cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 16 Documents
Search results for , issue "Vol 42, No 3 (2015): Nyeri" : 16 Documents clear
Diagnosis dan Terapi Miastenia Gravis pada Anak Harkitasari, Saktivi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (230.858 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1030

Abstract

Miastenia gravis merupakan penyakit autoimun paut saraf otot yang didapat. Manifestasi klinis penyakit ini adalah gejala kelemahan yang berfluktuasi dan bervariasi pada otot-otot okuler, anggota gerak, pernafasan, dan bulbar. Miastenia gravis tipe okuler lebih banyak dijumpai dan memiliki usia awitan lebih awal. Pengobatan miastenia gravis menggunakan penghambat asetilkolinesterase, kortikosteroid, azathioprine, plasmaferesis, dan imunoglobulin intravena serta timektomi. Prognosis miastenia gravis pada anak-anak lebih baik daripada dewasa.Myasthenia gravis is an acquired autoimmune neuromuscular junction disease. The clinical manifestations are fluctuating weaknesses of ocular, limbs, respiratory, and bulbar muscles. Ocular myasthenia is the most frequent type with earlier age of onset. Treatment of myasthenia gravis uses acetylcholinesterase inhibitors, corticosteroids, azathioprine, plasmapheresis, intravenous immunoglobulin and thymectomy. Prognosis in children are better than in adults. 
Metilasi Promoter Gen BRCA1 dan Pengaruhnya terhadap Karakteristik Kanker Payudara Premenopausal Sporadik Etnis Minang Harahap, Wirsma Arif; Khambri, Daan; Arisanty, Dessy; -, Yanwirasti; Mubarika, Sofia
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (147.314 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1031

Abstract

Karsinoma payudara sporadik merupakan kanker yang paling sering pada wanita premenopause etnis Minang. Terdapat perbedaan faktor risiko dan karakteristik tumor jika dibandingkan dengan pasien Kaukasian. Diduga faktor metilasi pada promoter BRCA1 berperan dalam kejadian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kejadian metilasi promoter gen BRCA1 pada pasien kanker payudara premenopause sporadik etnis Minang. Penelitian menggunakan metoda deskriptif analitik pemeriksaan metilasi dengan teknik Bisulfit PCR pada promoter gen BRCA1 pada 43 jaringan kanker payudara sporadik usia premenopause etnis Minang yang diobati di RS M Jamil Padang. Faktor prognosis yang diperiksa adalah stadium, gradasi tumor, indeks mitosis, dan pemeriksaan imunohistokimia (Er,Pr,HER2,Ki67). Didapatkan 35 pasien kanker payudara yang memenuhi syarat, dengan perincian: 17,2% stadium II, 71,4% stadium III, dan 11,4% stadium IV. Subtipe adalah Luminal A 16 orang (17,1%), Luminal B 9 orang (25,7 %), HER2 3 orang (8,6%) dan TNBC 17 orang (48,6%). Metilasi pada jaringan kanker didapatkan pada 21 pasien (60 %). Metilasi berhubungan dengan derajat proliferasi tinggi (Ki67 >14%), stadium lanjut, dan subtipe jenis TNBC. Kanker payudara dengan metilasi pada promoter gen BRCA1 memiliki prognosis lebih buruk. Perlu penelitian lebih lanjut untuk melihat dampak klinis obat anti-metilasi pada penderita KPD dengan metilasi pada promoter BRCA1. Sporadic breast carcinoma is the most common cancer among premenopausal Minang ethnic women. There are differences of risk factors and tumor characteristics compared with Caucasian patients. It was assumed that promoter methylation in BRCA1 plays a role in this differences. This descriptive analytic study aimed to describe the incidence of promoter methylation in the BRCA1 gene in sporadic premenopausal ethnic Minang breast cancer patients. This research used methylation with bisulfate PCR technique method in the BRCA1 promoter in 43 sporadic premenopausal ethnic Minang breast cancer patients at M Djamil Hospital Padang. Stage, tumor grading, mitotic index, and immunohistochemical examination (Er, Pr, HER2, Ki67) are examined prognostic factor. Among eligible 35 breast cancer patients, 17.2% are stage II, 71.4% are stage III and 11.4% are stage IV. Cancer subtypes were Luminal A in 16 patients (17.1%), Luminal B in 9 patients (25.7%), HER2 in 3 patients (8.6%), and TNBCin 17 patients (48.6%). Methylation in cancer tissue was found in 21 patients (60%). Methylation associated with a high degree of proliferation (Ki67>14%), advanced stage and type of TNBC subtypes. Breast cancer with promoter methylation in the BRCA1 gene have a worse prognosis. Further research is needed to study the clinical impact of antimethylation in breast cancer patients with BRCA1 promoter methylation.
Penatalaksanaan Farmakologis Nyeri pada Lanjut Usia Barus, Jimmy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.468 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1027

