cover
Contact Name
Dietriech G. Bengen
Contact Email
dieter@indo.net.id
Phone
+62251-8627323
Journal Mail Official
dieter@indo.net.id
Editorial Address
Departement of Marine Science and Technology Faculty of fisheries and marine science, IPB University Jln. Lingkar Akademik, Kampus IPB Darmaga, Bogor 16680, Indonesia
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
ISSN : 20879423     EISSN : 2620309X     DOI : https://doi.org/10.29244/jitkt
Core Subject : Science,
Aims and Scope Journal of Tropical Marine Science and Technology (Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis) is a scientific journal in the field of tropical marine science and technology. We have a aims and scope to focus in publishing a good quality scientific articles for dissemination of research results in the field of marine science and technology. Aims As an media of information and dissemination of research results in the field of marine science and technology, especially in the waters of Indonesia and Southeast Asia region, Could actively and continuously disseminate the best research results to various stakeholders, and; This Journal of Tropical Marine Science and Technology can improve the quality of research results and benefit stakeholders. Scope The article, published in this Journal of Tropical Marine Science and Technology covers a wide range of research topics in the field of: marine biology, marine ecology, biological oceanography, chemical oceanography, physical oceanography, dynamical oceanography, coral reef ecology, marine acoustic, marine remote sensing, marine geographical information system, marine microbiology, marine polution, marine aquaculture, post-harvest fisheries technology, integrated coastal management (ICM) marine biotechnology, air-sea interaction, ocean engineering,
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 658 Documents
PENGELOLAAN PERIKANAN LOBSTER DENGAN PENDEKATAN EAFM DI TELUK PALABUHANRATU Katarina Hesty Rombe; Yusli Wardiatno; Luky Adrianto
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (672.746 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i1.21679

Abstract

Penelitian ini dilakukan di Teluk Palabuhanratu-Sukabumi pada bulan Maret 2016. Tujuan penelitian ini adalah mendiagnosis perikanan lobster Palabuhanratu dengan menggunakan faktor-faktor Ecosystem Approach to Fisheries Management (EAFM). Pengambilan sampel air dilakukan di dua titik lokasi tangkap. Pengukuran serta penimbangan morfologi lobster dilakukan di rumah pengumpul. Hasil penelitian ini menunjukkan kualitas air Teluk Palabuhanratu masih dalam batas toleransi lobster untuk hidup. Panulirus homarus (lobster pasir) merupakan lobster yang paling banyak tertangkap dibawah ukuran layak tangkap, mencapai 2528,9 Kg. CPUE lobster yang turun menandakan penurunan stok lobster di lokasi tangkap. Pendapatan nelayan masih sangat jauh dari rata-rata UMR dan partisipasi stakeholder masih kurang dalam pengelolaan perikanan lobster.
ASOSIASI IKAN KARANG PADA ATRAKTOR CUMI-CUMI BERBAHAN PIPA PVC Danu Sudrajat; Mulyono S. Baskoro; Zulkarnain; Roza Yusfiandayani
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (727.532 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i2.21738

Abstract

Atraktor cumi-cumi berbahan pipa PVC terbukti sangat efektif sebagai sarana menempelnya telur cumi-cumi, dan sebagai artificial reef yang menjadi daerah baru bagi tempat ikan, karang lunak dan makroalga sehingga menjadi suatu ekosistem baru di suatu perairan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui jumlah ikan yang berasosiasi dengan atraktor cumi-cumi serta mengetahui tipe atraktor yang memiliki kinerja yang paling baik. Penelitian ini menggunakan 2 buah tipe atraktor yaitu Tipe 1 (T1), dan Tipe 2 (T2). Metode pengumpulan data ikan yang berasosiasi dengan atraktor cumi-cumi menggunakan metode sensus dengan menggunakan televisi sirkuit tertutup (CCTV) bawah air “SENU”. Individu yang diamati adalah yang berada di dalam dan di sekitar atraktor cumi-cumi dalam setiap jamnya, dengan jarak terluar yang diamati dari atraktor cumi-cumi sekitar 50 cm. Rata-rata ikan yang berasosiasi setiap jamnya dengan atraktor cumi-cumi T1 sebanyak 298 individu dan atraktor cumi-cumi T2 sebanyak 281 individu dari 67 spesies dari 25 Famili. Kelompok ikan target (target species) yang memiliki nilai persentase terbesar yang berasosiasi dengan atraktor cumi-cumi, dan kelompok ikan indikator (incdicator species) memiliki nilai persentase yang cukup besar pada atraktor T1 dibandingkan dengan atraktor T2.
DISIPASI ENERGI KINETIK PASANG SURUT BAROTROPIK DAN BAROKLINIK DI LAUT SULAWESI Hadi Hermansyah; Dwiyoga Nugroho; Agus Saleh Atmadipoera; Tri Prartono; Indra Jaya; Fadli Syamsudin
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1988.522 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21793

