cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 3 (2019)" : 6 Documents clear
Gambaran Pengetahuan Family caregiver dalam Merawat Pasien Demensia Merry Olvia; Heny Suseani Pangastuti; Christantie Effendy
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.44302

Abstract

Background: Dementia is a chronic disease that will affect the function and the dependency of patient, thus requiring assistance from the caregiver to fulfill their daily needs. Family caregivers providing care to dementia patients are influenced by knowledge. Knowledge is one of the abilities needed in caring for dementia patients. Objective: The aim of this study is to give the description about caregiver’s knowledge that treating patients with dementia. Method: This study is a descriptive quantitative study using cross sectional design. Selection of sample was done by using non probability purposive sampling technique. The sample consisted of 53 family caregivers that have been recorded in medical record of Dr. Sardjito Hospital Yogyakarta on May 2018 by using inclusion criteria i.e. 1) took care a patient with dementia, 2) aged more than 18 years old, and 3) willing to become the respondents of this study. Data were obtained by using dementia knowledge assessment scale (DKAS) questionnaire which has been translated to Indonesian language. Data were analyzed using univariate analysis. Results: Majority respondents were women and aged more than 65 years old and has been taking care the patient more than 6 months. The majority type of dementia of the patients was vascular. Their average knowledge score were 23,25 from the maximum 50 total score. The highest average score was in domain 3, i.e. care consideration (8,17 ± 2,64), and the lowest one is in domain 2, i.e. communication and behavior (4,19 ± 1,82). Conclusion: Family caregivers’ knowledge about dementia that consist of several domain were still categorized as low.Keywords: dementia; family caregiver; knowledgeABSTRAKLatar belakang: Demensia merupakan penyakit kronis yang memengaruhi fungsi kerja dan kemandirian dari pasien, sehingga dibutuhkan peran caregiver dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Family caregiver memberikan perawatan kepada pasien demensia dipengaruhi oleh pengetahuan. Pengetahuan merupakan salah satu kemampuan yang diperlukan dalam merawat pasien demensia.  Tujuan: Mengetahui gambaran pengetahuan family caregiver dalam merawat pasien demensia. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan menggunakan rancangan cross sectional. Pemilihan sampel dilakukan dengan teknik sampling nonprobability purpossive sampling. Sampel terdiri dari 53 family caregiver pasien demensia yang tercatat klinik memori RSUP Dr. Sardjito pada bulan Mei 2018 dengan kriteria inklusi, yaitu 1) family caregiver pasien demensia, 2) usia lebih dari 18 tahun, dan 3) bersedia menjadi responden penelitian. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner data demografi dan Dementia Knowledge Assesment Scale (DKAS) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Analisis data menggunakan analisis univariat. Hasil: Mayoritas family caregiver rata-rata berusia lebih dari 65 tahun, perempuan, dan telah merawat pasien lebih dari 6 bulan. Jenis demensia yang paling banyak diderita pasien adalah demensia vaskular. Pengetahuan family caregiver pasien demensia rata-rata adalah 23,25 dari skor total maksimal 50. Rata-rata skor pengetahuan family caregiver tentang demensia tertinggi adalah pada domain 3 care consideration (rata-rata 8,17 ± 2,64) dan terendah pada domain 2 communication and behaviour (rata-rata 4,19 ± 1,82). Kesimpulan: Pengetahuan family caregiver tentang demensia masih dalam kategori kurang. 
Pengaruh Pendidikan Kesehatan Reproduksi Berbasis Kesetaraan Gender Terhadap Efikasi Diri Seksual Remaja Putra Siswa SMP di Kota Yogyakarta Annisa Rachmawati; Wenny Artanty Nisman; Ika Parmawati
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.67967

