cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 10, No 2 (2025): Desember" : 5 Documents clear
Etika Niat Abelard dan Agensi Moral dalam Pluralisme Keagamaan Indonesia Neonnub, Patricius
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.176

Abstract

This article explores Pierre Abelard’s ethics of intention (intentio and consensus) and its relevance for interfaith moral agency in contemporary Indonesia. While much of medieval ethics emphasized external law and ritual compliance, Abelard placed the moral weight on inner disposition of the will. Such a framework allows ethical recognition beyond confessional boundaries, affirming that individuals outside the Christian faith may act morally through natural law (lex naturalis). Using philosophical hermeneutics inspired by Gadamer and Ricoeur, the study engages Abelard’s Scito te ipsum, Collationes, and Commentaria in Romanos, alongside Indonesian debates on moderasi beragama and the works of Nurcholish Madjid and Yudi Latif. The findings reveal that Abelard’s emphasis on intention aligns with Indonesian concepts of civil religion and shared humanity, while also highlighting tensions with theological exclusivism. The conclusion argues that Abelard’s ethics can serve as a conceptual bridge between particular religious identities and universal values, enriching moral education, interfaith dialogue, and policy on religious moderation.
No Harm Principle: Reconstructing John Stuart Mill’s Thought in On Liberty to Foster Epistemic Responsibility in Addressing the Ethical Consequences of Post-Truth Sugianto, Yohanis Elia
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.181

Abstract

The post-truth era, marked by disinformation, hate speech, and algorithmic polarization, poses significant ethical and epistemic challenges to democratic societies. This article examines the relevance of John Stuart Mill’s Harm Principle in On Liberty (1859) as a normative framework for addressing these challenges. Through a philosophical analysis, the study reconstructs the Harm Principle to encompass epistemic, psychological, and democratic harms caused by unchecked freedom of expression in digital spaces. By analyzing phenomena such as filter bubbles, echo chambers, and disinformation campaigns, the article proposes practical solutions—digital literacy, ethical communication, and algorithmic transparency—to foster epistemic responsibility. Case studies, including the 2016 U.S. election misinformation and COVID-19 vaccine disinformation, illustrate the real-world implications of these harms. Empirical data on digital literacy and algorithmic bias further support the proposed framework. The findings highlight the enduring relevance of Mill’s thought while acknowledging limitations, such as implementation challenges and the need for complementary perspectives. This study contributes to political philosophy and communication ethics by offering a reconstructed Millian framework to navigate the complexities of digital public spheres, with implications for policy, education, and democratic deliberation.
THE METAPHYSICAL CONCEPT OF THE DAYAK KANAYATN PEOPLE IN TERMS OF SABAYA DIRI’ BASED ON THE PHILOSOPHY OF GABRIEL MARCEL Piter, Romanus -
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.180

Abstract

This study aims to explain the metaphysical concept contained in the term Sabaya Diri’ in the Dayak Kanayatn community in West Kalimantan. Sabaya Diri’ is a human recognition of the existence of others as part of oneself that should not be hurt, hated and belittled. The perspective used in this study is the concept of Metaphysics of Hope from the French philosopher Gabriel Marcel. The method used in this study is a qualitative study method with a literature review. The author collected data on Gabriel Marcel’s thoughts, both physical and digital sources. Meanwhile, the idea of Sabaya Diri’ was elaborated from the author's meaning as a native Dayak Kanayatn. This study found that the term Sabaya Diri’ contains three elements of affirmation of the existence of others as the human self itself. The first, fellow Dayaks are the most solid recognition of Sabaya Diri’ because of the similarity of ethnicity. The second, non-Dayak tribes are Sabaya Diri’ because they are dignified and noble humans. The third, the natural environment is Sabaya Diri’ because of the closeness of the Dayak people's relationality to the universe.
Praktik Etnoreligi Komunitas Adat Sumping Layang Dalam Perspektif Teologi Kontekstual Tjang, Yanto Sandy
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.183

