cover
Contact Name
Dita Archinirmala
Contact Email
dorotea.ditaarchinirmala@kalbe.co.id
Phone
+6281806175669
Journal Mail Official
cdkjurnal@gmail.com
Editorial Address
http://www.cdkjournal.com/index.php/CDK/about/editorialTeam
Location
Unknown,
Unknown
INDONESIA
Cermin Dunia Kedokteran
Published by PT. Kalbe Farma Tbk.
ISSN : 0125913X     EISSN : 25032720     DOI : 10.55175
Core Subject : Health,
Cermin Dunia Kedokteran (e-ISSN: 2503-2720, p-ISSN: 0125-913X), merupakan jurnal kedokteran dengan akses terbuka dan review sejawat yang menerbitkan artikel penelitian maupun tinjauan pustaka dari bidang kedokteran dan kesehatan masyarakat baik ilmu dasar, klinis serta epidemiologis yang menyangkut pencegahan, pengobatan maupun rehabilitasi. Jurnal ini ditujukan untuk membantu mewadahi publikasi ilmiah, penyegaran, serta membantu meningkatan dan penyebaran pengetahuan terkait dengan perkembangan ilmu kedokteran dan kesehatan masyarakat. Terbit setiap bulan sekali dan disertai dengan artikel yang digunakan untuk CME - Continuing Medical Education yang bekerjasama dengan PB IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia)
Articles 2,961 Documents
Diseksi Aorta Akut Stanford Tipe B dengan Gejala Akut Abdomen Ni Luh Putu Rustiari Dewi; IGM Ardika Aryasa; Kadek Susila Surya Dharma
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i2.522

Abstract

Diseksi aorta akut merupakan kegawatdaruratan aorta dengan presentasi klinis tidak spesifik dan mortalitas tinggi terutama bila tidak dikenali dini menyebabkan penanganan terlambat di unit gawat darurat. Kami melaporkan kasus laki-laki 71 tahun dengan diseksi aorta Stanford tipe B dengan presentasi atipik yaitu gejala nyeri abdomen akut. Pasien memiliki riwayat hipertensi tidak terkontrol sejak satu tahun. CT Angiography menunjukkan gambaran diseksi aorta Stanford tipe B dari arteri subclavia menurun hingga setinggi percabangan aorta. Terapi awal berupa kontrol tekanan darah. Selanjutnya pasien dirujuk untuk terapi thoracic endovascular aortic repair (TEVAR). Gejala akut abdomen perlu dipertimbangkan sebagai salah satu gejala klinis diseksi aorta.Acute aortic dissection is an emergency aortic disease with unspecific clinical presentations and high mortality especially if not early recognized. Its unspecific clinical presentations contributes to lack of proper initial emergency treatment. A case of 71 year-old male with Stanford type B aortic dissection with atypical presentation of acute abdomen was reported. Patient had uncontrolled hypertension since one year ago. CT Angiography described Stanford type B aortic dissection with dissection flap seen just beyond the origin of left subclavian artery extending downwards to terminate just above aortic bifurcation. Initial treatment was pain management and blood pressure control. Tha patient was referred for thoracic endovascular aortic repair (TEVAR). Acute abdomen must be considered as one of clinical presentations of acute aortic dissection.
Dosis dan Rute Pemberian Diuretik Loop pada Gagal Jantung Akut Patricia Feliani Sitohang
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.657

