I Gusti Agung Dyah Ambarawati
Dapertemen Ilmu Penyakit Mulut Program Studi Sarjana Kedokteran Gigi Dan Profesi Dokter  Gigi, FK UNUD

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Perubahan Ph saliva setelah mengkonsumsi susu probiotik pada mahasiswa pengguna ortodontik cekat di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali-Indonesia I Dewa Gede Rakita Aditya; Ni Kd Fiora Rena Pertiwi; I Gst Agung Dyah Ambarawati
Bali Dental Journal Vol. 4 No. 2 (2020): June 2020
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v4i2.62

Abstract

Background: The degree of salivary acidity was a major cause of caries, there were several factors that caused pH to be acidic such as salivary buffer capacity, circadian and circannual rhythms, and diet. Diet was the most influential factor on the occurrence of salivary pH decrease. The complex design of fixed orthodontic could also alter salivary pH, it could inhibit the process of cleaning the teeth and mouth. Probiotic milk / yogurt was a fermented product of milk containing lactic acid bacteria species, which in the oral cavity, probiotics were able to suppress the number of pathogenic bacteria that causing the decreased salivary pH. The aim of the study is to know the effect of probiotic in milk on salivary pH of student with fixed orthodontics appliance. Methods: This research used True Experimental Pre-Posttest Control Group Design. Sample of 32 student with fixed orthodontics appliance in Medical Faculty of Udayana University was selected with random sampling method. Result: The result of post-hoc test on probiotic milk group showed that there was an increased salivary pH at minute 22 equal to 0.46875 with p = 0.002 (p<0.05). Conclusions: The probiotic milk/yogurt could increase the salivary pH of student with fixed orthodontics appliance in Medical Faculty of Udayana University after consuming probiotic milk. Latar Belakang: Derajat keasaman saliva merupakan penyebab utama terjadinya karies, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan pH menjadi asam seperti kapasitas buffer saliva, irama sirkadian dan sirkanual, dan diet. Diet atau pola makan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap terjadinya penurunan pH saliva. Desain rumit ortodontik cekat yang dapat menghambat proses membersihkan gigi dan mulut juga dapat merubah pH saliva. Susu probiotik/yogurt merupakan produk fermentasi dari susu yang mengandung spesies Bakteri Asam Laktat (BAL), yang dalam rongga mulut probiotik mampu menekan jumlah bakteri patogen penyebab menurunnya pH saliva. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh probiotik pada susu terhadap pH saliva pada mahasiswa pengguna ortodontik cekat. Metode: Jenis penelitian ini adalah True Experimental dengan rancangan penelitian yaitu Pretest and Posttest Control Group Design, sampel dipilih dengan metode random sampling sebesar 32 orang mahasiswa pengguna ortodontik cekat di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Hasil: Berdasarkan uji post-hoc, didapatkan hasil pada kelompok susu probiotik terdapat peningkatan pH saliva dari pH saliva awal pada menit ke 22 sebesar 0.46875 dengan p = 0.002 (p<0.05). Simpulan: Susu probiotik dapat meningkatkan pH saliva pada mahasiswa pengguna ortodontik cekat di Fakultas Kedokteran Universitas Udayana setelah mengkonsumsi susu probiotik.
Perbandingan efektivitas mengunyah buah bengkuang (Pachyrhizus erosus) dan buah apel manalagi (Malus sylvestris Mill.) terhadap penurunan indeks plak pada anak usia 10-12 tahun di SD Negeri 2 Dauh Puri Ni Nyoman Ayu Noviyanti; I Gusti Agung Dyah Ambarawati; I Gusti Agung Sri Pradnyani
Bali Dental Journal Vol. 5 No. 1 (2021): January 2021
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v5i1.140

