cover
Contact Name
Luqman Agung Wicaksono
Contact Email
luqmanagungw@gmail.com
Phone
+6287870205238
Journal Mail Official
jtp@upnjatim.ac.id
Editorial Address
Jalan Raya Rungkut Madya, Gunung Anyar Surabaya, 60294
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Teknologi Pangan
ISSN : 19784163     EISSN : 26545292     DOI : https://doi.org/10.33005/jtp
Jurnal Teknologi Pangan is one of Food Technology Journal in Indonesia managed by Department of Food Technology at Universitas Pembangunan Nasional "Veteran", East Java, Indonesia. This journal has been published since 2007 and registered with ISSN 1978-4163 and E-ISSN 2654-5292 (Online). Jurnal Teknologi Pangan is published twice a year in June and December. This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: Food Microbiology,Food Processing and Food Chemistry.
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025" : 10 Documents clear
KARAKTERISTIK FISIKOKIMIA DAN ORGANOLEPTIK SIRUP KULIT BUAH NAGA MERAH DENGAN PEMANIS ALAMI EKSTRAK DAUN STEVIA Afifah, Aulia; Yusmarini, Yusmarini; Fitriani, Shanti
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5447

Abstract

Sirup adalah larutan kental berasa manis dan dapat dibuat menjadi minuman dengan menambahkan sejumlah air. Kandungan gula pada daun stevia dapat digunakan sebagai pemanis alami pada sirup kulit buah naga merah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan konsentrasi ekstrak daun stevia terbaik dalam pembuatan sirup kulit buah naga merah. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan empat ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah konsentrasi ekstrak daun stevia (1%, 3%, 5% dan 7%). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan analisis varian dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf 5%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsentrasi ekstrak daun stevia berpengaruh nyata terhadap karakteristik derajat keasaman (pH) dan sensori rasa. Perlakuan terbaik dalam penelitian ini adalah S2 (3% ekstrak daun stevia) dengan nilai pH 4,48, viskositas 275,50 cP, dan kadar gula total 16,15%. Uji deskriptif menunjukkan bahwa sirup kulit buah naga merah memiliki warna merah, beraroma daun stevia dan kulit buah naga, berasa manis, tekstur agak kental dan penelitian keseluruhan secara hedonik disukai oleh panelis.
PENENTUAN UMUR SIMPAN BUMBU HALAWA MENGGUNAKAN PENDEKATAN KADAR AIR KRITIS Adawiyah, Indriyati; Ilmi, Hanifah Faaiqotul; Sarofa, Ulya; Winarti, Sri
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5626

Abstract

Bumbu rasa sapi “Halawa” merupakan produk pangan berbentuk serbuk yang bersifat higroskopis dan rentan mengalami penurunan mutu akibat penyerapan uap air. Penelitian ini bertujuan untuk menduga umur simpan bumbu “Halawa” dengan pendekatan kadar air kritis melalui metode Accelerated Shelf-Life Testing (ASLT) pada tiga jenis kemasan: aluminium foil, metalized plastic, dan polipropilen. Penentuan umur simpan dilakukan dengan mengukur kadar air awal, kadar air kritis (berdasarkan uji sensori dengan 25 panelis semi-terlatih), dan kadar air kesetimbangan melalui paparan pada berbagai kondisi kelembaban relatif (RH) yang diatur menggunakan larutan garam jenuh. Data kadar air kesetimbangan kemudian dianalisis untuk membentuk kurva sorpsi isotermis dan ditentukan model terbaik melalui pendekatan matematis (Caurie, Halsey, Oswin, GAB, dll.) berdasarkan nilai Mean Relative Deviation (MRD). Nilai kemiringan kurva (b) dari model terpilih digunakan dalam perhitungan umur simpan. Parameter lain yang dihitung meliputi luas permukaan kemasan, bobot padatan per kemasan, serta permeabilitas uap air bahan kemasan berdasarkan metode ASTM D1249-90. Seluruh parameter kemudian disubstitusikan ke dalam persamaan Labuza untuk memprediksi waktu pencapaian kadar air kritis pada masing-masing jenis kemasan. Hasil menunjukkan kadar air awal sebesar 0,0066 gH₂O/g solid dan kadar air kritis sebesar 0,0636 gH₂O/g solid. Model sorpsi isotermis Hasley dipilih dengan persamaan Log(Ln(1/Aw)) = -1.3435 - 0.6872 log Me. Nilai permeabilitas masing-masing kemasan adalah 0,065; 0,214; dan 0,4 gH₂O/hari·m²·mmHg. Umur simpan tertinggi terdapat pada kemasan aluminium foil (1100 hari), diikuti metalized plastic (334 hari), dan polipropilen (178 hari). Kemasan terbaik untuk menjaga mutu bumbu “Halawa” adalah aluminium foil.
ANALISIS KUALITAS TEH DAUN KOPI ARABICA (Coffea arabica L.): PENGARUH LAMA PELAYUAN DAN LAMA PENGERINGAN Ima, Meliani Suryati; Ahmadi, Kgs; Handayani, Sri
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5380

