cover
Contact Name
Shofwan Al Banna Choiruzzad
Contact Email
shofwan.albanna@gmail.com
Phone
+62217873744
Journal Mail Official
global@ui.ac.id
Editorial Address
Jl. Prof. Selo Soemardjan, Nusantara 2 2nd Floor, Faculty of Social and Political Science Universitas Indonesia, Depok City 16424, Indonesia
Location
Kota depok,
Jawa barat
INDONESIA
Global: Jurnal Politik Internasional
Published by Universitas Indonesia
ISSN : 14115492     EISSN : 25798251     DOI : https://doi.org/10.7454/global
Core Subject :
Global: Jurnal Politik Internasional is a biannual peer-reviewed journal that specialises in foreign policy, international security, international political economy, and transnational issues involving actors of the Global South, having implications towards the Global South, or perspectives from the Global South that are often overlooked in the mainstream journals in the Global North. With its first issue published in 1990, Global is the oldest university-based journal of International Relations in Indonesia, a historically leading actor in the Global South. Hosted by the Department of International Relations, Universitas Indonesia, Global has been serving as one of the primary platforms for ideas exchanges among Indonesia’s most influential thinkers and beyond. In its attempt to internationalise and further bridge the North and South perspectives, the journal welcomes submission of manuscripts that would be of interest to scholarly communities and policymakers. For this purpose, since 2019 Global only publishes articles in English. Global publishes two types of articles: original research articles offering theory-driven empirical analysis and review articles that critically examine contemporary debates in International Relations literature.
Arjuna Subject : -
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol. 17, No. 1" : 6 Documents clear
Pendidikan Multikultural dalam Rangka Memperkuat Kewaspadaan Nasional Menghadapi Ancaman Radikalisme di Indonesia Hikam, Muhammad AS
Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Multicultural education is a set of strategies to strengthen national integration aimed at facing possible threat to national security. Multiculturalism reflects Indonesia's socio-political realities due to the existing ethnic and cultural background of the nation. The diversity is both a priceless wealth and, at the same time, a potential threat factor that could endanger Indonesia's national security. Therefore, the government needs a breakthrough by implementing and strengthening its national vigilance among Indonesian people through multicultural education. The latter would widen and deepen the people's understanding of diversities that exist in society as well as enforce a sense of belongingness and solidarity. The implementation of multicultural education must be a join effort of government and the civil society in the forms of formal, informal, and non formal curricula.
Prospek Diplomasi Indonesia dalam Kerjasama Selatan-Selatan: Refleksi Teoritis Kajian Kapitalisme Konsumen di Era Susilo Bambang Yudhoyono Falahi, Ziyad
Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper analyzes the consumer capitalism in Susilo Bambang Yudhoyono's administration and its influence to Indonesian diplomacy. Study of consumer capitalism is relevant in analyzing the case of South-South cooperation that reflects new model of international division of labor. Consumer capitalism divides Southern countries into two types, producers, such as China, India, Brazil, and Russia, and consumers, such as Indonesia. Indonesian government's plan to be vital part of South-South Cooperation needs to be requestioned, considering Indonesia's economy that heavily relied on consumption. Consumer capitalism can become a buffer of the Indonesian economy to face the 2008 global crisis, but its implications in the future will only marginalized Indonesia.
The Dagger and The Shield: The Ballistic Missile Defence and Sino-US Strategic Relationship Supriyanto, Ristian Atriandi
Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tumpang tindih antara intelijen dan diplomasi merupakan salah satu area yang merupakan dimensi yang hilang dari kajian stratejik intelijen maupun ilmu hubungan internasional, walaupun ia bersifat krusial terhadap pemahaman atas hubungan politik antarnegara. Berangkat dari pertimbangan tersebut, tulisan ini membahas hubungan intelijen dan diplomasi dalam hal bagaimana tiap-tiap bidang memengaruhi bidang lainnya dalam lingkup yang lebih luas terkait upaya negara memenuhi kepentingan nasionalnya. Tulisan ini juga membahas bagaimana aktivitas organisasi-organisasi intelijen melengkapi serta merumitkan praktik diplomasi, begitu pula sebaliknya. Dari pembahasan tulisan ini, disimpulkan bahwa terdapat tumpang tindih yang krusial antara intelijen dan diplomasi dalam hubungan politik antarnegara, dan terdapat kecenderungan bahwa aktivitas intelijen merumitkan praktik diplomasi. Oleh karena itu, hubungan intelijen dan diplomasi internasional sudah sepantasnya memperoleh pengkajian yang lebih sering dan serius.
