cover
Contact Name
NI NYOMAN MESTRI AGUSTINI
Contact Email
nyoman.mestri@undiksha.ac.id
Phone
+6281933048631
Journal Mail Official
nyoman.mestri@undiksha.ac.id
Editorial Address
Jalan Udayana no 11 Singaraja Bali
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
GANESHA MEDICINA
ISSN : -     EISSN : 27978672     DOI : -
Core Subject : Health,
Ganesha Medicina Journal is open access; double-blinded peer-reviewed journal aiming to communicate high-quality research articles, case report, reviews and general articles in the field. Ganesha Medicina Journal publish articles that encompass all aspects of basic research/clinical studies related to the field of medical sciences. The Journal aims to bridge and integrate the intellectual, methodological, and substantive diversity of medical scholarship, and to encourage a vigorous dialogue between medical scholars and practitioners.
Articles 9 Documents
Search results for , issue "Vol. 2 No. 2 (2022)" : 9 Documents clear
LAPORAN KASUS: BAKTERIAL MENINGITIS I Gusti Ngurah Kurnia Ary Wiartika; Luh Putu Lina Kamelia
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.47386

Abstract

Meningitis adalah suatu penyakit yang memiliki karakteristik berupa peradangan dari lapisan meningen. Meningitis bisa disebabkan karena bakteri, virus, jamur, ataupun aseptik. Penyebab dari meningitis aseptik dapat berupa neoplasma, penyakit peradangan sistemik, dan pengaruh obat. Biasanya pasien dengan meningitis akan memberikan gejala berupa trias meningitis yaitu demam, sakit kepala, dan penurunan kesadaran dan diikuti dengan pemeriksaan fisik ditemukannya kaku kuduk, tanda kernig, ataupun tanda brudzinski. Pemeriksaan baku emas untuk mendiagnosis meningitis adalah dengan mengevaluasi CSS pasien. Dilaporkan kasus pasien laki-laki berusia 39 tahun dengan keluhan kesadaran menurun sejak 27 jam sebelum Masuk Rumah Sakit (MRS) disertai sakit kepala hebat. Pada pemeriksaan fisik didapatkan kaku kuduk (+). Hasil laboratorium menunjukan peningkatan sel darah putih (WBC) dan neutrofil; pada hasil CT scan didapatkan tanda edema serebri; sedangkan pada cairan serebrospinal didapatkan warna keruh, jumlah sel leukosit 38509 sel/μL, tes none (+), tes pandy (+), protein 1,82 g/dL, glukosa 22 g/dL, dan Cryptococous Neoformans (-). Pasien ditegakan diagnosis meningitis bakterial dengan diberikan terapi berupa seftriakson 2g (2 kali), deksametason 10mg (4 kali), mekobalamin 500mcg (2 kali), pirasetam 1g (3 kali), dan diazepam 10mg bila kejang.
PERILAKU MAHASISWA PROFESI KEDOKTERAN GIGI TERHADAP EDUKASI SMOKING CESSATION PASIEN DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS UDAYANA Adhisa Restu Putri; Putri Rejeki; I Gusti Agung Dyah Ambarawati
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.49509

Abstract

Merokok merupakan salah satu dari banyaknya masalah kesehatan yang konstan dan sulit dihentikan di kalangan masyarakat. Sebagian besar mahasiswa kedokteran gigi menyadari bahwa konseling penghentian kebiasaan merokok berada dalam lingkup layanan dokter gigi dan masa pendidikan dianggap sebagai waktu yang paling optimal untuk melatih mahasiswa dalam memberikan edukasi penghentian kebiasaan merokok sebelum memasuki dunia kerja. Edukasi yang diberikan tergantung dari bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa profesi kedokteran gigi tersebut, di mana tingkat pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap tindakan yang akan dilakukan dan kedua hal tersebut berpengaruh juga terhadap hambatan yang akan mereka hadapi dalam memberikan edukasi penghentian kebiasaan merokok kepada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku mahasiswa profesi kedokteran gigi dalam memberikan edukasi penghentian kebiasaan merokok kepada pasien di Rumah Sakit Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 132 orang yang didapatkan melalui metode total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dengan menggunakan tabel crosstabulation dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian didapatkan responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (82,58%) dengan tindakan yang tinggi (50,76%) dan hambatan yang sedang (50%).
HEMANGIOMA INFANTIL PADA SATU SISI PAYUDARA Ketut Suparna; Luh Putu Kavita Elra Veda
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.49770

