat hingga lemah.Sedangkan intergovernmental revenue mempunyai hubungan negatif dan lemah terhadap determinasi dalam adopsi GASB 34.Djoko Suhardjanto (2011)Ukuran DaerahJumlah SKPDStatus Daerah Lokasi Pemerintah DaerahJumlah Anggota DPRDMenggambarkan bahwa rata-rata pengungkapan wajibdi neraca pemerintah daerah idalah 10,49 atau sebesar 30,85%. Dari 51 sampel, hanya 18 pemerintah daerah yang mengerjakan pengungkapanwajib diatas nilai rata-rata (>10,49). Nilai minimumtingkat pengungkapan wajib diperoleh Kota Sukabumi yang mengungkapkan hanya 5 itempengungkapan wajib atau 14,70%, sedangkan tinggianpemda yang mempunyai peringkat paling tinggi  dalam mengungkapkan pengungkapan wajib akuntansi adalah Kabupaten Sinjai. Dari 34 itempengungkapan wajib di neraca, Kabupaten Sinjai melakukan pengungkapan wajib sebanyak 19 item atau sebesar 55,88%. Hasil tersebut menggambarkanbahwa kedisiplinan pengungkapan wajib sesuaidengan SAP masih rendah.     2.2.1 Kontribusi Pada Skripsi Pada penelitian Setyaningrum (2012), saya menggunakan hampir seluruh dari variabel yang ada pada penelitian ini, hanya ada satu variabel yang saya eliminasi karna saya anggap kurang berpengaruh untuk penelitian pada studi kasus di Pemerintah Kota Pontianak. Penelitian ini merupakan jurnal rujukan saya dalam menyusun skripsi ini.Pada penelitian Patrick (2007), saya menggunakan penelitian ini sebagai referensi tambahan bagi saya dalam menyusun skripsi ini, karena ada beberapa kesamaan variabel dengan penelitian Setyaningrum (2012)Pada penelitian Suhardjanto (2011), saya menggunakan penelitian ini sebagai referensi tambahan karena ada beberapa kesamaan pada variabel dengan skripsi saya. Selain itu metode yang digunakan dalam mengolah data mempunyai kesamaan sehingga membantu saya dalam mengolah data skripsi ini.2.3 KERANGKA KONSEPTUAL Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh karakteristik pemerintahan terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan yang terdiri dari Ukuran Pemerintan Daerah, Ukuran Legislatif, Umur Administratif Pemerintah Daerah, Kekayaan Pemerintah Daerah, Diferensiasi Fungsional, Spesialisasi Pekerjaan, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah dan intergovernmental Revenue. Semua variabel ini harus mengacu pada  PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan.Berikut ini merupakan kerangka konseptual yang menggambarkan model penelitian dan hubungan antar variabel yang digunakan dalam penelitian. Ukuran pemerintah  daerahUkuran legislatifUmur administratif pemerintah daerahKekayaan pemerintah daerahDiferensiasi fungsionalRasio kemandirian keuangan daerahTingkat Pengungkapan Wajib Laporan Keuangan Pemerintah (LKPD)Intergovernmental revenueH1H2 H3H4H5H6H7Gambar 2.1 Kerangka Konseptual 2.4.HIPOTESIS PENELITIAN Pengujian hipotesis dilakukan untuk menjawab rumusan masalah, yaitu menguji apakah karakteristik pemerintah daerah berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan khusus nya di Kota Pontianak. Karakteristik pemerintah terdiri dari Ukuran Pemerintan Daerah, Ukuran Legislatif, Umur Administratif Pemerintah Daerah, Kekayaan Pemerintah Daerah, Diferensiasi Fungsional, Spesialisasi Pekerjaan, Rasio Kemandirian Keuangan Daerah dan intergovernmental Revenue. Dua teori utama yang terkait dengan GPG adalah teori agensi dan teori sinyal. Menuru Mardiasmo (2002) menyatakan bahwa pengertian akuntabilitas publik sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (prinsipal) yang memiliki hak untuk meminta pertanggungjawaban tersebut. Pemerintah dalam hal ini bertanggungjawab memeberikan informasi yang transparan dan akuntabel, salah satunya yaitu melalui kepatuhan dalam penyusunan LKPD sekaligus pengungkapan dan penyajian laporan sewajar mungkin.             BAB IIIMETODE PENELITIAN 3.1    BENTUK PENELITIANJenis penelitian pada skripsi ini adalah penelitian kuantitatif, dimana Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan. Data yang di peroleh akan diolah menggunakan aplikasi statistik yaitu spss versi 20.0  . 3.2    TEMPAT DAN WAKTU PENELITIANPada penelitian ini, saya mengambil data di beberapa kantor terkait dengan variabel yang ada pada skripsi ini, adapun kantor yang saya datangi untuk mendapatkan data sekunder antara lain:Kantor BAPPEDA Kota PontianakKantor Badan Keuangan Daerah Kota PontianakKantor Inspektorat Kota PontianakKantor Organisasi Kota PontianakKantor DPRD Kota PontianakPenelitian ini saya lakukan pada bulan januari 2018 bertahap hingga seluruh data sekunder yang saya butuhkan pada skripsi ini dapat terkumpul. 3.3              DATAJenis data yang saya gunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, Data sekunder adalah data yang mengacu pada informasi yang dikumpulkan dari sumber yang telah ada. Sumber data sekunder adalah catatan atau dokumentasiperusahaan, publikasi pemerintah, analisis industri oleh media, situs Web, internet dan seterusnya (Uma Sekaran, 2011). 