cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 23 Documents
Search results for , issue "Vol 47, No 1 (2020): Bedah" : 23 Documents clear
Potensi Terapi Sel Punca untuk Penyakit Alzheimer: Kenyataan atau Harapan? Purba, Jan Sudir
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (98.208 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.344

Abstract

Penyakit Alzheimer (AD) adalah penyakit neurodegeneratif menyangkut penurunan kemampuan fungsi otak yang menyebabkan gangguan perilaku serta kognitif yang progresif. Gangguan visuospasial juga sering ditemukan. Faktor risiko terbesar yang diketahui adalah bertambahnya usia dengan mayoritas 65 tahun ke atas. Perkembangan ilmu kedokteran akhir-akhir ini memungkinkan terapi sel punca pada penyakit neurodegenetatif. Dalam tulisan ini dibahas kemungkinan terapi sel punca pada penyakit Alzheimer.Alzheimer disease (AD) is a long-term and progressive neurodegenerative disorder that leads to a disability of performing simple daily tasks, often accompanied by visual disturbances. Symptoms are progressively deteriorates with age. Current therapies only target the relief of symptoms using psychotherapy and various drugs, and do not cure the disease. Stem cell therapy holds a great promise and provides a great research opportunity. Recently, stem cell therapy has been shown to be a potential approach to various diseases, including neurodegenerative disorders. In this review, we focus on stem cell therapies for AD
Konsep Patofisiologi Motilitas Gastrointestinal Dewi Prawira, Mira; Sueta, Made Agus Dwianthara
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.335

Abstract

Sistem gastrointestinal (GI) mempunyai fungsi sebagai tempat persediaan air, elektrolit, dan kimus. Fungsi sistem GI yaitu motilitas usus antara lain mixing, propulsion, dan separation. Motilitas usus secara fisiologis mendapat sinyal dari beberapa agen regulator eksitatorik dan inhibitorik. Gangguan motilitas GI dapat dibagi menjadi obstruksi mekanik (dinamik) dan ileus paralitik (adinamik), selain itu juga ada pengaruh medikamentosa terhadap motilitas GI. GI motility have various functions, such as mixing, propulsion and separation. GI motility is regulated by signals from excitatory agents and inhibitory agents. GI motility disorders can be divided into mechanical (dynamic) obstruction and paralytic ileus (adynamic); some pharmacological agents also can affect GI motility.
Peran Larutan Maltodekstrin dalam Konsep ERAS Saputra, Dedyanto Henky
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.345

Abstract

Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) adalah konsep yang makin banyak digunakan dalam prosedur bedah karena memberikan berbagai manfaat. Loading karbohidrat menjadi salah satu bagian dari ERAS. Berbagai penelitian menunjukkan hasil positif loading karbohidrat terutama dalam menurunkan resistensi insulin yang dapat mengganggu metabolisme pasien pasca operasi. Cairan maltodekstrin adalah salah satu komponen yang paling sering direkomendasikan untuk loading karbohidrat.Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) is a concept that is increasingly being used in surgical procedures because of its benefits. Carbohydrate loading becomes one part of ERAS. Various studies have shown positive results from carbohydrates loading, especially in reducing insulin resistance which can disrupt post-operative patient metabolism. Maltodextrin is one of the most frequently recommended components in carbohydrate loading.
Pencegahan Emergence Agitation Pascaoperasi pada Pasien Anak Bonardo Pardede, Dimas Kusnugroho
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.799 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.336

Abstract

Emergence agitation (EA) adalah gangguan perilaku pascaoperasi terkait pemulihan anestesi yang sering dijumpai pada pasien anak usia prasekolah. Meskipun hanya sementara, EA tetap berpotensi membahayakan pasien, menambah biaya perawatan dan ketidakpuasan orang tua pasien. Etiologi pasti belum jelas diketahui, diduga multifaktorial. Diagnosis EA dengan skala Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED). Manajemen anestesi yang baik melalui intervensi non-farmakologis dan farmakologis yang tepat dapat mencegah EA. Emergence agitation (EA) is an anesthetic recovery-related postoperative negative behaviour, usually in preschool pediatric patients. Although temporary and self-limited, it may increase the risk of self-harm, medical care costs and decrease parent’s satisfaction. The exact cause and underlying mechanism are yet to be determined but several factors may be involved. Diagnosis is by Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) scale. Proper anesthetic management implementing non-pharmacological and pharmacological interventions may prevent EA.
Malondialdehid sebagai Penanda Stres Oksidatif pada Berbagai Penyakit Kulit Mulianto, Nurrachmat
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.19 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.341

