cover
Contact Name
Hilwati Hindersah
Contact Email
uptpublikasi@unisba.ac.id
Phone
+6285294008040
Journal Mail Official
jrpwk@unisba.ac.id
Editorial Address
UPT Publikasi Ilmiah lantai 4, Rektorat Unisba, Jln Tamansari No.20, 40116
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota
ISSN : 28083113     EISSN : 2798656X     DOI : https://doi.org/10.29313/jrpwk.v1i2
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK) adalah jurnal peer review dan dilakukan dengan double blind review yang mempublikasikan hasil riset dan kajian teoritik terhadap isu empirik dalam sub kajian perencanaan wilayah dan kota. JRPWK ini dipublikasikan pertamanya 2021 dengan eISSN 2798-656X yang diterbitkan oleh UPT Publikasi Ilmiah, Universitas Islam Bandung. Semua artikel diperiksa plagiasinya dengan perangkat lunak anti plagiarisme. Jurnal ini ter-indeks Google Schoolar, Garuda, Crossref, dan DOAJ. Terbit setiap Juli dan Desember.
Articles 100 Documents
Pembangunan Townhouse dan Harga Lahan: Katalis Gentrifikasi Jakarta Selatan Sugiyantoro; Wali Hidayatjati, Muthahhari
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.5774

Abstract

Abstrak. Studi ini menganalisis hubungan antara pembangunan klaster perumahan baru (townhouse) dan dinamika harga lahan di Jakarta Selatan pada 2009-2015, serta dampaknya terhadap gentrifikasi. Dengan menganalisis 222 proyek townhouse menggunakan GIS dan data transaksi lahan, ditemukan bahwa pembangunan townhouse sebagai komunitas berpagar skala kecil di lahan murah memicu terjadinya gentrifikasi baru (new-build gentrification). Fenomena ini ditandai dengan perpindahan penduduk tidak langsung (indirect displacement) di kawasan permukiman lama yang beralih fungsi menjadi perumahan baru. Townhouse sebagai komunitas berpagar skala kecil (small-scale gated-communities), umumnya melayani rumah tangga menengah ke atas yang mencari alternatif hunian di pusat kota. Temuan ini memperkaya literatur gentrifikasi di Global Selatan, menunjukkan bagaimana pembangunan perumahan baru membentuk ulang ruang dan lanskap sosial-ekonomi Jakarta. Abstract. This study examines the relationship between the proliferation of new townhouse clusters and land price dynamics in South Jakarta from 2009 to 2015, as well as their impact on gentrification processes. By analyzing 222 townhouse projects using GIS and official land transaction data, the study finds that the development of small-scale gated communities on low-cost land has triggered new-build gentrification. This phenomenon is characterized by indirect displacement, where former residential areas are transformed into new housing developments, leading to the exclusion of lower-income residents. Townhouses primarily cater to middle- and upper-income households seeking alternative urban housing options. These findings contribute to the literature on gentrification in the Global South by highlighting how new residential developments reshape urban space and socio economic landscapes in Jakarta’s inner city.   
Pemetaan Batas Desa Sebagai Model Perencanaan Partisipatif di Kabupaten Demak Muhammad Rizal Fernandita Pamungkas; Danarti Karsono; Fabianus Delan Saputra; Muhammad Fachrudin
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6278

