Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang atau disingkat JTS ITP ini dikelola oleh Prodi Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Institut teknologi Padang, Sumatra Barat, Indonesia. JTS ITP terbit 2 (dua) kali setiap tahun yaitu pada bulan Januari dan Juli, sejak tahun 2014. Terhitung Juli 2016, publikasi pada Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang telah mengikuti sitem terbuka (Open System Jurnal) pada https://ejournal.itp.ac.id/index.php/tsipil dan telah terakreditasi SINTA 5 sejak tahun 2019, sekarang ini JTS ITP sudah imigrasi ke OJS 3 dengan link https://jts.itp.ac.id/index.php/jts. Tujuan penerbitan Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang adalah: (1) untuk menjadi wadah publikasi artikel ilmiah nasional di bidang teknik sipil serta (2) menerbitkan dan menyebarluaskan hasil penelitian civitas akademika di bidang teknik sipil ke level nasional. Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang memuat artikel terkait dengan ilmu rekayasa struktur dan material, ilmu pondasi dan tanah pendukung, rekayasa hydro dan bangunan air, rekayasa transportasi dan perkerasan jalan, manajemen konstruksi serta ilmu pengukuran dan pemetaan.
Articles
172 Documents
HUBUNGAN HASIL KORELASI STRATIGRAFI BAWAH PERMUKAAN DENGAN KESTABILAN TEROWONGAN STUDI KASUS: TEROWONGAN MRT JAKARTA
Luthfi Effendi;
Teuku Faisal Fathani;
Wahyu Wilopo
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (798.781 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2018.V501.024-32
Pada perhitungan stabilitas terowongan, mengetahui kondisi bawah permukaan, jenis tanah dan parameternya merupakan hal yang sangat penting. Karena itu, korelasi data bor harus dilakukan sebaik mungkin agar dapat menggambarkan kondisi bawah tanah yang akurat. Penelitian ini akan menguji kestabilan terowongan MRT Jakarta stasiun bawah tanah Senayan-Istora. Berdasarkan hasil korelasi data bor, jenis tanah dibagi menjadi menjadi lima satuan tanah yang terdiri dari lempung N-SPT rendah, lanau N-SPT rendah, lanau N-SPT tinggi, pasir N-SPT rendah, dan pasir N-SPT tinggi. Tekanan muka terowongan divalidasi dengan pembacaan tekanan muka terowongan di lapangan. Secara umum metode yang paling mendekati hasil pembacaan di lapangan adalah metode COB Commisie L510. Stabilitas tubuh terowongan dihitung dengan metode Carranza-Torres, menghasilkan gaya yang paling besar 137,93 kN/m2 dari kapasitas dukung lining terowongan 726 kN/m2 . Stabilitas terowongan terhadap gaya angkat menghasilkan faktor aman paling kecil sebesar 2,26 dari rekomendasi faktor aman 1,5. Hasil korelasi akan berdampak pada stabilitas terowongan, karena stabilitas terowongan didasarkan pada jenis, tebal dan kekuatan tanah di mana terowongan tersebut dibangun.