Abstract

Kulit merupakan sistem pertahanan pertama tubuh. Lapisan kulit menjadi pelindung organ dalam dari paparan luar baik paparan kimia maupun berbagai polutan dan racun. Paparan tersebut akan menyebabkan kondisi kulit rentan terkena stres oksidatif. Kondisi stres oksidatif yang terus-menerus dapat menjadi faktor risiko atau memperparah penyakit kulit. Malondialdehid (MDA) merupakan produk sekunder peroksidasi lipid pada kondisi stres oksidatif. Berbagai laporan penelitian menunjukkan kadar malondialdehid berbeda signifikan pada beberapa penyakit kulit seperti akne vulgaris, dermatitis atopi, melasma, psoriasis dan vitiligo jika dibandingkan kontrol. Nilai MDA juga berbanding lurus dengan derajat keparahan penyakit-penyakit kulit tersebut.Skin is the first defense system in the body. The skin layer provides protection from oxidative stress due to external chemical exposure and various pollutants and poisons.. Persistent oxidative stress can be a risk factor for skin disorders. Malondialdehyde (MDA) is a secondary product of lipid peroxidation under oxidative stress. Various researches show that the level of malondialdehyde differs significantly in some skin diseases such as acne vulgaris, atopic dermatitis, melasma, psoriasis and vitiligo as compared with controls. MDA value is also directly proportional to the severity of skin diseases. 
Peranan Gizi bagi Olahragawan Panggabean, Martinova Sari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.904 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.346

Abstract

Asupan gizi yang baik dalam berolahraga merupakan salah satu faktor untuk mendukung pencapaian prestasi yang optimal. Kebutuhan gizi olahragawan berbeda dari kebutuhan gizi orang yang bukan olahragawan. Zat gizi yang dibutuhkan atlet terdiri dari zat gizi makro dan zat gizi mikro. Zat gizi makro merupakan penghasil energi untuk aktivitas baik selama latihan, dekat masa pertandingan dan selama masa pertandingan. Implementasi strategi gizi olahraga yang baik dapat membantu atlet mencapai performa terbaik. Good nutrition in sports is one of the supporting factors for optimal achievement. Nutritional needs between athletes and non-athletes is different. Nutrition needed by athletes consists of macronutrients and micronutrients. Macronutrients are energy producers, needed for activities during training and competition. Good nutritional strategies may help athletes maximize their performance.
Perbedaan Kejadian Agitasi Pasien Pediatri Pasca Anestesi Umum dengan Sevofluran atau Isofluran Arif Ramadhan, Alriztya; Tri Arianto, Ardana; Budi Santosa, Sugeng
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (96.251 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.337

Abstract

Latar belakang:Agitasi adalah masalah utama yang paling sering ditemukan di bagian anestesi pediatri. Agitasi pasca operasi sering terjadi pada anak yang menjalani anestesi dengan sevofluran. Tujuan : Menganalisis pengaruh pemberian sevofluran dan isofluran terhadap angka kejadian agitasi pasien pediatri yang menjalani anestesi umum. Metode :Penelitian double blind randomized control trial di kamar instalasi bedah sentral RSUD Dr. Moewardi Surakarta pada 36 sampel yang telah memenuhi kriteria. Sampel dibagi menjadi kelompok mendapat anestesi umum dengan sevofluran (18 sampel) atau isofluran (18 sampel). Kejadian agitasi pasca operasi dinilai menggunakan skor Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) pada menit ke 10, 20, dan 30. Analisis statistik menggunakan uji independent t. Hasil : Kedua kelompok memiliki karakteristik dasar homogen. Uji beda rerata skor PAED antara kedua kelompok menghasilkan nilai p = 0,505 (10 menit), p = 0,624 (20 menit), dan p = 0,240 (30 menit). Simpulan: Kejadian agitasi pasien pediatri pasca anestesi isofluran dan sevofluran tidak berbeda signifikan (p > 0,05). Background : Agitation is a main problem in pediatric anesthesia. Post surgery agitation in pediatric patients occurred more frequently after sevoflurane anesthesia. Purpose : To analyze the incidence of emergency agitation after sevoflurane and isoflurane general anesthesia in pediatric patients. Method : A double blind randomized control trial on 36 pediatric patients in the Central Surgery Unit of RSUD Dr. Moewardi Surakarta. samples were  divided into sevoflurane general anesthesia (18 patients) and isoflurane general anesthesia (18 patients). Post surgery agitation was recorded with Pediatric Anesthesia Emergence Delirium (PAED) score in 10, 20, and 30 minutes. Statistical analysis was performed using independent t test. Result : Both groups had comparable basic characteristics. The difference in mean PAED score between the two groups had the p value of 0,505 (10 minutes), 0,624 (20 minutes), and 0,240 (30 minutes) (p > 0,05). Conclusion : The incidence of post surgery emergence agitation in children after sevoflurane general anesthesia and isoflurane general anesthesia is not  significantly different.
Malrotasi dengan Volvulus Midgut dan Ileus Obstruktif Total pada Bayi Usia 2 bulan Suzantra Sutisna, Catur; Viola, Valerie
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.99 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.342