Abstract

Abstrak. Desa memiliki peran sentral dalam pembangunan nasional terutama setelah terbitnya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Banyaknya permasalahan yang ditimbulkan akibat tidak tersedianya peta desa, berdampak pada terkendalanya pembangunan daerah. Sampai saat ini batas wilayah yang memiliki dasar hukum di Kabupaten Demak adalah batas desa RTRW tahun 2011-2031 yang mana batas tersebut merupakan batas indikatif. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini ingin mencoba mengidentifikasi batas definitif melalui pendekatan partisipatif. Pelibatan masyarakat sekitar dalam memetakan batas desa bermanfaat bagi pemerintah daerah maupun masyarakat. Pelibatan ini akan meningkatkan kesadaran akan memiliki ruang wilayah desa sehingga batas desa yang dihasilkan akan lebih akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan batas desa sebagai model penataan ruang partisipatif di Desa Wilalung Kabupaten Demak. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kartometrik. Metode kartometrik adalah metode pemetaan dengan melakukan penelusuran batas wilayah di atas peta kerja beresolusi tinggi. Dengan metode kartometrik, diharapkan batas desa yang dihasilkan lebih akurat dan disepakati oleh pihak-pihak desa yang berbatasan. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat perubahan luasan sebesar 7.5 hektar dari batas wilayah Desa Wilalung berdasarkan RTRW. Selain perubahan luasan, hasil analisis kartometrik menunjukkan perubahan penggunaan lahan persawahan yang meningkat akibat dari penegasan batas desa. Peta desa yang dihasilkan tidak hanya meningkatkan kepastian hukum hak atas tanah namun juga peran partisipasi masyarakat desa dalam pembangunan. Abstract. Villages have a central role in national development, especially after the issuance of Law No. 6/2014 on Villages. The many problems caused by the unavailability of village maps have resulted in constraints to regional development. Until now, the boundaries that have a legal basis in Demak Regency are Demak Regency Spatial Plan (RTRW) 2011- 2031 village boundaries, which are indicative boundaries. This research aims to identify definitive boundaries through a participatory approach. Involving the surrounding community in mapping village boundaries is beneficial for both the local government and the community. This involvement will increase the awareness of owning village territorial space so that the resulting village boundaries will be more accurate. This research aims to identify changes in village boundaries as a model of participatory spatial planning in Wilalung Village, Demak Regency. The method used in this research is the cartometric method. The cartometric method is a mapping method by tracing the boundaries of an area on a high-resolution map. With the cartometric method, it is expected that the resulting village boundaries will be more accurate and agreed upon by the bordering villages. The results of this research show that there is an area change of 7.5 hectares from the Wilalung Village boundary based on the RTRW. In addition to the change in area, the results of the cartometric analysis showed a change in the land use of rice fields that increased as a result of village boundary confirmation. The resulting village map not only increases the legal certainty of land rights but also the role of village community participation in development.
Strategi Pengembangan Wisata Budaya di Desa Margacinta Kecamatan Cijulang Kabupaten Pangandaran Aif Nanang Nurrohman; Weishaguna
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6568

Abstract

Abstrak. Studi ini membahas pengembangan wisata budaya di Desa Margacinta. Desa ini memiliki potensi wisata budaya yang otentik dan beragam tetapi menghadapi berbagai tantangan. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi pengembangan wisata budaya yang diperlukan Desa Margacinta agar dapat menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Pangandaran. Metode yang digunakan mencakup pendekatan mix methods, dengan metode analisis supply and demand, analisis deskriptif kualitatif, dan analisis SWOT. Hasil analisis menunjukkan bahwa meskipun desa ini memiliki kekuatan seperti seni pertunjukan badud yang terdaftar sebagai Warisan Budaya Tak Benda Nasional, terdapat kelemahan pada kualitas sumber daya manusia dan fasilitas yang belum memadai. Peluang dukungan pemerintah dan kemitraan yang dapat dimanfaatkan, sementara ancaman persaingan dengan destinasi lain perlu diwaspadai. Strategi yang diusulkan meliputi pengadakan program pemberdayaan masyarakat. Perlu adanya peningkatan komponen 5A wisata budaya. Menjadikan wisata budaya sebagai sektor yang diprioritaskan. Membuat paket wisata budaya dan kegiatan budaya. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Desa Margacinta dapat menjadi destinasi wisata budaya unggulan di Kabupaten Pangandaran sekaligus sebagai upaya dalam mempertahakan warisan budaya. Abstract. This study discusses the development of cultural tourism in Margacinta Village. The village has authentic and diverse cultural tourism potential but faces various challenges. This study aims to formulate a cultural tourism development strategy that Margacinta Village needs in order to become a leading cultural tourism destination in Pangandaran Regency. The method used includes a mixed methods approach, with supply and demand analysis methods, qualitative descriptive analysis, and SWOT analysis. The results of the analysis show that although the village has strengths such as the badud performance art which is registered as a National Intangible Cultural Heritage, there are weaknesses in the quality of human resources and inadequate facilities. Opportunities of government support and partnerships can be utilized, while threats of competition with other destinations need to be watched out for. The proposed strategies include organizing community empowerment programs. There is a need to increase the 5A components of cultural tourism. Making cultural tourism a prioritized sector. Creating cultural tourism packages and cultural activities. With these steps, Margacinta Village is expected to become a leading cultural tourism destination in Pangandaran Regency as well as an effort to preserve cultural heritage.
Arahan Pengembangan Potensi Ekowisata Terpadu di Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang Hadiyan Izzatur Rahman; Tarlani
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6569