Abstract

Latar Belakang: Karies gigi merupakan salah satu masalah kesehatan gigi yang disebabkan oleh rendahnya kebersihan rongga mulut sehingga memudahkan terjadinya akumulasi plak gigi. Upaya pencegahan yang dapat dilakukan yaitu dengan mengunyah makanan yang berserat seperti buah bengkuang dan buah apel manalagi. Bengkuang mengandung isoflavon, dan flavonoid sedangkan apel manalagi mengandung cathechin, tannin, dan quercetin yang dapat menghambat aktivitas enzim glucosyltransferase (GTFs) sehingga menghambat pembentukan plak gigi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan efektivitas mengunyah buah bengkuang dan buah apel manalagi terhadap penurunan indeks plak. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan rancangan pre-test and post-test comparative two group design. Sampel sebanyak 58 siswa usia 10-12 tahun di SD Negeri 2 Dauh Puri, secara acak dibagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok mengunyah buah bengkuang dan kelompok mengunyah buah apel manalagi. Indeks plak diukur dengan indeks plak Turesky-Gillmore-Glickman modification of Quigley-Hein. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa mengunyah buah bengkuang dan apel manalagi efektif dalam menurunkan indeks plak. Analisis independent sample t-test menunjukkan tidak terdapat perbandingan efektivitas yang signifikan antara kelompok mengunyah buah bengkuang dan kelompok mengunyah buah apel manalagi dalam menurunkan indeks plak (p>0,05). Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah tidak terdapat perbandingan efektivitas yang bermakna antara kelompok mengunyah buah bengkuang dan mengunyah buah apel manalagi. Background: Dental caries is one of the dental health problems caused by the low hygiene of the oral cavity which facilitates the occurrence of dental plaque accumulation. The prevention that can be done is by chewing fibrous foods such as yam fruit and manalagi apples. Yam fruit contains isoflavon and flavonoids, while manalagi apples contain cathechin, tannin, and quercetin which can inhibit the activity of glucosyltransferase (GTFs) which inhibit dental plaque formation. Aim: The purpose of this study was to compare the effectiveness of chewing yam fruit and manalagi apples against decreasing plaque index. Method: This study was an experimental research with pre-test and post-test comparative two group design. The sample were 58 students aged 10-12 years at SD Negeri 2 Dauh Puri and randomly divided into two groups, namely the group chewing yam fruit and the group chewing manalagi apples. The plaque index was measured by plaque index from Turesky-Gillmore-Glickman modification of Quigley-Hein. Result: The result showed that chewing yam fruit and manalagi apples was effective in reducing the plaque index. Independent sample t-test analysis showed that there was no significant comparison of effectiveness between chewing yam fruit and manalagi apples in reducing the plaque index (p>0,005). Conclution: The conclusion of this study was that there was no significant comparison of effectiveness between the group chewing yam fruit and manalagi apples.
Daya antibakteri ekstrak kulit apel manalagi (Malus sylvestris (L.) Mill) terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguinis Made Prashanti Pradayani; Ni Kadek Fiora Rena Pertiwi; IGA Dyah Ambarawati
Bali Dental Journal Vol. 5 No. 2 (2021): June 2021
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v5i2.145

Abstract

Introduction: Streptococcus sanguinis is one of the gram-positive bacteria that causes dental and oral diseases that play a role in the process of dental plaque formation. Manalagi apples are fruits that are very easy to find, the fruit peel contains antibacterial compounds derived from polyphenols including catechins, quercetin, phloridzin and chlorogenic acid. The use of apple manalagi peel extract can be used as an antibacterial natural product especially in the oral cavity. The purpose of this study was to assess the inhibition of Manalagi apple peel extract (Malus sylvestris (L.) Mill) against the growth of Streptococcus sanguinis. Method: This type of research is experimental with Post Test Only Control Group Design. There are 5 treatment groups, extract concentration of 25%, 50%, 100%, positive control with chlorhexidine 0.2%, and negative control with aquades. The antibacterial test method uses the disc diffusion method by saturating each extract into disc paper which then diffuses into the media to contain Streptococcus sanguinis bacteria. Result: Phytochemical test results of manalagi apple peel extract showed saponin, fenol, terpenoid, flavonoid and alkaloid. The antibacterial activity test result showed of zone diameter at a concentration of 25% is 0 mm, a concentration of 50% 7.3 mm, a concentration of 100% 7.5 mm, positive control 14.3 mm and a negative control 0 mm. Data analysis used the Kruskal Wallis tests and showed p< 0,05. Conclusion: The conclusion of this study is manalagi apple peel extract at a concentration of 50% and 100% has an antibacterial effect on the growth of Streptococcus sanguinis. Latar Belakang: Streptococcus sanguinis merupakan salah satu bakteri gram positif penyebab penyakit gigi dan mulut yang berperan dalam proses pembentukan plak gigi. Buah apel manalagi adalah buah yang sangat mudah ditemukan, kulit buahnya mengandung senyawa antibakteri turunan polifenol diantaranya katekin, kuersetin, phloridzin, serta asam klorogenik. Penggunaan ekstrak kulit apel manalagi dapat digunakan sebagai produk alami antibakteri terutama dalam rongga mulut. Penelitian ini bertujuan guna menilai daya hambat ekstrak kulit apelmanalagi (Malus sylvestris (L.) Mill) terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguinis. Metode: Jenis penelitian eksperimental, dengan Post Test Only Control Group Design. Terdapat 5 kelompok perlakuan yaitu, konsentrasi ekstrak 25%,50%,100%, kontrol positif dengan chlorhexidine 0,2% serta kontrol negatif dengan aquades. Metode uji antibakteri menggunakan metode difusi cakram dengan menjenuhkan masing-masing ekstrak ke dalam kertas cakram yang kemudian berdifusi ke media agar yang berisi bakteri Streptococcus sanguinis. Hasil: Uji fitokimia ekstrak kulit apel manalagi memperlihatkan adanya senyawa saponin, fenol, terpenoid, flavonoid, dan alkaloid. Hasil rerata diameter zona hambat pada konsentrasi 25% ialah 0 mm, konsentrasi 50% 7,3 mm, konsentrasi 100% 7,5 mm, kontrol positif 14,3 mm dan kontrol negatif 0 mm. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis menunjukkan nilai p<0,05. Kesimpulan: Ekstrak kulit apel manalagi pada konsentrasi 50% dan 100% memiliki daya antibakteri terhadap pertumbuhan Streptococcus sanguinis.
Hubungan Antara Faktor Determinan Pencabutan Gigi terhadap Permintaan Tindakan Pencabutan Gigi Permanen di RSUP Sanglah Kadek Dena Ayu Ersafira; IGA Dyah Ambarawati; I Made Ady Wirawan
Bali Dental Journal Vol. 5 No. 2 (2021): June 2021
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v5i2.146

Abstract

Introduction: Treatment for various problems in the oral cavity varies greatly according to the needs and conditions of each patient. Behavior for dental and oral health is related to knowledge, past experience, economic status, and visit frequency of each treatment. Aim: The purpose of this study was to know the correlation between the determinant factors of tooth extraction and tooth extraction demand. Method: This study is a cross-sectional analytic study with time-sequential sampling. A sample of 53 people aged 26-65 years at the Dental Polyclinic Sanglah Hospital was given a questionnaire calculated on the Guttman scale. Result: The results of the Chi-square test analysis showed a significant relationship between knowledge (0.001), economic status (0.000), visit frequency (0.001), and financial sources (0.001) with permanent tooth extraction demand. Different results were found in the past experience variable (0.623) where there was no relation between the variable and permanent tooth extraction demand. Conclusion: The conclusions of this study are knowledge, economic status, and visit frequency affect the tooth extraction demand while the past experience factor do not affect on the tooth extraction demand. Latar Belakang: Perawatan untuk berbagai permasalahan yang ada di rongga mulut sangatlah bervariasi sesuai dengan kebutuhan dan juga kondisi dari masing-masing pasien. Perilaku akan kesehatan gigi dan mulut sangat berhubungan dengan tingkat pengetahuan, pengalaman sebelumnya, status ekonomi masyarakat, dan frekuensi kunjungan dari masing-masing perawatan. Tujuan: Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor determinan pencabutan gigi dengan permintaan tindakan pencabutan gigi permanen di RSUP Sanglah. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik cross-sectional dengan teknik pengambilan sampel yaitu time-sequential sampling. Sampel sebanyak 53 orang dengan rentang usia 26-65 tahun di Poliklinik Gigi RSUP Sanglah diberikan kuisioner yang dihitung dengan skala Guttman. Hasil: Terdapat 53 sampel yang terdiri dari 28 orang (52,8%) berjenis kelamin laki-laki, 25 orang (47,2%) berjenis kelamin perempuan. Hasil uji Chi-square pada penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan (p=0,001), tingkat ekonomi (p=0,000), frekuensi kunjungan (p=0,001), dan sumber pembiayaan (p=0,001) terhadap permintaan pencabutan gigi permanen (p-value <0,05). Hasil yang berbeda ditemukan pada variabel pengaruh pengalaman sebelumnya dengan hasil 0,623 (p-value>0,05), yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan dengan permintaan pencabutan gigi permanen. Simpulan: Kesimpulan penelitian ini adalah tingkat pengetahuan, tingkat ekonomi, dan frekuensi kunjungan berpengaruh terhadap permintaan pencabutan gigi sedangkan faktor pengalaman sebelumnya tidak berpengaruh terhadap permintaan pencabutan gigi.
Deteksi gen Gtf-B Streptococcus mutans dalam plak dengan gigi karies pada siswa di SD N 29 Dangin Puri I Gusti Agung Dyah Ambarawati; I Dewa Made Sukrama; I Wayan Putu Sutirta Yasa
Intisari Sains Medis Vol. 11 No. 3 (2020): (Available online: 1 December 2020)
Publisher : DiscoverSys Inc.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (828.452 KB) | DOI: 10.15562/ism.v11i3.337

