cover
Contact Name
Hilwati Hindersah
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrpwk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota
ISSN : 28083113     EISSN : 2798656X     DOI : https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian perencanaan wilayah dan kota. JRPWK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-656X yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 100 Documents
Kajian Kerentanan Pantai terhadap Pengembangan Wilayah Pesisir Pangandaran Witanto Agung Prayogi; Yuli Asyiawati
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (785.273 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.370

Abstract

Abstract. The coastal area of ​​ Pangandaran is a dynamic area, which is a southern coastal area, making this area also vulnerable to the activities of the Indo-Autralian tectonic plate. This causes the Pangandaran coastal area to be vulnerable to the threat of natural disasters in the form of tidal flooding, abrasion, earthquakes and tsunamis. This study aims to identify the level of coastal vulnerability and the impact of coastal vulnerability on regional development in the Pangandaran coastal area. The analytical method used in this research is multi-disaster vulnerability analysis which is carried out using overlay, scoring and weighting techniques. The parameters used in this analysis are disaster vulnerability from the physical aspects of the influence of sea and land, social and economic factors. The results showed that the study area had a low level of vulnerability of 50.02%, a medium vulnerability of 36.97%, and a high level of vulnerability of 13.01%. This has an impact on the development of community socio-economic activities in the Pangandaran coastal area, especially for the development of tourism, trade and service activities. From the results of the analysis, there are several things that can be recommended from this study, namely (1) planning based on disaster mitigation; (2) improve disaster mitigation support facilities; (3) mitigation education to reduce community losses; (4) provide disaster evacuation sites in areas of low vulnerability. Abstrak. Wilayah pesisir Pangandaran merupakan wilayah yang dinamis, yang merupakan wilayah pesisir selatan menjadikan kawasan ini juga rentan terhadap aktivitas terkonik lempeng bumi Indo-Autrali. Hal ini menyebabkan wilayah pesisir Pangandaran rentan terhadap ancaman bencana alam berupa banjir rob, abrasi, gempa bumi dan tsunami. Studi ini bertujuan mengidentifikasi tingkat kerentanan pantai dan dampak kerentanan pantai terhadap pengembangan wilayah di wilayah pesisir Pangandaran. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kerentanan multibencana yang dilakukan denga teknik overlay, skoring dan pembobotan. Parameter yang digunakan dalam analisis ini yang menjadi kerentanan bencana dari aspek fisik dari pengaruh laut dan darat, faktor sosial dan ekonomi. Hasil penelitian diperoleh bahwa wilayah studi memiliki tingkat kerentanan rendah sebesar 50.02%, kerentanan sedang 36.97%, dan tingkat kerentanan tinggi sebesar 13.01%. Hal ini memberikan dampak terhadap pengembangan kegiatan sosial ekonomi masyarakat di wilayah pesisir pangandaran, terutama untuk pengembangan kegiatan wisata, perdagangan dan jasa. Dari hasil analisis tersebut ada beberapa yang dapat direkomendasikan dari kajian ini adalah (1) perencanaan berbasis mitigasi bencana; (2) meningkatkan fasilitas penunjang mitigasi bencana; (3) edukasi mitigasi untuk mengurangi kerugian masyarakat; (4) menyediakan tempat evakuasi bencana pada kawasan tingkat kerentanan rendah.
Kajian Mitigasi Bencana Berbasis Kearifan Budaya Lokal di Kampung Adat Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya Zefanya Ginulur Rahmatullah; Saraswati
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.799 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.372