ANALISIS STABILITAS LERENG DAERAH SENGI MENGGUNAKAN SLOPE/W SEBAGAI REFERENSI KELAYAKAN PEMINDAHAN CANDI LUMBUNG SENGI
N. K. Wiguna;
A. Rifa’i;
S. Siswosukarto
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (965.02 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2018.V501.033-44
Peninggalan sejarah budaya yang terdapat di Indonesia merupakan salah satu anugerah keanekaragaman yang harus dilestarikan. Candi Lumbung Sengi merupakan peninggalan sejarah kerajaan Hindu yang terdapat di Jawa Tengah. Kaki lereng pada tempat awal berdirinya candi mengalami erosi yang disebabkan oleh banjir lahar dingin hasil erupsi Gunung Merapi pada tahun 2010. Dilakukan penelitian tentang lapisan bawah permukaan tanah, jenis tanah di lapangan, serta stabilitas lereng pada lokasi awal berdirinya candi. Dengan demikian, diharapkan penelitian ini berguna sebagai referensi kelayakan pemindahan candi. Penyelidikan tanah di lapangan menggunakan metode Cone Penetration Test (CPT) dan pengujian Geolistrik 2D menggunakan alat NANIURA model NRD 300 HF untuk mengetahui pola perlapisan bawah tanah. Klasifikasi jenis tanah di lapangan menggunakan sistem klasifikasi tanah Unified dan untuk analisis stabilitas lereng menggunakan Limit Equilibrium Method metode Morgenstern-Price dengan bantuan software SLOPE/W 2012. Konfigurasi yang digunakan untuk pengujian Geolistrik 2D adalah Wenner-Schlumberger. Dari pengujian tanah di laboratorium, didapatkan 3 jenis tanah yaitu SM, SP, dan SW. Gempa menjadi salah satu parameter yang dimasukkan ke dalam analisis stabilitas lereng. Faktor keamanan lereng untuk kondisi di lapangan menunjukkan angka aman yang stabil yaitu sebesar 2,877. Ketika parameter gempa dimasukkan dalam analisis, faktor keamaan lereng turun menjadi 2,024 dan ketika simulasi kaki lereng terendam air faktor keamaan lereng menjadi 2,582. Terdapat beberapa pemodelan yang dianalisis dalam penelitian ini, sehingga dapat diketahui pemodelan yang bagaimana yang dapat memenuhi kriteria angka aman dalam SNI 03-1962-1990 tentang Tata Cara Penanggulangan Longsor sebagai dasar perencanaan.
UNJUK KERJA SISTEM DRAINASE POROUS DALAM PENANGANAN GENANGAN DI HALAMAN CANDI PRAMBANAN BERDASARKAN SIMULASI NUMERIK
A. Rifa’i;
F. A. Putr;
S. Siswosukarto
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 5 No 1 (2018): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (1054.615 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2018.V501.045-54
Candi Prambanan merupakan situs bersejarah yang terletak di daerah dengan curah hujan tinggi, DIY. Genangan air sering yang terbentuk pada halaman candi setelah terjadi hujan terjadi karena kurang efektifnya tanah dalam menginfiltrasi air. Sistem drainase berpori telah dirancang sebagai solusi permasalahan genangan di halaman Candi Prambanan yang terdiri dari drainase bawah permukaan dan paving block di permukaan tanah menggunakan material beton berpori. Beton berpori yang digunakan merupakan jenis beton non pasir dengan Bantak Merapi dan abu vulkanik sebagai agregatnya. Pembuatan beton tanpa menggunakan pasir menyebabkan meningkatnya pori-pori beton hingga mencapai 20-25% dengan koefisien permeabilitas sebesar 1.3 × 10-3 m/s, jauh lebih besar dari tanah pasir pada halaman candi yang sebesar 1.2 × 10-5 m/s. Sistem drainase dimodelkan dengan mewakilkan kondisi di halaman candi menjadi tiga potongan melintang menggunakan software Seep/W untuk melihat keefektifan saluran drainase dalam mengalirkan air. Fungsi hujan jam-jaman kondisi ekstrim dengan kala ulang 10 tahun sebesar 146.894 mm dan kala ulang 15 tahun sebesar 155.409 mm serta hujan bulanan pada bulan terbasah yaitu pada Februari 2013 digunakan pada kondisi awal saluran drainase. Dari fungsi hujan jam-jaman maksimum dapat dilihat bahwa ketika hujan, permukaan paving menjadi jenuh air, namun tidak membentuk genangan air. Sedangkan dari hasil simulasi hujan bulanan, dapat dilihat bahwa ketika terjadi hujan, paving dan saluran drainase menjadi jenuh. Namun setelah hujan berhenti, air dapat dengan cepat terinfiltrasi dari permukaan paving ke daluran drainase dan kemudian dilanjutkan ke dalam tanah. Sehingga penggunaan sistem drainase berpori dinilai efektif dalam mempercepat infiltrasi air hujan dan mencegah terbentuknya genangan.
ANALISIS KELAYAKAN KONSTRUKSI BAGIAN ATAS JALAN REL DALAM KEGIATAN REVITALISASI JALUR KERETA API LUBUK ALUNG-KAYU TANAM (KM 39,699-KM 60,038)
Wilton Wahab;
Sicilia Afriyani
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (461.286 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2017.V402.01-8
Dalam penelitian ini dilakukan analisis terhadap kelayakan konstruksi jalan rel kereta api Lubuk AlungKayu Tanam mengingat jalur ini telah lama tidak digunakan dan adanya peningkatan konstruksi jalan kereta api pada rute tersebut dari kelas II menjadi kelas 1. Teknik analisis data menggunakan standar perencanaan jalan rel di Indonesia yang lebih dikenal dengan Peraturan Dinas (PD) Nomor 10 tahun 1986. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rel eksisting (tipe R33) tidak layak digunakan untuk konstruksi jalan rel kelas 1 dengan beban gandar 18 ton karena kemampuan bantalan eksisting (bantalan baja) untuk menahan beban yang terdistribusi dari rel (Qb) lebih kecil dari pada beban yang terdistribusi dari rel (Qr) sehingga akibatnya bantalan baja tidak mampu menahan beban yang terdistribusi dari rel. Rel (tipe R54) dapat digunakan untuk konstruksi jalan rel kelas 1 dengan beban gandar 18 ton. Bantalan beton prategang (mutu K-500) dapat digunakan, karena kemampuan beton prategang untuk menahan beban rel lebih besar dari beban rel yang terdistribusi (Qb > Qr). Secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa peningkatan konstruksi jalan rel dalam bentuk kegiatan revitalisasi jalur kereta api Lubuk Alung-Kayu Tanam layak dilakukan.
ANALISIS POTENSI SUMBERDAYA AIR PADA SUNGAI BATANG PELANGAI GADANG DENGAN METODE MOCK UNTUK KEBUTUHAN PLTA DI KEBUPATEN PESISIR SELATAN
Syofyan Z
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (531.313 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2017.V402.09-16
Dalam suatu perencanaan Pembangkit Listrik Tenaga Air, faktor penting yang perlu diketahui yaitu besarnya debit bulanan dan debit andalan 80%, serta kondisi topografi daerah pengaliran sungai. Untuk menghitung besarnya debit andalan untuk kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Sungai Batang Pelangai Gadang dengan titik tangkapan di Desa Dusun Lubuak Sariak Kampung Tanjung Masjid Nagari Palangai Gadang digunakan Metode Mock. Nilai evapotranspirasi potensial dihitung menggunakan Metode penman. Data curah hujan yang digunakan adalah data curah hujan tahun 2001 sampai dengan tahun 2015 dari Stasiun Muara Labuh dan Surantih dan data klimatologi dari Stasiun Surantih. Hasil perhitungan yang didapat sebagai berikut: Dengan analisa Metode thiessen didapatkan hanya dua stasiun yang memiliki pengaruh terhadap Daerah Aliran Sungai Batang Pelangai (Muara Labuh 62,32% dan Surantih 37,68%), Luas DAS yang didapat adalah 245,39 km2 , Potensi Pembangkit 792,16 Kw dengan debit andalan 1,90 m3 /det dan debit banjir Rencana 604,27 m3 /det, Tinggi jatuh air 42,5m. Berdasarkan hasil analisis dan standar untuk kebutuhan pengembangan diperoleh jenis PLTA yaitu jenis PLTM dengan daya teoritis Pt = 792,16 Kw < 5 Mw
PENGGUNAAN JETTY PADA MUARA BANJIR KANAL PADANG DENGAN MENGGUNAKAN TETRAPOD
Ahmad Ref
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (824.147 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2017.V402.017-23
Pantai Padang merupakan perbatasan wilayah daratan Sumatera Barat dengan Samudera Indonesia yang mempunyai panjang 420 km. Melalui survey yang dilakukan, sekitar 45% dari wilayah pantai ini mengalami kerusakan akibat abrasi. Pembuatan struktur pemecah gelombang/jetty merupakan salah satu usaha untuk mengantisipasi masalah ini. Pada awalnya material yang digunakan untuk pembuatan jetty adalah batu alam yang lama kelamaan akan habis. Sebagai alternatif digunakan batu buatan (tetrapot). Pada penelitian ini dilakukan analisis penggunaan tetrapot sebagai material utama jetty dengan metode analisis tinggi dengan menggunakan data angin, data gelombang, data pasang surut, dan data batimetri. Dari hasil perhitungan analisa kalkulasi desain, diperoleh kemiringan kontruksi jetty 1:2, elevasi mercu jetty dengan lapis lindung tetrapod +2,07 m, panjang jetty 92 m, lebar mercu dengan lapis lindung tetrapod 1,0639 m, tinggi mercu dengan lapis lindung tetrapod 3,6 m.