Abstract

Hemangioma Infantil merupakan neoplasma vaskular yang paling sering terjadi pada anak-anak dimana kemunculannya dimulai saat usia memasuki beberapa hari hingga minggu. Pada kasus ini, dilaporkan seorang pasien perempuan berusia 5 bulan datang diantar orang tuanya dalam keadaan sadar dengan keluhan terdapat benjolan pada payudara kiri pasien yang muncul sejak pasien berusia 42 hari. Awalnya benjolan muncul hanya berupa titik merah dan kemudian membesar. Pasien tidak merasakan nyeri pada benjolan serta tidak ada perdarahan. Hasil pemeriksaan FNAB menunjukkan bahwa benjolan merupakan hemangioma pada mama sinistra. Rencana terapi yang diberikan adalah observasi kondisi pasien hingga berusia 5 tahun, jika kondisi memburuk dapat diberikan terapi medikamentosa atau pembedahan
BAKTERIAL VAGINOSIS: ETIOLOGI, DIAGNOSIS, DAN TATALAKSANA Putu Sudarsana; Ketut Suardana; I Gusti Agung Mirah Puspitayani; Ni Luh Kadek Alit Arsani
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.51947

Abstract

Bakterial Vaginosis merupakan salah satu infeksi vagina yang paling sering terjadi pada wanita usia reproduksi. Bakterial vaginosis sering menunjukkan prevalensi yang tinggi, kejadian yang berulang disertai dengan komplikasi, sehingga membuat BV menjadi permasalahan global. Etiologinya yaitu adanya perubahan ekologi vagina yang ditandai dengan pergeseran keseimbangan flora normal vagina dimana dominasi Lactobacillus digantikan oleh bakteri anaerob. Pergantian Lactobacillus spp. ini menyebabkan penurunan konsentrasi hidrogen peroksidase (H2O2) yang umumnya ditandai dengan produksi sekret vagina yang banyak, berwarna abu-abu hingga kuning, tipis, homogen, berbau amis dan terdapat peningkatan pH. Penegakan diagnosis balterial vaginosis dilakukan berdasarkan kriteria amsel. Metodologi penelitian ini merupakan penelitian dalam bentuk tinjauan Pustaka yang diambil dari berbagai sumber selama 10 tahun terakhir.
KARAKTERISTIK PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 DENGAN COVID-19 DI RUMAH SAKIT UMUM Prof.Dr. I.G.N.G NGOERAH IDA BAGUS ADITYA NUGRAHA; WIRA GOTERA; RIONALDO ANTHONIUS
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.51953

Abstract

Abstract Introduction: COVID-19 is caused by a novel coronavirus known as SARS-CoV-2, a single chain RNA virus with a particle size of 120-160 nm. COVID-9 can affect almost all age groups, despite, the elderly and people who have records of chronic disease (co-morbid) have the risk to be affected more often and with worse complications from this disease. Type 2 Diabetes mellitus (DM) is one of the risk factors for enhancing the severity of COVID-19 infection Method: This study is a descriptive study with cross-sectional approach. Sampling with consecutive sampling. This sampling was done from Januari 2021 until April 2021. Analysis done with SPSS application. Results: From 57 patients, 54.4% was male vs 45.6.7% was female. 43.9% was above 60 years old vs 56.1% was below 60 years old. 17.1% with insulin regimen vs 82.9% oral diabetic drug. 60.4% with overweight BMI vs 39.4% normal BMI. 7% with below 6.5 Hba1c vs 93% above 6.5 Hba1c. 51.4% patients more than 5 years duration of diabetes vs 40% over 5 years and 8.6% over 10 years.1.8% patients with moderate COVID-19 vs 38.6% Severe COVID-19 vs 59.6% with Critical Ill COVID-19. Conclusion: from this study, we can learn the characteristic Type 2 Diabetes Melitus patients with COVID-19. Factors like age, gender, A1c level, duration of diabetes, were associated with severity of COVID-19. However, this study has a lot of weakness from methods, analysis and sampel similarity. We hope that another study can be better method than this study. Keywords: diabetes, covid 19 infection, complication
DIAGNOSIS DAN PENDEKATAN TERAPI PASIEN PERITONITIS Putu Enrico Pramana Okaniawan; Ida Ayu Setyawati Sri Krisna Dewi
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.52053

