cover
Contact Name
Fatkhu Rohmatin
Contact Email
jumantara.perpusnas2010@gmail.com
Phone
+6285748946460
Journal Mail Official
jumantara.perpusnas2010@gmail.com
Editorial Address
Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jln. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 20871074     EISSN : 26857391     DOI : https://doi.org/10.37014/jumantara
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara menyajikan informasi mutakhir hasil kajian literatur dan penelitian bidang ilmu filologi dan pernaskahan Nusantara, yang mencakup: Kajian kodokologis, Teori-teori filologi, Edisi teks naskah kuno dan analisisnya, Kajian historis kepengarangan naskah kuno dan karyanya, Kajian multidisiplin berbasis naskah nusantara. Objek yang dijadikan kajian secara khusus bersumber pada naskah-naskah kuno Nusantara baik yang tersimpan di wilayah Nusantara maupun di luar wilayah Nusantara. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara membuka kesempatan seluas-luasnya bagi peneliti naskah kuno Nusantara dari seluruh wilayah di dunia untuk turut berpartisipasi dalam penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan focus dan scope jurnal.
Articles 6 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 1 (2011): Juni" : 6 Documents clear
Sastra Lama Tulis sebagai Kelanjutan Tradisi Lisan dalam Ranah Sastra Jawa Karsono Hardjo Saputra
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.197 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.122

Abstract

Pada mulanya adalah bahasa, yang menurut ilmu bahasa adalah sistem bunyi yang berpola dan bermakna. Keberpolaan dan kebermaknaan bergantung pada konvensi masyarakat penggunanya. Pengertian keberpolaan adalah kemunculannya sebagai suatu sistem dapat diramalkan. Sebagai contoh, runtunan bunyi bahasa mempunyai pola-pola baku sesuai dengan tatarannya: morfem, kata, frasa/klausa, kalimat, dan seterusnya. Demikian pun pada tataran gramatika dan semantik. Adapun yang dimaksud kebermaknaan adalah setiap satuan tata susun bunyi mempunyai makna. Sementara konvensi diperlukan, baik disadari atau tidak, karena fungsi bahasa pertama-tama merupakan sarana komunikasi antaranggota masyarakat pemiliknya. Baik pola maupun makna berada dalam ranah konvensi agar bahasa dapat mengemban amanah komunikasinya.Oleh karena sebagai sistem bunyi, maka bahasa memiliki sifat kelisanan (orality). Bunyi-bunyi yang berpola itu keluar melalui alat ucap (daerah artikulasi) si pembicara, diserap oleh alat dengar lawan bicara, lalu disepakati maknanya. Komunikasi akan terjadi apabila maksud si pembicara yang dinyatakan melalui bunyi-bunyi bahasa dapat ditangkap oleh lawan bicara. Sebaliknya, komunikasi tidak terjalin apabila makna tidak berkesusaian antara pembicara dan lawan bicara.Pada perkembangan kemudian bahasa yang pada mulanya berfungsi sebagai sarana komunikasi juga mengemban tugas lain—meski juga tetap berada pada ranah “komunikasi”—sebagai sarana ekspresi seni: sastra, pertunjukan, bahkan juga ekspresi keagamaan: mantra dan doa, walaupun pada tataran tertentu ada juga mantra yang dikelompokkan sebagai “puisi”. Dalam ranah kebudayaan Jawa tradisional, baik sastra, seni pertunjukan (kethoprak, wayang, ludruk, dan sebagainya), mantra, maupun doa dinyatakan secara verbal. Dalam lingkup sastra maka kemudian lahirlah sastra lisan, bak puisi maupun prosa. Pengertian sastra lisan adalah teks yang hidup dengan cara dilisankan, dilakukan seseorang atau beberapa orang, dan ada sekelompok orang lain yang menjadi pendengarnya; bahkan berkemungkinan ada saling sahut antara pelisan (tukang cerita) dan pendengar.
Akulturasi Penyebutan Konsepsi Tuhan pada Teks Sastra Suluk Marsono Marsono
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.316 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.118