EVALUASI KEGAGALAN PEMBANGUNAN DRAINASE DALAM LINGKUNGAN DAERAH PEMUKIMAN
Maizir
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (266.73 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2017.V402.024-28
Kenyataan di lapangan, beberapa lingkungan pemukiman di kota Padang memiliki jaringan drainase yang tidak berfungsi dengan baik. Hal ini dapat dilihat pada lingkungan pemukiman mulai dari Kasang, Lubuk Buaya, Tabing, Dadok, Siteba, Lapai, Khatib Sulaiman dan Gunung Pangilun di utara sampai ke pemukiman di Rawang dan Mato Aia di selatan. Dalam tulisan ini akan dibahas masalah kegagalan fungsi drainase pembuangan air hujan untuk lingkungan pemukiman di kota Padang. Beberapa rekomendasi yang menjadi penyebab kegagalan fungsi drainase dalam mengalirkan limpahan curah hujan diantaranya saluran sekunder yang masih berupa saluran alami atau anak sungai dan sempit, kemungkinan besar dipengaruhi oleh pasang di laut, saluran drainase yang masih terputus-putus, tidak terawat, penuh sedimentasi dan sampah, tidak ada lobang yang menjadi jalur aliran permukaan untuk masuk ke dalam drainase. Pada beberapa wilayah kota Padang, masih terdapat kawasan pemukiman yang genangannya dipengaruhi banjir sungai. Sampah dan sedimentasi adalah bahan yang berpengaruh sangat besar terhadap kegagalan jaringan drainase.
ANALISIS REVEAL DAN STATED PREFERENCE TERHADAP ATRIBUT ACCESS TIME DAN FREQUENCY PADA KOMPETISI MODA BUS DAN KERETA API: STUDI KASUS MALAYSIA
Angelalia Roza;
Andi Mulya Rusli;
Mohamed Rehan Karim
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (460.589 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2017.V402.029-38
Kajian terkait kompetisi moda di negara berkembang masih menjadi topik menarik untuk diteliti. Malaysia sebagai salah satu negara berkembang misalnya, telah merealisasikan double tracking project ETS yang semakin mempertajam kompetisi moda angkutan darat antarkota di negara ini, khususnya moda bus ekspres dan kereta api ekspres. Tingginya persaingan moda tersebut dapat direpresentasikan melalui probabilitas dan preferensi moda. Pendekatan analisis dilakukan menggunakan reveal preference method yang dipertajam dengan stated preference method. Preferensi pengguna moda bus dideskripsikan dengan memunculkan analisis utilitas dan sensitivitas terhadap 12.000 data set. Melalui analisis sensitivitas, dapat diprediksi respon pengguna bus terkait perubahan nilai utilitas kedua moda tersebut. Temuan studi ini menjadi menarik, dimana probabilitas pemilihan bus berpotensi turun sebesar 59.1% (menjadi 18.1%) ketika moda kedua mampu melayani keberangkatan dengan intensitas frekuensi yang sama. Artinya, jika ditinjau dari atribut frequency, untuk mencapai balanced mode share, moda kereta api perlu meningkatkan frekuensi pelayananya menjadi 8 departures/day (meningkat 200% dari fekuensi pelayanan eksisting). Sedangkan bila ditinjau dari atribut access time dan shifting dari moda bus menuju moda kereta api mungkin pula terjadi apabila access time menuju terminal bus tidak dijaga baik seperti kondisi saat ini. Berdasarkan hasil sensitivitas analisis, kondisi balanced mode share antara moda bus dan kereta api dapat terjadi dengan sendirinya ketika access time menuju terminal bus menjadi lebih buruk (lebih lama 31 menit dari kondisi eksisting). Hal ini merupakan tantangan terhadap peningkatan pelayanan feeder mode transport di negara ini. Langkah pemerintah untuk mendisain transport hub dinilai tepat, guna memfasilitasi pergerakan ke arah utara, selatan dan timur Malaysia dengan pemisahan jaringan terminal bus inter-regional dan intra-regional di Kuala Lumpur. Maka temuan terkait kompetisi moda angkutan darat di Malaysia dapat menjadi catatan penting bagi pembuat kebijakan di negara berkembang seperti Indonesia, untuk menggalakkan penggunaan transportasi umum kedepannya.