Abstract

Abstract. Kampung Naga is a village based on local wisdom. The people of Kampung Naga are a very strong community in holding the tradition of their ancestors, in this case the Sundanese. Kampung Naga is also known as a village that is resistant to natural disasters. However, how does Kampung Naga do disaster mitigation with the limitations of existing technology and what forms of local wisdom can mitigate disasters? This study examines how disaster mitigation in Kampung Naga, Neglasari, Salawu, Tasikmalaya is based on local wisdom so that it is not affected by disasters but still maintains existing cultural values. The method of analysis in this study uses a descriptive research method with a qualitative approach, which is a technique that describes and interprets the meaning of the data that has been collected by paying attention and recording as many aspects of the situation as possible under study at that time, so as to obtain a general and comprehensive picture of the situation. actually. Data collection methods in this study using qualitative methods. Meanwhile, for data collection, interviews and questionnaires were conducted with the residents of Kampung Naga. The prospect of traditional institutionalized disaster mitigation lies in the tradition that are carried out firmly and the role of the Kuncen as a key figure in the process of inheriting and preserving the values ​​of traditional wisdom. The focus of disaster mitigation which is institutionalized by tradition, refers to the life philosophy of the people of Kampung Naga, namely Tri Tangtu di Bumi, namely regional planning (spatial management); tata wayah (time management) and tata lampah (behavior). The pattern of traditional wisdom that is able to mitigate disasters based on the Tri Tangtu di Bumi philosophy is implemented through mandates, wills and taboos. The forms of traditional wisdom capable of mitigating disasters consist of: the mandate to live simply, peacefully and together; wills in building houses, farming and about forests; and the taboo of actions and taboos of things. By continuing to preserve traditional customs and wisdom that is able to mitigate disasters through the process of learning the values ​​of living in harmony with nature, from an early age in the family environment through the example of parents, habituation, and invitations, we can maintain the potential of Kampung Naga which is currently known as a village that is withstand natural disasters. Abstrak. Kampung Naga merupakan kampung yang berbasiskan kearifan lokal. Masyarakat Kampung Naga merupakan masyarakat yang sangat kuat dalam memegang adat istiadat peninggalan leluhurnya, dalam hal ini adalah adat Sunda. Kampung Naga juga dikenal sebagai kampung yang tahan terhadap bencana alam. Namun bagaimanakah Kampung Naga melakukan mitigasi bencana dengan keterbatasan teknologi yang ada dan apa saja bentuk kearifan lokal yang bisa memitigasi bencana. Penelitian ini mengkaji bagaimana mitigasi bencana di Kampung Naga Desa Neglasari Kecamatan Salawu Kabupaten Tasikmalaya dengan berbasis kearifal lokal agar bisa menjadikannya tidak terdampak oleh bencana namun tetap menjaga nilai-nilai budaya yang sudah ada. Metode Analisis pada penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yakni suatu teknik yang menggambarkan dan menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Metode Pengumpulan Data pada penelitian ini menggunakan metode Kualitatif. Sedangkan untuk pengambilan data dilakukan wawancara dan kuesioner terhadap warga Kampung Naga. Prospek mitigasi bencana yang melembaga secara tradisi terletak pada adat istadat yang dijalankan dengan teguh dan peran kuncen sebagai tokoh kunci dalam proses pewarisan dan pelestarian nilai-nilai kearifan tradisional. Fokus mitigasi bencana yang melembaga secara tradisi, mengacu pada filosofi hidup masyarakat Kampung Naga yaitu Tri Tangtu di Bumi, yaitu tata wilayah (pengelolaan ruang); tata wayah (pengelolaan waktu) dan tata lampah (perilaku). Pola kearifan tradisional yang mampu memitigasi bencana berpedoman pada filosofi Tri Tangtu di Bumi diimplementasikan melalui amanat, wasiat dan tabu. Bentuk dari kearifan tradisional yang mampu memitigasi bencana terdiri atas: amanat untuk hidup sederhana, damai dan kebersamaan; wasiat dalam membangun rumah, bertani dan tentang hutan; serta Tabu perbuatan dan tabu benda. Dengan terus melestarikan adat istiadat dan kearifan tradisional yang mampu memitigasi bencana melalui proses belajar nilai-nilai hidup selaras dengan alam, dari sejak dini dalam lingkungan keluarga melalui keteladanan orang tua, pembiasaan, dan ajakan bisa mempertahankan potensi Kampung Naga yang saat ini dikenal dengan kampung yang tahan bencana alam.
Pengaruh Politik Pembangunan terhadap Kesejahteraan Masyarakat Helmi Dwi Agung Pambudi; Nia Kurniasari
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.643 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.378

