cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalmiktab@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Solo - Purwodadi km 6, Sugihwaras, Wonorejo, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27982084     DOI : -
Core Subject : Religion,
Miktab adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Pentakosta, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina. Focus dan Scope penelitian Miktab adalah: Teologi Biblikal; Teologi Sistematika; Isu-isu Teologi; Pelayanan Kristiani Miktab menerima artikel dari mahasiswa, dosen, dan peneliti teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel dari kepenulisan bersama mahasiswa dan dosen menjadi prioritas untuk diproses sepanjang sesuai focus & scope. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya dalam proses peer-review sebelum diterbitkan.
Articles 26 Documents
Kajian Teologis Model Penginjilan Rasul Paulus Dalam Kitab Kisah Para Rasul Pasal 8-28 dan Implementasinya Bagi Penginjilan Gereja Adi Tena Bolo; Paulus Purwoto; Sigit Ani Saputro
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 2 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.849 KB)

Abstract

Salah satu cara dalam menjalankan amanat agung adalah dengan menerapkan sebuah cara atau metode sebagai landasan utama dalam praktiknya. Alkitab juga mencatat bagaimana rasul Paulus menjalankan misi dan strateginya dalam memperluas Injil Kerajaan Allah. Model-model ini tertuang dalam tiga model yaitu model perjalanan pertama, perjalanan kedua, dan perjalanan ketiga. Gereja saat ini juga bisa menerapkan ketiga macam model ini untuk melakukan penginjilan, bukan hanya itu dalam pengembangan pos penginjilan juga sangat baik dilakukan dengan menerapkan model penginjilan Paulus.
Kajian Teologis Hanya Yesus Jalan Keselamatan dalam Yohanes 14:1-14 dan Aplikasinya bagi Orang Percaya Samyul Ledo; Sigit Ani Saputra
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 1, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (405.858 KB)

Abstract

The concept of salvation is always an interesting thing to discuss in every religion. Christianity has a unique concept of salvation. In John 14:1-14 Jesus gives a hint to all mankind that He is the one who is the main access for every human being to meet the Father, the Lord God. This study aims to describe Christology and Soteriology theologically based on John 14:1-14. The researcher conducted a literature study using retrospective descriptive method and concluded several points of Jesus' teachings which showed that the only way of salvation was in Jesus.Konsep keselamatan merupakan hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan dalam setiap agama. Ajaran Kristen memiliki konsep yang unik tentang keselamatan. Dalam Yohanes 14:1-14 Yesus memberikan suatu petunjuk kepada semua umat manusia bahwa diri-Nyalah yang menjadi akses utama untuk setiap manusia bisa berjumpa dengan Bapa yaitu Tuhan Allah. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kajian Kristologi dan Soteriologi secara teologis berdasarkan Yohanes 14:1-14. Peneliti melakukan studi pustaka yaitu metode deskriptif retrospektif dan mendapatkan kesimpulan beberapa pokok pengajaran Yesus yang menunjukkan bahwa satu-satunya jalan keselamatan adalah di dalam Yesus.
Penginjilan Epafras di Jemaat Kolose dan Aplikasinya bagi Misi dan Penginjilan dalam Masyarakat Plural Christian Daniel Raharjo; Rusgiyati Rusgiyati; David Ellyanto; Fransiskus Irwan Widjaja
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dari perkembangan gereja masa ke masa, orang-orang Kristen diperhadapkan dengan salah satu isu permasalahan utama yaitu upaya jemaat Tuhan dalam melaksanakan agenda misi dan penginjilan. Terlebih dewasa ini, di mana berkembang pemahaman pluralisme agama. Pemahaman yang mengatakan bahwa kita sedang menyembah pada satu kebenaran yang sama hanya saja dengan cara yang berbeda-beda. Jika gereja Tuhan tidak memiliki pengertian yang benar dan sikap yang bijaksana dalam merespon pemahaman ini maka gereja akan semakin dipojokkan dalam upaya misi penginjilan. Oleh karena itu, melalui artikel ini penulis tertarik untuk meneliti tentang pelayanan dan penginjilan Epafras, sosok yang jarang sekali dibahas oleh gereja. Pemberita Injil yang disebut berhasil mendirikan jemaat Kolose di tengah perbedaan budaya dan ancaman filsafat palsu maupun ajaran sesat. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Melalui analisa yang dilakukan, penulis meyakini salah satu faktor penentu keberhasilan pelayanan misi dan penginjilan adalah kualitas pribadi sang penginjil itu sendiri. Kualitas pribadi Epafras yang terbentuk dalam pelayanan dan juga melalui pemuridan rasul Paulus membawa Epafras berhasil mendirikan jemaat Kolose.
