cover
Contact Name
Firdaus Annas
Contact Email
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Phone
+6285278566869
Journal Mail Official
firdaus@uinbukittinggi.ac.id
Editorial Address
Data Center Building - Kampus II Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Bukittinggi. Jln Gurun Aua Kubang Putih Kecamatan Banuhampu Kabupaten Agam Sumatera Barat Telp. 0752 33136 Fax 0752 22871
Location
Kab. agam,
Sumatera barat
INDONESIA
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies
Core Subject : Religion, Social,
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies is an international journal published by the State Islamic Institute of Bukittinggi, West Sumatra, Indonesia. It specializes in research on Islamic and social problems from a range of disciplines and interdisciplinary fields. The interdisciplinary approach in Islamic studies is used as a method to discuss and find solutions to contemporary problems and social issues. The topic covered by this journal includes fieldwork studies with different viewpoints and interdisciplinary studies in sociology, anthropology, education, politics, economics, law, history, literature, and others. The editorial team invites researchers, scholars, and Islamic and social observers to submit research articles that have never been published in the media or other journals.
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 3, No 2 (2017): December 2017" : 8 Documents clear
WACANA SUFISTIK : TASAWUF FALSAFI DI NUSANTARA ABAD XVII M: ANALISIS HISTORIS DAN FILOSOFIS Syafwan Rozi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.801 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.405

Abstract

Sufistict discourse of Sufism philosophy has grown rapidly to accompany the development of Islam in the period of growth in the archipelago. Seen from the source or network, in the 17th century AD it understood to be brought by the Sufi clerics or nomads who came from Persia and India, although the period appears haramain network is considered as a counter that ultimately criticize the ideology of philosophical Sufism that has developed before. The ideology of philosophical Sufism which developed in the archipelago in terms of the essence of the teachings comes from the philosophical Sufi mursia Ibn 'Arabi received by the archipelago of the archipelago through the followers of Ibn'Arabi or learned from his works which are encountered when wandering the middle queue - persia to study. Hamzah Fansuri and Syamsuddin Sumaterani as representenatasi of wujudiyyah in the archipelago is very stressed to maintain the concept of monotheism in an original and really crowded God. Hamzah especially emphasizes the stages of la ta'ayyun as a pure divine element. While Syamsuddin emphasize to his followers to understand al-muwahhidin al-shiddiqin, not equating anatara God with nature but understood by the logic of thinking that the form of nature is majazi or shadow of the form of God. With this understanding Syamsuddin has first clarified. Wacana sufistik tasawuf falsafi telah berkembang pesat mengiringi perkembangan Islam pada masa pertumbuhan di Nusantara. Dilihat dari sumber atau jaringannya, pada abad ke-17 M, paham tersebut dapat dikatakan dibawa oleh ulama atau pengembara sufi yang datang dari Persia dan India, walaupun kurun itu muncul jaringan Haramain dianggap sebagi tandingan yang akhirnya mengkritik paham tasawuf falsafi yang telah berkembang sebelumnya. Paham tasawuf falsafi yang berkembang di Nusantara dari segi esensi ajaran berasal dari sufi filosofis mursia Ibn’ Arabi yang diterima ulama Nusantara melalui pengikut-pengikut Ibn’Arabi atau dipelajarai dari karya-karyanya yang ditemui ketika mengembara ke timut tengah – persia untuk menuntut ilmu. Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumaterani sebagai representasi dari paham wujudiyyah di Nusantara sangat menekankan untuk memahani konsep tauhid secara orisinil dan benar-benar mengesakan Tuhan. Khususnya Hamzah menekanan sekali tahapan la ta’ayyun sebagai unsur ketuhanan yang murni. Sedangkan Syamsuddin menekankan kepada pengikutnya untuk berpaham al-muwahhidin al-shiddiqin, tidak menyamakan anatara Tuhan dengan alam tapi dipahami dengan logika berfikir bahwa wujud alam adalah majazi atau bayangan dari wujud Tuhan. Dengan paham ini Syamsuddin telah terlebih dahulu mengklarifikasi.
BISNIS ORANG SUNDA: STUDI TEOLOGI DALAM ETIKA BISNIS ORANG SUNDA Didin Komarudin
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.743 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.342

