cover
Contact Name
gempur sentosa
Contact Email
pepep.dw@gmail.com
Phone
+6281931254247
Journal Mail Official
jurnal.paraguna@isbi.ac.id
Editorial Address
Program Studi Seni Karawitan - Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung Jl. Buah Batu No. 212 Bandung 40265, Telp. (022)-7314982, 7315435; Fax. (022) – 7303021
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
PARAGUNA : Jurnal Ilmiah Pengetahuan, Pemikiran dan Kajian Tentang Seni Karawitan
ISSN : 24076716     EISSN : 28284240     DOI : 10.26742/para
Jurnal Paraguna merupakan jurnal di lingkungan Jurusan Karawitan, Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung, yang mengedepankan pelestarian, pengelolaan dan pengembangan potensi seni, serta budaya dan kearifan lokal nusantara yang berdaya saing dalam percaturan global. Karawitan secara khusus dapat diartikan sebagai seni musik tradisional yang terdapat di seluruh wilayah etnik Indonesia. Khususnya di Pulau Jawa, Madura dan Bali. Dalam hal ini, jurusan karawitan ISBI Bandung menjadikan kebudayan Sunda sebagai kekhususan etnis yang dimaksud.
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN" : 7 Documents clear
Sosok Koruptor Pada Lirik Lagu "Beurit" Karya Doel Sumbang Bunga Dessri Nur Ghaliyah
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.1842

Abstract

ABSTRAKDoel Sumbang merupakan penyanyi sekaligus pencipta lagu yang eksentrik. Ia dikenal sebagai seniman yang memiliki hobi menyuarakan kritik sosial. Melalui lirik (sastra) lagu, ia seringkali menyiratkan nilai dan makna mendalam tentang keadilan dan kesejahteraan sosial.  Salah satu karyanya adalah lagu berjudul Beurit yakni lagu yang menceritakan sosok koruptor. Dalam hal ini, data-data didapatkan melalui koleksi lagu, studi literatur serta mengamati pandangan-pandangan Doel Sumbang melalui internet. Kemudian, untuk mengetahui struktur puisi, aspek semiotik termasuk nilai dan makna lirik lagu Beurit, analisis akan dilakukan dengan menggunakan kajian struktural-semiotik Charles Sander Pierce yakni mengenai ikon, indeks dan simbol. Melalui analisis tersebut, nilai dan makna lirik lagu Beurit dapat diketahui yakni kritik terhadap para pejabat yang melakukan tindakan tidak terpuji dan merugikan bangsa dan negara yakni Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Kata Kunci : Doel Sumbang, Beurit, Struktural-Semiotik Pierce. ABSTRACKDoel Sumbang is an eccentric singer and songwriter. He is known as an artist who has a hobby of voicing social criticism. Through song lyrics, he often implies deep values and meanings about justice and social welfare. One of his works is a song called Beurit, which is a song that tells the story of a corruptor. In this case, the data were obtained through song collections, literature studies and observing Doel Sumbang's views via the internet. Then, to find out the structure of the poem, the semiotic aspects including the value and meaning of Beurit's song lyrics, the analysis will be carried out using a structural-semiotic study of Charles Sander Pierce, namely icons, indexes and symbols. Through this analysis, the value and meaning of Beurit's song lyrics can be identified, namely criticism of officials who carry out disgraceful actions and harm the nation and state, namely Corruption, Collusion and Nepotism (KKN). Keywords: Doel Sumbang, Beurit, Semiotic-Structural.
REBAB DALAM CELEMPUNGAN: FUNGSI, MAKNA DAN TEKNIK Euis Karmila
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2411

Abstract

DAMPAK MEDIA SOSIAL DALAM FENOMENA NYAMBAT OLEH WIRASWARA (ALOK) SUNDA PADA KILININGAN WAYANG GOLEK Meilani, Dewi Wulan
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2175

Abstract

The presence of social media as a communication tool for people in urban and rural areas has an impact on traditional culture in Indonesia. There is an interesting phenomenon about traditional music in the commercial sphere in the West Java community in particular. This phenomenon is commonly referred to as nyambat. The emergence of this phenomenon usually occurs in arts that invite large audiences, such as wayang golek and kiliningan. Interestingly, this phenomenon can be a selling point for an entrepreneur or alok. This study uses a qualitative method with a number of data obtained through observation, interviews and documentation techniques with an ethnographic approach. Through this article, researchers will discuss the phenomenon of nyambat wiraswara in wayang golek performances, kiliningan and the impact of social media on this phenomenon.
Es Lilin Mursih dan Fenomena Anonim Lagu Sunda Wiradiredja, Yusuf
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2138

Abstract

Adjip Rosidi dalam bukunya yang berjudul Tembang Jeung Kawih (2013), memaparkan 61 buah judul yang dikategorikan sebagai tembang, dari 61 judul tersebut 35 di antaranya dicatat sebagai NN (anonim). Apa yang melatarbelakangi banyaknya NN dalam tradisi musik di Sunda? Padahal, sebagaimana dalam hasil penelitian yang dilakukan oleh Herdini (2014), bahwa setiap karya yang merepresentasikan zaman, kreator merupakan unsur yang tidak bisa dipisahkan dalam merepresentasikan pembabakan kreatifitas musikal.[1] Dari pembabakan zaman tersebut, maka muncullah nama-nama seperti; Mang Koko di era pertengahan abad ke 20, hingga Ismet Ruchimat bersama Samba Sunda di era mutakhir.Fakta yang ditunjukkan Rosidi (2014) terkait banyaknya karya musik Sunda yang tanpa pencipta, bisa ditemukan tidak hanya untuk lagu-lagu yang dikenal dikalangan tertentu secara terbatas saja, melainkan juga untuk lagu-lagu yang sudah populer di pentas nasional hingga internasional. Sebut saja lagu es lilin, di mana lagu tersebut selain sudah dikenal luas di lingkungan masyarakat Sunda dan Jawa Barat, secara nasional juga telah dikenal sebagai identitias musik Sunda, dan tak jarang sudah banyak dipentaskan dalam mewakili Indonesia di pentas dunia.Namun demikian, kenyataan popularitas lagu-nya berbanding terbalik dengan sosok penciptanya yang hingga kini tidak diketahui secara umum.Mengetahui siapa pencipta lagu di antara fenomena NN, tidak hanya penting dalam menemukan empu-nya lagu, tetapi dalam konteks masa kini juga penting untuk mengisi semangat riset akademik yang masih dianggap belum tersentuh. Dalam batas peristiwa NN dan sosok pencipta lagu es lilin itulah tulisan ini memfokuskan diri.
R.H Tjetjep Supriadi Dalang Kondang dari Karawang Asep Wadi; Arthur Supardan Nalan; Suhendi Afryanto
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2099

Abstract

Identitas R.H Tjetjep Supriadi dalam dunia padalangan sangatlah jelas adanya pada tahun 1975 sampai 1990an, dengan membawa nama group Nya yakni Panca Komara, dan diperkuat juga oleh istrinya yaitu H Idjah Hadidjah yakni juara Sinden Jawa Barat tahun 1980. R.H Tjetjep Supriadi adalah sosok yang benar-benar tekun dalam membuat naskah kakawen atau nyandra dan cerita-cerita wayang, hal tersebut ditunjang dari background kebiasaannya yakni seorang guru dan melek akan ilmu pengetahuan yang terus update. Puncaknya karir R.H Tjetjep Supriadi yakni pada rilis nya lakon Nurkala Kalidasa yang mengusung tema kemanusiaan, lakon tersebut sangat di gandrungi para penggemar Wayang Golek pada saat itu, karena rata-rata orang mengenal R.H Tjetjep Supriadi karena Haleuang-nya. Teori yang digunakan oleh penulis yakni Teori Identitas dari James P Burke dengan menggunakan Metode Sejarah, adapun Teori Penguat yakni Teori Agen Perubahan/Agent Of Change. Karena peran R.H Tjetjep Supriadi dalam dunia padalangan sangatlah besar, dari mulai karya-karyanya yang mampu membuat ideologis dalam pakeliran pada tahun 1975 sampai 1990. Pada tahun 2010 R.H Tjetjep Supriadi telah merancang program untuk dunia Padalangan sampai pada tahun 2030, hal tersebut bisa dibuktikan pada tulisan proposal nya yang berjudul pengembangan ilmu padalangan nasional dari tahun 2010 sampai 2030.Kata Kunci : R.H Tjetjep Supriadi, Panca Komara, Identitas.
KOMPARASI SÉNGGOL SEKAR KAPASINDÉNAN CUCU S. SETIAWATI, YOYOH SETIA ASIH, DAN NENI HAYATI Rina Dewi Anggana
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2295

Abstract

This paper reveals one of the phenomena that exist in the sekar kapasindénan, related to the characteristics of the freedom of the pasindén (singer) in interpreting a song. This freedom causes a variety of interpretations from one singer to another when presenting the same song. To see the diversity, this article was compiled by comparing the sénggol of Cucu S. Setiawati, Yoyoh Setia Asih, and Neni Hayati in presenting the sekar kapasindénan from type of lagu jadi entitled Tablo and type of lagu jalan entitled Sinyur, through qualitative research methods and musical approach. Through the stage of transcribing the form of sénggol as well as analyzing aspects of melody, vocal technique, and the potential for better sound ambitus of each singer in presenting these songs, then it can be said that the three singers seem to be developing, but the main melodic flow in the lagu jadi as well as the standard kenongan and goongan tones in this type of song still feels the same, so it doesn't change the identity of the song. In the presentation of the two types of songs, Cucu S. Setiawati looks consistent in starting the melody of the song on the first beat of the second bar, different from the two comparisons pasindén who tend to start singing the melody early, namely entering the first bar region, this affects the rhythm space used will be narrower, so that the number of notes, note values, and legato values used is not more than the comparison, however, it turns out that the legato and barrel values that she used are more varied. In addition, when facing the tone of kenongan and goongan she wears a certain sénggol which is different and distinctive. In terms of vocal technique, there are several masieup sora techniques that are equally used by those three singers, but there are also some techniques that are only used by one of the three, and based on observations, it was Yoyoh Setiaasih who used reureues the most. Then it can be concluded that it turns out that the voice of the ambitus of Neni Hayati is not wider than that of Yoyoh Setia Asih and Grandson S. Setiawati.
Proses Pembuatan Gamelan Awi Karya Mang Dedi Kab. Sumedang Koncara, Braja Musti
Paraguna Vol 9, No 1 (2022): TAFSIR-TAFSIR KARAWITAN
Publisher : LP2M ISBI Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26742/paraguna.v9i1.2153

Abstract

Gamelan Awi is a traditional musical instrument from Sundanese which is the result of an adaptation of a metal-based gamelan. Mang Dedi is one of the bamboo gamelan craftsmen with a form that adapts other Sundanese bamboo musical instruments. In this innovation, Mang Dedi managed to make a gamelan at a low price, this has the potential to preserve bronze gamelan which is rarely found and even very few people have it.

Page 1 of 1 | Total Record : 7