Abstract

Sejalan dengan meningkatnya populasi lansia maka meningkat pula jumlah kasus nyeri terkait disabilitas dan perubahan degeneratif pada kelompok ini. Penggunaan analgetik pada lansia perlu pertimbangan khusus. Secara umum, asetaminofen/parasetamol merupakan pilihan pertama untuk kasus nyeri muskuloskeletal dengan pemantauan dosis dan efek samping. Jika perlu, COX 2 inhibitor lebih diutamakan untuk menghindari efek gastrointestinal, dan pemberian aspirin bersama PPI untuk mengurangi risiko kardiovaskuler. Penggunaan OAINS sedapat mungkin dibatasi, karena berkaitan dengan efek samping gastrointestinal dan peningkatan risiko gangguan kardiovaskuler. OAINS harus dihindari pada gangguan ginjal. Opioid secara umum dianggap lebih aman, tetapi efek samping harus tetap diperhatikan. Analgetik adjuvan yang dianjurkan adalah antikonvulsan golongan gabapentin dan pregabalin, dan antidepresan golongan SNRI.The increase of elderly population resulted in increasing problem of pain connected to degenerative diseases and disabilities. The use of analgetics among elderly needs special consideration. Acetaminophen/paracetamol is still the first choice for musculoskeletal pain with dose and side effect monitoring. COX2 inhibitor is preferred to avoid gastrointestinal effect, and aspirin in combination with PPI is used to minimize cardiovascular risk. NSAID use is limited as much as possible, because it is associated with gastrointestinal side effects and increased risk of cardiovascular disorders. NSAID should be avoided in renal insufficiency. Opioid is relatively safe but needs monitoring of side effect. Adjuvant analgesics that can be considered are anticonvulsants: gabapentin and pregabalin, and SNRI antidepressant.
Efektivitas Pregabalin untuk Terapi Nyeri Kronis: Evidence-based Review Widyadharma, I Putu Eka
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.618 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1032

Abstract

Pregabalin ((S)-3-aminomethyl-5-methyl hexanoic acid) merupakan obat baru yang memiliki struktur analog neurotransmiter penghambat, yaitu GABA (g-aminobutyric acid). Pregabalin berikatan dengan α-2-δ subunit saluran kalsium (voltage-gated calcium channels), sehingga dapat mengurangi pelepasan beberapa neurotransmiter eksitatorik dan menghambat terjadinya hiperalgesia dan sensitisasi sentral. Pregabalin memiliki efek antikonvulsan, antihiperalgesik dan ansiolitik yang mirip gabapentin, namun memiliki sifat farmakokinetik lebih baik. Pregabalin secara umum diindikasikan untuk beberapa kondisi nyeri kronis, seperti nyeri pasca-trauma medula spinalis, post-herpetic neuralgia, fibromialgia, neuralgia trigeminal, diabetic peripheral neuropathy (DPN), dan penyakit neuropati lainnya.Pregabalin ((S)-3-aminomethyl-5-methyl hexanoic acid) is a new drug with structure similar to GABA (g-aminobutyric acid), an inhibitory neurotransmitter. Pregabalin binds to α-2-δ subunit of voltage-gated calcium channel to inhibit the release of excitatory neurotransmitter to prevent hyperalgesia and central sensitization. Pregabalin has anticonvulsant, antihyperalgesia and anxiolytic properties similar to gabapentin, with better pharmacokinetic profile. It is indicated for several chronic condition as post-spinal trauma pain, post-herpetic neuralgia, fibromyalgia, trigeminal neuralgia, diabetic peripheral neuropathy (DPN), and other neuropathies
Komorbiditas Nyeri pada Pasien Lanjut Usia Pinzon, Rizaldy
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.532 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1028

