cover
Contact Name
Sumartono
Contact Email
mpet.pps@unisma.ac.id
Phone
+62812555860234
Journal Mail Official
mpet.pps@unisma.ac.id
Editorial Address
Jl. Mayjend. Haryono No. 193, Malang, Provinsi Jawa Timur, 65144
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan
ISSN : 28091604     EISSN : -     DOI : 10.33474
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan diterbitkan oleh Program Studi Magister Peternakan Program Pascasarjana Universitas Islam Malang, sebagai media publikasi hasil penelitian, pengkajian dan pendalaman literatur tentang ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang peternakan. Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan diterbitkan dua kali dalam setahun pada bulan Februari, Agustus, Tulisan/karya ilmiah yang diterima belum pernah dipublikasikan atau tidak sedang dipertimbangkan untuk dipublikasikan di jurnal lain.
Articles 12 Documents
KUALITAS SEMEN SEGAR SAPI SIMENTAL PADA MUSIM YANG BERBEDA FRESH SEMEN QUALITY OF SIMENTAL BULLS IN DIFFERENT SEASONS Suharyanta Suharyanta
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 2, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (225.159 KB)

Abstract

 Penelitian ini dilakukan di Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari (BBIB) dengan rentang waktu pengambilan data pada bulan maret  -  April 2020 dengan jumlah pejantan sebanyak 16 ekor dengan umur berkisar 3 tahun, data diperoleh hasil penampungan pada musim penghujan dan musim kemarau. Tujuan dari penelitian ini ialah untuk mengetahui serta menjelaskan perbedaan kualitas dari semen sapi Simental pada musim yang berbeda. Manfaat dari penelitian ini yaitu sebagai bahan dalam menyiapkan pejantan sapi Simental untuk diproduksi semen beku pada musim yang berbeda. Disamping itu juga sebagai informasi bagi pihak yang akan melakukan penelitian lanjut tentang profil produksi semen. Pengambilan semen dilakukan dengan menggunakan vagina buatan. Metode Penelitian yang di gunakan study kasus data yang diambil data sekunder catatan kualitas semen, Variabel yang diamati meliputi, warna, derajat keasaman, volume, konsistensi, konsentrasi, motilitas. Analisa data yang digunakan, untuk perhitungan data volume, konsentrasi, pH dan motilitas dengan uji perbandingan uji T sampel berpasangan yang diolah secara astatistik menggunakan aplikasi SPSS. Sedangkan untuk parameter warna dan konsistensi dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan rataan volume sebesar 5,6044 ml ± 0,6522 ml (pada musim hujan) dan 5,6287 ml ± 0,7174 ml (pada musim kemarau), rataan pH menunjukkan rataan sebesar 6,5463 ± 0,0876 (pada musim hujan) dan 6,4838 ±0,0,0203 (pada musim kemarau), rataan konsentrasi sebesar 946,9428 juta/ml ± 95,403 juta/ml (pada musim hujan) dan 979,9080 juta/ml ± 110,371 juta/ml (pada musim kemarau), rataan motilitas sebesar 70,8831% ± 4,3748% (pada musim hujan) dan 74,0686% ± 5,135% (pada musim kemarau). Untuk parameter warna semen presentase warna putih susu pada musim hujan 78,6%, sedangkan pada musim kemarau sebesar 77,86%, Sedangkan parameter konsistensi, semen dengan konsistensi sedang 35,86%, konsistensi pekat 16,11% (musim kemarau) dan konsistensi sedang 32,9%, konsistensi pekat 11,89% (musim hujan). Kesimpulan ialah Perbedaan musim kemarau dan musim penghujan tidak mempengaruhi kualitas semen segar ditinjau dari parameter volume dan konsentrasi semen segar. Akan tetapi berpengaruh untuk parameter pH dan motilitas semen segar. Warna dan konsistensi semen segar sapi pejantan Simental ditinjau dari analisa deskriptif, cenderung lebih baik pada musim kemarau dibandingkan dengan musim hujan. Kualitas semen segar sapi Simental pada musim kemarau lebih baik di banding pada musim hujan dengan catatan kualitas pakan relatif sama. Saran perlu penelitian lebih lanjut untuk mengkaji perbedaan kualitas semen dengan parameter lingkungan lain, selain perbedaan musim. Kata kunci : musim kemarau, musim penghujan, kualitas semen, sapi Simental This research was located in Singosari artificial insemination (BBIB) starting from early March 2020 until the end of April 2020 with 16 heads of Simental bulls with ages range arround 3 years, the data obtained from collect in rainy season and dry season.  