Abstract

Abstract. West Bandung Regency is an area located in the Bandung Metropolitan Area, on the other hand, West Bandung Regency is also a peripheral area which tends to have dependence on the center, namely Bandung City and Cimahi City. In the implementation of development, it is necessary to understand thoroughly in advance the meaning of development. Historically-ideologically, the idea of ​​development is used as a Style of Governance to focus on the mechanism of economic productivity, resulting in efforts to narrow social space and minimize things that trigger social conflict. Therefore, the role of the state apparatus in the form of institutions is needed to ensure the creation of a mechanism that minimizes horizontal and ideological conflicts by prioritizing consensus and order. In terms of development politics determining sustainable development, in addition to the physical area, social development also needs to be the main focus for development in West Bandung Regency. In this study, the MICMAC and MACTOR analysis methods used input data from primary and secondary surveys. As for the approach method using case studies. The purpose of this study is to map the role of actors on development variables and determine the relationship between variables and the actors involved. Abstrak. Kabupaten Bandung Barat merupakan suatu wilayah yang berada di kawasan Bandung Metropolitan Area, disisi lain Kabupaten Bandung Barat juga merupakan wilayah periphery yang cenderung memiliki ketergantungan terhadap centre yaitu Kota Bandung dan Kota Cimahi. Dalam pelaksanaan pembangunan, perlu dipahami secara menyeluruh terlebih dahulu mengenai makna dari pembangunan. Secara Historis-Ideologis, ide pembangunan dijadikan sebagai Style of Governance untuk menitikberatkan pada mekanisme produktivitas ekonomi, sehingga timbul upaya penyempitan ruang sosial dan meminimalkan hal – hal memicu konflik sosial. Maka dari itu, dibutuhkan peran aparatur negara berbentuk kelembagaan untuk menjamin terciptanya mekanisme yang meminimalisir konflik horizontal dan ideology dengan mengutamakan konsesus dan ketertiban. Dalam hal politik pembangunan menentukan pembangunan yang berkelanjutan, selain fisik wilayahnya, pembangunan dari segi sosial kemasyarakatan juga perlu menjadi fokus utama bagi pembangunan di Kabupaten Bandung Barat. Dalam penelitian ini menggunakan metoda analisis MICMAC dan MACTOR yang menggunakan data masukan dari survey primer dan sekunder. Sedangkan untuk metoda pendekatannya menggunakan studi kasus. Tujuan pada penelitian ini yaitu untuk memetakan peranan aktor terhadap variabel pembangunan dan mengetahui hubungan variabel dengan aktor yang terlibat.
Optimalisasi Terminal Tipe A Bandar Raya Payung Sekaki Kota Pekanbaru Provinsi Riau Anggi Pratama; Tonny Judiantono
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.789 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.381