Abstract

Latar belakang: Kondisi komorbiditas menyebabkan penggunaan obat jamak pada pasien lanjut usia dengan keluhan nyeri. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping obat. Obat analgesik pada lanjut usia dapat mempengaruhi jantung, ginjal, otak, dan sistem gastrointestinal. Tujuan penelitian ini adalah mengukur prevalensi kondisi komorbiditas pada pasien lanjut usia dengan nyeri neuromuskuler. Metode: Penelitian potong lintang dengan metode sampling konsekutif. Subjek penelitian adalah pasien lanjut usia dengan nyeri neuromuskuler yang berobat ke poliklinik saraf RS Bethesda Yogyakarta periode Februari 2013-April 2013. Penilaian nyeri terstandar dilakukan pada semua pasien. Hasil: Data diperoleh dari 96 pasien lanjut usia (> 60 tahun), 52 laki-laki dan 44 perempuan. Kondisi nyeri neuromuskuler yang umum dijumpai adalah nyeri leher, nyeri lengan/ tungkai, dan nyeri punggung bawah. Sebagian besar pasien memiliki derajat nyeri sedang. Kondisi medis yang umum dijumpai adalah ulkus peptikum dan tekanan darah tinggi. Kondisi komorbiditas nyeri harus dipertimbangkan dalam tatalaksana nyeri. Simpulan: Sebagian besar pasien nyeri berusia lanjut memiliki kondisi komorbiditas. Kondisi ini harus dipertimbangkan dalam diagnosis dan tatalaksana nyeri.Background: Comorbidities in older adults lead to the use of multiple drugs, which is associated with an increased occurrence of adverse drug reaction. Analgesic drugs used in elderly may affect heart, kidney, brain, and GI tract. The aim of this study is to measure the prevalence of comorbidities conditions in elderlies with neuromuscular pain. Method: Cross sectional study with consecutive sampling method was used in this study. The subjects are elderly who came to neurology clinic from February 2013-April 2013 with neuromuscular pain condition. Standardized pain assessment was used in all patients. Result: The data were obtained from 96 elderly patients (age > 60 years old), consist of 52 male and 44 female. The most common neuromuscular problems are cervical pain, arm/ leg pain, and low back pain. Majority of patients come with moderate pain intensity. Medical comorbidities are very common, the most common are active peptic ulcer and high blood pressure. The presence of medical comorbidities should be taken into account in pain management. Conclusion: Majority of elderly pain patients suffered from other medical comorbidities. Coexisting conditions should be considered in diagnosis and therapy.
Konsep Pain-Free Hospital Chuandy, Indra; Santosa, Sugeng Budi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.512 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1033