Abstract

Coffee leaf tea is made from young shoots that inhibit the growth of coffee flowers and must therefore be removed. Coffee leaves contain antioxidant compounds such as flavonoids, alkaloids, saponins, caffeine, and polyphenols, which have the potential to provide health benefits. The objectives of this study were: (a) to analyze the effects of withering time and drying time on the physicochemical and organoleptic qualities of coffee leaf tea, and (b) to determine the best treatment combination. The research design used was a Completely Randomized Factorial Design (CRFD). Factor I was Withering Time (three levels: 1 hour, 2 hours, and 3 hours), and Factor II was Drying Time (three levels: 2 hours, 4 hours, and 6 hours). Each treatment combination was replicated three times. The results of the analysis of variance showed that the interaction between withering time and drying time had a highly significant effect on antioxidant activity, a significant effect on pH and sensory attributes (taste, aroma, and color), but no significant effect on moisture content and color parameters (L*, a*, b*). The best treatment was obtained with a withering time of 3 hours and a drying time of 4 hours, resulting in an antioxidant activity of 13.11%, moisture content of 2.58% (dry basis), pH of 6.06, brightness (L) of 22.72, redness (a) of -3.18, and yellowness (b*) of 6.23. Sensory scores were 2.75 for taste, 2.68 for aroma, and 2.80 for color.
PERUBAHAN PARAMETER BIOKIMIA DAN AKTIVITAS ANTIOKSIDAN RUSIP SELAMA PERIODE FERMENTASI Agustina, Farida; Rini, Dina Mustika; Kurnianto, Muhammad Alfid; Priyanto, Anugerah Dany
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5383

Abstract

Rusip adalah produk fermentasi tradisional berbahan ikan teri dari Bangka Belitung yang kaya metabolit penentu cita rasa dan bioaktivitas. Selama fermentasi, parameter biokimia rusip mengalami perubahan, termasuk pH, protein, asam amino, dan asam lemak. Potensi aktivitas antioksidan pada rusip juga tinggi, namun dinamika perubahannya selama fermentasi masih jarang diteliti. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini untuk melakukan kuantifikasi pada parameter biokimia dan antioksidan rusip selama fermentasi. Penelitian ini menganalisis perubahan biokimia dan antioksidan pada tiga durasi fermentasi (0, 10, 20 hari). Fermentasi dibuat menggunakan ikan teri, garam, dan gula aren yang difermentasi secara spontan. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis pH dengan pH meter, analisis protein terlarut dengan metode lowry, total asam amino bebas dengan spektrofotometri, asam lemak bebas dengan volumetri, serta uji antioksidan dengan AEAC. Hasil yang didapatkan adalah pH turun dari 6,59 ± 0,247 menjadi 3,60 ± 0,424, protein terlarut naik dari 2,41 ± 0,170 menjadi 7,57 ± 0,396, total asam amino bebas naik dari 14,06 g leusin (0 hari) menjadi 37,13 g leusin (20 hari), asam lemak bebas dari 4,43 ± 0,14 menjadi 14,15 ± 0,36, dan antioksidan setara 274,20–311,13 μg asam askorbat/g.
Physicochemical Characteristics of Cocoa Nibs (Theobroma cacao L) by Differences in Temperature and Roasting Time Elianarni, Dahlia; Fadilatulail MI, Annisa; Harini, Noor; Manshur, Hanif Alamudin
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5389