Abstract

Bandung is known as a religious ethics proven by the appearance of its vitality in the reflection of its formal activity. It can be seen from the dynamics and rapid of the religious activity, such as formalistic of praying, the festive of Ramadan, numerous of majelis ta'lim or the number of Muslims who perform the pilgrimage in every year, both in quality and quantity. It certainly affects the busininess activities as modern management-oriented to professional interpreneneurship act. This research gives evidence that Sundanise business ethics influences the guiding frame of every business policy. Morever, the theological factor plays an important role in encouraging a man to be successful in business. CV. Batu Gunung Padakasih (BGP) which is located in Cikancung-Bandung, Tapin District, has represented many significant findings concerning relation between ethics and social business theology in the policy that may be regarded as causal relation in business success. Bandung dikenal sebagai suku atau etnik religius terbukti dari penampakan wujud vitalitasnya dalam refleksi aktivitas formalnya. Hal itu dapat dilihat dari perjalanan dinamika keagamaan yang intensitasnya cukup kental seperti aktivitas ibadah yang semarak seperti formalistik shalat, meriahnya Ramadhan, banyak majelis ta’lim atau banyaknya kaum Muslimin yang melaksanakan ibadah haji dalam setiap tahun, baik secara kualitas maupun kuantitasnya. Hal ini tentu mempengaruhi kegiatan bisnisnya yang dimana merupakan manajemen modern berorientasi profesional kewirausahaan tindakan. Penelitian ini memberikan bukti bahwa etika bisnis yang diterapkan oleh Suku Sunda mempengaruhi pada pedoman kerangka setiap kebijakan bisnis. Terlebih lagi, faktor teologis memainkan peran penting dalam mendorong manusia untuk menjadi sukses dalam bisnis. Ada CV. Batu Gunung Padakasih (BGP) yang terletak di Cikancung-Bandung, Kabupaten Tapin, telah mewakili banyak temuan yang signifikan mengenai hubungan antara etika dan teologi bisnis sosial dalam kebijakan yang dapat dianggap sebagai hubungan kausal dalam keberhasilan bisnis.
LAPAS, NARAPIDANA DAN EKONOMI: TINJAUAN PEMBINAAN EKONOMI PRODUKTIF DI LEMBAGA PEMASYARAKATAN KOTA METRO LAMPUNG Diana Ambarwati
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.133 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.398

Abstract

According to Law No. 12/1995 on penitentiary in article 1, paragraph 2, it is stated that the real community is an activity to carry out guidance of prisoners based on the system, institutional and guidance method which is the final part of the criminal justice system. Based on the mandate of Law No.12 of 1995 above, this research is focused on coaching conducted by Lapas (prison) at Metro Bandar Lampung. This is a qualitative research which uses interview and observation as the instrumentation. Based on the result of the research, there are two reasons of having coaching in Lapas (prison) of Metro; First is a form of government concern in order to minimize the occurrence of repeated crimes by providing the inmates with skills that will be able to help them by the time they are free from the punishment. Second, the economic value: that this activity can generate income or income, hence, the inmates can fulfill the daily needs that are not paid by the state. From their works’ result the inmates will receive a wage between 15 - 35% of the total profit. Menurut Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan pada pasal 1 ayat 2 dinyatakan bahwa pemasyarakatan sesungguhnya adalah kegiatan untuk melakukan pembinaan warga binaan pemasyarakatan berdasarkan sistem, kelembagaan dan cara pembinaan yang merupakan bagian akhir dari sistem pemidanaan dalam tata peradilan pidana. Berdasarkan amanat UU No.12 Tahun 1995 di atas, maka penelitian ini difokuskan pasa pembinaan yang dilakukan pada Lapas Kota Metro Bandar Lampung. Dengan menggunakan penelitian kualitatif dalam bentuk wawancara dan observasi, diperoleh hasil bahwa terdapat dua alasan pembinaan kerja yang dilakukan Lapas Kota Metro; Pertama merupakan bentuk kepedulian pemerintah dalam hal ini Lapas Kota Metro dalam rangka meminimalisir terjadinya kejahatan berulang yakni dengan membekali para narapidana dengan skill yang nantinya akan mampu membantu mereka setelah keluar dari Lapas. Kedua, bernilai ekonomi, artinya kegiatan ini dapat menimbulkan income atau pendapatan, sehinggaa narapidana dapat memenuhi kebutuhan keseharian yang tidak dibiayai oleh Negara. Dari hsil kerjanya narapidana akan meneriman upah yang besarannya antara 15 – 35 % dari total keuntungan.
PENALARAN MORAL SISWA BERINTELIGENSI TINGGI: STUDI KOMPARATIF GAYA PENGASUHAN ORANG TUA DI SD MUHAMMADIYAH SAPEN YOGYAKARTA Nurhayani Nurhayani
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (382.073 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.343