Abstract

Budaya Nusantara telah terbentuk sejak 3.000.000 sampai 10.000 tahun sebelum Masehi. Budaya pada masa ini disebut budaya Nusantara purba. Hidup nenek moyang bangsa ini pada masa itu sangat  tergantung pada alam. Mereka merupakan manusia primitif prasejarah. Kepercayaan mereka pada masa purba adalah Animisme dan Dinamisme Mereka memuja dan menyembah roh nenek moyang karena dianggap banyak pengalaman dan dipercaya mempunyai kekuatan gaib. Muncullah upacara-upacara pemujaan kepada roh leluhur. Mereka juga menganggap bahwa semua benda di sekitarnya mempunyai kekuatan gaib. Pergaulan  melalui perdagangan dengan bangsa asing, yaitu: India, Persia, dan Cina pada awal abad pertama dimulai. Pengaruh kebudayaan India mulai masuk di Nusantara. Sistem pemerintahan kerajaan diadopsi. Muncullah kerajaan-kerajaan di Nusantara, yaitu: Kerajaan Kutai  abad ke-5 di Kalimantan Timur, Kerajaan Sriwijaya abad ke-7 di Palembang, dan Kerajaan Mataram Kuna pada abad ke-7-9 di Jawa Tengah. Perjalanan hidup Budha menuju manusia sempurna melalui tiga tingkatan (Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu) oleh Dinasti Salilendra (abad ke-8) di Mataram Kuna dipahatkan pada Candi Borobudur. Sementara itu, ajaran Hindu oleh Kerajaan Mataram Kuna pada zaman Dinasti Sanjaya (abad ke-9) dipahatkan dalam bentuk relief pada Candi Hindu terbesar di Indonesia, yaitu Candi Prambanan. Bangunan utama Candi Prambanan berupa Candi Trimurti, terdiri atas tiga, yaitu: Candi Brahma, Siwa, dan Candi Wisnu. Setelah Kerajaan Mataram Kuna di Jawa Tengah runtuh, kelanjutan kerajaan berpindah ke Jawa Timur, yaitu: Kerajaan Kediri (abad ke-11-12), Singasari (abad ke-13), dan Majapahit (abad ke-13-15 (1293-1478 Masehi)). Semua kerajaan ini dibangun dengan konsep Hindu-Budha. Bersamaan dengan mulainya keberaksaraan pada abad ke-9,  mulai   abad ke-9-15 banyak  digubah teks sastra religius yang bernafaskan Hindu-Budha. Pada awal abad ke-13 melalui perdagangan juga, agama Islam mulai masuk di wilayah Nusantara. Di Jawa Islam baru mulai masuk pada abad ke-15 atas jasa para wali. Majapahit runtuh pada tahun 1478. Sebagai kelanjutan muncullah di Jawa Kerajaan Demak yang dibangun berdasarkan Islam. Kerajaan Demak kemudian dilanjutkan dengan Kerajaan Pajang, dan Mataram. Kerajaan Mataram  pada tahun 1755 dibagi menjadi dua, yaitu  Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta.
Tajussalatin dan Karakter Pemimpin Mu'jizah Mu'jizah
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (194.695 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.123

Abstract

Metafor menteri (pemimpin) yang tak berpengetahuan diibarat awan tanpa menurunkan hujan dalam kutipan di atas memperlihatkan pengetahuan itu sangat penting dalam membina sebuah kerajaan (negara). Kerajaan akan maju jika raja dan menterinya berpengetahuan, sebaliknya negara akan runtuh jika pemimpinnya tidak mempunyai pengetahuan, diibaratkan tumbuhan tanpa siraman air hujan tumbuhan itu akan kering. Berbicara tentang pengetahuan, bangsa Indonesia kaya dengan berbagai pengetahuan pribumi. Bangsa ini pada dasarnya tidak akan mengalami krisis jika pengetahuan pribumi itu diperkenalkan, dipahami, dihayati, dan diaplikasikan dalam berbagai sisi kehidupan. Bangsa Indonesia tidak hanya kaya dengan pengetahuan, tapi juga terkenal dengan negara multietnik, multibudaya, dan multilingual. Kekayaan itu terekam dalam produk budaya masa lalu yang disebut naskah/manuskrip.
Potensi Pemaknaan Aksara Sunda Kuno Melalui Naskah Bima Swarga 623 Rahmat Sopian
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.355 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.119

Abstract

Naskah sebagai salah satu peninggalan masa lampau di dalamnya mengandung nilai-nilai kemanusiaan yang merupakan hasil karya, karsa, dan cipta para nenek moyang. Naskah pun dapat dianggap sebagai salah satu sumber yang memiliki otoritas dalam memberikan berbagai informasi mengenai masa lampau. Dalam hal ini yang dimaksud dengan naskah adalah peninggalan dalam bentuk tulisan tangan. Naskah di Nusantara jumlahnya cukup melimpah bahkan untuk naskah Sunda saja, saat ini terkumpul dalam berbagai perpustakaan di dunia hampir mendekati angka 1.500 buah naskah. Jumlah tersebut kemungkinan akan semakin bertambah bila mengingat masih ada naskah-naskah yang menjadi koleksi perseorangan. Namun di balik itu, naskah pun akan berangsur-angsur berkurang karena materi naskah bukanlah bahan yang tahan lama apalagi kondisi iklim Indonesia yang tropis menyebabkan mudah terjadinya pelapukan. Oleh karena itu, naskah-naskah tersebut perlu secepatnya mendapatkan uluran tangan dari para peneliti agar kandungannya dapat diselamatkan dari kepunahan karena dimakan usia. Naskah Sunda adalah naskah yang disusun dan ditulis di wilayah Sunda (kini Jawa Barat dan Banten) dan naskah-naskah yang berisi cerita atau uraian yang bertalian dengan wilayah dan orang Sunda sebagai inti dan pokok naskah. Namun menurut Kalsum, membuat batasan secara tepat tentang istilah naskah Sunda ini sangat sulit karena di dalamnya terkandung indikator meliputi, etnis, bahasa, dan wilayah.
Prof. Dr. Poerbatjaraka dan Naskah Kuno Perpustakaan Nasional RI Nindya Noegraha
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (151.109 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.124