3.4              POPULASI DAN SAMPELPenelitian ini akan menggunakan sampel Pemda Kota Pontianak untuk tahun anggaran 2014-2016 yang telah diaudit oleh BPK RI dan memiliki data yang lengkap terkait dengan variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini. Pemilihan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Kriteria-kriteria atas sampel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:Laporan Keuangan Pemda (LKPD) Kota Pontianak pada tahun 2014-2016 yang telah diaudit oleh BPK.Memiliki data yang lengkap untuk pengukuran keseluruhan variabel:Menyediakan empat komponen LKPD, yaitu Laporan RealisasiAnggaran, Neraca, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas LaporanKeuangan.Menyediakan data jumlah SKPD sebagai entitas akuntansi tahun2014-2016 pada LKPD/Laporan Hasil Pemeriksaan SistemPengendalian InternalMenyediakan data jumlah anggota DPRD tahun 2014-2016 pada Pemda Kota Pontianak atau melalui situs resmi Pemda.Menyediakan data umur administratif Pemda Kota Pontianak yang diukur dari undang-undang pembentukannya sampai dengan tahun 2014-2016 3.5 VARIABEL PENELITIAN Variabel independenVariabel independen ialah variabel yang menjelaskan atau mempengaruhi variabel yang lainnya. Variabel independen pada penelitian ini adalah karakteristik Pemerintah Daerah, yaitu ukuran Pemerintah Daerah, ukuran legislatif, umur administratif Pemerintah  Daerah, kekayaan Pemerintah Daerah, diferensiasi fungsional,,rasio kemandirian keuangan daerah, dan intergovernmental revenue. Variabel Dependen (terikat)Variabel dependen ialah variabel yang dapat dijelaskan dan  dipengaruhi oleh variabel independen. Penelitian ini bisa menggunakan tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemda dalam komponen Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai variabel dependen. Penelitian ini menggunakan tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemda dalam komponen Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan sebagai variabel dependen. Penelitian ini serupa dengan penelitian yang dilakukan dengan Liestiani (2008), dimana tingkat pengungkapan LKPD yang dilakukan adalah dengan menggunakan sistem scoring.  3.6 METODE ANALISISPada penelitian ini, saya menggunakan spss versi 20.0   dengan metode korelasi untuk megetahui seberapa signifikan variabel dependen di pengaruhi oleh variabel independen.Keterangan:DISC : Tingkat Pengungkapan WajibSIZE : Ukuran PemdaULEG : Ukuran LegislatifAGE : Umur Administratif PemdaWEALTH : Kekayaan PemdaSKPD : Diferensiasi FungsionalMANDIRI : Rasio Kemandirian Keuangan PemdaIRGOV : Intergovernmental revenue   Landasan EmpirisDyah Setyaningrum (2012)Patricia A. Patrick (2007)Djoko Suharjdanto (2011)3.7 Kerangka Proses Berpikir   LANDASAN TEORITISLKPDTingkat pengungkapanKualitas pengungkapanKarakteristik pemerintah daerahKarakteristik pemerintah daerah dan tingkat pelaporan keuangan pemerintah daerah Rumusan Masalah    Tujuan PenelitianHipotesis PenelitianAlat analisisSpss versi 20.0Hasil PenelitianDan PembahasanSkripsi Gambar 3.1 Kerangka Proses Berfikir      BAB IVHASIL DAN PEMBAHASAN 1.1              HASIL PENELITIAN4.1.1.      Deskripsi Objek Penelitian     Penelitian ini menggunakan Laporan Keuangan Daerah Pemerintah Kota Pontianak pada tahun 2014-2016 berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) yang telah di audit oleh BPK.     Penelitian ini menggunakan metode korelasi dengan software spss versi 20.0  dimana variabel dependen di uji korelasinya dengan variabel independen untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan terhadap variabel dependen.Tabel 4.1Variabel DependenTingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Kota PontianakTahunYang di ungkapkan201499201599201697     Sumber :Data Olahan      Pada tahun 2014 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Pontianak yang diungkapkan adalah sebanyak 99, pada tahun 2015 juga menunjukan hasil yang serupa yaitu sebanyak 99, kemudian pada tahun 2016 tingkat pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Pontianak mengalami penurunan yaitu menjadi 97. Berdasarkan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) ada 185 laporan yang harus disajikan dalam Laporan Keuangan Pemerintah Daerah.   38  Tabel 4.2Variabel Independen Variabel IndependenTahun 2014                  2015                 2016Kekayaan PemdaRp3.498.247.431.898,37 Rp. 334.673.293.035,95  Rp. 389.368.618.493,49 Ukuran legislatif (DPRD)414141Umur Administratif Pemda686970Kekayaan pemdaRp.298.768.480.274,53 Rp. 334.673.293.035,95 Rp. 389.368.618.493,49 Diferensiasi Fungsional (SKPD)343430Rasio Kemandirian Daerah13,5267703 45,9261847 163,724085 Sumber : Data Olahan 1.2              ANALISIS STATISTIK DESKRIPTIF      Dari 3 Laporan Keuangan Pemerintah Daerah kota Pontianak tahun anggaran 2014-2016 yang digunakan pada penelitian ini diperoleh statistik deskriptif yang dapat digunakan untuk mengetahui nilai rata-rata, standar deviasi, nilai minimum dan nilai maksimum atas variabel-variabel penelitian. Tabel 4.2 merupakan statistik deskriptif atas variabel dependen yaitu tingkat pengungkapan (DISC), dan variabel-variabel independen yaitu ukuran pemerintahan (SIZE), ukuran legislatif (ULEG), umur administratif pemerintah daerah (AGE), kekayaan pemerintah daerah (WEALTH), diferensiasi fungsional (SKPD), rasio kemandirian keuangan daerah (MANDIRI), dan Intergoveenmental Revenue (IRGOV).Tabel 4.3Statistik DeskriptifVariabel NMean Max Min Std. DevDISC3979998.331.155SIZE33.E+124.E+123.97E+124.192E+11ULEG3414141.000AGE3687069.001.000WEALTH32.9877E+113.8937E+113.40937E+1145623676696SKPD3303432.672.309MANDIRI313.5268163.724174.39234779.0414456IRGOV3.0016245.0155814.007292337.0073383853Sumber : Data olahan 4.3              PEMBAHASAN 4.3.1        Variabel DependenTabel 4.4Tingkat Pengungkapan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah kota PontianakTahunYang di ungkapkanYang harus di ungkapkanPersentase %20149918553,5 %20159918553,5 %20169718552,4 %Sumber : Data olahan      Penelitian ini menggunakan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kota Pontianak pada tahun 2014-2016, dari hasil penelitian menunjukan bahwa tingkat pengungkapan pada Pemerintah Kota pontianak di tahun 2014 yaitu 53,5 %, pada tahun 2015 yaitu 53,5 % dan pada tahun 2016 yaitu 52,4 %. Pada penelitian sebelumnya, Laporan Keuangan Pemerintah Daerah seluruh Indonesia Penelitian Setyaningrum (2012) menemukan bahwa tingkat pengungkapan wajib LKPD terhadap SAP di Indonesia sebesar 52,09% sedangkan (Liestiani 2008) 35,45%, dan (Lesmana 2010) 22%. Dalam hal ini Kota Pontianak masih termasuk Daerah yang lebih tinggi tingkat pengungkapannya dari pada tingkat rata-rata pengungkapan daerah di seluruh Indonesia. 