cover
Contact Name
Fenansus Ngoranmele
Contact Email
ngoranmelefenan@gmail.com
Phone
+6285244171956
Journal Mail Official
fides_ratio@yahoo.com
Editorial Address
Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon, Jl. Pakatora Pohon Mangga, Kole-kole Pante, RT 001/RW 06 – Poka Rumah Tiga
Location
Kota ambon,
Maluku
INDONESIA
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon
ISSN : 25487043     EISSN : 27217566     DOI : 10.47025
ilsafat Etika Teologi Kontekstual Hukum Gereja Sosio Religius Antropologi Komunikasi Pastoral Ajaran Sosial Gereja Pastoral
Articles 5 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 2 (2024): December" : 5 Documents clear
KEPEMIMPINAN YESUS SEBAGAI ROLE MODEL BAGI KEPEMIMPINAN PENGURUS RUKUN SANTO MICHAEL DI PAROKI SANTO JOSEP PASSO KEUSKUPAN AMBOINA Ngoranubun, Willem
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.142

Abstract

Tulisan ini menaruh fokus pada pengaruh kepemimpinan Yesus dalam kehidupan para pengurus rukun di Paroki St. Josep Passo Keuskupan Amboina, khususnya di Rukun St. Michael. Berdasarkan pengamatan, para pengurus rukun belum sepenuhnya mengimplementasikan model kepemimpinan yang bersumber dari teladan Yesus sebagai Gembala yang Baik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan terhadap sumber buku, jurnal, teks kitab suci, serta penelitian lapangan. Tujuan utama penulisan ini adalah untuk mendeskripsikan dan memaparkan kepemimpinan Yesus sebagai teladan peran bagi pengurus rukun St. Michael dalam menjalankan tugas dan kewajiban mereka. Kesimpulannya, terdapat tiga model kepemimpinan Yesus yang relevan bagi pengurus rukun. Pertama, Yesus sebagai Pemimpin yang memperkenalkan domba-domba-Nya dan diikuti oleh mereka. Kedua, Yesus sebagai teladan, dalam mana hubungan antara gembala dan kawanan domba melampaui batas suku dan budaya, mencakup seluruh umat manusia. Ketiga, Yesus sebagai Gembala yang Baik, yang rela menyerahkan nyawanya demi menyelamatkan domba-domba-Nya.
Jiwa Manusia dalam Pemikiran Metafisika St. Thomas Aquinas Lesomar, Antonius Alex
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.140

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk menampilkan gagasan St. Thomas Aquinas mengenai jiwa manusia. Selain itu, tulisan ini merupakan suatu respon atas berbagai kesalahpahaman tentang jiwa manusia. Jiwa, bagi St. Thomas, bukan hanya sebagai prinsip kehidupan, aktivitas dan organisasi tubuh tapi lebih dari itu yakni sebagai prinsip dari eksistensinya. Jiwa sebagai prinsip eksistensi yang memiliki karekter intelektual atau spiritual adalah substansi tidak lengkap yang memiliki kecenderungan natural untuk bersatu dengan tubuh membentuk substansi manusia lengkap. Kesatuan jiwa dan tubuh adalah kesepadanan partikular yang tidak dapat ditransmisikan kepada yang lainnya. Sebagai substansi, jiwa adalah immortal; ia tidak dapat hancur karena eksistensinya berasal dari eksistensi sang Absolut. Untuk tiba pada pencapaian gagasan Aquinas mengenai jiwa maka metode yang digunakan adalah analisa teks, historisme dan ekplanasi.This article aims to present St. Thomas Aquinas’ notion about human soul. In addition, it is also a response to various misunderstandings of the human soul. The soul, for St. Thomas, is not only the principle of life, activity and organization of the body but more than that, namely as the principle of human existence. The soul as the principle of human existence that has an intellectual or spiritual character is an incomplete substance that has a natural tendency to unite with the body to form a complete human substance. The unity of soul and body is a particular equivalence that cannot be transmitted to others. As a substance, the soul is immortal; it cannot be destroyed because its existence comes from the existence of the Absolute. To arrive at the achievement of Aquinas’ ideas about the soul, the methods used are text analysis, historicism and explanation.
TINJAUAN EKLESIOLOGIS ATAS TANGGUNG JAWAB GEREJA ATAS KERASULAN PANGGILAN Wibowo, Gregorius Hertanto Dwi
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.139

