cover
Contact Name
Fernando Tambunan
Contact Email
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Phone
+6281361612723
Journal Mail Official
fernando.tambunan@sttbaptis-medan.ac.id
Editorial Address
Jl. Tali Air No. 7 Kelurahan Mangga, Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan Sumatera Utara Indonesia
Location
Kota medan,
Sumatera utara
INDONESIA
Illuminate: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani
ISSN : 26228998     EISSN : 26217732     DOI : https://doi.org/10.54024
Core Subject : Religion, Education,
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani merupakan terbitan berkala dari hasil penelitian Teologi dan Pendidikan Agama Kristen yang diterbitkan oleh Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan. Focus dan Scope penelitian Illuminate adalah: Teologi Biblikal (Perjanjian Lama dan Baru) Teologi Sistematika Teologi Pastoral Pendidikan Kristiani Misiologi Konseling Kristen
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020" : 5 Documents clear
Profesionalisme Guru Agama Kristen dalam Membina Jemaat Arozatulo Telaumbanua
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.728 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v3i1.75

Abstract

 Education in congregations is often characterized by the lack of exemplary Christian teachers who teach, foster, and educate them. This example is closely related to the professionalism of Christian teachers in fostering congregations in a consistent, dynamic, effective, and enjoyable way. The professionalism of Christian teachers in teaching and nurturing congregations is the key to bringing the congregation to the perfection of life like Christ. The life and character of the Christian religion teacher greatly influence the life and character of the congregation. A Christian teacher who teaches and nurtures congregations must have a spiritual experience with God have the ability of knowledge, skills, and ability to use methods in the learning process. The method of fostering congregations is one of the most professional teachers of Christianity in fostering a very strategic congregation. Because with this ability, it is possible for Christian religious teachers to be able to bring influence to the quality and spiritual life of the church. Thus, the church has the knowledge of faith in the truth of God, which is able to understand the truth well, has a character like the Lord Jesus Christ, which is to love and serve and have the values of Christ that are applied in everyday life. AbstrakPendidikan dalam jemaat seringkali diwarnai dengan kurangnya keteladanan guru agama Kristen yang mengajar, membina dan mendidik mereka. Keteladanan ini berkaitan erat dengan keprofesionalan guru agama Kristen dalam membina jemaat secara konsisten, dinamis, efektif dan menyenangkan. Profesionalisme guru agama Kristen dalam mengajar dan membina jemaat menjadi kunci dalam membawa jemaat kepada kesempurnaan hidup seperti Kristus. Kehidupan dan karakter guru agama Kristen sangat mempengaruhi kehidupan dan karakter jemaat. Seorang guru agama Kristen yang mengajar dan membina jemaat harus memiliki pengalaman rohani dengan Tuhan, memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan menggunakan metode dalam proses pembelajarannya. Metode dalam membina jemaat salah satu keprofesionalan guru agama Kristen dalam membina jemaat yang sangat strategis. Sebab dengan kemampuan ini, maka dimungkinkan guru agama Kristen mampu membawa pengaruh terhadap kualitas dan kehidupan rohani jemaat. Dengan demikian, jemaat memiliki pengetahuan iman akan kebenaran Allah, yakni mampu memahami kebenaran dengan baik, memiliki karakter seperti Tuhan Yesus Kristus, yaitu mengasihi dan melayani serta memiliki nilai-nilai Kristus yang diterapkannya dalam hidup sehari-hari 
Persahabatan Menurut Alkitab dan Relevansinya pada Masa Kini Mariati Barus
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.717 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v3i1.67