Abstract

Abstrak. Berdasarkan laporan yang dikeluarkan Word Tourism Organization (WTO) bahwa minat masyarakat untuk berwisata ke tempat-tempat yang masih alami semakin meningkat. Kepentingan inilah yang menjadi pendorong berkembangnya pariwisata berbasis alam yang disebut ekowisata. Ekowisata tidak dapat dipisahkan dari konsep pelestarian alam. Oleh karena itu, ekowisata disamakan dengan proses pariwisata yang bertanggungjawab. Kecamatan Kasomalang merupakan salah satu kecamatan yang berada di Kabupaten Subang dengan potensi yang jarang dikaji, sehingga memang perlu dikaji lebih mendalam mengenai potensi wisata alam yang ada untuk bisa di dalami atau dipublikasikan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji pengembangan ekowisata terpadu di Kecamatan Kasomalang Kabupaten Subang, metode pengumpulan data penelitian ini berguna untuk arah pengembangan yang dilakukan selanjutnya guna menciptakan pariwisata yang memiliki konsep ekowisata terpadu. Metode analisis yang digunakan analisis Analisis Deskriptif Kualitatif, Pada penelitian ini Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, memiliki potensi alam untuk dikembangkan sebagai destinasi ekowisata terpadu, dengan objek wisata seperti curug, sumber mata air, dan hutan pinus. Untuk mewujudkan ekowisata yang berkelanjutan, diperlukan pengembangan berbasis pelestarian ekologi, keterpaduan destinasi, peningkatan daya tarik, pemberdayaan masyarakat, serta pemanfaatan teknologi dan dukungan eksternal. Abstract. Based on a report issued by the Word Tourism Organization (WTO), people's interest in traveling to places that are still natural is increasing. This interest is the driving force for the development of nature-based tourism called ecotourism. Ecotourism cannot be separated from the concept of nature conservation. Therefore, ecotourism is equated with a responsible tourism process. Kasomalang District is one of the sub-districts in Subang Regency with potential that is rarely studied, so it is necessary to study more deeply about the potential for natural tourism that exists to be explored or published. The purpose of this study is to examine the development of integrated ecotourism in Kasomalang District, Subang Regency, the data collection method of this research is useful for the direction of development carried out further to create tourism that has an integrated ecotourism concept. The analysis method used in the analysis of Qualitative Descriptive Analysis, In this study, Kasumalang District, Subang Regency, has natural potential to be developed as an integrated ecotourism destination, with tourist attractions such as waterfalls, spring water sources, and pine forests. To realize sustainable ecotourism, it is necessary to develop based on ecological preservation, destination integration, increasing attractiveness, community empowerment, as well as the use of technology and external support.  
Studi Konfigurasi dan Kinerja Ruang Pejalan Kaki dengan Metode Space Syntax Firdaus, Ghany Rahadian; Fachmy Sugih Pradifta
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6667

