Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
Miktab adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Pentakosta, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina. Focus dan Scope penelitian Miktab adalah: Teologi Biblikal; Teologi Sistematika; Isu-isu Teologi; Pelayanan Kristiani Miktab menerima artikel dari mahasiswa, dosen, dan peneliti teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel dari kepenulisan bersama mahasiswa dan dosen menjadi prioritas untuk diproses sepanjang sesuai focus & scope. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya dalam proses peer-review sebelum diterbitkan.
Articles
26 Documents
Studi Eksposisi Gembala Menurut Yehezkiel 34 dan Aplikasinya bagi Gembala Sidang Masa Sekarang
Arnadyah Tiatira Hera Sukmani;
Tonny Mulia Hutabarat;
Sigit Ani Saputro
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (397.64 KB)
Gembala sidang merupakan pemimpin pastoral yang profesional dan mengabdikan diri pada pelayanan dan panggilan Tuhan. Keseluruhan Alkitab mencatat profesi penggembala, mulai dari penggembala domba dan penggembala umat. Klasifikasi gembala yang baik dan jahat tercatat dalam Yehezkiel 34. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode kepustakaan. Hasil dari penelitian ini berupa ucapan atau tulisan yang diamati dalam konteks tertentu dengan tujuan menjelaskan gembala yang baik dan jahat menurut Yehezkiel 34 dan menjelaskan relevansi bagi gembala sidang. Proyeksi hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi pengertian gembala yang ideal bagi gembala sidang di masa sekarang yang dengar-dengaran akan Tuhan, melakukan penggembalaan berupa pembimbingan, rekonsiliasi, pemberitaan firman, juga mendorong gembala melakukan kunjungan, melakukan konseling dengan etika yang benar, mengelola berkat Tuhan serta mencari yang terhilang.
Metode Pemberitaan Kabar Baik Tuhan Yesus Dalam Matius 4:23-25 Dan Aplikasinya Bagi Pemberitaan Kabar Baik Di Era Revolusi Industri 4.0
Yovianus Epan;
Paulus Purwoto
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (362.968 KB)
Humans are constantly facing the times. Preaching the good news requires contextualization over time. To see the relevance of God's Word in every era which is increasingly changing and at any time can change the human paradigm about God, a transformation of the method that the Lord Jesus has done is needed. Believers must be able to take advantage of advances in information technology and communication media by utilizing the internet and social media to preach the gospel to many people, although this research tends to those who are technology literate. This study describes the method of preaching the good news in the Industrial Revolution 4.0 Era. With a descriptive qualitative approach, it is concluded that the method of evangelizing Jesus is the basis of the innovations applied in the Industrial Revolution 4.0 Era: Going around is applied by utilizing network connectivity; teaching and preaching are applied through social media platforms; healing of all disease is practiced through the ministry of healing.Manusia terus-menerus diperhadapkan pada perkembangan zaman. Pemberitaan kabar baik memerlukan kontekstualisasi seiring perkembangan zaman. Untuk bisa melihat relevansi Firman Tuhan dalam setiap masa dan zaman yang semakin hari semakin mengalami perubahan dan sewaktu-waktu bisa saja mengubah paradigma manusia tentang Tuhan, diperlukan transformasi metode yang pernah dilakukan Tuhan Yesus. Orang-orang percaya harus mampu memanfaatkan kemajuan teknologi informasi dan media komunikasi dengan memanfaatkan internet dan sosial media untuk memberitakan Injil kepada banyak orang meskipun penelitian ini cenderung kepada mereka yang melek teknologi. Penelitian ini mendeskripsikan metode pemberitaan kabar baik di Era Revolusi Industri 4.0. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif disimpulkan bahwa metode penginjilan Yesus merupakan dasar dari inovasi yang diterapkan di Era Revolusi Industri 4.0: Berkeliling diterapkan dengan memanfaatkan konektivitas jaringan; mengajar dan memberitakan diterapkan melalui platform media sosial; melenyapkan segala penyakit diterapkan melalui pelayanan kesembuhan.
Konsep Pasangan Seimbang Menurut 2 Korintus 6:14-15 bagi Perilaku Berpacaran
Ghita Ariyanti;
Tonny Mulia Hutabarat
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (323.823 KB)
Youth is a time when romance peaks, dating among young people is not a taboo anymore. The matter of choosing a balanced partner is not easy, because it requires guidelines for young people to choose a balanced life partner according to God's will. After conducting a study on the concept of a balanced partner according to 2 Corinthians 6:14-15, using hermeneutic principles, it is concluded that a balanced partner according to 2 Corinthians 6:14-15 is a couple who both believe in Christ Jesus as Lord and Savior of the world, the only living God worthy of worship. Young people need to choose a balanced partner before entering into marriage, in this case the role of the church and parents is needed.Masa muda adalah masa di mana gejolak asmara memuncak, masa berpacaran di kalangan muda-mudi bukan hal yang tabu lagi. Hal memilih pasangan seimbang tidak mudah, karena itu diperlukannya pedoman dalam pemuda-pemudi untuk memilih pasangan hidup yang seimbang sesuai dengan kehendak Allah. Setelah melakukan kajian tentang konsep pasangan seimbang menurut 2 Korintus 6:14-15, dengan menggunakan prinsip-prinsip hermeneutik, maka disimpulkan bahwa pasangan yang seimbang menurut 2 Korintus 6:14-15 merupakan pasangan yang sama-sama percaya kepada Kristus Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dunia, satu-satunya Tuhan yang hidup dan layak disembah. Pemuda-pemudi perlu memilih pasangan yang seimbang sebelum memasuki pernikahan, dalam hal ini peran gereja dan orang tua dibutuhkan.