Abstract

Background: Bacteria situated in the formation of dental plaque as a leading cause of caries is Streptococcus mutans. Streptococcus mutans use glycosyltransferase enzymes to convert saccharose saliva into an extracellular polysaccharide (PSE) through glycosylation process. One of the virulence factors of Streptococcus mutans is the gtf-B gene.Aim: This study aims to detect gtf-B gene in plaque with dental caries on students of SD Negeri 29 Dangin Puri.Method: The design of the study was descriptive observational research involved 51 carries children as a sample in SD Negeri 29, Dangin Puri. Bacterial culture was applied to detect colonies of Streptococcus. Additional gram staining and catalase test were also conducted to distinguish Streptococcus against Staphylococcus. After it revealed negative catalase test, PCR was continued optimally about 517 bp in size and 585 bp gtf B gene in size.Result and Conclusion: Streptococcus mutans are as many as 19 samples from 51 samples (37.25%). Three samples from 19 isolates of Streptococcus mutans were detected by gtf-B gen (16%). Bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak gigi sebagai penyebab karies adalah Streptococcus mutans. Streptococcus mutans memiliki enzim glikosiltransferase yang dapat mengubah sakarosa saliva menjadi polisakarida ekstraseluler (PSE) melalui proses glikosilasis. Salah satu faktor virulensi bakteri Streptococcus mutans sebagai penyebab karies gigi adalah gengtf-B Streptococcus mutans. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi gen gtf-B Streptococcus mutans dalam plak dengan gigi karies pada anak di SD Negeri 29 Dangin Puri.Metode: Penelitian ini menggunakan 51 sampel anak di SD Negeri 29 Dangin Puri yang mengalami karies. Kultur bakteri digunakan untuk mendeteksi koloni Streptococcus Sp. kemudian dilakukan pengecatan gram, uji katalase untuk membedakan Streptococcus dengan Staphylococcus. Hasil uji katalase negatif dilakukan proses PCR Streptococcus Mutans dengan ukuran 517 bp dan gen gtf B Streptococcus mutans dengan ukuran 585 bp.Hasil dan Simpulan: ditemukan bakteri streptococcus mutans sebanyak 19 sampel dari 51 sampel (37,25%). Tiga sampel dari 19 isolat bakteri streptococcus mutans terdeteksi gen gtfB streptococcus mutans (16%).  
PERILAKU MAHASISWA PROFESI KEDOKTERAN GIGI TERHADAP EDUKASI SMOKING CESSATION PASIEN DI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS UDAYANA Adhisa Restu Putri; Putri Rejeki; I Gusti Agung Dyah Ambarawati
Ganesha Medicina Vol. 2 No. 2 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/gm.v2i2.49509