Model Pendampingan Pastoral Bagi Penyandang Gangguan Jiwa di Yayasan Villa Pemulihan Pelita Bandungan Gillbert Giptha Sugiharto; David Eko Setiawan
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan jiwa merupakan masalah yang serius di dunia ini, pasalnya gangguan jiwa dapat menghambat seorang yang mengalaminya untuk melakukan perannya dalam masyarakat sosial. Gangguan jiwa juga dapat merugikan keluarga penderita karena menambah beban biaya untuk perawatan, serta merugikan masyarakat bahkan merugikan negara, yang dimana kerugiannya sangat besar oleh karena mereka yang sedang mengalami gangguan jiwa tidak dapat menjalankan produktivitas mereka. Permasalahan yang timbul di pemikiran masyarakat, bahwa orang yang mengalami sakit gangguan jiwa mereka tidak dapat disembuhkan, ini yang mengakibatkan mereka dikucilkan dari masyarakat, bahkan dianggap aib oleh keluaga, dan itu yang mengakibatkan mereka juga mengalami pasung, dan bahkan ada diantara mereka yang dibuang karena keluarga malu. Pasalnya orang yang tepat mampu untuk dapat menanganinya, melalui peran konseling pastoral, permasalahan gangguan jiwa ditangani. Pada dasarnya pelayanan pastoral sudah dapat membina, tetapi dengan adanya pendampingan pastoral yang menggunakan pendekatan spiritual dan psikologi  akan dapat membuat pendampingan semakin efektif. Hal tersebut juga di laksanakan di Yayasan Villa Pemulihan Pelita, yang ditangani oleh Pdt. Sugiharto. Melalui penelitian ini, peneliti berusaha menemukan model pendampingan pastoral bagi penyandang gangguan jiwa di Yayasan tersebut. Untuk menjawab masalah penelitian tersebut, peneliti menggunakan metode kualitatif deskriptif, dengan menggunakan teknik wawancara dan library research dalam pengumpulan data. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut: Yayasan Villa Pemulihan Pelita telah menggunakan model konseling pastoral terhadap penyandang gangguan jiwa dengan menekankan tiga aspek penting di dalamnya yaitu; Rehabilitasi, Resosialisasi, Terminasi. 
Prinsip-Prinsip Pelayanan Tuhan Yesus Menurut Matius 11:28-31 dan Relevansinya Bagi Karakteristik Kepemimpinan Gembala Sidang Masa Kini Paulus Kunto Baskoro; Farel Yosua Sualang
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gembala Sidang adalah pemimpin dalam sebuah gereja. Gembala Sidang pemegang otoritas tertinggi dalam sebuah gereja. Namun perlu disadari bahwa kepemimpinan Gembala Sidang melekat juga dalam sisi kehidupannya. Artinya kepemimpinan dan karakter kehidupan Gembala Sidang tidak bisa dipisahkan. Karakter Gembala Sidang sangat mempengaruhi kepemimpinannya dalam sebuah gereja dan keluarga. Jadi, keberhasilan kepemimpinan Gembala Sidang sangat ditentukan dengan karakter yang dimiliki Gembala Sidang. Karakter Gembala Sidang menjadi dasar dalam segala hal. Beberapa kepemimpinan Gembala Sidang sangat tidak maksimal, karena memiliki karakter yang tidak sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan. Menggembalakan dengan tujuan-tujuan yang bersifat demi kepentingan diri sendiri. Dan fokus karakter Gembala Sidang akan dibahas dalam konteks Matius 11:28-31 yang bersentral kepada Yesus Kristus. Penulisan ini menggunakan metode deskritif literatur. Tujuannya supaya lewat penulisan yaitu Pertama, memahami prinsip-prinsip karakter Gembala Sidang yang sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan; Kedua, memberikan pengertian secara pasti bahwa karakter Gembala Sidang yang sesuai Matius 11:28-31 akan membawa perkembangan gerjea yang luar biasa; Ketiga, memberikan teladan yang terbaik bagi pemimpin-pemimpin gereja selanjutnya. 
