cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
rumahjurnal@iainbukittinggi.ac.id
Phone
+6281363025006
Journal Mail Official
modalityjournal@iainbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi Gedung Pusat Pangkalan Data - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kota bukittinggi,
Sumatera barat
INDONESIA
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature
ISSN : 27981258     EISSN : 27980723     DOI : http://dx.doi.org/10.30983/mj
Core Subject : Education,
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature (e-ISSN : 2798-0723 | p-ISSN : 2798-1258) is a journal which is published by Rumah Jurnal Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi, West Sumatera Indonesia. The journal is published twice a year in June and December. Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature is accommodates scientific articles in the form of article publication, book reviews, original research report, reviews and scientific commentaries related to linguistics and literature.This journal invites researcher, academics and practitioners to contribute the results of their studies and research in the field of linguistics and Literature. In particular, papers with the following topics are invited: 1. Linguistics : phonology, morphology, syntax, discourse analysis, psycholinguistics, sociolinguistics, and critical discourse analysis; 2. Literature : local literature studies, Indonesian literature, foreign literature studies; 3. Children Literature : literature studies for character education, and other literary studies; 4. Applied Linguistics: language education, developments in lexicography, translation and stylistics, educational linguistics, clinical linguistics, and other various interdisciplinary branches of applied linguistic.
Articles 26 Documents
Mini Conference Class Based-Learning Toward University Students’ Critical Thinking Development in Efl Classroom Giorgi Janiashvili; Gusti Milla Quaidy
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.998 KB) | DOI: 10.30983/mj.v1i1.5185

Abstract

AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemanfaatan pembelajaran berbasis kelas konferensi untuk mendorong pemikiran tingkat tinggi mahasiswa, terutama di kelas Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing (EFL). Penelitian ini dilakukan karena sebagian besar mahasiswa tidak suka banyak berpikir ketika dosen memerintahkan suatu diskusi di dalam kelas. Sebagian besar mahasiswa memilih untuk diam selama diskusi berlangsung, sedangkan mahasiswa harus lebih kritis dalam memikirkan setiap masalah atau diskusi yang muncul. Untuk mengatasi kendala tersebut, peneliti mengusulkan suatu metode yang dapat meningkatkan berpikir tingkat tinggi mahasiswa melalui pembelajaran berbasis conference class.Kata Kunci: Konferensi Berbasis Kelas, Mahasiswa Universitas, Berpikir Kritis.Abstract The objective of this study is to investigate the utilizing of conference class based learning to encourage university students’ high order thinking, especially in English as Foreign Language (EFL) classroom. The study is conducted because most of students do not like to think a lot when the lecturers order a discussing in the classroom. Most of the students decide to keep silent while the discussion is being held, whereas university students must be more critical in thinking any problems or discussion appeared. To solve that constraint, the researchers propose a method which can increase university students’ high order thinking through conference class based learning.Keywords: Conference Class Based, University Students, Critical Thinking.
The Students’ Self-Assessment on Their English Language Learning Lely Lismay; Putri Laila Ramadhani
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (112.128 KB) | DOI: 10.30983/mj.v1i2.4891