4.3.2        Variabel IndependenTabel 4.5Uji Korelasi   4.3              PENGUJIAN HIPOTESIS PENELITIAN 4.3.1 Pengaruh Ukuran Pemerintah Daerah terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.     Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara ukuran pemerintah daerah terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD menunjukan hasil yang negatif yang artinya ukuran pemerintah tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyaningrum (2012) dan penelitian yang dilakukan oleh Lesmana (2010). Tetapi hasil penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian yang dilakukan Patrick (2007) yang menyatakan bahwa ukuran organisasi berpengaruh positif dan sangat kuat terhadap penerapan sebuah inovasi baru, yaitu GASB 34. Begitu pula hasil yang ditunjukan oleh penelitian Sumarjo (2010) yang menyatakan bahwa semakin besar ukuran pemerintahan maka semakin baik kinerja keuangan pemerintah daerah. 4.3.2        Pengaruh Ukuran Legislatif (DPRD) terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.     Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara ukuran Legislatif (DPRD) terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD ialah tidak memiliki hubungan karena sampel yang digunakan sama, yaitu jumlah anggota legislatif pada tahun 2014-2016 sama. Masa pergantian anggota DPRD dilakukan 5 tahun sekali sehingga pada tahun 2014-2019 jumlah anggota DPRD kota Pontianak tidak mengalami perubahan pada jumlah anggotanya. 4.3.3        Pengaruh Umur Administratif Pemda tingkat pengungkapan wajib LKPD.     Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara Umur Administratif Pemda tingkat pengungkapan wajib LKPD menunjukan hasil yang negatif yang artinya Umur Administratif Pemda tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD. Hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyaningrum (2012) yang menyatakan bahwa semakin tua umur administratif Pemda maka akan mendorong Pemda untuk mengungkapkan LKPD secara lebih lengkap. 4.3.4        Pengaruh Kekayaan Pemda terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.     Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara Pengaruh Kekayaan Pemda terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD menunjukan hasil negatif yang artinya kekayaan pemda tidak berpengaruh terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD. Hasil ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Setyaningrum (2012) yang menyatakan bahwa kekayaan pemerintah daerah berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan LKPD. Begitu pula penelitian yang dilakukan oleh Liestiani (2008) dan Lasward et al. (2008) yang menyatakan bahwa kekayaan pemerintah daerah memiliki hubungan yang positif terhadap tingkat pengungkapan LKPD.4.3.5        Pengaruh Diferensiasi Fungsional terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.       Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara Diferensiasi Fungsional terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD menunjukan hasil yang positif yang artinya diferensiasi fungsional memiliki pengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan LKPD. Hasil penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian yang di lakukan Setyaningrum (2012), Lesmana (2010), dan Hilmi (2011). Hasil penelitian yang mereka sejalan yaitu diferensiasi fungsional tidak memiliki pengaruh dengan tingkat pengungkapan LKPD. 4.3.6        Pengaruh Rasio kemandirian keuangan daerah terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.     Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara rasio kemandirian keuangan daerah terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD menunjukan hasil yang negatif yang artinya rasio kemandirian keuangan daerah memiliki pengaruh yang negatif terhadap tingkat pengungkapan LKPD. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Setyaningrum (2012) yang menyatakan rasio kemandirian keuangan daerah memiliki pengaruh yang positif terhadap tingkat pengungkapan LKPD. Namun penelitian yang dilkukan oleh Lesmana (2010) tidak menyatakan bahwa rasio kemandirian keuangan daerah memiliki pengaruh yang negatif. Semakin tinggi rasio kemandirian keuangan Pemda menunjukkan semakin mandiri Pemda dalam membiayai sendiri kegiatan pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan kepada masyarakat sehingga tingkat ketergantungan kepada pihak eksternal menjadi rendah. Hal inilah yang membuat Pemda tidak termotivasi untuk meningkatkan pengungkapan laporan keuangannya karena rendahnya tuntutan transparansi dan akuntabilitas LKPD dari pihak eksternal.  4.3.7        Pengaruh Intergovernmental Revenue terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD.      