Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga.
Journal of Saintika Medika is a peer-reviewed and open access journal that focuses on promoting medical sciences generated from basic sciences, clinical, and community or public health research to integrate researches in all aspects of human health. This journal publishes original articles, reviews, and also interesting case reports. Brief communications containing short features of medicine, latest developments in diagnostic procedures, treatment, or other health issues that is important for the development of health care system are also acceptable. Letters and commentaries of our published articles are welcome.
Articles
16 Documents
Search results for
, issue
"Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011"
:
16 Documents
clear
Cover Vol 7 no 2
Cover .
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Malaria Serebral
Rahayu .
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4069
Malaria serebral (MS) merupakan injeksi parasit yang disebabkan malaria pada otak. MS salah satu bentuk malaria malignan dengan mortalitas tinggi. Plasmodium falciparum sebagai penyebab utama. Penyakit ini ditandai dengan kesadaran menurun, gejala dan tandaneurologis lain, dan gejala malaria tropika pada umumnya. Penanganan penyakit ini konservatif yang meliputi terapi spesiik, suportif dan perawatan umum. Kata kunci : malaria serebral, gejala & tanda neurologis, terapi konservatif.
Mikrotia
Ruby Ruana A.
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4070
Microtia is an incompletely formed ear. The term “micro” means small and “otia” means ear. Hence, when translated literally,“microtia” means small ear. At times a bump of tissue is present in the location where an ear would normally be found. In other cases,the lobule, the lower part of the ear, and the concha, the hollow part of the ear, may be partially formed and the entire upper part ofthe ear is missing. Although microtia can involve one ear or both ears, 80% of the time only one is affected. An estimate of the occurance of microtia is one in 6000 births. In this literature review will discuss the reconstruction of mikrotia
Problem of Malaria Infection
Soebaktiningsih .
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4071
Malaria is still Public Health Problem in tropical country. Failure of Mefloquine – Artesunate combination treatment of uncomplicated Plasmodium falciparum beginning to fail is due to the delayed clearance times and elevated Artesunate IC50, suggest thatArtesunate resistance may be emerging on background of Mefloquine resistance ( Rogers et al 2009). Pathogenesis of malaria in pregnancy is related to the ability of Plasmodium falciparum intra erythrocyte to sequester in the placenta. Study to understand the molecular basis of susceptibility to malaria in pregnancy has been advanced through the discovery of Chondroitin Sulfat A (CSA) molecule that support the accumulation of infected erythrocytes (IE) by Plasmodium falciparum in the placenta
Analisis Validitas Materi Uji Multiple Choise Question dengan Learning Objectives Blok Endokrin
Irma Suswati
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4072
The evaluation of block learning process uses multiple choice questions (MCQ). The MCQ graduation percentage is very lowon some blocks, especially on the Block IKD-I and Endocrine. The items used have not been tested on their validity and reliability. The purpose of this studys to determine the validity of MCQ test materials with the learning objectives of the Endocrine learning system. The research design uses observational analytical, measured by the MCQ on the difficulty level, the index of the discrimination power and the validity - reliability with alpha coefficient of KR-20 clan. The result MCQ-1 Block Endocrine shows the average value of 51, witn 38.8% completion percentage. Based on the difficulty level, 10.8% belongs to simple questions, 70.3% belongs to medium questions, 18.9% belongs to difficult questions, 27% belongs to goodquestions, 14.9% belongs to good questions but need improvement, and 58.1% belongs to poor that need to be repaired questions. While the valid and reliable items are 62.2% and the invalid and unreliable items are 37.8%. The results showed only a small number of items (25.7%) Endocrine MCQ-I test is valid, reliable, having good difficulty level and was well received. Key words: validity, reliability, questions, MCQ
Bell’s Palsy (BP)
Bahruin Moch
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4073
Bell’s Palsy adalah nama sejenis penyakit kelumpuhan perifer akibat proses (non suppuratif, non neoplasmatik, non degeneratif primer), namun sangat mungkin akibat edema pada nervus fasialis pada distal kanalis fasialis. Penyebab secara pasti belum diketahui, tetapi beberapa penelitian mendukung adanya infeksi sebagai penyebab bell’s palsy terutama HSV. Dari beberapa penelitian dan penyelidikan yang telah dilakukan ternyata 75% dari paralisis fasial adalah Bell’s Palsy. Permasalahan yang di timbulkan Bell’s Palsy cukup kompleks, diantaranya: masalah kosmetika dan psikologis. Adanyakelumpuhan pada otot wajah menyebabkan wajah tampak mencong dan ekspresi abnormal, sehingga menjadikan penderitanya merasa minder dan kurang percaya diri. Diagnosis dapat ditegakkan secara klinik setelah penyebab yang jelas untuk lesi nervus fasialis perifer disingkirkan. Terapi yang dianjurkan saat ini ialah pemberian prednison, fisioterapi dan kalau perlu operasi. Penanganan yang di berikan sedini mungkin sangat di perlukan untuk mengembalikan fungsi otot-otot wajah, dan mengembalikan penampilan.