Abstract

Abstrak  Penelitian ditujukan untuk menggali sejauhmana siswa mampu melakukan asesmen diri dalam mempelajari Bahasa Inggris. Terdapat tiga aspek yang digali melalui asesmen diri ini, yaitu penetuan tujuan dalam mempelajari Bahasa Inggris, menentukan kompetensi yang telah dicapai, dan menentukan kompetensi yang harus dicapai. Penelitian telah dilaksanakan di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek, provinsi Sumatera Barat, Indonesia.  Penelitian ini dirancang sebagai penelitian kuantitatif. Informan dalam penelitian ini adalah 33 orang pelajar yang berasal dari kelas V jurusan Agama  di Madrasah Sumatera Thawalib Parabek.  Angket digunakan sebagai instrument untuk mengetahui sejauhmana para siswa mampu melakukan asesmen diri. Hasil penelitian secara umum menunjukkan bahwa 95% siswa menetapkan tujuan belajar bahasa Inggris untuk hal-hal akademis, 55% siswa belajar bahasa Inggris dengan tujuan lulus ujian masuk perguruan tinggi, dan 35% siswa belajar bahasa Inggris untuk mencari pekerjaan. Dalam hal mengukur ketercapaian kemampuan bahasa Inggris, 85 % siswa dapat menulis kalimat sederhana dengan benar, 55% siswa dapat berbicara bahasa Inggris dengan lancar tanpa malu dan takut melakukan kesalahan, 55% siswa dapat berbicara bahasa Inggris dengan tepat dan benar. kesalahan mereka dalam berbicara, 55% siswa dapat memahami tugas mendengarkan, dan 75% siswa dapat dengan mudah memahami informasi detail dalam bacaan. Dalam menentukan jenis kompetensi yang harus dicapai, 95% siswa menempatkan berbicara lancar sebagai kompetensi pertama yang harus dicapai. Kemudian, 95% siswa memilih kompetensi pengucapan yang harus ditingkatkan, 85% siswa cenderung menguasai kosa kata, 75% menjaga menulis paragraf, dan 55% siswa memperhatikan keterampilan membaca.  Disimpulkan bahwa para siswa mampu melakukan asesmen diri dalam mempelajari Bahasa Inggris. Asesmen ini tidak hanya untuk membimbing siswa untuk memiliki kesadaran dalam belajar, tetapi diharapkan berimplikasi terhadap peningkatakan kemampuan Bahasa Inggris mereka.    Kata Kunci: Penilaian Diri Siswa, Pengaturan Diri  Siswa, Pembelajaran Bahasa InggrisAbstractThe research is aimed at exploring the extent to which students are able to conduct self-assessment in learning English. There are three aspects that are explored through this self-assessment, namely determining goals in learning English, determining competencies that have been achieved, and determining competencies that must be achieved. The research has been carried out at Madrasah Sumatra Thawalib Parabek, West Sumatera, Indonesia. This research was designed as a quantitative research. The informants in this study were 33 students from class V majoring in Religion at Madrasah Sumatra Thawalib Parabek. Questionnaires were used as an instrument to determine the extent to which students are able to carry out self-assessments. The results of the research generally show that 95% of students set the goal of learning English for academic matters, 55% of students studied English with the aim of passing the college entrance exam, and 35% of students studied English to find work. In terms of measuring the achievement of English language skills, 85% of students could write simple sentences correctly, 55% of students can speak English fluently without being ashamed and afraid of making mistakes, 55% of students could speak English correctly and correctly their mistakes in speaking, 55% of students could understand the listening task, and 75% of students could easily understand detailed information in the reading. In determining the type of competency that must be achieved, 95% of students placed speaking fluently as the first competency that must be achieved. Then, 95% of students chose pronunciation competence that must be improved, 85% of students tend to master vocabulary, 75% kept writing paragraphs, and 55% of students paid attention to reading skills. It is concluded that the students were able to conduct self-assessment in learning English. This assessment is not only to guide students to have awareness in learning, but it is expected to have implications for improving their competency in English language.Keywords: Students’ Self-Assessment, Students’ Self-Regulatory, English Language Learning.
Students’ Perception on Reward and Punishment Given by English Teachers Sesmita Sesmita
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.308 KB) | DOI: 10.30983/mj.v1i1.4762

