cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 18, No 2 (2011): Juni" : 5 Documents clear
Entrepreneurship Pustakawan di Era Persaingan Global Rinawati Rinawati
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (706.643 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.811

Abstract

AbstrakPengaruh dunia cyber yang memanjakan pengguna informasi menuntut kemampuan  merubah paradigma kepustakawanan, dengan semboyan berikan layanan pengguna dengan informasi yang tepat pustakawan harus berani melakukan insiatif dan aksi hingga terbentuk jiwa entrepreneurship. Nilai bisnis kepustakawanan sebagai usaha mendapatkan peluang dan tantangan baru pada bisnis jasa informasi dengan kenyakinan dan komitmen sebagai wujud keikutsertaan pustakawan pada persaingan global
Two way flow of information: paradigma baru pengelolaan informasi dan perpustakaan berdasarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan dalam perspektif Library 2.0 Yulianti Yulianti
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (583.752 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.812

Abstract

AbstrakArtikel ini membahas mengenai paradigma baru pengelolaan informasi dan perpustakaan berdasarkan Undang-Undang nomor 43 Tahun 2007 tentang perpustakaan dalam perspektif library 2.0. Perkembangan dunia perpustakaan juga didukung oleh perkembangan teknologi informasi. Pemerintah Republik Indonesia melalui Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan telah mengantisipasi dengan cermat mengenai hal ini. Ada 2(dua) Pasal yang secara eksplisit menyatakan dukungan dan antisipasi pemerintah terhadap perkembangan yang terjadi di dunia perpustakaan, yakni yang terkait dengan pelayanan teknis (Bab V, pasal 14, ayat 3) yang berbunyi: “Setiap perpustakaan mengembangkan layanan perpustakaan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi”, serta yang terkait dengan manajemen dan pengelolaan secara keseluruhan (Bab VI, pasal 19, ayat 2), yang berbunyi : “Pengembangan perpustakaan dilakukan berdasarkan karakteristik, fungsi dan tujuan, serta dilakukan sesuai dengan  kebutuhan pemustaka dan masyarakat dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi.” Kedua pasal tersebut di atas membawa konsekuensi yang cukup “menantang “ bagi dunia informasi dan perpustakaan. Konsekuensi untuk tetap memberikan yang terbaik kepada pemustaka, apapun dan bagaimanapun perkembangan yang terjadi. Hal ini didorong juga oleh bunyi Pasal 14 dalam Undang-Undang yang sama, yang menyebutkan bahwa layanan perpustakaan dilakukan secara prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka. Pada paradigma lama, pengelola informasi dan perpustakaan menyampaikan informasinya melalui jasa layanan kepada pemustaka. Setelah itu selesai. Umumnya respon atau efek yang muncul kemudian pada diri pemustaka tidak lagi menjadi perhatian pengelola informasi dan perpustakaan. Meskipun mungkin mereka bertemu dan bertatap muka, namun semuanya berlangsung satu arah saja. Pada paradigma baru, setelah pengelola informasi dan perpustakaan menyampaikan informasinya melalui jasa layanan kepada pemustaka, kemudian pemustaka memberikan responnya, sehingga pengelola informasi dan perpustakaan bisa melihat efek yang ditimbulkan dari informasi yang disampaikannya.
Pengembangan Pustakawan Indonesia: Bagaimana seharusnya? Muhammad Muntar Arifin Sholeh
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (603.141 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.808