Abstract

Background: Teenagers experience various changes, both physically and physiologically. Prominent changes result in the attraction of the opposite sex thus begin to feel sexual desire. Society that favored one gender increases the possibility of adolescents to develop risky sexual behavior. Reproductive health education is an intervention that can be done to reduce the sexual risk behavior in adolescents. Objectives: This study aims to determine the effect of gender equality-based reproductive health education on sexual self-efficacy of male students. Method: This study was a quasi-experimental study with pretest-posttest with a control group. Samples were taken by consecutive sampling technique. Respondents were 33 male adolescents who were given gender equality-based reproductive health education and 34 male adolescents with usual reproductive health education only that were conducted by the Puskesmas as a control group. Sexual self-efficacy was measured by the adolescent sexual self-efficacy questionnaire developed by researchers (r >0,1754; p= 0,745). Results: Differences in the self-efficacy score on pretest-posttest treatment group were -3,54 ± 12,88 and the control group was 3,09 ± 13,25. The treatment group has a value of p = 0,124 and the control group p = 0,183 so that the two did not experience a significant increase. There was a significant difference between the treatment group and the control group with a value of p= 0,034 but there was a decline in self-efficacy in the treatment group. The relationship test results show that the idol correlates with the increase in the male sexual self-efficacy score. Conclusion: Gender-based reproductive health education has no effect on increasing the male sexual self-efficacy score.ABSTRAKLatar belakang: Remaja mengalami berbagai perubahan, baik perubahan secara fisik maupun psikologis. Perubahan yang menonjol mengakibatkan munculnya ketertarikan terhadap lawan jenis yang memicu munculnya hasrat seksual. Budaya masyarakat yang mengunggulkan salah satu gender meningkatkan kerentanan remaja untuk melakukan perilaku seksual berisiko. Pendidikan kesehatan reproduksi merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi perilaku berisiko seksual pada remaja. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan reproduksi berbasis kesetaraan gender terhadap efikasi diri seksual remaja putra. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian quasi experimental with pretest-posttest dengan kelompok kontrol. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling. Responden adalah 33 remaja putra yang diberikan pendidikan kesehatan reproduksi berbasis kesetaraan gender dan 34 remaja putra dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang biasa dilakukan Puskesmas sebagai kelompok kontrol. Efikasi diri seksual diukur dengan kuesioner efikasi diri seksual remaja yang dikembangkan oleh peneliti.  Hasil: Beda peningkatan skor efikasi diri pada pretest-posttest kelompok perlakuan sebesar -3,54±12,88 (p = 0,124) dan kelompok kontrol sebesar 3,09±13,25 (p = 0,183) sehingga keduanya tidak mengalami peningkatan signifikan. Terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok perlakuan dan kelompok kontrol dengan nilai p = 0,042 namun terjadi penurunan rerata pada kelompok perlakuan. Hasil uji hubungan menunjukkan idola berkorelasi dengan peningkatan skor efikasi diri seksual remaja putra. Kesimpulan: Pendidikan kesehatan reproduksi berbasis kesetaraan gender tidak berpengaruh terhadap peningkatan skor efikasi diri seksual remaja putra.
Pengaruh Pelatihan Deteksi Perkembangan Dasar Balita terhadap Pengetahuan dan Keterampilan Kader di Wilayah Kerja Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta Aprilia Tri Astuti; Akhmadi Akhmadi; Sri Hartini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.74916