Abstract

Abstract. Terminal Type A Bandar Raya Payung Sekaki is the largest terminal in the city of Pekanbaru and Riau Province with quite volatile arrival and departure movements. The current condition of the BRPS Terminal is not as expected because there are still many passengers who are reluctant to get on and off at the terminal because the location of the terminal is quite far from the center of activities such as the center of trade, socio-economic and other activities so that there is a lack of movement through the BRPS Terminal. The analytical method used is qualitative and quantitative analysis. Qualitative analysis is used to describe current conditions such as system activity conditions, terminal utilization, terminal accessibility and SWOT. While the quantitative analysis is IPA analysis, movement and passenger potential analysis using growth factors and terminal income potential analysis. From the results of the SWOT analysis, it is stated that the terminal is in quadrant I (aggressive). From the results of the IPA, there are 15 service indicators that need to be improved. From the analysis of potential demand, there are 25.34% additional passengers for AKDP and 41.61% for AKAP. From the results of the analysis of potential income has a potential income of Rp. 569,250,000/year of potential land lease. Based on the analysis of potential demand and income, the terminal has great potential to be optimized. Terminal optimization is carried out by improving terminal services, increasing terminal accessibility and connectivity Abstrak. Terminal Tipe A Bandar Raya Payung Sekaki merupakan terminal terbesar di kota Pekanbaru dan Provinsi Riau dengan pergerakan kedatangan dan keberangkatan yang cukup fluktuatif. Kondisi Terminal BRPS saat ini tidak seperti yang diharapkan karena masih banyak penumpang yang enggan naik dan turun di terminal karena lokasi terminal berada cukup jauh dari pusat kegiatan seperti pusat perdagangan, sosial ekonomi dan kegiatan lainnya sehingga kurangnya pergerakan yang melewati Terminal BRPS. Metode analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif dan kuantitatif. Analisis kualitatif digunakan untuk menggambarkan kondisi terkini seperti kondisi sistem aktivitas, pemanfaatan terminal, aksesibilitas terminal dan SWOT. Sedangkan analisis kuantitatif yaitu analisis IPA, analisis potensi pergerakan dan penumpang menggunakan growth factor dan analisis potensi pendapatan terminal. Dari hasil analisis SWOT menyatakan terminal berada di kuadran I (agresif). Dari hasil IPA terdapat 15 indikator pelayanan yang perlu ditingkatkan. Dari hasil analisis potensi demand terdapat penambahan penumpang AKDP 25,34% dan AKAP 41,61%. Dari hasil analisis potensi pendapatan memiliki pendapatan potensial sebesar Rp. 569.250.000/tahun dari sewa lahan potensial. Berdasarkan hasil analisis potensi demand dan pendapatan maka terminal memiliki potensi yang besar untuk dioptimalkan. Optimalisasi terminal dilakukan dengan cara meningkatan pelayanan terminal, meningkatan aksesibilitas dan konektivitas terminal
Kajian Penyusunan Peta Proses Bisnis pada Pembangunan Desa di Kabupaten Subang Khansa Shabiyhah; Ernady Syaodih
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.213 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.383

Abstract

Abstract. Business Process is a collection of interrelated work to solve a particular problem. Village development cannot be separated from the context of regional management both at the district and provincial levels because the position of the village in a wider context (social, economic, market access, and politics) must look at the interrelationships between villages and others. Therefore, it is necessary to have a business process map. Compilation of Business Process Map in accordance with Permenpan N0.19 of 2018 concerning Compilation of Business Process Map of Government Agencies. Problems faced What problems are faced in village development in Subang Regency?, who is involved in the village development process in Subang Regency?, what are the duties, functions and coordination of each stakeholder?. and what is the shape of the business process map in village development so that it runs efficiently and effectively? With the study of business process maps, it can increase knowledge assets that can integrate and document in detail the business processes carried out to achieve the vision, mission, and goals. This knowledge asset forms the basis for decision making regarding organizational development and human resources, as well as performance appraisal. The conclusion is that the business process map in village development still has problems in every flow of activities Abstrak. Bisnis Proses adalah suatu kumpulan pekerjaan yang saling terkait untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu. Pembangunan desa tidak terlepas dari konteks manajemen pembangunan daerah baik di tingkat kabupaten maupun tingkat provinsi karena kedudukan desa dalam konteks yang lebih luas (sosial, ekonomi, akses pasar, dan ploitik) harus melihat keterkaitan antar desa dan dengan yang lainnya. Oleh karena itu perlu di adakannya peta proses bisnis. Penyusunan Peta Proses Bisnis sesuai Permenpan N0.19 tahaun 2018 tentang Penyusunan Peta Proses Bisnis Instansi Pemerintah. Adapun permasalahan yang dihadapai Permasalahan apa saja yang dihadapi dalam pembangunan desa di Kabupaten Subang?, siapa saja yang terlibat dalam proses pembangunan desa di Kabupaten Subang?, bagaimana tugas, fungsi dan koordinasi dari setiap pemangku kepentingan?. dan bagaimana bentuk peta proses bisnis dalam pembangunan desa agar berjalan efisien dan efektif ?. Dengan adanya kajian peta proses bisnis maka dapat meningkatkan aset pengetahuan yang dapat mengintegrasikan dan mendokumentasikan secara rinci mengenai proses bisnis yang dilakukan untuk mencapai visi, misi, dan tujuan. Aset pengetahuan ini menjadi dasar pengambilan keputusan strategis terkait pengembangan organisasi dan sumber daya manusia, serta penilaian kinerja. Kesimpulannya bahwa peta proses bisnis pada pembangunan desa masih memiliki masalah pada setiap alur kegiatannya.
Identifikasi Pengaruh Keruangan terhadap Angka Kesembuhan Covid-19 di Kabupaten Bekasi Muhammad Faishal Hafizh
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.845 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.478