Makna Kedewasaan Rohani Dalam Ibrani 5:11-14
Maria Demarson Adu;
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Paulus Purwoto
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (323.772 KB)
Fakta bahwa ada orang Kristen yang sangat mudah beralih keyakinan menimbulkan pertanyaan seputar kedewasaan rohani mereka. Di sisi lain Ibrani 5:11-14 menuliskan tentang perlunya seorang Kristen bertumbuh secara rohani. Hal ini mendorong peneliti untuk menemukan makna kedewasaan rohani dalam Ibrani 5:11-14 dan penerapannya bagi orang percaya pada masa kini. Peneliti menggunakan metode deskriptif melalui studi pustaka untuk menjawab masalah tersebut. Dari penelitian yang dilakukan penulis dapat menarik kesimpulan bahwa orang percaya masa kini dikatakan memiliki kedewasaan rohani jika ia memiliki iman yang kokoh, memiliki karakter Kristus, memiliki kesetiaan dalam pelayanan, memiliki perspektif hidup seperti Kristus, serta berfokus hanya kepada kebenaran Firman Tuhan.
Makna Kekudusan Menurut 1 Petrus 1:13-25
Lorensia Fransiska;
Yusak Sigit Prabowo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (361.57 KB)
Holiness is often discussed in the Christian life and becomes an inseparable part of the believer. This paper tries to review holiness based on the letter 1 Peter 1:13-25. With a hermeneutical approach, the biblical text describes the understanding of holiness according to 1 Peter 1:13-25. From the results of this study, it is concluded that holiness means separation, can take place in the minds of believers, must be both "from" and "to", have the standard of God's word and the redemptive work of Christ, be shown in relationships with others, and be a sign of the new birth.Kekudusan kerap kali dibicarakan dalam kehidupan Kristen dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam diri orang percaya. Tulisan ini mencoba mengulas kekudusan berdasarkan surat 1 Petrus 1:13-25. Dengan pendekatan hermeneutika teks Alkitab dideskripsikan pemahaman tentang kekudusan menurut 1 Petrus 1:13-25. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa kekudusan berarti pemisahan, dapat berlangsung dalam pikiran orang percaya, harus sekaligus “dari” dan “untuk”, memiliki standar firman Tuhan dan karya penebusan Kristus, ditunjukkan dalam hubungan dengan sesama, dan menjadi tanda kelahiran baru.
Tantangan Humanisme dalam Era Disrupsi Sebagai Sosio-Pluralisme Iman Kristen
Yonathan Wingit Pramono;
Aji Suseno
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (247.773 KB)
Humanisme adalah sebuah topik yang selalu menuai perdebatan, kata ini bukanlah sebuah istilah dengan pemaknaan tunggal yang mudah disepakati. Era disrupsi menjadi fokus yang utama seiring dengan perkembangan teknologi media masa secara daring dibandingkan dengan humaniora, dan sejarah. Dalam pembahasan tulisan ini akan meneliti dan membahas tantangan humanisme dalam era disrupsi sebagai sosio pluralisme iman Kristen. Metode penulisan yang dipergunakan dalam penelitian paper ini adalah penelitian pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Dengan kesimpulan tantangan humanisme dalam era disrupsi sebagai sosio pluralisme iman Kristen bagi kehidupan manusia dalam pandangan sosiologis, melalui setiap perkembangan teknologi manusia akan mengalami perubahan yang sekarang dikenal dengan disrupsi. Dimana era disrupsi membawa perubahan di semua aspek kehidupan manusia, yang berdampak pada perubahan tatanan sosial secara struktural. Humanisme menekankan otonomi manusia sebagai penentu diri sendiri dalam segala aspeknya. Sosio pluralisme yang dipayungi oleh ide humanisme sering menggiring manusia kepada kebergantungan pada diri sendiri dan sangat individualistik. Mereka tidak ingin control dari luar, bahkan oleh Allah sekalipun. Dalam hal ini, harus dipahami dalam Iman Kristen dengan nilai-nilai Kristen yang bersumber dari kebenaran Allah.
