cover
Contact Name
Sandy Theresia
Contact Email
sandytheresia.md@gmail.com
Phone
+6285350877763
Journal Mail Official
journalmanager@macc.perdatin.org
Editorial Address
Jl. Cempaka Putih Tengah II No. 2A, Cempaka Putih, Central Jakarta City, Jakarta 10510
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Majalah Anestesia & Critical Care (MACC)
Published by Perdatin Jaya
ISSN : -     EISSN : 25027999     DOI : https://doi.org/10.55497/majanestcricar.xxxxx.xxx
Core Subject : Health,
We receive clinical research, experimental research, case reports, and reviews in the scope of all anesthesiology sections.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 37 No 2 (2019): Juni" : 5 Documents clear
Penanganan Transfusion Associated Circulatory Overload (Taco) pada Pasien Anak dengan Chronic Kidney Disease Stage 5 Akibat Sindroma Nefrotik Riri Risanti; Nurita Dian KSS; Tatang Eka
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (505.416 KB)

Abstract

Pemberian komponen darah bisa sangat dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa pasien namun tindakan ini memiliki efek samping yang cukup berisiko. Efeknya bisa menyebabkan transfusion associated infection dan transfusion associated non infection. Kewaspadaan tentang transfusion associated infection sudah sangat baik dengan adanya tindakan skrining terhadap sediaan darah di Palang Merah Indonesia (PMI). Komplikasi akibat transfusion associated non infection masih butuh perhatian, diantaranya adalah transfusion associated circulatory overload (TACO), transfusion related acute lung injury (TRALI) dan haemolytic transfusion reaction. Manifestasi klinis dan imaging antara TACO dan TRALI sangat mirip sehingga diperlukan tindakan dan pemeriksaan untuk membedakannya. Dilaporkan kasus anak perempuan, 15 tahun, dengan chronic kidney disease (CKD) stage 5D akibat sindroma nefrotik yang mengalami acute lung oedema yang disebabkan TACO DD/ TRALI pasca transfusi akibat syok haemoragik. Pasien ditransfusi saat tindakan operatif explore untuk memperbaiki pseudoaneurisma vena femoralis kanan dan kiri. Setelah operasi pasien mengalami edema paru diduga akibat transfusi darah saat operasi. Pasien mendapat ventilasi mekanik dan hemodialisa selama perawatan di ICU, bisa diekstubasi hari keenam. Kondisi membaik dan pindah ke ruangan high care unit (HCU) pada hari ketujuh.
Plasmaferesis pada Pasien Gagal Napas karena Klerosis Multipel Carla Oktaviani Pandrya; Nurita Dian KSS
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.823 KB)

Abstract

Multiple sclerosis (MS) atau sklerosis multipel adalah sebuah penyakit autoimun yang bersifat kronik, dimana terjadi kerusakan susunan saraf pusat (SSP). Faktor genetik dan lingkungan mempunyai peranan dalam patogenesis MS. Penyakit ini dipercaya sebagai kelainan autoimun yang melibatkan komponen selular dan humoral. Pasien ini mengalami MS berat dan gangguan respirasi hingga terjadi gagal napas dan memerlukan bantuan ventilator. Pasien sudah mengalami relaps MS beberapa episode dan terapi awal kortikosteroid kurang memberikan respons maka kami memilih plasmaferesis sebagai terapi pilihan.
Driving Pressure sebagai Bagian Strategi Ventilasi Mekanik pada Sindroma Gagal Napas Akut Pediatrik akibat Tenggelam Air Tawar Adika Putri Pratiwi; Suwarman
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (416.721 KB)