Abstract

Laut Sulawesi merupakan salah satu jalur penting perlintasan Arus Lintas Indonesia (Arlindo) yang memiliki energi pasang surut internal yang kuat. Arus pasang surut tinggi yang berinteraksi dengan topografi yang kasar akan menciptakan gelombang internal yang kuat. Disipasi dari pasang surut internal akan menyebabkan terjadinya percampuran yang akan memberikan efek penting untuk sistem perubahan iklim dan sumber daya laut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkuantifikasi dinamika dan energetik gelombang internal di Laut Sulawesi dengan pendekatan pemodelan laut tiga dimensi NEMO. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gelombang internal dibangkitkan pada daerah Kepulauan Sulu dan Sangihe-Talaud dengan nilai konversi energi lebih dari 10-3Wm-2 dan berpropagasi masuk ke area basin Laut Sulawesi. Disipasi energi yang terjadi pada pusat pembangkitan berkisar 10,8 GW dan berpopagasi pada area dekat pusat pembangkitan dan area basin Laut Sulawesi. Sekitar 25% (5 GW) didisipasi terjadi dekat pusat pembangkitan, peningkatan disipasi energi baroklinik terjadi pada saat gelombang internal berpopagasi menjauhi daerah pusat pembangkitan dengan nilai yang bervariasi antara 1,4 sampai 4,8 GW. Daerah dengan jarak 36 km sampai 54 km terjadi penurunan disipasi energi baroklinik, signal yang kuat dari Kepulaun Sangihe-Talaud berangsur menurun pada saat propagasi dari 10-2sampai 10-3W/m2.
PERKEMBANGAN MORFOLOGI DAN PERILAKU LARVA IKAN KERAPU HIBRIDA CANTIK PADA PRODUKSI MASSAL Suko Ismi; Jhon H. Hutapea; Daniar Kusumawati; Yasmina Nirmala Asih
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (993.01 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21825

Abstract

Ikan kerapu cantik merupakan hibrida antara betina kerapu macan E. fuscoguttatus dan jantan kerapu batik E. microdon. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati perkembangan dan tingkah laku larva ikan kerapu cantik agar bisa diambil langkah-langkah untuk perbaikan pada pemeliharaan larva sehingga dapat meningkatkan produksi. Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya Laut dan Penyuluhan Perikanan Gondol, Bali Tahun 2016. Larva dipelihara pada tiga buah  bak semen ukuran 10 m3  yang diisi telur dengan kepadatan 50.000 butir/bak, dipelihara hingga juvenil umur 40 hari (D40). Pemeliharaan larva diulang tiga kali dengan waktu yang berbeda, yaitu siklus 1: Januari-Maret; siklus 2 : Mei-Juli dan siklus 3 : September-Nopember. Pengamatan perkembangan dan tingkah laku larva dilakukan pada setiap siklus yang   dibagi menjadi 4 kelompok umur, yakni: 1) D1 sampai D10; 2). D11 sampai D20; 3). D21 sampai D30; dan 4). D31 sampai D40. Hasil menunjukkan larva ikan kerapu cantik mulai buka mulut dan makan pada D3, aktif berenang setelah tumbuh sirip punggung dan dada yaitu D4, sirip terus berkembang menjadi duri memanjang. D7 kondisi larva terlihat padat dilakukan penjarangan. Duri punggung dan dada mulai memendek, berubah menjadi sirip mulai D30, selanjutnya menjadi juvenil dilakukan grading untuk menekan kanibalisme, D40 dengan ukuran panjang total sekitar 3 cm larva ikan kerapu cantik seluruhnya menjadi juvenil. Perkembangan dan tingkah laku larva ikan kerapu cantik berpengaruh terhadap hasil produksinya.
ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN IKAN TUNA SIRIP KUNING Thunnus albacares DI PERAIRAN SUMATERA BARAT BERDASARKAN MODEL GAM Emma Suri Yanti Siregar; Vincentius Paulus Siregar; Syamsul Bahri Agus
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v10i2.21908

