cover
Contact Name
Fatkhu Rohmatin
Contact Email
jumantara.perpusnas2010@gmail.com
Phone
+6285748946460
Journal Mail Official
jumantara.perpusnas2010@gmail.com
Editorial Address
Pusat Jasa Informasi Perpustakaan dan Pengelolaan Naskah Nusantara Perpustakaan Nasional Republik Indonesia Jln. Medan Merdeka Selatan No. 11 Jakarta Pusat
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara
Published by Perpustakaan Nasional
ISSN : 20871074     EISSN : 26857391     DOI : https://doi.org/10.37014/jumantara
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara menyajikan informasi mutakhir hasil kajian literatur dan penelitian bidang ilmu filologi dan pernaskahan Nusantara, yang mencakup: Kajian kodokologis, Teori-teori filologi, Edisi teks naskah kuno dan analisisnya, Kajian historis kepengarangan naskah kuno dan karyanya, Kajian multidisiplin berbasis naskah nusantara. Objek yang dijadikan kajian secara khusus bersumber pada naskah-naskah kuno Nusantara baik yang tersimpan di wilayah Nusantara maupun di luar wilayah Nusantara. Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara membuka kesempatan seluas-luasnya bagi peneliti naskah kuno Nusantara dari seluruh wilayah di dunia untuk turut berpartisipasi dalam penulisan artikel ilmiah yang sesuai dengan focus dan scope jurnal.
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 2, No 2 (2011): Desember" : 5 Documents clear
Warisan Intelektual bidang Pengobatan Tradisional dalam Naskah Racikan Boreh Saha Parem karya ISKS Pakoeboewono IX sebagai Peninggalan Leluhur Supardjo Supardjo; Sudarsini Sudarsini
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 2 (2011): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.735 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i2.139

Abstract

Hingga dewasa ini masyarakat masih mengakui peranan obat tradisional dan masih mempertahankan serta mengembangkannya. Oleh karena itu dalam rangka peningkatan dan pemerataan pelayanan kesehatan masyarakat, obat tradisional perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya dan dikembangkan agar lebih berdaya guna dan berhasil guna. Obat tradisional yang merupakan hasil karya nenek moyang bangsa Indonesia memiliki fungsi sosial yakni sebagai penunjang pemeliharaan dan peningkatan kesehatan masyarakat. Masyarakat akan merasa aman dalam menggunakannya dan akan lebih percaya atas khasiatnya bila dilakukan pemantauan terhadap efek samping dari pemakaiannya. Hal tersebut menjadi tugas bagi pemerintah, produsen, ilmuwan obat, dan konsumen. Tulisan ini mengidentifikasi dan membahas ramuan boreh saha parem serta pemanfaatannya terhadap naskah Jawa. karya ISKS Pakoeboewono IX dengan judul Racikan Boreh saha Parem no katalog 37 koleksi Perpustakaan Museum Radya Pustaka. Naskah ini hanya memuat jenis pengobatan luar saja yakni sebanyak 47 macam ramuan boreh, dan 34 macam ramuan parem. Pada awalnya pengobatan tersebut dibuat hanya untuk kalangan kraton khususnya untuk putri-putri kraton. Ramuan tersebut perlu dirahasiakan agar kecantikannya tidak mudah ditiru, dan dimiliki oleh orang awam sehingga mendukung kedudukannya sebagai kalangan orang atas. Pengukuran atau penentuan dosis secara tradisional dilakukan dengan cara kira-kira, misalnya sejimpit, sanyari, sakuwik, sagegem, sacowok, saduman, sathithik, dan sebagainya. Jadi sulit untuk dimengerti dan untuk menentukan ukuran yang tepat. Walaupun para peramu yang sudah terbiasa dengan pekerjaan tersebut seolah tangannya sudah dapat mengukur dengan sendirinya seperti seorang ibu yang sedang membuat bumbu masakan. Tetapi untuk mencapai hasil yang lebih baik, aman, dan tingkat yang lebih luas pemasarannya maka perlu dibuat standarisasi.
Ramuan Flora dan Fauna dalam Mujarabat Melayu Yusmilayati Yunos; Noriah Mohamed
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 2 (2011): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (835.569 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i2.134