Abstract

Friendship according to a common understanding and the Bible must be different. Friendship in general terms is only based on love between people. While friendship according to the Bible there is certainly a basic word of God that must be done in friendship or a spiritual attraction between each other which of course this spiritual attraction certainly comes from God. In this journal, the author will write what friendship is according to the Bible and its relevance today. Here the writer brings up two stories of friendship that are very well known in the Bible namely friendship between David and Jonathan and Friendship between Mary and Elizabeth. The results obtained are found that friendship is a relationship between two or more people, where they have the bond of love in the same God in which there is mutual concern, affirmation, empathy, willingness to sacrifice everything-including lives, protect each other and not exist jealousy.AbstrakPersahabatan menurut pengertian umum dan Alkitab pastilah berbeda. Persahabatan menurut pengertian umum hanyalah didasarkan karena kasih antar manusia.  Sedangkan persahabatan menurut Alkitab tentunya ada dasar firman Tuhan yang harus dilakukan dalam persahabatan itu atau adanya daya tarik rohani antara satu sama lain yang mana daya tarik rohani ini tentnya datangnya dari Tuhan.  Dalam jurnal ini penulis akan menulis apa itu persahabatan menurut Alkitab dan relevansinya pada masa kini.  Di sini penulis mengangkat dua kisah persahabatan yang sangat dikenal di dalam Alkitab yakni persahabatan antara Daud dan Yonatan serta Persahabatan antara Maria dan Elisabet.  Metode yang dipergunakan adalah metode deskriptif dengan memperhatikan literatur-literatur. Hasil yang didapat adalah ditemukan bahwa persahabatan adalah hubungan antara dua orang atau lebih, dimana mereka memiliki ikatan kasih di dalam Tuhan yang sama yang didalamnya ada saling memperhatikan, meneguhkan, empati, rela berkorban segala sesuatu termasuk nyawa, saling melindungi satu sama lain dan tidak ada kecemburan.
Makna Frasa “Jagalah Hatimu” menurut Amsal 4:23 Benjamin Pintakhari
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.544 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v3i1.65

Abstract

Inductive interpretation is believed and has been proven to be the best method compared to other methods, to produce an accurate and biblical interpretation. This needs to be done so that there is no controversy between one verse and another, because one verse in the Bible will not contradict another verse in the Bible. Make sure that everything we do is only holy, pleasing to God, do good to all people and stay true to the faith that gives salvation to us. Lead those who are still lost with God's love and guard our hearts and ourselves so that we don't fall into sin. Show good character to be an example for them and, love them as Jesus Christ loved all His people. Preach the gospel and teach them to live according to the Word of God, so that they will believe and be saved. A healthy church is the importance of God's servants who can guard their hearts with all their vigilance to be able to serve and shepherd the congregation that God has entrusted. AbstrakPenafsiran secara induktif dipercaya dan telah terbukti merupakan metode yang terbaik dibandingkan metode lain, untuk menghasilkan tafsiran yang akurat dan alkitabiah. Hal ini perlu dilakukan supaya tidak terjadi kontroversial antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, sebab ayat dalam Alkitab yang satu tidak akan membantah ayat dalam Alkitab yang lain. Pastikan yang kita kerjakan segala sesuatunya hanya yang kudus, berkenan di hadapan Tuhan, lakukanlah kebai-kan terhadap semua orang dan tetaplah teguh pada iman yang memberi keselamatan kepada kita. Pimpinlah mereka yang masih terhilang dengan kasih Tuhan dan jagalah hati dan diri kita sendiri agar kita tidak jatuh ke dalam dosa. Tunjukkan karakter yang baik supaya menjadi teladan  bagi mereka dan, kasihilah mereka seperti Yesus Kristus mengasihi semua umatNya. Beritakanlah injil dan ajarlah mereka menyelaraskan hidup sesuai Firman Tuhan, supaya mereka percaya dan diselamatkan. Gereja yang sehat adalah pentingnya pelayan Tuhan yang dapat menjaga hati dengan segala kewaspadaan untuk dapat melayani dan menggembalakan jemaat yang Tuhan percayakan.
Menafsir Genre Apokaliptik Kitab Daniel Hasahatan Hutahaean
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.689 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v3i1.81

Abstract

The Apocalyptic genre is one genre that is difficult to understand because of its long intricacies and requires accuracy. One reason for the difficulty in interpreting the apocalyptic genre is the use of symbols that are not uncommon for today's readers. The use of symbols is very close to the speaker and, the first reader. The Book of Daniel is identical to the many uses of the symbolic language of the two Apocalyptic genre Books in the Bible. Readers increasingly need to be careful and careful when classifying symbol languages because there are differences in the use of symbols and language of descriptions. This paper was prepared by searching the literature with a qualitative approach. With the support of data from journal articles and cognate books, the research achieved the expected goals. The discussion begins by describing the apocalyptic genre based on literal facts. Then examine the uses of symbols, images, and others and the need for the interpreter's humility when trying to interpret this genre, especially in the use of symbolic language. The results show that many parts can be understood by following the rules of interpretation of the apocalyptic genre in the use of symbolic language. But some parts are precisely still a mystery to the reader as sealing of their meaning.AbstrakGenre Apokaliptik termasuk salah satu genre yang sulit untuk dipahami karena seluk-beluk yang panjang dan memerlukan ketelitian. Salah satu penyebab sulitnya menafsir genre apokaliptik yakni pemakaian simbol-simbol yang tidak lazim bagi pembaca masa kini. Pemakaian simbol-simbol sangat dekat bagi penutur dan pembaca pertamanya. Kitab Daniel identik dengan banyaknya pemakaian bahasa simbol dari dua Kitab genre apokaliptik dalam Alkitab. Pembaca semakin perlu berhati-hati dan teliti ketika mengelompokkan bahasa-bahasa simbol karena terdapat perbedaan penggunaan simbol dan bahasa penggambaran. Tulisan ini disusun dengan penelusuran kepustakaan dengan pendekatan kualitatif. Dengan dukungan data dari artikel jurnal dan buku-buku serumpun maka penelitian mencapai tujuan yang diharapkan. Pembahasan dimulai dengan memaparkan genre apokaliptik berdasar fakta-fakta literal. Kemudian menelisik penggunaan simbol, gambar dan yang lain serta perlunya kerendahan hati penafsir ketika mencoba menafsirkan genre ini khususnya dalam penggunaan bahasa simbol. Hasilnya menunjukkan banyak bagian yang dapat dipahami dengan mengikuti kaidah penafsiran bagi genre apokaliptik dalam pemakaian bahasa simbol. Namun ada bagian-bagian yang justru masih menjadi misteri bagi pembacanya sebagai penyegelan terhadap maknanya.
Sikap Hamba Tuhan terhadap Jemaat yang Mudur dari Pelayanan Kejar Hidup Laia
ILLUMINATE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Baptis Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (492.211 KB) | DOI: 10.54024/illuminate.v3i1.78

Abstract

Becoming God's Servant is a special call from God. God's Servant is the call of the congregation to someone who is considered to have godliness in his faith and actions of daily life. Whereas the word "servant" in Greek doulos, is a slave, it means that the servant is bound. The task of God's Servant has an important role in the growth of the church. In the journey of ministry, it is not always smooth faced by the Lord's servants, there are congregations that are growing spiritually mature and there are also those who withdraw from the ministry even leaving the church looking for another church or pastor. God's servant must be disappointed and even feel like a failure in the ministry. The same thing happened to Jesus when His disciples left Him because of his harsh words in rebuking His disciples. How is the attitude of the servants of God in facing the church who resigned in the service in terms of John 6:60-71. After describing it in the discussion, it was found that Jesus' attitude toward the students was firm and caring and loving the students. So, the attitude of God's Servant to the church who left the ministry is to love, pray for, make as a fellow worker of God not an enemy. Thus, God's servants continue to serve with enthusiasm despite many challenges in the ministry. AbstrakMenjadi Hamba Tuhan merupakan panggilan khusus dari Allah. Hamba Tuhan adalah jemaat panggilan kepada seseorang yang dipandang memiliki kesalehan dalam imannya dan tindakan hidup sehari-hari. Sedangkan kata "hamba" dalam bahasa Yunani doulos, adalah budak, artinya adalah hamba yang terikat. Tugas Hamba Tuhan memiliki peran penting dalam pertumbuhan jemaat. Dalam perjalanan pelayanan yang dihadapi oleh hamba Tuhan tidak selalu mulus, ada jemaat yang semakin dewasa secara rohani dan ada juga jemaat yang mundur dari pelayanan bahkan meninggalkan gereja mencari gereja atau gembala yang lain. Hamba Tuhan pasti kecewa bahkan merasa gagal dalam pelayanan. Hal yang sama dialami oleh Yesus ketika para muridNya meninggalkan Dia karena perkataanya yang keras dalam menegur murid-muridNya. Bagaimana sikap hamba Tuhan dalam menghadapi jemaat yang mundur dalam pelayanan ditinjau dari Yohanes 6:60-71. Setelah diuraikan dalam pembahasan, maka ditemukan sikap Yesus menghadapi para murid yaitu tegas dan peduli serta mengasihi para murid. Jadi, sikap Hamba Tuhan kepada jemaat yang meninggalkan pelayanan adalah mengasihi, mendoakan, menjadikan sebagai kawan sekerja Allah bukan musuh. Dengan demikian hamba Tuhan tetap melayani dengan semangat sekalipun banyak tantangan dalam pelayanan. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5