Abstract

Cocoa is one of the superior commodities in Indonesia. The area for growing cocoa beans reaches 1,651,539 hectares. In recent years, there has been a significant decline in cocoa productivity. This is influenced by the potential of clones starting to decline and pest attacks damages cocoa pods resulting in reduced productivity in each season. This research aims to determine the physicochemical components of cocoa seeds in Mojokerto City. Seed quality test parameters include water content test, grade, fat, pH, polyphenols, yield, and color intensity. The research method used was Group Randomized Design which was tested using ANOVA and Continue with Duncan Multiple Range Test (DMRT). The research results show that at parameters water content (3.48%-5.54%), fat content (36%-62%), pH content (4.96-5.54) and color intensity there is an interaction while with the yield parameters and polyphenols, there is no interaction.
MINUMAN FUNGSIONAL TINGGI ANTIOKSIDAN BERBASIS FERMENTASI BUAH GAC (Momordica Cochinchinensis Spreng) ASAL SUMATRA UTARA Maulidina, Amelia; Titin Supriyanti, Frorentina Maria; Musthapa, Iqbal
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5402

Abstract

Buah GAC (Momordica cochinchinensis Spreng) kaya karotenoid dan fenolik yang berpotensi sebagai bahan baku minuman fungsional tinggi antioksidan. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh tingkat kematangan buah GAC asal Sumatra Utara terhadap fermentasi, formulasi, dan karakteristik minuman fungsional. Buah GAC digunakan pada tiga tingkat kematangan, mentah (60 hari), matang sebagian (75 hari), dan matang sempurna (90 hari). Produk diformulasikan dengan konsentrasi buah 5%, 10%, dan 20%, tanpa dan dengan fermentasi. Analisis meliputi aktivitas antioksidan (DPPH), total serat pangan (AOAC 985.29), pH, total BAL (TPC), dan uji hedonik. Buah matang sempurna menunjukkan aktivitas antioksidan 79,34%; kapasitas antioksidan 1,397 mg AAE/100 mL; dan total serat pangan 46,45 g/100 g. Formula terbaik diperoleh pada minuman fermentasi dengan konsentrasi 20% dengan aktivitas antioksidan 92,89%; kapasitas antioksidan 1,741 mg AAE/100 mL; total serat pangan 5,01 g/100 g; pH 3,745; dan BAL 7,06 log CFU/mL. Uji hedonik menunjukkan penerimaan baik panelis. Dengan demikian, buah GAC matang sempurna berpotensi sebagai bahan baku minuman fungsional tinggi antioksidan, sumber serat, mengandung probiotik, dan disukai konsumen. Kata kunci: Antioksidan, Buah GAC, Fermentasi, Minuman fungsional GAC fruit (Momordica cochinchinensis Spreng) is rich in carotenoids and phenolics, which have the potential as a raw material for antioxidant-rich functional beverages. This study aimed to determine the effect of GAC fruit maturity levels from North Sumatra on fermentation, formulation, and functional beverage characteristics. GAC fruit was used at three maturity levels, unripe (60 days), partially ripe (75 days), and fully ripe (90 days). The products were formulated with fruit concentrations of 5%, 10%, and 20%, without and with fermentation. Analyses included antioxidant activity (DPPH), total dietary fiber (AOAC 985.29), pH, total lactic acid bacteria (TPC), and hedonic test. Fully ripe fruit showed antioxidant activity of 79.34%; antioxidant capacity of 1.397 mg AAE/100 mL; and total dietary fiber of 46.45 g/100 g. The best formula was obtained in fermented beverages with 20% GAC fruit concentration, showing antioxidant activity of 92.89%; antioxidant capacity of 1.741 mg AAE/100 mL; total dietary fiber of 5.01 g/100 g; pH 3.745; and lactic acid bacteria count of 7.06 log CFU/mL. The hedonic test showed good acceptance by panelists. Thus, fully ripe GAC fruit has potential as a raw material for antioxidant-rich functional beverages, as it is high in antioxidants, a source of dietary fiber, contains probiotics, and is well accepted by consumers. Keyword: Antioxidants, GAC Fruit, Fermentation, Functional Beverage
KACANG MERAH (Phaseolus vulgaris L.) SEBAGAI SUMBER SERAT DAN MINERAL KALIUM DALAM PRODUKSI NUGGET SAPI Veronica, Stevani; Supriyanti, Florentina Maria Titin; Nuraini, Vidia Afina
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5403

