cover
Contact Name
Rifky Serva Tuju
Contact Email
servatuyu00@gmail.com
Phone
+6282216985878
Journal Mail Official
sttetmpb@gmail.com
Editorial Address
STT Erikson-Tritt Jalan Trikora Sowi 3 Manokwari, Papua Barat
Location
Kab. manokwari,
Papua barat
INDONESIA
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial, dan Budaya
ISSN : -     EISSN : 27453766     DOI : https://doi.org/10.53827/lz
LOGON ZOES merupakan wadah publikasi hasil penelitian di bidang teologi, sosial dan budaya bagi pengembangan kekristenan di lingkungan Sekolah Tinggi Teologi Erikson Trit, Manokwari dan institusi lain yang ingin berkontribusi dengan bidang kajian yang serupa. LOGON ZOES diterbitkan dan dikelola oleh Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tirtt Manokwari dengan Focus dan Scope pada bidang: Teologi Biblikal, Teologi Sistematika, Teologi Praktikal, Teologi dan Sosial, Budaya dan Kearifan Lokal.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023" : 5 Documents clear
Dekonstruksi Budaya pada Gelar Indo’ dalam Masyarakat Adat di Mamasa Debora Tiku Ampulembang; Tony Tampake
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.121

Abstract

Mamasa is the district of the province of West Sulawesi which has a custom which it was accepted and implemented by the local society. To oversee the implementation of adat by the local society, fifteen traditional leaders were elected in each region. Some of them were given the title Indo' (Mother) even though they were male. The title Indo' given to traditional leaders is intended so that they become leaders who protect, guard, and ensure peace, tranquility, and the welfare of their society. The pattern of leadership of the traditional leader with the title Indo' describes Mamasa's egalitarian and humanist culture, but this culture later changed into the patriarchal, superior and exclusive culture by  Zendeling Christelijke Gereformeerde Kerk (ZCGK) came to Mamasa as a religious movement. This paper aims to examine the social and cultural impacts arising from deconstruction which makes the values of local wisdom in Mamasa experience changed it. Previously, Mamasa's local wisdom contained egalitarian and humanist values, then with the entry of zending into Mamasa, it shifted into the patriarchal, individualist, and authoritarian culture. In order to be able to conduct research, the method of data collection was carried out by the authors through interviews and document review. One of the results found in the research is that there is a gender bias towards Christian women who are not entrusted with holding ecclesiastical positions in the Toraja Mamasa Church (GTM) either as Pastors, Elders, or as Deacons so that they cannot  participated in ecclesiastical trials at GTM.Mamasa merupakan sebuah kabupaten di propinsi Sulawesi Barat yang memiliki adat di mana adat itu diterima dan dilaksanakan oleh masyarakat setempat. Untuk mengawasi pelaksanaan adat oleh masyarakat adat, dipilihlah 15 orang ketua adat di masing- masing daerah. Sebagian dari mereka diberi gelar Indo’ (Ibu) kendatipun mereka berjenis kelamin laki- laki. Gelar Indo’ yang diberikan kepada ketua adat dimaksudkan agar mereka menjadi pemimpin yang mengayomi, melindungi dan berusaha menjamin kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan masyarakatnya. Pola kepemimpinan ketua adat yang bergelar Indo’ ini mendeskripsikan budaya Mamasa yang egaliter dan  humanis, namun budaya itu kemudian berubah menjadi budaya patriakhal, superrior, dan eksklusif oleh kedatangan Zendeling Christelijke Gereformeerde Kerk (ZCGK) ke Mamasa sebagai gerakan keagamaan. Tulisan ini bertujuan untuk meneliti dampak sosial dan budaya yang ditimbulkan dari dekonstruksi yang membuat nilai- nilai kearifan budaya di Mamasa mengalami perubahan. Sebelumnya, kearifan lokal Mamasa mengandung nilai yang egaliter dan humanis kemudian dengan masuknya zending ke Mamasa maka berubah menjadi budaya yang patriarki, individualis, dan otoriter. Untuk dapat melakukan penelitian, maka metode pengumpulan data dilakukan oleh penulis melalui wawancara dan telaah dokumen. Salah satu hasil yang ditemukan dalam penelitian adalah adanya bias gender kepada perempuan Kristen yang tidak diberi kepercayaan untuk memegang jabatan gerejawi di Gereja Toraja Mamasa (GTM) baik itu sebagai Pendeta, Penatua, maupun sebagai Diaken sehingga tidak dapat diutus menjadi peserta dalam persidangan gerejawi di GTM.
Teologi Hosea sebagai Tipologi Konsep Keselamatan dalam Perjanjian Baru Kornelius Sutriono; Donna Crosnoy Sinaga; Yehuda Mandacan
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.128