Abstract

Perubatan tradisional terus mekar bersama dunia perubatan moden sebagai satu kaedah rawatan penyakit kepada masyarakat. Cara rawatan tradisional menggunakan bahan daripada flora atau tumbuh-tumbuhan dan fauna iaitu haiwan dipercayai mengandungi khasiat yang tersembunyi untuk menyembuhkan penyakit. Jika dikaitkan dengan Mujarabat Melayu, ramuan flora dan fauna bermaksud bahan-bahan tumbuhan dan haiwan yang diperlukan untuk membuat sesuatu ubat bagi merawat pelbagai jenis penyakit yang disebabkan oleh faktor fizikal atau spiritual. Tumbuh-tumbuhan ini mudah didapati di sekeliling rumah dan sering menjadi perisa dan perencah makanan (seperti kunyit, daun limau purut, cekur, daun pandan, daun kari dan halia) ataupun sebagai ubat dan perhiasan halaman rumah. Selain itu, bawang merah misalnya digunakan bagi merawat luka, halia dan bawang putih digunakan untuk membuang angin dan cekur dipercayai mampu menguruskan badan. Namun, setiap bahan tersebut perlu dicampur dengan ramuan lain bertujuan menambahkan keberkesanan penggunaannya. Sehubungan dengan itu, terdapat beberapa cara bagi menyediakan ramuan ubat daripada tumbuh-tumbuhan seperti direbus, celur, perah, uli, sagat, goreng, tumbuk, jemur, layur, rendam, bakar, rendang, tanak, salai, keringkan, basahkan, peram, bakar, dan ramas adalah antara kaedah biasa penyediaan ramuan ubat bagi tumbuhan. Manakala, cara-cara penggunaannya pula seperti sapu, gosok, titis, demah, tuam, balut, tampal, tepek, urut, makan, minum dan mandi. Antara bahagian tumbuhan yang sering digunakan sebagai ubat atau ramuan ubat terdiri daripada daun, bunga, akar, batang, kulit biji, biji, kulit kayu, buah, air atau jus buah, akar tunjang, akar rerambut, selaput buah, duri, getah, sabut, isi, isi rong dan hampas buah. Setiap bahagian ini pula memiliki khasiatnya yang tersendiri sebagai ubat atau penawar penyakit. Selain flora, fauna juga turut dijadikan ramuan dan penawar kepada penyakit tertentu. Namun begitu penggunaannya terbatas kepada bahagian tertentu yang terdapat pada tubuh sesuatu haiwan. Misalnya bulu tarwilu cina digunakan untuk menahan darah pada luka, tanduk rusa dan tanduk kambing untuk merawat demam dan sakit kepala, hempedu ayam, hempedu lembu, dan hempedu kambing jantan untuk kekuatan syahwat. Namun begitu bahan-bahan tersebut juga perlu disesuaikan dengan ramuan lain bagi memperlihatkan kemujarabannya. Antara bahagian fauna atau haiwan yang digunakan untuk tujuan rawatan seperti darah, hempedu, tanduk dan tulang yang digunakan dengan campuran bahan lain dipercayai mampu mengubati penyakit yang dialami manusia. Justeru itu, penulisan ini akan membincangkan khasiat flora dan fauna yang dipaparkan dalam Mujarabat Melayu sebagai alternatif rawatan bagi sesuatu penyakit yang menimpa manusia.
Tanaman dalam Manuskrip Indonesia sebagai Bahan Rujukan Penemuan Obat Baru Widharto Widharto
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 2 (2011): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (240.26 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i2.140

Abstract

Naskah kuno (manuskrip) nusantara merupakan salah satu bagian dari identitas bangsa Indonesia. Akibat minimnya pemahaman masyarakat, banyak naskah kuno yang terlalu dianggap sakral atau bahkan dianggap tidak mempunyai nilai sejarah. Akibatnya, banyak nilai dan kandungan ilmu yang ada dalam naskah, yang berisi berbagai macam pengetahuan, kehidupan sosial budaya, cara pengobatan, dan praktik pemerintahan yang masih relevan apabila diterapkan saat ini, tidak bisa dimanfaatkan. Bahkan, naskah penting   yang  berisi jenis-jenis tanaman yang berkhasiat obat yang bisa dimanfaatkan untuk kehidupan saat ini, sering dilupakan. Dalam makalah ini akan dijelaskan beberapa pendekatan untuk menemukan kembali informasi tentang tanaman yang berkhasiat obat (ethnomedicine) yang ada dalam naskah kuno tersebut. Program  penelitian bidang farmakaologi, terutama ilmu-ilmu terkait dalam obat-obatan tradisional (ethnomedicine), harus didukung adanya sumber-sumber informasi  yang yang terkini, dan dengan mudah diperoleh secara cepat dan tepat terutama yang bersumber dari naskah kuno tersebut. Untuk itu, pustakawan sebagai penyalur dan pengelola informasi  memegang peranan  penting  penyediaan sumber-daya  informasi, tertama dalam penyajian informasi tanaman yang berkhasiat obat kuno maupun modern. Artikel ini  memberikan gambaran  secara rinci cara kerja dan fungsi pustakawan dan Pusat Informasi  institusi pendidikan tinggi dalam mengelola naskah kuno,  yang secara tidak langsung membantu  pengembangan  obat tradisional  tersebut di Indonesia. Dengan demikian, selain dapat menyelamatkan naskah kuno, bangsa Indonesia tidak  akan kehilangan salah satu identitas budayanya sendiri.
Serat Primbon Jampi Jawi Koleksi Perpustakaan Dewantara Kirti Griya (Taman Siswa): Sebuah Dokumentasi Pengobatan Tradisional Arsanti Wulandari
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 2 (2011): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.467 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i2.135