Abstract

AbstrakArtikel ini menyajikan tinjauan eklesiologis tentang tanggung jawab Gereja dalam mempromosikan panggilan untuk menjadi imam dan hidup bakti. Artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif, termasuk analisis dokumen-dokumen Gereja Katolik, untuk mengeksplorasi hubungan antara sifat dasar Gereja dan misi kerasulannya dalam memelihara dan mendukung panggilan untuk menjadi imam dan hidup membiara. Kontribusi unik dari artikel ini adalah pernyataan bahwa promosi panggilan lebih dari sekadar menemukan para pelayan Gereja; pada kenyataannya, ini adalah aspek penting dari proses menjadi Gereja itu sendiri, karena panggilan secara intrinsik terhubung dengan identitas Gereja. Penelitian ini mengindikasikan bahwa setiap elemen di dalam Gereja memiliki tanggung jawab yang penting dalam mengidentifikasi, membimbing, dan memfasilitasi individu-individu yang merespons panggilan Tuhan. Temuan-temuan dari penelitian ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang lebih dalam tentang pentingnya peran Gereja dalam mendukung kerasulan dan panggilan untuk hidup kudus, yang pada akhirnya menawarkan landasan dan motivasi yang lebih kuat untuk meningkatkan komitmen Gereja terhadap panggilan-panggilan ini di masa depan.AbstractThis article presents an ecclesiological overview of the Church's responsibility in promoting vocations to the priesthood and consecrated life. It employs qualitative research methods, including an analysis of Catholic Church documents, to explore the relationship between the Church's nature and its apostolic mission to nurture and support vocations to the priesthood and the monastic life. The unique contribution of this article is the assertion that vocation promotion extends beyond merely finding Church ministers; it is, in fact, an essential aspect of the process of becoming the Church itself, as vocations are intrinsically connected to the Church's identity. The research indicates that every element within the Church is responsible for identifying, guiding, and facilitating individuals who respond to God's call. The findings of this study aim to provide deeper insights into the significance of the Church's role in supporting apostolates and vocations to a holy life, ultimately offering a stronger foundation and motivation to enhance the Church's commitment to these vocations in the future.
Budaya Leles Orang Manggarai Sebagai Suatu Fenomena Sosial Dalam Terang Filsafat Metafisika Heidegger Awur, Raimundus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.128

Abstract

Fokus penelitian ini membahas fenomena (sosial) budaya Leles Orang Manggarai dalam konteks perubahan sosial yang disebabkan oleh pengaruh teknologi modern. Kondisi saat ini menunjukkan penurunan kebersamaan dan kerja sama dalam budaya ini. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode telaah pustaka, wawancara, dan pendekatan filosofis Heidegger untuk menjelaskan perubahan dalam budaya kerja sama ini. Hasil telaah pustaka dan wawancara mengungkapkan dinamika budaya Leles yang telah mengalami transformasi akibat interaksi dengan teknologi modern. Hal ini berdampak pada penurunan nilai-nilai kebersamaan dan kerja sama yang sebelumnya kuat dalam masyarakat Manggarai. Dalam konteks filosofis Heidegger, penelitian ini mengkaji implikasi metafisika terhadap budaya Leles yang telah mengalami perubahan tersebut. Hasil penelitian kualitatif ini memberikan wawasan tentang bagaimana teknologi modern telah memengaruhi budaya dan nilai-nilai sosial, serta bagaimana pemikiran Heidegger dapat digunakan untuk merenungkan perubahan dalam masyarakat. Penelitian ini memberikan kontribusi penting dalam memahami dampak teknologi terhadap budaya dan kerja sama dalam masyarakat Manggarai. Yang perlu digarisbawahi di sini bahwa kajian ini tidak dimaksudkan, meneliti Masyarakat manggarai seluruhnya (siapa itu masyarakat Manggarai), dan juga tidak mengulas fenomena sosial secara universala seperti halnya teori sosiologi. Tetapi lebih menekankan manfaat sosial dari budaya Leles. Fenomena sosial hadir sebagai wadah refleksi dalam konteks ini.
Konsili Trente: Upaya Gereja Katolik Menjawab Tantangan Martin Luther Marsianus, Marsianus Marsianus
Fides et Ratio : Jurnal Teologi Kontekstual Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon Vol 9, No 2 (2024): December
Publisher : Seminari Tinggi St. Fransiskus Xaverius Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47025/fer.v9i2.141

Abstract

The focus of this discussion is to explore the Catholic Church's efforts to answer Martin Luther's challenge based on the Council of Trent.  The Church was in a dilapidated situation, where there were many irregularities in the life of the Church. Martin Luther came as a reformer, by issuing 95 propositions or theses, which contained a rejection of doctrine, theology and authority in the Church. He also criticized the lives of priests who were thirsty for worldly things. The Church through the Council of Trent tried to answer the challenge of Martin Luther and carry out internal reforms.  To deepen this discussion, the author uses a descriptive qualitative method in the form of a literature study by referring to sources such as books and articles.  The aim is to find out the teachings that were straightened out by the Church in response to Martin Luther's challenge. From this, the author finds that the Church has an open attitude towards Luther's criticism. The Church realized that there were many weaknesses that arose within the Church, and for this reason the Church carried out reforms. However, the Church still maintains its doctrine and teaching of faith, rejecting sola scriptura, sola gratia and sola fidei. 

Page 1 of 1 | Total Record : 5