Abstract

The objectives of this research is to know the difference of moral reasoning between boys and girls of high intelectual students perceived from authoritarian, authoritative and permissive parents. The subjects of this research were 81 high intellectual students at primary school of Muhammadiyah Sapen Yogyakarta The data of the study was collected by using two scales, they are Moral Reasoning scale and parenting style scale. Analysis of Variance (ANOVA) was applied to analyze the data, which resulted that parenting styles and gender interact each other in affecting moral reasoning ( F : 5,580; p = 0.006 < 0.05), and it means that there is a difference of moral reasoning among boys and girls of high intellectual students perceived from authoritarian, authoritative and permissive parenting styles Based on the finding above, it is suggested that educators should develop suitable teaching strategy which may enhance the high intellectual children positive developmental aspects by avoiding sex stereotypes; encouraging to be independent and tak a risk; and guiding in problem solving. It is suggested too that parents of high intellectual children should avoid different parenting between boys and girls and help them to make moral decision properly so the can avoid social adapting problems. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan penalaran moral antara siswa berinteligensi tinggi yang memperoleh pola asuh otoriter, otoritatif, dan permisif. Subjek penelitian ini adalah 81 orang siswa berinteligensi tinggi kelas V di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta. Data penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan dua skala, yaitu skala penalaran moral dan skala persepsi pola asuh orang tua. Analisis Varians dua arah (Two Ways ANOVA) digunakan sebagai metode untuk mengalisis data. Hasil analisis data menunjukkan bahwa pola asuh dan jenis kelamin saling berinteraksi dalam mempengaruhi penalaran moral siswa berinteligensi tinggi (F : 5,580; p = 0.006 < 0.05) sehingga disimpulkan ada perbedaan penalaran moral antara siswa laki-laki dan perempuan berinteligensi tinggi yang memperoleh pola asuh otoriter, otoritatif dan permisif Berdasarkan temuan di atas, disarankan bagi pendidik, hendaknya mengembangkan strategi mengajar yang tepat yang dapat mengembangkan aspek positif bagi anak berinteligensi tinggi dengan (a) menghindari stereotip peran jenis kelamin; (b) memberi dorongan bagi anak beringeligensi tinggi untuk independent dan berani mengambil resiko; (c) membimbing mereka dalam perilaku problem solving dan strategi pengambilan keputusan moral. Sedangkan bagi orang tua, hendaknya menghindarkan pola pengasuhan atau tuntutan (harapan) yang berbeda bagi anak laki-laki dan perempuan dan membantu mereka menetapkan batasan-batasan dalam membuat keputusan moral secara tepat sehingga terhindar dari masalah penyesuaian sosial.
BEING MUSLIM AND MOTIVATION IN LEARNING ARABIC: AN INSIGHT FROM THREE DECADES Isral Naska
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.941 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.418

Abstract

This article is a literature review on accessible three decades publicized studies about student motivation learning Arabic which was conducted in different countries and contexts. Due to the importance of Arabic in Islam as the sacred language, those research are expected to reveal the religious aspects in maintaining and shaping student motivation in learning Arabic. Unfortunately, the issue did not likely obtain adequate attention from most of the researchers. Interestingly though, review on that studies still managed to reveal that the researchers apparently mentioned the role of identity in their studies. However, it was not supported by the proper analysis which made only little can be recognized from the role of religious identity in shaping the motivation. This circumstance likely has taken place since most of the researchers did not use the poststructuralist approach which may bring them to reveal a deeper understanding of the role of identity in Arabic language learning. Furthermore, in order to obtain the more precise finding on the role of identity in maintaining student motivation, it is suggested to use the approach when addressing student motivation during Arabic learning process. Artikel ini adalah sebuah literatur review terhadap penelitian-penelitian tentang motivasi belajar Bahasa Arab sekitar 3 dekade belakangan yang dilakukan pada beberapa negara dengan konteks yang berbeda-beda. Peran Bahasa Arab sebagai bahasa yang penting dalam Islam, seharusnya mengantarkan penelitian yang ada mengungkap adanya aspek-aspek religiustitas dalam pembentukan motivasi belajar. Sayangnya, hal ini tidak mendapatkan perhatian yang cukup dari sebagian besar peneliti. Menariknya kendatipun hal tersebut terjadi, yaitu tidak tertangkapnya aspek religiusitas secara memadai, review terhadap hasil-hasil penelitian tersebut menunjukkan peran identitas religius para siswa tetap terlihat. Hanya saja hal tersebut tidak didukung oleh analisis yang memadai sehingga tidak banyak wawasan yang dapat diperoleh sekaitan dengan peran identitas religius tersebut. Hal ini terjadi karena kebanyakan peneliti tidak menggunakan pendekatan yang memungkinkan mereka mengeksplorasi peran identitas religius siswa dalam pembentukan motivasi belajar secara lebih mendalam, yaitu pendekatan post-structuralist. Dengan demikian, untuk memperoleh temuan yang lebih presisi, studi selanjutnya disarankan untuk menggunakan pendekatan post-structuralist untuk memahami peran identitas religius dalam pembentukan motivasi belajar Bahasa Arab
PENGUATAN NILAI-NILAI KEAGAMAAN BAGI MASYARAKAT KORBAN BENCANA GEMPA DI KENAGARIAN TANDIKAT KECAMATAN PATAMUAN KABUPATEN PADANG PARIAMAN Gazali Gazali; Nafri Andy
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.092 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.403