Abstract

Merokok merupakan salah satu dari banyaknya masalah kesehatan yang konstan dan sulit dihentikan di kalangan masyarakat. Sebagian besar mahasiswa kedokteran gigi menyadari bahwa konseling penghentian kebiasaan merokok berada dalam lingkup layanan dokter gigi dan masa pendidikan dianggap sebagai waktu yang paling optimal untuk melatih mahasiswa dalam memberikan edukasi penghentian kebiasaan merokok sebelum memasuki dunia kerja. Edukasi yang diberikan tergantung dari bagaimana pengetahuan yang dimiliki oleh mahasiswa profesi kedokteran gigi tersebut, di mana tingkat pengetahuan tersebut berpengaruh terhadap tindakan yang akan dilakukan dan kedua hal tersebut berpengaruh juga terhadap hambatan yang akan mereka hadapi dalam memberikan edukasi penghentian kebiasaan merokok kepada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana perilaku mahasiswa profesi kedokteran gigi dalam memberikan edukasi penghentian kebiasaan merokok kepada pasien di Rumah Sakit Universitas Udayana. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 132 orang yang didapatkan melalui metode total sampling yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Data yang diperoleh dianalisis secara univariat dengan menggunakan tabel crosstabulation dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian didapatkan responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik (82,58%) dengan tindakan yang tinggi (50,76%) dan hambatan yang sedang (50%).
Perbandingan Berkumur Air Larutan Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Terhadap Penurunan Akumulasi Plak Pada Siswa SMA Negeri 1 Singaraja Made Wanda Indri Astuti Wulandari; I Gusti Agung Sri Pradnyani; I Gusti Agung Diah Ambarawati
Bali Dental Journal Vol. 6 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v6i1.84

Abstract

Background: Plaque is one of the contributing factors to dental and oral disease. The residue from food eaten that are not cleaned properly could cause a formation of dental plaque, which could subsequently lead to a more serious problem like dental caries. To mitigate the issue, brushing teeth regularly and using antiseptic solution as a mouthwash is advisable. Nowadays attention about the use of anti microbial was switched into natural ingredients, one of all is lime. The purpose of this study was to analyse the effectiveness of the active antiseptic substance of lime of 15% and 30% concentration level to the reduction on the formation of dental plaque. Methods: This study used an experimental randomised control trial pre-test and post-test design. The total sample of 42 students age 15 to 17 years were randomly divided into three groups: the first and second treatment group were given 15% and 30% lime extract as a mouthwash while the third group was given distilled water instead. The data were analysed by using plaque index Turesky-Gilmore-Glickman Modification of the Quigley-hein. Result: The paired t-test result showed significant changes with value of p 0,00 while the independent t-test showed the different rate on the reduction on formation of dental plaque with the treatment group that using 30% lime extract solution as the highest (p<0,05). Conclusion: It was concluded that, rinsing with lime solution 30% was more effective to decreased plaque accumulation. Latar belakang: Plak merupakan faktor pendukung yang menyebabkan masalah gigi dan mulut. Sisa makanan yang tidak dibersihkan dapat menyebabkan akumulasi plak dan menimbulkan masalah lebih lanjut seperti terjadinya karies gigi, serta masalah periodontal. Untuk mengatasi hal tersebut maka perlu dilakukan kontrol plak dengan cara menyikat gigi dan berkumur dengan larutan antiseptik. Pada saat ini perhatian beralih lebih kepada penggunaan senyawa antimikroba dari bahan alamiah, salah satunyaadalah jeruk nipis. Adanya kandungan minyak atsiri dalam jeruk nipis berperan sebagai senyawa antibakteri yang mampu menurunkan akumulasi plak. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan berkumur air larutan jeruk nipis konsentrasi 15% dan 30% terhadap penurunan akumulasi plak. Metode: Penelitian ini adalah penelitian eksperimental randomized control trial pre-test and post-test design. Sampel sebanyak 42 siswa usia 15-17 tahun SMA Negeri 1 Singaraja secara acak dibagi menjadi 3 kelompok yaitu 2 kelompok perlakuan (berkumur dengan larutan jeruk nipis 15% dan 30% dan kelompok kontrol (berkumur dengan air). Instrument yang digunakan dalam penelitian ini adalah indeks plak Turesky-Gilmore-Glickman Modification of the Quigley-hein. Hasil: Berdasarkan paired t-test terdapat adanya perbedaan yang signifikan dilihat dari nilai p sebesar 0,00. Sedangkan pada hasil independent t-test menunjukkan terdapat perbedaan penurunan indeks plak dengan rerata indeks plak yang lebih besar pada kelompok perlakuan perasan air jeruk nipis 30% (p<0,05). Kesimpulan: berkumur dengan larutan air jeruk nipis 30% lebih efektif untuk menurunkan akumulasi plak.
Hubungan Volume Saliva dengan Indeks Plak pada Pelajar di SMPN 3 Selemadeg Timur, Tabanan Monica Regina; Sari Kusumadewi; I G A Dyah Ambarawati
Bali Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v6i2.184

Abstract

Background: Dental and oral health is a part of body health that cannot be separated from one another because dental and oral health can also affect health as a whole. Problems occur in the oral cavity can be caused by plaque, one of the main factors in dental plaque formation is the volume of saliva. This study aimed to determine the salivary volume, plaque index, and the relationship between salivary volume and plaque index in students of SMPN 3 East Selemadeg, Tabanan. Method: The design of this study is a cross-sectional analytic using primary data from direct measurement of plaque index and salivary volume which are then categorized. The plaque index is categorized as good and poor, the volume of saliva is categorized to be high, normal, and low. Salivary volume and plaque index measurement was carried out on 75 male and female students. Result: The results of the statistical Spearman ranking analysis shows a significant relationship (p <0.05) with a correlation coefficient of 0.578**. Conclusion: A moderately strong correlation between salivary volume and the plaque index. Latar Belakang: Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian dari kesehatan tubuh yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya sebab kesehatan gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Masalah yang terdapat di dalam rongga mulut dapat disebabkan oleh plak, salah satu faktor utama dalam mempengaruhi pembentukan plak adalah volume saliva. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume saliva, indeks plak, dan hubungan antara volume saliva dan indeks plak pada pelajar SMPN 3 Selemadeg Timur, Tabanan. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross-sectional dengan mengambil data berupa data primer dari pengukuran langsung indeks plak dan volume saliva yang kemudian dikategorikan. Indeks plak dikategorikan menjadi baik dan kurang baik, volume saliva dikategorikan menjadi tinggi, normal, dan rendah. Observasional analitik volume saliva dan indeks plak dilakukan pada 75 siswa yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan. Hasil: Hasil analisis statistik rank spearman menunjukkan hubungan yang signifikan (p < 0,05) dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,578** Kesimpulan: Terdapat hubungan yang positif sedang dan searah antara volume saliva dengan indeks plak.
Hubungan Pengetahuan Menjaga Kebersihan Gigi Tiruan Lepasan terhadap Gambaran Rongga Mulut pada Lansia di Desa Penatahan, Tabanan I Gusti Ayu Janadewi; I Gst. A. Dyah Ambarawati; Ni Nengah Dwi Fatmawati
Bali Dental Journal Vol. 6 No. 1 (2022): January 2022
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v6i1.216

Abstract

Background : Tooth loss is a problem in the elderly in Indonesia with a high prevalence. Loss of tooth that are not replaced will cause a decrease in the level of self-confidence because the function of mastication is disrupted and can also affect the temporomandibular joints thereby reducing a person’s quality of life. This research was held to determine the level of knowledge in Maintaining removable denture to stay clean, the description of the oral cavity in the elderly in Penatahan Village, Tabanan and its relationship. Method: The design of this study was an observational descriptive design using a cross-sectional study method with a sample of 39 elderly people who actively participated in elderly gymnastics in Penatahan Village, Tabanan Regency, Bali. This research was conducted by giving questionnaire covering questions about knowledge and intra oral examinations. Result: The results obtained that the level of knowledge to maintaining removable denture to stay clean an with the highest percentage is good as much as 56.4% without any oral lesions, moderate level of knowledge as much as 23.1% without any oral lesions and as much as 23.1% with less knowledge level accompanied by traumatic ulcers as much as 37.5%, and experiencing denture stomatitis 12.5%. Conclusion: There is relationship between between the level of knowledge in maintaining removable denture to stay clean and the oral cavity on Elderly in Penatahan Village, Tabanan. (P-value <0.05). Latar Belakang : Kehilangan gigi merupakan masalah pada lansia di Indonesia dengan prevalensi yang tinggi. Kehilangan gigi yang tidak digantikan maka akan menyebabkan turunnya tingkat kepercayaan diri seseorang karena fungsi pengunyahan yang terganggu dan juga dapat berpengaruh terhadap sendi temporomandibular sehingga menurunkan kualitas hidup seseorang. Diadakannya penelitian ini untuk mendapatkan tingkat pengetahuan menjaga kebersihan gigi tiruan lepasan lansia, gambaran rongga mulut lansia di Desa Penatahan, Tabanan serta hubungan antara keduanya. Metode: Desain penelitian ini dengan rancangan deskriptif observational menggunakan metode cross-sectional study dengan jumlah sampel 39 orang lansia yang aktif mengikuti senam lansia di Desa Penatahan, kabupaten Tabanan, Bali. Penelitian dilakukan dengan memberi pertanyaan meliputi pengetahuan dalam bentuk kuisioner secara langsung dan pemeriksaan intra oral. Hasil: Didapatkan hasil bahwa tingkat pengetahuan menjaga kebersihan gigi tiruan lepasan dengan persentase tertinggi adalah baik yaitu sebanyak 56,4% tanpa adanya lesi rongga mulut, tingkat pengetahuan sedang sebanyak 23,1% tanpa adanya lesi rongga mulut dan sebanyak 23,1% dengan tingkat pengetahuan kurang disertai traumatic ulcer sebanyak 37.5%, dan mengalami denture stomatitis 12.5%. Simpulan: Terdapat hubungan antara pengetahuan menjaga kebersihan gigi tiruan lepasan terhadap gambaran rongga mulut pada lansia di Desa Penatahan, Tabanan. ( P-value < 0,05).
Uji daya hambat minyak cengkeh terhadap bakteri Staphylococcus Aureus in Vitro I Putu Wahyu Suryadinata; Dewa Made Sukrama; I Gusti Ayu Dyah Ambarawati
Bali Dental Journal Vol. 6 No. 2 (2022): June 2022
Publisher : School of Dentistry Faculty of Medicine Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/bdj.v6i2.73