Abstract

Background: Early 5 years of a child’s life that referred as the golden period is a rapid growth and development. During this period, the role of a toddler cadre in detecting any problem related to growth and developmental is crucial. Therefore, an intervention is needed to enhance the knowledge and skills of cadres through basic toddler development detection training. Objective: To determine the influence of developmental detection training activities on the knowledge and skills of cadres in the working area of Gedongtengen Primary Health Care Center, Yogyakarta. Method: This study was a pre-experimental using one group pretest post-test design that conducted from February to May 2017. As many as 32 cadre members were involved in this study using simple random sampling. The treatment was a training using lecturing methods, demonstrations, and re-demonstrations with the aid of learning modules and PowerPoint slides. The instruments used were knowledge questionnaires based on the Stimulation, Detection, and Early Intervention for Growth and Development Guidelines (SDIDTK), and skill questionnaires using the Pre-Screening Development Questionnaire (KPSP) adopted from the same source. Data analysis was performed using paired t-tests and Wilcoxon tests. Result: Significant differences were found in the average pretest and post-test knowledge scores, with values of 11,69 ± 3,364 and 13,50 ± 4,166, respectively (p = 0,005). Similar significant differences were observed in the median pretest and post-test skill scores, which were 16,50 and 24, respectively (p = 0,000) Conclusion: Training for detection of toddler development proves to be an effective intervention for improving the knowledge and skills of cadre members.ABSTRAK Latar belakang: Lima tahun pertama kehidupan anak atau yang seringkali disebut sebagai periode emas adalah periode di mana seorang anak mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Pada periode ini peran seorang kader balita dalam mendeteksi adanya gangguan tumbuh kembang sangatlah krusial. Oleh karena itu, diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader melalui pelatihan deteksi perkembangan dasar balita. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh antara kegiatan pelatihan deteksi perkembangan dengan pengetahuan dan keterampilan kader di wilayah kerja Puskesmas Gedongtengen Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian pre-eksperimen one group pretest post-test yang dilakukan pada bulan Februari-Mei 2017. Sebanyak 32 orang kader dilibatkan dalam penelitian dengan menggunakan simple random sampling. Perlakuan yang diberikan berupa pelatihan menggunakan metode tatap muka, demonstrasi dan redemonstrasi dengan fasilitas modul pembelajaran dan slide PowerPoint. Instrumen yang dipakai berupa kuesioner pengetahuan yang dibuat berdasarkan buku Pedoman Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK), dan kuesioner keterampilan menggunakan Kuesioner Pra-Skrining Perkembangan (KPSP) yang diadopsi dari buku yang sama. Analisis data dilakukan dengan paired t-test dan Wilcoxon test. Hasil: Terdapat perbedaan yang bermakna terhadap rata-rata skor pengetahuan pretest dan post-test dengan besaran 11,69 ± 3,364 dan 13,50 ± 4,166 secara berurutan (p = 0,005), begitu juga dengan nilai tengah skor keterampilan pretest dan post-test  sebesar 16,50 dan 24 (p = 0,000).  Kesimpulan: Pelatihan deteksi perkembangan dasar balita merupakan intervensi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader 
Pengaruh Self-Selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) terhadap Cancer Related Fatigue (CRF) pada Pasien Kanker Gracia Rosiharjati Sarihastanti; Sri Setiyarini; Christantie Effendy
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.88696

Abstract

Background: Cancer is the second leading cause of death globally. Patients with cancer have various problems, both physicaly and physiologicaly, that are caused by the cancer itself or the effect of its treatment. One of the most common problems is cancer related fatigue (CRF). Music therapy is a kind of intervention to decrease CRF in cancer patient. Objective: To understand the effect of Self-Selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) intervention toward CRF and to measure relative risk between SeLIMuT and CRF. Method: The design of this study was cohort retrospective with analytic observational approach. Research was conducted in IRNA 1 RSUP Prof. Sardjito Yogyakarta, Teratai and Bougenville unit of RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto. Respondents were divided into non exposure group with standard care in hospital (n = 21) and exposure group (n = 21) with SeLIMuT therapy four times in two days within 15-20 minutes. CRF was assessed in both group using visual analogue scale (VAS) Fatigue and had been put in observational sheet. This study used independent T test to measure the effect of SeLIMuT on CRF. The relative risk was calculated using RR with 95% confidence interval (CI). Results: The result of the study showed that there was difference in average pre post in both groups with score 8,33 in SeLIMuT group and -1,53 in non SeLIMuT group with score of p = 0,00 (p < 0,05). CRF occurred in SeLIMuT group was decreased after intervention. The relative risk was measured using RR and the result was 5,00.  Conclusion: SeLIMuT intervention is an effective intervention to reduce CRF.ABSTRAKLatar belakang: Kanker merupakan penyebab kematian kedua di dunia. Pasien kanker mengalami banyak permasalahan fisik dan psikis, baik karena efek proses penyakit maupun dari efek samping pengobatan. Masalah yang banyak timbul pada pasien kanker adalah cancer related fatigue (CRF). Salah satu intervensi yang digunakan untuk mengatasi CRF adalah terapi musik. Tujuan: Mengetahui pengaruh Self-Selected Individual Music Therapy (SeLIMuT) terhadap CRF. Metode: Penelitian diambil dari data sekunder penelitian SeLIMUT menggunakan metode observasional analitik dengan pendekatan cohort retrospective yang dilakukan di IRNA 1 RSUP Prof. Sardjito Yogyakarta serta bangsal Teratai dan Bougenville RSUD Prof. Margono Soekarjo Purwokerto. Responden dibagi dalam kelompok intervensi (n = 21) yang menerima SeLIMuT sebanyak empat kali dalam dua hari masing-masing selama 15-20 menit dan kelompok kontrol (n = 21) yang hanya mendapatkan perawatan standar rumah sakit. Visual analogue scale (VAS) fatigue digunakan untuk menilai outcome CRF yang dilakukan sebelum (pretest) dan setelah (posttest). Uji pengaruh SeLIMuT terhadap CRF menggunakan independent T test. Uji besar risiko menggunakan relative risk (RR) dengan confidence interval (CI) sebesar 95%. Hasil: terdapat perbedaan rerata selisih pre-post pada kelompok intervensi sebesar 8,33 dan kelompok kontrol -1,53 dengan nilai p = 0,001 (p < 0,005). Hal ini menunjukkan bahwa terapi SeLIMuT berpengaruh terhadap penurunan CRF pada pasien kanker. RR didapatkan sebesar 5,00. Hal ini berarti bahwa SeLIMuT memiliki efek yang cukup besar terhadap penurunan CRF. Pasien kanker dengan SeLIMuT berpeluang tidak mengalami CRF kategori tidak lelah-lelah ringan 5x lebih banyak dibanding kelompok yang tidak mendapat intervensi. Kesimpulan: SeLIMuT dapat berpengaruh positif terhadap penurunan cancer related fatigue pada pasien kanker. 
Hubungan Skor Depresi dengan Kualitas Hidup Pada Pasien dengan Penyakit Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Kintan Ayu Kartika Putri; Melyza Perdana; Sri Warsini
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.88700

