cover
Contact Name
Media Pustakawan
Contact Email
media.pustakawan@gmail.com
Phone
+6287876564261
Journal Mail Official
media.pustakawan@gmail.com
Editorial Address
Jalan Salemba Raya No.28 A, Pusat Pembinaan Pustakawan
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Media Pustakawan
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 08529248     EISSN : 26853396     DOI : https://doi.org/10.37014/medpus
Core Subject : Science,
Jurnal Media Pustakawan merupakan terbitan Perpustakaan Nasional, Pusat Pembinaa Pustakawan(Pusat Pembinaan Pustakawan) yang berfokus pada bidang ilmu perpustakaan dan informasi khususnya yang berhubungan dengan pengembangan kepustakawanan . Artikel Jurnal yang diterbitkan merupakan hasil kajian atau penelitian yang dapat bersumber dari studi literatur, studi lapangan, eksperimen, dan implementasi dari konsep, teori & model di bidang kepustakawanan.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 11 Documents
Search results for , issue "Vol 21, No 3 " : 11 Documents clear
Fakta dan Pencitraan Pustakawan dalam Sertifikasi R. Deffi Kurniawati; Wuri Setya Intarti
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3861.921 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.802

Abstract

Perpustakaan yang baik adalah saat perpustakaan banyak dikunjungi dan diminati pemustaka. Banyaknya pemustaka berkunjung ke perpustakaan tidak luput dari layanan yang menyenangkan dan memuaskan, di samping tentunya sarana dan prasarana yang mendukung. Hal ini juga tidak luput dari peran pustakawan. Pustakawan yang baik dan profesional merupakan kunci dari keberhasilan perpustakaan maju dan berkembang. Pustakawan dituntut untuk berkreasi dan berkarya dalam memajukan perpustakaan, guna memikat pemustaka. Citra pustakawan merupakan kunci bagaimana seseorang dapat dihargai dan dihormati profesinya. Keterampilan dan keahlian pustakawan dapat dilihat dari bagaimana pustakawan bekerja. Fakta di lapangan sangat menentukan pustakawan untuk bersaing di era globalisasi pada saat ini. Salah satu dampak hasil yang diperoleh dari pencitraan pustakawan dapat dilihat bagaimana perpustakaan terus berkembang dan bersaing dengan sarana informasi lain, seperti internet dan search engine lainnya, yang bisa memfasilitasi informasi serta memuaskan pemustaka.
Pustakawan Sekolah dan Pembelajar Sepanjang Hayat: Konsep dan penerapan literasi informasi di sekolah James Frederich Kurniajaya
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5348.756 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.793

Abstract

Perpustakaan sebagai salah satu sarana pembelajaran harus mampu menyediakan berbagai macam informasi yang dibutuhkan siswa dalam proses belajar mengajar di dalam kelas. Pustakawan harus tanggap akan kebutuhan pemustaka. Sistem pendidikan yang menuntut siswa berperan aktif dalam pembelajaran, menjadikan perpustakaan sebagai pusat informasi primer dalam penyelesaian tugas-tugas sekolah. Seiring dengan perkembangan teknologi, beragam informasi dapat ditemukan dengan cepat. Dibutuhkan keterampilan khusus untuk mengantisipasi membludaknya informasi yang ditemukan dalam proses penelusurannya. Keterampilan ini akan sangat bermanfaat dalam setiap aspek kehidupan siswa sebagai pembelajar sepanjang hayat. Keterampilan Literasi Informasi mengajarkan siswa untuk berpikir kritis dan logis dalam memecahkan setiap permasalahan yang ditemukan. Perpustakaan dan pustakawan sekolah sangat berperan dalam mengajarkan keterampilan Literasi Informasi dengan berbagai konsep dan model. Berbagai model Literasi Informasi dapat diintegrasikan ke dalam program sekolah dan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing institusi/lembaga.
Pustakawan Layanan Prima: Kunci eksistensi perpustakaan Arief Wicaksono
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2359.604 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.803