The purpose of this research is to know and explain fresh semen quality of Simental bulls in different seasons. The benefit of this research for materials in preparing the Simental Bulls for the production of frozen semen in different seasons. Besides, it is also give some information for who will do further research on semen production profile. This Intake of semen is carried out using the artificial vaginal method. Research method that used in this research is study case data taken secondary data cement quality record. Variables observed include color, degree of acidity, volume, consistency, concentration, and motility. Analysis of the data, used for the calculation of data on volume, concentration, pH and motility. The method used in this research is the comparative test of paired sample T test which is processed astatistically using the SPSS application. As for the color and consistency parameters analyzed descriptively. The results showed an average volume of 5.6044 ml ± 0.6522 ml (in the rainy season) and 5.6287 ml ± 0.7174 ml (in the dry season), the average pH showed an average of 6.5463 ± 0.0876 (at rainy season) and 6.4838 ± 0.0.0203 (in the dry season), the average concentration of 946.9428 million / ml ± 95.403 million / ml (in the wet season) and 979.9080 million / ml ± 110.371 million / ml (in the dry season), the average motility was 70.8831% ± 4.3748% (in the rainy season) and 74.0686% ± 5.135% (in the dry season). For the color parameter of the percentage of milk milky white in the rainy season is 78.6%, while in the dry season it is 77.86%, while the consistency parameter, semen with medium consistency is 35.86%, concentrated consistency is 16.11% (dry season) and moderate consistency 32.9%, thick consistency 11.89% (rainy season). The conclusion is the difference between the dry season and the rainy season does not affect the quality of fresh semen based from the parameters of the volume and concentration of fresh semen. However, it has an effect on the parameters of pH and motility of fresh cement. The color and consistency of fresh semen of Simental bulls is reviewed from descriptive analysis, tends to be better in the dry season compared to the rainy season. The quality of fresh semen of Simental bulls in the dry season is better than in the rainy season, with the relatively the same feed quality. Further research is needed to examine differences in cement quality with other environmental parameters, in addition to season differences. Keywords: dry season, rainy season, semen quality, Simental Bulls
EVALUASI GENETIK SAPI PERAH PEJANTAN NON SELECTED DAN SELECTED DI UPT PT DAN HMT BATU Cicik Sulistyo Winarni; Mudawamah Mudawamah; Inggit Kentjonowaty
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 1, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.056 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan di UPT PT dan HMT Desa Beji Kecamatan Junrejo Kota Batu untuk mengevaluasi mutu genetik melalui nilai Nilai Pemuliaan (NP) dan Most Probable Producing Ability (MPPA) antara sapi perah pejantan None Selected (NS) dan Selected (S) melalui produktivitas anak betina. Materi penelitian terdiri dari semen beku dari NS 6 ekor dan S 3 ekor, 86 ekor induk, 43 ekor anak betina (NS), dan 43 ekor anak betina (S). Metode penelitian adalah studi kasus dari data sapi perah periode 2014-2017.  Variabel yang diamati adalah berat lahir (BL), berat umur 1,5 tahun (BU1,5) dan lingkar dada umur 1,5 tahun (LDU1,5).  Estimasi  heritabilitas (h²) dan  ripitabilitas (r) dengan metode half sib, analisis data dengan uji t tidak berpasangan.  Hasil penelitian menunjukkan rataan semua sifat dari S berbeda nyata (P<0,01) dibandingkan dengan NS.  Nilai h² dan r berbagai sifat dari kelompok NS dan S adalah kategori rendah.  Kesimpulan adalah rataan semua sifat pada kelompok S lebih tinggi daripada kelompok NS tetapi memenuhi standar nasional bibit sapi perah. Nilai heritabilitas, ripitabilitas, NP dan MPPA semua sifat pada S lebih tinggi daripada NS. Evaluasi genetik pada S dan NS berdasarkan NP dan MPPA adalah berbeda untuk semua sifat kecuali pada BL.Kata kunci: heritabilitas, ripitabilitas, NP, MPPA The aim was to evaluate the genetic quality of None Selected dairy bulls (NS) and Selected (S)  based on daughter productivity through Breeding Value (BV) and Most Probable Producing Ability (MPPA). The research material consisted of frozen semen from NS 6 heads and S 3 heads, 86 cows, 43 daughters (NS), and 43 daughters (S). The research method was a case study of data from 2014-2017 dairy cattle. The observed variables were birth weight (BW), 1.5-year age weight (W1.5) and 1.5-year-old chest circumference (CC1.5). Estimation of heritability (h²) and repeatability (r) used the half-sib method.   