cover
Contact Name
Vivi Ariyanti
Contact Email
viviariyanti@uinsaizu.ac.id
Phone
+6285727422004
Journal Mail Official
yinyang@uinsaizu.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto Jl. Jend. A. Yani No. 40A Purwokerto 53126 Jawa Tengah - Indonesia
Location
Kab. banyumas,
Jawa tengah
INDONESIA
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak
ISSN : 19072791     EISSN : 25485385     DOI : https://doi.org/10.24090/yinyang
Core Subject : Religion, Social,
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak is published by Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Islamic State University (UIN) Prof. K.H. Saifuddin Zuhri Purwokerto. This journal is published twice a year every June and December. We accept articles with the theme of education and gender, religion and gender, Islam and feminism, domestic violence and children, and children rights
Articles 10 Documents
Search results for , issue "Vol 9 No 1 (2014)" : 10 Documents clear
MEMAHAMI ANAK USIA SEKOLAH DASAR (TELAAH TERHADAP GENDER DAN SARA) Dony Khoirul Aziz
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (559.506 KB)

Abstract

Abstrak: Setiap anak adalah unik. Ia memiliki karakter yang berbeda dengan anak lainnya. Demikian pula anak lainnya memiliki karakter yang berbeda dengannya. Oleh karena itu, setiap anak menuntut perlakuan berbeda. Di sinilah pentingnya aspek memahami anak bagi guru. Perlu ada understanding dari guru terkait karakter setiap anak tersebut, sehingga ia bisa menerapkan metode pembelajaran yang tepat sesuai dengan keunikan dan kekhasan masing-masing anak. Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah ia belum menemukan cara belajar yang tepat, untuk itu dengan pemahaman yang baik terhadap keunikan anak, seorang guru diharapkan bisa membimbingnya menemukan cara belajar yang tepat sesuai karakternya. Tema inilah yang menjadi fokus bahasan makalah ini. Kata Kunci: Anak Usia Dasar, Gender, dan SARA
MENGUAK FAKTA KENABIAN MARYAM AS Salamah Noorhidayati
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.787 KB)

Abstract

Abstrak: Kenabian merupakan derajat tertinggi dalam Islam. Dalam menetapkan seseorang dengan posisi tinggi ini, ulama telah menetapkan syarat dan karakteristik. Masalahnya muncul ketika syarat dan karakteristik ini disematkan kepada seseorang yang berjenis kelamin perempuan, yakni Maryam. Ulama berselisih dalam menetapkan posisinya di antara jajaran kenabian. Tulisan ini akan mengurai bagaimana konsep nabi dan karakteristiknya secara umum, bagaimana relasi perempuan dan wahyu, bagaimana perbedaan pandangan ulama khususnya ahli tafsir terkait dengan status Maryam dan argument al-Qur’an bagi penetapan Maryam sebagai bagian dari mata rantai nabi dalam perspektif tafsir yang berkeadilan jender. Metode yang digunakan adalah deskriptif, dengan pendekatan filosofis dan komparatif. Tulisan ini menemukan bahwa karakteristik kenabian yang ada jika diterapkan pada sosok Maryam akan “memaksa” adanya kesimpulan bahwa Maryam dengan segala deskripsi al-Qur’an dan sejarah merupakan salah satu mata rantai kenabian dalam Islam. Abstract: Prophethood is the highest degree in Islam. In determining a person with this high position, scholars have established requirements and characteristics. The problem arises when the seterms and characteristics attributed to someone who is female, such as Mary. Clerics argue in determining its position among the ranks of prophet hood. This article will discuss how the concept of the prophet and general characteristics, the relationships of women and revelation, how divergent views of commentators, especially relating to the status of Mary and the arguments of the Qur'an for the determination of Mary as part of the chain of prophets in perspective interpretation of gender equity. The method used is descriptive, with a philosophical approach and comparative. This paper found that the characteristics of the existing prophetic when applied to the figure of Mary will be "forced" to the conclusion that Mary with any description of the Koran and the history is one of the chain of prophethood in Islam. Kata Kunci: Maryam, Nabi Perempuan, Wahyu, Mu’jizat
INTERVENSI SEXUAL ABUSE PADA ANAK DENGAN PARENT-CHILD INTERACTION THERAPY (PCIT) Henie Kurniawati
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.567 KB)