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persepsi siswa tentang pemberian hadiah dan hukuman yang diberikan oleh guru bahasa inggris di MTs.TI. Candung. Penelitian ini terjadi karena peneliti menemukan beberapa masalah. Beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan guru, beberapa siswa tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru dan beberapa siswa suka tidur dan berbicara dengan yang lain selama proses pembelajaran. Desain dari penelitian ini merupakan descriptive kuantitatif. Jumlah populasi sebanyak 134 siswa dan sampel 55 siswa yang dipilih menggunakan purposive sampling technique. Instrument yang digunakan oleh peneliti yaitu angket. Data dikumpulkan dari angket untuk mengetahui persepsi siswa tentang pemberian hadiah dan hukuman yang diberikan oleh guru bahasa inggris di MTs.TI.Candung. teknik analisis data dalam penelitian ini adalah (1) pengumpulan angket siswa, (2) menghitung persentase data, (3) mencari rata-rata, (4) mengkategorikan persepsi berdasarkan table penafsiran. Ada lima pilihan dalam menjawab angket, yaitu kategori sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, sangat tidak setuju. Hasil menunjukan bahwa persentase skor persepsi siswa tentang pemberian hadiah sebesar 86,51%. Artinya, siswa memiliki persepsi dalam kategori sangat baik. Selain itu, persentase skor persepsi siswa tentang pemberian hukuman sebesar 68,6%, artinya siswa memiliki persepsi dalam kategori baik untuk aspek ini. Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi siswa terhadap pemberian hadiah yang diberikan oleh guru bahasa Inggris adalah sangat baik dan persepsi terhadap pemberian hukuman yang diberikan oleh guru bahasa Inggris dikategorikan baik.Kata kunci: persepsi siswa, hadiah dan hukumanAbstractThis research is aimed to find out the students’ perception on reward and punishment given by English teachers at MTs.TI.Candung. This research was conducted because the researcher found several problems. Some students have lack attention of teacher explanation, some of students did not do the tasks given by teacher, some of students tended to converse during learning process.  Descriptive quantitative was the method of the research. The population was 134 students and the sample was 55 students and purposive sampling was used as the research sample. The instrument of this research is questionnaire. The data was collected from questionnaire to find out the students’ perception on reward and punishment given by English teachers at MTs.TI.Candung. The technique of data analysis in this research is (1) collecting the students’ questionnaire, (2) calculating the percentage of the data, (3) the finding mean of the data, (4) categorizing the perception based on table interpretation. There are five options in answering the questionnaire. Those are strongly agree, agree, moderate, disagree, strongly disagree. The result showed that the percentage of score students’ perception on reward given by English teachers aspect is 86,51%. It means that students had perception in very good category. Besides, the percentage score of students’ perception on punishment given by English teachers is 68,6%. The findings of this study indicate that the students' perception of the gift given by the English teacher is very good and the perception of the punishment given by the English teacher is categorized as good.Keywords: students’ perception, reward and punishment
The Ability of SMP N 2 Lubuk Pakam Students in using _s Inflectional Ending Novera Wati; Bahagia Tarigan; Yulianus Harefa
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.223 KB) | DOI: 10.30983/mj.v1i2.4593

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul “The Ability of SMPN 2 Lubuk Pakam Students in Using -s Inflectional Ending”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menggunakan akhiran infleksional –s dan kesulitan yang dihadapi oleh siswa kelas dua SMPN 2 Lubuk Pakam. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian gabungan. Data diambil dari tes dan wawancara. Tes digunakan untuk mengukur kemampuan siswa dan wawancara digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan siswa. Sumber data dalam penelitian ini adalah siswa kelas dua SMPN 2 Lubuk Pakam tahun ajaran 209/2020. Peneliti mengambil 0% dari populasi (29 siswa). Berdasarkan hasil analisis data, persentase siswa dengan jawaban yang benar adalah 60,06%. Artinya kempuan siswa kelas dua SMPN 2 Lubuk Pakam tergolong dalam kategori sedang. Kemampuan siswa dalam menggunakan –s Kata Benda Jamak memiliki persentase tertinggi (63%). Kemampuan siswa dalam –s Posesif memiliki persentase 56%. –s Orang Ketiga Tunggal memiliki persentase terendah (54%). Disimpulkan bahwa siswa kelas dua SMPN 2 Lubuk Pakam telah memahami akhiran –s dalam Kata Benda Jamak tetapi belum memahami akhiran –s dalam kata Posesif dan Orang Ketiga Tunggal. Penyebabnya dalah kurangnya pengetahuan tentang akhiran inflectional –s dan kosakata.Kata Kunci: Akhiran Infleksional –s, Kesulitan siswaAbstractThe objectives of this study are to know the students’ ability in using –s inflectional endings and the difficulties faced by the students at the second year of SMPN 2 Lubuk Pakam. The method used in this research was mixed method. The data were taken from test and interview. Tes is used to measure students’ abilities and interview to identify students’ difficulties. The sources of data were the students at the second year of SMPN 2 Lubuk Pakam in the academic year 2019/2020. The researcher took 10% of the population (29 students). Based on the result of the data analysis, the percentage of the students’ correct answers was 60.06% and was classified as fair category. The student’s ability in –s plural nouns had the highest percentage (63%). The student’s ability in –s possessive had the percentage of 56%. The–s third person singular had the lowest percentage (54%). It can be concluded that the second year students of SMPN 2 Lubuk Pakam had understood –s plural nouns but did not comprehend –s possessive and –s third person singular yet. The causes were lacking knowledge of –s inflectional endings and vocabulary.Keywords: -s Inflectional Endings, Students’ Difficulties
Students’ Attribution in Online Learning at English Department Students of Stkip Abdi Pendidikan Payakumbuh Desfi Yenti; Ifna Nifriza
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 2 (2021): December 2021
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.641 KB) | DOI: 10.30983/mj.v1i2.5125

