cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 7 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994" : 7 Documents clear
Dampak Kegiatan Industri Pengolahan Karet Rakyat Terhadap Mutu Air Sungai Enim , Sumatera Selatan I N. N Suryadiputra; J Edi Sebayang; Niken TM Pratiwi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Keberadaan industri PT. Lingga Djaya yang mengolah bahan olah karet rakyat menjadi produk 'crumb rubber'(SIR 20) ternyata telah menimbulkan masalah pencemaran air. Sisteminstalasi pengolahan air Iimbah (IP AL) yang dimiliki perusahaan ini sangat sederhana sehingga tidak mampu memperbaiki mutu air limbahnya ke tingkat ambang batas yang diijinkan pemerintah. Air buangan perusahaan, ini bersifat anoksik dan kandungan bahan organik serta ammonianya tinggi. Namun demikian, posisi perusahaan yang berdekatan dengan sungai Enim yang debit airnya sangat besar (1.334.016 m3/hari) menyebabkan air buangan industri ini mengalami pengenceran yang sangat besar (541Ox) sehingga pengaruhnyaterhadap kualitas air sungai Enim menjadi sangat kecil.Kata-kata kunci: air Iimbah pengolahan karet, instalasi pengolahan air limbah.
Penyebaran Padatan Tersuspensi dan Perubahan Bentuk Pantai di Muara Sungai Cimandiri , Teluk Pelabuhan Ratu , Di Tinjau Dari Citra Penginderaan Jauh Firya A.A Kartahadimadja; John L Pariwono
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu studi mengenai penyebaran padatan tersuspensi dan perubahan bentuk pantai di muara sungai Cimandiri, teluk Pelabuhan Ratu telah dilakukan dengan memanfaatkan datapenginderaan jauh LANDSAT MSS dan data lapangan. Hasil studi menunjukkan bahwa sungai Cimandiri merupakan sumber utama padatan tersuspensi di perairan tersebut. Pada bulan Desember 1992, kandungan padatan tersuspensi yang dibawa oleh sungai tersebut mencapai sekitar 400 ppm. Mulut muara sungai Cimandiri mengalami perubahan bentuk, yaitu pada bagian utara dari muara bertambah panjang ke arah selatan pada tahun 1987 dibandingkan dengan pada tahun 1982. Variasi musiman dari luas daerah bagian utara muara sungai (daerah Citarik) bertimbal balik dengan bagian selatan muara (daerah Loji). Faktor yang mempengaruhi luas dari kedua daerah ini adalah sedimentasi / erosi yang menyebabkan perbedaan luas berkisar antara 400 sampai 900 ribu m2.Kata-kata kunci: muara sungai, padatan tersuspensi, sungai Cimandiri, sedimenmsi, erosi,Penginderaan jauh,citra LANDSAT MSS.
Satellite Observed Gulf Stream Meanders and Their Effect on Watermass Movements in Coastal Water off North Carolina , USA Setyo Budl Susilo
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Gerakan oceanic frOllt telah sejak lama diduga sebagai suatu fenomena oseanografi fisik yang penting bagi proses-proses biologis di laut. Pergerakan front tersebut diyakini mencerminkan adanya pergerakan massa air laut. Oleh karena itu pergerakan front sangat penting untuk mempelajari proses transportasi partikel di laut terlllasuk transportasi telur larva ikan. Penelitian mengenai pergerakan massa air akibat hembusan angin telah banyak dilakukan. Namun demikian pengaruh arus panas Gulf Stream terhadap fenomena tersebutbelum diteliti secara serius. Penelitian ini ditujukan untuk memperlihatkan pengaruh Gulf Stream terhadap pergerakan front yang dideteksi melaui citra satelit. Pergerakan front di laut dapat dideteksi melalui citra suhu perrmmukaan laut mengingat didaerah front ini terjadi gradien suhu yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lainnya. Dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa pergerakan front (gerakan offshore-ol ore) di pantai North Carolina, Amerika Serikal, diakibatkan oleh gerakan berbelok-beloknya arus panas Gulf Stream dan fenomena terbentuknya filamen atau bentukan lidah (tonguelike structure) dari Gulf Stream . Pergerakan ini kelihatannya merupakan proses oseanografi yang paling penting mempengaruhi kelangsungan hidup larva ikan di pantai timur-Iaut Amerika Serikat.Kata-kata kunci : satelit, oceanic front, Gulf Stream, pantai, pergerakan massa air, transpor-tasi larva ikan ,estuarine -dependent fish.
Laju Pertumbuhan dan Mutu Rumput Laut Eucheuma alvarezii(Doty) yang ditanam pada Sistem Monoline dan Multilines Lepas Dasar di Perairan Pantai Geger, Nusa Dua , Bali Srita Budiana Purba; Nyoman S Nuitja; H M Eidman
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian terhadap laju pertumbuhan dan mutu rumput laut Eucheuma alvarezii (Doty) yang ditanam dengan sistem yang bertJeda telah dilakukan di perairan pantai Geger, Nusa Dua, Bali, untuk melihat kemungkinan diperolehnya hasil panen yang lebih tinggi dan efisiensi lahan. Metode yang digunakan adalah sistem mollOline dan multilines lepas dasar dengan kombinasi ketinggian penahanan dari dasar perairan sebesar 25 cm, 50 cm, dan 75 aD. Laju pertumbuhan dan mutu Eucheuma alvarezi; seJama 7 minggu pada sistem monoline dan multilines cukup baik dan kualitasnya memenuhi standar ekspor. Laju pertumbuhan rata-rata berkisar an tara 0,286 - 0,526% per minggu atau 4,08 - 7,59 % per hari , rendemen karaginan rumput laut kering antara 25,83 - 37,~9%, CAW sebesar 34,20 - 45,75%, kadar air 15 - 22,20% dan CAY sebesar 64,60 -85,96%. Laju pertumbuhan Eucheuma alvarezii pada sistem multilines tidak berbeda nyata dengan yang ditanam pada siste monoline, pada ketinggian penanaman yang sarna. Karena itu disarankan menggunakan sistem multilines lepas dasar agar hasil panen Eucheuma alvarezii lebih tinggi dengan laju pertumbuhan dan mutu yang baik .Kata-kata kunci : sistem monoline lepas dasar, sistem multilines lepas dasar  CAW (CleanAnhydrous Weed); CAY (Clean Anhydrous Yield); rendemen karaginan.
Pengaruh Hormon Ekdison Terhadap Molting Pada Larva Udang Windu , Penaeus monodon Fab. Ridwan Affandi; Etty Riani; Agus Salim
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh hormon ekdison terhadap molting pada larva udang windu, Penaeus monodon Fab. telah dilaksanakan di Laboratorium PSIK - IPB Anool-Jakarta. Pada peroobaan tersebut larva udang, PL-30 dipelihara di akuarium dan diberi pakan yang mengandung harmon ekdison murni selama 35 hari percobaan. Hasil percobaan menunjukkan bahwa udang yang diberi pakan yang mengandung harmon 200 ng/g pakan memberikan frekuensi molting yang tertinggi (4,61 kali) dan periode waktu antar molting yang tersingkat (145 jam).Kata-kata kunci : ekdison, molting, larva.
Oxygen Consumption and Temperature Dependency During The Early Growth Period of Convict -Cichlid (Cichlasoma nigrofasciatum) Lucia Fidhiany; Klaus Winckler
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Konsumsi oksigen spesifik dari ikan hias jenis Cichlasoma nigrofasciatum diukur pada anak ikan berumur 34 sampai 60 hari dengan menggunakan oksimeter (Dragerwerk/Lubeck Germany). Pengukuran dilakukan pada dua kondisi suhu yang berbeda, masing-masing adalah pada suhu ruangan (22,3 ± OS C dan 24,0 ± 1.0'C) dan pada suhu konstan (23 ± OSC dan 28±O,S''C) yang diatur dengan termostat pada bak air. Hasil menunjukkan bahwa konsumsi oksigen spesifik pada suhu 22,3'C adalah 0,395± 0,101 mg en h-1 g-l, pada 23,O'C adalah 0,56O± 0,065 mg 02 h-1g-1, pada 24.0·C adalah 0,489 ± 0,112 mg en h-1 g-l, dan pada 28,O'C adalah 0,712±O,084 mg en h-1g-1. Vji t-test menunjukkan perbedaan nyata antam nilai-nilai tersebut (p < 0,05 dan p < 0,01), kecuali pada hasil pengukuran an tam suhu 23,O'C dan 24,0·C. Data menunjukkan bahwa konsumsi oksigen cenderung meningkat dengan naiknya suhu. Tidak ada hubungan nyata antam konsumsi oksigen dengan ukuran atau umur ikan yang diukur pada suhu 22,3'C, 23,O'C dan 24,O'C. Akan tetapi, korelasi positif (r=0,877) terlihat antara konsumsi oksigen dan bemt ikan pada suhu 28,0·C.Laju metabolisme menurun dengan semakin rendahnya tekanan oksigen. Tekanan oksigen kritis bagi anak ikan ini adalah sekitar 9,3 kPa.Kata-kata kunci :konsumsi oksigen spesifik, oksimeter, tekanan oksigen kritis, indirect calorimetry, Cichlasoma nigrofasciatum. 
Gulma Air :Permasalahan dan Penanggulangannya Ismudi Muchsin; Zairon .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 2 No. 1 (1994): Juni 1994
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (10.661 KB)

Abstract

Pada perairan umum seperti waduk, rawa, danau dan situ, adanya tumbuhan air dapat berfungsi sebagai tempat berlindung ikan-ikan kecil dari serangan predator, menaikkan kandungan oksigen terlarut dalam air, sebagai makanan ikan dan tempat pemijahan. Tetapi apabila tumbuhan tersebut tumbuh meluas di sebagian besar volume air akan menimbulkan kerugian, karena telah berubah menjadi tumbuhan pengganggu (gulma air). Tumbuhan air yang menutupi pennukaan air tersebut akan mengurangi proses penetrasi cahaya matahari dan difusi oksigen ke dalam air; juga menimbulkan pendangkalan pada badan air, mengganggu transportasi air, menurunkan nilai estetika, dan dapat menimbulkan gangguan bau serta rasa air.Pada umumnya gulma air yang penting mempunyai cara berkembang biak yang sangat eepat. Hal ini merupakan sebab utama mengapa dalam waktu yang sangat singkat dapat terjadi pertumbuhan massal yang eukup besar sehingga dapat menimbulkan persoalan yang lebih pentingjika dibandingkandengan tumbuhan air yang lain (Slamet et al., daLam Maulina, 1989).

Page 1 of 1 | Total Record : 7