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam praktik etnoreligius komunitas adat Sumping Layang di Desa Kedang Ipil, Kalimantan Timur, yang mencakup tiga ritual utama, yakni Nutuk Beham (ritual panen), Muang (ritual kematian), dan Belian Namang (ritual penyucian arwah). Ketiga ritual tersebut tidak hanya merefleksikan relasi spiritual masyarakat dengan alam dan leluhur, tetapi juga mengungkap dinamika iman lokal yang terus berkembang. Dengan menggunakan pendekatan teologi kontekstual, penelitian ini menafsirkan makna simbolik dan spiritual dari praktik-praktik tersebut dalam perspektif iman Katolik. Mengacu pada kerangka teologi kontekstual yang dikembangkan oleh Stephen B. Bevans serta prinsip inkulturasi sebagaimana digagas oleh Konsili Vatikan II, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa praktik etnoreligius Sumping Layang dapat dipahami sebagai semina Verbi (benih Sabda) yang berpotensi untuk disinergikan dengan pesan Injil. Inkulturasi dalam konteks ini diposisikan sebagai strategi teologis yang signifikan untuk menjembatani iman Katolik dengan kearifan lokal tanpa meniadakan identitas budaya masyarakat adat. Temuan penelitian ini menegaskan pentingnya keterlibatan Gereja secara kontekstual melalui dialog dan pendampingan yang bersifat partisipatif dan membebaskan. Selain itu, hasil penelitian ini juga menyoroti bahwa praktik etnoreligius bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga merupakan medium pewahyuan ilahi serta ekspresi spiritualitas yang berakar pada konteks lokal.
Penggunaan Facebook Oleh Orang Muda Katolik Paroki Santo Yosep Poka-Rumahtiga: Tinjauan Etis-Pastoral Londar, Welhelmina
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 10, No 2 (2025): Desember
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v10i2.184

Abstract

Tulisan ini merupakan hasil penelitian lapangan tentang penggunaan Facebook di kalangan Orang Muda Katolik (OMK) di Paroki Santo Yosep Poka-Rumahtiga dari perspektif etika dan pastoral berdasarkan pandangan Dekrit Inter Mirifica. Pertanyaan penelitian ini adalah: “Apakah facebook telah digunakan secara etis oleh Orang Muda Katolik dalam karya pastoral di Paroki Santo Yosep Poka-Rumah Tiga?” Pertanyaan ini dijawab melalui pendekatan kualitatif dengan teknik wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sebagian besar OMK telah memahami dan menerapkan prinsip-prinsip etika komunikasi dalam menggunakan facebook: tanpa etika komunikasi, facebook dapat menjadi alat dan sarana propaganda, perpecahan, dan konflik. Namun sebagian OMK juga mengakui bahwa mereka mengalami keterasingan, kesendirian, dan ilusinasi karena kurang mampu mengontrol diri dalam menggunakan facebook. Hal ini menuntut para pemimpin paroki untuk terus mensosialisasikan nilai-nilai etis seperti solidaritas, subsidiaritas, keadilan, kesetaraan, akuntabilitas, kepercayaan, dan partisipasi publik (termasuk orang tua, Pastor Paroki, Ketua DPP dan Ketua OMK). Dalam karya pastoral OMK, semua pihak yang berkepentingan wajib memperhatikan aspek spiritualitas (relasi dengan Allah), komunal-ekklesial (relasi persaudaraan OMK dan Gereja), dan misioner (evangelisasi). Penelitian ini menyimpulkan bahwa facebook dapat menjadi sarana karya pastoral efektif apabila OMK Paroki Poka menggunakannya secara etis, dan mengikuti pedoman Gereja Katolik tentang media komunikasi sosial untuk menyebarkan pesan cinta kasih, keadilan, persudaraan dan perdamaian.

Page 1 of 1 | Total Record : 5