cover
Contact Name
Sri Warsini
Contact Email
sri.warsini@ugm.ac.id
Phone
+62274-545674
Journal Mail Official
jurnalkeperawatan.fk@ugm.ac.id
Editorial Address
Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Gedung Ismangoen Jl. Farmako, Sekip Utara Yogyakarta 55281
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal)
ISSN : 2614445x     EISSN : 26144948     DOI : https://doi.org/10.22146/jkkk.57386
Core Subject : Health,
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) accepts novel research articles, case study, literature review, and psychometric testing articles in all field of clinical and community of nursing. This journal is published through peer-review process by nursing and health expert in academic and health care institution in Indonesia. The scope includes: 1) Surgical medical nursing 2) Emergency nursing 3) Basic nursing 4) Education in nursing 5) Management in nursing 6) Maternity nursing 7) Pediatric nursing 8) Mental health nursing 9) Community nursing
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 6, No 3 (2022)" : 6 Documents clear
Hubungan antara Kecanduan Game Internet dengan Keterampilan Sosial pada Remaja di Kota Yogyakarta Devina Ngeksi Hari Laksono; Heru Subekti; Ema Madyaningrum
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.68450

Abstract

Background: Most Indonesians are internet users. Adolescents, who are active internet users and use internet for playing game too often, have the risk of experiencing online gaming addiction. Internet game addict may possess poor social skills.Objective: To find out the correlation between internet game addiction and social skills among adolescents in Yogyakarta.Method: This was an analytical study using cross sectional design. Participants of this study were 429 respondents from 8th grade of Junior High School students and 11th grade of Senior High School students in Yogyakarta. This research used “Indonesian Online Game Addiction” and “Social Skill Inventory” questionnaires. Data analysis used Somers’ D.Results: There were only few adolescents who were addicted to internet game (1,2%) and those who had mild internet game addiction (16,3%). Meanwhile, most of the adolescents had a moderate level of social skills (83,2%) and only 0,5% of adolescents with inferior social skills. The result of bivariate analysis of internet game addiction and social skills among adolescents in Yogyakarta showed a weak negative correlation (p<0,05, r= -0,124).Conclusion: Adolescents without internet game addiction will have high social skills.ABSTRAKLatar belakang: Sebagian besar penduduk Indonesia merupakan pengguna internet. Remaja yang terlalu sering bermain game internet memiliki risiko untuk mengalami kecanduan game online. Seseorang yang kecanduan bermain game internet dapat memiliki keterampilan sosial yang buruk.  Tujuan: Mengetahui hubungan antara kecanduan game internet dengan keterampilan sosial pada remaja di Kota Yogyakarta.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian korelasi analitik dengan rancangan cross sectional. Responden penelitian ini adalah siswa kelas VIII SMP dan kelas XI SMA, yang berjumlah 429 responden. Pemilihan subjek penelitian menggunakan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan kuesioner Indonesian Online Game Addiction dan Social Skill Inventory. Analisis data menggunakan Somers’ D.Hasil: Hanya sedikit dari responden yang mengalami kecanduan game internet (1,2%) dan mayoritas mengalami kecanduan game internet kategori ringan (16,3%). Sementara itu, sebagian besar remaja memiliki tingkat keterampilan sosial sedang (83,2%) dan hanya 0,5% remaja yang memiliki keterampilan sosial rendah. Hasil analisis bivariat terhadap kecanduan game internet dengan keterampilan sosial pada remaja di Kota Yogyakarta menunjukkan adanya hubungan (p<0,05, r=-0,124) yang lemah dengan arah negatif.Simpulan: Remaja yang tidak kecanduan game internet akan memiliki keterampilan sosial yang tinggi.
Pengaruh Hidroterapi Rendam Kaki Air Hangat terhadap Penurunan Tekanan Darah pada Lansia Hipertensi di Dusun Kembangan, Candibinangun, Pakem, Sleman, Yogyakarta Clara Diana Widyaswara; Therese Maura Hardjanti CB; Agnes Mahayanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.75264

