Articles
10 Documents
Search results for
, issue
"Vol 38 No 1 (2020): Februari"
:
10 Documents
clear
Why Are We Still Debating Hydroxyethyl Starch Solutions? High Quality and Volume of Evidence of Harm is Conclusive
Konrad Reinhart;
Oloan Tampubolon
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (346.565 KB)
Fluid resuscitation is indicated to prevent shock and to restore circulatory volume in cases of sepsis and severeblood loss caused by trauma, burns or surgery. Management of Severe Sepsis and Septic Shock” recommend fluid ss first-line therapy for resuscitation of patients with sepsis and septic shock however, synthetic colloids, like HES, are strongly rejected due to safety concerns.Multicentre randomised studies concluded the detrimental effect of HES on organ function, in particular renal function in severe sepsis.Trials demonstrated that HES was associated with increased risk of acute kidney injury (AKI) in patients with sepsis and these findings were later corroborated by further large studies, such as VISEP, CHEST and 6S. These studies have not reported any differences between HES solutions and have concluded that both ‘old’ and ‘new’ HES preparations are associated with an increased risk of kidney injury and mortality.In 2013, following publication of CHEST, VISEP and 6S, which demonstrated increased mortality and AKI/RRT in patients treated with HES, the FDA included details of these adverse events in a black box warning and recommended against the use of HES in critically ill patients. That same year, the EMA pharmaco vigilance risk assessment committee (PRAC) suspended marketing authorisation for all HES products.Given the safety concerns with HES and the current guidance from the FDA and EMA, it is imperative that all physicians are aware of the bans, limitations and risks of using HES. This narrative review aims to discuss the evidence on use of HES in critically ill patients, with a focus on safety data and adverse effects such as acute kidney failure and increased risk of mortality
De-Resusitasi pada Sepsis Induced-Acute Respiratory Distress Syndrome
Andi Mutya N. Pangerang;
Amir S. Majdid
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (571.934 KB)
Acute respiratory distress syndrome (ARDS) adalah suatu komplikasi yang berat pada sepsis. Sepsis dapat menyebabkan ARDS akibat pemberian cairan yang berlebihan pada fase resusitasi sehingga penanganan ARDS menjadi lebih menantang pada kasus syok septik dalam resusitasi cairan. Laporan kasus ini bertujuan untuk membahas penanganan kasus ARDS yang dipicu oleh sepsis, dengan memfokuskan pada pendekatan manajemen cairan restriktif dan de-resusitasi. Laki-laki, 38 tahun, masuk ke Unit Gawat Darurat (UGD) dengan keluhan nyeri perut kanan memberat sejak 10 hari sebelum perawatan. Pasien didiagnosis dengan syok septik dengan suspek perforasi gaster. Dilakukan operasi laparotomi eksplorasi dan pascaoperasi dirawat di Intensive Care Unit (ICU). Dilakukan ekstubasi pada hari ke-2 namun mengalami desaturasi dan reintubasi pada hari ke-3. Pasien didiagnosis dengan ARDS dan dilakukan continous veno-venous hemofiltration (CVVH) hingga hari perawatan ke-6. Pasien mengalami perbaikan lalu dilakukan ekstubasi dan pindah ke ruang High Care Unit (HCU) pada hari ke-9. ARDS merupakan komplikasi berat dari sepsis dan memiliki mekanisme patofisiologi dasar yang serupa yaitu inflamasi dan disfungsi endotel. Meskipun ARDS memiliki mortalitas yang tinggi namun dengan penatalaksanaan yang cepat dan tepat dapat meningkatkan penyintasan. Penanganan ARDS dimulai dengan ventilasi mekanik dan terapi faktor predisposisi, dengan sepsis sebagai faktor predisposisi yang paling sering menyebabkan ARDS. Balans cairan kumulatif yang positif dapat berbahaya, sehingga strategi manajemen cairan restriktif dan de-resusitasi dengan target balans cairan negatif menggunakan diuretik maupun renal replacement therapy (RRT) pada ARDS, penting dilakukan untuk memperbaiki luaran.
