cover
Contact Name
Joseph Christ Santo
Contact Email
jx.santo@gmail.com
Phone
+6287836107190
Journal Mail Official
jurnalmiktab@gmail.com
Editorial Address
Jl. Raya Solo - Purwodadi km 6, Sugihwaras, Wonorejo, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Location
Kab. grobogan,
Jawa tengah
INDONESIA
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani
ISSN : -     EISSN : 27982084     DOI : -
Core Subject : Religion,
Miktab adalah jurnal ilmiah teologi dengan warna Pentakosta, merupakan wadah publikasi hasil penelitian teologi dan pelayanan Kristiani, yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Torsina. Focus dan Scope penelitian Miktab adalah: Teologi Biblikal; Teologi Sistematika; Isu-isu Teologi; Pelayanan Kristiani Miktab menerima artikel dari mahasiswa, dosen, dan peneliti teologi yang ahli di bidangnya, dari segala institusi teologi, baik dari dalam maupun luar negeri. Artikel dari kepenulisan bersama mahasiswa dan dosen menjadi prioritas untuk diproses sepanjang sesuai focus & scope. Artikel yang telah memenuhi persyaratan akan dinilai kelayakannya dalam proses peer-review sebelum diterbitkan.
Articles 26 Documents
Praktik Bahasa Roh Membangun Diri Sendiri Menurut I Korintus 14:4 Sebagai Upaya Mengendalikan Emosi Ira Suwitomo Putri; Joseph Christ Santo; Joko Sembodo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam hidup bermasyarakat yang sangat beragam, kita dituntut untuk dapat mengendalikan emosi secara benar.  Namun pada praktiknya, banyak yang mengalami kesulitan mengendalikan emosinya. Sebenarnya Allah memberi kemampuan kepada manusia untuk mereka dapat mengendalikan emosi, karena Allah juga yang menciptakan emosi tersebut untuk kepentingan manusia. Dalam I Korintus 14:4 Rasul Paulus membahas tentang bahasa roh di mana fungsi bahasa roh adalah untuk membangun diri, termasuk di dalamnya menjadi orang yang dapat mengendalikan emosi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui praktik bahasa roh membangun diri sebagai upaya mengendalikan emosi. Adapun metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi, di mana penulis mewawancarai 10 partisipan yang adalah aktivis GBIS Kepunton, Surakarta, dengan batas usia 25 sampai 75 tahun. Hasil dari penelitian yang didapat cukup bervariatif dan menunjukkan adanya praktik bahasa roh membangun diri dalam konteks I Korintus 14:4 yang dapat difungsikan sebagai pengendalian emosi untuk jemaat Tuhan. 
Peran Media Sosial Dalam Penyampaian Kabar Baik Menurut Lukas 4 :18-19 Nasri Nugroho; Yotam Teddy Kusnandar; Joko Sembodo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberitaan kabar baik merupakan upaya untuk menghadirkan Kerajaan Allah di tengah dunia, bahkan yang berkembang di era teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu upaya untuk merealisasikannya adalah melalui media sosial. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19, untuk menjelaskan yang dimaksud media sosial, dan untuk menjelaskan peran media sosial dalam penyampaian kabar baik menurut Lukas 4:18-19. Adapun penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan studi pustaka. Peneliti melakukan kajian dari berbagaisumberliteraturberupajurnalteologimaupunbuku-bukuyangsesuai dengantema,sehinggamenghasilkanbeberapapenjelasan yangdibahassecara sistematis. Hasil penelitian menunjukkan diperlukannya kemampuan dalam mengakses dan memproses transmisi data dan informasi dalam berbagai macam platform media, sehingga penggunaan teknologi informasi bukan hanya sekadar dimanfaatkan untuk mengikuti tren zaman, tetapi media dapat berperan dalam melaksanakan misi Allah dalam menyampaikan kabar baik.
