cover
Contact Name
I Nyoman Santiawan
Contact Email
inyomansantiawan@gmail.com
Phone
+6285729637030
Journal Mail Official
dewidanendra3@gmail.com
Editorial Address
STHD Klaten Jawa Tengah Morangan, Karanganom, Klaten Utara, Klaten, Jawa Tengah Tlpn (085729637370)
Location
Kab. klaten,
Jawa tengah
INDONESIA
Jawa Dwipa
ISSN : -     EISSN : 27233731     DOI : https://doi.org/10.54714/jd.v2i2
Core Subject : Education, Social,
Jawa Dwipa : Jurnal Penelitian dan Penjaminan Mutu merupakan Jurnal Online Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten Jawa Tengah terbit setiap bulan Juni dan Desember yang menerbitkan artikel hasil penelitian mahasiswa, tenaga kependidikan maupun dosen dan artikel yang berkaitan dengan penjaminan mutu
Articles 4 Documents
Search results for , issue "Vol. 1 No. 2 (2020)" : 4 Documents clear
IMPLEMENTASI PEMBACAAN BHAGAWAD GITA DALAM MENINGKATKAN SRADHA DAN BHAKTI TERHADAP PESERTA DIDIK DI PASRAMAN INDRAPRASTA MUTIHAN SURAKARTA Gita Sindu Prathista; Dewi Ayu Wisnu Wardani; Putu Budiadnya
Jawa Dwipa Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (705.199 KB)

Abstract

Bhagawad Gita sebagai Weda kelima adalah karena Bhagawadgita sendiri adalah salah satu bagian dari Mahabharata, salah satu epos terbesar dalam agama Hindu. Di dalam penjelasan Dr. Max Muller bahwa dari Atharwa Weda timbul Weda kelima dalam bentuk Itihasa dan Purana. Adapun yang tersebut Itihasa adalah dua Epos terbesar dalam agama Hindu yang merupakan semacam perjanjian lamanya agama Hindu. Kedua epos terbesar adalah Ramayana dan Mahabharata. Kitab Bhagawad Gita adalah bagian dari Udhyoga Parwa dari Mahabharata sehingga dapat disimpulkan bahwa Bhagawad Gita adalah bagian terkecil dari Weda kelima. Pentingnya kitab Bhagawad Gita ini adalah karena isinya merupakan ajaran puncak Agama Hindu yang secara umum Bhagawad Gita adalah satu suplemen dalam mempelajari kitab Catur Weda atau Sruti. Sebuah pembacaan kitab yang dilakukan dengan cara dilantunkan tentunya akan mendapat sentuhan musikal di dalamnya, baik berupa nada yang dihasilkan dari vokal yang berdiri sendiri,maupun pembacaan kitab dengan iringan instrumen musik. Konsep penyajian, penataan komposisi garap, dan penalaran gaya yang digunakan menjadi hal yang penting dalam sajian tersebut,mengingat bahwa”lagu” yang dibawakan adalah teks dari sebuah kitab suci sebagai bagian dari bhakti dalam upacara ritual keagamaan. Jika ditarik masuk ke sejarah Hindu, ada catatan yang menjelaskan sejak kapan ekspresi musikal ini mulai digunakan dalam upacara ritual keagamaan. Pembagian babak perkembangan pembacaan kitab sebagai bagian dari ritual agama Hindu. Implementasi pembacaan mantra Bhagawad Gita sangat berpengaruh terhadap perilaku peserta didik Bhagawad Gita dapat mengubah tingkah laku peserta didik menjadi sangat baik. Manfaat dari pembacaan Bhagawad Gita yaitu para peserta didik memiliki nilai sifat kejujuran, kebenaran, keberanian, kepahlawanan, ketabahan, ketetapan hati, hidup sederhana, hidup penuh semangat, bisa mengendalikan diri, memiliki kebijaksanaan yang mantap, tidak mencari kesalahan orang lain, rendah hati, pantang seksual, memiliki sifat pengampun, welas asih, bersahabat dan kesabaran, Satyam Siwam Sundaram.
UPACARA NYADRAN DI DESA SREBEGAN KECAMATAN CEPER KABUPATEN KLATEN SEBAGAI WUJUD PELAKSANAAN PITRA YADNYA DALAM AJARAN HINDU Agung Santosa; Sujaelanto
Jawa Dwipa Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (698.673 KB)

Abstract

Nyadran adalah tradisi yang masih lestari bagi masyarakat Jawa Tengah khususnya di Desa Srebegan Kecamatan Ceper Kabupaten Klaten. Tradisi ini dilaksanakan oleh masyarakat desa tidak peduli ia dari kelompok agama manapun, dan tidak ketinggalan bagi yang beragama Hindu ikut tampil dalam pelaksanaan upacara tersebut. Mereka secara bersama mempersipakan sarana prasarana upacara Nyadran. Keunikan inilah yang digali untuk mencari padanan upacara Nyadran yang dilakukan masyarakat Desa Srebegan dengan ajaran yadnya dalam agama Hindu. Adapun teori yang akan digunakan untuk menganalisa dan memecahkan upacara Nyadran di Desa Srebegan menggunakan teori Fungsi dan Religi. Metode yang digunakan pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan studi kepustakaan. Sedangkan analisa data menggunakan metode deskriptif komparatif. Hasil penelitian yang ditemukan bahwa upacara Nyadran di Desa Srebegan kecamatan Ceper Kabupaten Klaten merupakan bentuk perubahan upacara Sraddha yang pernah dilakukan pada jaman Brahmana di India dan kemudian juga pernah dilakukan pada jaman Majapahit. Pelaksanaan Nyadran identik dengan ajaran pitra yadnya dalam ajaran Hindu. Tujuan Nyadran bagi masyarakat Desa Srebegan adalah untuk memohon perlindungan kepada Tuhan dan juga untuk menghormati para leluhur. Tujuan Nyadran selain berorientasi kepada Tuhan dan luluhur, juga digunakan sebagai sarana untuk mempertahankan pola hidup gotong royong dan menjaga kerukunan.
REFLEKSI AJARAN TAT TWAM ASI TERHADAP SISWA SMP NEGERI 3 TRUCUK Ni Ayu Puja Saraswati; Titin Sutarti
Jawa Dwipa Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (709.309 KB)