Pembentukan Karakter Anak dalam Keluarga Berdasarkan Amsal 23:14 Suferniwati Fau; Sigit Ani Saputro; Titik Haryani
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karakter merupakan benih yang tertanam dalam diri manusia sejak manusia diciptakan oleh Allah dalam Kejadian 1: 28. Letak kesamaan manusia dengan Allah berada pada karakter, ketika Allah menciptakan dan menghembuskan nafas kehidupan kepada manusia pertama yaitu Adam di situlah Roh Allah tertanam dalam diri manusia. Beberapa masalah yang sangat mempengaruhi pembentukan karakter anak yaitu kurangnya pemahaman bagi orang tua bahwa, pembentukan karakter anak sangat penting untuk dilakukan sejak anak masih kecil, dan adanya masalah dalam menerapkan pembentukan karakter terhadap anak sehingga membuat karakter anak menjadi tidak baik. Metode yang digunakan adalah metode eksegesis terapan yang mencari, mengumpulkan, mempelajari data menggunakan literatur-literatur dan berbagai buku yang berhubungan dengan pokok pembahasan. Sehubungan dengan metode kualitatif yang digunakan dalam penulisan skripsi ini akan mengarahkan kepada penjelasan apa adanya. Adapun kesimpulan akhir sebagai berikut: pertama, pembentukan karakter sangat penting untuk diterapkan kepada anak-anak sejak dini agar karakter anak menjadi baik di masa yang akan datang; kedua penggunaan rotan dalam pembentukan karakter anak harus dilakukan dengan cara yang bijak dan berhikmat dengan berlandaskan kasih, tujuan penggunaan tongkat yaitu untuk mendidik anak menjadi lebih baik; ketiga, lingkungan keluarga sangat berperan penting dalam pembentukan karakter anak karena keluarga merupakan lingkungan pertama di mana seorang anak mendapatkan nilai-nilai kehidupan namun tidak hanya lingkungan keluarga, melainkan lingkungan sekolah, gereja dan masyarakat.
Pengaruh Pemahaman tentang Ciri Jemaat Mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 terhadap Spiritualitas Jemaat Intan Betesda Sari; Herry Susanto Antadinata; Yusak Sigit Prabowo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The early church was a healthy church, an ideal church and a church that had the spirit so that the early church became a growing and developing congregation. This pattern should be followed by modern churches today. This study uses a quantitative approach with a survey method at Gereja Bethel Injil Sepenuh El-Shaddai Karanganyar during the Covid-19 pandemic, data collection was carried out by questionnaire using a Likert scale. From the results of descriptive statistical tests, it was found that the understanding of the characteristics of the early church was in the moderate category, the spirituality of the church was in the moderate category, and it was proven that the understanding of the characteristics of the early church in Acts 2:41-47 had an effect on the spirituality of the congregation.Jemaat mula-mula merupakan jemaat yang sehat, jemaat ideal dan jemaat yang memiliki semangat sehingga jemaat mula-mula menjadi jemaat yang bertumbuh dan berkembang. Pola ini seharusnya dilakukan oleh gereja-gereja modern pada saat ini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei di Gereja Bethel Injil Sepenuh El-Shaddai Karanganyar pada masa pandemi Covid-19, pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dengan menggunakan skala Likert. Dari hasil uji statistik deskriptif didapati bahwa pemahaman ciri jemaat mula-mula ada pada kategori sedang, spiritualitas jemaat ada pada kategori sedang, dan terbukti bahwa pemahaman tentang ciri jemaat mula-mula dalam Kisah Para Rasul 2:41-47 berpengaruh pada spiritualitas jemaat.
Pemahaman Belas Kasihan Yesus dalam Injil Sinoptik dan Aplikasinya pada Penanganan Pasien Isolasi Mandiri Sri Budi Rahayu; Yusak Sigit Prabowo; Yotam Teddy Kusnandar
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 1 (2022): Juni 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The Covid-19 pandemic has made relations between people distant and no longer warm. This is due to the transmission of Covid-19 which is easily contagious and causes death so that most people become indifferent to others, and cause their own struggles for those who are undergoing self-isolation because they are positive for Covid-19. This study aims to provide an understanding of Jesus' compassionate attitude in the Synoptic Gospels (Matthew, Mark, and Luke) to be used in serving people who have tested positive for Covid-19 and are required to undergo self-isolation. With the compassionate attitude of Jesus found in the Synoptic Gospels, Christians can serve those who are self-isolating due to Covid-19 positive both physically and spiritually as Jesus exemplified.Pandemi Covid-19 membuat relasi antar manusia menjadi jauh dan tidak lagi hangat. Hal ini disebabkan penularan Covid-19 yang mudah menular dan menimbulkan kematian sehingga kebanyakan orang menjadi acuh tak acuh kepada sesamanya, dan menimbulkan pergumulan tersendiri bagi mereka yang menjalani isolasi mandiri karena positif Covid-19. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai sikap belas kasihan Yesus di dalam Injil Sinoptik (Matius, Markus, dan Lukas) untuk dapat digunakan dalam melayani orang-orang yang dinyatakan positif Covid-19 dan diharuskan untuk menjalani isolasi mandiri. Dengan sikap belas kasihan Yesus yang terdapat di dalam Injil Sinoptik, orang Kristen dapat melayani mereka yang menjalani isolasi mandiri akibat positif Covid-19 baik secara jasmani maupun rohani seperti yang Yesus teladankan.