Berdasarkan tabel 4.5 hasil korelasi antara intergovernmental revenue terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD menunjukan hasil yang positif yang artinya intergovernmental revenue memiliki pengaruh yang positif terhadap tingkat pengungkapan wajib LKPD. Namun penelitiian  ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan Seytaningrum (2012) yang menyatakan bahwa intergovernmental revenue memiliki pengaruh yang negatif tingkat pengungkapan wajib LKPD. Seharusnya semakin besar dana perimbangan dari pusat maka akan mendorong pemerintah daerah untuk lebih giat lagi dalam melengkapi laporan keuangannya sebagai tanggungjawab pemerintah daerah terhadap pemerintah pusat.                   BAB V PENUTUP 5.1              SIMPULAN      Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh karakteristik pemerintah terhadap tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah khususnya di Kota Pontianak tahun anggaran 2014-2016. Berdasarkan hasil pengujian ditemukan bahwa tingkat pengungkapan laporan keuangan pemerintah Kota Pontianak pada tahun 2014 adalah sebesar 53,5%. Pada tahun 2015 tingkat pengungkapan LKPD adalah sama sebesar 53,5%. Pada tahun 2016 tingkat pengungkapan LKPD mengalami penurunan yaitu sebesar 52,4%. Adannya penurunan yang terjadi pada tingkat pengungkapan LKPD menunjukan bahwa pemerintah Kota Pontianak belum berhasil berusaha untuk meningkatkan kualitas laporan keuangannya.     Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa dari 7 variabel yang diuji hanya terdapat 2 variabel yang berpengaruh positif terhadap tingkat pengungkapan LKPD Kota Pontianak yaitu diferensiasi fungsional dan intergovenmental revenue. Sedangkan 5 variabel lainnya terbukti memiliki pengaruh yang negatif terhadap tingkat pengungkapan LKPD.  5.2              KETERBATASAN PENELITIANPenelitian ini hanya sebatas untuk mengetahui pengaruh karakteristik pemerintah daerah terhadap tingkat LKPD Kota Pontianak. Diharapkan pada peneliti selanjutnya untuk dapat meneliti kabupaten-kabupaten yang ada di Pontianak.Kurangnya karakteristik pemerintah daerah yang digunakan pada penilitian ini. Pada peneliti selanjutnya diharapkan agar dapat menambahkan karakteristik baru seperti beban utang, latar belakang pendidikan Walikota/Bupati dan yang lainnya. 
PENGARUH MEKANISME GOOD CORPORATE GOVERNANCE TERHADAP KINERJA KEUANGAN PERUSAHAAN (Studi Kasus pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2013 – 2015) HERYANTI, FITRI RAHMAWATI
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh mekanisme corporate governance seperti ukuran dewan komisaris, ukuran dewan direksi, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan dispersion of ownership terhadap kinerja keuangan perusahaan. Populasi dalam penelitian ini merupakan perusahaan manufaktur subsector industri barang konsumsi yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2013, 2014, 2015. Metode sampling dalam penelitian ini adalah purposive sampling. Perusahaan yang dijadikan sampel ada 13 perusahaan dengan jumlah total sampel 37 data. Analisis data dilakukan dengan uji asumsi klasik dan pengujian hipotesis dengan metode regresi berganda.Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial ukuran dewan komisaris dan kepemilikan manajerial tidak berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan yang menunjukkan hasil tidak sesuai dengan hipotesis, sedangkan variabel lainnya menunjukkan hasil yang sesuai dengan hipotesis. Variabel ukuran dewan direksi, kepemilikan institusional, dan dispersion of ownership memiliki pengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan. Secara simultan penelitian ini menyatakan bahwa ukuran dewan komisaris, ukuran dewan direksi, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dan dispersion of ownership berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja keuangan perusahaan.Kata kunci: mekanisme tata kelola perusahaan, ukuran dewan komisaris,ukuran dewan direksi, struktur kepemilikan, kepemilikan manajerial, kepemilikan institusional, dispersion of ownership.
Analisis Pengaruh Perputaran Modal Kerja Dan Good Corporate Governance Terhadap Profitabilitas Perusahaan Pada Perusahaan Industri Dasar Dan Kimia Yang Terdaftar Di BEI. admin, DOBI B41110137
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perputaran modal kerja dan good corporate governance terhadap profitabilitas perusahaan pada perusahaan Industri Dasar dan Kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dan menjadi objek penelitian ini adalah perusahaan Industri Dasar dan Kimia yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Data yang digunakan data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi dan telah dipublikasikan dalam bentuk laporan keuangan pada perusahaan Industri Dasar dan Kimia yang terdaftar di BEI. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling dengan jumlah sampel 19 perusahaan periode 2011-2013. Variabel penelitian menggunakan variabel bebas dan variabel terikat, Untuk mengetahui hubungan antara variabel independen dan variabel dependen menggunakan metode regresi berganda dengan uji analisis deskriptif menggunakan IBM SPSS 22. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa perputaran modal kerja (Working Capital) berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabilitas perusahaan. Dewan direksi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap profitabiliats perusahaan. Dewan komisaris tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadapn profitabilitas perusahaan dan komite audit memiliki pengaruh yang signifikan terhadap profitabilitas perusahaan Kata kunci: perputaran modal kerja, ukuran dewan direksi, ukuran dewan komisaris, ukuran komite audit, profitabilitas