Abstract

Background: Repeated hemodialysis therapy in end-stage chronic kidney disease often leads to various physical and also psychological challenges. The significant mental challenges affecting the quality of life among patients with chronic kidney disorder is depression. Objective: Determine the relationship between the level of depression and the quality of life among patients with chronic kidney disorder undergoing hemodialysis at PKU Muhammadiyah Hospital, Yogyakarta. Method: This study was a correlational analytical research using cross-sectional approach that conducted at PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta from March to May, 2018. As many as 114 respondents were recruited using consecutive sampling technique. The instruments were the Beck Depression Inventory II (BDI II) questionnaire to measure depression scores and the Kidney Disease Quality of Life 36 (KDQOL 36) questionnaire to assess patient’s quality of life. Further data analysis was conducted using Spearman. Result: 28,94% of the respondents were diagnosed with depression with an average score of 12,06. The highest to lowest scores of quality of life were obtained in the symptom and problem domain, disease burden domain, followed by the physical quality of life domain in order. The significance of the Spearman analysis for the overall quality of life domains was p=0,000, detailed for physical domain  (r = -0,441), mental domain (r = -0,380), disease burden domain (r = -0,457), symptom and problem domain (r = -0,477), and disease effect domain (r = -0,449). Conclusion: Depression scores have a meaningful correlation with the overall quality of life domains of patients with chronic kidney failure that experiencing hemodialysis at PKU Muhammadiyah Hospital of Yogyakarta.ABSTRAKLatar belakang: Terapi hemodialisis yang berulang pada penyakit ginjal kronis stadium akhir kerapkali menyebabkan berbagai permasalahan fisik maupun mental. Salah satu permasalahan mental yang sangat berdampak pada kualitas hidup pasien yang mengalami penyakit ginjal kronis adalah depresi. Tujuan:  mengetahui hubungan antara tingkat depresi dan kualitas hidup pasien yang mengalami penyakit ginjal kronis dan sedang menjalani hemodialisis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Yang telah dilaksanakan di RS PKU Muhammadiyah, Yogyakarta  mulai Maret hingga Mei, 2018. Sebanyak 114 orang pasien dilibatkan dalam penelitian berdasarkan teknik consecutive sampling. Instrumen yang dipakai berupa Beck Depression Inventory II (BDI II) questioner untuk mengukur depresi, dan kuesioner Kidney Disease Quality of Life 36 (KDQOL 36) untuk menilai kualitas hidup pasien. Analisis data selanjutnya dilakukan dengan menggunakan Spearman Rank. Hasil: 28,94% responden terdiagnosis mengalami depresi dengan skor rata-rata sebesar 12,06. Dari kelima domain kualitas hidup, perolehan nilai dari domain tertinggi ke domain terendah adalah domain gejala dan masalah, domain beban penyakit, disusul dengan domain fisik kualitas hidup secara berurutan. Signifikansi analisis Spearman terhadap keseluruhan domain kualitas hidup adalah sebesar p=0,000, terperinci untuk domain kualitas hidup fisik (r = -0,441), domain psikologis (r = -0,380), domain beban dari penyakit (r = -0,457), domain masalah dan gejala (r = -0,477), serta domain dampak penyakit (r = -0,449). Kesimpulan: Derajat depresi memiliki korelasi yang bermakna dengan keseluruhan domain kualitas kehidupan pasien dengan penyakit gagal ginjal kronis yang sedang melakukan hemodialisis di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah, Yogyakarta. 
Hubungan Pengetahuan Perawat Dengan Keakuratan Dokumentasi Keperawatan di Instalasi Kesehatan Anak Mia Purnama; Itsna Luthfi Kholisa; Lely Lusmilasari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 3, No 3 (2019)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.88702