Keteladanan Rasul Paulus bagi Para Gembala dalam Menyikapi Pemberian Jemaat Christian Daniel Raharjo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena jemaat yang senang memberi kepada gembalanya adalah hal yang lazim terjadi dan dialami oleh gembala yang sudah melakukan tugas pelayanan penggembalaan dengan baik. Pemberian ini umumnya sebagai bentuk ungkapan terima kasih, wujud apresiasi jemaat atas kinerja baik yang telah dilakukan gembala. Namun, benarkah pemberian dari jemaat ini tidak memiliki potensi dampak buruk bagi pelayanan dan juga pribadi gembala? Dalam penelitian ini penulis mencoba menganalisa pemberian yang diperbolehkan dan yang tidak dengan melihat cara rasul Paulus dalam menyikapi pemberian dari jemaat. Dengan memahami cara rasul Paulus menyikapi pemberian dari jemaat ini para gembala dapat mengambil sikap dalam menerima pemberian-pemberian dari jemaat, agar pelayanan penggembalaan tetap sehat dan berlangsung dengan sebagaimana mestinya. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif-deskriptif guna menganalisa ayat-ayat dan literatur-literatur yang berkaitan dengan subyek penelitian ini. Melalui analisa yang dilakukan untuk menyikapi fenomena ini, penulis mendapati gembala harus menyikapi pemberian jemaat dengan prinsip-prinsip berikut : mengungkapkan terima kasih yang tulus kepada jemaat, bersukacita melihat perhatian jemaat, senantiasa belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan, bergantung sepenuhnya hanya kepada Allah, dan berkeyakinan bahwa Allah menerima dan membalas pemberian dari jemaat.Kata-kata kunci: Pelayanan Pastoral; Rasul Paulus; Pemberian Jemaat; Gratifikasi
Kewaspadaan Terhadap Guru-Guru Palsu Berdasarkan 2 Petrus 2 Sebagai Antisipasi Terhadap Penyesatan Pada Masa Kini Prananto Prananto; Joseph Christ Santo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Guru-guru palsu yang mengajarkan ajaran sesat atau palsu sudah ada sejak berdirinya gereja mula-mula dan upaya penyesatan mereka terjadi di luar maupun di dalam gereja. Pengajaran yang menyimpang dan tidak sesuai dengan firman Tuhan merupakan bentuk perlawanan Iblis kepada Allah yang bertujuan agar manusia hidup jauh dari Tuhan dan orang-orang percaya dipengaruhi untuk hidup tidak taat kepada Tuhan. Peringatan akan kewaspadaan terhadap guru-guru palsu yang disampaikan oleh rasul Petrus, juga telah disampaikan oleh Yesus sebagai peringatan kepada murid-murid-Nya. Seperti serigala berbulu domba, demikianlah  gambaran yang Yesus berikan kepada guru-guru palsu itu.Hal ini menjadi tantangan serius bagi gereja masa kini, bagaimana gereja harus bersikap dan langkah antisipasi apa yang harus diambil gereja maupun orang percaya dalam menghadapi merebaknya ajaran sesat yang berpotensi melemahkan kerohanian jemaat Tuhan? Melalui artikel ini, penulis mencoba memberikan jawaban atas tantangan tersebut diatas. Dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menganalisa teks dalam 2 Petrus 2, diperoleh hasil, gereja harus sadar bahwa keberadaan guru-guru palsu di tengah-tengah jemaat Tuhan merupakan sebuah fakta dan penyesatannya semakin intensif menjelang akhir zaman, Meskipun Tuhan akan menjaga dan menyelamatkan orang-orang benar dari penyesatan, namun gereja perlu mengantipasinya dengan memberikan pengajaran yang benar berdasarkan Alkitab dan mendorong jemaat untuk tekun beribadah menjalin persekutuan dengan saudara seiman. Dan setiap orang percaya harus bertumbuh dan berakar kuat di dalam kebenaran firman Tuhan serta hidup dalam pimpinan Roh Kudus.

Page 2 of 3 | Total Record : 26