WHISTLEBLOWING DAN FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI NIAT MELAKSANAKANNYA (STUDI EMPIRIS PADA OPD DI KECAMATAN JAWAI) yunira, ega
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 8, No 4 (2019): Jurnal Mahasiswa Akutansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh faktor sikap, komitmen organisasi, personal cost, locus of control, dan tingkat keseriusan pelanggaran terhadap niat melakukan whistleblowing. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Staf Aparatur Desa yang bekerja pada OPD di Kecamatan Jawai, Kabupaten Sambas. Teknik pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner dengan jumlah sample sebanyak 41 responden dipilih berdasarkan metode convenience sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda untuk menguji hipotesis. Pengujian validitas dan reliabilitas instrumen variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini memiliki tingkat validitas dan reliabilitas yang dapat diterima. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) sikap berpengaruh secara signifikan terhadap niat melakukan whistleblowing, (2) komitmen organisasi berpengaruh signifikan terhadap niat melakukan tindakan whistleblowing, (3) personal cost tidak berpengaruh terhadap niat melakukan whistleblowing, (4) locus of control berpengaruh signifikan terhadap niat melakukan whistleblowing, (5) tingkat keseriusan pelanggaran berpengaruh signifikan terhadap niat melakukan whistleblowing pada OPD di Kecamatan Jawai tersebut. DAFTAR PUSTAKAAhmad, S. A. (2012) ?Internal Auditors and Internal Whistleblowing Intention : A Studyof organizational, Individual, Situasional, and Demographic Factors. School of Accounting, Finance and Economics: Edith Cowan University . Western Australia.Ajzen, I (1991) The Theory of Planned Behavior. ?Organizational Behavior dan Human Desicion Processes?. 50, 179-211.Aliyah, S (2015) ?Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Minat Pegawai dalam Melakukan Tindakan Whistleblowing?. Jurnal Dinamika Ekonomi dan Bisnis. 12(2), 173-189.Alleyne, P., Hubadaib, M. Dan Pike, R. (2013) ?Towards a Conceptual Model of Whistleblowing Intention Among External Auditors?. The British Accounting Review, 8(1), 10-23.Bagustianto, R. Nurkholis. (2015) ?Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Pegawai Negeri Sipil (PNS) Untuk Melakukan Tindakan Whistleblowing?. Simposium Nasional Akuntansi XVIII, Medan, 16-19 September.Brief, A. P. Dan Motowdlo, S. J. (1986) ?Prosocial Organizational Behaviors?. Academy of Management Reviw. 11(4), 710-725.Chiu, Randy K. (2003). ?Ethical Judgement, Locus of control and Whistleblowing Intention: A Case Study of Mainland Chinese MBA Students?. Managerial Auditing Journal, Vol 17 Iss: 9 pp. 581-587.Curwen, L. (2003) The  Corporate Consience, Sherron Watkins, Enron Whistleblower, The Guardian, 21 June, 2003 https://www.theguardian.com/business/2003jun/21/corporatefraud.enronDozier, J. B., dan Miceli, M. P. (1985) ?Potential Predictors of Whistle-blowing: A prosocial Behavior perspective?. Academy of Management review, 10(4), 823-836.Elias, R. Z. (2008) ?Auditing Students? Profesional Comitment and Anticipatory Socializationand Their Relationship to Whistleblowing. The managerial Auditing Journal, 23(3), 283-294.Husniati, S. (2017) ?Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensi Untuk Melakukan Whistleblowing Internal (Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Rokan Hulu)?. Jurnal Online Mahasiswa, Vol. 4, 1223-1237.Ghozali, Imam (2016). Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponogoro.Lembaga Indonesia Corruption Watch (2018) Tren Penindakan Korupsi (IWC) www.antikorupsi.orgKNKG. (2008) Pedoman Sistem Pelaporan Peanggaran ? SPP (Whistleblowing System ? WBS). Jakarta: KNKG.Kheshastuti, D. K. (2014) ? Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Intensi Auditor Untuk Melakukan Tindakan Whistleblowing (Studi Empiris Pada Kantor Akuntan Publik Di Semarang)?. Skripsi. FEB, Universitas Diponegoro.Lestari, R,. Dan Yaya, R. (2017) ?Whistleblowing Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niat Melaksanakannya Oleh Aparatur Sipil Negara?. Jurnal Akuntansi, Vol. 21(3), 336-350).Miceli, M. P., dan Near, J. P. (2005) ?Standing up or standing by: What predicts blowing the whistle on organizational wrongdoing in? In J. Martocchio?, Reseach in personnel and human resources management 24, 95-1936.Mowday, R. T., Steers, R. M., dan Porter, L. W. (1979) ?The Management of Organizational Commitment?, Journal of  vocational behavior, 14(2), 224-247.Saud, I. M. (2016) ? Pengaruh Sikap dan Persepsi Kontrol Prilaku Terhadap Niat Whistleblowing Internal-Eksternal dengan Persepsi Dukungan Organisasi Sebagai Variabel Moderasi?. Jurnal Akuntansi dan Investasi, Vol. 17(2), 209-2019. Juli 2016.Septianti, Windy (2013). ?Pengaruh Faktor Organisasional, Individu, Situasional dan Demografis Terhadap Niat Melakukan Whistleblowing Internal?. Jurnal Simposium Nasional Akuntansi XVI, September 2013. Manado.Setiawan, T. (2018) ? Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Intensi Untuk Melakukan Whistleblowing Internal?. Jurnal Online Mahasiswa, Vol. 1, 1-14.Setyawati, I., Ardiyani, K. Dan Sutrisno, C. R. (2015) ?Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Niat Untuk Melakukan Whistleblowing Internal?. Jurnal Ekonomi dan Bisnis. 17, 22-33.Sugiyono. (2003) Metode Penelitian Bisnis (Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D). Bandung: Alfabeta.Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 13 tahun 2008 tentang Pelindungan Saksi dan Korban. 