Abstract

Abstract. The spatial condition of South Tambun District is influenced by its geographical position close to Jakarta as the Central Capital City, so it cannot be denied that urbanization has affected the formation or function of land use, which is dominated by settlements. Seeing the Covid-19 phenomenon that affects all aspects of life, especially public health, it is a challenge to be able to get out of this situation, one of which is to recover or minimize the impact of this disease outbreak. Based on this phenomenon, the problem is formulated, namely how is the influence of space on environmental and physical aspects on the Covid-19 recovery rate in South Tambun District. The researcher uses a quantitative approach with multiple regression analysis methods and the supporting analysis is the entropy index and weighting of environmental quality. The research objects selected for this study were all 10 villages/kelurahan in South Tambun District. Techniques in data collection using secondary data and also satellite imagery. The results of this study are: Spatial variables on environmental and physical aspects of the Covid-19 recovery rate variable still affect the recovery indirectly. Abstrak. Kondisi keruangan Kecamatan Tambun Selatan dipengaruhi oleh posisi secara geografis berdekatan dengan Jakarta sebagai Pusat Ibu Kota, sehingga tidak dapat dipungkiri terjadinya urbanisasi yang mempengaruhi bentukan ataupun fungsi penggunaan lahan, yang didominasi oleh permukiman. Melihat fenomena Covid-19 yang mempengaruhi diseluruh aspek kehidupan khususnya Kesehatan dimasyarakat, menjadi tantangan untuk dapat keluar dari situasi ini salah satunya untuk dapat sembuh atau meminimalisir terdampak dari wabah penyakit ini. Berdasarkan fenomena tersebut, maka dirumuskan permasalahnya yaitu bagaimana pengaruh keruangan pada aspek lingkungan dan fisik terhadap angka kesembuhan Covid-19 di Kecamatan Tambun Selatan. Peneliti menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode analisis regresi majemuk serta penunjang analisisnya adalah indeks entropi dan pembobotan kualitas lingkungan. Objek penelitian yang dipilih untuk penelitian ini adalah seluruh desa/ kelurahan di Kecamatan Tambun Selatan yang berjumlah 10 wilayah. Teknik dalam pengumpulan datanya menggunakan data-data sekunder dan juga citra satelit. Hasil dari penelitian ini adalah: Variabel keruangan pada aspek lingkungan dan fisik terhadap variabel angka kesembuhan Covid-19 tetap mempengaruhi kesembuhannya secara tidak langsung.Kata Kunci: Keruangan, Kesembuhan Covid-19, Lingkungan Binaan.
Evaluasi Fungsi Ekologis Taman Kota dalam Upaya Peningkatan Kualitas Ruang Perkotaan Alma Ukhtiani Nurhasan; Verry Damayanti
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (721.817 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.479