KAJIAN KUAT TEKAN BETON DENGAN PERBANDINGAN VOLUME DAN PERBANDINGAN BERAT UNTUK BETON NORMAL MENGGUNAKAN AGREGAT ALAMI
Arman. A;
Herix Sonata M.S;
Septico Dicky Ammarta
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 4 No 2 (2017): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (239.337 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2017.V402.039-43
Pelaksanaan pengecoran beton massa di lapangan dalam skala besar kurang praktis bila dilakukan dengan menimbang setiap kebutuhan agregat pada setiap adukan. Salah satu solusi permasalahan tersebut adalah dengan mengkonversikan masing-masing kebutuhan agregat yang awalnya dalam perbandingan berat menjadi perbandingan volume berdasarkan berat satuan setiap agregat penyusunnya. Pelaksana di lapangan biasanya mempersiapkan takaran dari kayu yang mengacu pada jumlah semen. Kuat tekan beton dengan Perbandingan Berat umur 3 hari sebesar 118,37 Kg/cm² dan umur 28 hari sebesar 245,78 Kg/cm². Sedangkan kuat tekan beton dengan Perbandingan Volume umur 3 hari sebesar 106,37 Kg/cm² dan umur 28 hari sebesar 230,96 Kg/cm². Pengujian kuat tekan dilakukan pada umur 3, 7, 14, 21 dan 28 hari. Beton dengan komposisi berat mempunyai keakuratan hasil kuat tekan terhadap beton yang direncanakan yaitu beton mutu K225. Beton dengan Perbandingan Berat memiliki kekuatan tekan karakteristik yang relatif lebih tinggi dari pada beton dengan perbandingan Volume, dan beton dengan Perbandingan Berat memiliki mutu pelaksanaan yang lebih baik dari pada beton dengan Perbandingan Volume.
Studi Komparasi antara Peta Inundasi Tsunami Hasil Pemodelan TUNAMI N3 dengan Peta Topografi Daerah (Studi Kasus Kecamatan Ulak Karang, Kota Padang)
Meli Muchlian;
Leli Honesti;
Nazwar Djali
Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang Vol 8 No 2 (2021): Jurnal Teknik Sipil Institut Teknologi Padang
Publisher : ITP Press
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (590.024 KB)
|
DOI: 10.21063/jts.2021.V802.01
Sebagian besar peta rawan tsunami Indonesia, khususnya kota Padang baru mulai dirancang setelah kejadian bencana tsunami Aceh tahun 2004. Peta rawan tsunami yang tersedia sekarang memiliki sumber dan kajian yang berbeda‐beda. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis perbedaan peta inundasi hasil pemodelan dengan TUNAMI N3 dan peta inundasi tsunami berdasarkan peta topografi. Untuk penelitian ini, peta inundasi tsunami diambil dalam skala besar (1:5.000) agar dapat memberikan informasi yang lebih terperinci karena dibuat dengan ukuran grid 90 meter. Daerah tinjauan dipilih di daerah Ulak Karang, Kecamatan Padang Utara, Kota Padang, karena merupakan wilayah padat penduduk dan termasuk sebagai pusat perekonomian. Hasil elevasi tsunami maksimum pemodelan tsunami dari sumber blok Pagai dan blok Sipora adalah 6,22 m dan 2,15 m. Keberadaan Kepulauan Mentawai berperan dalam meredam energi tsunami yang bersumber dari blok Sipora menghasilkan fluktuasi elevasi gelombang tsunami di blok Sipora lebih kecil daripada blok Pagai. Perbandingan luasan terdampak inundasi blok Pagai, blok Sipora dan berdasarkan topografi adalah 48%, 22% dan 38% dari seluruh luasan daerah tinjauan. Luasan wilayah terdampak inundasi berbanding lurus dengan nilai elevasi gelombang tsunami maksimum yang dihasilkan. Peta inundasi berdasar topografi memiliki kelemahan karena menganggap tinggi elevasi tsunami pada setiap grid di bibir pantai adalah sama dengan asumsi 5 meter. Berbeda dengan peta inundasi hasil pemodelan yang memiliki data elevasi tsunami yang telah mempertimbangkan kondisi profil pantai yang terintegrasi sebagai data batimetri dalam set up pemodelan.