Abstract

Abstrak Pembelajaran daring dapat dianggap sebagai salah satu jalan alternative system pendidikan dimana proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan ICT dengan bantuan jaringan internet. Namun dalam pelaksanaannya tidak mudah bagi sebagian mahasiswa atau sulit dan dapat diatasi bagi sebagian yang lain atau mudah. Atribusi adalah bagaimana seseorang mengakui penyebab dari kesuksesan atau kegagalannya dalam kehidupan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi atribusi mahasiswa bahasa Inggris dalam pembelajaran daring menggunakan metode quantitatif. Angket digunakan sebagai instrument pengumpul data yang terdiri dari 32 butir yang disebar kepada mahasiwa responden. Kemudian data tersebut dianalisis secara quantitatif melalui penghitungan statistic dengan menggunakan rumus tertentu. Temuan menunjukkan mahasiswa menganggap kesuksesan mereka ataupun kegagalan meraka dalam pembelajaran daring umumnya disebabkan oleh usaha mereka sendiri sebagai faktor internal. Kesulitan atas tugas yang diberikan menjadi faktor eksternal terkecil yang menjadi penyebab kesuksesan dan kegagagalan pembelajaran daring. Hal ini berimplikasi bahwa kesuksesan dan kegagalan disebabkan oleh factor nternal yakni kurangnya usaha. Dengan demikian perlu solusi dengan peningkatan mutu pmebelajaran bahasa Inggris terutama bagaimana membangkitkan motivasi dan kesadaran belajar mandiri mahasiswa.Kata Kunci: Attribusi, pembelajaran daring, factor internal, ekternal, kesuksesan, kegagalanAbstractOnline learning can be seen as an alternative to the education system in which teaching and learning process is conducted by utilizing Information and Communication Technology (ICT) through integrating an internet connection. However, there are some students who carry out online learning   successfully while some are difficult to carry out online learning or failure. Attribution is    how people explain the causes of their own successes and failures. This study aims to identify students’ attribution in online learning at English university students. This research used a quantitative design. The questionnaire was used as the instrument of research which consists of 32 items distributed to respondents. Then, the data were analyzed quantitatively through statistical account using certain formula. The results showed that students perceive their success and failure in online learning was mostly caused by their efforts as internal factor. Task difficulty as external factor was the least causes of students ‘success and failure in online learning. This finding implies that students perceive their success and failure in online learning were caused by internal factor that is lacking of effort. Therefore, the solutions are needed to improve the quality of English online learning process especially to maintain students’ motivation and effort to be autonomous.Keywords: Attribution, Online Learning, Learning English, success, failure  
The Reflection of Javanese Cultural Characteristics as Found in English Apology Strategies Mezia Kemala Sari
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 1, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (77.824 KB) | DOI: 10.30983/mj.v1i1.4662