Abstract

Alasan tersering pasien mencari pertolongan medis adalah nyeri. Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional tidak menyenangkan yang berhubungan atau digambarkan berkaitan dengan kerusakan jaringan atau organ. Pengendalian nyeri optimal memerlukan tim penanganan nyeri yang terorganisasi, pengetahuan pasien, pelatihan, pendidikan yang terus menerus, penggunaan analgesik multimodal, dan pemeriksaan derajat nyeri yang seragam. Penilaian dampak utama penanganan nyeri meliputi: tingkat rasa nyeri, efek samping terapi, frekuensi penggunaan analgetik, saat pasien pulang, dan tingkat kecemasan. Proyek “Menuju pain-free hospital” pertama kali diperkenalkan di St. Luc Hospital, Montreal (Kanada) pada tahun 1992. Tujuan proyek ini adalah untuk memperkenalkan dan mempertahankan standar analgesik post-operatif tertinggi. Salah satu elemen kunci proyek ini adalah pendidikan berkelanjutan. Masyarakat dan pasien harus disadarkan atas kemungkinan dan pentingnya penanganan nyeri, perlunya kerja sama dengan para petugas medis dan hak mereka agar nyerinya diobati.Pain in one of the most common reason to seek medical attention. The optimal control of pain requires an organized pain management team, patient education, training and lifelong learning, use of multimodal analgesia, and uniformity of pain severity examination. The assessment of pain management include: level of pain, side effects from therapy, frequency of analgesics use, patient discharge time, and level of anxiety. A project called "Towards a pain-free hospital" was first introduced in St. Luc Hospital, Montreal (Canada) in 1992. The purpose of this project is to introduce and maintain the highest standard postoperative analgesia. The main element of this project is continuing education. Patients and public should be aware on the importance of pain management, the need for cooperation with medics and their right to be treated.
Nilai Normal Kecepatan Hantar Saraf di RSUP Sanglah Denpasar P, Sukarini; PE, Widyadharma; Putra IGN, Purna; Samatra DPG, Purwa
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.638 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1029

Abstract

Latar Belakang: Pemeriksaan Kecepatan Hantar Saraf (KHS) adalah bagian dari prosedur elektrodiagnostik untuk menegakkan diagnosis penyakit sistem saraf perifer. Pengukuran KHS dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor fisiologis dan non-fisiologis, sehingga acuan nilai normal di tiap tempat dapat berbeda; oleh karena itu, sebaiknya setiap tempat pemeriksaan memiliki nilai normalnya sendiri. Saat ini di RSUP Sanglah belum memiliki acuan nilai normal KHS. Tujuan: Mengetahui nilai rata-rata normal KHS di RSUP Sanglah Denpasar. Metode: Penelitian potong lintang consecutive sampling selama bulan Juli 2013. Setiap orang dewasa normal berusia 20-30 tahun yang memenuhi kriteria diperiksa di lengan dan tungkai kanan, untuk menilai