Data analysis was unpaired t-test. The results showed the mean of all traits in S was significantly different (P <0.05) compared to NS. The h² and r values of various characteristics of the NS and S groups were in a low category. The conclusion was the average of all traits in the S group was higher than the NS group but met the national standards for dairy bull breeds. Heritability, repeatability, BV and MPPA values were higher in S than NS. Genetic evaluation of S and NS based on BV and MPPA was different rank for all traits except for BW. Key words: heritability, repeatability, BV, MPPA
PROFIL LEUKOSIT AYAM JANTAN WHITE LEGHORN PASCA PEMBERIAN PROBIOTIK Bacillus subtilis Muhammad Farid Rizal; Umi Kalsum; Inggit Kentjonowaty
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 2, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (459.692 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performan imunitas (leukosit, sel goblet dan ekspresi MMP-9)  ayam jantan white leghorn pasca pemberian probiotik Bacillus subtilis. Metode penelitian eksperimental dengan rancangan acak lengkal (RAL). Sampel yang digunakan adalah 24 ekor ayam jantan white leghorn yang dibagi menjadi 4 perlakuan yang terdiri sebagai berikut: P0 :  kontrol yang tidak diberikan perlakuan, P1: terdiri dari 6 ekor ayam jantan white leghorn yang diberikan probiotik Bacillus subtilis 2,5x106CFU/ hari/ekor, P2: terdiri dari 6 ekor ayam jantan white leghorn yang diberikan probiotik Bacillus subtilis 3,9x 107 CFU/ hari/ekor, P3: terdiri dari 6 ekor ayam jantan white leghorn yang diberikan probiotik Bacillus subtilis 5,3x108 CFU/ hari/ekor, variabel pada penelitian ini adalah : neutrofil, basofil, eusinofil, limfosit, monosit, sel goblet, ekspresi MMP-9 dan panjang vili usus. Data yang diperoleh dari penelitian ini akan ditabulasi kemudian diolah menggunakan ANOVA dan dialanjutkan dengan uji Duncan’s untuk mengetahui kemaknaan dalam setiap kelompoknya. Hasil penelitian: Terdapat pengaruh (P<0,05) nilai neutrofil P0 : (45,5%±7,0), P1 (52,6%±2,6),P2 : (67,0%±5,2), P3 : (66,6%±3,1). Tidak terdapat pengaruh (P>0,05) nilai eusinofil P0: (3,3%±1,03), P1 : (0,5%±0,836), P2 : (1,0,0%±0,8), P3 : (0,8%±0,9)%. Tidak terdapat pengaruh  (P>0,05) nilai basofil P0: (1%±0,89), P1: (1%±0,89), P2: (1%±0,89), P3: (1,3%±1,0). Terdapat pengaruh  (P<0,05) nilai limfosit P0: (23,3%±3,9), P1 : (12,4%±2,2). P2 : (30,6%±3,0), P3 : (31,3%±4,5). Terdapat pengaruh (P<0,05) nilai monosit P0 : (12,5%±1,8), P1 : (12,4%±2,2), P2 : (18,5%±1,0), P3 : (24,5%±2,2). Semakin meningkatnya dosis probiotik Bacillus subtilis cenderung meningkatkan rerata jumlah neutrofil,limfosit dan monosit ayam jantan white leghorn. Semakin meningkatnya dosis probiotik Bacillus subtilis tidak mempengaruhi rerata eusinofil dan basofil yang relatif sama dengan kontrol.Kata Kunci: Bacillus subtilis,leukosit, white leghorn.
PERANAN PROGRAM BINA LINGKUNGAN UNTUK PENGEMBANGAN PERUSAHAAN PETERNAKAN DI PT LUMBUNG PANGAN DI KECAMATAN KARANGPLOSO Edy Ustomo; Inggit Kentjonowaty; Badat Muwakhid
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 2, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (224.996 KB)

Abstract

Program bina lingkungan untuk memberikan manfaat  dan rasa  tanggung jawab dengan membantu roda perekonomian, pendidikan, sosial dan budaya. Dengan demikian dapat mengurangi tensi kebencian masyarakat kepada perusahaan. Peranan program bina lingkungan  merupakan salah satu komponen yang menentukan keberhasilan, dengan  partisipasi dan peran serta masyarakat   saling membantu dan meringankan beban yang berbeda kepentingan. Perselisihan  perusahaan dan masyarakat suatu saat akan terjadi ini berawal dari munculnya kesenjangan  sosial yang tumbuh dan  dirasakan masyarakat.  Tokoh agama dan masyarakat  mempunyai peranan untuk mengurangi,meredam dan  menyelesaikan perselisihan yang ada dan mampu mempengaruhi, mencegah dan mengajak untuk menciptakan ketentraman perusahaan dan masyarakat. Kata kunci : Perusahaan peternakan, masyarakat, Bina Lingkungan, Organisasi
EKSTRAK DAUN Vernonia amygdalina SEBAGAI PENGGANTI ANTIBIOTIK PADA BROILER TERINFEKSI Salmonella sp Alfan Setya Winurdana; Umi Kalsum; Usman Ali