Abstract

Gagal jantung akut adalah sindrom klinis yang ditandai dengan kongesti dan retensi cairan. Diuretik loop intravena merupakan terapi lini pertama gagal jantung akut, namun efektivitas dan keamanan terkait dosis dan rute pemberian obat masih tidak pasti. Tulisan ini membahas kasus dua serangan gagal jantung dekompensasi akut pada pasien yang sama. Pada serangan pertama, diberikan furosemid bolus intravena dengan dosis sama dengan total dosis oral harian. Pada serangan kedua, diberikan furosemid bolus intravena 2,5 kali lebih besar dari total dosis oral harian. Didapatkan hasil klinis lebih baik dan lama rawatan lebih pendek pada serangan kedua. Dosis diuretik loop harus disesuaikan berdasarkan klinis dan respon pasien serta riwayat pemakaian terapi diuretik loop sebelumnya.Acute heart failure is a clinical syndrome characterized by congestion and fluid retention. Intravenous loop diuretics are used as the first-line therapy, but there is still uncertainty on the effectiveness and safety in terms of dosage and drug administration. This report discusses two episodes of acute decompensated heart failure in the same patient. In the first episode, furosemide intravenous bolus was given at the same dose as the total daily oral dose. In the second episode, furosemide intravenous bolus was given 2.5 times larger than total daily oral dose. Better clinical outcomes and shorter length of stay in hospital were obtained in second case. Loop diuretic dose should be adjusted based on clinical and patient response and history of previous loop diuretic therapy.
Pendekatan Klinis Pasien Transthyretin Cardiac Amyloidosis (ATTR-CA) Nur Adiba Purba
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i9.1483

Abstract

Transthyretin Cardiac Amyloidosis (ATTR-CA) adalah penumpukan fragmen protein transthyretin di jaringan interstisial miokardium akibat salah lipat protein, menyebabkan kardiomiopati restriktif dan infiltratif karena penebalan dan kekakuan dinding jantung. Transthyretin sebagian besar diproduksi di hati, berbentuk tetramer dan berfungsi sebagai protein pembawa tiroksin (T4) serta holoretinol binding protein (HRP). Saat ini, pemeriksaan diagnostik metode non-invasif telah dikembangkan meskipun biopsi endomiokardium masih menjadi gold standard diagnosis. Diagnosis akurat sedini mungkin sangat berpengaruh terhadap keberhasilan serta penurunan angka morbiditas dan mortalitas.Transthyretin Cardiac Amyloidosis (ATTR-CA) is the accumulation of transthyretin protein fragment in myocardium interstitial tissue induced by misfolded protein, lead to thickening and stiffness cardiac muscles, causing restrictive and infiltrative cardiomyopathy. Transthyretin is produced mainly in the liver as tetramer and bonded both with thyroxine (T4) and holoretinol binding protein (HRP) as carrier protein. Diagnostic test with non-invasive methods have been developed recently although endomyocardial biopsy is still the gold standard. Early targeted diagnosis has huge impact for therapy management and decreasing patient’s morbidity and mortality.
Kejadian Disfagia saat Masuk Rumah Sakit sebagai Faktor Prognosis Buruk Luaran Klinis Pasien Stroke Iskemik Radha Govinda Padma; Rizaldy Taslim Pinzon; Esdras Ardi Pramudita
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i1.804