Abstract

Abstrak: Sexual abuse melibatkan faktor resiko dan proteksi pada anak. Kajian klinis dengan dasar teroritis, didukung oleh kalangan praktisi yang menangani kasus sexual abuse perlu menyajikan berbagai informasi yang mudah diakses tentang intervensi untuk menangani kasus-kasus tersebut. Dampak kekerasan amat berpengaruh terhadap harga diri anak, termanifestasikan dalam sikap dan perilaku mereka di masyarakat. Inovasi klinis yang tepat, terukur dan hati-hati diperlukan dalam kasus tertentu, termasuk sexual abuse. Dibutuhkan penanganan serius dan segera dengan Parent-Child Interaction Therapy (PCIT), yakni salah satu intervensi atau pendekatan khas dengan melakukan pembinaaan, memberikan keterampilan efektif antara orang tua dan anak secara bersama-sama. Intervensi Parent-Child Interaction Therapy (PCIT) membantu orang tua melakukan interaksi dengan teknik pengasuhan maupun pendampingan pada anak-anak, di antaranya mengatasi kasus sexual abuse, mengurangi dampaknya secara fisik maupun psikologis. Tantangannya adalah dukungan empiris ketersediaan tenaga sarana dalam menerapkan intervensi PCIT masih terbatas pada biaya, konsistensi dan keadaan resistensi. Diharapkan orang tua, guru dan masyarakat dapat bekerjasama secara sinergis untuk memproteksi anak dari sexual abuse. Abstract: Sexual abuse involves risk and protective factors in children. Clinical studies with theoretical basis, supported by practitioners who deal with cases of sexual abuse need to present awide range of easily accessible information about the intervention to deal with such cases. The impact of violence is very influential on children's dignity, manifested in their attitudes and behavior in society. Appropriate clinical innovation, scalable, and caution is required in certain cases, including sexual abuse. It takes serious and immediate treatment with Parent-Child Interaction Therapy (PCIT), which is one of the typical approach to intervention or guidance, providing effectives kills between parents and children together. Intervention of Parent-Child Interaction Therapy (PCIT) help parents interact with parenting and mentoring techniques to children, including addressing cases of sexual abuse, reducing the physical and psychological impact. The challenge is the availability of means of empirical support in implementing PCIT intervention is limited to the cost, consistency and resistancestate. Expected of parents, teachers and the community can work synergistically to protect children froms exual abuse. Kata Kunci: Kekerasan Seksual, PCIT, dan Pendampingan
PENGENALAN IDENTITAS GENDER PADA ANAK (STUDI PADA TAMAN PENITIPAN ANAK ATAU DAY CARE) Nur Azizah
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.793 KB)

Abstract

Abstrak: Pemenuhan pendidikan khususnya pengenalan identitas gender bagi anak merupakan salah satu hal yang penting dilakukan oleh orangtuanya akarena sebagai salah satu pondasi dasar pembentukan kepribadian anak, namun ketika orangtua tidak bisa sepenuhnya memberikan dan memberikan pemenuhan pendidikan khususnya pengenalan identitas gender bagi anak dikarenakan orangtua (Bapak dan Ibu) bekerja di luar rumah maka bisa mencari alternatif pengganti sementara untuk memberikan pendidikan tersebut. Alternatif itu bisa berupa memberikan pelayanan kepada anak dengan cara menempatkan anak di Taman Pendidikan Anak (Day Care) supaya tetap memperoleh pendidikan khususnya pengenalan identitas gender bagi anak. Pendidikan pengenalan identitas gender bagi anak di Taman Pendidikan Anak (Day Care) juga sangat tergantung dengan kondisi dan pemilihan tipe di Taman Pendidikan Anak (Day Care) oleh orang tua dan diharapkan anak akan memperoleh pengenalan identitas gender sebagai anak laki-laki atau anak perempuan sesuai dengan perkembangannya dan tanpa melepas peran orangtua. Abstract: Fulfillment of education, especially the introduction of gender identity of the child is one of the important things done by his parents because as one of the basic foundations of the formation of the child's personality. Nevertheless, when parents can not fully deliver and provide fulfillment in education, especially the introduction of the gender identity of the child because the parents (father and mother) work outside the home, they can seek temporary alternative to provide such education. The alternative could be providing services to the child by sending the child in the play group (Day Care) in order to keep our education, especially for children's gender identity recognition. Education introduction of gender identity for children in Day Care also depends on the condition and type of election in Day Care by parents and children will be expected to gain recognition of gender identity as a son or daughter appropriate with its development and without removing the role of parents. Kata Kunci: Identitas Gender, Anak, dan Taman Pendidikan Anak (Day Care).
ISLAM, HAK, DAN KESEHATAN REPRODUKSI: IDEALITA DAN REALITA PADA MAJLIS TAKLIM SALMA ALFAREEHA DI DESA CIKEMBULAN KECAMATAN PEKUNCEN KABUPATEN BANYUMAS Waliko Waliko
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.192 KB)