Abstract

Abstrak.Berjalan kaki merupakan suatu aktivitas berpindah tempat dari satu tempat ke tempat lainnya dengan cara yang paling sederhana. Berjalan kaki merupakan satu-satunya proses aktivitas perpindahan tempat yang sangat flexible dikarenakan perpindahan yang dilakukan dapat mencapai seluruh arah sesuai sudut pandang visual. Aktivitas berjalan kaki memerlukan fasilitas yang mumpuni serta terhubung dengan jaringan pejalan kaki yang lain untuk lebih memudahkan dalam proses perjalanan tersebut. Studi mengenai Konfigurasi ruang pejalan kaki diperlukan untuk mengukur seberapa besar tingkat keterhubungan dan tingkat kesatuan sebuah jaringan pejalan kaki. Penelitian ini dimaksudkan untuk menilai bagaimana tingkat konfigurasi ruang jejaring pejalan kaki yang ada pada area sekitar Alun-alun Kota Bandung dengan menggunakan metode analisis Space Syntax. Penelitian ini dibantu oleh perangkat lunak DepthmapX yang akan menghitung choice, integration, dan connectivity sebagai variabel penilaian konfigurasi ruang. Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa konfigurasi ruang dapat memberikan pengaruh terhadap pergerakan dan sejalan dengan terbentuknya ragam akivitas yang ada pada suatu ruang. Keterkaitan antara konfigurai ruang dan kinerja dapat memberikan suatu identitas ruang yang dapat meningkatkan atau menurunkan intensitas penggunaanya. Abstract. Walking is the activity of moving from one place to another in the simplest way. Walking is the only process of moving places that is very flexible because the movements carried out can reach all directions according to the visual point of view. Walking activities require adequate facilities and are connected to other pedestrian networks to make travel easier. A study of the configuration of pedestrian spaces is needed to measure the level of connectivity and level of unity of the pedestrian network. This research aims to examine the level of spatial configuration of the pedestrian network in the area around Bandung City Square using the Space Syntax analysis method. This research is assisted by DepthmapX software which will calculate choice, integration and connectivity as variables for assessing space configuration. Based on the research conducted, it was found that spatial configuration can have an influence on movement and is in line with the formation of various activities in a space. The relationship between spatial configuration and performance can provide a spatial identity that can increase or decrease the intensity of use.  
Valuasi Ekonomi Wisata Hutan Pinus Rahong Pangalengan dengan Metode Biaya Perjalanan Alhamdani, Sania Zaciska; Lely Syiddatul Akliyah
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6744

Abstract

Abstrak. Keberlanjutan sumber daya alam menjadi hal penting di tengah pertumbuhan pariwisata, termasuk di Hutan Pinus Rahong, Pangalengan, yang mengalami lonjakan pengunjung. Meski berdampak positif bagi ekonomi lokal, hal ini menimbulkan kekhawatiran terhadap kelestarian hutan. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai ekonomi Hutan Pinus Rahong menggunakan pendekatan kuantitatif dan metode Travel Cost Method dengan 100 responden wisatawan. Hasil analisis menunjukkan nilai ekonomi sebesar Rp99.602.532.000 per tahun, dengan surplus konsumen sebesar Rp2.766.737 per orang per kunjungan. Temuan ini menegaskan pentingnya optimalisasi potensi ekonomi hutan melalui perencanaan tata ruang yang baik dan pengelolaan lingkungan yang ketat. Pengembangan fasilitas ramah lingkungan serta kebijakan perlindungan hutan, alokasi dana konservasi, dan promosi wisata berkelanjutan dari pemerintah juga diperlukan untuk memastikan manfaat ekonomi dan kelestarian lingkungan berjalan seimbang. Abstract. The sustainability of natural resources is crucial amid the growing tourism sector, including at Rahong Pine Forest in Pangalengan, which has seen a significant increase in visitors. While this growth benefits the local economy, it also raises concerns about forest conservation. This study aims to assess the economic value of Rahong Pine Forest using a quantitative approach and the Travel Cost Method, with 100 tourist respondents. The analysis revealed an economic value of IDR 99,602,532,000 per year and a consumer surplus of IDR 2,766,737 per person per visit. These findings highlight the need to optimize the forest's economic potential through proper spatial planning and strict environmental management. Additionally, the development of eco-friendly facilities and government support in the form of forest protection policies, conservation funding, and sustainable tourism promotion are essential to ensure that economic benefits and environmental preservation go hand in hand.  
Priorities in Sustainable Management After Settlement Arrangement in The Coastal Area of Tegalsari Village Haidar, Noval Amani; Yuliastuti, Nany
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6776

