cover
Contact Name
Budi Hariono
Contact Email
jofe@polije.ac.id
Phone
+6281907755024
Journal Mail Official
jofe@polije.ac.id
Editorial Address
Kelompok Riset Food Engineering, Politeknik Negeri Jember Jl. Mastrip PO BOX 164, Jember, Jawa Timur
Location
Kab. jember,
Jawa timur
INDONESIA
Journal of Food Engineering
ISSN : -     EISSN : 28100824     DOI : https://doi.org/10.25047/jofe
The journal publishes original research and review papers on any subject at the interface between food and engineering, particularly those of relevance to industry, including: Engineering properties of foods, food physics and physical chemistry; processing, measurement, control, packaging, storage and distribution; engineering aspects of the design and production of novel foods and of food service and catering; design and operation of food processes, plant and equipment; economics of food engineering, including the economics of alternative processes.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol. 3 No. 2 (2024): April" : 5 Documents clear
the Study of the Physical and Chemical Properties of Moringa Leaf Flour from the Drying of Incandescent Lamps: Kajian Sifat Fisika dan Kimia Tepung Daun Kelor (Moringa oleifera) Hasil Pengeringan Lampu Pijar Al Firdausiyah, Maula Tuffah; Hariono, Budi
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 3 No. 2 (2024): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v3i2.3428

Abstract

The Moringa plant is known as the Miracle Tree or the Magic Tree because it has great health benefits. Alternative processing of Moringa plants into products such as flour from Moringa leaves is important for further research. One of the critical processes in the manufacture of Moringa leaf flour is the drying process with an incandescent lamp. This research method uses two factors. The first factor is the drying temperature, which consists of 50 °C, 60 °C, and 70 °C with a drying time of 5 hours. The second factor is blanching, which consists of blanching (for 3 minutes at 85°C) and without blanching. The results showed that the interaction between variations in drying temperature and blanching factor was significantly different for water absorption, fineness modulus, moisture content, and ash content.
Multigrain rice instan sebagai pangan fungsional dengan tinggi protein dan serat panga: Multigrain Rice Instant as fungsional food with high protein and dietary fiber Kurniawati, Elly; Nur Rochmah, Afrillia Vita
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 3 No. 2 (2024): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v3i2.4079

Abstract

The objective of this research was to produce instant multigrain rice which has the potential as a functional food with high protein content, and as a source of dietary fiber. The design used in this study was a non-factorial Randomized Block Design (RBD), using 1 factor 5 treatments and 3 repetitions including F1 with concentrations (40% sorghum, 10% brown rice, 40% soybeans, 10% edamame) F2 (40% sorghum, 10% brown rice, 10% soybeans, 40% edamame) F3 (25% sorghum, 25% brown rice, 2 5% soybeans, 25% edamame) F4 (10% sorghum, 40% brown rice, 40% soybeans, 10% edamame) F5 (10% sorghum, 40% brown rice, 10% soybeans, 40% edamame). The analysis used in data processing is the ANOVA test followed by the Duncan test and analysis of the effectiveness index. The results showed that there was a significant effect on protein and dietary fiber content of several formulations. The resulting instant multigrain rice formulation has problems as a functional food, due to its high protein content and sufficient dietary fiber.
Pengaruh Substitusi Tepung Labu Kuning Terhadap Karakteristik Fisik, Kimia, Dan Organoleptik Apem Panggang Prabowo, Luthfiya Kinanti Putri; Yossi Wibisono
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 3 No. 2 (2024): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v3i2.4362