Abstract

Nagari Tandikat is one of the Nagari in Padang Pariaman Regency that suffered severe impacts due to the earthquake of 30 September 2009. In the face of the earthquake, stoic attitude must be owned by earthquake victims as this will form a positive psychological condition (positive psychological functioning), which brings to the realization of psychological well being in a person especially religious values adopted because religion is able to create its own color in regulating the pattern of human attitudes. More specifically, religion also wrestles with various problems of human life both socially and psychologically, the belief in god is able to give calm, not infrequently the religion is also used as a solution to the problems of the mind and not visible, related to pleasure, to suffering. By using the CBR approach, this research will conduct research-based devotion in the strengthening of religious values for the September 30th Quake Victims in Nagari Tandikat Padang Pariaman. From the research results revealed there are several strengthening programs that have been and are being done as a strengthening of religious values for the earthquake victims such as wirid yasinan, tablig akbar, annual commemoration and religious strengthening program. Nagari Tandikat merupakan salah satu Nagari di Kabupaten Padang Pariaman yang mengalami dampak cukup parah akibat gempa bumi 30 September 2009. Dalam menghadapi gempa, sikap tabah harus dimiliki oleh korban gempa karena hal ini akan membentuk kondisi psikologis yang positif (positive psychological functioning), yang membawa kepada terwujudnya kesejahteraan psikologis (psychological well being) dalam diri seseorang terutama nilai-nilai agama yang dianut karena agama mampu menciptakan warna tersendiri dalam mengatur pola sikap manusia. Lebih spesifik, agama juga bergelut dengan beragam persoalan hidup manusia baik secara sosial maupun psikis, keyakinan terhadap tuhan mampu memberi ketenangan, tidak jarang agama juga dijadikan sebagai solusi atas permasalahan-permasalahan batin dan tidak terlihat, terkait kesenangan, hingga penderitaan. Dengan menggunakan pendekatan CBR, penelitian ini akan melakukan penelitian berbasis pengabdian dalam penguatan nilai-nilai agama bagi Korban Gempa 30 September di Nagari Tandikat Padang Pariaman. Dari hasil penelitian tersebut diungkap ada beberapa program penguatan yang telah dan tengah dilakukan sebagai penguatan nilai-nilai keagamaan bagi masyarakat korban gempa yaitu wirid yasinan, tablig akbar, peringatan tahunan dan program penguatan keagamaan.
ETOS KERJA WANITA PEKERJA ROTAN DI DESA BARU DUSUN SELATAN KABUPATEN BARITO SELATAN KALIMANTAN TENGAH Rahmaniar Rahmaniar; hamdanah hamdanah; Jirhanuddin Jirhanuddin; Zainal Arifin; Eriko Tedja S. Kusuma
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1058.006 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.407