Strategi Hedging Indonesia terhadap Klaim Teritorial Tiongkok di Laut Tiongkok Selatan Kusumasomantri, Aisha Rasyidila
Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Menghadapi potensi ancaman serangan senjata rudal pemusnah massal dari rogue states, seperti Iran and Korea Utara, Amerika Serikat (AS) merespon dengan mendirikan program Pertahanan Rudal Balistik (BMD) untuk menembak jatuh rudal-rudal tersebut di angkasa. Akan tetapi, Republik Rakyat Cina (RRC) menganggap program BMD AS itu tidak hanya bertujuan untuk menghadapi rogue states, namun juga RRC. RRC menilai rudal dan senjata nuklir sebagai "belati" yang telah berhasil menjamin stabilitas internasional melalui penciptaan hubungan saling gentar (mutual deterrence) di antara kekuatan-kekuatan nuklir dunia. Sementara program BMD yang diibaratkan sebagai "perisai" dianggap hanya akan mendestabilisasi hubungan tersebut. Guna mengimbangi BMD AS, RRC akan meningkatkan jumlah dan kualitas rudal serta senjata nuklirnya hingga tetap kredibel dalam menjaga hubungan saling gentar dengan AS. Kondisi ini justru akan menciptakan lingkungan strategis internasional yang makin tidak stabil dan bahkan berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir antara RRC dengan AS. Untuk mencegah kondisi tersebut, AS harus meyakinkan RRC bahwa program BMD hanya digunakan untuk menghadapi rogue states.
Intelijen dan Diplomasi Internasional Chairil, Tangguh
Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The overlap between intelligence and diplomacy is one of the lost dimension of strategic intelligence and international relations studies, despite being crucial to understanding the politics among states. Departing from these considerations, this paper discusses the relationship between intelligence and diplomacy in the areas of how one affects another in a wider scope related to the states' efforts to meet their national interests. This paper also discusses how the activities of intelligence organizations complements and complicates diplomatic practice, and vice versa. From the discussions, this article concludes that there is a crucial overlap between intelligence and diplomacy in political relations among states, and there is a tendency that intelligence activities complicate the practices of diplomacy. Therefore, the relations between intelligence and international diplomacy requires more frequent and serious assessment.
A Nationalist Human Resource as a Vital Asset for Indonesia’s Development Fabrian, Dira Tiarasari
Global: Jurnal Politik Internasional Vol. 17, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyaknya populasi sebuah negara bagaikan pedang bermata dua. Di satu sisi, dapat menjadi aset penting bagi pembangunan negara namun di sisi lain dapat menjadi beban bagi pemerintah karena semakin banyak biaya-biaya sosial yang dikeluarkan. Agar populasi dapat dijadikan sebagai aset sepenuhnya, diperlukan pemberian pendidikan dan pelatihan keterampilan. Namun kedua faktor itu saja tidak cukup. Ada unsur non-tangible yang lebih penting lagi: nasionalisme. Nasionalisme merupakan faktor utama suksesnya pembangunan negara, dan oleh sebab itu, sudah seharusnya seluruh warga negara Indonesia - yang juga merupakan sumber daya manusia dalam proses pembangunan - memiliki tingkat nasionalisme yang tinggi. Cina dan India, dua negara dengan populasi terbesar di dunia, telah membuktikan bahwa sumber daya manusia mereka telah berhasil mengantarkan mereka menjadi dua kekuatan ekonomi raksasa dunia pada saat ini. Dengan populasi keempat terbesar di dunia, Indonesia seharusnya bisa mengikuti jejak kedua negara tersebut. Indonesia hanya perlu belajar dari kesuksesan Cina dan India dalam hal pembangunan nasionalisme.

Page 1 of 1 | Total Record : 6