Abstract

Abstract. Increased development in Bandung, combined with high rate of population growth, causes a decrease in environmental quality. Because a primary function is as an ecological function, namely as a means to reduce pollutants and prevent changes in environmental quality, the existence of city parks can reduce the potential for environmental degradation that occurs. The purpose of this study was to evaluate the quality of city parks in the Bandung Wetan District based on ecological functions in order to build a city park arrangement capable of raising the quality of urban space in a sustainable way. The ecological functions analyzed are the noise barrier function, the temperature modification function, the air humidity control function, the windbreak function, the water management function and soil buffer function and the function as animal habitat. Analysis of the Suitability of Ecological Functions Based on Vegetation Using the Key Performances Index (KPI) Analysis Method, Environmental Condition Assessment, and Functional Analysis of City Parks as Animal Habitats are the analytical methods used. According to the results, the vegetation condition in Taman Lansia of the five (5) ecological functions is in the good category, while the measurement of environmental conditions in Taman Lansia of the five (5) functions is in the ideal category. According to the results of an analysis of the function of city parks as animal habitats, the following factors influence the diversity of animal species in urban parks: the size of the park, the diversity of vegetation types, and the frequency of visitor activities. Abstrak. Meningkatnya pembangunan disertai dengan tingginya laju pertumbuhan penduduk di Kota Bandung menyebabkan penurunan kualitas lingkungan. Adanya Taman Kota dapat mengurangi potensi penurunan kualitas lingkungan yang terjadi, karena fungsi utamanya sebagai fungsi ekologis yaitu sebagai media untuk mereduksi polutan dan mencegah terjadinya perubahan kualitas lingkungan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kualitas dari Taman Lansia Kota Bandung berdasarkan fungsi ekologis agar terwujudnya penataan taman kota yang mampu meningkatkan kualitas ruang perkotaan secara berkelanjutan. Ada pun fungsi ekologis yang di analisis adalah fungsi penahan kebisingan, fungsi modifikasi suhu, fungsi pengontrol kelembapan udara, fungsi penahan angin, fungsi pengatur tata air dan peyangga tanah dan fungsi sebagai habitat satwa. Metode analisis yang digunakan yaitu Analisis Kesesuaian Fungsi Ekologis Berdasarkan Vegetasi menggunakan metode analisis Key Performances Index (KPI), Penilaian Kondisi Lingkungan. dan Analisis deskriptif Fungsi Taman Kota sebagai habitat satwa. Berdasarkan hasil analisis, Kondisi Vegetasi pada Taman Lansia dari ke lima (5) fungsi ekologis, tiga (3) yang termasuk ke dalam kategori baik, sementara untuk Pengukuran kondisi lingkungan pada Taman Lansia dari ke lima (5) fungsi dua (2) fungsi yang memenuhi kondisi ideal. Berdasarkan hasil analisis fungsi taman kota sebagai habitat satwa menunjukan bahwa faktor yang mempengaruhi keanekaragaman jenis satwa pada taman kota diantaranya yaitu : luas taman, keanekaragaman jenis vegetasi dan intensitas aktifitas pengunjung.
Pengaruh Perubahan Curah Hujan dan Perubahan Tutupan Lahan terhadap Bencana Longsor berdasarkan Analisis Spasial Hana Syarifah Firdaus
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (509.092 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.480