Abstract

Pengunaan Generalized Additive Model (GAM) sudah umum digunakan di beberapa wilayah laut Indonesia dengan tingkat akurasi yang lebih baik. Tujuan dari penelitian adalah untuk memprediksi daerah penangkapan ikan tuna sirip kuning melalui pendekatan statistik Generalized Additive Model (GAM). Data yang digunakan dalam penelitian ini berupa data penangkapan ikan tuna sirip kuning yang didapatkan dari logbook Pelabuhan Perikanan Samudera Bungus dan data oseanografi berupa data suhu permukaan laut, klorofil-a, salinitas dan tinggi muka laut. Analisis kelimpahan ikan dinyatakan dalam nilai laju pancing (hook rate) tuna longline. Laju tangkap merupakan indeks kepadatan stok. Didalam pemodelan, dataset dibagi menjadi 2 bagian yaitu training data yang digunakan untuk pembentukan model dan evaluation data digunakan untuk memvalidasi hasil prediksi dari pemodelan. Pada penelitian ini, data tahun 2015 digunakan sebagai training data dan data tahun 2016 digunakan sebagai evaluation data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, sebanyak 14 model prediksi telah dihasilkan melalui pendekatan model GAM berdasarkan parameter oseanografi. Model variabel SPL+Salinitas+TML+Chl-a merupakan yang terbaik dengan nilai AIC terkecil yaitu sebesar 658,1 dan nilai deviance terbesar yaitu 56,9%. Nilai deviance memberikan pengertian model GAM tersebut dapat menjelaskan data hook rate sebesar 56,9%. Berdasarkan model GAM, daerah penangkapan ikan yang potensial pada tahun 2016 terdapat pada perairan Pulau Siberut dan Sipora.
KEPASTIAN TAKSONOMI DAN SEBARAN BELANGKAS Tachypleus tridentatus Leach 1819 DI PERAIRAN BALIKPAPAN TIMUR . Erwyansyah; Yusli Wardiatno; Rahmat Kurnia; Nurlisa Alias Butet
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5143.096 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.21917

Abstract

ABSTRAKBelangkas Tachypleus tridentatus adalah salah satu hewan bentik laut yang menghuni perairan pesisir Balikpapan Timur. Informasi tentang populasi belangkas di lokasi masih terbatas, dan IUCN secara luas mengklasifikasikannya dalam kategori data deficient. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kepastian taksonomi secara genetik dan sebaran T. tridentatus di perairan pesisir Balikpapan Timur. Belangkas diperoleh menggunakan alat tangkap nelayan setempat (dogol - sejenis pukat dan jaring insang) di daerah Teritip dan Manggar, masing-masing pada jarak sekitar 1 dan 2 mil dari garis pantai. Pengambilan belangkas dilakukan mulai Januari hingga Maret 2018 pada fase bulan berbeda. Belangkas yang tertangkap dihitung dan dicatat lokasi penangkapannya serta diamati karakter morfologinya untuk analisis sebaran dan sebagian belangkas diambil darahnya untuk analisis kepastian taksonomi dengan menggunakan penanda gen CO1. Karakter morfologi utama berupa telson yang berbentuk segitiga dan duri kecil yang banyak terdapat pada ophisthosoma, secara genetis menunjukkan bahwa jenis yang dikumpulkan adalah T. tridentatus. Sebagian besar belangkas yang ditemukan di lokasi penelitian adalah belangkas dewasa yang menyebar secara acak, dengan lebar prosoma berkisar antara 22,5 hingga 30,5 cm untuk jantan dan 28,5 hingga 37,5 cm untuk betina. Jumlah belangkas terbanyak ditemukan di daerah Teritip dan berdasarkan fase bulan terjadi pada kuarter ketiga. Penelitian ini menguatkan kepastian adanya jenis T. tridentatus di lokasi penelitian dengan ciri yang mudah dikenali serta konektivitas pergerakan T. tridentatus ke lokasi lain di sekitar perairan Balikpapan Timur. ABSTRACTThe tri-spine horseshoe crab Tachypleus tridentatus is one of marine benthic animals inhabiting East Balikpapan coastal waters. Information on horseshoe crab population in the location is still limited and IUCN broadly classifies the crab in deficient data category. This study was aimed at elucidating the taxonomic certainty genetically and distribution of T. tridentatus in coastal waters of East Balikpapan. The crabs were collected by local gear of fisherman (dogol – a trawl like fishing-gear and gill net) in the Teritip and Manggar areas, each at a distance of 1 and 2 miles from coastline. Collecting takes place between January to March 2018 at different moon phases, location, number and morphological characters of the crabs was recorded and blood was taken from some individuals. Primary morphological characters in the form of triangular shape of telson and abundant tiny spines on ophisthosoma, genetically ascertained that the collected crab is T. tridentatus. Most of these crabs found was adult and randomly dispersed; with the width of prosoma ranged from 22.5 to 30.5 cm for males and 28.5 to 37.5 cm for females. The highest number of crab was found in the Teritip area and in the third quarter moon phase. This study reinforce the certainty of T. tridentatus in the study site with easily recognized morphological characters and the connectivity with other sites around Eastern Balikpapan waters.
KAJIAN STATISTIK UKURAN BESAR BUTIR SEDIMEN DAN KAITANNYA DENGAN VARIABILITAS IKLIM MUSIMAN DAN TAHUNAN DI MUARA GEMBONG, TELUK JAKARTA Taufik R. Syachputra; Ivonne M. Radjawane; Rina Zuraida
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (621.088 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i3.21961