Abstract

Perpustakaan diamanatkan untuk memberikan layanan prima dan berorientasi bagi kepentingan pemustaka. Jika perpustakaan mampu memberikan layanan prima maka perpustakaan tidak lagi dipandang sebelah mata oleh masyarakat. Agar mampu memberikan layanan prima, perpustakaan harus memperhatikan secara seimbang faktor SDM, sarana dan prasarana, dan produk. Namun dari ketiga faktor ini, faktor SDM memegang peran utama. Kunci eksistensi perpustakaan yang diperoleh dari layanan prima adalah pustakawan layanan prima.
Dasar-dasar Pelayanan Instansi Pemerintah Menuju Pelayanan Prima (Service Excellence) Arta Simamora
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3545.061 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.794

Abstract

Setiap penyelenggaraan pelayanan publik harus memiliki standar pelayanan prima dan dipublikasikan sebagai jaminan kepastian bagi penerima pelayanan. Standar pelayanan merupakan ukuran yang dilakukan dalam penyelenggaraan pada pelayanan publik yang wajib ditaati oleh pemberi dan penerima pelayanan agar tercapai kualitas layanan yang dapat memberikan kepuasan pengguna layanan (KepmenPAN No.63 KEP/MenPAN/7/ 2003). Banyak instansi pemerintah telah mengimplementasi service excellence (pelayanan prima) namun gagal. Apa masalahnya?. Aparatur merupakan kunci keberhasilan penyelenggaraan pemerintahan. Penilaian masyarakat terhadap instansi pemerintah yang mengelola pelayanan publik terhadap masyarakat masih dinilai masih buruk/kurang sampai saat ini. Oleh karena itu perlunya meningkatkan sumber daya manusia aparatur yang memiliki kompetensi dalam memberikan pelayanan prima terhadap masyarakat.
Peran Pustakawan Sekolah Menyongsong Kurikulum 2013 Mujiati Mujiati
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4662.548 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.816

Abstract

Kurikulum 2013 merupakan kelanjutan dari kurikulum 2004 yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) dengan mencakup kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan secara terpadu, sehingga siswa memiliki kompetensi unggul dalam sikap, pengetahuan, dan ketrampilan yang seimbang dan memiliki wawasan yang luas. Kurikulum ini disiapkan untuk mencetak generasi handal yang siap di dalam menghadapi persaingan global. Karena itu kurikulum ini disusun agar siswa aktif, inovatif, kreatif dan menarik dengan menggunakan pendekatan ilmiah (science approach) yang bertujuan untuk mendorong peserta didik atau siswa, mampu lebih baik dalam melakukan observasi, bertanya, bernalar, dan mengkomunikasikan /mempresentasikan, apa yang mereka peroleh atau mereka ketahui setelah menerima materi pembelajaran. Adapun obyek yang menjadi pembelajaran dalam penataan dan penyempurnaan kurikulum 2013 menekankan pada fenomena alam, sosial, seni, dan budaya yang. untuk dapat mewujudkan hal itu, maka peran aktif dan kreatif dari pustakawan dalam membimbing siswa menelusuri informasi sangat penting, karena pembelajaran model tersebut tidak hanya di ruang kelas namun di tempat lain terutama perpustakaan.
Pemanfaatan Internet Sebagai Alat Referensi Oleh Pustakawan Referensi Pada Perpustakaan Perguruan Tinggi X Jakarta Kiki Fauziah
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4226.719 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.795

Abstract

Pustakawan referensi merupakan seseorang yang berperan dalam memberikan petunjuk atau arahan kepada setiap pemustaka yang membutuhkan bantuan dalam mendapat informasi yang dibutuhkan. Dalam memberikan bimbingan kepada pemustaka untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan, maka pustakawan referensi sudah seharusnya memanfaatkan internet sebagai alat referensi dalam mendapatkan informasi yang dibutuhkan oleh pemustaka. Dalam artikel ini akan dibahas mengenai teknik pustakawan referensi dalam memanfaatkan internet sebagai alat referensi yaitu kapan dan bagaimana pustakawan referensi dalam memanfaatkan internet sebagai alat referensi.
Pengaruh Kepemimpinan dan Pengaturan Staf Terhadap Keterbatasan Kuantitas SDM Dalam Upaya Optimalisasi Jadwal Kerja dan Layanan Prima di Perpustakaan Universitas X Erika Erika
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3894.881 KB) | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.796

