Articles
Hipertensi dan Retinopati Hipertensi
Sylvestris, Alfa
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 7, No 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (236.879 KB)
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4075
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanggulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi seperti ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi, dan adanya riwayat hipertensi dalam keluarga. Prevalensi hipertensi di Indonesia 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risikonya. Hipertensi menimbulkan akibat (komplikasi), baik jangka pendek maupun jangka panjang. Akibat jangka pendek disebabkan oleh kenaikan yang cepat dari tekanan darah sehingga terjadi kerusakan (nekrosis) pada dinding pembuluh darah. Akibat jangka panjang disebabkan oleh lamanya tekanan darah tinggi tersebut mempengaruhi dinding pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah sistemik berhubungan dengan peningkatan tonus vaskular, di dalam mekanisme tersebut, terdapat penurunan produksi atau akivitas mediator vasodilatasi seperti endothelium-derived nitric oxide dan protasiklin, pada saat yang sama terdapat mekanisme peningkatan produksi mediator vasokonstriksi seperti angiotensin II dan endotelin-1. Ketidakseimbangan tersebut dinamakan disfungsi endotel. Komplikasi hipertensi melibatkan beberapa organ vital tubuh seperti : penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit hipertensi serebrovaskular, hipertensi ensefalopati dan hipertensi retinopati. Pada keadaan hipertensi, pembuluh darah retina akan mengalami beberapa seri perubahan patofisiologis sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah. Terjadi spasme arterioles dan kerusakan endothelial pada tahap akut, pada tahap kronis terjadi hialinisasi pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi retinopati menunjukkan keparahan dan kronisitas dari hipertensi dan tanda-tanda retinopati ini dapat dipakai untuk memprediksi mortalitas pada pasien hipertensi.Kata kunci : hipertensi – retinopati hipertensi – mortalitas pasien hipertensi
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PLETEKAN (RUELLIA TUBEROSA L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) STRAIN WISTAR YANG DIINDUKSI ALLOXAN
Ayundha Sari, Rizky;
Sylvestris, Alfa;
Bahrudin, Moch
Saintika Medika: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Kedokteran Keluarga Vol 9, No 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (231.008 KB)
|
DOI: 10.22219/sm.v9i1.4123
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pletekan (Ruellia Tuberosa L.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Strain Wistar Yang Diinduksi Alloxan. Belum banyak diketahui bahwa daun pletekan mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan serta meningkatkan aktifitas insulin sehingga dapat berfungsi sebagai protektor sel ? pankreas dan mampu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus. Tujuan : Membuktikan adanya pengaruh pemberian ekstrak daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar yang diinduksi Alloxan. Metode : True Experimental, dengan rancangan Pre post test Control Desain. Sampel tikus putih strain wistar yang dibagi 4 kelompok. Analisis data menggunakan One way Anova, uji tukey 1%. Hasil Penelitian dan Diskusi : Dari hasil uji One way Anova, didapatkanpengaruh yang bermakna (nilai sig p < 0,01) antar kelompok dan perlakuan. Hasil uji tukey 1%, menunjukkan bahwaterdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan dalam penelitian, yakni kenaikan dosis ekstrak pletekan mampu melindungi sel ? pankreas dan menyebabkan penurunan kadar glukosa darah tikus putih. Kesimpulan :Pemberian ekstrak daun pletekan mampu sebagai protektor terhadap sel ? pancreas dan menurunkan secara signifikankadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus norvegicus) strain wistar yang diinduksi Alloxan.
