cover
Contact Name
Ida Bagus Alit Arta Wiguna
Contact Email
gusarta@iahn-gdepudja.ac.id
Phone
+6285739444989
Journal Mail Official
gusarta@iahn-gdepudja.ac.id
Editorial Address
Jln.Pancaka No. 7B Mataram, Nusa Tenggara Barat, Indonesia Telp. (0370) 628382 Fax. (0370) 631725
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat Agama Hindu dan Masyarakat
ISSN : 28296958     EISSN : 23388390     DOI : https://doi.org/10.53977/sd.v5i1
Weda: Aktualisasi Weda sehari-hari yang dilakukan oleh masyarakat Hindu tertentu, Hindu dan kearifan lokal: hubungan Hindu dan budaya, praktik pengajaran Hindu di masyarakat Hindu, dan budaya lokal lainnya yang dipraktikkan oleh masyarakat Hindu tertentu Hindu dan Politik: Radikalisme, aktivisme / gerakan Hindu, hubungan negara dan agama, dan dinamika partai politik Hindu Dialog antar-agama: interaksi dan hubungan antara masyarakat Hindu dan non- Hindu dalam kehidupan sehari-hari, kerukunan beragama, dan kebijakan tentang hubungan agama di masyarakat atau negara tertentu Filsafat: kajian pemikiran filsuf yang mengontekstualisasikan dengan kehidupan masyarakat; dan Isu-isu lain yang secara sosial, budaya, dan politik berkorelasi dengan filsafat ataupun ajaran agama Hindu.
Articles 2 Documents
Search results for , issue "Vol 3 No 2 (2020): SOPHIA DHARMA" : 2 Documents clear
New Normal as The New Human: Masa Pandemi dalam Perspektif Filsafat Manusia Soren Aabye Kierkegaard dan Relevansinya pada Kehidupan Manusia Masa Datang Fuad Noorzeha
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 3 No 2 (2020): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.665 KB)

Abstract

This paper is an exposition of Sören Aabye Kierkegard’s concept existentialist, a concept of the human existance into three distinctive levels, namely: the aesthetic existance, the ethics existance, the religious existance. These levels will affect the human existance and it is its way. These thought used be perspective about crisis or emergency situation during the pandemic Covid-19. The problems also have touched values of human rights, such as: social distancing, isolation, new normal and lockdown that eventually plunged the man into a social status problem. Those basic or fundamental problem are about fact a existance of man around social community. To give the answers, it is needed and approach which orientates to human existence. It can be found in thought of Sören Aabye Kierkegard he differs from other existentialist philosophers who in general are atheists. This paper seeks to reorient the meaning “new human” by library research with the existance approach of Sören Aabye Kierkegard at new normal era , the process of individualization in invividual interaction with the other human and the appreciation and religious practices when pandemic to limited with country rules. Revitalization of religion is needed to restore the basic values of religion. Religion must come back as a legitimate sovereign social values and piety. This sovereignty of religion should be structured as a strategy for revitalizing religion in the lives of individual piety personally and socially. However, the sovereignty of religion should give a wide freedom for individuals to perform the fuction of religion in accordance with the present context. Furthermore, the most crucial problem when pandemic must be solved by humane return to their a fact existance of human.
Bentuk, Fungsi, dan Makna Upacara Mekunyit-keladi pada Upacara Perkawinan di Banjar Karang Timbal Mataram I Gede Nuartha
Sophia Dharma: Jurnal Filsafat, Agama Hindu, dan Masyarakat Vol 3 No 2 (2020): SOPHIA DHARMA
Publisher : Program Studi Filsafat Agama Hindu IAHN Gde Pudja Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.371 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bentuk, fungsi, dan makna upacara mekunyit keladi pada upacara perkawinan di Banjar Karang Timbal Mataram. Penelitian ini dirancang dalam jenis deskriptif kualitatif. Ada tiga hasil dalam penelitian ini. Pertama, bentuk upacara mekunyit-keladi pada upacara perkawinan di Banjar Karang Timbal Mataram, yaitu upacara mekunyit keladi, Upacara mengelilingi sanggah kamulan, dan Upacara menanam keladi dan kunyit di belakang sanggah kamulan. Kedua, fungsi upacara mekunyit-keladi pada upacara perkawinan di Banjar Karang Timbal Mataram, yaitu : 1) fungsi religius, sebagai sistem keyakinan yang dapat di cermati, bahwa pada dasarnya umat beragama apapun memuja, bersujud memohon hanya kepada yang satu yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Walaupun pemujaan dilakukan melalui sarana, yang dalam hal ini dengan sarana berwujud wakul yang disebut wakul kunyit-keladi. 2) Fungsi Pendidikan, terkait dengan fungsi upacara mekunyit-keladi pada upacara perkawinan di Banjar Karang Timbal Mataram memikili fungsi pendidikan agama, karena melalui upacara mekunyit-keladi secara langsung merupakan aplikasi berperilaku yang baik dalam membina rumah tangga. Ketiga, makna upacara mekunyit-keladi pada Upacara Perkawinan di Banjar Karang Timbal Mataram, yaitu memiliki makna : 1) makna upacara, yaitu sebagai cetusan rasa terima kasih, sebagai sarana memohon keselamatan, dan sebagai Upasaksi (Lambang Hyang Guru).

Page 1 of 1 | Total Record : 2