Abstract

Kebutuhan informasi dan riset di perguruan tinggi menuntut perpustakaan untuk menyediakan jam operasional yang lebih panjang selain koleksi yang mendukung dan layanan prima dari pustakawan. Perpustakaan Univeristas X dalam upaya tersebut beroperasi selama 14 jam dalam sehari mulai pukul 07.00 sampai 21.00 pada hari Senin sampai Jumat dan pukul 09.00 sampai 17.00 pada hari Sabtu dengan jumlah pustakawan yang terbatas, yaitu 5 orang di Perpustakaan Kampus A. Sementara Perpustakaan di Kampus B buka dari pukul 08.00 sampai 19.00 dengan jumlah pustakawan 1 orang. Penelitian ini fokus pada pengaturan jadwal kerja dalam upaya memaksimalkan jam buka layanan perpustakaan, dan pengaruh gaya kepemimpinan untuk memotivasi pustakawan agar tetap memberikan layanan yang prima. Melalui metode observasi dan wawancara, Perpustakaan Universitas X memberlakukan 3 jadwal kerja dari hari Senin hingga Jumat dan 2 jadwal kerja di hari Sabtu. Gaya pemimpin dalam manajerial mempengaruhi kedisiplinan waktu para pustakawan terhadap shifting serta dapat juga memotivasi untuk memberikan layanan prima pada pemustaka.
Forum Ultima: Upaya Perpustakaan Universitas Multimedia Nusantara Mengelola Pengetahuan Implisit (tacit) Yunita Riris Widawaty
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.791

Abstract

Di universitas setiap hari terjadi terjadi penciptaan dan pemindahan (sharing) pengetahuan. Secara umum pengetahuan dibagi menjadi dua yaitu pengetahuan eksplisit dan implisit (tacit). Pengetahuan eksplisit lebih mudah dikelola karena telah terekam dalam berbagai format dan dapat disebarkan melalui berbagai media. Tidak demikian halnya dengan pengetahuan implisit yang masih tersimpan dalam pikiran masing-masing sesuai dengan karakteristik dan keahlian yang berbeda-beda, maka sulit menangkap dan merekamnya untuk kemudian disebarluaskan. Padahal pengetahuan implisit jauh lebih luas dan dalam serta unik dibandingkan pengetahuan eksplisit. Pengetahuan implisit (tacit) bersifat tidak berwujud, tersimpan dan terikat secara mendalam dengan pemiliknya. Pengetahuan implisit lebih kompleks dan tidak mudah dikelola, namun justru menjadi kekuatan performa organisasi dan penyebarannya krusial dalam memperkaya sumber-sumber yang ada. Selama ini, perpustakaan lebih banyak berfokus pada organisasi (seleksi, katalogisasi) dan penyebaran (termasuk pencarian) pengetahuan eksplisit. Padahal banyak pengetahuan yang masih ada dalam kepala dan belum pernah direkam dalam sumber-sumber informasi yang umumnya dikelola oleh Perpustakaan. Melalui penyelenggaraan Forum Ultima secara berkala, Perpustakaan Universitas Multimedia Nusantara berupaya mengelola pengetahuan implisit (tacit) sivitas akademika. Pengelolaan yang dilakukan meliputi penangkapan, perekaman, penyimpanan, hingga pencarian informasinya.
Membangun Palapa di Gadjah Mada: Strategi Integrasi Sistem Informasi Perpustakaan (SIP) Universitas Gadjah Mada Ikhwan Arif
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.817

Abstract

Permasalahan rumit yang dihadapi Perpustakaan Universitas Gadjah Mada adalah adanya tantangan untuk mengintegrasikan sistem informasi perpustakaan (SIP) yang digunakan di berbagai perpustakaan di UGM. Berdasarkan pengalaman kompleksitas permasalahan yang dijumpai tidak bertumpu pada aspek teknis saja namun lebih menonjol pada aspek bersifat non-teknis. Untuk mengatasi permasalahan tersebut diperlukan strategi yang dapat menjawab berbagai permasalahan yang ada. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengembangkan suatu model strategi integrasi yang dilakukan sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada di UGM. Metode penelitian yang digunakan adalah diskriptif kualitatif yaitu mendeskripsikan semua data/informasi di lapangan berdasarakan fakta-fakta yang dijumpai seperti apa adanya. Dalam penelitian ini dihasilkan skema integrasi yang dilakukan secara bertahap sesuai dengan prioritas saat ini.
Sertifikasi Pustakawan Sebagai Tolak Ukur Profesionalisme dan Peningkatan Citra Profesi Pustakawan dalam Menghadapi ASEAN Economic Community 2015 Ahmad Hidayah
Media Pustakawan Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER
Publisher : Perpustakaan Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37014/medpus.v21i3 & 4.792