Abstract

Pendahuluan: Disfagia merupakan salah satu menifestasi pada pasien stroke iskemik. Disfagia memiliki kaitan dengan komplikasi pulmonal khususnya pneumonia, juga berkaitan dengan malnutrisi dan dehidrasi. Penelitian pengaruh disfagia terhadap luaran klinis masih terbatas dan hasilnya kontroversial. Tujuan: Menilai hubungan disfagia dengan luaran klinis buruk pada stroke iskemik. Metode: Studi kohort retrospektif terhadap 150 pasien berusia lebih dari 40 tahun. Subjek tercatat dalam stroke registry Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta (2012-2015). Luaran klinis diukur dengan modified Rankin Scale (mRS). Data dianalisis univariat dilanjutkan dengan analisis bivariat dengan uji chi-square dan analisis multivariat dengan uji regresi logistik. Hasil: Data 150 pasien stroke iskemik terdiri dari 91 laki-laki (60.7%) dan 59 perempuan (39.3%). Sebanyak 49 pasien berusia lebih dari tujuh puluh tahun.Pasien dengan disfagia sebanyak 75 orang. 65 pasien di antaranya menunjukkan luaran klinis buruk (mRS≥2). Analisis bivariat menunjukkan beberapa variabel yang signifikan terhadap luran klinis buruk yaitu disfagia (RR: 2.241, 95% CI: 1.663 - 3.021, p:<0,001 ), jenis kelamin (RR: 0.688, 95%CI: 0.515 – 0.920, p:0,006), tingkat kesadaran (RR: 1,67, 95%CI: 1,30 – 2,16, p:<0,001), afasia (RR: 1.697, 95%CI: 1.406 - 2.048, p:<0,001), disartria (RR: 0.542, 95%CI: 0.327 - 0.900, p:0,002) dan kekuatan otot buruk (RR: 1,52, 95%CI: 0,67-3,44, p:0,021). Analisis multivariat menunjukkan bahwa disfagia secara independen memiliki hubungan dengan luaran klinis buruk pada stroke (RR: 2.022, 95%CI: 1.513-2.701, p:<0,001). Simpulan: Kejadian disfagia memiliki hubungan dengan luaran klinis buruk pada pasien stroke iskemik.Background: Dysphagia is one of manifestation in ischemic stroke. Dysphagia is associated with pulmonary complication especially pneumonia, malnutrition and dehydration. Studies on the impact of dysphagia on clinical outcomes are still limited and the results are controversial. Aim: To investigate the association between dysphagia in ischemic stroke with poor clinical outcome. Methods: A retrospective cohort study of 150 patients older than 40 year-old recorded in Stroke Registry Bethesda Hospital Yogyakarta (2012-2015).Clinical outcomes were evaluated with the modified Rankin Scale (mRS). Data analysis were univariate, bivariate followed by the chi-square and multivariate logistic regression. Results: Among 150 patients with ischemic stroke, ninety-one male (60.7%) and fifty-nine female (39.3%). Forty nine patients (32.7%) were more than 70 year-old. Dysphagia occured in 75 patients (50%) and 65 of those with poor functional outcome (mRS≥2). Bivariate analysis showed that variables significantly associated to clinical outcomes are dysphagia (RR: 2.241, 95% CI: 1.663 - 3.021, p:<0,001 ), gender (RR: 0.688, 95%CI: 0.515 – 0.920, p:0,006), consciousness (RR: 1,67, 95%CI: 1,30 – 2,16, p:<0,001), aphasia (RR: 1.697, 95%CI: 1.406 - 2.048, p:<0,001), dysarthria (RR: 0.542, 95%CI: 0.327 - 0.900, p:0,002) and poor muscle strength (RR: 1,52, 95%CI: 0,67-3,44, p:0,021). Multivariate analysis showed that dysphagia was independently associated with poor clinical outcome of stroke (RR: 2.022, 95%CI: 1.513-2.701, p:<0,001). Conclusion : Dysphagia is associated with poor functional outcome in ischemic stroke patients.
Efek Kafein terhadap Kesehatan Manusia Ryan Fernandi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i1.545

Abstract

Kafein merupakan bahan alami yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia, dapat ditemukan dalam berbagai produk makanan, minuman, serta obat-obatan. Saat ini minum kopi sudah menjadi tren dan kebiasaan bagi warga masyarakat khususnya di kota-kota besar, sehingga mendorong peningkatan konsumsi kopi yang kandungan utamanya adalah kafein. Kafein memiliki berbagai efek menguntungkan ataupun merugikan pada tubuh manusia. Efek jangka panjangnya masih kontroversial, pengaruhnya berbeda-beda tergantung pada metabolisme individu. Peningkatan kadar serum kolesterol, LDL, konsentrasi homosistein, dan tekanan darah merupakan beberapa efek merugikan, sedangkan penurunan risiko diabetes melitus tipe 2 dan berbagai kanker merupakan efek menguntungkan.Caffeine is the most consumed natural ingredient in the world, found in a wide variety of food products, beverages, and medicines. Drinking coffee has become a trend and habit, especially in cities, thus encouraging increased consumption of coffee and caffeine as its main content. Caffeine is known to have both beneficial and adverse effects on the human body; may vary, depending on the individual metabolism. Increased serum cholesterol levels, LDL, homocysteine concentrations, and blood pressure are several adverse effects, while decreasing the risk of type 2 diabetes mellitus and various cancers is a beneficial effect.
Sindrom Nistagmus Infantil Elvira -; Made Dwi Surya Wibawa; Ni Made Ayu Surasmiati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i10.1082

Abstract

Nistagmus berasal dari bahasa Yunani, nystagmos yang berarti mengangguk dan kata nystazein yang berarti mengantuk. Nistagmus merupakan gerakan involunter dan osilasi ritmik mata yang dapat fisiologis ataupun patologis. Angka kejadian nistagmus diperkirakan 24 per 10.000 populasiumum. Nistagmus infantil motorik atau sindrom nistagmus infantil (SNI) merupakan tipe nistagmus infantil yang paling sering.Onset dan manifestasi klinis dapat membantu diagnosis; pemeriksaan penunjang biasanya dilakukan pada usia diatas 6 bulan. Beberapa terapi di antaranya terapi optikal, terapi obat, terapi pembedahan untuk meningkatkan tajam penglihatan dan terapi pembedahan untuk merelokasi Null Zone ke posisi primer.Nystagmus, adopted from Greek nystagmos, means nodding and nystazein means sleepy. Nystagmus is involuntary movement and oscilation of the eye;may be physiologic or pathologic. Th incidence is about 24 in 10.000 population. Motor infantile nystagmus or infantile nystagmus syndrome is the most common type of infantile nystagmus. Diagnosis is based on onset and clinical manifestations; additional examination is for baby older than 6 months. Therapy is to improve visual acuity and surgery to relocate Null Zone to primary position.
Late Diagnosis of Traumatic Diaphragmatic Rupture: Experience in Developing Country Heru Sutanto Koerniawan; Nengah Kuning Atmadjaya; Ketut Wiargitha
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i12.1244

Abstract

Diaphragm is a dome-shaped muscular structure that can be divided into right and left hemi-diaphragm. Rupture of diaphragm can be caused by penetrating trauma or blunt trauma to chest and abdomen. A 32 year-old man with sustained traumatic rupture of diaphragm due to blunt abdominal trauma because of traffic accident. Diaphragm repair was performed at the 6th day.Diafragma adalah struktur otot berbentuk kubah yang dapat dibagi menjadi hemi-diafragma kanan dan kiri. Pecahnya diafragma dapat disebabkan oleh trauma tembus atau trauma tumpul pada dada dan perut. Seorang pria 32 tahun dengan trauma pecah diafragma karena trauma tumpul pada perut karena kecelakaan lalu lintas. Perbaikan diafragma dilakukan pada hari ke-6.
The Effectivity of Telerehabilitation for Post Stroke Patients Gabrielle Glenis; Regina Caecilia Setiawan; Tresia Fransiska Ulianna Tambunan
Cermin Dunia Kedokteran Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v48i11.1551