Tatalaksana Intensive Care Unit Pasien Krisis Miastenia yang dipicu oleh Pneumonia Komunitas
Agung Ari Budy Siswanto;
Sobaryati;
Nurita Dian Kestriani;
Ardi Zulfariansyah;
Erwin Pradian;
Suwarman;
Tinni T. Maskoen
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (479.622 KB)
Krisis miastenia adalah suatu eksaserbasi akut dari miastenia gravis, dimana kelemahan yang terjadi sampai melibatkan otot-otot pernafasan sehingga mengakibatkan kegagalan napas akut dan memerlukan dukungan ventilasi mekanik. Krisis miastenia merupakan komplikasi miastenia gravis yang paling berbahaya dan mengancam jiwa bila tidak segera ditangani. Timbulnya krisis miastenia dapat dipicu oleh berbagai faktor, salah satunya adalah infeksi paru yang didapat di masyarakat (pneumonia komunitas). Tatalaksana Intensive Care Unit (ICU) pasien krisis miastenia meliputi tatalaksana terhadap kegawatan respirasi, tatalaksana terhadap miastenia gravis, tatalaksana terhadap faktor pencetusnya dan dukungan nutrisi yang adekuat. Intubasi endotrakeal dan dukungan ventilasi mekanis merupakan pilihan utama tatalaksana kegawatan respirasi. Plasmaferesis adalah salah satu metoda terapi yang terbukti efektif dan efisien dalam menanggulangi krisis miastenia. Terapi lainnya adalah pemberian agen anticholinesterase, agen imunosupresif kronis, terapi imunomodulator cepat, dan timektomi. Terapi standar untuk menanggulangi pneumonia komunitas mengikuti panduan Infectious Diseases Society of America (IDSA) terkini. Dukungan nutrisi yang adekuat juga diperlukan untuk menunjang keberhasilan terapi. Diagnosis dini dan terapi yang adekuat diharapkan bisa memperbaiki prognosis pasien krisis miastenia. Pada laporan kasus ini kami sajikan tatalaksana ICU pasien krisis miastenia yang dipicu oleh pneumonia komunitas, yang dirawat di ICU RS. Hasan Sadikin Bandung pada bulan Oktober 2019.
Penggunaan Vasopressin Awal pada Kasus Syok Sepsis Ec. Peritonitis Difus
Donny Prasetyo Priyatmoko;
Ricky Aditya
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (274.663 KB)
Vasopressin merupakan salah satu obat suportif yang digunakan untuk kasus syok sepsis. Penggunaan diberikan pada keadaan syok sepsis refrakter atau bahkan pada kondisi yang sudah terlambat. Pengambilan keputusan mengenai waktu dimulainya vasopressin dalam menangani syok sepsis refrakter penting untuk mendapatkan kondisi yang optimal. Pada kasus ini, seorang laki-laki 18 tahun datang ke IGD RS Dr. Hasan Sadikin dengan diagnosis syok sepsis ec. peritonitis difus ec. perforasi gaster. Dilakukan tindakan sepsis bundle dengan kadar laktat awal 4,4mmol/L. Kondisi hemodinamik pasien mengalami perburukan serta terjadi gagal napas dengan kadar laktat naik menjadi 6,8mmol/L. Diputuskan pemberian obat suportif norepinefrin mulai 0,05mcg/kgBB/menit dan vasopressin 0,04IU/menit serta dilakukan intubasi dan bantuan ventilasi mekanik. Setelah kondisi hemodinamik pasien optimal, dilakukan tindakan source control laparostomi di IGD dan tindakan definitif laparotomi eksplorasi di kamar operasi. Empat hari perawatan pasca operasi di ICU, kondisi pasien mengalami perbaikan. Penggunaan obat suportif hemodinamik dan bantuan ventilasi mekanik dapat dihentikan. Penanganan syok sepsis yang adekuat sesuai sepsis bundle Surviving Sepsis Control (SSC) 2018 dan pengambilan keputusan yang tepat dalam pemberian obat suportif serta bantuan ventilasi mekanik akan memberikan hasil akhir optimal pada pasien.
Penatalaksanaan Kardiomiopati Peripartum pada Primigravida Hamil 33–34 Minggu Gemeli di Unit Perawatan Intensif
Maria Agnes Berlian Yulriyanita;
Ezra Oktaliansah
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (515.959 KB)
Kardiomiopati peripartum merupakan disfungsi sistol ventrikel kiri yang terjadi pada bulan terakhir periode kehamilan atau 5 bulan pertama masa nifas. Wanita 18 tahun primigravida 33–34 minggu, gemeli dikonsulkan ke ICU karena sesak napas progresif setelah melahirkan spontan dengan ekstraksi forcep di VK. Pasien tampak sesak berat tekanan darah (TD) 160/110 mmHg, laju nadi (HR) 140x/mnt, laju napas (RR) 40x/mnt, saturasi oksigen (SpO2) 75%, ronki basah kasar di kedua lapang paru, akral dingin, basah serta pasien gelisah. Pasien didiagnosis edema paru akut, kemudian diintubasi dan ventilasi mekanik pressure support (PS) 14, positive end expiratory pressure (PEEP) 8 dengan fraksi oksigen (FiO2) 50%. Pasien diberikan terapi dobutamin 5 mcg/kgBB/mnt, midazolam 3 mg/jam, furosemid 5 mg/jam, ceftazidime 3x2 gr dan morfin 10 mcg/kgBB/jam. Pada perawatan hari ketiga, dilakukan weaning ventilator, ekstubasi, kemudian pasien dirawat 2 hari di ruangan dan diperbolehkan pulang. Peningkatan aliran balik vena setelah kontraksi uterus yang intens dan involusi diduga sebagai penyebab kardiomiopati. Kegagalan jantung terjadi karena peningkatan tekanan diastol dari volume darah yang berlebih dan kegagalan ventrikel kiri untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Edema paru interstitial menyebabkan hipoksemia persisten. Cairan yang berlebihan dari dilatasi ventrikel kiri menyebabkan pertukaran gas di kapiler alveolus terganggu sehingga dibutuhkan intubasi dan ventilasi mekanik. Pemberian inotropik dan loop diuretik memperbaiki preload dan kontraktilitas jantung. Penatalaksanaan kardiomiopati peripartum yang tepat akan memberikan prognosis yang baik.