Abstract

Background: Elderly 60 years and over will experience a decrease and physical changes, one of which is in the cardiovascular system, namely high blood pressure or hypertension. One way to lower blood pressure with non-pharmacological therapy is by soaking the feet in warm water.Objective: To determine the effect of warm water foot soaks hydrotherapy on reducing blood pressure in hypertensive elderly.Method: This study used a quasi-experimental research method by measuring blood pressure before the hydrotherapy intervention was soaked in warm water and after that, the blood pressure was measured again. The research subjects were hypertensive elderly in Kembangan Hamlet who met the inclusion criteria. The sampling technique used a random sampling technique with 10 research subjects in the intervention group and 11 in the control group. Data were analyzed using independent t-test and paired t-test.Results: fter the intervention, in the intervention group, there was a change in systolic mean (pretest: 151,20 mmHg, posttest: 137 mmHg, p=0,000), but not in diastolic mean (pretest: 84,20 mmHg, posttest: 82,80 mmHg, p= 0,066). Meanwhile, in the control group, there were differences in both systolic and diastolic mean (systolic pretest: 160,18 mmHg, posttest: 157,45 mmHg, p=0,001 and diastolic pretest: median 90 mmHg, posttest: median 88 mmHg, p=0,002). There were significant differences in systolic gain in both groups  (p=0,000) but not in diastolic (p=0,061)Conclusion: there is a significant difference in blood pressure after warm water foot soaks therapy in hypertensive elderly in Kembangan Hamlet, Candibinangun, Pakem.ABSTRAKLatar belakang: Lansia 60 tahun keatas akan mengalami penurunan dan perubahan fisik, salah satunya pada sistem kardiovaskular yaitu penyakit tekanan darah tinggi atau hipertensi. Salah satu cara menurunkan tekanan darah dengan terapi non farmakologi yaitu dengan hidroterapi rendam kaki air hangat.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh hidroterapi rendam kaki air hangat terhadap penurunan tekanan darah pada lansia hipertensi.Metode: Penelitian ini menggunakan metode penelitian quasi eksperimen dengan cara pengukuran tekanan darah sebelum dilakukan intervensi hidroterapi rendam kaki air hangat dan setelah itu dilakukan pengukuran tekanan darah kembali. Subjek penelitian yaitu lansia hipertensi di Dusun Kembangan yang memenuhi kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling dengan subjek penelitian sebanyak 10 orang kelompok intervensi dan 11 orang kelompok kontrol. Tekanan darah diukur menggunakan tensimeter. Pengukuran posttest dilakukan satu kali. Analisis data dilakukan dengan uji independen t-test dan paired t test.Hasil: Setelah dilakukan intervensi rendam kaki air hangat, pada kelompok intervensi terjadi perubahan rata-rata tekanan darah sistolik (pretest: 151,20 mmHg, posttest: 137 mmHg, p=0,000) namun tidak ada perubahan tekanan diastolik (pretest: 84,20 mmHg, posttest: 82,80 mmHg, p= 0,066). Sementara di kelompok kontrol terjadi perubahan tekanan darah sistolik (pretest: 160,18 mmHg, posttest: 157,45 mmHg, p=0,001) dan diastolik (pre test: median 90 mmHg, posttest: median 88 mmHg, p=0,002). Perbedaan selisih sistolik pada kedua kelompok didapatkan p=0,000, namun pada selisih diastolik didapat nilai p=0,061.Simpulan: Ada perbedaan yang signifikan pada tekanan darah setelah dilakukan terapi rendam kaki air hangat pada lansia hipertensi di Dusun Kembangan, Candibinangun, Pakem.
Hubungan Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan Hipertensi Intradialisis pada Pasien yang Menjalani Hemodialisis Yashinta Dewi; Theresia Tatik Pujiastuti; Avin Maria
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.75309

Abstract

Background: Intradialytic hypertension is one of the problems experienced by patient with chronic kidney failure who undergoing hemodialysis with a prevalence of 13,2% to 33,9%. This kind of hypertension is one of the biggest causes of death in patient who undergoing dialysis, with a rate of 59%. Several factor can affect intradialytic hypertension, such as interdialytic weight gain, age, gender, and the duration of hemodialysis.Objective: To determine the characteristic of patients who underwent hemodialysis and to determine the correlation between interdialytic weight gain (IDWG) and confounding factors (age, gender, and the duration of hemodialysis) with intradialytic hypertension.Methods: This research used quantitative methods with observational analytic design. The sampling used simple random sampling with a sample size of 126 patients, who met inclusion and exclusion criteria. Data were collected using secondary data and then analyzed using Fischer Test.Results: The result showed there was no correlation between Interdialytic weight gain (IDWG) and intradialytic hypertension (p value = 0,484). For confounding variable, there was also no correlation between age with intradialytic hypertension (p value= 0,584), gender with intradialytic hypertension (p value= 1,000), and the duration of hemodialysis with intradialytic hypertension (p value= 0,333).Conclusion: There was no statistically significant correlation between interdialytic weight gain (IDWG) and intradialytic hypertension. Age, gender, and duration of hemodialysis did not contribute to intradialytic hypertension.ABSTRAKLatar belakang: Hipertensi intradialisis merupakan salah satu permasalahan yang dialami pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, dengan prevalensi sekitar 13,2% sampai 33,9%. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar pada pasien yang menjalani dialisis, yaitu sebesar 59%. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi hipertensi intradialisis, seperti Interdialytic Weight Gain, usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis.Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien yang menjalani hemodialisis serta mengetahui hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dan faktor confounding (usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis) dengan hipertensi intradialisis.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 126 pasien, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data menggunakan lembar dokumentasi subjek penelitian dan analisis data menggunakan Fischer test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan hipertensi intradialisis (p-value = 0,484). Pada faktor confounding juga tidak ada hubungan antara hipertensi intradialisis dengan usia (p-value= 0,584), dengan jenis kelamin  (p-value = 1,000), dan dengan lama hemodialisis (p-value= 0,333).Simpulan: Tidak ada hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan hipertensi intradialisis. Usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis, juga tidak berhubungan dengan hipertensi intradialisis.
Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan Hipertensi melalui Intervensi Foot Massage di Desa Sungai Rangas Ulu: Studi Kasus Ainun H Herman; Agianto Agianto
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.75430