Abstract

Stroke rehabilitation is an essential component of post-stroke care and is more effective if started sooner. Stroke rehabilitation therapy aims to improve motor function, psychological well-being, cognitively, emotionally, and in terms of social well-being. Telerehabilitation allows communication between medical staff and patients and can be a suitable alternative to usual rehabilitation care in poststroke patients. This method may have potential implications for patients, especially in remote or underserved areas. Future trials are needed on telerehabilitation's feasibility, efficacy, and cost-effectiveness in other low and middle-income countries where the stroke burden is burgeoning. Rehabilitasi stroke merupakan komponen penting dalam tatalaksana pasca-stroke dan lebih efektif untuk dimulai lebih awal. Tujuan terapi rehabilitasi stroke adalah untuk meningkatkan fungsi motorik, kognitif, emosional, kesejahteraan psikologis dan sosial. Telerehabilitasi memungkinkan komunikasi antara staf medis dan pasien dan dapat sebagai alternatif yang sesuai untuk perawatan rehabilitasi biasa pada pasien pasca-stroke. Metode ini mungkin memiliki implikasi potensial bagi pasien, terutama di daerah terpencil atau kurang terlayani. Penelitian masih diperlukan untuk kelayakan, kemanjuran, dan keefektifan biaya telerehabilitasi di negara berpenghasilan rendah dan menengah dengan beban stroke meningkat.
Gambir (Uncaria gambir Roxb) as Natural Cosmeceutical Agent Hanny Setyowati
Cermin Dunia Kedokteran Vol 44, No 3 (2017): Infeksi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v44i3.836

Abstract

Uncaria gambir contains varying amounts of polyphenols, mainly catechins. Catechin has a photo-protection activity which can be applied as sunscreen. The future goal of this cosmeceutical product is to prevent skin photo-damaging by UV-radiation.Uncaria gambir mengandung banyak komponen polifenol, terutama catechin. Catechin, sebagai senyawa utama tanaman gambir, memiliki aktivitas perlindungan terhadap cahaya matahari sehingga dapat diaplikasikan dalam sediaan tabir surya. 
Perbandingan Hasil Pemeriksaan Tajam Penglihatan Menggunakan Kartu Snellen dan Aplikasi Smartphone PEEK Acuity pada Anak Usia 5-6 Tahun Saphira Evani; Andika A. Witono; Fabian J. Junaidi
Cermin Dunia Kedokteran Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v46i8.445

Abstract

Tajam penglihatan adalah parameter penting kualitas penglihatan. Pemeriksaan tajam penglihatan menggunakan kartu Snellen umum dilakukan pada praktik klinis. Penggunaan kartu Snellen pada pasien anak usia pra sekolah/taman kanak-kanak membutuhkan kooperasi penuh antara pemeriksa dan pasien serta tergantung kemampuan membaca huruf. Aplikasi smartphone sebagai alat bantu pemeriksaan tajam penglihatan yang mudah digunakan salah satunya adalah aplikasi PEEK (Portable Eye Examination Kit) Acuity. Peneliti hendak membandingkan validitas hasil tajam penglihatan menggunakan aplikasi PEEK Acuity dengan kartu Snellen pada anak usia pra sekolah (5-6 tahun).Visual acuity is an important parameter to describe the quality of vision. Snellen chart is frequently used for visual acuity assessment in daily medical practice. Using Snellen chart in pre school age patient needs good cooperation between examiner and patient and it depends on the recognition of alphabets. PEEK (Portable Eye Examination Kit) Acuity application is a smartphone application to make visual acuity assessment more convenient. This survey is to compare the validity of visual acuity assessment with PEEK Acuity application compared with Snellen chart in pre school age children (5-6 years old).