latensi, amplitudo, dan KHS. Data diolah menggunakan SPSS 16. Hasil: Dari 30 sampel pemeriksaan Compound Muscle Action Potential (CMAP), rerata hasil secara berurutan latensi, amplitudo, KHS nervus medianus 2,95±0,34 mdet; 4,33±1,54 mV; 67,16±6,73 m/det; nervus ulnaris 2,41±0,29 mdet; 3,46±0,89 mV; 66,65±7,36 m/det; nervus radialis 3,48±0,86 mdet; 1,00±0,33 mV; 59,34±10,01 m/det; nervus tibialis 4,47±1,15 mdet; 6,59±1,85 mV; 53,95±6,65 m/det; nervus peroneus 3,29±1,15 mdet; 2,25±0,84 mV; 54,67±8,25 m/det. Rerata hasil pemeriksaan Sensory Nerve Action Potential (SNAP) secara berurutan latensi, amplitudo, KHS nervus medianus 2,62±0,31 mdet; 12,15±5,24 µV; 65,16±10,29 m/det; nervus ulnaris 2,49±0,3 0 mdet; 13,88±7,21 µV; 63,44±9,79 mdet; nervus radialis 2,38±0,61 mdet; 11,37±5,58 µV; 70,40±10,33 m/det; nervus suralis 4,17±0,67 mdet; 6,73±2,98 µV; 59,06±9,12 m/det. Simpulan: Didapatkan nilai rata-rata normal KHS motorik dan sensorik di RSUP Sanglah Denpasar yang dapat digunakan sebagai nilai acuan.Background: Nerve conduction study is electrodiagnostic procedures important in the diagnosis of peripheral nervous system disease. Nerve conduction velocity (NCV) measurements can be affected by various physiological and non-physiological factors, so the reference normal values can be different in each place; therefore, each center is encouraged to have their own normal reference value. Currently in Sanglah General Hospital not have a reference normal values of NCV. Objective: To obtain normal mean value of nerve conduction velocity (NCV) in Sanglah General Hospital, Denpasar. Method: A cross-sectional study with consecutive sampling technique was done during July 2013. A sample of 30 eligible normal adult, 20-30 year-old, were examined in the right arm and right leg, assessed for latency, amplitude, and NCV. The data is analyzed with SPSS 16.Result: The mean of Compound Muscle Action Potential for latency, amplitude, NCV of median nerve is 2,95±0,34 msec; 4,33±1,54 mV; 67,16±6,73 m/sec; ulnar nerve 2,41±0,29 msec; 3,46±0,89 mV; 66,65±7,36 m/sec; radial nerve 3,48±0,86 msec; 1,00±0,33 mV; 59,34±10,01 m/sec; tibial nerve 4,47±1,15 msec; 6,59±1,85 mV; 53,95±6,65 m/sec; peroneal nerve 3,29±1,15 msec; 2,25±0,84 mV; 54,67±8,25 m/sec. The mean of Sensory Nerve Action Potential for latency, amplitude, NCV of median nerve is 2,62±0,31 msec; 12,15±5,24 µV; 65,16±10,29 m/sec; ulnar nerve 2,49±0,30 msec; 13,88±7,21 µV; 63,44±9,79 m/sec; radial nerve 2,38±0,61 msec; 11,37±5,58 µV; 70,40±10,33 m/sec; sural nerve 4,17±0,67 msec; 6,73±2,98 µV; 59,06±9,12 m/sec. Conclusion: Normal average value of motor and sensory NCV in Sanglah General Hospital Denpasar were obtained, and can be used as a reference.
Assessment Nyeri -, Yudiyanta; Khoirunnisa, Novita; Novitasari, Ratih Wahyu
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (513.069 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1034