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI TINGKAT PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI BERBASIS AKRUAL PADA BADAN PENGELOLAAN KEUANGAN DAN ASET DAERAH (BPKAD) KABUPATEN KUBU RAYA B51112032, DEVI RESTIAWATI
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan bukti empiris mengenai tingkat penerapan standar akuntansi pada pemerintah khususnya pada tingkat satuan kerja tersebut mulai dari tingkat pendidikan, pelatihan, kualitas teknologi informasi, dukungan konsultan, dan pengalaman menjalankan basis ks menuju akrual yang memiliki pengaruh terhadap tingkat penerapan standar akuntansi akrual. Jenis penelitian yang digunakan penulis adalah data primer, populasi yang digunakan Badan Pengelolaan keuangan dan aset daerah sebanyak 39 orang, dan pengelolaan data menggunakan alat bantu program SPSS. Metode yang digunakan penulis adalah dengan menggunakan analisis statistik persamaan regresi linier berganda, adapun pengujian hipotesis yang dilakukan uji signifikan simultan, uji signifikan parsial dan koefisien determinan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat penerapan standar akuntansi berbasis akrual pada BPKAD Kubu Raya masih sangat rendah sebesar 43,14%.  tingkat pendidikan, dukungan konsultan dan pengalaman menjalankan basis kas menuju akrual berpengaruh positif terhadap tingkat penerapan standar akuntansi berbasis akrual, sedangkan pelatihan dan kualitas teknologi informasi tidak berpengaruh positif terhadap tingkat penerapan standar akuntansi akrual.   Kata Kunci : akuntansi akrual, akuntansi sektor publik, tingkat pendidikan, pelatihan, kualitas teknologi informasi, dukungan konsultan dan pengalaman menjalankan basis kas menuju akrual.
"ANALISIS PERLAKUAN AKUNTANSI TERHADAP ASET BIOLOGIS PADA PT EGALE HIGH PLANTATIONS, TBK" B1031131105, Erin Kiki Arianti
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian dilakukan pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yaitu PT. Eagle High Plantations, Tbk yang berfokus pada asset biologis. Aset biologis merupakan tanaman da nhewan yang mengalami tranformasi biologis. Dalam transformasi biologis terdiri dari proses pertumbuhan, degenrasi, produksi dan prokreasi yang menyebabkan perubahan secara kualitatif dan kuantitatif, dapat menghasilkan baru berupa tambahan asset biologis yang sama. Denganadanyatranformasipadasaatbiologismakadilakukanpengukuran yang dapat menunjukkan nilai aset secara wajar.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perlakuan akuntansi asset biologis pada perusahaan tersebut dan perlakuan berdasarkan IAS 41. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengakuan dan pengukuran asset biologis menggunakan PSAK 16 di kelompokkan dalam asset tetapi tidak ada perbedaan yang signifikan dalam hal pengakuan, pengukuran dan penilaian asset biologis dengan IAS 41. Aset biologis pada saat IAS 41 tidak ada mengakui akumulasi depresiasi sehinggan ada kenaikan nilai asset biologis dan pengukuran menggunakan nilai wajar.   Kata Kunci :AsetBiologis, IAS 41, PT. Eagle High Plantations, Tbk   ABSTRACT This research was done in a company listed in Bursa Efek Indonesia (BEI), PT. Eagle High Plantations, Tbk which was focused on biological assets. Biological assets such as plants and animals that undergo biological transformation. In biological transformation, there are growth process, degeneration process, production process and procreation process. These processes cause the value changes qualitatively and quantitatively, and can create new biological assets in the same form. Because of the biological transformation, measurement was done to show the fair value of the asset. This research aimed to know how the accounting treatment for biological asset in the company based on IAS no. 41. This research resulted that recognition and measurement of biological asset was based on PSAK no. 16 and clustered in asset but there was no significant difference in terms of recognition, measurement, and estimation of biological asset based on IAS no. 41. Before IAS no. 41, biological asset recognized accumulated depreciation so there was value increase and fair value measurement for biological asset. Keywords: Biological Asset, IAS no. 41, PT. Eagle High Plantations, Tbk  
ANALISIS PENETAPAN HARGA POKOK PENJUALAN DENGAN MENGGUNAKAN METODE THROUGHPUT COSTING PADA UKM TAHU CAKYON DI DESA RASAU JAYA, KUBU RAYA B1031141070, Jaya Kusnadi Simanjuntak
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract This research was conducted on SME Tahu Cakyon to determine the cost components that are used in the SME. This research aims to determine the pricing of goods sold on SME Tahu Cakyon and how to apply throughput costing SME Tahu Cakyon in determining the selling price of products. From the application of throughput costing, it is found the pricing of goods sold for one pack of tofu is Rp. 3.380, with a selling price is Rp. 5.000. For one package the company gets Rp. 1.620 of contribution margin. SME Tahu Cakyon basically uses the throughput costing  method, but it is not recorded correctly. Keywords: cost of sales, throughput costing DAFTAR PUSTAKAAtkinson, Anthony A & Rajib D. Banker. (1997). Management Accounting. Prentice?Hall. New Jersey. Atwater.B & M.L Gagne. (1997). The Theory of Constrain Versus Contribution Margin Analysis for Product Mix Decisions. Journal of Cost Management (January / February): 6-15. University of South Florida.Aurora & Bunea Bonta? Cristina. (2013). ? The Cost of Production Under Direct Costing and Absorption Costing ? A Comparative Approach?. Constantin Brâncu?i. University of Târgu Jiu, Economy Series, Issue 2, ISSN 1844 ? 