Hipertensi dan Retinopati Hipertensi
Alfa Sylvestris
Saintika Medika Vol. 7 No. 2 (2011): Desember 2011
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v7i2.4075
Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang memerlukan penanggulangan yang baik. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi prevalensi hipertensi seperti ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi, dan adanya riwayat hipertensi dalam keluarga. Prevalensi hipertensi di Indonesia 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risikonya. Hipertensi menimbulkan akibat (komplikasi), baik jangka pendek maupun jangka panjang. Akibat jangka pendek disebabkan oleh kenaikan yang cepat dari tekanan darah sehingga terjadi kerusakan (nekrosis) pada dinding pembuluh darah. Akibat jangka panjang disebabkan oleh lamanya tekanan darah tinggi tersebut mempengaruhi dinding pembuluh darah. Peningkatan tekanan darah sistemik berhubungan dengan peningkatan tonus vaskular, di dalam mekanisme tersebut, terdapat penurunan produksi atau akivitas mediator vasodilatasi seperti endothelium-derived nitric oxide dan protasiklin, pada saat yang sama terdapat mekanisme peningkatan produksi mediator vasokonstriksi seperti angiotensin II dan endotelin-1. Ketidakseimbangan tersebut dinamakan disfungsi endotel. Komplikasi hipertensi melibatkan beberapa organ vital tubuh seperti : penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit hipertensi serebrovaskular, hipertensi ensefalopati dan hipertensi retinopati. Pada keadaan hipertensi, pembuluh darah retina akan mengalami beberapa seri perubahan patofisiologis sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah. Terjadi spasme arterioles dan kerusakan endothelial pada tahap akut, pada tahap kronis terjadi hialinisasi pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi retinopati menunjukkan keparahan dan kronisitas dari hipertensi dan tanda-tanda retinopati ini dapat dipakai untuk memprediksi mortalitas pada pasien hipertensi.Kata kunci : hipertensi – retinopati hipertensi – mortalitas pasien hipertensi
PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK DAUN PLETEKAN (RUELLIA TUBEROSA L.) TERHADAP KADAR GLUKOSA DARAH PADA TIKUS PUTIH (RATTUS NOVERGICUS) STRAIN WISTAR YANG DIINDUKSI ALLOXAN
Rizky Ayundha Sari;
Alfa Sylvestris;
Moch Bahrudin
Saintika Medika Vol. 9 No. 1 (2013): Juni 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v9i1.4123
Pengaruh Pemberian Ekstrak Daun Pletekan (Ruellia Tuberosa L.) Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Tikus Putih (Rattus Novergicus) Strain Wistar Yang Diinduksi Alloxan. Belum banyak diketahui bahwa daun pletekan mengandung senyawa flavonoid yang berkhasiat sebagai antioksidan serta meningkatkan aktifitas insulin sehingga dapat berfungsi sebagai protektor sel β pankreas dan mampu menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus. Tujuan : Membuktikan adanya pengaruh pemberian ekstrak daun pletekan (Ruellia tuberosa L.) terhadap kadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus novergicus) strain wistar yang diinduksi Alloxan. Metode : True Experimental, dengan rancangan Pre post test Control Desain. Sampel tikus putih strain wistar yang dibagi 4 kelompok. Analisis data menggunakan One way Anova, uji tukey 1%. Hasil Penelitian dan Diskusi : Dari hasil uji One way Anova, didapatkanpengaruh yang bermakna (nilai sig p < 0,01) antar kelompok dan perlakuan. Hasil uji tukey 1%, menunjukkan bahwaterdapat perbedaan yang bermakna antar kelompok perlakuan dalam penelitian, yakni kenaikan dosis ekstrak pletekan mampu melindungi sel β pankreas dan menyebabkan penurunan kadar glukosa darah tikus putih. Kesimpulan :Pemberian ekstrak daun pletekan mampu sebagai protektor terhadap sel β pancreas dan menurunkan secara signifikankadar glukosa darah pada tikus putih (Rattus norvegicus) strain wistar yang diinduksi Alloxan.
HIPERTENSI DAN RETINOPATI HIPERTENSI
Alfa Sylvestris
Saintika Medika Vol. 10 No. 1 (2014): Juni 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/sm.v10i1.4142
mempengaruhi prevalensi hipertensi seperti ras, umur, obesitas, asupan garam yang tinggi, dan adanya riwayat hipertensi dalam keluarga. Prevalensi hipertensi di Indonesia 6-15% pada orang dewasa, 50% diantaranya tidak menyadari sebagai penderita hipertensi sehingga mereka cenderung untuk menjadi hipertensi berat karena tidak menghindari dan tidak mengetahui faktor risikonya. Hipertensi menimbulkan akibat (komplikasi), baik jangka pendek maupun jangka panjang. Akibat jangka pendek disebabkan oleh kenaikan yang cepat dari tekanan darah sehingga terjadi kerusakan (nekrosis) pada dinding pembuluh darah. Akibat jangka panjang disebabkan oleh lamanya tekanan darah tinggi tersebut mempengaruhi dinding pembuluh darah.Peningkatan tekanan darah sistemik berhubungan dengan peningkatan tonus vaskular, di dalam mekanisme tersebut, terdapat penurunan produksi atau akivitas mediator vasodilatasi seperti endothelium-derived nitric oxide dan protasiklin, pada saat yang sama terdapat mekanisme peningkatan produksi mediator vasokonstriksi seperti angiotensin II dan endotelin-1. Ketidakseimbangan tersebut dinamakan disfungsi endotel.Komplikasi hipertensi melibatkan beberapa organ vital tubuh seperti : penyakit jantung dan pembuluh darah, penyakit hipertensi serebrovaskular, hipertensi ensefalopati dan hipertensi retinopati. Pada keadaan hipertensi, pembuluh darah retina akan mengalami beberapa seri perubahan patofisiologis sebagai respon terhadap peningkatan tekanan darah. Terjadi spasme arterioles dan kerusakan endothelial pada tahap akut, pada tahap kronis terjadi hialinisasi pembuluh darah yang menyebabkan berkurangnya elastisitas pembuluh darah. Hipertensi retinopati menunjukkan keparahan dan kronisitas dari hipertensi dan tanda-tanda retinopati ini dapat dipakai untuk memprediksi mortalitas pada pasien hipertensi.Kata kunci : hipertensi – retinopati hipertensi – mortalitas pasien hipertensi
Peran Karotenoid Sebagai Pencegahan Degenerasi Makula
Aryani Vindhya Putri;
Nabila Nurmalina;
Alfa Sylvestris;
Annisa Hanifwati
ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 4 No 1 (2022): November
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37148/arteri.v4i1.243
Macular degeneration or often called Age-related Macular Degeneration (AMD) is a degenerative disease that attacks the center of vision in the retina, namely the macula. In an effort to prevent the progression of AMD, consuming antioxidants has been shown to inhibit the AMD development process. Although currently there is no definite number of AMD sufferers in Indonesia, it is estimated that the number of AMD sufferers will continue to increase. Carotenoids are one of the antioxidant compounds that have been shown to inhibit the development of macular degeneration. Carotenoids are divided into several classes, one of which is the xanthophyll class. Lutein and zeaxanthin compounds belong to the xanthophyll class. The content of lutein and zeaxanthin in body plasma has been shown to reduce the risk of macular diseases such as AMD. This study aims to determine the role of carotenoids as the prevention of macular degeneration. The method used is a literature review in the form of a narrative review. Search literature in the form of journals and textbooks through Google Scholar, PubMed, Science Direct, and Research Gate, indexed by Scopus, ISSN, national journals and international journals. The journals used were published in the last 5 years and books published in the last 10 years. The results of the analysis show that carotenoid antioxidants are proven to be able to act as a prevention of AMD by reducing oxidative stress. Carotenoids will quench free radicals, thereby preventing the occurrence of lipid peroxidation, and preventing the formation of AMD. Carotenoids also prevent damage mediated by exposure to blue light. Consumption of lutein and zeaxanthin can also reduce the expression of VEGF (vascular endothelial growth factor) in the retina so that it can inhibit the increase of VEGF. It can be concluded that carotenoid antioxidants can prevent the progression of macular degeneration.
Potensi Ekstrak Jagung Sebagai Pencegahan Katarak
Sri Mariati;
Danang Diasrullah Bhekti;
Alfa Sylvestris;
Risma Karlina Prabawati
ARTERI : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 4 No 1 (2022): November
Publisher : Puslitbang Sinergis Asa Professional
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.37148/arteri.v4i1.246
Senile cataract is a cataract caused by the aging process that begins at the age of more than 50 years caused by free radicals, such as reactive oxygen species (ROS), formed as a result of external and internal exposure. Utilization of the potential of this corn extract has advantages with minimal side effects by utilizing corn extract, namely lutein zeaxanthin as a prevention of senile cataract. The main purpose of this literature review is to determine the potential of corn extract (Zea mays sp.) on the prevention of senile cataract. This research is literature study using national and international journals with the Scopus index published in 2016-2021 as well as literature books. Journals were obtained from search engines Google Scholar and Pubmed NCBI. Data and information obtained to support the research objectives. Cataracts are caused by Reactive Oxidative Stress (ROS). Zeaxanthin compounds work with their antioxidant properties by activating the synthesis of glutathione (GSH) in human RPE cells. Zeaxanthin increases the translocation of Nuclear receptor factor 2(Nrf2) by reducing the binding activity of Nrf2 to Kelch like ECH-Aasosiated protein 1 (Keapl1) in ARPE-19 cells. Furthermore, inhibition of GSH synthesis by buthionine suphoximine abolished the protective effect of zeaxanthin against oxidative stress-induced reduction of mitochondrial membrane potential and cell apoptosis in ARPE-19 cells thereby helping to prevent the formation of oxidative stress causing senile cataract. Corn extract (Zea mays sp.) has potential in the prevention of senile cataract because it has good antioxidant activity
The Relationship Between Eye Distance To The Computer And Computer Vision Syndrome (CVS) Complaints
Alfa Sylvestris;
Salma Nurisna Ulfairoh;
Bragastio Sidharta
Herb-Medicine Journal: Terbitan Berkala Ilmiah Herbal, Kedokteran dan Kesehatan Vol 6, No 2 (2023): Herb-Medicine Journal October 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Purwokerto
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30595/hmj.v6i2.19095
The use of computers is now commonplace among individuals, ranging from students to professionals. Computers offer numerous advantages, leading to a high dependency on them, particularly among office workers, who incorporate computer usage into their daily activities. In general, the occupational setting necessitates prolonged computer usage, thereby leading to inadvertent exposure to the computer screen/monitor and subsequent development of eye-related complaints, including Computer Vision Syndrome (CVS). This study aimed to investigate the correlation between eye distance to the computer and the occurrence of CVS symptoms. This research employs an analytical observational study design with a cross-sectional approach. The study sample consists of employees from the Middle Type Customs and Excise Service Office (KPPBC TMC) in Malang. The sample selection was based on the prolonged duration of computer usage, averaging 6 hours per working day. The study findings indicated a significant correlation between the viewing distance to the computer screen and the occurrence of CVS complaints among the respondents. Among the total of 65 respondents, 66.2% experienced CVS complaints, with the most predominant symptom being tired eyes at 53.8%. A higher proportion of respondents (53.8%) had an eye distance from the computer of less than 50 cm, compared to those with an eye distance of more than 50 cm (46.2%). The majority of respondents in this study were in the age range of 25-29 years, comprising 40% of the sample. Among them, the majority were male, accounting for 57.7% of the respondents.