Peran Gembala Sidang Dalam Pelayanan Pastoral Terhadap Era Society 5.0 Yulius Subari Putra
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perubahan yang terjadi di era baru ini dikenal dengan Society 5.0. Melalui pemanfaatan berbagai perubahan teknologi informasi dan komunikasi yang diikuti adanya kemajuan era seperti Internet, Kecerdasan buatan, dan Bank Data. Dimana suatu keadaan yang tidak dapat dihindari. Setiap orang perlu dipersiapkan dalam menghadapi perubahan Era Society 5.0. Demikian juga Gereja, perlu dipersiapkan untuk menghadapi perubahan Era Society 5.0 dan tentunya menjadi tugas gembala sidang dalam mempersiapkan gereja untuk menghadapi perubahan Era Society 5.0. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana pelayanan pastoral semakin kontekstual dalam dunia digital saat ini yang turut mempengaruhi perubahan tatanan dan gaya hidup sehingga menuntut pendekatan pelayanan pastoral yang adaptif tanpa perlu kehilangan esensi pelayanan pastoral itu sendiri. Penulis melakukan analisis dengan menggunakan metode pendekatan analisis deskriptif berdasarkan literature sehingga menarik kesimpulan bahwa gembala sidang dalam pelayanan pastoral harus memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, inovatif, dan mampu memanfaatkan berbagai teknologi. Adapun keterbaharuan penelitian dibandingkan dengan penelitian sejenis sebelumnya terletak pada bagaimana Era Society 5.0 membawa paradigma baru pentingnya segi humanistis menjadi prioritas dan dasar dari sisi pentingnya terus menjaga esensi pelayanan pastoral tersebut juga berpangkal dari penelitian sebelumnya, seperti yang dikemukakan oleh Sonny Eli Zaluchu dalam pastoral ministry 5.0. Dimana gereja harus siap dalam menghadapi perubahan era Society 5.0. Seorang gembala perlu memberikan pengajaran yang menekankan pada penguatan keyakinan iman jemaat, sehingga keyakinan tersebut dapat di demonstrasikan dalam kehidupan sehari – hari dan dapat memberikan pengajaran yang mengarah pada komunikasi injil di tengah perubahan. 
Hidup Yang Bermakna: Suatu Refleksi Teologi Etis Kesetiaan Terhadap Kemartiran Para Rasul Irmaya Langi Mentodo
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol 2, No 2 (2022): Desember 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hidup yang bermakna adalah sebuah kehidupan yang menjadikan Kristus dan ajarannya sebagai fondasi dalam berperilaku dan bertindak. Perilaku tersebut merupakan sikap yang meneladani sebagai bagian dari keikutsertaan dalam karya Kristus. Panggilan pengikut Kristus adalah memberitakan kerajaan Allah, menjadi saksi-saksi Kristus. Ciri-ciri dari hamba Yesus Kristus adalah memberi dirinya untuk mengabdi kepada-Nya bukan supaya ia diselamatkan melainkan karena Kristus terlebih dahulu telah menyelamatkannya. Pengikut Kristus adalah orang-orang yang rela mempersembahkan segalanya bagi Kristus yang dilandasi oleh sikap setia sebagai bagian dari etika hamba Kristus. Nilai-nilai ini merupakan nilai yang bersifat kekal, dan mengatasi segala nilai yang ada didunia. Bercermin dari pengalaman hidup para rasul-rasul yang dengan setia menjadi saksi Kristus sampai pada kematiannya yang mengerikan, memberi banyak pengaruh untuk melihat kemuliaan Allah. Penulisan ini bertujuan untuk memperlihatkan bukti kesetiaan rasul-rasul martir dalam panggilannya sebagai pengikut Kristus, yang mendedikasikan seluruh hidupnya bagi pekerjaan Kristus. Kehidupan para rasul-rasul ini merupakan suatu perjalanan hidup yang bermakna sebagai hamba Kristus.
