cover
Contact Name
Semy Arayunedya
Contact Email
semyarayunedya@rcrs.org
Phone
+6282291783307
Journal Mail Official
jurnal@sttrii.ac.id
Editorial Address
Reformed Millennium Center Indonesia Jl. Industri Blok B14 Kav. 1 Jakarta Pusat, 10720
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Verbum Christi
ISSN : 23556374     EISSN : 27456668     DOI : https://doi.org/10.33550/sd.v8i2.244
Jurnal ini berfokus pada studi-studi dalam teologi Reformed antara lain studi biblika, sistematika, historis, apologetika, filosofis, etika, praktika dan penginjilan.
Articles 270 Documents
QUANTUM INDETERMINACY AND THE SOVEREIGNTY OF GOD Tong, David
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 1 No 1 (2014): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc1.1.2014.art6

Abstract

Pada akhir abad ke-18, paradigma fisika Newtonian dinilai mendukung wawasan materialisme dan determinisme. Konsep akan Allah yang deistik dinilai sebagai suatu alternative pemikiran rasional dari konsep akan Allah yang tradisional. Akan tetapi, keyakinan akan paradigma fisika Newtonian, beserta implikasi filosofis dan teologisnya, telah tersisihkan dengan munculnya paradigma baru fisika kuantum pada permulaan abad ke-20. Ketidakpastian Kuantum dilihat oleh sebagian pihak sebagai sekutu mereka untuk membawa kembali hal-hal yang bersifat supra-natural dan immaterial ke dunia ini. Akan tetapi, paradigma fisika yang baru ini sekaligus datang dengan tantangan-tantangannya sendiri; sebagian pihak telah menemukan sokongan ilmiah di dalam paradigma fisika yang baru ini terhadap wawasan Molinisme dan Teisme yang terbuka. Kedua wawasan akan Allah ini memberikan batasan akan kedaulatan Allah sehingga menyepelekan gambaran Allah yang alkitabiah. Komitmen kita kepada kemutlakan kedaulatan Allah akan setiap detil dari dunia yang Ia ciptakan dan kepada perbedaan antara Pencipta-ciptaan, telah memberikan suatu jalan keluar bagi kita untuk mengerti ketidakpastian kuantum.?
SIGNIFIKANSI APOLOGETIKA TRINITARIAN CORNELIUS VAN TIL DALAM MENGHADAPI GERAKAN ZAMAN BARU Subeno, Sutjipto
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 1 No 1 (2014): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc1.1.2014.art7

Abstract

The Challenge of the New Age Movement toward Christian Faith is becoming more difficult in early XXI Century, especially in Indonesia which based on Eastern Culture. Eastern culture, with its mystical nuance, is a very fertile field for New Age Movement. With the rapid growth of Charismatic movement, the challenge toward true Gospel is getting worse. On the other hand, Cornelius Van Til built his apologetics for defending Christian Faith from its dilutions. Apologetics is not a tool or an armor to kill others, nor to humiliate other religions or philosophies, but it is meant to bring people to know the True God and be saved. This paper tries to show the significance of Van Til?s approach on apologetics which is Trinitarian in essence toward the influence of New Age Movement in Christian society. The purpose is to let people, especially Christians, know the True Trinitarian God, instead of Eastern mystical or Pantheistic God of the New Age.?
CALVINISME DAN HAK ASASI MANUSIA Un, Antonius
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 1 No 1 (2014): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc1.1.2014.art8

Abstract

Calvinism, as initiated by John Calvin, developed by subsequent theologians and expressed in many Confessions and Catechisms, turns out to contain a notion which correlates with the conception of human rights. The intended human rights is the notion that is written in some legal-juridist documents including the Universal Declaration of Human Rights. Viewed historically, though the Bible does not discuss the human rights explicitly and positively, however since the Reformation period to the declaration of the US Independent with its Calvinistic nuance, there has been a growth in human rights articulation becoming more explicit and positive. Viewed theologically, Calvinist doctrines such as the sovereignty of God, the image of God and Common Grace, turn out to have logical implications to the notion of human rights.?
GLORIA DEI AS A KEY TO UNDERSTAND CALVIN'S DOCTRINE OF PREDESTINATION Kristanto, Billy
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 1 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.1.2015.art1

Abstract

This article analyses the doctrine of predestination in Calvin's thought and offers an alternative to understand it from the perspective of the glory of God. With historical and systematic theological argumentations, the writer offers a key thought for understanding the complexity of Calvin's doctrine of predestination. The idea of the glory of God can serve as a key to understand the doctrine.?
THE APOSTOLIC DECREE AND OUR MEAT MENU: READING ACTS 15 IN REDEMPTIVE- HISTORICAL PERSPECTIVE van Houwelingen, P.H.R.
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 1 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.1.2015.art2

Abstract

The decision of the Jerusalem Council concerning Gentile believers - that they had to abstain, among other things, from meat with blood still in it and from sexual immorality - was officially recorded in order to be obeyed in the early Christian communities (Acts 15). It is echoed in Paul's letters, because this apostolic instruction was intended for non-Jewish believers like us. The prescription from Jerusalem was by no means incidental, it is rooted in basic principles of created life, and it was generally observed during the first centuries. Yet, most Christians today no longer feelbound bythis biblical rule and have no problem with eating blood pudding or rare steak. The purpose of this article is to explain why, in the course of time, the Apostolic Decree was considered to have become obsolete. In a church with an increasing number of Gentile Christians, the redemptive-historical necessity of the decree had ceased to exist.
KREDIBILITAS & KONTRIBUSI INJIL KEEMPAT TERHADAP STUDI YESUS SEJARAH Santoso, Audy
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 1 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.1.2015.art3

Abstract

Para ahli Yesus Sejarah secara umum hanya menerima injil Sinoptik dan menolak kredibilitas Injil Keempat menjadi sumber mereka. Hal ini mengakibatkan munculnya presentasi yang cacat akan gambaran Yesus Sejarah dalam setiap fase perkembangannya. Pencarian ketiga dari Yesus Sejarah, misalnya seperti yang dikerjakan oleh E. P. Sanders, berusaha mengoreksi gambaran yang cacat ini dari pencarian-pencarian sebelumnya. Tapi upayanya kembali gagal melampaui palang representasi Yesus Sejarah yang sejati disebabkan pandangannya yang skeptis terhadap injil keempat. Di artikel ini, bukti-bukti ekstrinsik dan intrinsik dipaparkan untuk menunjukkan kredibilitas akan Injil Keempat. Lalu, setelah menunjukkan kekurangan dari pencarian-pencarian yang sebelumnya, beberapa catatan akan kontribusi positif diberikan melalui Injil keempat sehingga Yesus Sejarah yang sejati dapat dimunculkan.
PANDANGAN ESKATOLOGI INJIL MATIUS 27:51-54 Kawira, Jack
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 1 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.1.2015.art4

Abstract

Matius 27:51-54 memberitahukan kepada kita beberapa peristiwa luar biasa yang terjadi ketika Yesus mati di atas kayu salib. Beberapa teolog mengatakan bahwa kita tidak dapat melihat peristiwa- peristiwa yang dicatat di dalam perikop tersebut benar-benar terjadi secara literal melainkan hanya sebagai konsep teologis yang dinyatakan di dalam peristiwa. Mereka mengatakan karena Matius sebenarnya telah dipengaruhi oleh budaya Helenistik yang kemudian menggunakan perangkat puisi Helenistik untuk menekankan bahwa Raja yang besar telah mati. Tetapi tentu saja pengertian semacam ini akan sangat menjadi ancaman bagi iman Kristen, khususnya mengenai kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus sebagai peristiwa yang terjadi secara literal. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk mengerti bagian tersebut sebagai peristiwa yang terjadi secara literal. Kemudian kita akan melihat signifikansi kuasa kematian Tuhan Yesus Kristus yang bahkan memicu kebangkitan dari para orang kudus dan disisi lain bagian ini menjadi fitur baru yang dibawa oleh Matius ke dalam tradisi Sinoptik.
PENDASARAN TEOLOGIS BAGI PEMIKIRAN POLITIK JOHN CALVIN Un, Antonius
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 1 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.1.2015.art5

Abstract

Sebagai seorang teolog, John Calvin mendasarkan pemikiran politiknya atas doktrin-doktrin teologis. Dalam kajian terhadap pemikiran politiknya, paling tidak dalam bagian pemerintahan aristokratis-demokratis, terlihat Calvin mengasumsikan sejumlah doktrin penting yakni doktrin Alkitab, doktrin kedaulatan Allah dan doktrin dosa. Ketiga doktrin ini memberi pengaruh paling tidak, bagi eksistensi pemerintahan, pentingnya hukum, dan kepemimpinan plural.
TEOLOGI PUBLIK STANLEY HAUERWAS DAN PENERAPANNYA DALAM KONTEKS DI INDONESIA Bangun, Calvin
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 1 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.1.2015.art6

Abstract

Orang Kristen tidak dapat melarikan diri dari masyarakat sehingga teologi publik dibutuhkan oleh orang Kristen untuk berkontribusi kepada masyarakat. Pada satu aspek, teologi publik harus relevan dengan masyarakat tetapi di aspek yang lain harus dapat menunjukkan identitasnya. Terdapat banyak jenis teologi publik dan salah satunya diusulkan oleh Stanley Hauerwas. Hauerwas mengajukan sebuah model teologi publik yang berdasarkan komunitas dan narasi sehingga kontribusi orang Kristen tidak kehilangan identitasnya demi mendapatkan relevansi publik. Teologi publik Hauerwas menekankan peran gereja dalam teologi pubik. Sekalipun model ini didasarkan pada konteks Amerika Serikat tetapi dapat memberikan masukan yang bermanfaat dalam berteologi publik di Indonesia.
PERAYAAN SABAT MENURUT JOHN CALVIN Tirtanadi, Rendy
Verbum Christi: Jurnal Teologi Reformed Injili Vol 2 No 2 (2015): Verbum Christi
Publisher : STT Reformed Injili Internasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51688/vc2.2.2015.art1

Abstract

Ada banyak interpretasi tentang perayaan Sabat, oleh karena itu agar dapat menangkap keseriusan atas perintah untuk menjalankan Sabat ini diperlukan suatu konsep pemahaman yang komprehensif. John Calvin yang dikenal sebagai seorang pemikir yang sistematis dan teolog yang seksama sekaligus praktis patut mendapat perhatian kita. Demi memahami konsep Sabatnya, Calvin menuliskan tema Sabat dalam berbagai tulisannya, baik dalam tafsiran, Institutes, katekismus, dan khotbah-nya. Dengan demikian, kita akan memperoleh suatu konsep Sabat yang Alkitabiah dari kitab Perjanjian Lama dan Baru, tanpa harus berkompromi dengan konteks zaman saat Calvin hidup.