Abstract

Background: Intradialytic hypertension is one of the problems experienced by patient with chronic kidney failure who undergoing hemodialysis with a prevalence of 13,2% to 33,9%. This kind of hypertension is one of the biggest causes of death in patient who undergoing dialysis, with a rate of 59%. Several factor can affect intradialytic hypertension, such as interdialytic weight gain, age, gender, and the duration of hemodialysis.Objective: To determine the characteristic of patients who underwent hemodialysis and to determine the correlation between interdialytic weight gain (IDWG) and confounding factors (age, gender, and the duration of hemodialysis) with intradialytic hypertension.Methods: This research used quantitative methods with observational analytic design. The sampling used simple random sampling with a sample size of 126 patients, who met inclusion and exclusion criteria. Data were collected using secondary data and then analyzed using Fischer Test.Results: The result showed there was no correlation between Interdialytic weight gain (IDWG) and intradialytic hypertension (p value = 0,484). For confounding variable, there was also no correlation between age with intradialytic hypertension (p value= 0,584), gender with intradialytic hypertension (p value= 1,000), and the duration of hemodialysis with intradialytic hypertension (p value= 0,333).Conclusion: There was no statistically significant correlation between interdialytic weight gain (IDWG) and intradialytic hypertension. Age, gender, and duration of hemodialysis did not contribute to intradialytic hypertension.ABSTRAKLatar belakang: Hipertensi intradialisis merupakan salah satu permasalahan yang dialami pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis, dengan prevalensi sekitar 13,2% sampai 33,9%. Kondisi ini menjadi salah satu penyebab kematian terbesar pada pasien yang menjalani dialisis, yaitu sebesar 59%. Beberapa faktor yang dapat memengaruhi hipertensi intradialisis, seperti Interdialytic Weight Gain, usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis.Tujuan: Mengetahui karakteristik pasien yang menjalani hemodialisis serta mengetahui hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dan faktor confounding (usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis) dengan hipertensi intradialisis.Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik observasional. Jumlah sampel yang digunakan sebanyak 126 pasien, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengumpulan data menggunakan lembar dokumentasi subjek penelitian dan analisis data menggunakan Fischer test.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan hipertensi intradialisis (p-value = 0,484). Pada faktor confounding juga tidak ada hubungan antara hipertensi intradialisis dengan usia (p-value= 0,584), dengan jenis kelamin  (p-value = 1,000), dan dengan lama hemodialisis (p-value= 0,333).Simpulan: Tidak ada hubungan antara Interdialytic Weight Gain (IDWG) dengan hipertensi intradialisis. Usia, jenis kelamin, dan lama hemodialisis, juga tidak berhubungan dengan hipertensi intradialisis.
Pengaruh Pendidikan Kesehatan tentang Kepatuhan Pengobatan terhadap Dukungan Keluarga dengan Pasien Skizofrenia Nurlathifah Syamsiyah; Mulyanti Mulyanti
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.75819