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 1, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (137.211 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui potensi Vernonia amygdalina sebagai pengganti antibiotik pada broiler terinfeksi Salmonella sp. Materi yang digunakan meliputi ekstrak daun Vernonia amygdalina, Broiler strain cobb umur 19 hari, bakteri Salmonella sp, antibiotik Oxytetraciclyn,dan pakan konvensional. Penelitian dilakukan dengan metode percobaan dengan menggunakan rancangan acak kelompok, empat perlakuan dan tiga kelompok. Perlakuan yang digunakan adalah 1ml antibiotik Oxytetraciclyn dan dosis ekstrak daun Vernonia amydalina dengan level P0=  dengan antibiotik P1 = VA 0,5%, P2 = VA 1%, P3 = VA 1,5%. Data yang diperoleh dianalisis dengan anova dan dilanjutkan uji beda nyata terkecil (BNT) jika terdapat pengaruh.               Hasil penelitian menunjukkan penggunaan ekstrak daun Vernonia amygdalina pada broiler terinfeksi Salmonella sp. berpengaruh sangat nyata (p<0,01) terhadap total mikroflora, panjang vili dan jumlah sel eritrosit dan tidak berpengaruh (P>0,05) pada pH dan lebar vili. Rataan total mikroflora log cfu/gram  P0,P,P2 dan P3 berturut-turut 12,12; 11,70; 11,76; dan 11,73. Rataan Panjang vili µm P0,P1,P2 dan P3 berturut-turut 444,15; 718,96; 680,64; dan 735,64. Rataan jumlah sel eritrosit (106 sel/ml) P0,P1,P2 dan P3 yaitu 2,41; 2,56; 2,50 dan 2,96. Rataan pH P0,P1,P2,P3 berturut-turut 6,43; 6,74; 6,40; dan 5,99. Rataan lebar vili berturut-turut µm 101,27; 117,33; 107,72 dan 127,75. Kesimpulan dari penelitian ini adalah penggunaan ekstrak daun Vernonia amygdalina 1,5% memberikan hasil terbaik terhadap total mikroflora, panjang vili dan jumlah eritrosit, namun pada penggunaan 0,5% sudah mampu menggantikan peran antibiotik. Disarankan untuk peningkatan pengganti antibiotik pada penggunaan ekstrak daun Vernonia amygdalina 0,5%.Kata Kunci: Vernonia amygdalina, broiler, mikroflora usus, hostologi ususThe purpose of this research to determine potential of Vernonia amygdalina as antibiotic role on broiler infected Salmonella sp. The materials used were Vernonia amygdalina leaf extract, 48 head Broiler strain cobb aged 19 days, Salmonella sp bacteria, Oxytetraciclyn antibiotics, and feed broiler comercial. The study was conducted by experimental method using a randomized block design with four treatments and three groups. The treatment used 1ml dose of  antibiotic Oxytetraciclyn and three level Vernonia amydalina leaf extract with a level of P0 = with antibiotics, P1 = VA 0,5%, P2 = VA 1%, P3 = VA 1,5%. The data analyzed with ANOVA if those had influence continued with last significant difference test (LSD)The results showed the use of Vernonia amygdalina leaf extract in broiler infected Salmonella sp. significantly effect (P <0,01) on total microflora, villi length and number of erythrocyte cells but not significant (P> 0,05) on pH and villi width. The best result for total mikroflora (P1) 11,70 (log cfu/g). The best result for pH (P3) 5,99. The best result for vili height (P3) 735,64 μm. The best result for vili width (P3) 127,75 μm.  The best result for erythrocyte cells (P3) 2,96 (106 cell/ml). The conclusion is P1 (0,05%) could be replace the role antibiotic on broiler infected Salmonella sp. but P3 (1,5%) give best result on pH, villi height, villi weight, and amount of erythrositeKey words: Vernonia amygdalina,broiler, Gut microflora,intestinal histology
POTENSI PENGEMBANGAN PETERNAKAN SAPI POTONG DI KECAMATAN RINDI KABUPATEN SUMBA TIMUR Andreas Njuruma; Sumartono sumartono; Inggit Kentjonowaty
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 2, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.859 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui Potensi Pengembangan Peternakan Sapi Potong Di Kecamatan Rindi Kabupaten Sumba Timur. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, variabel penelitian adalah letak geografis, sumber daya manusia, populasi sapi potong, ketersedian pakan. Hasil penelitian kecamatan rindi memiliki potensi letak geografis suhu rata-rata 22,5oC - 31,7oC, sumber daya manusia dengan tingkat pendidikan yang baik, sapi potong sebagai sektor unggulan, ketersediaan bahan kering mencapai 66,945 ton BK/tahun. Daya tampung ternak mencapai 20.165 ekor, potensi pengembangan 13.975 ekor, indeks daya dukung wilayah 8,9. Nilai Location Quotiont (LQ) = 1,51, sapi potong sebagai sektor unggulan yang dapat dikembangkan dalam jangka panjang.Kata Kunci: Sapi Potong, Potensi Wilayah, Pengembangan, Kecamatan Rindi.