Abstract

Climate variability affects the properties of marine sediments. One of the sediment properties affected by climate is the grain size. This study is aimed to test the relation between sediment grain size and climate variability using sediment core GM01-2010-TJ22 that was acquired off Muara Gembong, which is part of Citarum river mouth. The samples were acquired in 2010 onboard RV. Geomarin I by Marine Geological Institute (MGI). Grain size analysis was conducted by Mastersizer 2000. The mean grain size is presented in time series for the 2001-2010 period. Then, the grain size sediment sample was correlated statistically with the seasonal (monsoon), annual, and interannual (El Niño/La Niña and Dipole Mode) phenomena. Data verification was conducted using secondary data of sea surface temperature from satellite images near the sediment sampling location and rainfall data in Bekasi. The verification result shows an increase in precipitation rate downriver of Citarum River followed by the decrease of sea surface temperature and larger grain size. The results using statistical test show that change of sediment sample`s grain size in Muara Gembong have significant correlation with Multivariate of ENSO (El Niño Southern Oscillation) Index (MEI), Ocean Niño Index (ONI), Dipole Mode Index (DMI) and Australian Monsoon Index (AUSMI). This result shows that sediment grain size can potentially be used to identify climate variability in Jakarta Bay.
SPATIAL DISTRIBUTIONS OF NUTRIENTS AND CHLOROPHYLL-A: A POSSIBLE OCCURRENCE OF PHOSPHORUS AS A EUTROPHICATION DETERMINANT OF THE JAKARTA BAY Hanif Budi Prayitno; . Afdal
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1081.869 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i1.21971

Abstract

Phytoplankton blooms due to nutrient enrichment (eutrophication) have been considered as the primary factor causing several massive fish kills occurred in the Jakarta Bay. This study aims to determine the spatial variation of phytoplankton abundance based on chlorophyll-a concentration and its relationship with nutrient level and composition. A field observation was conducted in July 2015 measuring chlorophyll-a and nutrient concentrations. Chlorophyll-a was measured using fluorometer Trilogy AU-10 while nutrients was using spectrophotometer Shimadzu UV-1800. The result showed that chlorophyll-a concentration was relatively higher in the western compared to the eastern region of the Jakarta Bay. In addition, the western region was high in orthophosphate, nitrate and silicate while the eastern region was high in ammonium and nitrate. Statistical analysis shows that chlorophyll-a had the highest significant correlation against orthophosphate in the western region and chlorophyll-a had no significant correlation with nutrients in the eastern region. It seems that phosphorus was the primary determinant of chlorophyll-a variability with a concentration of orthophosphate of more than 0.028 mg P/L is required to increase chlorophyll-a concentration. In addition, low orthophosphate concentration (0.014 mg P/L) below its minimum requirement for maximum phytoplankton growth was likely the factor causing the absence of chlorophyll-a and nutrients relationship in the eastern region. In summary, phosphorus is seemingly the primary eutrophication determinant in the Jakarta Bay.
PERBANDINGAN TUTUPAN KARANG KERAS SEBELUM, SAAT DAN SESUDAH PEMUTIHAN KARANG DI PERAIRAN KRUENG RAYA, ACEH BESAR Maria Ulfah; Chyndy Yolanda; Sofyatuddin Karina; Syahrul Purnawan; Sri Agustina
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (387.465 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v10i3.21974

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui tutupan karang keras pada waktu sebelum (tahun 2015) saat (2016) dan sesudah pemutihan karang (2017) di Krueng Raya, Aceh Besar. Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2017 di Krueng Raya, Aceh Besar. Pengambilan data dilakukan di 3 stasiun pengamatan menggunakan metode PIT (Point Intercept Transect) yang meliputi: Benteng Inong Balee, Ahmad Rhang Manyang, dan Lhok Mee. Hasil penelitian menunjukkan persentase rata - rata tutupan karang keras tahun 2015 sebesar 52,83% berkategori baik, tahun 2016 sebesar 32,43% berkategori sedang dan tahun pada tahun 2017 persentase tutupan karang keras menjadi 22,90% dan masuk ke dalam kategori rusak. Terdapat sebanyak 16 genus karang (2015), 18 genus karang (2016) dan 8 genus karang 8 (2017). Indeks Mortalitas (IM) tahun 2015 berkisar antara 0,02-0,20 (tingkat kematian karang yang rendah), tahun 2016 berkisar antara 0,13-0,49 (kematian karang rendah), tahun 2017 berkisar antara 0,63-0,79 (tingkat kematian karang tinggi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persentase tutupan karang keras mengalami penurunan hingga mencapai ±50% yang diakibatkan oleh pemutihan karang pada Perairan Krueng Raya Aceh Besar. ABSTRACTThe aim of this study was to determine hard coral cover at the time before (2015), during (2016) and after coral bleaching (2017) in Krueng Raya, Aceh besar. This study was conducted on April 2017 in Krueng Raya, Aceh Besar. Data collection was carried out at 3 observation stations using the PIT (Point Intercept Transect) method which included : Fort Inong Balee, Ahmad Rhang Manyang, and Lhok Mee. The results showed that the average percentage of hard coral cover in 2017 was 22.90% (bad category), it was lower than in 2016 32.43% (medium category) and in 2015 was 52.83% (good category). There were found 16 genera of coral (2015), 18 genera of coral (2016), and 8 genera of coral (2017). Mortality Index (MI) in 2015 ranged between 0.02-0.20 (low coral mortality rate), in 2016 ranged between 0.13-0.49 (low coral mortality rate), in 2017 ranged between 0.63-0.79 (high coral mortality rate). The results of this study indicate that the percentage of hard coral cover has decreased to reach 50% due to coral bleaching in the waters of Krueng Raya Aceh Besar.
KONDISI LINGKUNGAN DAN STRUKTUR KOMUNITAS MANGROVE DI TELUK TOMINI, SULAWESI, INDONESIA Rignolda Djamaluddin; Muhamad A. Kaumbo; Brama Djabar
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.493 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v11i3.21986

Abstract

The mangroves in Tomini Gulf have been exploited for chiefly conversion of mangrove areas into shrimp cultivation and extraction of mangrove wood for various purposes. In this study, interpretation to available map and satellite images and ground check were conducted to describe intertidal environment conditions and general processes of coastal dynamic. At local scale, physiographic factors were used to classify mangrove sub-habitats. A total of 159 sample points were selected to observe structure of vegetation, and the revised two ways classification of Specht was applied to classify structural classification of vegetation. The criterion of mangrove disturbance was developed to classify disturbance level. Interview and field check were conducted to assess the successfulness of implemented rehabilitation programs. Results indicated that there were obvious changes in mangrove vegetation over much the intertidal environments, and these might influence the future development and regeneration of the mangroves. While most rehabilitation programs were unsuccessful, mangrove exploitations still continued. If a sustainable management plan is not developed, the degradation will continue and spread, and the mangrove will lose its ecological functions.

Filter by Year

2009 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 17 No. 3 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 17 No. 2 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 17 No. 1 (2025): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 3 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 2 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 16 No. 1 (2024): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 3 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 2 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 15 No. 1 (2023): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 3 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 2 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 14 No. 1 (2022): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 3 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 2 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 13 No. 1 (2021): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 2 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 3 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 2 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 11 No. 1 (2019): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 3 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 2 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 10 No. 1 (2018): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 2 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 9 No. 1 (2017): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 8 No. 2 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 8 No. 1 (2016): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 2 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 7 No. 1 (2015): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 2 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 6 No. 1 (2014): Electronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 5 No. 2 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 5 No. 1 (2013): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 4 No. 2 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 4 No. 1 (2012): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 3 No. 2 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 3 No. 1 (2011): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 2 No. 2 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 2 No. 1 (2010): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 1 No. 2 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 1 No. 1 (2009): Elektronik Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis More Issue