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat refleksi budaya yang terkandung dalam tindak tutur permintaan maaf yang dituturkan oleh penutur asli bahasa Jawa dalam bahasa Inggris. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan 30 peserta penutur asli bahasa Jawa yang menguasai bahasa Inggris. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik Tes Melengkapi Wacana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat refleksi budaya Jawa yang terkandung dalam tuturan permintaan maaf orang Jawa dalam bahasa Inggris. Hal ini dibuktikan dengan adanya beberapa ciri bahasa Jawa yang muncul dalam pemilihan strategi permintaan maaf bahasa Inggris. Refleksi budaya Jawa terlihat dalam tuturan, yaitu dari segi kompleksitas strategi, penggunaan sapaan, intensifikasi yang memodifikasi IFID dan akuntabilitas dalam bentuk ungkapan menyalahkan diri sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa penutur bahasa Jawa sebagai masyarakat kolektif dalam tuturannya berusaha untuk menjaga kaidah-kaidah sosial, yaitu tidak menimbulkan konflik dan saling menghormati. Keberadaan tuturan berupa tindakan representatif yang bercirikan budaya Jawa masih terlihat jelas dalam tuturan bahasa Inggrisnya. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Jawa cenderung tercermin secara signifikan dalam tuturan penuturnya walaupun di dalam bahasa Inggris.Kata Kunci: Latar belakang budaya, strategi permintaan maaf. Refleksi, Karakteristik penutur Jawa, Tindak Tutur AbstractThis study aims to see the cultural reflection contained in the speech act of apologies which is spoken by native Javanese speakers in English. This qualitative descriptive study used 30 Javanese native speaker participants who mastered English. The data were collected using the Discourse Completion Text technique. The results showed that there was a reflection of Javanese culture contained in the Javanese apology speech in English. This is evidenced by the presence of several Javanese language characteristics that appear in the choice of an English apology strategy. The results show that there is indeed a reflection of Javanese culture in speech, namely in terms of the complexity of the strategy, the use of greetings, intensification that modifies IFID and accountability in the form of expressions of self-blame. This shows that Javanese speakers as a collective society in their speech strive to maintain social rules, namely not to cause conflict and respect. The existence of a speech in the form of a representative action characteristic of Javanese culture is still evident in his English speech. This shows that Javanese culture tends to be reflected significantly in the speech of its speakers even though it is in English.Keywords: Cultural background, Apology Strategy, Reflection, characteristic Javanese speaker, Speech act
The MECRI Nadiem Makarim’s “Freedom of Learning”: A Critical Study of John Dewey’s Pragmatic Philosophy Yohannes Telaumbanua; Yalmiadi Yalmiadi; Titin Ritmi
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 2, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/mj.v2i1.5392

Abstract

“Freedom of Learning” is the MECRI Nadiem Makarim’s sensational policy. Its top goals are to provide students with freedom of thinking and urge teachers to shift their education paradigms from traditional to contemporary ones. However, the facts assume that such a policy is trumping up and secretly includes Indonesian education in a list of the secular capitalist-style curriculum. The facts seem biased and even counter-productive if they are left unexplored. Therefore, this study aimed to diagnose the meaning of the policy in John Dewey’s pragmatic philosophy and its effects. This was qualitative research. Observation was a technique for collecting the data. Miles and Huberman’s model was a technique for analyzing the data. Credibility and dependability were used to examine the validity of the data. The results showed that the implied meaning of Makarim’s freedom of learning policy is interpreted as a process of building students’ reality through interaction with their real life. Knowledge is based on students’ experiences and constructed using scientific methods. The teacher’s role is to develop the students’ critical and creative thinking skills through scientific process. The curriculum prepares students for changes, research and verification, and problem-solving activities. More importantly, the policy urges to bring the classes closer to digital technology and e-devices, arouses students’ global awareness and learning skills of the 7C’s X 3C’s + 1I’s. In conclusion, the policy aims to advance the value and quality of education for Indonesian in the current era of digital technology.   “Merdeka Belajar” adalah kebijakan sensasional Mentri Pendidikan R.I. Nadiem Makarim yang tujuan utamanya adalah untuk memberikan mahasiswa kebebasan berpikir serta mendorong para guru untuk bisa merubah paradigma pendidikan mereka dari paradigma tradisional ke kontemporer. Namun, fakta berasumsi bahwa kebijakan semacam itu adalah sebuah rekayasa belaka dan secara diam-diam memasukkan pendidikan Indonesia ke dalam daftar kurikulum ala kapitalis sekuler. Fakta tersebut tampak bias dan bahkan kontra-produktif jika dibiarkan tidak dieksplorasi. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendiagnosis makna kebijakan dalam filsafat pragmatis John Dewey dan efek yang menyertainya. Ini adalah penelitian kualitatif. Observasi merupakan teknik pengumpulan data. Model Miles dan Huberman adalah teknik untuk menganalisis data. Kredibilitas dan ketergantungan digunakan untuk menguji validitas data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna tersirat dari kebijakan kebebasan belajar mentri Makarim dimaknai sebagai proses membangun realitas siswa melalui interaksi dengan kehidupan nyata mereka. Pengetahuan didasarkan pada pengalaman siswa dan dikonstruksi menggunakan metode ilmiah. Peran guru adalah mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa melalui proses ilmiah. Kurikulum berfokus pada mempersiapkan siswa untuk perubahan, penelitian dan verifikasi, dan kegiatan pemecahan masalah. Lebih penting lagi, kebijakan tersebut mendesak untuk membawa mahasiswa lebih dekat dengan penguasaan teknologi digital dan perangkat elektronik, membangkitkan kesadaran global siswa dan keterampilan belajar 7C’s X 3C’s + 1I’s. Kesimpulannya, kebijakan tersebut bertujuan untuk memajukan nilai dan kualitas pendidikan bagi masyarakat Indonesia di era teknologi digital saat ini.
Politeness Strategies Found in Classroom Interaction Post-Graduate Student Silfia Helmi
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 2, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/mj.v2i1.5602