Abstract

ABSTRAK Nugget merupakan produk olahan daging, yang dibumbui, dicetak dan dilapisi dengan tepung roti (blending). Selama ini produksi nugget terbuat dari daging ayam, sedangkan pembuatan nugget sapi belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan produksi nugget sapi tinggi serat dan mineral kalium dengan penambahan kacang merah, mengetahui kandungan nutrisi (kandungan air, abu, lemak, protein, dan karbohidrat), analisis organoleptik, kandungan serat kasar dan mineral kalium. Metode yang digunakan meliputi produksi nugget sapi sebanyak 4 varian, yaitu NS0, NS1, NS2, dan NS3 dengan penambahan kacang merah (0%, 5%, 7,5%, 10%). Analisis produk nugget sapi meliputi kandungan nutrisi terdiri atas kandungan air (gravimetri); kandungan abu (gravimetri); kandungan lemak (soxhlet); kandungan protein (Lowry); kandungan karbohidrat (Luff-Schoorl), analisis organoleptik, kandungan serat kasar (gravimetri), dan mineral kalium (ICP-OES). Hasil analisis kandungan nutrisi menunjukkan bahwa nugget sapi terfortifikasi kacang merah memenuhi standar mutu SNI 6683:2014 mengenai syarat mutu naget, pada parameter kandungan air, lemak, protein, dan karbohidrat. Hasil analisis organoleptik dengan 30 panelis menunjukkan bahwa persen terbaik pada nugget sapi terfortifikasi kacang merah, didapat pada varian NS3 (penambahan kacang merah 10%) terhadap atribut warna, rasa, aroma, dan penerimaan keseluruhan dengan kandungan serat kasar 1,70% dan mineral kalium 204,11 mg/100g. Kata Kunci: Kacang Merah, Mineral Kalium, Nugget Sapi, Serat   ABSTRACT Nuggets are processed meat products, which are seasoned, molded and coated with breadcrumbs (blending). So far, nugget production has been made from chicken meat, while the production of beef nuggets has never been done. This study aims to produce beef nuggets high in fiber and potassium minerals with the addition of red beans, determine the nutritional content (water, ash, fat, protein, and carbohydrate content), organoleptic analysis, crude fiber content and potassium minerals. The method used includes the production of 4 variants of beef nuggets, namely NS0, NS1, NS2, and NS3 with the addition of red beans (0%, 5%, 7.5%, 10 Analysis of beef nugget products includes nutritional content consisting of water content (gravimetric); ash content (gravimetric); fat content (soxhlet); protein content (Lowry); carbohydrate content (Luff-Schoorl), organoleptic analysis, crude fiber content (gravimetric), and potassium minerals (ICP-OES). Nutritional analysis results showed that beef nuggets fortified with red beans met the quality standards of SNI 6683:2014 regarding the quality requirements of nuggets in the parameters of water, fat, protein, and carbohydrate content. he results of organoleptic analysis with 30 panelists showed that the best percentage of beef nuggets fortified with red beans was obtained in the NS3 variant (10% addition of red beans) for the attributes of color, taste, aroma, and overall acceptance with a crude fiber content of 1.70% and potassium minerals of 204.11 mg/100g. Keyword: Red Beans; Potassium; Beef Nuggets; Dietary Fiber
Antibacterial Activity of Black Garlic against Foodborne Pathogens: A Review Abiyyuddin, M. Farras; Fitrania, Fathika; Jannah, Mirriyadhil
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5412

Abstract

Foodborne diseases have become a serious global public health threat, one of which is caused by the consumption of food contaminated by pathogenic bacteria. Efforts to control such contamination can be carried out through the use of antibacterial agents derived from natural sources. Black garlic, a aged product of fresh garlic, is known to possess various biological effects, including antibacterial activity. Several studies have reported that black garlic exhibits antibacterial activity against various foodborne pathogenic bacteria, such as Staphylococcus aureus, Escherichia coli, Salmonella spp., and Pseudomonas aeruginosa. This review aims to analyze the antibacterial activity of black garlic against foodborne pathogens. The review methodology followed the PRISMA-study. Literature searches were conducted using Google Scholar, PubMed, and ScienceDirect databases, with the keywords “black garlic”, “antimicrobial”, “antibacterial”, and “foodborne pathogens”, yielding 16 articles that met the inclusion criteria. The findings indicate that black garlic demonstrates antibacterial activity against both Gram-positve and Gram-negative bacteria. These results underscore the potential of black garlic as a natural antibacterial agent for controlling foodborne pathogens.
Evaluasi Daya Terima Dan Nilai Gizi Mi Substitusi Tepung Ikan Gabus Dan Umbi Ganyong Sebagai Makanan Sehat Nurhamzah, Lutfi Yulmiftiyanto; Ghaffar, Mufti; Listyawardhani, Yana
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5500