Abstract

Agastya in den Archipel, merupakan disertasi seorang begawan Jawa Kuno yang cukup terkenal, R.M. Ng. Poerbatjaraka didapat dari Universiteit Leiden (Jurusan bahasa bahasa Arya) pada tahun 1926. Prof. Dr. R.M.Ng. Poerbatjaraka lahir di Surakarta pada  1 Januari 1884, terlahir dengan nama Lesya, merupakan salah satu tokoh pendidikan yang tidak bisa dipandang sebelah mata oleh para cendekiawan-cendekiawan masa kini, khususnya dalam hal kebudayaan. Pada 25 Juli 1964, sang begawan telah meninggalkan murid-muridnya untuk menghadap Gusti Ingkang Murbeng Jagad. Dunia kebudayaan nusantara berkabung atas meninggalnya Prof. Poerbatjaraka. Ibarat gajah mati meninggalkan gadingnya, Prof. Poerba wafat meninggalkan warisan pengetahuan yang tidak ternilai harganya. Begitu suburnya Prof. Poerba dalam berkarya mulai tahun 1914-1962 telah menghasilkan sebanyak 79 karya tulis yang sangat luar biasa bagi sumbangan ilmu pengetahuan. Hubungan dengan para cendekiawan baik dalam dan luar negeri sangat luas serta sangat dihormati. Manurut informasi, bahwa Prof. Poerba sangat percaya dan menghormati kepada seorang pakar dalam bidangnya, hal ini yang perlu untuk diteladani. Jika ingin meluruskan pendapat seorang pakar, maka beliau menggunakan argumantasi-argumentasi ilmiahnya.
Kakawin Nilacandra: Telaah Intertekstual A.A. Gde Alit Geria
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 1 (2011): Juni
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.819 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i1.121

Abstract

Dalam karya sastra klasik peninggalan nenek moyang tersimpan berbagai permasalahan kehidupan pada zamannya. Untuk itulah khazanah sastra perlu digali agar nilai-nilai yang terkandung di dalamnya dapat dipahami. Hal ini senada dengan pernyataan R.M.Ng. Poerbatjaraka ketika meresmikan berdirinya Fakultas Sastra Universitas Udayana tahun 1958, yakni: “Bali adalah pulau yang telah terkenal sebagai peti tempat penyimpanan dan pembendaharaan sastra dan budaya lama, maka berdirinya Fakultas Sastra ini dapat dianggap sebagai kunci wasiat untuk membuka pembendaharaan itu secara ilmiah” (Sudartha, 1989:10). Pernyataan tersebut sesungguhnya mengandung dimensi waktu jauh ke depan, agar peti yang mengandung misteri-misteri budaya lama dapat dipelajari dan dipahami oleh generasi penerus bangsa. Sastra klasik Bali memiliki kekhasan tersendiri dan yang terpenting adalah hingga kini masih terpelihara, lestari, dan hidup di Bali. Hal ini dapat dibuktikan dalam tradisi mababasan (pembacaan karya sastra secara bergiliran disertai diskusi). Tradisi mababasan hingga kini dikenal dengan Sekaa Pesantian. Sejalan dengan uraian itu, A. Teeuw (1998:40) mengatakan dimana-mana di pulau Jawa, Madura, Bali, Lombok, di bagian Sumatera dan Sulawesi, sastra memang sebagiannya diturunkan dan disimpan dalam naskah-naskah tertulis, tetapi sastra itu secara wajar dibacakan bersama-sama, antara pembawa dan pendengar; seringkali pula bergiliran perannya, seperti dalam mababasan di Bali dan nembang di Jawa. Di Bali karya-karya sastra Jawa Kuna dan Bali terus terpelihara, dikembangkan, dihayati, diulas serta ditulis kembali hingga kini. Melalui tradisi mababasan inilah masyarakat Bali mengakrabi dan mengapresiasi karya-karya Jawa Kuna dan Bali. Tradisi ini dapat dianggap sebagai ajang ‘kritik sastra’, karena melalui tradisi ini sebuah karya dibacakan, diterjemahkan, diulas serta dikomunikasikan antara anggota sesuai dengan kemampuan masing-masing. Di sini pula terjadi komunikasi dua arah dengan sangat ‘demokratis’ di antara anggota yang hadir, sehingga pada akhirnya akan disepakati adanya sebuah nilai luhur yang tersirat di dalamnya.

Page 1 of 1 | Total Record : 6