Filter by Year

2014 2023


Filter By Issues
All Issue Vol 50 No 11 (2023): Pediatri Vol 50 No 10 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 9 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 8 (2023): Dermatiologi Vol 50 No 7 (2023): Kardiovaskular Vol 50 No 6 (2023): Edisi CME Vol 50 No 5 (2023): Kedokteran Umum Vol 50 No 4 (2023): Anak Vol 50 No 3 (2023): Kardiologi Vol 50 No 2 (2023): Penyakit Dalam Vol 50 No 1 (2023): Oftalmologi Vol 49, No 4 (2022): Infeksi - COVID-19 Vol 49 No 12 (2022): Dermatologi Vol. 49 No. 11 (2022): Neurologi Vol 49 No 10 (2022): Oftalmologi Vol. 49 No. 9 (2022): Neurologi Vol. 49 No. 8 (2022): Dermatologi Vol 49, No 7 (2022): Vitamin D Vol 49 No 7 (2022): Nutrisi - Vitamin D Vol 49, No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 6 (2022): Nutrisi Vol 49 No 5 (2022): Neuro-Kardiovaskular Vol 49, No 5 (2022): Jantung dan Saraf Vol 49 No 4 (2022): Penyakit Dalam Vol 49, No 3 (2022): Saraf Vol 49 No 3 (2022): Neurologi Vol 49 No 2 (2022): Infeksi Vol 49, No 2 (2022): Infeksi Vol 49 (2022): CDK Suplemen-2 Vol 49 (2022): CDK Suplemen-1 Vol 49, No 1 (2022): Bedah Vol 49 No 1 (2022): Bedah Vol 48 No 11 (2021): Penyakit Dalam - COVID-19 Vol 48, No 7 (2021): Infeksi - [Covid - 19] Vol 48 No 1 (2021): Infeksi COVID-19 Vol. 48 No. 10 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 4 Vol 48 No 8 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 3 Vol 48 No 5 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 2 Vol. 48 No. 2 (2021): Continuing Medical Education - Edisi 1 Vol 48, No 12 (2021): General Medicine Vol 48 No 12 (2021): Penyakit Dalam Vol 48, No 11 (2021): Kardio-SerebroVaskular Vol 48, No 10 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48, No 9 (2021): Nyeri Neuropatik Vol 48 No 9 (2021): Neurologi Vol 48, No 8 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 7 (2021): Infeksi Vol 48, No 6 (2021): Kardiologi Vol 48 No 6 (2021): Kardiologi Vol 48, No 5 (2021): CME - Continuing Medical Education Vol 48 No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 4 (2021): Dermatologi Vol 48, No 3 (2021): Obstetri dan Ginekologi Vol. 48 No. 3 (2021): Obstetri - Ginekologi Vol 48, No 2 (2021): Farmakologi - Vitamin D Vol 48, No 1 (2021): Penyakit Dalam Vol 47, No 12 (2020): Dermatologi Vol 47, No 11 (2020): Infeksi Vol. 47 No. 10 (2020): Dermatologi Vol 47, No 10 (2020): Optalmologi Vol 47 No 9 (2020): Infeksi Vol 47, No 9 (2020): Neurologi Vol. 47 No. 8 (2020): Oftalmologi Vol 47, No 8 (2020): Kardiologi Vol. 47 No. 7 (2020): Neurologi Vol 47, No 7 (2020): Bedah Vol 47 No 6 (2020): Kardiologi & Pediatri Vol. 47 No. 5 (2020): Bedah Vol 47, No 5 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol. 47 No. 4 (2020): Interna Vol 47, No 4 (2020): Arthritis Vol. 47 No. 3 (2020): Dermatologi Vol 47, No 3 (2020): Dermatologi Vol 47 No 2 (2020): Infeksi Vol 47, No 2 (2020): Penyakit Infeksi Vol 47, No 1 (2020): CME - Continuing Medical Education Vol 47, No 1 (2020): Bedah Vol 47 No 1 (2020): Bedah Vol. 46 No. 7 (2019): Continuing Medical Education - 2 Vol 46, No 12 (2019): Kardiovaskular Vol 46 No 12 (2019): Kardiovakular Vol. 46 No. 11 (2019): Pediatri Vol 46, No 11 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 