ANALISIS PENGEMBANGAN USAHA SAPI PERAH BERBASIS MANAJEMEN REPRODUKSI PADA KELOMPOK PETERNAK DI KABUPATEN MALANG Moch. Rifa&#039;i; Inggit Kentjonowaty; Umi Kalsum
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 1, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (74.183 KB)

Abstract

                    Mayoritas pengembangan ternak di Indonesia masih mengandalkan bisnis ternak rakyat. Untuk merangsang pengembangan bisnis ternak rakyat, perlu ada sentuhan dan dukungan dari pemerintah Indonesia dalam bentuk bimbingan teknis tentang peternakan dan bantuan dengan kuman ternak dan fasilitas ternak melalui kelompok-kelompok peternak. Masalah yang sering dihadapi dalam bisnis ternak rakyat antara lain; manajemen reproduksi yang rendah, manajemen pemeliharaan dan manajemen pemberian pakan yang belum kompatibel dengan teknologi peternakan, biaya pakan tinggi dan modal usaha kecil  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perkembangan sapi perah dalam hal manajemen reproduksi yaitu; Layanan per Konsepsi, Interval Hari Terbuka dan melahirkan melalui peternak kelompok di Kabupaten Malang. Lokasi penelitian dilakukan di Kecamatan Kasembon, Ngantang, Pujon, Lawang dan Ngajum. Metode penelitian adalah studi kasus dengan menyebarkan kuesioner. Materi penelitian ini adalah anggota kelompok penerima sapi perah di 5 kabupaten, yaitu masing-masing kelompok diambil 10 orang dan 10 ekor sapi perah. Variabel yang diamati dalam penelitian ini adalah Manajemen Reproduksi; (Layanan per Konsepsi, Hari Terbuka dan Calving Interval). Analisis sifat kuantitatif ternak dan perkembangan reproduksi yang diperoleh kemudian dihitung rata-rata dan standar deviasi kelompok. Untuk mengetahui pengaruh kelompok dan periode laktasi terhadap kinerja reproduksi, analisis varians (ANOVA) digunakan dan analisis varians dilakukan dan dilanjutkan dengan uji LSD.Hasil yang diperoleh dengan nilai rata-rata pelayanan per konsepsi dalam laktasi pertama p eriod 2.56 dan pada periode laktasi kedua 2.1 dan pada periode laktasi ketiga 3.88. Periode laktasi memiliki efek yang sangat signifikan (P <0,01) pada layanan per konsepsi. Selanjutnya, nilai rata-rata Days Terbuka pada periode laktasi pertama adalah 118,42 hari dan pada periode laktasi kedua adalah 98 hari dan pada periode laktasi ketiga adalah 154,3 hari, menunjukkan bahwa periode laktasi memiliki efek yang sangat signifikan pada Days Open. Untuk variabel Calving Interval, nilai rata-rata pada periode laktasi pertama adalah 0 hari dan pada periode laktasi kedua 373 hari dan pada periode laktasi ketiga 434,2 hari. Periode laktasi memiliki efek yang sangat signifikan pada Calving Interval, sedangkan kelompok peternak tidak berpengaruh pada kinerja reproduksi. * Diikuti dengan tes LSD untuk mengetahui perbedaan antara periode laktasi. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa kelompok tidak mempengaruhi kinerja reproduksi tetapi periode laktasi mempengaruhi kinerja reproduksi dalam hal konsepsi layanan, hari buka dan interval melahirkan (2) semakin tinggi periode laktasi semakin tinggi nilai layanan per konsepsi. , hari buka dan interval melahirkan. Berdasarkan nilai dari 5 kelompok yang diteliti, paling banyakkelompok reproduksi yang efisien adalah kelompok 5. Penampilan reproduksi berhubungan dengan manajemen pemeliharaan dan manajemen reproduksi sehingga perlu untuk meningkatkan manajemen pernikahan, catatan, manajemen pakan dan pemberian makanan yang baik.pengembangan populasi sapi perah dalam kelompok pemulia.Kata Kunci : sapi perah, manajemen reproduksi, kelompok peternak.The majority of livestock development in Indonesia still relies on the people's livestock business. To stimulate the development of the people's livestock business, it is necessary to have a touch and support from the Indonesian government in the form of technical guidance on animal husbandry cultivation and  assistance with livestock  germs and  livestock facilities through breeders' groups. Problems  that  are  often  faced  in  the  people's  livestock  business  include; low  reproduction management, maintenance management and feeding management that are not yet compatible with animal husbandry technology, high feed costs and small business capital.The purpose of this study is to analyze the development of dairy cattle in terms of  reproduction management namely; Service per Conception, Days Open and Calving Interval through breeders' groups in Malang Regency. The location of the study was conducted in the sub-districts of Kasembon, Ngantang, Pujon, Lawang and Ngajum. The research method is a case study by distributing questionnaires. This research material is a member of a group of dairy cattle recipients in 5 districts, namely each group is taken 10 people and 10 dairy cows. The variables observed in this study were Reproductive Management; (Service per Conception, Days Open and Calving Interval). Analysis of the quantitative nature of livestock and reproductive development obtained was then calculated on average and the standard deviation of the group. To find out the effect of groups and lactation periods on reproductive performance, an analysis of variance (ANOVA) was used and analysis of variance was performed and continued with LSD test.The results obtained by the average value of sevice per conception in the first lactation p eriod 2.56 and in the second lactation period 2.1 and in the third lactation period 3.88. The lactation period had a very significant effect (P <0.01) on service per conception. Furthermore, the average value of Days Open in the first lactation period was 118.42 days and in the second lactation period was 98 days and in the third lactation period was 154.3 days, showing that the lactation period had a very significant effect on Days Open. For the Calving Interval variable, the average value in the first lactation period is 0 days and in the second lactation period 373 days and in the third lactation period 434.2 days. The lactation period has a very significant effect on the Calving Interval, while the breeder group has no effect on reproductive performance. * Followed by LSD test to find out the differences between lactation periods. The conclusions of this study indicate that the group does not affect reproductive performance but the lactation period influences reproductive performance in terms of service p er conception, days open and calving interval (2) the higher the lactation period the higher the value of service per conception, days open and calving interval. By value from the 5 groups studied, the most efficient group of reproduction is group 5. Appearance of reproduction is related to maintenance management and reproduction management so that it is necessary to improve the management of marriages, records, feed management and good feeding development of the dairy cow population in the breeders group.Keywords: dairy cows, reproduction management, breeder groups.
RESPON PUYUH PETELUR TERHADAP PENAMBAHAN TEPUNG DAUN BINAHONG (Anredera cordifolia (Ten.) Steenis) DALAM PAKAN SEBAGAI SUMBER ADITIF ALAMI Nata Dian Nanda; Umi Kalsum; Usman Ali
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 2, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.48 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuki menganalisis pengaruh, penambahan tepungg daun binahong sebagai aditif dalam pakan terhadap respon puyuh petelur. Materi yang digunakan meliputi 200 ekor puyuh petelur umur 43 hari, pakan lengkap dan tepung daun binahong. Metode penelitian adalah eksperimen menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 pelakuan 5 ulangan. Pelakuan yang diberikan yaitu P0 = Pakan lengkap tanpa tepung daun binahong, P1 = Pakan lengkap + Tepung daun binahong 1,25%, P2 = Pakan lengkap + Tepung daun binahong 1,50%, P3 = Pakan lengkap + Tepung daun binahong 1,75%. Variabel dari penelitian ini meliputi, konsumsi pakan, quail day production, konversi pakan, mortalitas, hematologi darah dan karakteristik usus. Data dianalisis dengan anova, dan dilanjutkan dengan uji beda nyata terkecil (BNT), jika terdapat pengaruh.            Hasil penelitian menunjukan pemberian tepung daun binahong sebagai aditif dalam pakan berpengaruh sangat nyata (P<0,01) pada quail day production, konversi pakan, jumlah eritrosit dan pH usus halus dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) pada konsumsi pakan dan mortalitas. Rataan konsumsi pakan (g/ekor/hari) P0, P1,, P2 dan P3 berturut-turut 24,06; 24,06; 24,06 dan 24,05. Rataan quail day production P0, P1, P2 dan P3”berturut-turut 53,20; 52,40; 52,40 dan 57,80. Rataan konversi pakan P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut”4,69; 4,98; 4,72 dan 4,18. Rataan mortalitas P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut 0,004; 0,004; 0,000 dan 0,004. Rataan jumlah eritrosit (106/ml) P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut 2,51; 2,59; 2,74 dan2,94. Rataan pH usus halus P0, P1, P2 dan P3 berturut-turut  6,22; 5,91; 5,98 dan 5,74. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian tepung daun binahong 1,75% dalam pakan puyuh petelur berpotensi sebagai sumber aditif alami. Disarankan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai pemberian tepung daun binahong dengan dosis diatas 1,75% sampai mencapai titik optimal.Kata kunci : tepung daun binahon, puyuh petelur, penampilan prooduksi, eritrosit darah, pH                 usus.