Abstract

The science of speech and context is known as pragmatics. Politeness strategy is one of many linguistic concerns covered in this study. There are four categories of politeness in the research on polite discourse that Brown and Levinson pioneered. Being polite seeks to lessen uncomfortable or unwelcome reactions. Culture and politeness can be related through research. The Minangkabau people believe that the use of the "Kato nan ampek” style, which makes one's politeness in speech apparent, can reveal one's politeness. The purpose of this study is to discuss the many types of politeness used in the Postgraduate UNP class. The politeness strategy of Brown and Levinson is the underlying hypothesis. By using data from video zoom meetings for English learning related to teacher and student interactions in the classroom, this research is qualitative and descriptive. Based on the discussion, it is found that they practice all kinds of politeness strategies in leading class for post-graduate studentsPragmatic adalah ilmu tentang ujaran dan konteks.  Dalam ilmu ini dibahas beberapa isu dalam berbahasa, salah satunya kesantunan tutur. Didalam kajian tutur kesopanan yang diinisiasi oleh Brwon dan Levinson, memberi empat kategori kesantutan tutur. Kesantunan pada dasarnya bertujuan untuk mengurangi respon yang tidak diinginkan atau ketidaknyamanan. Kajian kesopanan dapat berkorelasi dengan budaya. Kesopanan menurut orang Minangkabau dapat dilihat dari aplikasi “kato nan ampek” dari langgam ini, nampak bahwa kesopanan seseorang dalam berujar. Penelitian ini bertujuan untuk  mendiskusikan bentuk tutur kesopanan yang ada pada interaksi kelas pada kelas Pasca Sarjana UNP. Teori yang digunakan adalah strategi kesantunan oleh Brown dan Levinson.. Penilitian ini adalah qualitativ descriptif dengan mengambil data dari video zoom meeting pembelajran bahasa Inggris terkait interaksi guru dan murid didalam kelas. Hasil dari penelititan ini menunjukkan empat kategori kesantunan tutur dilakukan oleh dosen kepada mahasiswa pasca sarjana pada interaksi dalam kelas.
The Effect of Problem Based Learning Model on Students’ Learning Outcomes in the "Belajar dan Pembelajaran" Course Nely Arif; Duti Volya; Nunung Fajaryani; Albert Albert
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 2, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/mj.v2i1.5435