Abstract

Sertifikasi adalah proses pemberian sertifikat yang dilakukan secara sistematis dan objektif melalui asesmen kerja nasional Indonesia atau internasional yang berpedoman BNSP 202 Rev.2-2009. Bagi pustakawan yang melalui proses sertifikasi dan lulus uji kompetensi akan diberikan sertifikat. Perpustakaan merupakan institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekan secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi para pemustaka. Oleh karena itu pustakawan harus bersikap profesional dalam mengelola perpustakaan. Seperti yang sudah tertuang dalam UU No. 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan, yaitu “Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan”. Artinya pustakawan adalah pegawai yang mampu mengelola dan mengembangkan perpustakaan dengan kompetensinya. Masyarakat Ekonomi Asean atau yang lebih dikenal dengan Asean Economic Community (AEC) menuntut masyarakat Indonesia dapat bersaing secara regional dan global dalam berbagai bidang baik bidang ekonomi pada Asean Free Trade Area (AFTA), bidang pendidikan dan teknologi pada ASEAN Ministerial Meeting on Science and Technology (AMMST) dan bidang lain termasuk didalamnya bidang Perpustakaan, Dokumentasi dan Informasi sehingga kelak kedepannya bangsa Indonesia dapat bersaing secara global dan menjadi salah satu pusat pengetahuan dunia melalui lembaga Perpustakaan.

Page 1 of 2 | Total Record : 11


Filter by Year

2014 2014


Filter By Issues
All Issue Vol. 32 No. 2 (2025): Agustus Vol. 32 No. 1 (2025): April Vol. 31 No. 3 (2024): Desember Vol. 31 No. 2 (2024): Agustus Vol. 31 No. 1 (2024): April Vol. 30 No. 3 (2023): Desember Vol. 30 No. 2 (2023): Agustus Vol. 30 No. 1 (2023): April Vol. 29 No. 3 (2022): Desember Vol. 29 No. 2 (2022): Agustus Vol 29, No 2 (2022): Agustus Vol 29, No 1 (2022): April Vol. 29 No. 1 (2022): April Vol 28, No 3 (2021): Desember Vol 28, No 2 (2021): Agustus Vol 28, No 1 (2021): April Vol 27, No 3 (2020): Desember Vol 27, No 2 (2020): Agustus Vol 27, No 1 (2020): April Vol 26, No 4 (2019): Desember Vol 26, No 3 (2019): September Vol 26, No 2 (2019): Juni Vol 26, No 1 (2019): Maret Vol 25, No 5 (2018): Desember -- edisi khusus Vol 25, No 4 (2018): Desember Vol 25, No 3 (2018): September Vol 25, No 2 (2018): Juni Vol 25, No 1 (2018): Maret Vol 24, No 4 (2017): Desember Vol 24, No 3 (2017): September Vol 24, No 2 (2017): Juni Vol 24, No 1 (2017): Maret Vol 23, No 2 (2016): Juni Vol 23, No 1 (2016): Maret Vol 22, No 4 (2015): Desember Vol 22, No 3 (2015): September Vol 22, No 2 (2015): Juni Vol 22, No 1 (2015): Maret Vol 21, No 3 & 4 (2014): DESEMBER Vol 21, No 2 (2014): JUNI Vol 21, No 1 (2014): Maret Vol 20, No 3 (2013): September Vol 20, No 2 (2013): Juni Vol 20, No 1 (2013): Maret Vol 19, No 4 (2012): Desember Vol 19, No 3 (2012): September Vol 19, No 2 (2012): Maret Vol 18, No 4 (2011): Desember Vol 18, No 3 (2011): September Vol 18, No 2 (2011): Juni Vol 18, No 1 (2011): Maret Vol 17, No 3&4 (2010): SEPTEMBER & DESEMBER Vol 17, No 1&2 (2010): Maret dan Juni Vol 16, No 3&4 (2009): September Vol 16, No 1&2 (2009): Maret Vol 15, No 1&2 (2008): Juni Vol 15, No 3 (2008): September Vol 14, No 3&4 (2007): Desember Vol 14, No 2 (2007): Juni Vol 14, No 1 (2007): Maret More Issue