7007, : h. 123-129.Blocher, J , Edward & Stout, E , David. (2010) . Manajemen Biaya . Edisi 5 . Jakarta:Salemba Empat. Carter, William K, & Milton F, Usry. (2002) . Cost Accounting. Buku I. Edisi 1. Jakarta:Salemba Empat.Carter, William K. (2009). Akuntansi Biaya. Edisi 14.  Jakarta.:Salemba Empat. Dunia, Firdaus Ahmad & Wasilah Abdullah. (2011) .Akuntansi Biaya. Jakarta: Salemba Empat. Fitrah, Rezanda & Endang Dwi Retnani. (2014). Penentuan Harga Jual Menggunakan Cost Plus Pricing dengan Pendekatan Variable Costing. Jurnal Ilmu & Riset Akuntansi, Vol. 3, No. 11 : h. 1-14. Garrison & Noreen. (2000). Akuntansi Manajemen Jilid 2 (Diterjemahkan Oleh A. Gusnardi, (2010). TOC: Tinjauan Teori. Pendidikan Ekonomi Universitas Riau ? Pekanbaru Kampus Bina Widya Simpang Baru. Pekanbaru.Hansen, Dor R & Maryanne M Mowen. (2013) . Akuntansi Manajerial . Jakarta: Salemba Empat.Husnia, Azizah Himmatul, Topowijono & Dwiatmanto. (2014).  Analisis Pengambilan Keputusan Menerima atau Menolak Pesanan Khusus Berdasarkan Metode Variable Costing (Studi pada Perusahaan Mebel Anggun Citra Jati Mas, Bojonegoro Tahun 2013). Jurnal Administrasi Bisnis  (JAB), Vol.17, No. 2. h. 1-10.Ibrahim. (2015). Analisis Biaya Relevan untuk Pengambilan Keputusan Menerima Atau Menolak Pesanan Khusus pada PT. BS Polymer di Makassar. Jurnal STIE Nobel Indonesia. h. 176-191. Karouw Christy P. A, Jantje J. Tinangon,& Novi Budiarso. (2016). Perlakuan Akuntansi Terhadap Produk Rusak Dalam Perhitungan Harga Pokok Produk Pada CV.Pulau Siau. Jurnal EMBA,Vol 4.Kristanti,Ika Neni. (2013). Analisis Penetapan Harga Jual dengan Metode Cost Plus dan Metode Tingkat Pengembalian Atas Modal Yang Digunakan Pada Toko Mebel Lestari Pejagoan .Jurnal Fokus Bisnis, Vol. 12, No. 02.Kuncoro, Mudrajad .(2009). Metode Riset untuk Bisnis & Ekonomi . Jakarta:Erlangga.Lasena, Sitti Rahmi. (2013).  Analisis Penentuan Harga Pokok Produksi pada PT. Dimembe Nyiur Agripro. Jurnal EMBA, Vol. 1, No. 3, ISSN: 2303-1174. h. 585-592.M. Ruhl, Jack. (1996). An Introduction The The Theory of Constrains. Cinciannati : South-Western College Publishing.Mulyadi. (2007) . System Akuntansi . Jakarta:Salemba EmpatRaja Adri Satriawan Surya, Kamaliah & Yesi Mutia Basri. (2015). Peningkatan Daya Saing Usaha Umkm Batik Dan Tenun Riau Melalui Efisiensi Produksi. E-jurnal unri. Reza Riastyo. (2015). Perhitungan Harga Pokok Produksi Dengan Menggunakan Mentode Job Order Costing Dan Activity Based Costing (Abc)(Studi Kasus Pada Pt. Eureeka Great Nusantara?Kota Batu). Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB Universitas Brawijaya,Vol 4,No 2.Setyaningrum, Rina Moestika & Muhammad Fauzan Hamidy. (2008). Analisis Biaya Produksi dengan Pendekatan Theory of Constraint untuk Meningkatkan Laba (Studi pada PG. Krebet Baru Malang). Jurnal Riset Ekonomi dan Bisnis, Vol. 8, No. 1.  h. 26-36.Simamora, Henry. (2012). Akuntansi Manajemen, Edisi ketiga.  Riau:Star Gate Publisher.Sumayang, Lalu. (2003). Dasar?Dasar Manajemen Produksi &Operasi. Salemba Empat. Jakarta. Supriyono R. A. (2011). Akuntansi Biaya: Pengumpulan Biaya dan Penetapan Harga Pokok Buku I. Edisi ke-2.BPFE-UGM, Yogyakarta.Tertius Clara Caroline & Heince R. N. Wokas. (2016). Analisis Penerapan Target Costing Dan Activity?Based Costing Sebagai Alat Bantu Manajemen Dalam Pengendalian Biaya Produksi Pada Ud. Bogor Bakery. Jurnal EMBA, Vol 4, No 1.Umpo. (2013). Akuntansi Biaya: Ragam Metode Costing (Keunggulan dan Kelemahannya). Universitas Muhammadiyah Ponorogo.
ANALISIS PELAPORAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PERUSAHAAN KONSTRUKSI BERDASARKAN PEDOMAN GLOBAL REPORTING INITIATIVE GENERASI 4 PADA PT. WIJAYA KARYA (PERSERO) TBK B1031131050, RATNA ATIKA
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ANALISIS PELAPORAN CORPORATE SOCIAL RESPONSIBILITY (CSR) PADA PERUSAHAAN KONSTRUKSI BERDASARKAN PEDOMAN GLOBAL REPORTING INITIATIVE GENERASI 4 PADA PT. WIJAYA KARYA (PERSERO) TBKABSTRAK Penelitian ini mencoba menganalisis pelaporan tanggung jawab sosial (CSR) pada PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi, observasi, dan wawancara. Berdasarkan hasil analisis PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk telah melakukan Corporate Social Responsibility (CSR) sesuai dengan pedoman Global Reporting Initiative Generasi 4 (GRI G4). WIKA menggunakan opsi pelaporan GRI G4 dengan tipe in accordance-core/ opsi inti. Semua biaya-biaya tanggung jawab WIKA terhadap sosial dan lingkungan, semua telah dianggarkan dalam biaya perusahaan, sesuai dengan regulasi Undang-Undang Perseroan Terbatas No. 40 tahun 2007 pasal 74 ayat 2 tentang Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan. WIKA dalam melaksanakan CSR mengacu pada Peraturan Menteri BUMN tentang Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), sehingga dari segi program CSR WIKA sebagian besar mengikuti program yang dicanangkan oleh peraturan menteri BUMN tersebut. Dalam penyusunan laporan CSR, WIKA juga menggunakan pedoman akuntansi yang di keluarkan oleh peraturan menteri BUMN yaitu Surat Edaran Menteri BUMN No. SE-02/MBU/Wk/2012 yang terdiri dari Laporan Posisi Keuangan, Laporan Aktivitas, Laporan Arus Kas, dan Catatan Atas Laporan Keuangan. Secara garis besar pelaksanaan program tanggung jawab sosial PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk berbasis pilar CSR WIKA yaitu WIKA Pintar, WIKA Peduli, WIKA Sehat, dan WIKA Hijau. Kata kunci: Corporate Social Responsibility (CSR), Sustainability Report, Global Reporting Initiative Generasi 4 (GRI G4), Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL), PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk.