Abstract

Problem Based Learning Model is a learning model that is intensively promoted at the University of Jambi at this time. This study aims to determine whether there is a significant effect on the learning outcomes of English study program students taught with the Problem Based Learning Model in the course of "Belajar dan Pembelajaran (Learning and Instruction). The research design used is Quasi-Experimental Research. This design involves two groups: one as the control group and one as the experimental group. The data obtained from this research is processed by calculating the gain or difference between the pretest and post-test scores. For time efficiency, data were analyzed using the SPSS (Statistical Product and Service Solution) program for Windows version 24. Because of the Asymp value. Sig. (2-tailed) 0.381, which means greater than 0.025, it can be decided that H0 is accepted. So it can be concluded that the PBL learning model used in the experimental class is not effective enough to improve student learning outcomes in “Belajar dan Pembelajaran” courses.Model Problem Based Learning  merupakan model pembelajaran yang sedang gencar-gencarnya digalakkan di Universitas jambi saat ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada pengaruh signifikan antara hasil belajar mahasiswa prodi bahasa Inggris yang diajarkan dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada mata kuliah “Belajar dan Pembelajaran”. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi-Eksperiment Research atau Eksperimen semu. Desain ini melibatkan dua grup. Satu sebagai grup kontrol dan satu sebagai grup eksperimen. Pengolahan Data untuk data yang diperoleh dari pada penelitian ini adalah dengan cara menghitung gain atau selisih antara skor pretest dan postest. Untuk efisiensi waktu, pengolahan data dianalisa dengan menggunakan program SPSS (Statistical Product ang Service Solution) for windows versi 24. Karena nilai Asymp. Sig. (2-tailed) 0,381 bearti lebih besar dari 0,025, maka bisa diputuskan H0 diterima. Jadi dapat disimpulkan bahwa model Pembelajaran PBL yang digunakan dikelas eksperimen tidak cukup efektif untuk meningkatkan hasil belajar mahasiswa pada mata kuliah Belajar dan Pembelajaran.
The Study of Speech Acts in Online Discussion Study of ELT Classroom Sarah Madina
Modality Journal: International Journal of Linguistics and Literature Vol 2, No 1 (2022): June 2022
Publisher : Rumah Jurnal IAIN Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/mj.v2i1.5597

Abstract

This present study deals with the classification of speech acts produced by the students in an online discussion study of English department students at State University of Padang, Indonesia. This study is carried out by using a qualitative approach that describes the use of students’ speech acts in the interaction of student-student, and student-lecture. 24 students engaged in the discussion study and participated as the source of the data. The instrument used by the researcher to collect the data was an observation sheet supported by video recording. The recording of the video was transcribed into a text which to examined by the researcher of their speech acts. The research findings show that there were assertive, directives, expressive, and commissives performed by English department students. The most frequent speech acts performed by the students were assertive with a total of 7 utterances, directive with a total of 9 utterances, and commissive with a total 0f 10 utterances.  Assertive speech acts were performed to demonstrate the material of the discussion by the presenter and used to deliver the idea toward the discussion study by the other participants. Directive speech acts were produced to ask the question, request for answer the question, suggestion, command, and invite in the discussion. Last, expressive speech acts presently as the most dominant speech acts in the discussion study including the word thanking, appreciating, agreeing, praising, and apologizing.Penelitian ini membahas tentang klasifikasi tindak tutur yang dihasilkan oleh mahasiswa dalam studi diskusi online di Jurusan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Padang, Indonesia. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif yang menggambarkan penggunaan tindak tutur mahasiswa dalam interaksi mahasiswa ke mahasiswa, dan mahasiswa ke dosen. Terdapat dua puluh empat mahasiswa yang terlibat dalam diskusi yang berpartisipasi sebagai sumber data. Insturmen yang digunakan peneliti adalah lembar observasi yang didukung oleh rekaman video. Rekaman video lalu ditranskip kedalam teks yang nantinya akan diuji oleh peneliti terkain tindak tutur yang dihasilkan siswa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa terdaoat empat jenis tindak tutur yang dilakukan oleh siswa pendidianbahasa Inggris, yaitu asertif, direktif, ekspresif dan komisif, sedangkan tindak tutur deklaratif tidak digunakan oleh siswa. Tindak tutur yang paling sering dilakukan oleh siswa adalah tindak tutur asertif dengan total 7 ucapan, direktif dengan total 9 ucapan, dan komisif dengan total 10 ucapan. Tindak tutur asertif dilakukan untuk mendemonstrasikan materi diskusi oleh penyaji dan digunakan untuk menyampaikan gagasan terhadap kajian diskusi oleh peserta lain. Tindak tutur direktif diproduksi untuk mengajukan pertanyaan, meminta jawaban atas pertanyaan, saran, perintah dan mengajak dalam diskusi. Terakhir, tindak tutur ekspresif hadir sebagai tindak tutur yang paling dominan dalam kajian diskusi meliputi kata berterima kasih, menghargai, menyetujui, memuji, dan meminta maaf. 

Page 2 of 3 | Total Record : 26