10 (2019): Farmasi Vol. 46 No. 10 (2019): Farmakologi - Continuing Professional Development Vol 46 No 9 (2019): Neurologi Vol 46, No 9 (2019): Neuropati Vol. 46 No. 8 (2019): Pediatri Vol 46, No 8 (2019): Kesehatan Anak Vol 46, No 7 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 46 No 6 (2019): Endokrinologi Vol 46, No 6 (2019): Diabetes Mellitus Vol 46, No 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 5 (2019): Pediatri Vol. 46 No. 4 (2019): Dermatologi Vol 46, No 4 (2019): Dermatologi Vol. 46 No. 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 3 (2019): Nutrisi Vol 46, No 2 (2019): Penyakit Dalam Vol. 46 No. 2 (2019): Interna Vol 46, No 1 (2019): Obstetri - Ginekologi Vol 46 No 1 (2019): Obstetri-Ginekologi Vol 46, No 1 (2019): CME - Continuing Medical Education Vol 45, No 12 (2018): Farmakologi Vol 45 No 12 (2018): Interna Vol. 45 No. 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 11 (2018): Neurologi Vol 45, No 10 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 10 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 9 (2018): Infeksi Vol 45 No 9 (2018): Infeksi Vol. 45 No. 8 (2018): Dermatologi Vol 45, No 8 (2018): Alopesia Vol 45, No 7 (2018): Onkologi Vol 45 No 7 (2018): Onkologi Vol. 45 No. 6 (2018): Interna Vol 45, No 6 (2018): Penyakit Dalam Vol 45, No 5 (2018): Nutrisi Vol. 45 No. 5 (2018): Nutrisi Vol 45, No 4 (2018): Cidera Kepala Vol 45, No 4 (2018): Cedera Kepala Vol 45 No 4 (2018): Neurologi Vol. 45 No. 3 (2018): Muskuloskeletal Vol 45, No 3 (2018): Muskuloskeletal Vol. 45 No. 2 (2018): Urologi Vol 45, No 2 (2018): Urologi Vol 45, No 1 (2018): Suplemen Vol 45, No 1 (2018): Dermatologi Vol 45 No 1 (2018): Dermatologi Vol 44, No 12 (2017): Neurologi Vol 44, No 11 (2017): Kardiovaskuler Vol 44, No 10 (2017): Pediatrik Vol 44, No 9 (2017): Kardiologi Vol 44, No 8 (2017): Obstetri-Ginekologi Vol 44, No 7 (2017): THT Vol 44, No 6 (2017): Dermatologi Vol 44, No 5 (2017): Gastrointestinal Vol 44, No 4 (2017): Optalmologi Vol 44, No 3 (2017): Infeksi Vol 44, No 2 (2017): Neurologi Vol 44, No 1 (2017): Nutrisi Vol 43, No 12 (2016): Kardiovaskular Vol 43, No 11 (2016): Kesehatan Ibu - Anak Vol 43, No 10 (2016): Anti-aging Vol 43, No 9 (2016): Kardiovaskuler Vol 43, No 8 (2016): Infeksi Vol 43, No 7 (2016): Kulit Vol 43, No 6 (2016): Metabolik Vol 43, No 5 (2016): Infeksi Vol 43, No 4 (2016): Adiksi Vol 43, No 3 (2016): Kardiologi Vol 43, No 2 (2016): Diabetes Mellitus Vol 43, No 1 (2016): Neurologi Vol 42, No 12 (2015): Dermatologi Vol 42, No 11 (2015): Kanker Vol 42, No 10 (2015): Neurologi Vol 42, No 9 (2015): Pediatri Vol 42, No 8 (2015): Nutrisi Vol 42, No 7 (2015): Stem Cell Vol 42, No 6 (2015): Malaria Vol 42, No 5 (2015): Kardiologi Vol 42, No 4 (2015): Alergi Vol 42, No 3 (2015): Nyeri Vol 42, No 2 (2015): Bedah Vol 42, No 1 (2015): Neurologi Vol 41, No 12 (2014): Endokrin Vol 41, No 11 (2014): Infeksi Vol 41, No 10 (2014): Hematologi Vol 41, No 9 (2014): Diabetes Mellitus Vol 41, No 8 (2014): Pediatrik Vol 41, No 7 (2014): Kardiologi Vol 41, No 6 (2014): Bedah Vol 41, No 5 (2014): Muskuloskeletal Vol 41, No 4 (2014): Dermatologi Vol 41, No 3 (2014): Farmakologi Vol 41, No 2 (2014): Neurologi Vol 41, No 1 (2014): Neurologi More Issue