Abstract

Abstrak Peritonitis merupakan inflamasi pada peritonium yang terdiri atas membran serosa yang melapisi rongga abdomen dan organ viseral di dalamnya dan merupakan suatu kegawatdaruratan yang dapat disertai dengan sepsis. Etiologi peritonitis bervariasi menurut lokasi geografis dan faktor lingkungan lokal dengan predisposisi genetik. Peritonitis berdasarkan luas infeksinya dibagi menjadi peritonitis lokalisata dan peritonitis generalisata. Sedangkan peritonitis berdasarkan penyebabnya dapat dibagi menjadi peritonitis primer, sekunder, dan tersier. Penyebaran agen infeksi secara hematogen menjadi mekanisme perkembangan peritonitis primer dan difasilitasi oleh gangguan pertahanan imun dari host. Pada pemeriksaan pencitraan, USG dan CT scan abdomen memainkan peran penting dalam diagnosis dan strategi terapeutik. Fokus utama manajemen adalah identifikasi dan pengobatan yang ditargetkan dari agen penyebab melalui antibiotik dan/atau intervensi bedah Abstract Peritonitis was an inflammation of the peritoneum which consists of a serous membrane that lines the abdominal cavity and the visceral organs in it and is an emergency that could be accompanied by sepsis. The etiology of peritonitis varies according to geographic location and local environmental factors with a genetic predisposition. Peritonitis based on the extent of infection was divided into localized peritonitis and generalized peritonitis. While peritonitis based on the cause could be divided into primary, secondary, and tertiary peritonitis. Hematogenous spread of infectious agents was the mechanism for the development of primary peritonitis and was facilitated by impaired host immune defense. In imaging studies, ultrasound and CT scan of the abdomen play an important role in the diagnosis and therapeutic strategy. The main focus of management was the identification and targeted treatment of the causative agent through antibiotics and/or surgical intervention.
NEURALGIA TRIGEMINAL: SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA Bayu Pramana Suryawan Putra; Bayu Kresna Wiratama; I Made Phala Kesanda
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.52095

Abstract

Neuralgia trigeminal merupakan sindrom nyeri wajah yang terjadi berulang dan bersifat kronik dengan karakteristik sangat parah, cepat, dan seperti tersetrum listrik. Penyebab Neuralgia trigeminal sebagian besar adalah kompresi oleh arteri atau vena yang berdekatan yang melibatkan sebagian besar dari kasus yakni Arteri Serebelar Superior. Prevalensi Neuralgia trigeminal sekitar 0,16% - 0,3% dengan isidensi meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Neuralgia trigeminal diklasifikasikan menjadi klasik, sekunder, dan idiopatik. Manifestasi klinis nyeri dideskripsikan seperti ditusuk-tusuk, atau seperti terbakar. Neuralgia trigeminal dapat ditegakkan dengan diagnosa klinis. MRI dan/atau CT-Scan dapat dilakukan untuk melihat adanya Neuralgia trigeminal klasik atau sekunder. Karbamazepin merupakan obat lini pertama dalam terapi farmakologi Neuralgia trigeminal. Rehabilitasi TENS bermanfaat dalam pengurangan dosis karbamazepin sehingga kemungkinan timbul efek sampingnya berkurang namun tidak mengubah skala nyeri pasien. Terapi pembedahan yang paling efektif bagi pasien Neuralgia trigeminal akibat kompresi adalah microvascular decompression. Terapi yang adekuat untuk pasien Neuralgia trigeminal dapat mengurangi resiko timbulnya komplikasi.
PEMFIGUS VULGARIS DENGAN HIPERTENSI PRIMER DAN HIPOALBUMINEMIA Ketut Suteja Wibawa; Putu Enrico Pramana Okaniawan
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.52164