Dari Areopagus ke Nusantara: Teologi Apologetik Paulus dalam Merumuskan Moderasi Beragama di Indonesia Prabowo, Yusak Sigit; Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Santo, Joseph Christ
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/miktab.v4i1.566

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi teologi apologetik Paulus dalam merumuskan konsep moderasi beragama di Indonesia yang multikultural dan plural. Latar belakang penelitian ini berangkat dari tantangan narasi keagamaan ekstremis yang kerap mengancam kohesi sosial dan kerukunan antar umat beragama di Nusantara. Sementara wacana moderasi beragama telah menjadi agenda nasional, landasan teologis yang kuat dan terintegrasi sering kali kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, artikel ini menawarkan sebuah pendekatan teologis yang berakar pada orasi Paulus di Areopagus (Kis. 17:16-34) sebagai kerangka kerja untuk memperkaya dan memperkuat diskursus moderasi beragama. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis eksegetis terhadap orasi Paulus yang secara tradisional dipahami sebagai model misiologi atau apologetika, untuk kemudian diterapkan secara spesifik dalam konteks tantangan pluralisme kontemporer di Indonesia. Paulus tidak hanya mengkritik kekosongan spiritualisme Helenistik, tetapi ia juga menunjukkan sikap hormat terhadap keyakinan lokal – bahkan menggunakan altar "kepada Allah yang tidak dikenal" sebagai titik tolak untuk memperkenalkan Injil. Sikap ini merefleksikan sebuah model apologetika yang tidak konfrontatif, melainkan dialogis dan enkulturatif. Pendekatan ini merupakan antitesis terhadap narasi apologetika yang bersifat eksklusif dan cenderung menyalahkan tradisi keagamaan lain. Oleh karena itu, artikel ini berargumen bahwa prinsip-prinsip teologis Paulus ini – pengakuan terhadap kebaikan partikular dalam tradisi lain, pengalihan fokus dari perdebatan identitas keagamaan ke esensi spiritual, dan penggunaan bahasa yang empatik – adalah landasan teologis yang solid bagi moderasi beragama. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip teologis dari orasi Paulus di Areopagus, kemudian mengkontekstualisasikannya menjadi seperangkat etika teologis untuk praktik moderasi beragama di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar kompromi sosiologis atau politik, melainkan juga memiliki legitimasi teologis yang kuat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi teologis-biblika dengan pendekatan analisis naratif dan eksegetis terhadap teks Kisah Para Rasul 17:16-34. Hasil analisis ini kemudian dipadukan dengan analisis kontekstual terhadap isu-isu pluralisme dan moderasi beragama di Indonesia. Pendekatan interdisipliner ini memungkinkan penulis untuk menjembatani jurang antara teks suci dan realitas sosial, menghasilkan sebuah sintesis yang relevan dan praktis. Sebagai kesimpulan akhir, artikel ini menemukan bahwa teologi apologetik Paulus di Areopagus menyediakan blueprint bagi umat beragama di Indonesia untuk terlibat secara konstruktif dengan “yang lain.” Moderasi beragama, dalam perspektif ini, adalah ekspresi ketaatan yang mempromosikan kebenaran universal sambil tetap menghargai manifestasi iman dalam beragam bentuk. Dengan mengadopsi model Paulus, umat beragama dapat menjadi agen dialog dan perdamaian, bukan lagi agen konflik, dengan cara yang tetap setia pada ajaran iman mereka.
Pendidikan Anak Kontekstual: Anak Berkebutuhan Khusus - Attention Deficit Hyperactivity Disorder Isharjono; Van Kuilenburg Josef Daniel
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol. 5 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/miktab.v5i1.567

Abstract

Penelitian ini menjelaskan model pendidikan berbasis nilai-nilai Alkitab yang relevan bagi anak-anak dengan Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), serta mengevaluasi penerapannya di Charis Institute Solo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis di mana data dikumpulkan melalui wawancara dengan pendidik dan orang tua anak didik serta observasi langsung terhadap proses pembelajaran, serta studi pustaka terkait ADHD. Penerapan nilai-nilai Alkitab dan penghargaan terhadap keunikan individu, efektif dalam mendukung perkembangan anak ADHD. Model pendidikan yang diusulkan mencakup pendekatan holistik yang memperhatikan perkembangan karakter dan hubungan spiritual anak dengan Tuhan, pelibatan keluarga, komunitas, guru, dan GPK dalam proses pertumbuhan anak, serta pemanfaatan fasilitas sekolah yang memadai. Implementasi model ini di Charis Institute Solo terbukti meningkatkan fokus, kontrol diri, dan kemampuan sosial anak-anak dengan ADHD.

Page 3 of 3 | Total Record : 26