cover
Contact Name
Ali Mustofa
Contact Email
alimustofa@unesa.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
alimustofa@unesa.ac.id
Editorial Address
The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya T4 Building, 2nd floor Lidah Wetan Campus Surabaya 60213
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Litera Kultura
ISSN : -     EISSN : 23562714     DOI : -
Litera Kultura : Journal of Literary and Cultural Studies accepts articles within the scope of Literature and Cultural Studies. The journal is published three times in a year: April, August, and December.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 5 No 2 (2017)" : 7 Documents clear
Female Subjectivity in Lisa See’s Snow Flower and the Secret Fan
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19168

Abstract

Abstrak Di dalam masyarakat yang menganut sistem patriarki, secara umum, perempuan berada di bawah laki-laki dan memiliki akses dan kebebasan yang terbatas. Mereka tertekan dan dikendalikan. Tekanan yang dialami oleh perempuan membatasi pergerakan mereka, dengan demikian, mereka menunjukkan subjektivitas perempuan. Dalam novel Snow Flower dan Kipas Rahasia, Lisa See mencoba menggambarkan subjektivitas perempuan yang dilakukan oleh karakter perempuan, terutama yang dilakukan Lily dan Snow Flower. Subjektivitas perempuan memungkinkan perempuan untuk berpikir, berbicara, dan bertindak untuk diri mereka sendiri. Penindasan perempuan merupakan faktor mengapa subjektivitas perempuan terjadi; eksploitasi perempuan, marginalisasi perempuan, ketidakberdayaan, dan kekerasan. Sebagai hasil dari subjektivitas perempuan, karakter perempuan menunjukkan aksi perlawanan. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran mengenai subjektivitas perempuan dan faktor yang menyebabkannya. Penelitian ini menggunakan teori post-struktural feminisme, konsep subjektivitas, dan konsep perlawanan. Penelitian ini menunjukkan bahwa subjektivitas perempuan terjadi sebagai cara untuk memperoleh individualitas dan kepribadian. Penyebab subjektivitas perempuan disebabkan oleh penindasan perempuan yang dialami oleh karakter perempuan. Perempuan melakukan perlawanan dalam diam melalui pemberontakan dalam diam dan menulis nu shu yang mana nu shu berfungsi untuk memberi suara kepada para perempuan dan untuk menyimpan dan mencatat pengalaman perempuan. Kata Kunci: post-struktural feminis, subjektivitas perempuan, penindasan, perlawanan Abstract In a society where patriarchal system exists, generally, women are put below men and have limited access and freedom. They are being oppressed and controlled. The oppression limits the women moves, thus, they exhibit what is called as female subjectivity. In the novel Snow Flower and the Secret Fan, Lisa See tried to depict the female subjectivity by the female characters, especially from Lily and Snow Flower. Female subjectivity allows women to be able to think, to speak, and to act for themselves. Women’s oppression is the contributing factor of female subjectivity; women’s exploitation, women’s marginalization, powerlessness, and violence. As a result of female subjectivity, the female characters display the acts of resistance. Therefore, the purpose of this study is to find out the depiction of female subjectivity and the contributing factors to female subjectivity. This study uses post-structural feminism theory, concept of subjectivity, and concept of resistance. Thus, the study showed that the female subjectivity happens as a way to acquire selfhood and personality. The trigger of female subjectivity lies on women’s oppression experienced by the female characters. The women do silence resistance through silent rebellion and nu shu writing as it gives the women voices they need and to keep record of women’s experiences. Keywords:post-structural feminism, female subjectivity, oppression, resistance
The Idea of Gender Oppression Over Man Domination in Tyler Perry’s “For Colored Girls” Movie
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19173