ANALISIS PENERAPAN CATATAN ATAS LAPORAN KEUANGAN UNTUK LAPORAN REALISASI ANGGARAN BERDASARKAN PSAP NO 04 PADA DINAS KEHUTANAN KABUPATEN KETAPANG B51111053, Bramantyo Widi Nugroho
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This purpose of the study to determine whether the Forest Service has implemented the Ketapang District Government Accounting Standard ( PSAP ) No. 04 of the Notes to the Financial Statements and what factors cause the already / not yet suitability of application of Notes to Financial Statements for the Budget Realization Report conducted Ketapang Forestry Service. To analyze the application of the Notes to the Financial Statements for the Budget Realization Report by PSAP No. 04 in Ketapang District Forestry Office , the writers conducted interviews , documentary studies , and literature study to find out how the application of the Notes to the Financial Statements for the Budget Realization Report by PSAP No. 04 and what factors are causing already / not yet suitability PSAP application No. 04 .                The analysis shows that in the preparation and presentation of financial statements Ketapang District Forestry Office as a whole is still not fully in accordance with Government Accounting Standard (PSAP) No. 04 of the Notes to the Financial Statements which have never presents obstacles and constraints encountered in the achievement of performance targets, not to disclose information required by Statement of Governmental Accounting Standards that is not presented in the cover sheet financial statements and the absence of additional information necessary for fair presentation is not presented the cover sheet financial statements. Factors that cause is not incompatibility PSAP application No. 04 that the finance officer not contain financial statements educational background in accounting and lack of socialization regarding PSAP No. 04 by the related parties. Keywords : Notes to the Financial Statements, PP 71 in 2010, and PSAP No. 04
ANALISIS PERHITUNGAN BIAYA SATUAN (UNIT COST) DENGAN METODE ABC (ACTIVITY BASED COSTING) PADA BIMBEL QUANTUM KIDS PONTIANAK TAHUN 2015/2016 B1033131071, Yuli Andriani
Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE) Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi
Publisher : Jurnal Kajian Ilmiah Akuntansi Fakultas Ekonomi UNTAN (KIAFE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami biaya satuan (unit cost) pendidikan per unit kelas di bimbel quantum kids tahun 2015/2016. Penelitian deskriptif dalam penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data hasil dokumentasi dan wawancara yang telah dikumpulkan. Pendekatan kuantitatif dalam penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan memaparkan perhitungan nominal angka biaya satuan (unit cost) pendidikan  per unit  kelas dengan menggunakan metode activity based costing. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara dan dokumentasi. Metode analisis data yang digunakan adalah metod eactivity based costing. Metode ini digunakan dalam perhitungan biaya satuan (uit cost) pendidikan per unit kelas  padabimbel quantum kids pontianak .Berdasarkan hasil penelitian, hasil perhitungan biaya satuan (unit cost) pendidikan per unit kelas di bimbel quantum kids pontianak dalam penyelenggaraan kegiatan operasionalnya dengan menggunakan metode activity based costing menunjukkan total biaya langsung sebesar rp.40.651.105 dan total biaya tidak langsung sebesar rp.810.200. Total biaya keseluruhan adalah Rp.41.461.305. Dari data tersebut didapatkan biaya satuan (unit cost) pendidikan per unit kelas di bimbel quantum kids Pontianak dalam penyelenggaraan kegiatan operasionalnya sebesar Rp.2.073.065. Hasil tersebut di dapatkan dari total biaya keseluruhan Rp.41.461.305 dibagi dengan jumlah seluruh kelas di bimbel quantum kids yaitu 20 kelas. Kata kunci: biaya satuan(unit cost), ABC (activity based costing).

Page 46 of 146 | Total Record : 1454


Filter by Year

2012 2021


Filter By Issues
All Issue Vol 10, No 4 (2021): Vol 4 Vol 11, No 1 (2021): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 11, No 1 (2021): KIAFE Vol 10, No 3 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 10, No 2 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 10, No 1 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 9, No 3 (2020): Jurnal Mahasiswa AK Vol 9, No 2 (2020): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 9, No 1 (2019): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 8, No 4 (2019): Jurnal Mahasiswa Akutansi Vol 8, No 3 (2019): Jurnal Mahasiswa Akutansi Vol 8, No 2 (2019): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 8, No 1 (2019): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 7, No 4 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 7, No 3 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 7, No 2 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 7, No 1 (2018): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 6, No 4 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 6, No 3 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 6, No 2 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 6, No 1 (2017): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 5, No 4 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 5, No 3 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 5, No 2 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 5, No 1 (2016): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 4, No 4 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 4, No 3 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 4, No 1 (2015): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 3, No 4 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 3, No 3 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 3, No 2 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 2, No 3 (2013): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 2, No 2 (2013): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 2, No 1 (2013): Jurnal Mahasiswa Akuntansi Vol 1, No 1 (2012): Jurnal Mahasiswa Akuntansi More Issue