Pencegahan Kejadian Kardiovaskuler pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Indah Serinurani Effendi
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4074
WHO memprediksi adanya peningkatan angka insiden dan prevalensi Diabetes Mellitus (DM) tipe2 diberbagai penjuru dunia . Untuk Indonesia ,WHO meprediksi kenaikan jumlah pasien dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta pada tahun 2030. Suatu jumlah yang sangat besar dan merupakan beban yang sangat berat untuk dapat ditangani sendiri oleh dokter spesialis/ sub spesialis, maka perlu strategi pelayanan kesehatan primer sebagai ujung tombak menjadi sangat penting untuk lebih berperan dalam penanganan DM sederhana dan mencegah terjadinya penyulit DM, antara lain risiko penyakit kardiovaskuler. Perlu penangan terpadu pada penyakit tidak menular dan berkesinambungan. Dibutuhkan kontrol rutin antara lain gula darah puasa <130 mg/dl , gula darah 2jpp <200 mg/dl, HbA1c <7, Tensi 130/80 mm Hg , Total cholesterol < 200 mg/dl, Kholesterol LDL < 160 mg/dl, Kholesterol HDL > 50mg/dl . Disamping itu perlu menilai risiko Kardiovaskuler dengan Framingham Risk Score (FRS).Kata kunci : Diabetes Mellitus, Risiko Kardiovaskuler, Framingham Risk Score.
Hipertensi dan Retinopati Hipertensi
Alfa Sylvestris
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4075
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanggulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi seperti ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi, dan adanya riwayat hipertensi dalam keluarga. Prevalensi hipertensi di Indonesia 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risikonya. Hipertensi menimbulkan akibat (komplikasi), baik jangka pendek maupun jangka panjang. Akibat jangka pendek disebabkan oleh kenaikan yang cepat dari tekanan darah sehingga terjadi kerusakan (nekrosis) pada dinding pembuluh darah. Akibat jangka panjang disebabkan oleh lamanya tekanan darah tinggi tersebut mempengaruhi dinding pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah sistemik berhubungan dengan peningkatan tonus vaskular, di dalam mekanisme tersebut, terdapat penurunan produksi atau akivitas mediator vasodilatasi seperti endothelium-derived nitric oxide dan protasiklin, pada saat yang sama terdapat mekanisme peningkatan produksi mediator vasokonstriksi seperti angiotensin II dan endotelin-1. Ketidakseimbangan tersebut dinamakan disfungsi endotel. Komplikasi hipertensi melibatkan beberapa organ vital tubuh seperti : penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit hipertensi serebrovaskular, hipertensi ensefalopati dan hipertensi retinopati. Pada keadaan hipertensi, pembuluh darah retina akan mengalami beberapa seri perubahan patofisiologis sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah. Terjadi spasme arterioles dan kerusakan endothelial pada tahap akut, pada tahap kronis terjadi hialinisasi pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi retinopati menunjukkan keparahan dan kronisitas dari hipertensi dan tanda-tanda retinopati ini dapat dipakai untuk memprediksi mortalitas pada pasien hipertensi.Kata kunci : hipertensi – retinopati hipertensi – mortalitas pasien hipertensi
Braint Natriuretic Peptide (BNP)
Isbandiyah .