Abstract

Abstract. In 2015, the United Nations formulated 17 Sustainable Development Goals (SDGs) to address global issues, including Goal 11: Sustainable Cities and Communities. Slum areas, especially in coastal regions, are a key concern. Tegalsari Village in Tegal City was designated as a slum area in the 2014 Slum Decree by the Mayor of Tegal. In response, the Ministry of Public Works and Housing (PUPR) implemented a settlement improvement program, completed in 2019. This study aims to analyze the priority of coastal area management following the settlement arrangement in Tegalsari. A quantitative approach using the Importance Performance Analysis (IPA) method was employed. Results show the level of importance-performance alignment as follows: coastal area structuring (95%), spatial planning (92%), slum area sustainability (58%), area management (49%), and environmental quality (92%). Based on the Cartesian diagram, coastal area management and slum area sustainability fall into the top priority quadrant (1), while coastal structuring is in the maintain achievement quadrant (2). Spatial planning and environmental quality are placed in the excessive quadrant (4). Effective management of the Tegalsari coastal area requires collaboration between the government and local communities to ensure the sustainability of the improvements made.
Strategi Pengembangan Wilayah Pesisir Berbasis Ekominawisata di Desa Penyaring Kabupaten Sumbawa Sri Apriani Puji Lestari; Virda Evi Yanti Deril; Astinawaty; Nur Ratika Syamsiar; Ade Guna Saputra; Nanda Mutiara Zani; Yusril
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6919

Abstract

Abstrak. Penyaring merupakan salah satu desa di Kabupaten Sumbawa yang terletak di kawasan pesisir. Penelitian ini bertujuan merumuskan strategi pengembangan wilayah pesisir berbasis ekominawisata di Desa Penyaring, Sumbawa. Menggunakan pendekatan kualitatif, dengan teknik analisis deskriptif dan SWOT. Hasil identifikasi kondisi eksisting wilayah pesisir Desa Penyaring berdasarkan komponen ekominawisata, terdapat beberapa potensi dan masalah pada aspek lingkungan, pariwisata, fisik, dan ekonomi. Secara garis besar, terdapat beberapa perumusan strategi pengembangan wilayah pesisir Desa Penyaring berbasis ekominawisata, yaitu: mengembangkan paket wisata pesisir (pantai, mangrove, terumbu karang, pacuan kuda) dengan konsep pelestarian lingkungan dan budaya masyarakat lokal serta pendekatan edukasi; peningkatan kapasitas sumber daya manusia dan pelibatan berbagai pihak dalam pengelolaan potensi wisata dan pengolahan produk; optimalisasi produk unggulan melalui digitalisasi; pembangunan fasilitas sebagai upaya kesiapsiagaan bencana untuk menghadapi risiko lingkungan. Seluruh strategi ini bertujuan menciptakan Desa Penyaring sebagai destinasi ekominawisata unggulan yang adaptif, inkusif, dan berdaya saing.   Abstract. Penyaring is a village in Sumbawa Regency located in a coastal area. This research aims to formulate a strategy for ecotourism-based coastal area development in Penyaring Village, Sumbawa. It uses a qualitative approach with descriptive and SWOT analysis techniques. The identification of the existing conditions of Penyaring Village's coastal area, based on ecotourism components, reveals several potentials and issues across environmental, tourism, physical, and economic aspects. Broadly, the formulation of ecotourism-based coastal area development strategies for Penyaring Village includes: Developing coastal tourism packages (beach, mangrove, coral reefs, horse racing) with a focus on environmental preservation, local culture, and an educational approach. Increasing human resource capacity and involving various stakeholders in tourism potential management and product processing. Optimizing superior products through digitalization. Constructing facilities as a disaster preparedness effort to address environmental risks. All these strategies aim to establish Penyaring Village as a leading ecotourism destination that is adaptive, inclusive, and competitive.
Dampak Urbanisasi Kota Pintar terhadap Suhu Permukaan dan Konsentrasi NO2 Sultan, Zulkifli; Hasrianti
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6925

Abstract

Abstrak. Urbanisasi pesat di Kota Makassar telah mendorong alih fungsi lahan vegetasi menjadi lahan terbangun, yang berdampak pada peningkatan suhu permukaan dan pencemaran udara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perubahan penggunaan lahan dalam konteks pengembangan kota pintar terhadap suhu permukaan dan konsentrasi nitrogen dioksida (NO₂). Menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknologi penginderaan jauh dan sistem informasi geografis (SIG), penelitian ini memetakan perubahan lahan dan distribusi spasial suhu serta NO₂ berdasarkan citra satelit Sentinel-5P dan pengolahan dengan Quantum GIS. Hasil menunjukkan bahwa kategori lahan non vegetasi mendominasi (12.003,5 Ha dari total 17.459,69 Ha), dan berasosiasi kuat dengan suhu permukaan tinggi (hingga 37°C) serta konsentrasi NO₂ tertinggi (7,83 mol/m³), terutama pada kawasan lahan terbangun. Temuan ini menegaskan bahwa manajemen lahan yang tidak memperhatikan keseimbangan ekologis dalam kota pintar berisiko memperburuk kualitas lingkungan. Implikasi penelitian ini penting untuk kebijakan perencanaan tata ruang yang berkelanjutan dan berbasis mitigasi polusi udara. Abstract. Rapid urbanization in Makassar City has driven the conversion of vegetated areas into built-up land, contributing to increased surface temperatures and air pollution. This study aims to analyze the impact of land-use changes within the smart city development framework on surface temperature and nitrogen dioxide (NO₂) concentration. A quantitative approach was employed using remote sensing technology and Geographic Information Systems (GIS) to map land-use changes and the spatial distribution of temperature and NO₂ based on Sentinel-5P satellite imagery processed with Quantum GIS. The results reveal that non-vegetated land dominates (12,003.5 hectares out of a total of 17,459.69 hectares), and is strongly associated with higher surface temperatures (up to 37°C) and the highest NO₂ concentrations (7.83 mol/m³), particularly in built-up areas. These findings highlight that land management practices in smart cities that neglect ecological balance may worsen environmental quality. The implications of this research are significant for urban spatial planning policies that prioritize sustainability and air pollution mitigation.
Analisis Spasial dalam Rencana Pengembangan Kota Mandiri di Kecamatan Palaran Kota Samarinda Akhmad Yani
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 5, No. 1, Juli 2025, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jrpwk.v5i1.6963

Abstract

Abstrak. Pengembangan kota mandiri di Kecamatan Palaran, Kota Samarinda, membutuhkan analisis komprehensif terhadap potensi kesesuaian lahan agar bersinergi antara pembangunan infrastruktur dan sistem utilitas perkotaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat kesesuaian lahan di kawasan tersebut sebagai landasan perencanaan pengembangan kota mandiri. Metode yang digunakan menggunakan  pendekatan deskriptif-kualitatif yang dikombinasikan dengan teknik analisis spasial berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG). Data dikumpulkan melalui kegiatan observasi langsung, dokumentasi visual, analisis terhadap peta Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), interpretasi citra satelit, serta kajian topografi wilayah. Hasil analisis menunjukkan seluas 1.380,89 Ha lahan di Kecamatan Palaran memenuhi kriteria fisik dan spasial sebagai kawasan yang layak untuk dikembangkan menjadi kota mandiri. Kawasan tersebut menunjukkan kemampuan untuk mendukung penyediaan infrastruktur dan utilitas dasar, seperti sistem distribusi air bersih, pasokan energi, jaringan drainase, pengelolaan limbah, infrastruktur komunikasi dan mitigasi bencana. Konsep pengembangan berbasis klaster diimplementasikan untuk mewujudkan lingkungan perkotaan yang tangguh, aman, dan berkelanjutan. Hasil Temuan memberikan dasar ilmiah yang kuat bagi perumusan kebijakan pembangunan wilayah, terutama dalam menyusun strategi pengembangan kota mandiri yang berbasis data spasial dan mengedepankan aspek keberlanjutan serta ketahanan wilayah. Abstract. The development of a self-sustaining city in Palaran District, Samarinda City, requires a comprehensive analysis of land suitability potential to ensure synergy between infrastructure development and urban utility systems. This study aims to assess the level of land suitability in the area as a foundation for planning a self-sustaining urban development. The research adopts a descriptive-qualitative approach, combined with spatial analysis techniques utilizing Geographic Information Systems (GIS). Data were collected through direct field observation, visual documentation, analysis of the Regional Spatial Plan (RTRW) maps, satellite imagery interpretation, and topographical assessment. The analysis indicates that approximately 1,380.89 hectares of land in Palaran District meet the physical and spatial criteria necessary for self-sustaining city development. This area demonstrates the capacity to support the provision of essential infrastructure and utility systems, including clean water distribution, energy supply, drainage networks, waste management, communication infrastructure, and disaster mitigation. A cluster-based development approach is applied to establish a resilient, secure, and sustainable urban environment. The findings offer a strong scientific foundation for formulating regional development policies, particularly in designing spatial data–driven strategies for self-sustaining urban development that emphasize sustainability and regional resilience.

Page 10 of 10 | Total Record : 100