cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
ANALISIS STATUS TERUMBU KARANG UNTUK PENGEMBANGAN WISATA BAHARI DI DESA TELUK BUTON KABUPATEN NATUNA Hadi Suryanto; Fredinan Yulianda; Yusli Wardiatno
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 16 No. 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.678 KB)

Abstract

Desa Teluk Buton merupakan pulau yang terdapat di wilayah Kabupaten Natuna, yang terletak Kota Ranai sebagai ibu kota Kabupaten Natuna. Desa Teluk Buton juga terdapat pulau-pulau kecil yang mempunyai potensi wisata bahari yang menarik seperti perairan yang jernih, terumbu karang, dan ikan karang. Permasalahan yang melatarbelakangi dalam penelitian ini adalah belum adanya pengelolaan terumbu karang untuk pengembangan wisata bahari dengan tujuan penzonasian peruntukan kawasan wisata bahari snorkeling dan selam. Metode yang digunakan yaitu Line Intercept Transect (LIT) untuk analisis terumbu karang, Underwater Visual Cencus (UVC) analisis ikan karang, Reef Check Benthic Fauna (RCBF), analisis Fauna Bentik, Indeks Kesesuaian Wisata (IKW), analisis Scenic Beauty Estimation (SBE), dan analisis Daya Dukung Kawasan (DDK). Untuk kategori IKW snorkeling dan selam, 8 stasiun masuk dalam kategori S2 (sesuai) wisata snorkeling dan selam,  sedangkan 1 stasiun masuk dalam kategori S2 (sesuai) untuk selam, dan 1 stasiun masuk kategori N (tidak sesuai) untuk dijadikan kawasan wisata bahari (snorkeling dan selam). Hasil analisis Daya Dukung Kawasan menunjukan bahwa kesesuaian kawasan satu spot untuk dua kegiatan wisata (snorkeling dan selam) mempunyai nilai DDK yang beragam, sehingga tidak bisa menetapkan nilai tertinggi dan terendah berdasarkan stasiun, dan dapat diintepretasikan bahwa semakin besar suatu kawasan, maka semakin tinggi pula nilai daya dukungnya. Demikian pula sebaliknya, semakin kecil suatu kawasan maka semakin rendah pula nilai daya dukung yang dimiliki.Kata kunci : daya dukung, kesesuaian, komunitas karang, Teluk Buton
PENGARUH PERCAMPURAN BERBAGAI KOLOM AIR TERHADAP KADAR DO (Dissolved Oxygen) DI KERAMBA JARING APUNG (KJA) DI WADUK SAGULING, KABUPATEN BANDUNG Enan M . Adiwilaga
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 16 No. 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.668 KB)

Abstract

Waduk Saguling dimanfaatkan untuk KJA dengan pola intensif yang menyebabkan terjadinya penumpukan limbah bahan organik sisa metabolisme dan sisa pakan. Proses dekomposisi limbah tersebut berpotensi meningkatkan laju pemanfaatan oksigen hingga melebihi laju produksinya. Dengan demikian, keseimbangan kandungan oksigen terlarut (DO) perairan tidak stabil serta dapat menimbulkan gas-gas beracun, seperti H2S, CO2, dan CH4. Apabila suatu saat terjadi pembalikan massa air ke permukaan maka akan membahayakan kehidupan organisme perairan bahkan dapat mengakibatkan kematian massal ikan yang dibudidayakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh percampuran air pada berbagai kedalaman kolom air terhadap beberapa parameter kimia (DO, NH3, H2S, dan pH) dan fisika (suhu) pada lokasi KJA Waduk Saguling. Pada penelitian ini terdapat tiga perlakuan, yaitu perlakuan 1 percampuran antara kedalaman 1 m dan 3 m, pada perlakuan 2 percampuran antara 1 m, 3 m, dan 7 m, sedangkan pada perlakuan 3 percampuran air antara kedalaman 1 m, 3 m, 7 m, dan 11 m. Berdasarkan nilai distribusi vertikal oksigen terlarut, Waduk Saguling, khususnya di titik pengamatan, menggambarkan tipe perairan heterograde positif. Dari ketiga parameter DO, amonia bebas, dan H2S, dapat disimpulkan bahwa perlakuan 3 (holomictic) dapat berakibat buruk pada ikan yang dibudidayakan karena memiliki konsentrasi oksigen yang rendah, amonia bebas yang mendekati ambang batas serta H2S yang melebihi ambang batas. Dari distribusi suhu secara vertikal dapat diketahui bahwa tidak terdapat lapisan termoklin sehingga daerah keramba jaring apung Bongas mempunyai potensi yang tinggi untuk terjadi umbalan.Kata kunci: oksigen terlarut (DO), pencampuran air (mixing), Waduk Saguling
KAJIAN KONDISI TERUMBU KARANG DAN IKAN MENGGARU (Lutjanus decussatus) DI ZONA PEMUKIMAN DAN ZONA INTI KAWASAN TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU Dedy Eka Syaputra; Yusli Wardiatno; Ario Damar
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 16 No. 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.139 KB)

Abstract

Ikan Menggaru (Lutjanus decussatus) adalah kelompok kakap yang hidup berasosiasi dengan terumbu karang, yang merupakan ikan konsumsi dan bernilai ekonomis penting. Populasi ikan ini di Kawasan Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu terus menurun yang disebabkan oleh berbagai hal seperti penangkapan berlebih, kerusakan habitat, dan kurangnya strategi pengelolaan kawasan yang baik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kondisi terumbu karang dan ikan menggaru dan keterkaitannya sehingga strategi pengelolaan yang baik dapat ditetapkan. Empat pulau yang berlokasi di zona yang berbeda dipilih sebagai lokasi penelitian, yang di setiap masing-masing pulau dilakukan pengamatan di dua (2) titik yang berbeda (kedalaman 3-5 m). Di kawasan pemukiman, Pulau Pramuka, dan Panggang dipilih sementara pada Zona Inti, dipilih lokasi perairan sekitar Pulau Kayu Angin Bira dan Belanda Pengamatan terumbu karang dilakukan dengan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT), sementara observasi ikan menggaru dengan menggunakan teknik Underwater Visual Census (UVC). Sebanyak total 41 ekor ikan menggaru ditangkap sebagai sampel. Secara umum, kondisi perairan masih dalam kondisi baik untuk mendukung kehidupan terumbu karang. Kualitas penutupan terumbu karang relatif sedang dengan persen penutupan berkisar antara 34.86% dan 39.31%. Kelimpahan ikan menggaru di zona inti relatif lebih tinggi (180 ind/ha) jika dibandingkan dengan zona pemukiman (140 ind/ha). Beberapa aspek biologi yang dihasilkan dalam studi ini yaitu bentuk pertumbuhan ikan adalah alometrik, perbandingan seksual menunjukkan jantan lebih banyak dibandingkan betina, komposisi utama makanan adalah ikan dan krustasea, dan selama bulan Juni ketika studi ini dilakukan, ikan tidak dalam kondisi musim memijah. Lebih tingginya kelimpahan ikan di zona inti diasumsikan disebabkan oleh adanya dominasi tutupan karang branching di kawasan ini. Berdasarkan studi ini direkomendasikan untuk a) memelihara kondisi kualitas air di lokasi studi; b) mempercepat penutupan karang di zona pemukiman; c) melakukan pengawasan lebih intensif dan penegakan hukum di zona inti dari penangkapan ikan; dan d) membatasi ukuran ikan yang boleh ditangkap.Kata Kunci: ikan menggaru, karang keras, kelimpahan, strategi pengelolaan, terumbu karang
KONDISI EKOSISTEM TERUMBU KARANG DI PERAIRAN KABUPATEN BINTAN DAN ALTERNATIF PENGELOLAANYA Febrizal .; Ario Damar; Neviaty P . Zamani
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 16 No. 2 (2009): Desember 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.719 KB)

Abstract

Kerusakan ekosistem terumbu karang pada umumnya diakibatkan oleh sebab alami dan manusia. Sedikit perubahan kecil pada kualitas air atau fisik dapat menyebabkan perubahan besar pada kondisi dan struktur ekosistem terumbu karang. Di daerah penelitian, informasi tentang kondisi kualitas air dan terumbu karang sangat terbatas sehingga dapat menghambat proses pengambilan keputusan dalam pengelolaan kawasan terumbu karang. Tujuan dari penelitian ini adalah penentuan kondisi ekosistem terumbu karang, identifikasi penyebab potensial utama kerusakan terumbu karang, dan mencari alternatif pengelolaan terumbu karang di lokasi penelitian. Metode yang digunakan adalah transek kuadrat untuk determinasi penutupan karang dan makroalga, sementara untuk observasi ikan menggunakan teknik Line Intercept Transect (LIT) dan Underwater fish Visual Census (UVC). Analisis data dilakukan dengan menggunakan beberapa analisis standar ekologis, korelasi multivariabel dengan menggunakan Principle Component Analysis (PCA), dan analisis ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum kondisi penutupan karang masih dalam kondisi baik. Analisis menunjukkan bahwa peningkatan persentase penutupan karang hidup diikuti oleh penurunan penutupan makroalga. Selanjutnya, ikan herbivora dan penutupan alga terhubungkan secara terbalik. Kesimpulannya adalah bahwa jika terumbu karang mengalami gangguan, maka akan berpotensi menyebabkan peningkatan penutupan makroalga. Ikan herbivora terbukti secara efektif mampu mengkontrol penutupan makroalga dan sekaligus membantu pemulihan kondisi ekosistem terumbu karang.Kata kunci: aktivitas manusia, ikan herbivora, makroalga, terumbu karang
PENGARUH PERBEDAAN UMPAN TERHADAP POLA TINGKAH LAKU MAKAN IKAN KERAPU MACAN (Ephinephelus fuscoguttatus) Aristi Dian P Fitri; Ari Purbayanto
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 16 No. 1 (2009): Juni 2009
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (282.437 KB)

Abstract

Study on fish behavior is necessary to establish knowledge on the use of bait effectiveness. The objective of the research was to analyze response and feeding behavior of grouper (Ephinephelus fuscoguttatus) on different chemical composition of bait. The research was conducted by laboratory experimental method. The fish used was 200 mm in total length. The baits used were shrimp (Metapenaeus elegans) and trash fish (Sardinella gibbosa). Data collection consist of response time and feeding behavior pattern of Ephinephelus fuscoguttatus on bait with soaking time of 1, 7, and 12 hours. Chemical composition of each bait consisting of proximate, amino acid, fatty acid, and ammonia were analyzed based on soaking time. Data was analyzed using t-student test. The results showed that response time of Ephinephelus fuscoguttatus to shrimp bait and fish was insignificantly difference (p > 0.05). The feeding response of Ephinephelus fuscoguttatus with soaking time difference of shrimp bait and trash fish during 1 and 7 hours was significantly difference (p < 0.01). The bait soaking time until 12 hours was insignificantly difference (p > 0.05). Longer bait soaking time (until 12 hours) would decrease bait chemical composition that influenced on decrease feeding response of Ephinephelus fuscoguttatus.Key words: baits, feeding habit, Ephinephelus fuscoguttatus.
KEMATANGAN GONAD KEPITING KELAPA (Birgus latro) DI PULAU PASOSO, SULAWESI TENGAH Sulistiono .; Suzana Refiani; Fadly Y . Tantu; Muslihuddin .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (560.513 KB)

Abstract

Penelitian tentang kematangan gonad kepiting kelapa (Birgus latro) dilakukan sejak Juni 2004 sampai Februari 2005. Contoh kepiting ditangkap dengan menggunakan beberapa peralatan, yaitu perangkap, jaring, dan secara langsung dengan tangan. Pengamatan dilakukan terhadap jenis kelamin, kematangan gonad, dan diameter telur, sedangkan analisis dilakukan untuk menentukan faktor kondisi, indeks kematangan gonad, dan fekunditas. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa faktor kondisi, kematangan gonad, dan indeks kematangan gonad bervariasi tergantung dari bulan pengambilan contoh. Pengamatan kematangan gonad menunjukkan bahwa nilai tertinggi terdapat pada November/Desember. Keadaan yang sama juga ditunjukkan dengan nilai faktor kondisi dan indeks kematangan gonad yang cukup tinggi pada bulan November /Desember. Fekunditas berkisar antara 58 717 - 197 400 butir telur. Diameter telur berkisar antara 0.015-0.035 mm, memiliki 1 puncak sehingga dapat diklasifikasikan sebagai total spawner.Kata kunci: kematangan gonad, kepiting kelapa (Birgus latro), total spawner Study on gonad maturity of coconut crab (Birgus latro) was carried out from June 2004 to January 2005. Crabs were collected by traps, nets, and by bare hand. Observation was done to know sex ratio, gonad maturity, and eggs diameter, while analysis was employed to estimate condition factor, gonado somatic index, and fecundity. Observation result showed that condition factor, gonad maturity, and gonado somatic index varied depending on sampling month. Gonado somatic index showed a high value around November/December. A similar result was also showed by condition factor and gonado somatic index that was high around November /December. Fecundity varied from 58 717 to 197 400. Oocyte diameter varied from 0.015 to 0.035 mm, with one mode leat tobe classified as total spawner animal.Key words: gonad maturity, coconut crab (Birgus latro), total spawner.  
HUBUNGAN PANJANG BOBOT DAN FAKTOR KONDISI IKAN TETET, Johnius belangerii Cuvier (PISCES: SCIAENIDAE) DI PERAIRAN PANTAI MAYANGAN, JAWA BARAT M F Rahardjo; Charles P . H. Simanjuntak
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.867 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan hubungan panjang-bobot dan mengevaluasi faktor kondisi ikan tetet, Johnius belangerii Cuvier di perairan pantai Mayangan, Jawa Barat. Pengambilan contoh dilakukan sekali sebulan dari bulan Mei 2002 sampai April 2003. Sebanyak 2 403 ekor ikan tertangkap dengan menggunakan jaring insang bermata jaring 1.5 - 3 inci. Panjang total dan bobot ikan contoh berkisar masingmasing 71 – 225 mm dan 3 – 161 gram. Hubungan panjang-bobot adalah W = 2.453 x 10-6 L3.3023. Hasil ini menunjukkan bahwa hubungan panjang-bobot mempunyai korelasi yang tinggi (R2 > 0.939). Faktor kondisi relatif beragam dari 0.966 to 1.070. Ikan betina mempunyai kondisi lebih baik daripada ikan jantan.Kata kunci: hubungan panjang bobot, faktor kondisi, ikan tetet, perairan pantai. This study is aimed to determine length-weight relationship and to evaluate relative condition factor of belanger’s croaker, Johnius belangerii Cuvier in Mayangan. Fish collection was carried out monthly from May 2002 to April 2003. A total of 2 403 individual fishes were caught using gillnet with mesh sizes varying from 1.5 to 3 inches. The fish samples ranged from 71 – 225 mm in length and 3 – 161 g in weight. The length-weight relationship was W = 2.453 x 10-6 L3.3023. The results indicated that the length-weight relationship was highly correlated (R2 > 0.939). The relative condition factors of fish varied from 0.966 to 1.070, of which females were generally in better condition than the males.Key words: length-weight relationship, condition factor, belanger’s croaker, coastal waters.
STUDI MENGENAI TOKSISITAS SURFAKTAN DETERJEN, ALKYL SULFATE (AS), TERHADAP POST LARVA UDANG WINDU Penaeus monodon Fabr Eddy Supriyono; Berlianti .; Kukuh Nirmala
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1762.19 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui toksisitas surfaktan deterjen alkyl sulfate (AS) terhadap post larva udang windu Penaeus monodon Fabr. Pada uji akut, udang windu PL10 dipaparkan pada media yang mengandung AS selama 96 jam dan dihitung nilai Median Lethal Concentration (LC50) pada jam ke 24, 48, 72, dan 96. Pada uji sub kronis udang windu PL15 dipaparkan selama 24 hari dan diamati nilai laju pertumbuhannya. Selama uji toksisitas akut dan sub-kronis juga dilakukan pengamatan perubahan histopatologi pada insang dan hepatopankreas udang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai LC50 AS pada jam ke- 24, 48, 72, dan 96 yaitu masing-masing sebesar 33.6, 29.4, 24.3, dan 22.8 mg/l. Saat uji sub kronis, perlakuan pemberian AS terhadap media pemeliharaan menurunkan laju pertumbuhan udang windu seiring dengan meningkatnya konsentrasi AS dan secara nyata terlihat mulai konsentrasi 17.11 mg/l. Selama uji akut dan sub kronis terjadi perubahan tingkah laku dan kerusakan pada insang dan hepatopankreas pada udang yang dipaparkan dengan AS mulai terlihat pada konsentrasi 25.58 mg/l jam ke-96 dan 34.99 mg/l jam ke- 72 pada uji akut dan pada uji sub kronis mulai terjadi pada konsentrasi 9.78 mg/l pada pengamatan hari ke- 24. Toksisitas AS terhadap juvenil udang windu semakin meningkat dengan semakin meningkatnya konsentrasi dan waktu pemaparan.Kata kunci: toksisitas, udang windu, alkyl sulfate, LC50, pertumbuhan, histopathologi. This study was done to find out the toxicity of surfactant detergent alkyl suphate (AS) on post larvae of black tiger shrimp. For acute toxicity test, the PL10 shrimps were exposed in seawater containing AS for 96 hours and Median Lethal Concentration (LC50) for 24, 48, 72, and 96 hours were estimated. For sub chronic test, juvenile shrimps at PL15 were exposed in sea water media containing AS for 24 days, and the growth rate of the shrimps were evaluated in order to determine the toxicity effect of AS to juvenile shrimp. During acute and sub-chronic test the histopathological changed of the gills and hepatopanchreas of the shrimp were also examined. This study resulted that LC50 of AS for 24, 48, 72, and 96 hours was estimated to be 33.6, 29.4, 24.3, and 22.8 mg/l of AS. At sub-chronic level, the growth rate of the shrimps was decreased by increasing concentration of AS and significantly affected at 17.11 mg/l of AS. During acute and sub-chronic test the behavior changing and gill epithelium and hepathopancreatic cell damage was common occurred in the shrimps when exposed in AS at 25.58 mg/l of AS for 96 hours and 34.99 mg/l of AS for 72 hours exposed time during acute test and also occurred starting from 9.78 mg/l of exposed concentration of AS for 24 days exposed time. The toxicity of AS to juvenile tiger black shrimp elevated by the increased of exposure time. Key words: toxicity, Alkyl Sulphate, black tiger shrimp, LC50, growth, histopathology.
DUGAAN BANYAKNYA PENYU LAUT TERTANGKAP SECARA TIDAK SENGAJA OLEH PERIKANAN TUNA LONGLINE DI SAMUDERA HINDIA Ngurah N . Wiadnyana; Mennofatria Boer
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.968 KB)

Abstract

Perhatian masyarakat dunia semakin meningkat terhadap kelestarian penyu laut yang semakin menurun populasinya. Terjadinya penurunan populasi penyu laut dapat disebabkan oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya adalah kegiatan perikanan. Berdasarkan kondisi ini, dilakukan sebuah kajian dengan tujuan untuk menduga jumlah penyu laut yang tertangkap secara tidak sengaja pada perikanan tuna longline. Data dan informasi diperoleh melalui metode kuesioner dengan sasaran para awak kapal tuna longline di pangkalan utama armada perikanan tuna longline yang beroperasi di Samudera Hindia, yaitu: Pelabuhanratu (Jawa Barat), Muara Baru (Jakarta), Cilacap (Jawa Tengah), dan Benoa (Bali). Hasil pengolahan data dan informasi mengemukakan tiga hal utama: (i) dugaan jumlah penyu yang tertangkap dengan tidak sengaja berkisar 843 - 853 ekor per trip untuk 1000 armada tuna longline; (ii) para nelayan tuna longline umumnya segera melepaskan kembali penyu-penyu yang tertangkap ke laut; dan (iii) sebagian besar nelayan tuna longline menggunakan jenis pancing berbentuk “J” dan melakukan penangkapan ikan pada lapisan permukaan (< 100 m). Penyu laut pada umumnya juga berada pada lapisan kedalaman ini, yang berpeluang besar memakan umpan dan tertangkap secara tidak sengaja oleh armada perikanan tuna longline. Dari kajian ini disarankan perlunya dilakukan riset yang lebih komperehensif tentang interaksi antara penyu laut dan perikanan, dan mitigasi penyu laut di perairan Indonesia.Kata Kunci: penyu laut, perikanan tuna, penangkapan tidak sengaja, Samudera Hindia. The awareness of the people in the world increases toward the conservation of sea turtles of which the population has depleted. The decrease of sea turtles populations may be due to many factors. One of the factors is affected by fisheries activity. Based on this condition, the current investigation was conducted in objective to estimate the number of sea turtles caught incidentally by tuna longline fisheries. Data and information were gathered by using questioner method with the target of tuna longline crews at principal landing bases of tuna longline fleet operated in Indian Ocean, such as: Pelabuhanratu (West Java), Muara Baru (Jakarta), Cilacap (Central Java), and Benoa (Bali). The result pointed out three principal matters: (i) the estimation of incidental caught sea turtles number varied from 843 - 853 individuals per trip for 1000 tuna longline fleet;(ii) in general tuna longline fishermen released immediately sea turtles to the sea; and (iii) almost tuna longliners use “J” hook for their longline and operate their fishing gears in the surface depth (< 100 m). Sea turtles in general inhabit in this water depth, which have high probability to eat baits and be caught by tuna longline fisheries fleets. This study might suggest to development more comprehensive research on the interaction between sea turtles and fisheries, and sea turtle mitigation in Indonesian waters Key Words: sea turtles, tuna longline fisheries, incidental catch, Indian Ocean.
KAJIAN KESESUAIAN DAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN TAMBAK BERBASIS SPASIAL DI WILAYAH PESISIR KABUPATEN ACEH UTARA, PANTAI TIMUR PROVINSI NANGGROE ACEH DARUSSALAM Fredinan Yulianda
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 15 No. 2 (2008): Desember 2008
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.39 KB)

Abstract

Lingkungan pesisir Kabupaten Aceh Utara relatif baik terutama untuk pengembangan tambak, kecuali parameter logam berat yang sudah melebihi baku mutu untuk biota laut. Lahan pesisir yang sesuai untuk pengembangan tambak adalah 9 675.09 hektar dengan daya dukung kawasan sebesar 7 764.54 hektar. Luas lahan tambak yang ada di Kabupaten Aceh Utara saat ini sekitar 10 063.7 hektar. Sehingga pemanfaatan lahan pesisir sebagai kawasan tambak di Kabupaten Aceh Utara sudah melampaui daya dukung kawasan sekitar 22.8% atau 2 299.16 hektar.Kata kunci: Tambak, kesesuaian, daya dukung Regardless heavy metal contents, coastal waters of North Aceh Region meet the standard requirement for living organism, therefore much utilization is used for brackishwater pond development. Coastal area that suit for brackishwater pond development cover 9 675.09 hectare with carrying capacity of area of 7 764.54 hectare. The existing brackishwater pond in North Aceh is 10 063.7 hectare. Therefore utilization of coastal area as brackishwater pond in North Aceh has exceeded is carrying capacity limit about 22.8% or 2 299.16 hectare.Key words: Brackishwater pond, suitability, carrying capacity