Abstract

Some scholars argue that a farmer's mental attitude, including the main worker or laborer, is a subsintence attitude. The above opinion, it seems not entirely acceptable, especially if faced with the reality of the lives of working women or rattan workers in Dusun Baru, South Barito Regency, Central Kalimantan Province. The research of qualitative research with phenomenological study is aimed to find out work ethic of working woman labor in Dusun Baru Central Kalimantan. The result of the research shows that there are two categories of their work ethic level, namely work ethic, first, “Uluwat bawi ji rubber bagawi” (Dayak Bakumpai Language) means woman having high work ethic, with the following characteristics: have high working hours (ranged between 38 to 45 hours per week), clever with respect to time, work quality oriented, able to see and take advantage of existing opportunities, have today's principles must be better than yesterday and tomorrow should be better than today, view that education for children is very important and life must be frugal. Both “Bawi jijida hawas ban bagawi” (Dayak Bakumpai Language), meaning low woman work ethos, with characteristics as follows: The number of working hours is low (ranging between 18 to 28 hours per week), not able to take advantage of time, less creative viewing and taking advantage of opportunities that do not have a better foresight Sebagian ahli berpendapat bahwa sikap mental petani, termasuk pekerja atau buruh yang utama, adalah sikap subsintens. Pendapat di atas, tampaknya tidak seluruhya dapat diterima, terutama jika dihadapkan dengan realitas kehidupan wanita pekerja atau buruh rotan di Desa Baru Kecamatan Dusun Selatan, Kabupaten Barito Selatan, Provinsi Kalimantan Tengah. Penelitian penelitian kualitatif dengan kajian fenomenologis ini bertujuan untuk mengetahui etos kerja wanita pekerja/buruh rotan di Desa Baru Kalimantan Tengah. Hasil penelitian menunjukkan ada dua kategori tingkatan etos kerja mereka, yakni etos kerja, pertama, uluh bawi ji karetap bagawi (Bahasa Dayak Bakumpai) artinya wanita yang memiliki etos kerja tinggi, dengan ciri-ciri sebagai berikut: memiliki jam kerja yang tinggi ( berkisar antara 38 sampai 45 jam per minggu), pandai menghargai waktu, berorientasi pada kualitas kerja, mampu melihat dan memanfaatkan peluang yang ada, memiliki prinsip hari ini harus lebih baik dari kemaren dan besok harus lebih baik dari hari ini, berpandangan bahwa pendidikan bagi anak sangat penting dan hidup harus hemat. Kedua Bawi jijida hawas cangkal bagawi (Bahasa Dayak Bakumpai), artinya wanita yang rendah etos kerjanya, dengan ciri-ciri sebagai berikut: Jumlah jam kerja rendah (berkisar antara 18 sampai dengan 28 jam perminggu), tidak mampu memanfaatkan waktu, kurang kreatif melihat dan memanfaatkan peluang yang ada tidak memiliki pandangan ke depan yang lebih baik
REVITALISASI NILAI-NILAI AGAMA DAN KEARIFAN LOKAL DALAM GERAKAN PENYELAMATAN DAN KELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM SALINGKA DANAU MANINJAU SUMATERA BARAT Jamaldi Jamaldi
Islam Realitas: Journal of Islamic and Social Studies Vol 3, No 2 (2017): December 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.396 KB) | DOI: 10.30983/islam_realitas.v3i2.400

Abstract

Maninjau Lake which is one of the attractions in Agam Regency has been known in the world of tourism to the international level. The beauty of the lake along with twist 44 and guarded row of rows of rows, adding charm to the beauty of the lake. But lately various problems that occur related to the real condition or the beauty of the lake began to be neglected. Currently the condition of the lake is polluted in very poor condition. Various efforts have been made from the issuance of regulations, reduction efforts and community involvement in the saving of the lake. One important element is the value of religious beliefs as well as the local wisdom of the community such as the religious principles adopted, cultural values, tambos, history and traditions of the hereditary is the social capital and potential of hidden communities that need to be considered in development programs including the lake lake environmental pollution rescue movement. This effort can be done through implementing, actualizing, and revitalizing religious and cultural values which are summarized in the local wisdom of Maninjau Lake communities in solving environmental pollution problems of the lake in particular and environmental issues in general Danau Maninjau yang merupakan salah satu objek wisata di Kabupaten Agam sudah dikenal dalam dunia pariwisata sampai ke tingkat internasional. Keindahan danau diserta kelok 44 dan dijaga deretan bukit barisan, menambah pesona keelokan danau. Namun belakangan ini berbagai permasalahan terjadi terkait kondisi nyata atau keasrian danau yang mulai terabaikan. Saat ini kondisi danau tercemar dalam kondisi yang sangat memprihatinkan. Berbagai upaya telah dilakukan mulai dari penerbitan peraturan, upaya pengurangan, dan pelibatan masyarakat dalam penyelematan danau. Salah satu unsur penting adalah nilai keyakinan agama serta kearifan lokal masyarakat seperti prinsip agama yang dianut, nilai budaya, tambo, sejarah dan tradisi turun temurun merupakan modal sosial dan potensi masyarakat terpendam yang perlu dipertimbangkan dalam program pembangunan termasuk gerakan penyelamatan pencemaran lingkungan danau. Upaya ini dapat dilakukan melalui penerapan, aktualisasi, dan perevitalisasian nilai agama dan budaya yang terangkum dalam kearifan lokal masyarakat salingka Danau Maninjau dalam memecahkan persoalan pencemaran lingkungan danau khususnya dan persoalan lingkungan pada umumnya

Page 1 of 1 | Total Record : 8