Abstract

Background: Noncompliance with medication is a common concern among patients with schizophrenia. About half of schizophrenic patients who take medication do not take it as prescribed. The family has a crucial part in choosing on schizophrenia patients' care, including medication. The level of knowledge influences family support, furthermore, offering information through health education is one approach to boost knowledge.Objective: To determine how health education on medication compliance influenced family support in schizophrenia patients at Puskesmas Jetis II Bantul.Method: This study was a quasi-experimental  with a one-group pre-posttest design. The study was applied on 20 family caregivers of schizophrenia patients at Puskesmas Jetis II during May 2021. Family support questionnaire that had been modified and tested for validity and reliability was applied for collecting data. Data analysis was performed using univariate and bivariate techniques (paired t test).Result: During the pre-test, 13 (65%) of respondents had good family support scores (average score = 67,25), furthermore in the post-test 17 (85%) of respondents had good family support scores (average score = 68,95). The p value for the bivariate analysis was 0,46 which was not statistically meaningful.Conclusion: The provision of health education about medication compliance in this research had no meaningful impact on family support.ABSTRAKLatar belakang: Masalah yang sering dihadapi oleh penderita skizofrenia adalah ketidakpatuhan minum obat. Sekitar 50% dari penderita skizofrenia yang melakukan pengobatan, tidak patuh minum obat. Keluarga mempunyai peranan sangat penting dalam memutuskan perawatan pasien skizofrenia, termasuk pengobatan. Tingkat pengetahuan memengaruhi dukungan keluarga, lebih jauh lagi cara untuk meningkatkan pengetahuan, yakni melalui pendidikan kesehatan.Tujuan: Mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan tentang kepatuhan minum obat terhadap dukungan keluarga pada pasien skizofrenia di Puskesmas Jetis II Bantul.Metode: Penelitian ini merupakan jenis quasi eksperimen dengan rancangan one group pretest dan posttest. Responden penelitian yaitu 20 orang keluarga pasien skizofrenia di wilayah kerja Puskesmas Jetis II, selama bulan Mei 2021. Instrumen yang digunakan berupa instrumen dukungan keluarga yang telah dimodifikasi, serta diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat (paired t test).Hasil: Sebanyak 13 (65%) responden memiliki nilai dukungan keluarga yang baik (nilai rerata = 67,25) pada saat pretest. Kemudian pada posttest terdapat 17 (85%) responden dengan nilai dukungan keluarga yang baik pula (nilai rerata = 68,95). Hasil analisis menunjukkan, bahwa nilai p = 0,46 yang artinya tidak bermakna secara statistik.Simpulan: Pemberian pendidikan kesehatan tentang kepatuhan minum obat pada penelitian ini tidak berpengaruh secara signifikan terhadap dukungan keluarga.
Kombinasi Terapi Relaksasi Benson dan Posisi Head-up 30 Derajat untuk Penanganan Nausea pada Stroke Iskemik: Studi Kasus Nur Rohmawati; Murtaqib Murtaqib
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 3 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jkkk.77216

Abstract

Background: Ischemic stroke is characterized by abrupt changes in brain blood flow that impair neurological function. Circulatory imbalance causes nerve damage, especially autonomic nervous system dysfunction, which results in gastrointestinal and vascular disorders. As the result, individual is more likely to have headache, nausea, and blood circulation issues.Objective: To examine the impact of Benson's relaxation therapy and head up 30° position combination treatments on a patient with post-ischemic stroke who experiences nausea.Case report: A 50 years old male was admitted to the post stroke treatment area with complaints of dizziness, nausea, and vomiting for 10 straight days. An NGT was attached because he had swallowing difficulties. The internal capsule of the left posterior limb had an infarction, according to the results of the CT scan.Outcome: Benson's relaxation therapy and the 30° head position combination treatments reduced the frequency of nausea and increased patient compliance with nausea management. Clinical indicators following therapy were within normal ranges, and the Glassgow coma scale state indicated excellent consciousness.Conclusion: The combination of non-pharmacological therapy is intended to help the effectiveness of anti-emetic drugs by improving the psychological structure.ABSTRAKLatar belakang: Stroke iskemik dikenal dengan tanda-tanda perubahan sirkulasi darah ke otak secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan fungsi neurologis. Ketidakseimbangan sirkulasi dapat menyebabkan individu mengalami kerusakan saraf, terutama disfungsi saraf otonom yang dapat menyebabkan gangguan vaskular, maupun gastrointestinal. Oleh karena itu, pasien rentan mengalami gejala sakit kepala, nausea, dan gangguan sirkulasi darah.Tujuan: Menganalisis pengaruh kombinasi terapi posisi relaksasi Benson dan head up 30° pada pasien pasca-stroke iskemik dengan nausea.Laporan kasus: Laki-laki 50 tahun dirujuk ke ruang perawatan stroke, pasca-rehabilitasi stroke dengan keluhan pusing, mual dan muntah, selama 10 hari berturut-turut, dan terpasang selang NGT akibat kesulitan menelan. Hasil pemeriksaan CT Scan menunjukkan adanya gambaran infark capsula interna limb pada posterior kiri.Hasil: Hasil yang didapatkan dari kombinasi terapi relaksasi Benson dan posisi head up 30° adalah terjadinya penurunan frekuensi mual serta kepatuhan dalam manajemen mual, pada pasien dengan nausea. Setelah pemberian terapi, clinical sign dalam batas normal dan kondisi Glasgow Coma Scale (GSC) menunjukkan kesadaran yang baik.Simpulan: Kombinasi terapi nonfarmakologi bermaksud untuk membantu efektivitas obat anti-emetik dengan perbaikan pada struktur psikologis.

Page 1 of 1 | Total Record : 6