Penatalaksanaan Pasca Serangan Jantung Berulang Pada Pasien dengan Sindrom Wolff Parkinson White Pasca Amputasi Pedis: Lira Panduwaty, Erwin Pradian, Nurita Dian Kestriani
Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (682.512 KB)
Penatalaksanaan pasca return of spontaneous circulation (ROSC) pada pasien pasca henti jantung berulang memerlukan strategi yang menyeluruh meliputi optimalisasi hemodinamik, manajemen hipotermia, manajemen kejang, proteksi jalan napas dan penilaian prognostik terhadap cedera otak. Wolff-Parkinson-White (WPW) merupakan gangguan konduksi di jantung yang dikarenakan terdapatnya jaras tambahan. Kasusnya sangat jarang terjadi, dengan 40% kasus asimtomatik. Pada kasus ini, seorang perempuan 58 tahun datang ke IGD RS Hasan Sadikin dengan keluhan utama kaki kiri nyeri dan kehitaman sejak 11 hari yang lalu. Pemeriksaan EKG menunjukkan diagnosis WPW. Pasca operasi amputasi, terjadi serangan jantung mendadak yang mengakibatkan pasien diintubasi dan dirawat di ICU. Dalam perawatan ICU, pasien mengalami henti jantung berulang hingga dua kali. Perawatan dan tatalaksana pasien pasca ROSC berulang dengan sindrom WPW menjadi hal yang sangat menantang bagi intensivist, dikarenakan banyaknya faktor pencetus yang bisa dialami pasien dan komplikasi fatal akibat henti jantung berulang.
Receptor Interacting Protein Kinase 3 sebagai Prediktor Kematian 28 Hari Pasien Sepsis Di RSUP Dr. Mohammad Hoesin Palembang: Liana Sidharti, Rizal Zainal, Zulkifli, Zen Hafy
Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (371.111 KB)
Sepsis merupakan disfungsi organ yang mengancam nyawa akibat dari gangguan regulasi respon tubuh terhadap infeksi. Sepsis merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di ICU. Kondisi sepsis dapat menginduksi terjadinya necroptosis, selain menginduksi stres oksidasi.Nekroptosis merupakan bentuk kematian yang terprogram dan pada akhirnya menyebabkan gangguan fungsi atau kerusakan organ.Kinase 3 yang berinteraksi dengan reseptor (RIP3 atau RIPK3) dan substratnya, pseudokinase mixed lineage kinase domain-like protein, telah ditemukan sebagai komponen inti dari proses ini.RIPK3 mempunyai implikasi klinis pada pasien sepsis. Studi pada tikus menunjukkan bahwa defisiensi RIPK3 menjadi proteksi terhadap sepsis dan berpotensi sebagai target terapi SIRS dan sepsis. Penelitian ini merupakan kohort retrospektif. Data yang diambil merupakan data sekunder dari catatan rekam medis pasien yang di simpan di bagian rekam medis RSMH. Sampel penelitian adalah adalah seluruh rekam medik pasien yang didiagnosis sepsis yang dirawat di ruang kritikal RSMH Palembang selama periode Februari 2019 - Agustus 2019.Didapatkan59 subjek penelitian yang memenuhi kriteria penelitian. Dari uji analisis ROC didapatkan bahwa Cut-off Point RIPK3 terletak pada nilai >0.51 dengan sensitivitas sebesar 92.5% dan spesifisitas 89.5% dengan nilai Area Under Curve sebesar 0.925 yang menunjukkan bahwa RIPK3 memiliki kemampuan memprediksi mortalitas yang sangat kuat. Dari penelitian ini didapatkan bahwa RIPK3 dapat dijadikan suatu biomarker yang dapat memprediksi tingkat mortalitas pada pasien sepsis.