TINGKAT GANGGUAN REPRODUKSI YANG MENYEBABKAN KEGAGALAN KEBUNTINGAN DI KOPERASI AGRO NIAGA (KAN) JABUNG Mohamad Nurul; Sumartono Sumartono; Badat Muwakhid
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 1, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.981 KB)

Abstract

Usaha peternakan rakyat sapi perah di Indonesia sampai saat ini masih menemui banyak kendala, yang mengakibatkan produktivitas ternak tersebut masih rendah.Salah satu kendala tersebut adalah masih banyaknya gangguan reproduksi dan penyakit reproduksi yang menuju kemajiran pada ternak betina.Akibatnya, efisiensi reproduksi menjadi rendah dan kelambatan perkembangan populasi ternak. Dengan demikian diharapkan perlu adanya pengolahan managemen pemeliharaan ternak sapi yang lebih baik agar reproduksi meningkat sehingga menghasilkan efisiensi reproduksi tinggi yang diikuti dengan produktivitas ternak yang tinggi pula.perkembangan ternak baik ternak sapi pedaging maupun ternak sapi perah di Indonesia kedepan dapat lebih baik, termasuk didalamnya perkembangan ternak di Jawa Tmur sebagai salah satu sentra pengembangan ternak di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kejadian gangguan reproduksi pada ternak sapi perah di wilayah kerja koperasi Agroindustri (KAN) Jabung Kabupaten Malang.               Penelitian ini dilaksanakan di MIN Malang 1 yang beralamatkan di Jalan Bandung 7C, Kecamatan Klojen, Malang 65133, Propinsi Jawa Timur.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa MIN Malang 1 adalah madrasah yang dikelola secara efektif. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Oktober – Desmber 2018 pada usaha peternakan sapi perah rakyat di wilayah kerja KAN Jabung Kabupaten Malang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di koperasi agro niaga jabung ditemukan dari jumlah populsi ditemukan  prosentase 5,0 endometritis, 3,3 hypofungsi dan 1,7 anestrus.               Endometritis merupakan peradangan pada endometrium dan membran mukosa uterus yang sering disebabkan oleh adanya infeksi bakteri. Menurut Noakes et al. (2001), endometritis dan metritis merupakan salah satu penyebab kemajiran pada ternak. Hipofungsi ovaria adalah kurang atau tidak berfungsinya ovaria dalam menghasilkan ovum secara rutin, karena tidak terbentuk folikel dan tidak ada ovulasi, sehingga juga tidak timbul gejala birahi.Anestrus merupakan suatu keadaan pada hewan betina yang tidak menunjukkan gejala estrus dalam jangka waktu yang lama.Tidak adanya gejala estrus tersebut dapat disebabkan tidak munculnya hormin FSH sehingga ternak tersebut tidak bunting bahkan menjadi kemajiran.               Berdasarkan hasil penelitian ini kepada petugas IB di harapkan lebih memperhatikan sterelisasi alat IB yang di gunakan dan peran aktif kepada peternak untuk dapat mengenali berbagai macam perubahan abnormal pada siklus reproduksi ternaknya sehingga tidak menimbulkan kemajiran serta kepada pihak managemen untuk dapat memperhatikan tentang kebutuhan alat-alat IB yang digunakan setiap hari. Kata kunci : managemen Reproduksi, Penyakit Reproduksi, KebuntinganEnterprises farm people cow dairy in Indonesia until the time is still encountered many obstacles, which resuted in the produtivity of livestock are still low, One of the obstcles that are still many disturbances of reproduction and diseases of reprudution that towards infertility in catlle females, As a result, efficienncy, efficiency reproducsi be low and kelambat early developmen of a populationof livesstokck.Premisesn thus expected to need the procesing management of the maintenence of livestock catlle are much batter so that reproduction increases thus generating efficiencyof reproduction high which is followed by the productivitivity of livestock that heigh anyway. The development of livestock both livestock cattle meat and dairy in Indonesia in the future can be batter, including therein the development of livestock in Jawa Timur as one of the centers of development of livestock in Indonesia. The study is intended to determine the level of incidence of disorders of reproduction in cattle cow dairy in the area of work cooperatives Agro- indutry (KAN) Jabung regency of Makang.Research is carried out in the month October – Desember 2018 on a business breeding cow dairy people in the area work KAN Jabung regency of Malang.  