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4076
Gagal jantung merupakan suatu sindroma klinik dengan tanda dan gejala yang disebabkan disfungsi ventrikel kiri. Untukmenghemat biaya perawatan dan pengobatan diperlukan diagnosis yang cepat dan akurat, serta strategi pengobatan yang tepat, yaitu antara lain dengan mengukur nilai brain natriuretic peptide (BNP). BNP adalah suatu neurohormon jantung, terutama dihasilkan oleh ventrikel sebagai respon terhadap expansi volume ventrikel, tekanan yang berlebihan (overload), dan meningkatnya tekanan dinding ventrikel. Dua metode dalam pemeriksaan BNP, yaitu metode radioimmunoassay (RIA) dan immunoradiometricassay (IRMA) atau fluorescence immunoassay (FI). BNP dapat digunakan untuk diagnosis gagal jantung dengan cepat, untuk membedakan sesak karena gagal jantung dengan akibat penyakit lain, pemeriksaan (screening) gangguan sistolik ventrikular kiri pada pasien setelah serangan infark miokard, sebagai monitoring gagal jantung dan juga indikator prognosis gagal jantung. Nesiritid sebagai human recombinant dari BNP dapat digunakan sebagai terapi pasien gagal jantung. Pada akhirnya BNP tidak bisa mengganti peran ekokardiografi, tetapi sebagai alat pelengkap, hal ini karena BNP tidak dapat membedakan antara disfungsi diastolik dan sistolik dan tidak memberikan informasi tentang kelainan katub dan fungsinya.
Metabolisme Asam Lemak Otot Jantung
Hawin Nurdiana
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4077
Otot jantung memiliki ATP content yang relatif rendah (5 μmol/g wet wt) dan hidrolisis ATP yang cepat ( 0.5 μmol · g wetwt–1 · s–1 at rest), jadi pada kondisi normal cadangan ATP mengalami pergantian secara lengkap tiap 10 detik (Stanley et al., 2005). Sekitar 60–70% hidrolisis ATP digunakan untuk kontraksi, sedangkan 30–40% sisanya digunakan untuk sarcoplasmic reticulum Ca2+- ATPase dan pompa ion lainnya (Suga H, 1990). Pada jantung normal kecepatan fosforilasi oksidatif berhubungan dengan kecepatan hidrolisis sehingga ATP content tetap konstan meskipun pada saat kekuatan jantung meningkat hebat (Balaban RS,1990), seperti saatexercise atau stress katekolamin akut. Fosforilasi oksidatif dalam mitokondria dicukupi oleh energi dari elektron yang ditransfer dari hasil reaksi dehidrogenasi yang menghasilkan NADH dan FADH2 pada jalur oksidasi b asam lemak, siklus asam sitrat, dan dalam jumlah kecil oleh reaksi dehidrogenasi piruvat dan glikolisis. Acetyl-CoA yang dibutuhkan dalam siklus asam sitrat dihasilkan dari dekarboksilasi piruvat dan oksidasi asam lemak. Pada jantung yang normal, 60–90% acetyl-CoA berasal dari oksidasi asam lemak dan 10–40% berasal dari oksidasi piruvat yang diperoleh dalam jumlah yang hampir sama dengan yang berasal dari glikolisis dan oksidasi laktat (Stanley et al., 2005). Oksidasi asam lemak mencukupi 60-70% kebutuhan energi otot jantung (Kudo N et al., 1995). Meskipun demikian, mekanisme uptake asam lemak rantai panjang melalui oksidasi b belum sepenuhnya diketahui (Luiken JJ et al., 2001). Kata Kunci: asam lemak, otot jantung