Abstract

Abstract. West Bandung Regency is one of the areas that has the potential for landslides in Indonesia. The occurrence of landslides in West Bandung Regency is the most common type of disaster, with a percentage of 68% in West Bandung Regency in 2008 - 2016 compared to other types of disasters. This research uses a quantitative approach spatially. The purpose of this study was to examine the level of landslides in the West Bandung Regency from the influence of changes in rainfall and land cover changes based on spatial analysis. The method of data collection is done by the method of secondary data collection. The analytical methods used include land cover classification analysis in 2018 - 2020 and analysis of the level of landslide disasters from the existing conditions of landslides in 2018 - 2020. From the results of research using overlay analysis, in 2018 the disaster level landslides with a low level of 31,309.90 Ha or 24.47% and a medium level of 96,660.06 Ha or 75.53% with a total of 150 landslides in 61 villages. In 2019, the level of landslides was low at 31,752.25 Ha or 24.84% and the medium level was 96,091.22 Ha or 75.16% with 152 landslides in 53 villages. In 2020 the landslide disaster level has a low level of 15,280.42 Ha or 11.94%, a medium level of 108,381.46 Ha or 84.69%, and a high level of 4,308.11 Ha or 3.37% with the number of landslides as many as 144 times in 67 villages. Abstrak. Kabupaten Bandung Barat menjadi salah satu wilayah yang memliki potensi bencana longsor di Indonesia. Kejadian bencana longsor di Kabupaten Bandung Barat merupakan jenis bencana yang paling banyak terjadi yaitu dengan presentase sebesar 68% di Kabupaten Bandung Barat pada Tahun 2008 - Tahun 2016 dibandingkan dengan jenis bencana lainnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif secara spasial. Tujuan dalam penelitian ini untuk mengkaji tingkat bencana longsor di wilayah Kabupaten Bandung Barat dari pengaruh perubahan curah hujan dan perubahan tutupan lahan berdasarkan analisis spasial. Metode pengumpulan data yang dilakukan dengan metode pengumpulan data sekunder. Metode analisis yang digunakan diantaranya analisis klasifikasi tutupan lahan untuk melihat tutupan lahan pada Tahun 2018 - Tahun 2020 dan analisis tingkat bencana longsor dari kondisi eksisting bencana longsor pada Tahun 2018 – Tahun 2020. Dari hasil penelitian menggunakan teknik analisis overlay didapatkan bahwa pada Tahun 2018 tingkat bencana longsor dengan tingkat rendah sebesar 31.309,90 Ha atau 24,47% dan tingkat sedang sebesar 96.660,06 Ha atau 75,53% dengan jumlah longsor sebanyak 150 kali pada 61 desa. Pada Tahun 2019 tingkat bencana longsor rendah sebesar 31.752,25 Ha atau 24,84% dan tingkat sedang sebesar 96.091,22 Ha atau 75,16% dengan jumlah longsor sebanyak 152 kali pada 53 desa. Pada Tahun 2020 tingkat bencana longsor memiliki tingkat rendah sebesar 15.280,42 Ha atau 11,94%, tingkat sedang sebesar 108.381,46 Ha atau 84,69%, dan tingkat tinggi sebesar 4.308,11 Ha atau 3,37% dengan jumlah longsor sebanyak 144 kali pada 67 desa.
Kajian Implementasi Smart Environment di Kota Bandung Farhan Fauzan; Ernady Syaodih
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.747 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.481

Abstract

Abstract. Smart environment is one of the axes of the smart city concept that has been implemented in the Bandung city. The implementation of smart environment is focused on urban environmental problems that occur in the Bandung city, especially in Sukajadi District. In Sukajadi District itself, environmental problems still occur, ranging from flooding, issues of waste management, drainage, rivers, to the availability of green open spaces. Therefore, in this study the author will try to identify the extent to which the implementation of the smart environment in Sukajadi District is based on 14 indicators, namely (1) green building; (2) sustainable-certified buildings; (3) smart homes; (4) renewable energy; (5) pollution control and management with ICT; (6) household and industrial waste control; (7) management of water resources and improvement of clean water quality standards; (8) river revitalization; (9) waste management; (10) street lighting; (11) drainage system; (12) provision of green open space; (13) slum area management; and (14) urban farming. The purpose of this research is to identify the extent of the implementation of the smart environment, identify problems related to the smart environment, and identify what strategies and development programs can be applied in implementing the smart environment in Sukajadi District. This study uses qualitative and quantitative methods using SWOT analysis. Data were collected through observations and interviews with every relevant stakeholder such as Regional Apparatus Organizations (OPD), District Government, Kelurahan and Sukajadi Subdistrict communities. The results of the analysis are strategies that can be implemented in a smart environment in Sukajadi District. Abstrak. Smart environment merupakan salah satu sumbu dari konsep smart city yang sudah diterapkan di Kota Bandung. Implementasi smart environment ini berfokus pada permasalahan lingkungan perkotaan yang terjadi di Kota Bandung khususnya di Kecamatan Sukajadi. Di Kecamatan Sukajadi sendiri permasalahan lingkungan kerap masih terjadi, mulai dari banjir, isu pengelolaan sampah, drainase, sungai, hingga terkait ketersediaan ruang terbuka hijau. Oleh sebab itu dalam penelitian ini penulis akan mencoba untuk mengidentifikasi sudah sejauh mana implementasi dari smart environment di Kecamatan Sukajadi ini yang didasarkan pada 14 indikator yaitu (1) green building; (2) sustainable-certified buildings; (3) smart homes; (4) energi terbarukan; (5) pengendalian dan pengelolaan polusi dengan TIK; (6) pengendalian limbah rumah tangga dan industri; (7) pengelolaan sumber daya air dan peningkatan baku mutu air bersih; (8) revitalisasi sungai; (9) pengelolaan sampah; (10) penerangan jalan; (11) sistem drainase; (12) penyediaan RTH; (13) pengelolaan kawasan kumuh; dan (14) urban farming. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi sejauh mana implementasi dari smart environment, mengidentifikasi permasalahan terkait smart environment, dan mengidentifikasi strategi program pengembangan apa saja yang dapat diterapkan dalam implementasi smart environment di Kecamatan Sukajadi. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan analisis SWOT. Data data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara dengan setiap stakeholder terkait seperti Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Pemerintah Kecamatan, Kelurahan serta masyarakat Kecamatan Sukajadi. Hasil analisisnya berupa strategi yang dapat diimplementasikan dalam smart environment di Kecamatan Sukajadi.
Identifikasi Ekosistem Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) sebagai Pendukung Desa Wisata Rawabogo, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung Fadhilla Ihsani Aztamurri
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 1, No. 2, Desember 2021, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (274.856 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v1i2.482