Abstract

Soteriology is one of the most significant doctrines in Christianity. The theological concept of salvation stands as a central focus within Christian theology. Interestingly, the notion of salvation taught in modern Christian theology relies upon the systematic process of interpreting Biblical teachings. Of course, this dependence rests upon the interpreter's perspective regarding a particular scripture or topic within the Bible. Within Christian literature, there is still a scarcity of biblically-centered investigations into the concept of salvation. This study delves into the theological meaning of salvation based on Old Testament literature, specifically the book of Hosea. Employing a qualitative approach that examines religious documents, this research employs textual and intertextual analysis to construct the concept of salvation within the theology of the book of Hosea. Through a thorough investigation of prophetic actions and orations, it is evident that the theology of the book of Hosea serves as a typology of salvation within the New Testament and is even regarded as a doctrine of Christian salvation in the present day. The emphasis on the theology of reconciliation, redemption, and God's grace emerges as primary values within the theology of the book of Hosea. Despite humanity's inclination towards wrongdoing, God steadfastly commits Himself to bestowing grace, forgiveness, and reconciliation upon them. This is the essence of the Christian concept of salvation.Soteriologi merupakan salah satu doktrin terpeting dalam kekristenan. Konsep teologis tentang keselamatan ini merupakan salah satu pusat dalam teologi Kristen. Menariknya, konsep keselamatan yang diajarkan dalam teologi Kristen modern bergantung pada proses sistematisasi ajaran Alkitab. Tentu saja hal ini bergantung pada sudut pandang penafsir tentang suatu teks atau topik kitab. Dalam literatur Kristen, masih jarang ditemukan adanya penyelidikan secara biblika tentang konsep keselamatan. Penelitian ini mengksplorasi makna teologis tentang keselamatan berdasarkan literatur Perjanjian Lama, yaitu kitab Hosea. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif yang meneliti dokumen keagamaan. Analisis tekstual dan intertekstual digunakan untuk mengkonstruksi konsep keselamatan dalam teolog kitab Hosea.  Melalui penyelidikan mendalam terhadap tindakan dan orasi profetik, ditemukan fakta bahwa teologi kitab Hosea menjadi tipologi keselamatan dalam Perjanjian Baru, bahkan diyakini sebagai doktrin keselamatan Kristen pada masa kini. Penekanan pada teologi rekonsiliasi, penebusan dan anugerah Allah menjadi nilai utama dalam teologi kitab Hosea. Meskipun manusia menetapkan diri pada kejahatan, Allah tetap menetapkan diriNya memberikan anugerah, pengampunan dan pendamaian bagi mereka. Inilah hakikat konsep keselamatan Kristen.
Atonement - God’s Plan for Reconciliation Stephanie Lamour
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.127

Abstract

The theme of atonement is developed through Scripture from its introductory framework in the sacrificial system to its completion in Christ and culmination in his kingdom. This paper approaches the theme of atonement through the framework of biblical theology to trace the development of this theme through four key passages - Leviticus 16:15-19, Psalm 40:6-8, Hebrews 10:1-14, and Revelation 5:9-14. A foundation for understanding atonement is set forth in the sacrificial system which presents atonement as a particular, sacrificial, priestly activity to bring about reconciliation for sin. Psalm 40 develops this idea by explicitly stating the need for obedience and setting forth a type of a kingly, obedient one. Hebrews 10 shows how both Leviticus 16 and Psalm 40 are pointing to Christ - the priest-king who is the perfect, effective, once-for-all sacrifice. Lastly, the allusion to the subjection of all to the reign of Christ (Heb. 10:12-13), points forward to Revelation 5 where reconciled people have access to the presence of the reigning Christ.Tema penebusan dikembangkan di seluruh Kitab Suci dari kerangka awalnya dalam sistem korban hingga penggenapannya di dalam Kristus dan puncaknya di kerajaan-Nya. Artikel ini mendekati tema penebusan melalui kerangka teologi biblika untuk menelusuri perkembangan tema ini dalam empat teks kunci - Imamat 16:15-19, Mazmur 40:6-8, Ibrani 10:1-14, dan Wahyu 5:9-14. Pondasi untuk memahami pendamaian diletakkan dalam sistem korban yang menampilkan pendamaian sebagai kegiatan khusus yang berkorban dari imamat untuk membawa rekonsiliasi bagi dosa. Mazmur 40 mengembangkan gagasan ini secara eksplisit dengan menyatakan perlunya ketaatan dan menggambarkan tipe raja yang taat. Ibrani 10 menunjukkan bagaimana Imamat 16 dan Mazmur 40 menunjuk kepada Kristus-imam-raja yang adalah korban yang sempurna, efektif, dan sekali untuk selamanya. Terakhir, bicara tentang penundukan semua orang pada pemerintahan Kristus (Ibr. 10:12-13), mengarah ke Wahyu 5 di mana orang-orang yang telah didamaikan memiliki akses ke hadirat Kristus yang memerintah.
Relasi Logos Allah Dengan Manusia: Refleksi Mazmur 8:5-6 Samuel Lengkong
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.123