Pengaruh Pengetahuan Sinar Ultraviolet Terhadap Gejala Katarak Pada Pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang
Wahyono, Akbar Pandu;
Noor, Viva Maiga Mahliafa;
Indradi, Rubayat;
Sylvestris, Alfa
Oftalmologi : Jurnal Kesehatan Mata Indonesia Vol 7 No 1 (2025): Oftalmologi: Jurnal Kesehatan Mata Indonesia
Publisher : Pusat Mata Nasional Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.11594/ojkmi.v7i1.82
Pendahuluan: Katarak ialah keadaan dimana lensa mata yang biasanya jernih menjadi keruh. Sebanyak 81,2% dari 8 juta orang Indonesia yang mengalami gangguan penglihatan pada tahun 2017 disebabkan oleh katarak. Pajanan kronis sinar (UV) adalah salah satu dari banyak faktor risiko di tempat kerja dimana Indonesia adalah salah satu negara dengan iklim tropis. Risiko penyakit akibat kerja meningkat di sub sektor perkebunan oleh karena pajanan sinar UV. Rendahnya pendidikan di masyarakat berpengaruh terhadap kemampuan pemahaman dan tingkat kesadaran akan penyakit katarak yang rendah. Metode: Desain penelitian ini adalah observasional analitik dengan pendekatan cross sectional dengan pengambilan data menggunakan kuesioner yang kemudian dianalisis secara deskriptif dan analitik melalui software IBM SPSS versi ke-23 dengan menggunakan Uji Statistik Pearson Chi-Square dengan total responden sebanyak 46 pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang. Hasil: Tidak didapatkan pengaruh pengetahuan paparan sinar UV terhadap gejala katarak pada pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang dengan nilai p-value = 0,668 (p>0,05) Kesimpulan: Tingkat pengetahuan paparan sinar ultraviolet tidak memberikan pengaruh terhadap gejala katarak pada pekerja Kebun Teh Wonosari Kabupaten Malang karena pada responden dengan kategori pengetahuan rendah tidak ditemukan gejala katarak dengan frekuensi yaitu 38 orang dan 1 orang dengan gejala katarak sehingga pengetahuan tidak berpengaruh terhadap gejala katarak.
Eye Problems Education In The First Level Health Facility (Fktp) In Order To Improve The Role Of Fktp In The Covid-19 Pandemic
Alfa Sylvestris;
Aryani Vindhya Putri;
Feny Tunjungsari;
Patmawati
DokTIn MEDIKA Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2025): August 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22219/dm.Vol4.DM2.27109
Background: FKTP as the first gateway for the community to obtain health services has a role in carrying out promotive and preventive functions as well as providing education to the community, especially to maintain health. Various problems in the community related to eye complaints in the era of the covid-19 pandemic are of special concern, such as complaints of red eyes. This complaint is often underestimated by the community so that it makes them go to the doctor in an already severe condition. FKTP as the frontline needs to understand and recognize various pink eye complaints as early as possible so that they can carry out appropriate and accurate therapy, and if necessary, make tiered referrals to ophthalmologists. Likewise with refractive errors which are often neglected, FKTP must strengthen its function in conducting initial refraction checks to avoid refractive errors in patients. Objective: This counseling is intended to help increase awareness of general practitioners who are at the forefront of FKTP on red eye disorders and refractive errors in patients in the era of the covid-19 pandemic. Methods: This activity consists of three stages, namely pre-test, counseling, and post-test, then data collection and evaluation. Results: The results of the evaluation of this activity were the increased knowledge of general practitioners regarding the problems encountered in FKTP, especially red eye and refractive errors. A total of 52 general practitioners (84.6%) had good knowledge after counseling about eye problems in FKTP, especially red eyes and refractive disorders.