Abstract

Abstract. Rawabogo Village is one of the tourist villages in Ciwidey District which has millions of potential enough to be used as supporters of a tourist village. Micro, small and medium enterprises (MSMEs) have an important role in supporting a village to become a tourist village. In addition, MSMEs also help increase economic growth such as creating job opportunities, thereby creating income and wealth, as well as reducing poverty. Therefore, identification of the MSME ecosystem was carried out to find out how far the ecosystem supports the existing MSMEs, as an effort to support the development of the Raawabogo Tourism Village. The method used in this research is the Qualitative Descriptive Method and the Likert Scale Method with the entrepreneurial ecosystem (EES) approach or the entrepreneurial ecosystem approach. The results of the analysis state that they do not support the MSME ecosystem because of the lack of support for the ecosystem, both from the village government and from the village community. This has resulted in MSMEs in Rawabogo Village being hampered by their development and having an impact on the development of tourist villages. Efforts are made in the form of CBT (Community Based Tourism) considering that in planning the tourism village, it does not involve the role of the community. Abstrak. Desa Rawabogo merupakan salah satu desa wisata di Kecamatan Ciwidey yang memiliki berjuta potensi yang cukup dijadikan sebagai pendukung sebuah desa wisata. Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mempunyai peran penting dalam mendukung sebuah desa menjadi desa wisata. Selain itu, UMKM juga membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi seperti terciptanya peluang kerja, sehingga tercipta pendapatan dan kekayaan, serta mengurangi kemiskinan. Maka dari itu dilakukan pengidentifikasian terhadap ekosistem UMKM guna mengetahui sejauhmana menunjangnya ekosistem tersebut terhadap UMKM yang ada, sebagai upaya pendukung pengembangan Desa Wisata Raawabogo. Metode yang digunakan dalam penelitian ialah metode skala likert dan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan the entrepreneurial ecosystem (EES) atau pendekatan ekosistem kewirausahaan. Hasil dari analisis menyatakan bahwa kurang menunjangnya ekosistem UMKM disebabkan kurangnya support terhadap ekosistem tersebut, baik dari pihak pemerintah desa maupun dari pihak masyarakat desa. Hal ini mengakibatkan UMKM di Desa Rawabogo menjadi terhambat perkembangannya serta ikut berdampak kepada pengembangan desa wisata. Dilakukannya upaya berupa CBT (Community Based Tourism) mengingat dalam perencanaan pada desa wisata tidak sedikit melibatkan peran masyarakat.

Page 2 of 10 | Total Record : 100