Abstract

Manusia memiliki dua sifat yaitu sifat baik dan sifat buruk. Kecenderungan sifat ini akan membawa seseorang untuk melakukan aktifitas sesuai dengan kemampuan pengetahuan seseorang dalam menanggapi sesuatu. Karakter positif dan negative bisa terbentuk sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki. Maka untuk menghindari perbuatan yang tidak baik dibutuhkan pengetahuan dan Pendidikan dari keluarga, sekolah dan masyarakat. Masa remaja atau masa anak-anak sekolah sangat dibutuhkan Pendidikan karakter sehingga anak akan terbetuk ilmu dan pengetahuannya untuk tumbuh dan berkembang demi masa depan. Tanggungjawab lingkungan keluarga sangatlah penting dalam tumbuh dan berkembangnya seorang anak. Dari fisik, Kesehatan dan penanaman budhi pekerti sangat dibutuhkan. Lingkungan sekolah juga sangatlah penting dalam pembentukan moral dari seorang anak, dimana di sekolah anak akan memperoleh pengetahuan secara akademik dan budi pekerti dari ajaran agamanya, sehingga dengan pengetahuan yang dimiliki anak dapat membedakan antara perbuatan baik dan perbuatan tidak baik (dharma dan adharma). Tidak kalah pentingnya adalah lingkungan masyarakat, juga akan dapat mempengaruhi sifat dan karakter dari seorang anak, sehingga lingkungan yang kondusif sangat dibutuhkan dalam tumbuh dan berkembanganya daya pikir seorang anak. Ajaran agama Hindu yaitu “Tat Twam Asi”. Tat artinya itu (ia), Twam artinya kamu. Jadi Tat Twam Asi artinya “Aku adalah Kamu dan Kamu adalah Aku”. Istilah tersebut sudah tidak asing lagi di telinga kita umat hindu bahkan sudah mendarah daging. Sehingga ajaran ini harus dapat dipahami dengan sungguh-sungguh oleh seoarang anak, sehingga dapat di aplikasikan dalam proses tumbuh dan berkembangnya. Tujuan hidup manusia adalah moksartham jagadhita ya ca iti dharma yakni terwujudnya kebahagiaan dan kesejahteraan baik di dunia maupun kelak di alam moksa. Penelitian ini menggunakan metode diskriptif kualitatif yang membahas atau mendiskripsikan implementasi ajaran Tat Twam Asi, faktor-faktor yang mempengaruhi implikasi ajaran Tat Twam Asi, serta upaya dalam meningkatkan Implementasi ajaran Tat Twam Asi. Berdasarkan analisis data dilapangan dapat disimpulkan bahwa keluarga, lingkungan Pendidikan, dan masyarakat turut berperan aktif dalam peningkatkan implementasi ajaran Tat Twam Asi pagi tumbuh dan berkembangnya pembentukan karakter dan bhudi pekerti seorang anak.
PENDIDIKAN PASRAMAN GIRI WANGI SEBAGAI MEDIA MEWUJUDKAN SISWA BERPRESTASI DI KECAMATAN JUWANGI KABUPATEN BOYOLALI Widhianto; Widhi Astuti
Jawa Dwipa Vol. 1 No. 2 (2020)
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (737.76 KB)

Abstract

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa di Indonesia semua Penduduk harus mengikuti program wajib belajar pendidikan dasar selama sembilan tahun, yaitu enam tahun di sekolah dasar (SD) dan tiga tahun di sekolah menengah pertama (SMP). Pendidikan di Indonesia diatur melalui Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan Nasional. Pendidikan di Indonesia terbagi ke dalam tiga jalur utama, yaitu formal, non formal dan informal. Pendidikan juga dibagi kedalam empat jenjang, yaitu pendidikan anak usia dini, dasar, menengah dan tinggi. Pendidikan merupakan salah satu wahana untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM). Dengan Pendidikan mampu membentuk kepribadian, disiplin, pantang menyerah, etika yang baik, kreatifitas, dan kemandirian. Tercapainya prestasi belajar peserta didik tidak terlepas dari beragam aspek diantaranya minat membaca dan motivasi belajar. Pendidikan pasraman menekankan pada disiplin diri, mengembangkan akhlak mulia dan sifat-sifat yang rajin, suka bekerja keras, pengekangan hawa nafsu dan gemar untuk menolong orang lain. Dengan adanya Pasraman Giri Wangi dapat membantu anak-anak dalam pelajaran agama yang dimana mereka bersekolah belum ada guru agamanya, membuat anak mengukir prestasi dibidang keagaman maupun umum. ada juga kegiatan Extrakurikuler seperti Yoga, Karawitan, Bola Voli dan Komputer. Didalam Extrakurikuler juga dilatih oleh para Guru dan didampingi oleh para Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang ada di Kecamatan Juwangi. Dengan pasraman anak bisa berprestasi.

Page 1 of 1 | Total Record : 4