Abstract

ABSTRAK Dominasi adalah suatu aktivitas dari kontrol atau pengaruh terhadap sesuatu atau seseorang yang bersifat dikendalikan dan ketat. Judul dari skripsi ini adalah “THE IDEA OF GENDER OPPRESSIONS OVER MEN DOMINATION IN TYLER PERRY’S “FOR COLORED GIRLS” movie. Penelitian ini memaparkan beberapa isu terkait masalah-masalah domestik yang dialami wanita kulit hitam. Dari status sebagai wanita berkulit hitam menyebabkan tidak mendapatkan respon yang baik di kalangan mereka sendiri sesama kulit hitam. Peran wanita kulit hitam disini adalah kebanyakan sebagai istri atau kekasih yang mempunyai pasangan yang selalu mendominasi mereka. Dominasi yang dilakukan tokoh laki-laki dalam film adalah melakukan tekanan baik secara fisik maupun non-fisik seperti adanya kekerasan dalam sebuah hubungan seksual, pemerkosaan, penyimpangan pernikahan, dan penyimpangan sosial. Penelitian ini diharapkan dapat membantu para pembaca untuk memahami black feminism, serta untuk memberikan keterangan tentang setiap karakter pada tesis ini dalam dominasi yang dilakukan oleh karakter laki-laki terhadap karakter perempuan. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah Black Feminist Thought dari Patricia Hill Collins. Teori ini digunakan untuk memperkuat analisa. Ada pua teori gender oppression dan male dominance yang digunakan sebagai referensi pada penilitian. Di penelitian ditemukan bahwa sejak jaman perbudakan, wanita kulit hitam selalu diremehkan baik di bidang sosial, seksual, ekonomi, dan ras. Teori-teori tersebut membuktikan bahwa wanita berkulit hitam selalu diremehkan dalam banyak aspek seperti sosial, ekonomi, ras, dan seksual. Pada film “For Colored Girl” ditemukan bahwa karakter wanita diperlakukan secara kasar. Secara seksual mereka tertekan, terdiskriminasi, dipermalukan, dan tertindas karena status mereka sebagai kulit hitam. Respon dari wanita kulit hitam terhadap dominasi adalah kebanyakan dari mereka menunjukkan sikap keberanian dengan mencoba memberantas dominasi seperti melaporkan masalah, membangun kekeluargaan, menyingkirkan permasalahan, dan memilih perceraian. Kata Kunci: Dominasi, Black Feminism, Gender Oppression, Male Dominance, For Colored Girls ABSTRACT Domination is one of activity of control or effect over something or someone of being controlled. The title of this thesis is “THE IDEA OF GENDER OPPRESSIONS OVER MEN’S DOMINATION IN TYLER PERRY’S ‘FOR COLORED GIRL’ MOVIE”. This study presents some issues related to domestic problems experienced by black women. As black women, the women characters do not get a good response among their fellow blacks. The roles of the black women in the chosen movie are mostly as wives and lovers. The forms of domination the male characters done are both physical and non-physical pressures such as rape, social deviation, attacks and sexual deviation. This research is expected to help readers to learn about black as well as to provide explanation of the term domination toward female characters. The study applies Patricia Hill Collin’s Black Feminist idea. The theory is used to strengthen the discussion on the domination and both physical and mental abusive actions. There is also oppression in terms of gender and male dominance which can be used as references and also data in the analysis. The analysis shows that since the days of slavery, black women were underestimated socialy, sexualy, economically, and racially. Those above findings approve that black women are indeed always underestimated in many aspects such as social, economical, racial, and sexual. In “ For Colored Girl”, women characters are treated abusively. Black women characters are sexually discriminated, humiliated, and oppressed because of their status as black women. Women’s responses toward the domination show that most of female characters fight against the domination such as making report their problems to the police, setting up family bonding among the women characters, getting over the problems as quick as possible, and then proposing divorce. Key Word: Domination, Black Feminism, Gender Oppression, Male Domination, For Colored Girl
Ecocriticism in Dr. Seuss The Lorax
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19215

Abstract

Abstrak Studi ini menggunakan teori ecocriticism yang menggunakan buku The Ecocriticism Reader karyaCherryl Glotfelty dan juga Harold Fromm. Ecocriticism melihat kerusakan hutan sebagai hasil dari tingkah laku manusia terhadap hutan misalnya: eksploitasi dan colonialisasi. Lawrence Buell mengatakan bahwa kondisi lingkungan itu ditentukan oleh manusia.Tesis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab dan menganalisa dua rumusan masalah, yakni: (1) Bagaimana perusakan lingkungan digambarkan dan (2) Bagaimana kehancuran mempengaruhi karakter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengrusakan hutan ini terjadi karena satu karakter yang bernama Once-ler. Dia melakukan pengrusakan hutan karena dia sedang melakukan bisnis pakaian Thneed yang bahan bakunya diambil dari Pohon yang khas didalam hutan The Lorax,Pohon Truffula kemudian hal ini menyebabkan polusi terhadap air, udara dan tanah. Selain menyebabkan polusi dan pencemaran, kerusakan hutan ini berpengaruh juga terhadap karakter-karakter yang ada di dalamThe Lorax, yakni Once-ler, Lorax, dan Ted. Kata Kunci: Deforestasi, ekokritikisme, sastraanak Abstract This study uses the theory ecocriticism that is in The Ecocriticism Reader edited by CherrylGlotfelty and Harold Fromm. Ecocriticism see the destruction of forests as a result of human behavior on the forest for example: exploitation and colonialization. Lawrence Buell said that the environmental conditions are determined by humans. This thesis uses qualitative descriptive method to answer and to analyze two formulations of the problem, which are: (1) How environmental destruction is described and (2) How does the destruction affecting the character. The results of this study indicate that deforestation happens because a character named Once-ler. He was destroying the forest because he was doing business Thneed clothing with raw materials taken from a typical tree in the forest The Lorax, Truffula Trees. Then this is lead to pollution in environment that are in the air, water, and land. In next, forest destruction is also affect the character in The Lorax, Once-ler, Lorax, and Ted. Once-ler as an antagonist character feel so depressed with destruction because he had lost everything, family, property, and also the beauty of the forest. Ted as a child is a picture of the children who want to know about what happened in the woods and Once-ler expects him to conserve forests. He is also a symbol of the children as the future of the green surroundings. And The Lorax is the guardian of the forest. He had been many times to remind once-ler in preserving the forest and does not damage it. He marked the pollution and destruction to the Once-ler. In the end he was tired because the forest had occurred much damage and decided to disappear behind a cloud and left the Once-ler. Keywords:deforestation, ecocriticism, children literature. Studi ini menggunakan teori ecocriticism yang menggunakan buku The Ecocriticism Reader karyaCherryl Glotfelty dan juga Harold Fromm. Ecocriticism melihat kerusakan hutan sebagai hasil dari tingkah laku manusia terhadap hutan misalnya: eksploitasi dan colonialisasi. Lawrence Buell mengatakan bahwa kondisi lingkungan itu ditentukan oleh manusia.Tesis ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk menjawab dan menganalisa dua rumusan masalah, yakni: (1) Bagaimana perusakan lingkungan digambarkan dan (2) Bagaimana kehancuran mempengaruhi karakter. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pengrusakan hutan ini terjadi karena satu karakter yang bernama Once-ler. Dia melakukan pengrusakan hutan karena dia sedang melakukan bisnis pakaian Thneed yang bahan bakunya diambil dari Pohon yang khas didalam hutan The Lorax,Pohon Truffula kemudian hal ini menyebabkan polusi terhadap air, udara dan tanah. Selain menyebabkan polusi dan pencemaran, kerusakan hutan ini berpengaruh juga terhadap karakter-karakter yang ada di dalamThe Lorax, yakni Once-ler, Lorax, dan Ted.
A Journey through Invisibility in Ralph Ellison’s Invisible Man
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19234

Abstract

Abstract One of the most brilliant novel of all time that brings up racial issue is Invisible Man that was written by Ralph Ellison. It tells a journey of a nameless African-American man from South moving to urban life of Harlem. Through a sense of invisibility that seems to cloak him, he struggle with deception and racism in White dominant society. This study discusses about the invisibility process portrayed in the novel by using Franklin’s concept of invisibility. Moreover, the purpose of this study is to reveal and understand how invisibility is depicted in Invisible Man. This study is a literary research of African-American criticism that is conducted through descriptive qualitative and library research method by using Invisibility Syndrome Paradigm concept. The result of this study shows that through cumulative encounters with prejudice and racism experienced in his journey in Harlem, the protagonist struggles with invisibility for the lack of recognition, lack of satisfaction, lack of validation, lack of respect, lack of dignity toward his presence as equal human beings and eventually it leads to his identity being challenged and lost. After experienced series of unfortunate encounters of racial slights and people’s refusal to acknowledge and consider him as equal, he is rendered invisible in the eyes of the society. Keywords: invisibility, invisibility syndrome paradigm, racial slights, African-American criticism. Abstrak Salah satu dari novel paling brilian sepanjang masa yang mengangkat tentang isu rasial adalah novel Invisible Man yang ditulis oleh Ralph Ellison. Novel ini menceritakan tentang sebuah perjalanan dari seorang pria Afrika-America dari Selatan yang berpindah ke kehidupan kota Harlem. Dengan invisibilitas yang seakan menyelimutinya, dia berjuang melawan tipu-daya and rasisme dalam lingkungan sosial yang mana kaum putih lebih dominan. Penelitian ini membahas tentang proses invisibilitas yang tergambar dalam novel dengan menggunakan konsep invisibilitas milik Franklin. Selanjutnta, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyingkap dan memahami bagaimana invisibilitas digambarkan dalam Invisible Man. Penelitian ini merupakan penelitian kesastraan dari kritik sastra Afrika-Amerika yang dilakukan melalui metode penelitian deskripsi qualitatif dan kepustakaan dengan menggunakan konsep Paradigma Sindrom Invisibilitas . Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa melalui pertemuan kumulatif dengan prasangka dan rasisme yang dialami dalam perjalanannya di Harlem, sang protagonis berjuang melalui invisibilitas ditandai dengan kurangnya pengakuan, penghargaan, validasi, rasa hormat, dan kurangnya martabat terhadap keberadaannya sebagai manusia yang sederajat dan berakibat pada identitasnya yang tergoyah dan hilang. Setelah mengalami banyak kejadian diskriminasi rasial dan juga penolakan masyarakat untuk mengakui dan menganggap dirinya mempunyai derajat yang sama, dia menjadi tidak terlihat di mata masyarakat. Kata Kunci: invisibilitas, paradigma sindrom invisibilitas, diskriminasi rasial, kritik sastra Afrika-Amerika.
IDENTITY EXPLORATION AND IDENTITY CONFUSION IN JAMAICA KINCAID’S LUCY
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19265

Abstract

Abstrak Masa remaja dianggap sebagai masa yang paling sensitif karena merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju masa kedewasaan. Para remaja tidak bisa diungkiri mengalami pencarian jati diri yang mana identitas diri yang sesungguhnya mungkin dibentuk dengan baik atau malah mereka mengalami kebingungan identitas. Ada beberapa faktor yang mendorong seseorang ke dalam kebingungan identitas; dua faktor di antaranya adalah pengalaman pahit pada masa lalu dan eksplorasi diri yang tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan eksplorasi diri yang kurang akan komitmen dan membuktikan bahwa kebingungan identitas terjadi karena eksplorasi yang tidak terkendali. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan deskriptif dan analisis yang dikembangkan berdasarkan teori-teori dan interpretasi pribadi. Novel pendek karya Jamaica Kincaid, Lucy, merupakan data dari penelitian ini yang mana kebingungan identitas yang dihadapi oleh karakter utama menjadi subjek penelitian. Penelitian ini menerapkan teori-teori Erik H. Erikson, yakni eksplorasi identitas dan tingkatan psikososial perkembangan identitas, untuk menjawab masalah-masalah dalam penelitian. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa kebingungan identitas dialami oleh Lucy sebagai hasil dari eksplorasi dirinya yang rendah akan komitmen. Lucy dianggap sebagai penjelajah yang aktif, namun dia tidak aktif dalam membuat komitmen. Kata Kunci: eksplorasi identitas, kebingungan identitas, perkembangan psikososial Abstract Adolescence is assumed as the most sensitive period because it is the transition period from childhood to adulthood. Adolescents undeniably experience search of identity which the real identity may be successfully formed, or even they may experience identity confusion. There are several factors which drive someone into identity confusion; two of those factors are bitter past experience and uncontrollable exploration. This study is aimed to depict low commitmen exploration and prove that identity confusion happens because of uncontrollable exploration. This qualitative study uses descriptive and analytical approach which is develoed based on the theories and personal interpretation. Jamaica Kincaid’s novella, Lucy, is the data of this study in which the protagonist character’s identity confusion becomes the subject. This study applies Erik H. Erikson’s theories, identity exploration and psychosocial development stages, to answer the research problems. The result of this study is that identity confusion is experienced by Lucy as the outcome of her low commitment exploration. Lucy is considered as an active explorer, however she is inactive in making commitment. Keywords: identity exploration, identity confusion, psychosocial development
REVEALING ALIF’S NEED OF ACHIEVEMENT IN AHMAD FUADI’S THE LAND OF FIVE TOWERS
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19266

Abstract

ABSTRACT The Need of the achievement is one of the goals of which can be done by anyone in the scope of the social life of the community. This research focused on the need of achievements Alif against the Land of Five Towers, a foreigner that has the purpose of studying in Madani Pesantren Gontor Ponorogo. This describes how Alif pursues to fulfill his desire in the Land of Five Towers. The purpose of this research is to know the steps that will be in completed by Alif to reach achievements which he wants in the land of Five Towers and know what factors that support the idea. This research uses Achievement thery (need of achievement), as well as the use of n-Ach approach. In addition the study use qualitative methods to analyze the problem, so that they can know the high desire of a main figure which is induced by several factors such as doubt because of limited knowledge of religion, impose discipline habit time, learning to build a family with each other, adapt to the new conditions, independent learning and etc. Therefore, the need of achievements of the author contributing effect on the illustration that has occurred in Madani Pesantren Gontor Ponorogo. Keyword: Need, Achievement, Madani Pesantren ABSTRAK Pencapaian prestasi adalah salah satu tujuan yang bisa dilakukan oleh siapa saja dalam lingkup kehidupan sosial di masyarakat. Penelitian ini difokuskan pada pencapaian prestasi Alif terhadap novel Negeri 5 Menara, seorang pendatang yang mempunyai tujuan menuntut ilmu di Madani Pesantren Gontor Ponorogo. Hal ini mendeskripsikan bagaimana usaha Alif untuk memenuhi keinginannya di dalam novel Negeri 5 Menara. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui langkah-langkah yang akan di lakukan Alif untuk mencapai prestasi yang dia inginkan di dalam Negeri 5 Menara serta mengetahui faktor apa saja yang mendukung gagasan tersebut. Penelitian ini menggunakan konsep Achievement (Pencapaian prestasi), serta menggunakan pendekatan n-Ach. Selain itu penulis juga menggunakan metode kualitatif untuk menganalisis masalah, sehingga dapat di ketahui keinginan seorang tokoh utama yang sangat kuat di sebabkan oleh beberapa faktor seperti keraguan karena keterbatasan ilmu agama, memaksakan kebiasaan disiplin waktu, belajar membangun kekeluargaan dengan sesama, beradaptasi dengan kondisi yang baru, belajar mandiri dan lain sebagainya. Oleh sebab itu, pencapaian prestasi pengarang menyebabkan pengaruh terhadap gambaran yang telah terjadi di pondok madani Gontor Ponorogo. Kata Kunci: Kebutuhan, Prestasi, Madani Pesantren
Jay Gatsby’s Hedonism in F. Scott Fitzgerald’s The Great Gatsby
LITERA KULTURA : Journal of Literary and Cultural Studies Vol 5 No 2 (2017)
Publisher : The English Department, Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/lk.v5i2.19371

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menujukkan gambaran hedonisme pada karakter Jay Gatsby dan menunjukkan gambaran kegagalan pada impian orang Amerika. Analisa didasarkan pada hasil penelitian perpustakaan dan pendekatan deskriptif bersamaan dengan data dalam bentuk kata-kata, dialog, ucapan, dan ekspresi yang ada dalam novel. Masalah yang pertamakali diungkap adalah gambaran hedonisme pada Jay Gatsby berdasarkan pada konsep hedonisme Epicureanisme yang dibagi menjadi beberapa tipe hedonism termasuk hedonisme etik, hedonisme psikologis, hedonisme egois, dan hedonisme altruistis. Perumusan masalah disusun karena Jay Gatsby sebagai protagonis utama dalam novel, yang mana menjadi pusat konflik dan komplikasi yang terjadi dalam cerita. Berkembang dibawah bawah masyarakat, Gatsby memimpikan impian orang Amerika, mimpi yang mana dia berpmimpi untuk menjadi oranag yang sukses dan hidup bahagia. Untuk mencapai mimpinya Gatsby bekerja keras, namun saat bertemu dengan Daisy, anak dari kelas sosial atas, konspesi mimpi orang Amerika dia berubah. Gatsby tidak lagi mau bekerja keras sebab Daisy menjadi jalan pintas untuk mencapai impiannya. Gatsby dengan cerobohnya mengikuti hasratnya untuk mendapatkan Daisy dan meninggalkan nilai-nilai moral sebab dia hanya menghargai kepemilikan barang dan uang. Hedonisme membawa pada gaya hidup konsumerisme yang menggambarkan kegagalan pada impian orang Amerika yang akan diungkap pada pembahasan permasalahan kedua dalam penelitian menggunakan susunan deskriptif dari sikap Jay Gatsbyterhadap impian orang Amerika miliknya. Kata Kunci : Hedonisme, Epicureanisme, kenikmatan, Impian orang Amerika Abstract This study proposes the depiction of hedonism through the character of Jay Gatsby and show the depiction of The Failure of American Dream. The analyzing of these ideas is based on the library research and descriptive approach, along with the taken data in the form of words, dialogues, phrases and expression showed in the novel. The first problem revealed is the portrayal of Jay Gatsby’s hedonism according to Epicureanism’ concept of hedonism that further divided into several types of hedonism that includes ethical hedonism, psychological hedonism, egoist hedonism, and altruistic hedonism. Such formulation is compiled because Jay Gatsby is the main protagonist within the novel, who is centered by all the conflict and complication of happenings in the story. Develops under the influence of the society, Gatsby dreams the dream of American dream, and that dream is to become a successful person and live happily. To achieve his dream Gatsby has to work hard. But since his meeting with Daisy, the daughter of high class society, his conception of American dream changes. Gatsby is no longer willing to work hard since Daisy has become his shortcut to gain his dream. Gatsby recklessly follow his desire to get Daisy and abandon the moral value since he only values the material possession and money. The hedonism that leads into consumerism lifestyle has reflected the failure of the American Dream in which will be revealed as the second problem of the study by using the descriptive framework of Gatsby’s attitude toward his American Dream. Key Words: Hedonism, Epicureanism, Pleasure, American Dream

Page 1 of 1 | Total Record : 7