Abstract

Suatu hal yang sebenarnya tidak bisa dipisahkan dan harus tetap ada, yakni relasi antara manusia dengan Allah. Namun, fenomena-fenomena yang terjadi, seperti bencana, wabah, kejahatan, dan sebagainya, mengakibatkan bagi sebagian orang atau kelompok tertentu yang tidak mengalami relasi dengan Allah, bahkan seolah-olah menunjukkan Allah dan manusia terpisahkan (trancenden) dan non-relasi. Penelitian ini sangatlah relevan dan sangat urgensi untuk mendapatkan pemahaman yang aktual dan bermanfaat di dalam kehidupan iman Kristen di tengah menghadapi tantangan dan penderitaan. Metode penelitian yang digunakan oleh peneliti adalah penelitian kepustakaan (library research). Hasil penelitian ini menemukan bahwa Logos Allah adalah penyataan “Diri Allah” supaya dapat berelasi dengan manusia. Ketertarikan dan keterfokusan Allah terhadap manusia dikarenakan adanya suatu prinsip kesesuaian substansi, yakni Logos Allah di dalam diri manusia. Relasi Logos Allah dengan manusia adalah relasi yang mengikatkan diri manusia dengan Allah, agar manusia mendapatkan kembali kemuliaan dan kuasa Allah yang semula telah diberikan kepada manusia untuk mengekspresikan Allah bagi dunia.
Spiritualitas Wanggameti : Bingkai Eko-Teologia Gereja Kristen Sumba dalam Penolakan Pertambangan Emas di Sumba Fransina Ina Ranggalodu; Tony Tampake
LOGON ZOES: Jurnal Teologi, Sosial dan Budaya Vol 6, No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Erikson-Tritt Manokwari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53827/lz.v6i2.122

Abstract

Gold mining exploration on Sumba Island occurred in 2007-2015. Worries about negative environmental impacts and uncontrolled social change have led to the rejection of the local community who was assisted by the Sumba Christian Church (GKS). In this context, GKS developed an environmental advocacy attitude for local communities by prioritizing eco-theological principles based on Sumba's local wisdom. This struggle succeeded in pushing the Government of all levels to permanently revoke the gold mining exploration business license on the island of Sumba. It was this success that prompted the conduct of research with the aim of reconstructing the GKS eco-theological principles based on local wisdom in the context of Sumba. The research method used is a qualitative ethnographic method to investigate society and culture by examining human, interpersonal, social and cultural in all its complexity. Based on the research conducted, it was concluded that GKS has developed an eco-theology based on local wisdom by articulating the spirituality of Wanggameti. Wanggameti's spirituality refers to the woven socio-religious meaning of the people of Sumba (Local Wisdom). Wanggameti's spirituality forms the frame of GKS's theological arguments in rejecting gold mining exploration on the island of Sumba. Wanggameti's spirituality is the frame of GKS's eco-theology which is expressed in the ideas, attitudes and actions of GKS in rejecting gold mining exploration in the 2010-2015 period.Ekplorasi pertambangan emas di Pulau Sumba terjadi pada tahun 2007-2015. Kekuatiran akan dampak negatif lingkungan dan perubahan sosial yang tidak terkendali telah mendorong terjadinya penolakan masyarakat lokal yang didampingi oleh Gereja Kristen Sumba (GKS). Dalam konteks ini, GKS mengembangkan sikap advokasi lingkungan bagi masyarakat lokal dengan mengedepankan prinsip-prinsip ekoteologi yang berbasiskan kebijaksanaan lokal Sumba. Perjuangan tersebut berhasil mendorong Pemerintahan semua level untuk mencabut ijin usaha eksplorasi pertambangan emas secara permanen di pulau Sumba. Keberhasilan inilah yang mendorong dilakukannya penelitian dengan tujuan untuk merekonstruksi prinsip-prinsip eko-teologi GKS yang berbasiskan kebijaksanaan lokal dalam konteks Sumba.  Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif etnografi untuk menyelidiki masyarakat dan budaya dengan pengujian manusia, interpersonal, sosial dan budaya dalam segala kerumitannya. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, disimpulkan bahwa GKS telah mengembangkan eko-teologi berbasiskan kebijaksanaan lokal dengan mengartikulasi spiritualitas wanggameti. Spiritualitas Wanggameti menunjuk pada tenunan makna sosio-religius masyarakat Sumba  (Local Wisdom). Spiritualitas Wanggameti menjadi bingkai argumentasi teologis GKS dalam penolakan eksplorasi pertambangan emas di pulau Sumba. Spiritualitas Wanggameti menjadi bingkai eko-teologi GKS yang terkepresikan dalam gagasan, sikap dan aksi GKS dalam melakukan penolakan eksplorasi pertambangan emas pada kurun waktu 2010-2015.

Page 1 of 1 | Total Record : 5