The  results of the study have demontrated that in a cooperative agro- commerce Jabung found from the number of populasi found the percentage of 5.0 endometritis, 3,3 hypofungsi and 1,7 anestrus.Endometritis is an inflammation of the endometrium and the membrance mucosa of the unterus which is often coused by the pressense of infectious bacteria . According to Noaks et al. (2001), endrometritis and metritis are one of the couses of poverty in livertock. Hypofunction ovarian is lacking or not functioning of ovarian to produce ova are routine , because not formed follicles and not no ovulation, so it also does not arise symptoms of lust.Anesstrus is a state of the animals females who do not show symptoms of estrus in the period of time that old room. No their symptoms of estrus that can be coused by not appearing hormin FSH so that animals are not pregnant even be infertility. Besed on the results of the research have the clerk IB in expected more attention to sterilization appartarus IB in use and the role of the active to the farmers to be able to recognize the various kinds of changes abnormal in the cycle of reproduction of the cattle, so that does not cause infertility as well as to the management to be able to pay attention abaout the need for tools IB which is used every day.Keywords : Reproductive management, Reproctive diseace, pregnancy
STUDI MANAJEMEN PENANGANAN SAPI ANTEMORTEM DAN POSTMORTEM SERTA KELAYAKAN DAGING SAPI KONSUMSI DI BEBERAPA RUMAH POTONG HEWAN (RPH) KABUPATEN PROBOLINGGO Nisa Mufidah; Umi Kalsum; Usman Ali
Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan Vol 2, No 1 (2021): FEBRUARI
Publisher : Jurnal Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi Peternakan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (470.752 KB)

Abstract

Tingginya permintaan masyarakat terhadap daging sapi menyebabkan intensitas pemotongan juga semakin meningkat. Hal ini menyebabkan terpusatnya perhatian pada Rumah Potong Hewan (RPH) sebagai unit penghasil daging. RPH sangat diperlukan untuk menjamin kualitas daging yang aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui evaluasi manajemen penanganan sapi antemortem dan postmortem serta kelayakan daging sapi konsumsi di beberapa RPH Kabupaten Probolinggo.Penelitian ini dilakukan pada bulan Januari – Juni 2021. Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik. Pengamatan penanganan sapi antemortem dilakukan secara observasi yang meliputi : pemeriksaan kesehatan hewan, sikap jalan dan tegak badan, kulit, rongga mulut, rongga hidung, kebasahan hidung, selaput lendir mata dan suhu badan. Pemeriksaan postmortem dilakukan secara obeservasi yang meliputi : pemeriksaan kepala, pemeriksaan karkas, pemeriksaan organ dalam (hati, jantung, pari-paru, limpa, ginjal, rumen, retikulum, omasum dan abomasum). Sedangkan kelayakan daging konsumsi diambil dari data sekunder tahun 2019, 2020, dan 2021 bulan terakhir hasil analisis di enam RPH Kabupaten Probolinggo pada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Probolinggo. Identifikasi mikroba dilakukan pada Laboratorium Kesehatan Hewan Malang berdasarkan SNI 3932 (2009) tentang persyaratan mutu mikrobiologis daging sapi, yaitu : Total Plate Count (TPC), Eschericia coli, Coliform, Staphylococcus aureus dan Salmonella sp.               Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa di enam RPH Kabupaten Probolinggo telah melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem sesuai prosedur oleh petugas dan dokter hewan setempat. Pada pemeriksaan antemortem sapi 100% dalam kondisi dan baik dan layak untuk dipotong. Pada pemeriksaan postmortem ditemukan adanya parasit parampistomum sebesar 23,08% dan parasit fasciola sp. sebesar 7,69%. Sedangkan hasil penelitian total cemaran mikroba menunjukkan bahwa uji Salmonella sp. bebas (negatif) dari bakteri  Salmonella sp. mulai tahun 2019 sampai 2021. Sedangkan hasil uji SNI TPC menunjukkan pada tahun 2019 terdapat dua RPH yang melebihi batas cemaran maksimum, pada tahun 2020 terdapat tiga RPH, pada tahun 2021 terdapat dua RPH yang melebihi batas standar mikroba. Uji Eschericia coli tahun 2019 dan 2020 semua uji pada enam RPH melebihi standart batas cemaran mikroba, sedangkan tahun 2021 hanya terdapat satu RPH yang melebihi batas cemaran mikroba. Pada uji  Coliform pada tahun 2019 keenam RPH memiliki nilai diatas batas cemaran mikroba, pada tahun 2020 empat RPH yang memiliki nilai diatas batas cemaran. Pada tahun 2021 hanya satu RPH yang melebihi batas nilai cemaran mikroba Coliform. Uji Staphylococcus aureus pada tahun 2019 dan 2021 tidak ada yang melebihi batas cemaran miroba, sedangkakan pada tahun 2020 terdapat dua RPH yang melebihi batas cemaran miroba. Kesimpulan penelitian yaitu sudah terlaksananya manajemen pemeriksaan antemortem dan postmortem di enam RPH dan masih adanya cemaran bakteri pada daging sapi di beberapa RPH Kabupaten Probolinggo tetapi masih aman untuk dikonsumsi dengan pemasakan secara benar. Kata Kunci :Daging Sapi, Rumah Potong Hewan, Pemeriksaan Antemortem dan Postmortem, Total Cemaran Mikroba.

Page 1 of 2 | Total Record : 12