Abstract

Kecenderungan masyarakat sekarang adalah membentuk pola hidup masa kini dan masa depan. Kecenderungan itu adalah pergeseran dari ekonomi industri ke ekonomi informasi. Dalam ekonomi industri, kapital merupakan sumber yang sangat strategis; sedangkan dalam ekonomi informasi, sumber yang paling strategis adalah informasi itu sendiri. Pada era global, informasi menjadi kekuatan yang harus diperhitungkan. Mereka yang dapat menguasai ekonomi informasi akan menjadi pemenang dalam persaingan hidup. Misalnya, informasi yang disebarluaskan surat kabar dapat memberi kekuatan masyarakat untuk semakin peka terhadap lingkungan, semakin kritis terhadap fenomena sosial, dan semakin waspada terhadap penyimpangan pembangunan. Pergeseran pola hidup tersebut menunjukkan bahwa saat ini masyarakat, khususnya masyarakat kampus, telah menjadi masyarakat informasi (Information society). Information society ditandai dengan kesadaran masyarakat tentang nilai informasi (information awareness), ledakan jumlah informasi (information bombing),  kebutuhan informasi (information need), dan cara-cara efektif - efisien dalam melacak informasi (information retrieval). Information awareness dapat dilihat di mana berbagai tempat para anggota masyarakat membaca koran/majalah, dan di warnet-warnet (warung internet) mereka mencari informasi lewat internet. Information bombing dapat diketahui dengan semakin marak penerbitan buku, koran, majalah, tabloid, dsb., dan menjamurnya internet yang menyediakan samudra informasi yang begitu luas. Information need seseorang didasarkan pada kebutuhan (kepentingan) dan keahlian (keilmuan)-nya. Information retrieval harus dilakukan secara efektif dan efisien karena ledakan informasi yang dahsyat dan meluas. Informasi yang banyak dan luas ini membutuhkan kemampuan membaca sebagai syarat untuk hidup dalamnya, membaca yang dimaksud bukan sekedar membaca huruf melainkan kemampuan memahami makna dari suatu bacaan (informasi). Sehingga reading culture atau budaya membaca sebuah masyarakat menjadi salah satu turunan indikator kualitas SDM suatu bangsa, Selain budaya baca yang rendah dan jumlah terbitan buku yang sedikit, permasalahan kepustakawanan di Indonesia adalah pustakawan merupakan profesi yang kurang diminati, terbatasnya kualitas dan kuantitas pustakawan, dan bahkan ada kesan bahwa perpustakaan merupakan tempat “pembuangan” pegawai yang tidak terpakai. Problema inilah yang dihadapi oleh kepustakawanan Indonesia yang harus terus berkembang untuk mengatasi problema tersebut. Bagaimana seharusnya kepustakawanan Indonesia dikembangkan?
Pustakawan Ideal: Memadukan Aspek Profesional dan Aspek Perilaku Rahayuningsih Rahayuningsih
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.809

Abstract

AbstrakPustakawan adalah orang yang mempunyai tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melaksanakan kerja di unit perpustakaan, dokumentasi dan informasi. Pustakawan yang ideal terbentuk dari aspek profesionalisme dan aspek perilaku. Profesionalisme pustakawan mengacu kepada kemampuan untuk merencanakan, mengkoordinasikan, dan melaksanakan fungsinya secara efisien, motivatif, lentur, dan mempunyai etos kerja tinggi sesuai dengan tuntutan penyelesaian tugas kepustakawanan berdasarkan ilmu yang diperoleh dari pendidikan profesi. Perilaku mengacu kepada nilai, norma moral dan kode etik, dalam hal ini kode etik pustakawan, dalam memberikan layanan terbaik kepada pengguna.
Meningkatkan Profesionalisme Sebagai Langkah Awal Peningkatan Citra Positif Pustakawan Purwani Istiana
Media Pustakawan Vol 18, No 2 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v18i2.810

Abstract

Kepuasan pemustaka merupakan cikal bakal dalam membentuk citra positif pustakawan dan perpustakaan. Membangun citra positif pustakawan mustahil tanpa adanya profesionalisme dalam diri pustakawan. Citra positif terbangun seiring dengan sikap profesional yang ditunjukkan ketika memberikan pelayanan kepada pemustaka. Pustakawan adalah sebuah profesi. Untuk meningkatkan profesionalisme pustakawan hal penting yang harus diperhatikan adalah pustakawan harus bekerja berdasarkan ilmu dan terus mengembangkan kemampuannya, memiliki kemampuan intrapersonal sehingga memiliki kepribadian yang kuat, mampu mensikapi berbagai perubahan yang terjadi di masyarakat, memiliki kemampuan interpersonal yaitu kemampuan seseorang berinteraksi dengan orang lain, dan membangun hubungan baik dengan individu lain. Pandangan masyarakat tentang profesi pustakawan akan tergantung bagaimana pustakawan dapat menanggapi dan mampu memberikan perubahan yang lebih berkualitas.

Page 1 of 1 | Total Record : 5


Filter by Year

2011 2011


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 29, No 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue