cover
Contact Name
Firdaus Noor
Contact Email
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Phone
+6221-3159687
Journal Mail Official
jurnalurban@pascasarjanaikj.ac.id
Editorial Address
Jl. Cikini Raya No. 73 Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, Provinsi DKI Jakarta
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Urban : Jurnal Seni Urban dan Industri Budaya
ISSN : 26142767     EISSN : 28283015     DOI : -
Urban: Jurnal Seni Urban is published twice a year (Apr and October) issued by the Postgraduate School of the Jakarta Institute of the Arts. Urban provides open access to the public to read abstract and complete papers. Urban focuses on creation and research of urban arts and cultural industries. Each edition, Urban receives a manuscript that focuses on the following issues with an interdisciplinary and multidisciplinary approach, which are: 1. Film 2. Television 3. Photograph 4. Theatre 5. Music 6. Dance 7. Ethnomusicology 8. Interior Design 9. Fine Arts 10. Art of Craft 11. Fashion Design 12. Visual Communication Design 13. Literature
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 4, No.1: April 2020" : 6 Documents clear
Aransemen Musik Populer dalam Ansambel Musik Kolintang Kayu Minahasa Soputan, Ferdinand A.
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.63

Abstract

Kolintang is a traditional musical instrument from Minahasa, North Sulawesi. This music is traditional because the instruments or instruments are made of wood. This music is played by hitting so that the type of music is included in the type of pitched percussion music. Kolintang music is a type of musical instrument that can play various genres of music, ranging from keroncong, classical, jazz, chacha, and so on. With its openness to various genres, the music from Minahasa is certainly played with a certain arrangement. There are two arrangement models that the author will describe in this paper, namely the standard arrangement with three chords and the modern arrangement with progressive chords. In this article, the author will describe these two arrangement models to show that the audience’s enthusiasm is also determined by an attractive arrangement in a kolintang musical performance. The method used is a method of comparison of two different arrangements. From the search conducted, the author will show that kolintang music can be arranged with various chords and musical genres. Thus, it was found that the novelty that emerged was that the kolintang musical arrangements that could be presented with various genres were part of the adaptation to the popular arrangement model. So, the development and progress of music that occurs in general can also be found in kolintang music, especially with regard to the problem of arrangement as seen in the data studied.Kolintang adalah alat musik tradisional dari Minahasa, Sulawesi Utara. Musik ini bersifat tradisional karena instrumen atau alatnya terbuat dari kayu. Musik ini dimainkan dengan cara pukul sehingga jenis musiknya termasuk ke dalam jenis musik perkusi bernada. Musik kolintang adalah jenis alat musik yang dapat memainkan berbagai genre musik, mulai dari keroncong, klasik, jaz, chacha, dan lain sebagainya. Dengan keterbukaannya pada berbagai genre, musik asal Minahasa ini tentu dimainkan dengan sebuah aransemen tertentu. Terdapat dua model aransemen yang akan penulis uraikan dalam tulisan ini, yakni aransemen standar dengan tiga akor dan aransemen modern dengan akor progresif. Dalam artikel ini, penulis akan menguraikan kedua model aransemen ini untuk memperlihatkan bahwa antusias audiens juga ditentukan oleh aransemen yang menarik dalam sebuah penampilan musik kolintang. Metode yang digunakan adalah metode perbandingan dua aransemen yang berbeda. Dari penelusuran yang dilakukan, penulis akan memperlihatkan bahwa musik kolintang dapat diaransemen dengan berbagai akor serta genre musik. Dengan demikian, didapatkan hasil bahwa kebaruan yang muncul adalah bahwa aransemen musik kolintang yang dapat disuguhkan dengan berbagai genre itu merupakan bagian dari adaptasi dengan model aransemen yang populer. Jadi, perkembangan dan kemajuan musik yang terjadi pada umumnya juga dapat ditemukan dalam musik kolintang, khususnya berkaitan dengan masalah aransemen sebagaimana terlihat pada data yang diteliti.
Percampuran Dua Idiom Musikal pada Karya Aransemen Musik Bambu Primaningrizki, Devina Minati
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.64

Abstract

Bamboo music is a type of music that developed from local cultural wisdom in Indonesia. One type of music from bamboo is angklung. The following article will discuss the maintenance of angklung music in the face of the times in an urban context. In this study, the author uses a qualitative method with an ethnographic approach to see the hybridity process that occurs in angklung music. Through a case study of the song On My Way, which was arranged by Eka Gustiwana, it was found that the process of combining hybridity and creativity can strengthen the existence of angklung music, both nationally and internationally. The collaboration of the concepts of creativity and hybridity in angklung music also shows the mixing of two idioms of Western and Eastern music.Musik bambu merupakan jenis musik yang berkembang dari kearifan budaya lokal di Indonesia. Salah satu jenis musik dari bambu adalah angklung. Tulisan berikut ini akan membahas pemertahanan musik angklung menghadapi perkembangan zaman dalam konteks urban. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi untuk melihat proses hibriditas yang terjadi pada musik angklung. Lewat studi kasus lagu On My Way yang diaransemen oleh Eka Gustiwana, didapatkan hasil bahwa proses penggabungan hibriditas dan kreativitas dapat memperkuat eksistensi musik angklung, baik secara nasional maupun internasional. Pengolaborasian konsep kreativitas dan hibriditas pada musik angklung juga memperlihatkan terjadinya percampuran dua idiom musik Barat dan Timur.
Keurbanan dan Media Baru Sandra, Wili
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.58

Abstract

Pengaruh Pandemi Covid-19 pada Ruang Berkesenian dan Aura Karya Seni Wahyuni, Ruslinda Dwi
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.59

Abstract

The Covid-19 pandemic has had a major impact on almost all aspects of human life, including the lives of artists and works of art. The following article will describe the impact of the Covid-19 Pandemic on the art space and the aura of artwork with case studies on several presentations of artwork through virtual spaces and social media. This study uses a qualitative method through a narrative approach. The author combines several literature studies, especially regarding the review of the Covid-19 Pandemic, performing arts education, and social media along with the opinion initiated by Walter Benjamin regarding the mechanical reproduction of works of art to analyze the data studied. The results show that the communication process between the creator and the audience can still be established, even though the show is held online/ virtually. On that basis, the mechanical reproduction initiated by Walter Benjamin has actually developed and can encourage the growth of a new aura and a new form of ritual for a large number of people in appreciating works of art and creative writing as an effort to reconstruct new auras and rituals in the era of digital technology.Pandemi Covid-19 berdampak besar terhadap hampir semua aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali pada kehidupan seniman dan karya seni. Tulisan berikut ini akan menguraikan pengaruh Pandemi Covid-19 terhadap ruang berkesenian dan aura karya seni dengan studi kasus pada beberapa penyajian karya seni melalui ruang virtual dan media sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui pendekatan naratif. Penulis menggabungkan beberapa kajian pustaka, khususnya mengenai tinjauan Pandemi Covid-19, pendidikan seni pertunjukan, dan sosial media beserta pendapat yang digagas Walter Benjamin mengenai reproduksi mekanis karya seni untuk menganalisis data yang diteliti. 3 Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses komunikasi antara pencipta dengan penonton tetap dapat terjalin, meskipun pertunjukan diadakan secara online/virtual. Atas dasar itu, reproduksi mekanis yang digagas Walter Benjamin sesungguhnya telah berkembang dan dapat mendorong tumbuhnya aura baru dan bentuk ritual baru pada sejumlah besar orang dalam mengapresiasi karya seni dan penulisan kreatif sebagai upaya dalam merekonstruksi aura dan ritual baru di era teknologi digital.
Segregasi Metode dan Kegiatan Berkesenian di Era Pandemi Covid-19 Zahrawaan, Amy
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.60

Abstract

The emergence of the Covid-19 pandemic in the world has brought major impacts and significant changes to the fabric of human life, and artists are no exception. This paper will analyze some of the symptoms and phenomena of the segregation of art methods and activities carried out by art activists and lovers during the Covid-19 pandemic. The analysis in this article uses a descriptive analytical review method by describing various symptoms and phenomena observed through case studies according to the focus of the problem being studied. The results show that the survival of artists and works of art during the Covid-19 pandemic is very dependent on the development of digital technology in virtual spaces (virtual world). The positive impact of using digital technology through various virtual spaces, digital platforms, and social media through the internet network has opened a wider willing space for artists to exist and keep the art ecosystem alive, growing, and surviving during the Covid-19 pandemic through new media.Munculnya pandemi Covid-19 di dunia telah membawa dampak besar dan perubahan signifikan terhadap tatanan kehidupan manusia, tidak terkecuali bagi para seniman. Tulisan ini akan menganalisis beberapa gejala dan fenomena segresi metode dan kegiatan berkesenian yang dilakukan para pegiat dan pencinta seni di masa pandemi Covid-19. Analisis dalam artikel ini menggunakan metode tinjauan deskriptif analitis dengan menguraikan berbagai gejala dan fenomena yang diamati melalui studi kasus sesuai dengan fokus permasalahan yang diteliti. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberlangsungan hidup seniman dan karya seni di masa pandemi Covid-19 sangat bergantung pada perkembangan teknologi digital di 19 ruang virtual (dunia maya). Dampak positif penggunaan teknologi digital melalui berbagai ruang virtual, platform digital, dan media sosial melalui jaringan internet telah membuka ruang berkenian yang lebih luas bagi para seniman untuk tetap eksis dan menjaga ekosistem seni tetap hidup, berkembang, dan bertahan di masa pandemi Covid-19 melalui media baru. ki-laki, yang berpengaruh pada cara memproyeksikan hasrat kecintaan terhadap ibu mereka.
Konstruksi Heterotopia Pada Platform OTT Netflix Hendra, Wahyu Oktana
Urban: Jurnal Seni Urban Vol 4, No.1: April 2020
Publisher : Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsu.v4i1.62

Abstract

The presence of the Netflix OTT platform in the film and television world has caused a shift in the film-watching ecosystem from cinemas to new alternative spaces for viewing. This paper will discuss the heterotopia construction that occurs on the Netflix OTT platform. The construction of heterotopia in this article will be discussed using the heterotopia approach initiated by Michel Foucault using qualitative descriptive analysis methods to analyze and disclose data as information media using field survey techniques and literature review. The results of the study show that the Netflix OTT platform space fulfills most of the heterotopia concept space proposed by Foucault. In addition, the various principles of heterotopia space that exist on the Netflix platform are also in line with Foucault’s views. Analysis of aspects of crisis and deviation, function, juxtaposition, time, place, and society shows that there is a relationship and affinity between real space and unreal space that complement each other and cannot be separated from one another on the Netflix OTT platform.Hadirnya platform OTT Netflix di dunia film dan televisi menyebabkan terjadinya pergeseran ekosistem menonton film dari bioskop ke alternatif ruang baru tempat menonton. Tulisan ini akan membahas konstruksi heterotopia yang terjadi pada platform OTT Netflix. Konstruksi heterotopia dalam artikel ini akan dibahas dengan pendekatan heterotopia yang digagas oleh Michel Foucault menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif untuk menganalisis dan mengungkapkan data sebagai media informasi dengan teknik survei lapangan dan tinjauan pustaka. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa ruang platform OTT Netflix memenuhi sebagian besar konsep ruang heterotopia yang digagas Foucault. Di samping itu, berbagai prinsip ruang heterotopia yang ada di platform Netflix juga selaras dengan pandangan Foucault. Analisis aspek crisis and deviation, function, juxtaposition, time, place, dan society memperlihatkan adanya hubungan dan pertalian antara ruang nyata dan ruang tidak nyata yang saling mengisi dan tidak dapat dipisahkan satu dengan lainnya yang terdapat di platform OTT Netflix.

Page 1 of 1 | Total Record : 6