Abstract

Abstrak Pemfigus vulgaris adalah suatu penyakit akibat dari kelainan autoimun yang berupa vesikel atau bulla pada kulit ataupun mukosa yang berasal dari lapisan suprabasal epidermis yang dihasilkan dari produksi autoantibodi terhadap desmoglein 1 dan 3. Biasanya, lepuh muncul pada kulit yang tampak normal, tetapi dapat berkembang pada kulit yang eritematosa. Karena lepuh pemfigus vulgaris rapuh, lesi kulit yang paling umum diamati pada pasien adalah erosi akibat lepuh pecah. Penegakan diagnosis dari pemfigus vulgaris dapat ditegakkan jika ditemukan hasil positif pada pemeriksaan klinis berupa tanda nikolsy sign positif, pemeriksaan histologi, dan uji imunologik, atau dua tanda yang mengarah diagnosis pemfigus vulgaris dan adanya uji imunologik). Tatalaksana pemfigus vulgaris dibagi dalam 3 fase, yaitu fase kontrol, fase konsolidasi, dan fase maintenance yang terfokus pada pemberian kortikosteroid jenis prednisone yang diberikan sesuai dosis tertentu dengan monitoring ketat agar mencegah dari efek samping sistemik yang dapat terjadi akibat pemberian kortikosteroid jangka panjang. Pada pasien hipertensi dengan pemfigus vulgaris, maka dosis metilprednisolon yang diberikan ialah 40-125 mg dengan dosis terbagi. Pemfigus Vulgaris dapat disebabkan oleh stres oksidatif yang dalam jumlah berlebihan ke tingkat yang lebih besar dari kapasitas proses antioksidan tubuh dapat menyebabkan apoptosis sel dan akumulasi sisa-sisa apoptosis, mendorong pembentukan autoantibodi, dan memicu reaksi kaskade autoimun. Salah satu reaksi stress oksidatif adalah hipoalbuminemia. Hipoalbuminemia didefinisikan sebagai kurangnya kadar albumin intravascular dari kadar normal yakni berkisar di bawah 3,5 g/dL. Hipoalbuminemia merupakan salah satu faktor dari stress oksidatif yang dapat menyebabkan suatu kondisi autoimunitas. Abstract Pemphigus vulgaris is a disease resulting from an autoimmune disorder in the form of vesicles or bullae on the skin or mucosa originating from the suprabasal layer of the epidermis resulting from the production of autoantibodies to desmoglein 1 and 3. Usually, blisters appear on the skin that appear normal, but can develop on the skin. erythematous. Because pemphigus vulgaris blisters are fragile, the most common skin lesion observed in patients is erosion due to ruptured blisters. The diagnosis of pemphigus vulgaris can be confirmed if positive results are found on clinical examination in the form of a positive Nikolsy sign, histological examination, and immunologic test, or two signs that lead to the diagnosis of pemphigus vulgaris and the presence of an immunologic test). The management of pemphigus vulgaris is divided into 3 phases, namely the control phase, the consolidation phase, and the maintenance phase which is focused on giving prednisone corticosteroids that are given according to certain doses with close monitoring to prevent systemic side effects that can occur due to long-term corticosteroid administration. In hypertensive patients with pemphigus vulgaris, the dose of methylprednisolone given is 40-125 mg in divided doses. Pemphigus vulgaris can be caused by oxidative stress which in excess of the body's antioxidant capacity can cause cell apoptosis and accumulation of apoptotic remnants, promote autoantibody formation, and trigger autoimmune cascade reactions. One of the oxidative stress reactions is hypoalbuminemia. Hypoalbuminemia is defined as a lack of intravascular albumin levels below normal levels of less than 3.5 g/dL. Hypoalbuminemia is one of the factors of oxidative stress that can cause an autoimmunity condition.
LAPORAN KASUS: KATARAK SENILIS MATUR I Gusti Ngurah Anom Supradnya; Ni Putu Narithya Julieta; I Putu Bayu Surya Pradipta; I Kadek Dwiki Anjasmara; Anak Agung Ayu Lie Lhiannza Mahendra Putri
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.52203

Abstract

Katarak senilis matur adalah salah satu stadium katarak yang dimana lensa telah mengalami kekeruhan pada seluruh bagian akibat deposisi ion kalsium yang menyeluruh. Di Indonesia sekitar 47% dari orang yang mengalami kebutaan disebabkan oleh katarak. Prevalensi usia orang yang mengalami katarak di Indonesia juga lebih muda daripada di negara barat, yaitu sekitar usia 40-65 tahun, namun seiring dengan bertambahnya usia, prevalensinya semakin banyak. Diagnosis katarak senilis matur dapat ditegakkan dari anamnesis dimana didapatkan penglihatan rabun sejak lama, silau, atau berkabut, pada pemeriksaan fisik didapatkan visus 1/300 atau hand movement, shadow test negatif, serta refleks fundus negatif. Tatalaksana pada katarak senilis matur adalah dengan pembedahan melalui beberapa tindakan seperti Extracapsular cataract extraction (ECCE), Intracapsular cataract extraction (ICCE), dan Phaco-emulsification.

Page 1 of 1 | Total Record : 9