Gereja Menghadapi Era Masyarakat 5.0: Peluang dan Ancaman
Joseph Christ Santo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (284.718 KB)
Gereja adalah komunitas orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus, dan komunitas ini tidak dapat dipisahkan dari masyarakat dunia yang selalu berubah. Perubahan yang terjadi dan harus disikapi adalah transisi menuju era baru yang dikenal dengan Society 5.0. Gereja tidak bisa acuh tak acuh dalam menghadapi era baru ini. Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan peluang dan ancaman gereja. Dengan menggunakan metode analisis deskriptif berdasarkan literatur dan observasi, hasil penelitian menunjukkan bahwa gereja perlu meningkatkan sumber dayanya untuk memanfaatkan peluang dan mengatasi ancaman, sehingga tidak mati karena memiliki antisipasi yang baik. Gereja harus mengikuti perkembangan agar tetap relevan dengan orang-orang yang hidup di Era Society 5.0.
Peranan Keluarga Menurut Amsal 22:6 Dalam Pembentukan Karakter Anak
Yelvi Sofia Adoe;
Joko Sembodo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (239.445 KB)
The family is the main and first education to shape the good and bad of the human person. The family plays a role in shaping the attitude and personality patterns of children. Proverbs 22:6 teaches parents to teach wisdom to their children. Based on the text, the researcher describes the role of the family in the formation of children's character. With descriptive analysis, the researcher exposes Proverbs 22:6 so that the principles of education in the family are found. The conclusion of this study is that parents carry out the duties and responsibilities of children's education by providing attention and care, providing time together, fulfilling physical needs, and fulfilling spiritual needs. With a good education in the family, it is expected that children have good character and live in fear of God.Keluarga merupakan pendidikan utama dan pertama untuk membentuk baik buruknya pribadi manusia. Keluarga berperan dalam membentuk pola sikap dan pribadi anak. Amsal 22:6 mengajarkan kepada orang tua untuk mengajarkan hikmat kepada anak-anak. Berdasarkan nas tersebut peneliti mendeskripsikan peranan keluarga dalam pembentukan karakter anak. Dengan analisis deskriptif peneliti mengeksposisi Amsal 22:6 sehingga ditemukan prinsip-prinsip pendidikan dalam keluarga. Kesimpulan dari penelitian ini adalah orang tua mengemban tugas dan tanggung jawab pendidikan anak dengan cara memberikan perhatian dan perawatan, menyediakan waktu bersama, mencukupkan kebutuhan jasmani, dan mencukupkan kebutuhan rohani. Dengan pendidikan yang baik dalam keluarga, diharapkan anak memiliki karakter yang baik dan hidup takut akan Tuhan.
Pengaruh Pemahaman Tentang Gaya Hidup Kristen Menurut Mazmur 15:1-5 Terhadap Perilaku Pergaulan Mahasiswa STT Torsina
Hairunisa S;
Asih Rachmani Endang Sumiwi;
Yusak Sigit Prabowo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (388.903 KB)
Penelitian ini dibuat dengan tujuan mengetahui kategori pemahaman Mahasiswa STT Torsina tentang Gaya Hidup Kristen menurut Mazmur 15:1-5 dan mengetahui kategori tingkat perilaku pergaulan yang dilakukan oleh mahasiswa STT Torsina serta mengetahui kategori pengaruh pemahaman tentang gaya hidup Kristen menurut Mazmur 15:1-5 terhadap perilaku pergaulan mahasiswa STT Torsina tahun 2020. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei dengan menggunakan skala Likert. Hasil uji statistik deskriptif terhadap variabel Pemahaman tentang Gaya Hidup Kristen menurut Mazmur 15:1-5 (X) menunjukkan kategori tinggi. Hasil uji statistik deskriptif terhadap variabel Perilaku Pergaulan Mahasiswa STT Torsina tahun 2020 (Y) menunjukkan kategori sedang menuju tinggi. Hasil uji regresi sederhana variabel X terhadap variabel Y, diperoleh hasil pemahaman tentang gaya hidup Kristen menurut Mzmur 15:1-5 terhadap perilaku pergaulan mahasiswa STT Torsina tahun 2020 ada pada tingkat berpengaruh kuat.
Kajian Teologis Istilah Miskin Di Hadapan Allah Menurut Matius 5:3 dan Aplikasinya bagi Orang Percaya
Frederika Ina Kii;
Yotam Teddy Kusnandar
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (339.761 KB)
The believer's view of poverty is sometimes wrong. As a result, the poverty experienced causes disappointment, worry, doubt and has an impact on doubting Allah. That is why a correct understanding of poverty is needed. This study describes the phrase poor before God based on Matthew 5:3 according to hermeneutic principles. The results of the study show that poverty is not only an economic problem but also related to spiritual life. Spiritually poor means someone who is poor in spirit, and in this case the believer must depend on God.Pandangan orang percaya mengenai kemiskinan kadang-kadang keliru. Akibatnya, kemiskinan yang dialami menyebabkan kekecewaan, kekawatiran, keraguan dan berdampak pada keraguan kepada Allah. Itu sebabnya diperlukan pemahaman yang benar tentang kemiskinan. Penelitian ini mendeskripsikan frasa miskin di hadapan Allah berdasarkan Matius 5:3 menurut prinsip-prinsip hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa miskin bukan hanya pada persoalan ekonomi namun menyangkut kehidupan rohani. Miskin spiritual artinya seseorang yang miskin di dalam roh, dan dalam hal ini orang percaya harus bergantung kepada Allah.