Abstract

Kue apem merupakan jenis kue basah tradisional yang terbuat dari bahan utama tepung beras. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana karakteristik fisik, kimia dan organoleptik apem panggang substitusi tepung labu kuning (Cucurbita Moscata). Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 taraf substitusi tepung labu kuning yang berbeda yaitu (0%, 5%, 10%, 15%, dan 20%). Data yang diperoleh selanjutnya akan dianalisis menggunakan ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa berpengaruh sangat berbeda nyata terhadap tekstur, volume, warna (b), kadar air, kadar abu, kadar total karoten, dan organoleptik apem panggang. Apem panggang LK1 memiliki perlakuan terbaik dengan penambahan tepung labu kuning sebanyak 5% yang memiliki tekstur 3,48 N, volume pengembangan 1,48 cm3/g, warna (Intensitas kecerahan (L) = 70,03 ; Intensitas warna merah (a) = 0,13 ; Intensitas warna kuning (b) = 30,53). Kadar air 42,14%, kadar abu 1,44%, kadar total karoten 1,88 μg/g, dan organoleptik agak disukai dengan nilai kesukaan keseragaman pori (3,81), warna (3,28), aroma (3,72), tekstur (3,97), dan rasa (3,80).
Analisis Karakteristik FisikoKimia dan Mutu Tanak Beras Pandan Wangi, Ramos dan Ketan Putih Sebagai Kandidat Pangan Fungsional: Analysis of Physical-Chemistry Characteristics and Quality of Pandan Wangi, Ramos, and Glutinous Rice as a Functional Food Candidate Nur Yudiastuti, Silvia Oktavia; Cahyana, Purwa Tri; Ramadhan, Fadhil Hisyam
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 3 No. 2 (2024): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v3i2.4696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis beras yang dapat digunakan sebagai produk kandidat pangan fungsional melalui analisis sifat fisiko-kimia dan mutu tanak yang dimilikinya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan perlakuan yang terdiri dari tiga jenis beras yaitu beras ramos, pandan wangi dan ketan putih. Berdasarkan hasil uji fisik, ketiga jenis beras memiliki karakteristik ukuran medium dengan bulk density tertinggi 0,39 dan berat 1000 butir tertinggi adalah 19,59. Berdasarkan hasil uji kimia, ketan memiliki daya serap air tertinggi, beras pandan wangi memiliki kadar air dan kadar serat tertinggi, serta beras ramos memiliki kadar amilosa dan kadar protein tertinggi. Berdasarkan hasil uji mutu tanak, beras pandan wangi memiliki waktu tanak dan daya resapan air tertinggi dengan waktu 24,25 menit dan 3,30 namun rasio perpanjangan beras ramos memiliki nilai tertinggi yakni 1,68. Berdasarkan hasil uji fisik dengan standar SNO 6128:2020, beras ramos mendapatkan bagian butir kelas premium terbanyak dibandingkan beras pandan wangi dan ketan. Melalui hasil penelitian, diketahui bahawa beras pandan wangi memiliki kandungan protein dan serat tinggi sehingga berpotensi digunakan sebagai bahan baku kandidat pangan fungsional.
KAJIAN PENGERINGAN ALAMI DAN MEKANIK TERHADAP KARAKTERISTIK BIJI KAKAO BULK: Study of Natural and Mechanical Drying to Characteristics of Bulk Cocoa Beans Santoso, Agus; Fadhilla, Putu Tessa; Subaktilah, Yani; Desiana, Adelia Fitri
JOFE : Journal of Food Engineering Vol. 3 No. 2 (2024): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/jofe.v3i2.4697

Abstract

Kakao merupakan tanaman perkebunan yang memiliki nama ilmiah Theobroma cacao L, berasal dari Amerika Selatan yang saat ini banyak ditanam di berbagai kawasan daerah tropika. Biji hasil pengeringan merupakan produk olahan yang dikenal dengan nama biji kakao bulk. Biji kakao bulk sebelumnya difermentasi dalam bak kayu dan ditutup dengan sak kemudian didiamkan selama 3-4 hari hingga suhunya tercapai sekitar 45-50 oC, lalu disiram dengan air untuk menghentikan proses fermentasi. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh cara pengeringan, lama pengeringan, dan interaksi cara pengeringan dan lama pengeringan terhadap sifat organoleptik biji kakao bulk. Disain penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Lengkap (RAKL), terdiri dari dua faktor dengan tiga kali ulangan. Faktor pertama yaitu cara pengeringan (A) yang terdiri dari : A1 = cara pengeringan sinar matahari, A2 = cara pengeringan dengan alat (cabinet dryer) suhu 60 ◦C dan faktor yang kedua yaitu lama pengeringan (B) yang terdiri dari : B1 = 48 jam, B2 = 56 jam, B3 = 64 jam Hasil penelitian disimpulkan (1) pengeringan mekanik berpengaruh terhadap mutu meliputi rasa (khas kakao) dan warna (khas kakao) serta aroma (normal kakao), (2) pengeringan sinar matahari pada lama pengeringan 48 jam berpengaruh terhadap mutu meliputi rasa (khas kakao) dan warna (khas kakao) serta aroma (sangat khas kakao), serta (3) kombinasi cara pengeringan mekanik dan lama pengeringan 56 jam berpengaruh terhadap mutu rasa 3,90 (khas kakao) dan warna rata-rata 3,89 (khas kakao) serta kadar air 5,69% dapat dipilih sebagai perlakuan yang terbaik.

Page 1 of 1 | Total Record : 5