Abstract

Mi sudah menjadi salah satu makanan pokok yang paling banyak dikonsumsi di Indonesia. Ikan gabus dan umbi ganyong merupakan bahan pangan lokal Kabupaten Tasikmalaya yang mempunyai nilai gizi tinggi. Tujuan penelitian ini menganalisis tingkat kesukaan dan nilai gizi mi dengan substitusi tepung ikan gabus dan umbi ganyong.  Metode penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan. Formulasi mi yaitu perbandingan tepung terigu, tepung umbi ganyong dan tepung ikan gabus yaitu Formula F0 (100%:0%:0%), formula F1 (70%:20%:10%), formula F2 (70%:15%:15%), dan formula F3 (70%:10%:20%). Mi diuji organoleptik (skala hedonik 1-5) oleh 50 orang panelis tidak terlatih. Formulasi mi terbaik ditentukan dari skor nilai rata-rata hedonik tertinggi. Formulasi mi terbaik diuji proksimat. Hasil uji organoleptik menunjukkan bahwa formulasi mi terbaik terdapat pada formulasi F2 karena memiliki nilai rata-rata uji organoleptik tertinggi pada 5 parameter uji tingkat kesukaan. Formula F2 memilki kadar air 10,03%, kadar abu 0,87%, kadar protein 15,05%, kadar lemak 3,79%, dan karbohidrat 70,25%. Mi dengan perbandingan tepung terigu 70%, tepung umbi ganyong 15% dan tepung ikan gabus 15% merupakan formula produk mi terbaik dan sudah memenuhi SNI-8217-2015.
FONDASI APLIKASI STRATEGIS MASA DEPAN PICKERING NANOEMULSION (PNE) : TINJAUAN KOMPREHENSIF Prayudi, Adham; Rahayu, Dwi Lestari; Utama, Rozi Satria; Soliman, Sarah E. A.; Dulimarta, Hanny Srimulyani; Hondo, Hana Ankrissa
Jurnal Teknologi Pangan Vol 19, No 2 : DESEMBER 2025
Publisher : UPN VETERAN JAWA TIMUR

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33005/jtp.v19i2.5525

Abstract

Peningkatan kesadaran kesehatan memicu pertumbuhan pasar nutrasetikal global. Tantangan utamanya adalah rendahnya kelarutan dan kerentanan degradasi oleh panas, pH, oksidasi pada senyawa bioaktif lipofilik sehingga membatasi bioavailabilitasnya. Pickering Nanoemulsi (PNE) muncul sebagai platform penghantaran superior yang memanfaatkan partikel padat alami (food grade) seperti protein dan polisakarida sebagai stabilisator ireversibel, selaras dengan permintaan pasar clean label. Tinjauan literatur naratif deskriptif ini mensintesis 24 artikel penelitian eksperimental terkini tahun 2021–2025 untuk menganalisis perkembangan mutakhir PNE berbasis biopolimer pangan. Kestabilan PNE diperoleh melalui adsorpsi partikel amfifilik pada antarmuka, dengan membentuk penghalang sterik yang kaku.  Partikel stabilisator direkayasa melalui pengendalian pH, modifikasi kimia (konjugat), atau rekayasa nanopolimer, dan diproduksi dengan teknik berenergi tinggi (ultrasonikasi, homogenisasi tekanan tinggi). PNE menunjukkan ketahanan yang luar biasa terhadap sterilisasi termal (121°C), fluktuasi pH pada titik isoelektrik, dan salinitas tinggi (hingga 500 mM NaCl). Fungsionalitasnya mencakup efisiensi enkapsulasi (>80% untuk kurkumin) dan pelepasan terkontrol. PNE berbasis biopolimer pangan ini menjadi fondasi teknologi strategis untuk peningkatan stabilitas dan bioavailabilitas dalam sektor pangan fungsional, biomedis, dan material fungsional.

Page 1 of 1 | Total Record : 10