Manajemen Hemodinamik pada Pasien Syok Septik : Osmond Muftilov, Nurita Dian Kestriani, Erwin Pradian
Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (393.645 KB)
Manajemen hemodinamik pada fase awal dan lanjut dari syok septik adalah komponen penting terapi. Sindrom penyakit kompleks seperti syok septik memerlukan pendekatan diagnostik dan terapeutik multimodal. Selain diagnosis syok septik dan terapi kausal, tantangan utama dalam perawatannya adalah resusitasi serta penanganan disfungsi kardiovaskular dan pernapasan. Laporan kasus ini bertujuan untuk melaporkan pasien dengan syok septik akibat perforasi duodenum. Seorang wanita berusia 32 tahun dirawat di ruang resusitasi dengan diagnosissyok septik karena peritonitis difus. Resusitasi hemodinamik dilakukan dengan terapi cairan dan pemberian obat vasopresor dan inotropik. Setelah stabilisasi dan optimalisasi, pasien menjalani laparotomi eksplorasi dan ditemukan perforasi pada duodenum. Selama perawatan di ICU, hemodinamik pasien dimonitor menggunakan perangkat PiCCO. Pasien mengalami perbaikan kondisi dan pindah ke bangsal bedah pada hari ke 7. Penilaian serial status hemodinamik pasien dengan syok septik sangat penting untuk menentukan pilihan terapi dalam mengoptimalkan tekanan perfusi dan aliran darah global sehingga dapat mengoptimalkan perfusi jaringan. Kompleksitas dan heterogenitas pasien dengan syok septik menunjukkan bahwa diperlukan pendekatan individual untuk manajemen hemodinamik.
Tata Laksana Sepsis Bundle pada Pasien Syok Sepsis dengan Perforasi Gaster: Budi Hartanto, Ardi Zulfariansyah
Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (422.803 KB)
Perforasi gaster adalah kondisi yang membutuhkan tindakan bedah emergensi. Komplikasi tersering pada kasus ini adalah sepsis dan syok sepsis. Seorang pria datang dengan keluhan nyeri seluruh perut sejak tiga hari sebelum masuk rumah sakit. Nyeri dirasakan mula - mula di ulu hati dan menyebar ke seluruh perut. Pasien diketahui sering mengkonsumsi obat - obatan dan jamu anti nyeri sejak 3 tahun yang lalu. Pasien datang dengan kondisi syok dan gagal napas, dilakukan penatalaksanaan sepsis bundle di ruang resusitasi serta intubasi sebelum pasien dilakukan operasi laparotomi eksplorasi. Selama operasi ditemukan perforasi gaster dan dilakukan jahit primer serta omental patch. Pascaoperasi pasien dirawat di Intensive Care Unit (ICU) dengan support hemodinamik dan ventilator selama beberapa hari. Setelah hari ke 3 perawatan kondisi pasien stabil dan dapat dilepas dari ventilator. Setelah hari ke 5 perawatan pasien dikeluarkan dari ICU. Tindakan resusitasi dengan target penurunan laktat adalah tujuan dari resusitasi sesuai sepsis bundle .
Myasthenia Gravis dan Tuberculosis: Nur Arafah Pane, Reza Widianto Sudjud
Journal Manager MACC
Majalah Anestesia & Critical Care Vol 38 No 1 (2020): Februari
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) / The Indonesian Society of Anesthesiology and Intensive Care (INSAIC)
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (464.383 KB)
Myasthenia gravis adalah salah satu karakteristik penyakit autoimun yang disebabkan oleh adanya gangguan dari synaptic transmission atau pada neuromuscular junction. Hal ini ditandai oleh suatu kelemahan abnormal dan progresif pada otot rangka yang dipergunakan secara terus menerus dan disertai dengan kelelahan saat beraktivitas. Sebelum memahami tentang myastenia gravis. Pengetahuan tentang anatomi dan fungsi normal dari neuromuscularjunction sangatlah penting. Membran presinaptik (membran saraf), membran post sinaptik (membran otot), dan celah sinaps merupakan bagian-bagian pembentuk neuromuscular junction. Mekanisme imunogenik memegang peranan yang sangat penting pada patofisiologi myastenia gravis, dimana antibodi yang merupakan produk dari sel B justru melawan reseptor asetilkolin. Penatalaksanaan myastenia gravis dapat dilakukan dengan obat-obatan, thymomectomy ataupun dengan imunomodulasi dan imunosupresif terapi yang dapat memberikan prognosis yang baik pada kesembuhannya. Pada beberapa kasus banyak terjadi myastenia gravis setelah pasien mengalami penurunan imun yang sebabnya belum diketahui. Boleh jadi pada kasus ini TB salah satu penyebabnya menjadi penurunan imun sehingga terjadi myastenia gravis tapi bukan semua penderita Tuberculosis akan menjadi myastenia gravis boleh jadi ada penyebab autoimunnya yang lain.