Abstract

Abstrak: Islam sering dipersepsi sebagai agama yang kurang memberikan perhatian terhadap hak-hak reproduksi perempuan dan juga hanya memposisikan tugas-tugas reproduksi kaum perempuan sebagai kewajiban dan tidak menyinggung hak-hak yang melekat pada tugas-tugas reproduksi itu. Perempuan sejalan dengan fungsi reproduktif yang dimilikinya, mempunyai tugas mengandung anak (al-h}amalah), melahirkan (al-wila>dah), menyusui (ar-rad}a>’ah), mengasuhnya (tarbiyah al-at}fa>l) dan beberapa hal lain yang berkaitan dengan tugas ini. Pengabaian terhadap hak-hak yang terkait dengan fungsi-fungsi reproduktif tersebut tidak hanya bertolak dari penafsiran-penafsiran konvensional yang berada dalam koridor ortodoksi, sebagian kaum muslimin masih memandang bahwa memilih pasangan, menikmati hubungan seks, memiliki keturunan, menentukan kehamilan, cuti reproduksi dan menceraikan pasangan tidak sepenuhnya mutlak melekat pada diri perempuan, sebaliknya kendali justru lebih banyak berada ditangan laki-laki. Persoalan-persoalan serupa juga dapat dirasakan dalam forum pengajian majlis-majlis taklim di Kabupaten Banyumas, khususnya di Majlis Taklim Salma Alfareeha di Desa Cikembulan Kecamatan Pekuncen, yang anggota atau jamaahnya sebagian besar adalah kaum perempuan. Dalam penelitian ini terungkap bahwa secara umum jamaah Majlis Taklim Salma al-Fareeha beranggapan bahwa hak menentukan kehamilan dan memiliki keturunan adalah hak suami, istri harus mengikuti. Hal ini mereka nyatakan dengan alasan, karena suamilah yang bertanggunggug jawab memberi nafkah keluarga, meski menurut mereka sebaiknya diputuskan bersama-sama. Ada suatu pengakuan dari mereka, bahkan jenis kontrasepsi apa yang akan digunakan oleh sang istri ditentukan oleh suaminya. Ini menunjukkan bahwa idealita dan realita hak dan kesehatan reproduksi pada majlis taklim ini dipengaruhi oleh tingkat pemahaman keagamaan mereka (dan pilihan-pilihannya), pendidikan, pengalaman dan usia. Semakin muda mereka rata-rata lebih menyadari akan pentingnya hak dan kesehatan reproduksi perempuan bagi mereka. Abstract: Islam is often perceived as a religion that gives little attention to women's reproductive rights. Issues such as choosing a husband, enjoying sex with her husband, have children, determine pregnancy, lactation, maternity leave, and divorcing couples are under the control of men. Similar problems also occurin the recitation of the Majlis Taklim Forum, Salma Al-Fareeha, Cikembulan Village, District of Pekuncen, which the member of his congregation are mostly women. This is a qualitative study that much depends on the ability of observation, interviews, and interpretation. Facts found are pilgrims Majlis Taklim Salma Al-Fareeha assume the right to determine pregnancy and have children is the husband’s rights, the wife should obey. They claim this for a reason, the husband is responsible to provide for the family. In fact, there is a recognition that the type of contraception used by the wife will be determined by her husband. Kata Kunci: Reproduksi Perempuan, Idealita, Realita,
PERAN PEREMPUAN DI BALIK KEDAULATAN KAUM PETANI DI CIAMIS, JAWA BARAT Ali Romdhon MA
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.195 KB)