Abstract

Malrotasi usus adalah kelainan bawaan berupa kegagalan perputaran atau rotasi usus terutama usus bagian tengah selama perkembangan embriologik; kelainan ini terjadi pada kehamilan 10 minggu. Malrotasi usus terjadi pada 1:500 kelahiran hidup. Malrotasi bergejala hanya pada 1 :6000 kelahiran hidup. Malrotasi dapat disertai volvulus. Pada pasien sudah terjadi ileus obstruktif total yang merupakan komplikasi malrotasi dengan volvulus. Dilakukan laparatomi eksploratif segera, Ladd procedure, pelebaran mesenkim, derotasi volvulus, dan appendektomi insidental. Tumbuh kembang pasien sampai dengan usia 4 bulan terpantau baik.Intestinal malrotation is a congenital failure of the intestine rotation, especially the middle intestine during embryological development; usually occurs at 10th weeks' gestation. Intestinal malrotation occurs between 1: 500 live births. Malrotation is symptomatic in only 1: 6000 live births. Malrotation can occur with volvulus. This patient had total obstructive ileus as a complication of malrotation with volvulus. Surgery was performed immediately with exploratory laparotomy, Ladd procedure, mesenchym widening, derotation of the volvulus and incidental appendectomy. The growth and development up to the age of 4 months were good.
Penanganan Nyeri Multimodal: Post Total Hip dan Knee Arthroplasty -, Irvan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.542 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.347

Abstract

Penanganan posttotal hip & knee arthroplasty yang baik akan meningkatkan kualitas hidup pasien. Selain edukasi dan rehabilitasi yang baik, penanganan nyeri termasuk fundamental pada posttotal joint arthroplasty. Penanganan nyeri dapat menggunakan anestesi epidural, obat analgesik dengan metode multimodal, dan injeksi periartikular. Artikel ini membahas prinsip penanganan nyeri multimodal posttotal hip & knee arthroplasty. Good post-operative management after total hip & knee arthroplasty will improve patient’s quality of life. In addition to education and rehabilitation, pain management is fundamental in post total joint arthroplasty. Pain management includes epidural anesthesia, multimodal analgesic drugs, and periarticular injection. This review is on multimodal pain management in total hip & knee arthroplasty.
Faktor – faktor Penyebab Pending Klaim Rawat Inap di RSUD Koja Tahun 2018 Kusumawati, Ayu Nadya; -, Pujiyanto
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 1 (2020): Bedah
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.779 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v47i1.338

Abstract

Pada tahun 2014, Indonesia mulai menerapkan Sistem Jaminan Kesehatan Nasional berdasarkan Undang-undang nomor 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional. Rumah sakit terus berupaya untuk mempercepat proses klaim agar alur cash flow tidak terganggu, oleh karena itu perlu diidentifikasi faktor penyebab pending klaim agar dapat dianalisis dan diperbaiki. Penelitian dilaksanakan di RSUD Koja dari bulan Juni hingga Juli 2019 dengan mengambil data pending klaim selama tahun 2018, terbatas pada pending klaim rawat inap dan yang terkait dengan masalah medis dan resume medis. Selain itu dilakukan wawancara mendalam kepada satu orang verifikator, satu orang koder dan satu orang grouper. Didapatkan 40,6% berkas merupakan kesalahan koding dan input, 21,9% kesalahan penempatan diagnosis dan 37,4% ketidaklengkapan resume medis. Dibutuhkan pembaharuan ilmu aturan dan kaidah koding terbaru serta penerapan rekam medis elektronik untuk mempermudah DPJP dalam melengkapi resume medis. In 2014, Indonesia began to implement National Health Insurance System based on Law Number 40, 2004. As hospitals continue to strive to speed up claim process to manage the cash flow, it is necessary to identify the causes of claim pending. The study was conducted at Koja District Hospital from June to July 2019 by taking pending claims data during 2018 and limited to inpatient pending claims related to medical problems and medical resumes. In-depth interviews were conducted with one verifier, one coder and one grouper. Causes of pending were coding and input errors (40.6%), misplaced diagnoses (21.9%) and incomplete medical resumes (37.4%). Knowledge updates on latest coding rules for coders and the application of electronic medical records to facilitate DPJP in completing medical resumes are needed. 

Page 1 of 3 | Total Record : 23


Filter by Year

2020 2020


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue