cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bogor,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Science,
Arjuna Subject : -
Articles 183 Documents
VARIASI GEOGRAFIK DALAM STRUKTUR GENETIK POPULASI IKAN KAKAP MERAH, Lutjanus malabaricus (LUTJANIDAE) DAN INTERAKSI LINGKUNGAN DI LAUT JAWA Kadarwan Soewardi; Suwarso .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 1 (2006): Juni 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.462 KB)

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui struktur genetik populasi ikan kakap merah (Lutjanus malabaricus;LUTJANIDAE). Struktur genetik dianalisis berdasarkan polimorfisme mtDNA. Karakter polimorfisme diperoleh dari analisis RFLP (Restriction Fragment Length Polymorphism). Populasi contoh berasal dari lima populasi ikan di Laut Jawa, yaitu Blanakan, Batang, Banyutowo, Tuban dan Kotabaru. Berdasarkan tipe-tipe restriksi yang ditemukan, setiap tipe restriksi berbeda dalam jumlah situs dan fragmen restriksi. Telah teridentifikasi 5-6 haplotipe diversitas haplotipe (h) tingkat populasi bervariasi antara 0.60-0.76, dimana untuk populasi ikan di wilayah timur cenderung lebih tinggi. Didasarkan pada analisis jarak genetik terdapat tiga unit stok ikan Kakap merah di Laut Jawa: Unit stok 1, populasi Blanakan, Batang dan Banyutowo Unit stok 2populasi Kotabaru; dan Unit stok 3, populasi tuban.penstrukturan genetik demikian juga ditegaskan melalui analisis varian molekuler (AMOVA) yang menyatakan perbedaan sangat nyata antara   varian genetik populasi Tuban dengan keempat populasi lainnya. Dari fakta adanya pengelompokkan struktur genetik populasi ini, strategi manajemen perikanan sebaiknya dilaksanakan secara lokal menurut unit stokKata kunci: kakap merah, populasi eenetik, Laut Jawa.
KEMATANGAN GONAD DAN KEBIASAAN MAKANAN IKAN JANJAN BERSISIK (Parapocryptes sp) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, JAWA TIMUR Sulistiono .; Endah Purnamawati; Kurniawati H Ekosafitri; Ridwan Affandi; Djadja S . Sjafei
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.372 KB)

Abstract

Ikan janjan bersisik (Parapocryptes sp) cukup banyak ditemukan di wilayah estuari atau daerah pertambakan.Penelitian mengenai kematangan gonad dan kebiasaan makanan ikan janjan bersisik dilakukan sejak Februari sampai Juni 2002. Pengambilan contoh dilakukan tiap bulan dengan menggunakan beberapa peralatan yaitu jaring insang (ukuran mata jaring 2.5 cm dan 4.5 cm), trammel net, sero dan bubu. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat kematangan gonad dan kebiasaan makanan ikan janjan bersisik. Pengamatan dilakukan terhadap tingkat kematangan gonad (TKG), diameter telur dan jenis makanan. Sedangkan analisis dilakukan untuk mengetahui indeks kematangan gonad (IKG), indeks kepenuhan lambung (IKL), indeks bagian terbesar (IP) dan kesamaan jenis makanan (IS) antara ikan jantan dan betina. Tingkat kematangan gonad ikan contoh (n = 72 ikan jantan, n = 57 ikan betina) bervariasi tergantung bulan pengamatan. Indeks kematangan gonad berkisar antara 0.05-0.25% untuk ikan jantan dan 0.40-1.64% untuk ikan betina, dengan nilai yang cukup tinggi pada bulan Juni. Diameter telur berkisar antara 0.020-0.479 mm, dengan lebih dari satu puncak sebaran yang menunjukkan adanya pola pemijahan parsial. Tingkat kepenuhan lambung ikan bervariasi, dan memiliki nilai yang cukup tinggi pada bulan Maret dan Juni. Jenis makanan ikan baik jantan ataupun betina relatif sama (IS = 77%), yang umumnya terdiri atas Bacillariophyceae, Chlorophyceae, Cyanophyceae dan Detritus.Kata kunci: ikan janjan bersisik (Parapocryptes sp.), kematangan gonad, kebiasaan makan.
MODEL PENDUGAAN DAYA DUKUNG LINGKUNGAN PULAU WETAR (MALUKU TENGGARA BARAT) ATAS DASAR ASIMILASI FOSFAT Setyo Budl Susilo
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.311 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menilai salah satu aspek daya dukung lingkungan Pulau Wetar, Maluku Tenggara Barat, dlam kaitannya dengan program pengembangan transmigrasi di pulau ini. Sebuah model asimilasi fosfat (fosfor) yang diserap oleh lingkungan perairan pantai digunakan untuk tujuan tersebut. Hasil studi ini menunjukkan bahwa lingkungan perairan pantai Pulau Wetar dpat mendukung lebih dari 30 000 kluarga transmigran sebagai tambahan populasi yang telah menghuni pulau ini. Namun demikian, hasil dugaan nilai daya dukung lingkungan ini hanya didasarkan pada satu aspek saja yaitu asimilasi fosfat dan untuk mendapatkan nilai dugaan yang sebenarnya masih memerlukan pendugaan-pendugaan dari berbagai aspek daya dukung lingkungan yang lain. Lagi pula, model ini masih bersifat makro mengingat seluruh pulau dan perairan pesisir di sekitarnya dianggap sebagai satu sistem.Kata kunci: pulau Wetar, daya dukung, model asimilasi fosfat, rencana program transmigrasi.
ANALISIS KAPASITAS PERIKANAN PELAGIS DI PERAIRAN PESISIR PROPINSI SUMATERA BARAT Desniarti .; Akhmad Fauzi; Daniel R . Monintja; Mennofatria Boer
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (307.518 KB)

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya ikan telah memberikan manfaat secara ekonomi kepada pelaku usaha, akan tetapi pemanfaatan sumberdaya ikan ini juga memberikan dampak eksternal. Sumberdaya ikan bersifat dapat pulih (renewable resources) tetapi bukan berarti tak terbatas sehingga apabila tidak dikelola secara hati-hati, akan memberikan dampak negatif terhadap ketersediaan sumberdaya ikan dan lingkungan. Salah satu permasalahan dalam perikanan tangkap adalah terjadinya kelebihan kapasitas tangkap (overcapacity) yg mendorong terjadinya kelebihan tangkap (overfishing) Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Mengetahui tingkat pemanfaatan sumberdaya ikan dibandingkan dengan produksi yang lestari, 2) Menganalisis implikasi kebijakan dari kapasitas perikanan antar waktu dan antar alat tangkap. Pendekatan analisis yg digunakan dalam penelitian ini antara lain analisis bioekonomi dan data envelopment analysis (DEA) Hasil penelitian menunjukan bahwa 1) Pemanfaatan sumberdaya ikan pelagis kecil telah mengarah ke overfishing, sedangkan untuk sumberdaya ikan pelagis besar masih dapat ditingkatkan tetapi perlu kehati-hatian dalam pengelolaannya, 2)Tingkat efisiensi perikanan tangkap untuk ikan pelagis besar rata-rata 85% per tahun sedangkan untuk ikan pelagis kecil rata-rata 89% per tahun, 3) Bila dibandingkan tingkat efisiensi dari empat alat tangkap maka yang paling efisien adalah pukat cincin diikuti oleh tonda, payang dan bagan, 4) Secara rata-rata selama thn pengamatan kondisi perikanan tangkap di perairan pesisir Sumatera Barat sudah mengarah kepada kelebihan kapasitas (overcapacity) sehingga diperlukan adanya pengurangan kapasitas perikanan.Kata kunci: kapasitas perikanan, efisiensi, kelebihan tangkap.