Abstract

Abstrak: Kaum perempuan beserta kelompok-kelompok social di masyarakat memiliki peran penting dalam proses gerakan dan tranformasi pengetahuan. Di kampung Pesawahan, kecamatan Banjarsari, kabupaten Ciamis, Jawa Barat terdapat organisasi Serikat Petani Pasundan atau SPP yang mampu mendirikan sekolah unggulan. Di balik kemandirian dan keberhasilan gerakan ini, terdapat peran kaum ibu rumah tangga. Organisasi SPP juga telah mendirikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) Plus dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Plus yang berdiri di tengah perkebunan di kampung Pesawahan. Dua lembaga pendidikan ini merupakan hasil dari jerih payah dan kerja keras kaum petani di Jawa Barat yang memiliki cita-cita luhur dan etos kerja yang besar untuk membebaskan diri dari kemiskinan dan ketidakberdayaan. Di antara nilai lebih dan keunikan dari pendidikan di sekolah ini, para siswa dibekali dengan kecakapan untuk hidup di tengah masyarakat, selain menerima pelajaran lain sebagaimana di sekolah-sekolah pada umumnya. Para siswa tingkat akhir di sekolah ini juga siap berkompetisi di laga ujian nasional. Abstract: Women as well as social groups in society have an important role in the process of movement and transformation of knowledge. In Pesawahan Village, Banjarsari Subdistrict, Ciamis Regency, West Java, there is an organization called Sundanese Farmers Union or SPP (Serikat Petani Pasundan). The organization is able to establish an excellence school. Behind the independence and success of this movement, there is the role of the house wife. SPP organization has also established a junior high school (SMP) Plus and Vocational School (SMK) Plus which stood in the middle of the plantation in the village of Pesawahan. Two of these institutions is the result of hard work of the farmers in West Java who have lofty ideals and great work ethic to free them selves from poverty and powerlessness. Among the more value and uniqueness of education in this school, the students are equipped with the skills to live in society, as well as receive other lessons in schools in general. The final level students in this school are also ready to compete in the national examination. Kata Kunci: Perempuan, Petani, Pendidikan, dan Mandiri
BIAS GENDER DALAM BUKU PELAJARAN BAHASA ARAB UNTUK TINGKAT MADRASAH TSANAWIYAH KARYA DARSONO DAN T. IBRAHIM Muhammad Khusain
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (724.56 KB)

Abstract

Abstrak: Bias gender yang melahirkan ketidakadilan gender merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Bias gender seperti ini telah ada dan masih berlangsung di segala aspek kehidupan manusia; politik, sosial, budaya, ekonomi, dan bahkan pendidikan. Artikel ini tidak membahas praktek bias gender dalam segala aspek kehidupan di atas, melainkan hanya membatasi pada aspek pendidikan. Pembatasan ini didasarkan pada alasan bahwa adanya keironian dalam aspek pendidikan. Pendidikan yang mestinya menyuarakan kesetaraan dan keadilan gender justru melanggengkan ketidakadilan gender. Ketidakadilan tersebut seperti tergambar dalam buku pelajaran bahasa Arab untuk tingkat madrasah tsanawiyah karya Darsono dan T. Ibrahim. Abstract: Gender bias that make gender in equality is a violation of human rights. Gender bias have been in all aspects of human life; political, social, cultural, economic, and even education. This article does not discuss the practice of gender bias in all aspects of life at mentioned above, but it limits the educational aspect. This restriction is based on the grounds that their ironic in the educational aspect. Education that should voicing gender equality on the contrary actually perpetuate gender in equality. The gender in equality as illustrated in Arabic text books for Madrasa Tsanawiyah Level by Darsono and T. Ibrahim. Kata Kunci: Bias Gender, Sosialisasi Bias Gender, dan Buku Pelajaran Bahasa Arab.
KINERJA KEPEMIMPINAN KEPALA MADRASAH PEREMPUAN DI MI MA’ARIF NU 1 SOKARAJA TENGAH 2013/2014 Atika Rakhmawati
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (611.233 KB)

Abstract

Abstrak: selama ini kepemimpinan selalu identik dengan jenis kelamin laki-laki. Kepemimpinan yang di dalamnya terdapat aktivitas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian dirasa hanya cocok untuk jenis kelamin laki-laki yang memiliki stereotip rasional, kuat, dan tegas. Sedang perempuan dengan stereotip emosional, lemah, dan tidak tegas dianggap tidak cocok untuk memegang jabatan pemimpin. Namun demikian, anggapan bahwa kepemimpinan hanya cocok untuk laki-laki, dibantah oleh fakta-fakta empiris. Banyak sekali kepemimpinan yang dipegang oleh seorang perempuan bisa mencapai kesuksesan. Di antara kepemimpinan perempuan tersebut adalah kepemimpinan kepala madrasah perempuan di MI NU I Sokaraja Tengah. Abstract: So far, leadership is always identical to the male. Leadership which includes the activities of planning, organizing, implementing, and controlling deemed suitable only for the male which have rational, strong, and assertive stereotype. Mean while, women with emotional, weak, and not expressly stereotypes are considered to be unsuitable to serve as leaders. However, the assumption that leadership is only suitable for men, refuted by empirical facts. Lots of leadership that is held by a woman can achieve success. Among the women's leadership is women’s leadership as the headmaster in MI NU I Sokaraja Tengah. Kata Kunci: Kinerja, Kepemimpinan, Perempuan.
TAKBIR DAN SEMANGAT KESETARAAN GENDER (SEBUAH APLIKASI-TEORITIS HERMENEUTIKA HANS GEORG GADAMER) Munawir Munawir
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.618 KB)

Abstract

Abstrak: Hans Georg Gadamer adalah salah seorang tokoh hermeneutika mazhab transendentalis. Ia berpendapat bahwa sebuah teks adalah otonom. Karenanya, untuk bisa memahami teks yang otonom tersebut harus ada dialog antara pra-pemahaman (pre-understanding) penafsir dengan realitas yang ter-cover dalam teks tersebut. Keduaanya benar-benar lebur (fusion of horizons) untuk kemudian melahirkan sebuah pemahaman baru. Teori ini penulis gunakan untuk mencari pemahaman baru pada lafal Allahu Akbar, sebuah pemahaman yang merupakan proses dialektika antara pra pemahaman (pre-understanding) penulis dengan realitas yang ter-cover dalam lafal tersebut. Abstract: Hans Georg Gadamer is a leading transcendentalist hermeneutic. He argues that a text is autonomous. Therefore, to understand the autonomous text there should be a dialogue between the interpreters’pre-understanding with the reality that is covered in the text. Both are really melting (fusion of horizons) and then make a new understanding. This theory is used to search for a new understanding on the pronunciation Allahu Akbar, an understanding of the dialectical process between the authors’ pre-understanding with the reality that is covered in the pronunciation. Kata Kunci: Takbir, Kesetaraan Gender, dan Hermeneutika
KENISCAYAN PEMBACAAN ULANG TAFSIR AGAMA UNTUK MENEGASKAN KESETARAAN GENDER DALAM KEHIDUPAN KELUARGA DAN MASYARAKAT ISLAM Bani Syarif Maula
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 9 No 1 (2014)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (558.768 KB)

Abstract

Abstrak: Berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang selama ini terjadi telah menghambat persamaan hak antara perempuan dan laki-laki dalam masyarakat Islam. Salah satu akar masalahnya adalah adanya tafsir agama yang bias gender, karena pada dasarnya pemahaman umat Islam terhadap posisi perempuan baik di dalam kehidupan domestik (rumah tangga) maupun di wilayah publik (sosial) pada umumnya sangat diwarnai oleh ajaran agama. Karena itulah, pembacaan ulang tafsir-tafsir ajaran Islam untuk memahami kesetaraan gender dirasa perlu dilakukan sebagai upaya untuk menjawab problematika umat Islam dalam menghadapi arus deras demokratisasi di mana wacana hak asasi manusia dan kesetaraan menjadi isu utamanya. Untuk melakukan itu, maka metodologi penafsiran ajaran Islam harus direkonstruksi dengan menggunakan pendekatan-pendekatan dan analisis yang bisa membuka adanya kemungkinan-kemungkinan baru dalam pembacaan al-Qur’an dan hadis sebagai seumber utama ajaran Islam. Abstract: Various forms of discrimination against women that have happened until present days hinder equality between women and men in Muslim society. One of the roots of that problem is the existence of gender-biased religious interpretations, because basically Muslim understanding of women's position both in domestic life (household) and in public areas (social) is generally highly influenced by religious teachings. Therefore, rereading interpretations of Islamic teachings to understand gender equality should be considered as an attempt to answer the problems of Muslims in facing strong currents of democratization, in which the discourse of human rights and equality become its major issue. In doing so, the interpretation of Islamic teaching methodology should be reconstructed using analytical approaches that could open up any new possibilities in the reading of the Qur'an and Hadith as the primary source of Islamic teachings. Kata Kunci: Reinterpretasi, Analaisis Gender, dan Kesetaraan Gender.

Page 1 of 1 | Total Record : 10