Abstract

Backround: Tooth extraction is a removal of a tooth from its socket inside the alveolar bone. The accumulation of bacteria inside the alveolar socket in the aftermath of a tooth extraction procedure may cause infection, for example, in the case involving Staphylococcus aureus bacteria. Once it occurs, a Staphylococcus aureus bacterial infection can then lead to fibrinolysis, which means the blood clotting process will not be taking place as normal. Clove oil, here, can be utilized as it contains a main active ingredient to act as an anti-bacterial agent. Objective: The purpose of this research was to find out clove oil’s effectiveness in preventing the Staphylococcus aureus bacterial accumulation, with a 40%, 60%, and 80% comparison. Methods: This research was conducted as a laboratory experimental research in vitro with Mueller Hinton Agar (MHA) acting as the breeding ground medium. The results showed that clove oil with 40% concentration had the average of 16 mm resistance zone against the Staphylococcus aureus bacteria, 60% concentration came up with the average of 17 mm, and 80% concentration lands the average of 17.80 mm. Results: The statistical test result showed a significant outcome (annova test = 0.001 with ρ<0,05). The method used was a comparison between the testing of the three clove oil concentration percentages as variables against the Staphylococcus aureus bacteria, which were clear zones each measured with a slide rule. Conclusion: From this research, it was discovered the 80% clove oil concentration had a stronger resistance power compared to its 40% or 60% precursor. Latar Belakang: Ekstraksi gigi adalah proses pencabutan gigi dari soket dalam tulang alveolar. Akumulasi bakteri pada soket alveolar pasca prosedur ekstraksi gigi dapat menimbulkan terjadinya berbagai macam infeksi salah satunya infeksi Staphylococcus aureus. Infeksi bakteri Staphylococcus aureus memiliki kemampuan untuk melisiskan fibrin sehingga proses pembekuan darah tidak dapat berlangsung secara normal. Minyak cengkeh adalah kandungan zat aktif utama yang dimana sifat minyak cengkeh sebagai anti bakteri. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan daya hambat minyak cengkeh terhadap akumulasi bakteri Staphylococcus aureus dengan konsentrasi 40%, 60%, 80%. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorium secara in vitro. Media biakan yang digunakan adalah Mueller Hinton Agar (MHA). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa minyak cengkeh 40% memiliki rerata zona hambat 16 mm, 60% memiliki rerata 17 mm dan 80% memiliki rerata 17.80 mm dalam menghambat bakteri staphylococcus aureus. Hasil: Hasil uji statistik menunjukkan hasil yang signifikan (Uji annova = 0,001 dengan ρ<0,05). Metode yang digunakan adalah membandingkan diameter zona hambat dari minyak cengkeh bedasarkan variabel terhadap bakteri Staphylococcus aureus berupa zona bening yang diukur menggunakan jangka sorong. Simpulan: Kesimpulan yang bisa diperoleh dari penelitian ini adalah variable minyak cengkeh 80% memiliki daya hambat yang lebih besar dibandingkan dengan minyak cengkeh 40% dan 60%