Abstract

Penelitian mengenai jamu atau pengobatan tradisional tampaknya sedang naik daun di Indonesia. Hal tersebut muncul karena semakin tumbuh kesadaran masyarakat tentang kekayaan lingkungan alam, keragaman flora yang sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Selain itu terlihat juga adanya kesadaran masyarakat yang semakin memahami bahwa sebenarnya banyak alternatif pengobatan yang kemungkinan justru “lebih aman” daripada pengobatan medis. Kondisi-kondisi di atas tampaknya mendorong berbagai pihak untuk membuka kembali rekaman lama yang menyimpan data tentang pengobatan tradisional. Banyak sumber-sumber lama yang berupa naskah merekam data tentang pengobatan tradisional. Seperti diuraikan oleh Pudjiastuti (2010: 10), bahwa naskah nusantara secara umum berisi sejarah, sastra, bahasa, obat-obatan, ramalan, ilmu tua, sehingga jelaslah bahwa kondisi masa lampau dapat tercermin dari naskah tersebut. Secara khusus rekaman mengenai pengobatan non medis atas secara tidak langsung menunjukkan  sebuah kondisi bahwa pada masa lalu pengobatan medik adalah sesuatu yang dianggap sangat “mahal” baik dalam pengertian sulit dijangkau karena tempat maupun segi biaya. Kondisi di atas tampak terekam dalam salah satu produk naskah cetak yang beraksara Jawa  yaitu SERAT PRIMBON JAMPI JAWI (selanjutnya disebut SPJJ) yang merupakan sebuah naskah koleksi Perpustakaan Taman Siswa. Karena adanya proses perekaman atau pengumpulan data inilah maka teks SPJJ dianggap sebagai bentuk dokumen. Dokumen adalah rekaman data atau gambar yang berisi keterangan-keterangan (Tim Penyusun,  2002:272).
Ramuan Obat Hangat Kanjeng Sultan Agung Prabu Anyakrakusuma, Kanjeng Sunan Kudus dari Mekah, dan Loloh dalam Pengobatan Tradisional Naskah Nusantara Berdasarkan pada Naskah Buku Jampi Koleksi Perpustakaan Pura Pakualaman Veronica Anindhia Dewi Pravita
Jumantara: Jurnal Manuskrip Nusantara Vol 2, No 2 (2011): Desember
Publisher : Perpustakaan Nasional RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.227 KB) | DOI: 10.37014/jumantara.v2i2.141

Abstract

Menurut ilmu Antropologi, kebudayaan adalah keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar (Koentjaraningrat, 1990 : 180). “Budaya “ adalah “daya dari budi” yang berupa cipta, karsa, dan rasa , sedangkan “kebudayaan” adalah hasil dari cipta, karsa, dan rasa itu sendiri (Koentjaraningrat, 1990 : 182). Kebudayaan lama yang sudah ada beberapa abad yang lampau dapat dikenal kembali dalam bermacam-macam bentuk antara lain dalam bentuk tulisan yang terdapat pada batu, candi-candi, atau peninggalan purbakala yang lain, dan naskah-naskah. Peninggalan suatu kebudayaan yang berupa naskah merupakan dokumen bangsa yang paling menarik bagi peneliti kebudayaan lama karena memiliki kelebihan, yaitu memberi informasi yang luas dibandingkan peninggalan yang berbentuk puing bangunan besar seperti candi, istana raja dan pemandian suci (Soebadio, 1975 : 1). Dalam naskah-naskah tersebut dimuat berbagai macam informasi mengenai cerita sejarah, silsilah peradaban para raja, hukum dan peraturan, agama, primbon, tari-tarian, musik, adat istiadat, bahasa, piwulang, maupun kesehatan. Buku jampi (selanjutnya disingkat BK) ini merupakan buku milik Gusti Adipati Anem yang berisi tentang resep-resep jamu dan param lengkap dengan cara pembuatannya. Di antara resep-resep tersebut terdapat ramuan untuk bayi, racikan jamu penambah kekuatan daya tahan tubuh, obat hangat yang diberkahi oleh Sultan Agung, serta jamu dengan berkah dari Sunan Kudus.

Page 1 of 1 | Total Record : 5