Abstract

Background: Nursing documentation is a written record of nursing process done by nurses to the clients. Documentation made in the form of nursing care consist of assessment, diagnosis, planning, implementation, and evaluation. Nursing documentation as a tool of communication; supposed to be accurate. Inaccurate documentation led to misinterpretation and endangered patients’ safety. The adoption of behavior based on knowledge last longer than the one was not based on knowledge. Nurses’ behavior in nursing documentation must be based on body of knowledge to provide healthcare services. Objective: To identify the correlation between nurses’ knowledge and the accuracy of nursing documentation at Pediatric Health Installation, Kartika room, RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta. Method: The research was conducted in Pediatric Health Installation of Kartika room at RSUP Dr. Sardjito on May to July 2018. It was a descriptive correlational study with cross-sectional design that the subjects are observed once and at a time (point time approach). The samples of the research were 30 nurses with 60 nursing documentation and used non-probability sampling techniques by consecutive sampling. Data collection techniques were using questionnaires and nursing documentation assessment sheets (D-Catch).  Results: More than half of the respondents (53,3%) good knowledge about nursing documentation and there were more than half of the respondents (60%) performed accurate nursing documentation. Statistical analysis a correlation test between knowledge and the accuracy of documentation using the Somers’d obtained a significance value 0,218 (p > 0,05). Conclusion: There is no correlation between knowledge and the accuracy of nursing documentation.ABSTRAKLatar belakang: Dokumentasi keperawatan merupakan suatu catatan tertulis mengenai asuhan keperawatan yang terdiri dari pengkajian, penegakan diagnosis, perencanaan, implementasi, hingga evaluasi. Dokumentasi keperawatan merupakan bentuk komunikasi yang apabila tidak dituliskan secara akurat dapat menimbulkan kesalahan interpretasi dan dapat membahayakan keselamatan pasien. Pengetahuan terkait dokumentasi asuhan keperawatan bagi perawat adalah hal yang sangat penting karena digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan untuk melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan secara akurat.  Tujuan: Mengetahui bagaimana hubungan pengetahuan perawat dengan keakuratan dokumentasi keperawatan di Ruang Kartika Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Metode: Penelitian dilakukan di Ruang Kartika Instalasi Kesehatan Anak RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada bulan Mei sampai Juli 2018. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan rancangan cross sectional. Sampel pada penelitian ini sebanyak 30 perawat dengan 60 dokumentasi keperawatan yang ditentukan menggunakan teknik non-probability sampling secara consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan lembar penilaian dokumentasi keperawatan (D-Catch). Hasil: Lebih dari setengah responden (53,3%) memiliki pengetahuan yang baik tentang dokumentasi keperawatan dan lebih dari setengah responden (60%) melakukan dokumentasi keperawatan secara akurat. Hasil uji korelasi variabel pengetahuan perawat dengan keakuratan dokumentasi menggunakan uji korelasi Somers’d didapatkan nilai signifikansi 0,218 (p > 0,05). Kesimpulan: Tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan keakuratan dokumentasi keperawatan.  

Page 1 of 1 | Total Record : 6