Abstract

Dilaporkan kasus anak laki-laki usia 14 tahun, datang dengan peningkatan work of breathing (WOB), desaturasi, penurunan kesadaran, dengan Quick sofa score 3. Klinis ronkhi kasar di kedua hemitoraks dengan edema paru dan pneumonia pada rontgen toraks. Diagnosis acute respiratory distress syndrome (ARDS) diekstrapolasi dari definisi Berlin. Strategi ventilasi mekanik sesuai protokol ARDS berupa target volume tidal ekspirasi (VTE) 6–8 mL/Ideal body weight, penggunaan kombinasi incremental positive end expiratory pressure (PEEP) dan FiO2, membatasi pPlateau <35 cmH2O, dan memasukkan unsur driving pressure (ΔP) yang dipertahankan kisaran 15–16. Tahap awal didapatkan ΔP≤8 dan ≥16, pada ΔP tersebut parameter oksigenasi tidak mengalami perbaikan. Nilai ΔP yang dipertahankan 15–16 membuat rasio PaO2/FiO2 (P/F) perbaikan, sehingga ΔP tidak hanya digunakan sebagai limit, namun dapat digunakan sebagai strategi ventilasi mekanik untuk optimalisasi oksigenasi. ARDS dengan penyebab pneumonia bilateral dan wet lung akibat tenggelam dapat segera diatasi dan menunjukkan perbaikan dengan tatalaksana diatas. Pemberat perawatan adalah adanya aspirasi pneumonia dan sepsis selama di intensive care unit (ICU). Terapi supportif lain berupa pemberian nutrisi, sedasi, analgesia, pelumpuh otot, antibiotik, ventilator associated pneumonia (VAP) bundle, dilakukan. Pada hari ke-7 klinis dan penunjang menunjukkan perbaikan, hari ke-8 pasien pindah ke ruang perawatan dan pulang pada hari ke-12.
Diagnosis dan Tatalaksana ARDS Ramacandra Rakhmatullah; Reza Widianto Sudjud
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.675 KB)

Abstract

Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) mempengaruhi sekitar 200.000 pasien setiap tahunnya di Amerika Serikat, mengakibatkan hampir 75.000 kematian. Angka mortalitas yang cukup tinggi menunjukkan bahwa ARDS kurang terdiagnosis sehingga mengalami penundaan terapi. Tinjauan pustaka ini disusun untuk memahami diagnosis ARDS berikut perkembangan tatalaksananya. Penegakan diagnosis disesuaikan dengan konsensus definisi ARDS Berlin 2012. Penerapan definisi Berlin pada beberapa negara berkembang yang memiliki keterbatasan fasilitas menyebabkan ARDS kurang terdiagnosis. Alternatif penegakan diagnosis muncul dari studi Kigali yang menggabungkan definisi American-European Consensus Conference (AECC) 1994 dan definisi Berlin 2012. Fokus utama penegakan diagnosis tetap pada empat gejala klinis yaitu onset gagal nafas yang berhubungan dengan perburukan klinis pasien, edema paru selain karena sebab hidrostatik, temuan foto toraks, dan tingkat hipoksemia. Terapi utama dari ARDS adalah mengatasi hipoksemia diikuti dengan identifikasi dan terapi penyebab ARDS. Terapi hipoksemia menggunakan prinsip lung protective strategy untuk mencegah VILI (Ventilator Induced Lung Injury). Terapi selanjutnya bersifat suportif dan farmakologis yang bertujuan untuk meningkatkan pengiriman oksigen dan menurunkan konsumsi oksigen. Terapi cairan konservatif juga penting dilaksanakan untuk mencegah keseimbangan cairan positif. Kecepatan dalam menegakkan diagnosis dan ketepatan memberikan terapi sangat mempengaruhi outcome dan prognosis. Penelitian lebih lanjut tentang ARDS masih diperlukan.
Deteksi Dini Gejala Emboli Paru di ICU Bastian Lubis; Akhyar H Nasution
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 37 No 2 (2019): Juni
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (476.413 KB)

Abstract

Emboli paru seringkali sulit dideteksi karena gejalanya tidak spesifik dan karakteristiknya yang sukar dicegah. Angka kematian akibat emboli paru berkisar antara 100.000 hingga 200.000 kematian tiap tahunnya di Amerika Serikat. Angka ini dapat menjadi lebih besar apabila emboli paru tidak ditangani segera. Angka kematian in dapat ditekan melalui anamnesis yang menyeluruh, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang seperti elektrokardiografi (EKG), foto toraks, D-dimer, fibrinogen, ekokardiografi, dan prosedur mutakhir seperti CTangiografi. Angka kematian akibat emboli paru dapat diturunkan dengan diagnosis yang cepat dan pengobatan yang tepat. Pengobatan yang tepat menggunakan heparin, streptokinase, atau Digital Substraction Angiography (DSA) terkadang diperlukan dalam menatalaksana emboli paru masif.

Page 1 of 1 | Total Record : 5