KERAGAMAN GENETIK UDANG JARI (Metapenaeus elegans DE MAN 1907) BERDASARKAN KARAKTER MORFOMETRIK DI LAGUNA SEGARA ANAKAN, CILACAP, JAWA TENGAH Kadarwan Soewardi; Otong Zenal Arifin; Ahmad Hidayat
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.681 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat keragaman genetik udang jari (Metapenaeus elegans) di perairan Laguna Segara Anakan berdasarkan karakter morfometrik. Udang jari yang diamati pada saat penelitian berjumlah 160 ekor, terdiri dari 73 ekor jantan dan 87 ekor betina. Panjang total berkisar antara 38.5 – 84.5 mm dan bobot tubuh berkisar antara 1.8 – 36.5 gram. Dari keempat populasi udang jari yang diamati, untuk sebaran karakter morfometrik individu secara umum menunjukkan hubungan kekerabatan cukup erat antara satu dengan yang lainnya. Nilai sharing component dalam populasi yang paling kecil diperoleh pada populasi Klaces sebesar 52.5%, sedangkan nilai antar populasi diperoleh pada populasi Klaces dengan Motean sebesar 5%. Nilai sharing component terbesar dalam populasi didapatkan pada populasi Motean sebesar 65.0 %, sedangkan nilai antar populasi diperoleh antara populasi Klaces dan Jojok sebesar 32.5%. Untuk matrik korelasi karakter keempat populasi udang jari diperoleh korelasi positif tertinggi antara panjang total dengan panjang badan dengan nilai 0.977, dan korelasi positif terendah antara panjang ruas kedua dengan panjang ruas kelima dengan nilai 0.010. Terdapat 4 karakter yang dapat dipakai dalam membedakan keempat populasi udang jari yang berasal dari Segara Anakan yaitu panjang ruas kedua (PRD), panjang ruas kelima (PRL), panjang badan (PBD), dan panjang total (PTO). Berdasarkan hasil analisis hierarki kluster pada pengukuran karakter morfometrik keempat populasi udang jari mempunyai jarak genetik yang berdekatan.Kata kunci: genetik, udang jari, karakter morfometrik, laguna, Segara Anakan.
KELIMPAHAN DAN KEANEKARAGAMAN FITOPLANKTON DI PERAIRAN PANTAI DADAP TELUK JAKARTA D Djokosetiyanto; Sinung Rahardjo
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.181 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: a) menganalisis pola sebaran kelimpahan dan keragaman fitoplankton; dan b) menganalisis pengaruh jarak perairan terhadap kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif dengan metode survei. Pengambilan contoh dilaksanakan selama 2 bulan, yaitu bulan September sampai bulan Oktober 2003 di perairan pantai Dadap di Teluk Jakarta. Pola sebaran kelimpahan dan keanekaragaman bervariasi, tidak terdistribusi secara linier mengikuti besarnya jarak perairan dari muara Sungai Dadap. Uji sidik ragam menunjukkan bahwa jarak perairan dari muara Sungai Dadap sangat mempengaruhi kelimpahan dan keanekaragaman fitoplankton. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya aktifitas manusia, nutrien, tingkat asimilasi dan faktor-faktor oseanografi lainnya.Kata kunci: fitoplankton, densitas, diversitas, pesisir.
KARAKTER DAN PERGERAKAN MASSA AIR DI SELAT LOMBOK BULAN JANUARI 2004 DAN JUNI 2005 Mulia Purba; Iriana N .Utami
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1298.64 KB)

Abstract

Data CTD pada Januari 2004 dan Juni 2005 dan data ADCP pada Juni 2005 hasil ekspedisi oseanografi program INSTANT (International Nusantara Stratification and Transport) di Selat Lombok dianalisis untuk mempelajari karakter dan pergerakan massa air. Karakter massa air pada lapisan permukaan dan massa air Northern Subtropical Lower Water (NSLW) pada lapisan termoklin memperlihatkan perbedaan yang jelas antara kedua pengukuran yang diperkirakan berkaitan dengan perubahan karakter dan pergerakan massa air di Laut Jawa dan Laut Flores. Akan tetapi karakter massa air North Pacific Intermediate Water (NPIW) dan massa air lapisan dalam tidak jauh berbeda. Arus geostropik yang ditentukan dari perbedaan kedalaman dinamik dari dua stasiun yang berdekatan menghasilkan variasi kecepatan yang terlalu besar dan kecepatan yang terlalu tinggi bila dibandingkan dengan kecepatan arus yang diukur secara langsung dengan ADCP. Kelihatannya jarak antar stasiun yang terlalu dekat (kurang dari 9 km) menyebabkan kecepatan arus yang tidak akurat.Kata kunci: karakter massa air, arus geostropik.
KARAKTERISTIK HABITAT DAN JENIS IKAN PADA BEBERAPA SUAKA PERIKANAN DI DAERAH ALIRAN SUNGAI BARITO, KALIMANTAN SELATAN Asyari .
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.588 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik habitat dan jenis ikan pada beberapa suaka perikanan di Daerah Aliran Sungai (DAS) Barito Kalimantan Selatan yang dilaksanakan dari bulan Juni sampai Desember 2004. Suaka perikanan yang diteliti adalah suaka perikanan Rawa Muning, Danau Bangkau dan suaka perikanan Awang Landas. Penelitian dilakukan dengan metode survei sebanyak empat kali pengamatan (2 kali musim kemarau dan 2 kali musim penghujan). Aspek yang diteliti meliputi parameter fisika-kimia air, biologi (vegetasi air, plankton dan jenis ikan). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga suaka perikanan merupakan perairan rawa banjiran (flood plain) berupa danau atau sungai mati (oxbow lake). Vegetasi air (makrofita) yang dominan menutupi ketiga suaka adalah ilung (Eichhornia crassipes), jungkal (Hanguana malayana) dan jenis kumpai (Gramineae). Plankton yang ditemukan terdiri dari fitoplankton (29 Genera) dan zooplankton (6 Genera), sedangkan jenis ikan yang banyak ditemukan adalah jenis ikan hitam (black fish), yaitu papuyu (Anabas testudineus), sepat rawa (Trichogaster trichopterus) dan ikan haruan (Channa striata).Kata kunci: karakteristik habitat, jenis ikan, suaka perikanan.
RESPON UDANG VANNAME (Litopenaeus vannamei) TERHADAP MEDIA AIR LAUT YANG BERBEDA Kadarwan Soewardi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.982 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat respon udang vaname (Litopenaeus vannamei) terhadap berbagai media air laut buatan. Respon yang dimaksud pada penelitian ini adalah tingkat kelangsungan hidup dan laju pertumbuhan harian. Media air laut buatan ini meliputi campuran air laut dengan larutan garam krosok, air laut pekat yang diencerkan serta pembuatan artificial sea water dari campuran berbagai mineral dan unsur- unsur kimia lainnya. Parameter yang diamati meliputi tingkat kelangsungan hidup (survival rate/SR) dan laju pertumbuhan (growth rate). Hasil pengamatan menunjukkan bahwa SR berturut-turut pada media kontrol (air laut), artificial sea water, air laut pekat yang diencerkan dan campuran garam krosok dengan air laut masing-masing sebesar 87, 82, 60 dan 55%. Sidik ragam menunjukkan bahwa ada perbedaan nyata antar perlakuan terhadap kelangsungan hidup udang vaname pada taraf kepercayaan 95%. Laju pertumbuhan harian individu tertinggi pada media budidaya berturut-turut yaitu media kontrol, artificial sea water, air laut pekat dan larutan garam krosok masing-masing sebesar 13.3002%, 13.0118%, 12.2022% dan 10.6384%. Sidik ragam menunjukkan bahwa perlakuan memberikan perbedaan nyata terhadap laju pertumbuhan harian individu udang vaname pada taraf kepercayaan 95%.Kata kunci: udang putih, pertumbuhan, air laut buatan.
PENGARUH INHIBITOR AROMATASE (IA) TERHADAP PERKEMBANGN OOSIT PADA IKAN MAS KOKI (Carassius auratus) Fajar Basuki; Muh Zairin Junior; Agus O . Sudradjat; Tuty L . Yusuf; Bambang Purwantara; Mozes R . Toelihere
Jurnal Ilmu-Ilmu Perairan dan Perikanan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2006): Desember 2006
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.264 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis optimal Inhibitor Aromatase (IA) pada perkembangan oosit ikan mas koki. Dosis yang digunakan adalah k = kontrol (disuntik NaCl fisiologis), Pl = 2.5 mg/kg berat tubuh (b.t), P2 = 7.5 mg/kg b.t., dan P3 = 12.5 mg/kg b.t. Untuk mengetahui pengaruh IA terhadap perkembangan gonad diukur kandungan hormon estradiol-l7β dalam plasma darah dan level protein gonad mulai dari awal perlakukan kemudian setiap tujuh hari sekali, yaitu hari ke-7, ke-14, dan ke-21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pada hari ke-7 hasil semua perlakuan P1, P2, P3 menunjukkan penurunan hormon estradiol- 17β diikuti penurunan level protein gonad, hasil analisis pengamatan histologi menunjukkan terjadi atresi pada sel gonad. Pada hari ke-14 kadar hormon estradiol-17β perlakuan menunjukkan terjadi peningkatan diikuti peningkatan level protein gonad. Pada hari ke-21 kadar hormon estradiol-17β perlakuan sudah sama dengan kadar hormon kontrol namun level protein gonad masih dibawah level protein gonad kontrol.Kata kunci: estradiol 17ß, perkembangan oosit, level protein gonad.