Abstract

Kontrol nyeri merupakan problem signifikan pada pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Penanganan nyeri yang efektif tergantung pemeriksaan dan penilaian nyeri yang seksama berdasarkan informasi subjektif maupun objektif. Anamnesis pasien nyeri sebaiknya menggunakan kombinasi pertanyaan terbuka dan tertutup. Selain itu, perhatikan juga faktor-faktor seperti tempat wawancara, sikap yang suportif dan tidak menghakimi, tanda-tanda verbal dan nonverbal, serta meluangkan waktu yang cukup. Penggunaan mnemonik PQRST (Provokatif Quality Region Severity Time) akan membantu mengumpulkan informasi vital yang berkaitan dengan proses nyeri pasien.Pain control is still an important issue in health management. Effective pain management depends on through examination and assessment based on objective as well as subjective information. Combination of closed and open questions can be utilized in a supportive and non-inclined manner in relaxed environment, supportive and non-judgmental, together with observation on verbal as well as nonverbal clues, and spend enough time. Use of PQRST mnemonics can help obtain important information related to the patient’s pain.
Efektivitas Pregabalin untuk Terapi Nyeri Kronis: Evidence-based Review I Putu Eka Widyadharma
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1032

Abstract

Pregabalin ((S)-3-aminomethyl-5-methyl hexanoic acid) merupakan obat baru yang memiliki struktur analog neurotransmiter penghambat, yaitu GABA (g-aminobutyric acid). Pregabalin berikatan dengan α-2-δ subunit saluran kalsium (voltage-gated calcium channels), sehingga dapat mengurangi pelepasan beberapa neurotransmiter eksitatorik dan menghambat terjadinya hiperalgesia dan sensitisasi sentral. Pregabalin memiliki efek antikonvulsan, antihiperalgesik dan ansiolitik yang mirip gabapentin, namun memiliki sifat farmakokinetik lebih baik. Pregabalin secara umum diindikasikan untuk beberapa kondisi nyeri kronis, seperti nyeri pasca-trauma medula spinalis, post-herpetic neuralgia, fibromialgia, neuralgia trigeminal, diabetic peripheral neuropathy (DPN), dan penyakit neuropati lainnya.Pregabalin ((S)-3-aminomethyl-5-methyl hexanoic acid) is a new drug with structure similar to GABA (g-aminobutyric acid), an inhibitory neurotransmitter. Pregabalin binds to α-2-δ subunit of voltage-gated calcium channel to inhibit the release of excitatory neurotransmitter to prevent hyperalgesia and central sensitization. Pregabalin has anticonvulsant, antihyperalgesia and anxiolytic properties similar to gabapentin, with better pharmacokinetic profile. It is indicated for several chronic condition as post-spinal trauma pain, post-herpetic neuralgia, fibromyalgia, trigeminal neuralgia, diabetic peripheral neuropathy (DPN), and other neuropathies
Komorbiditas Nyeri pada Pasien Lanjut Usia Rizaldy Pinzon
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 3 (2015): Nyeri
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v42i3.1028

Abstract

Latar belakang: Kondisi komorbiditas menyebabkan penggunaan obat jamak pada pasien lanjut usia dengan keluhan nyeri. Hal tersebut dapat meningkatkan risiko munculnya efek samping obat. Obat analgesik pada lanjut usia dapat mempengaruhi jantung, ginjal, otak, dan sistem gastrointestinal. Tujuan penelitian ini adalah mengukur prevalensi kondisi komorbiditas pada pasien lanjut usia dengan nyeri neuromuskuler. Metode: Penelitian potong lintang dengan metode sampling konsekutif. Subjek penelitian adalah pasien lanjut usia dengan nyeri neuromuskuler yang berobat ke poliklinik saraf RS Bethesda Yogyakarta periode Februari 2013-April 2013. Penilaian nyeri terstandar dilakukan pada semua pasien. Hasil: Data diperoleh dari 96 pasien lanjut usia (> 60 tahun), 52 laki-laki dan 44 perempuan. Kondisi nyeri neuromuskuler yang umum dijumpai adalah nyeri leher, nyeri lengan/ tungkai, dan nyeri punggung bawah. Sebagian besar pasien memiliki derajat nyeri sedang. Kondisi medis yang umum dijumpai adalah ulkus peptikum dan tekanan darah tinggi. Kondisi komorbiditas nyeri harus dipertimbangkan dalam tatalaksana nyeri. Simpulan: Sebagian besar pasien nyeri berusia lanjut memiliki kondisi komorbiditas. Kondisi ini harus dipertimbangkan dalam diagnosis dan tatalaksana nyeri.Background: Comorbidities in older adults lead to the use of multiple drugs, which is associated with an increased occurrence of adverse drug reaction. Analgesic drugs used in elderly may affect heart, kidney, brain, and GI tract. The aim of this study is to measure the prevalence of comorbidities conditions in elderlies with neuromuscular pain. Method: Cross sectional study with consecutive sampling method was used in this study. The subjects are elderly who came to neurology clinic from February 2013-April 2013 with neuromuscular pain condition. Standardized pain assessment was used in all patients. Result: The data were obtained from 96 elderly patients (age > 60 years old), consist of 52 male and 44 female. The most common neuromuscular problems are cervical pain, arm/ leg pain, and low back pain. Majority of patients come with moderate pain intensity. Medical comorbidities are very common, the most common are active peptic ulcer and high blood pressure. The presence of medical comorbidities should be taken into account in pain management. Conclusion: Majority of elderly pain patients suffered from other medical comorbidities. Coexisting conditions should be considered in diagnosis and therapy.

Page 1 of 2 | Total Record : 16


Filter by Year

2015 2015


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue